Faktor yang Berhubungan Dengan Pelaksanaan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Di XXX

Abstraksi:
Perubahan bidang keperawatan di era globalisasi ini terjadi begitu pesat, tuntutan masyarakat menjadikan perawat harus bekerja lebih profesional,diantara bukti profesionalisme perawat adalah adanya sebuah dokumentasi, yang dalam keperawatan disebut dokumentasi keperawatan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakan adanya suatu pelatihan dokumentasi mempengaruhi kelengkapan dokumentasi dan juga masa kerja yang semakin lama semakin mendorong kelengkapan dokumentasi keperawatan khususnya dirumah sakit umum XXX. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimantal,dengan rancangan penelitian corelational.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, perawat yang mendapat pelatihan dengan dokumentasi lengkap ada 8,0% dan pewawat yang tidak mendapat pelatihan dengan dokumentasi lengkap ada 16,0% serta perawat masa kerja kurang dari delapan tahun dengandokumentasi lengkap ada 20,0% dan perawatmasa kerjalebih dari delapan tahun dengan dokumentasi lengkap ada 4,0%.Disimpulkan bahwa adanya pelatihan dan masa kerja yang semakin lama diRSUD XXX tidak membuat dokumentasi semakin lengkap bila dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan pelatihan dokumentasi dengan masa kerja kurang dari delapan tahun.


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perubahan bidang keperawatan pada era globalisasi ini terjadi begitu pesat. Tuntutan masyarakat menjadi perawat harus bekerja lebih profesional. Diantara bukti suatu profesional adalah adanya sebuah dokumentasi, yang dalam keperawatan dikenal dengan dokumentasi keperawatan. Dokumentasi merupakan suatu catatan otentik yang dapat dibuktikan atau dijadikan bukti dalam persoalan hukum, sedangkan dokumentasi keperawatan merupakan bukti pencatatan dan pelaporan yang dimiliki perawat dalam melakukan catatan perawatan yang berguna untuk kepentingan klien, perawat dan tim kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan dasar komunikasi yang akurat dan lengkap secara tertulis dengan tanggung jawab perawat ( Hidayat, 2001 )
Perawat perlu menggunakan langkah- langkah pada proses perawatan ketika menghadapi klien yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Langkah-langkah tersebut berupa pengumpulan data, pengidentifikasian masalah atau kebutuhan, penetapan tujuan, pengidentifikasian hasil dan pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil serta tujuan. Setelah intervensi dilaksanakan, perawat mengevaluasi efektifitas rencana perawatan dalam mencapai hasil serta tujuan yang diharapkan ( Doengoes, 1999)
Pencatatan data klien yang lengkap dan akurat, akan memberikan kemudahan bagi perawat dalam membantu menyelesaikan masalah klien. Selain itu untuk mengetahui sejauh mana masalah klien dapat teratasi dan seberapa jauh masalah baru dapat diidentifikasi, Hal ini akan membantu meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Melalui dokumentasi keperawatan akan dapat dilihat sejauh mana peran dan fungsi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien, dengan demikian akan dapat diambil kesimpulan tingkat keberhasilan pemberian asuhan keperawatan yang telah diberikan guna pembinaan dan pengembangan lebih lanjut ( Nursalam, 2001 ) Menurut Carpenito ( 1999 ) Permasalahan yang dihadapi para perawat dalam menuliskan dokumentasi asuhan keperawatan adalah tidak ada waktu yang cukup untuk menulis, dokumentasi tidak perlu ditulis kecuali untuk akreditasi dan dokumentasi asuhan keperawatan tidak digunakan setelah dibuat. Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan Suwanto ( 2004 ) faktor yang mempengaruhi pelaksanaan dokumentasi keperawatan adalah manajemen, motivasi, sarana, waktu pendidikan dan pelatihan. Berdasarkan hasil studi pendahuluan dari 20 status klien dari 5 Ruang rawat inap di RSUD XXX, didapat data sebagai berikut : File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi terjadinya ISPA Pada Balita Di Kelurahan Selokaton Wilayah Kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar

Abstraksi:
Penelitian ini adalah tingginya angka kejadian ISPA pada balita menunjukkan ISPA merupakan kelompok penyakit yang kompleks. Salah satu penularan ISPA adalah melalui udara yang tercemar dan masuk melalui saluran pernafasan. Secara demografis wilayah Puskesmas Gondangrejo Karanganyar berdekatan dengan kawasan industri sehingga pencemaran udara diperkirakan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan metode kasus kontrol. Populasi penelitian adalah ibu yang mempunyai anak balita dan berada di Kelurahan Selokaton wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar tahun 2005. Tehnik pengambilan sampel yang dilakukan adalah secara purposive random sampling. Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan kuesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier ganda logistik dengan metode enter.
Hasil penelitian menunjukkan pendidikan Ibu pada tingkat SMP/SMA/PT berisiko 0,4 kali lebih kecil pada anak balitanya menderita ISPA dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan SD/tidak sekolah (OR = 0, 40; CI 95% = 0,18 - 0,93). Tingkat sosial ekonomi keluarga yang tinggi berisiko terkena ISPA pada anak balitanya sebesar 0,6 kali lebih rendah dibanding responden yang sosial ekonomi keluarganya rendah (OR = 0,62; CI 95% = 0,27 - 1,38). Status gizi balita yang tinggi berisiko terkena ISPA lebih kecil sebesar 0,9 kali dibandingkan dengan status gizi balita yang buruk (OR = 0,91; CI 95% = 0,25 – 3,28). Lingkungan rumah yang baik mempunyai risiko lebih kecil sebesar 0,8 kali terkena ISPA pada anak balitanya dibanding dengan lingkungan rumah yang tidak baik (OR = 0,8; CI 95% = 0,35 – 1,65)


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Arah kebijaksanaan pembangunan bidang kesehatan adalah meningkatkan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung dengan pendekatan paradigma sehat, dengan memberikan prioritas pada upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan rehabilitasi sejak pembuahan dalam kandungan sampai usia lanjut. Amanat tersebut dituangkan dalam undang- undang nomor 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) Tahun 2000 - 2004 yang merupakan penjabarannya (Suyudi, 2002). Salah satu tujuan khusus dari program kesehatan yang tercantum dalam PROPENAS adalah mencegah terjadinya dan tersebarnya penyakit menular sehingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat, menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan. Untuk mewujudkan upaya-upaya tersebut adalah dengan mengembangkan usaha-usaha penurunan Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA) karena AKB dan AKABA merupakan indikator yang menunjukkan derajat kesehatan suatu bangsa (Soemanto dkk., 1994).
Menurut United Nations dalam Siswanto, dkk (1995) AKB dan AKABA untuk negara berkembang hampir 10 kali lipat dari negara-negara maju. AKB di Indonesia selama tiga dasawarsa terakhir menunjukkan kecenderungan yang menurun. Tahun 1995 sekitar 55 per 1000 kelahiran hidup dan pada tahun 1999 mencapai 46 per 1000 kelahiran hidup. Meskipun AKB mengalami penurunan, dibandingkan dengan negara ASEAN Indonesia masih menduduki peringkat keempat tertinggi di antara 10 negara ASEAN, dan masih tinggi dari Vietnam (37 per 1000 kelahiran hidup). AKB tertinggi adalah Kamboja (104 per 1000 kelahiran hidup) menyusul Laos (98), Myanmar (80), sedangkan AKB terendah adalah Singapura (3,3), menyusul Brunei Darussalam (5,6) dan Thailand (6,5) (Depkes RI, 2001).
Hasil SKRT 1992 serta hasil SKRT 1995 di 27 propinsi di Indonesia tentang pola penyakit penyebab kematian bayi, penyakit ISPA menduduki nomor pertama (Depkes RI, 2001). Estimasi Angka Kematian Balita (AKABA) di Indonesia yang dihitung dari data Biro Pusat Statistik (BPS), mengalami penurunan yang cukup berarti, yaitu dari 111 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 81 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1993. AKABA pada tahun 1995 adalah 75 per 1000 kelahiran hidup dan 59 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1997. AKABA tertinggi adalah Propinsi Nusa Tenggara Barat (162 per 1000 kelahiran hidup) sedangkan AKABA terendah adalah DKI Jakarta (47 per 1.000 kelahiran hidup). Hasil SKRT 1995 menunjukkan 6 (enam) penyakit penyebab kematian balita yaitu sistem pernafasan (30,8%), gangguan perinatal (21,6%), diare (15,3%), infeksi dan parasit lain (6,3%) dan saraf (5,5%) serta tetanus (3,6%) (Depkes RI, 2001).
Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM & PL) Umar Fahmi Achmadi memperkirakan kematian akibat pneumonia sebagai penyebab utama Infeksi Sistem Pernafasan Akut (ISPA) di Indonesia pada akhir 2000 sebanyak lima kasus di antara 1.000 bayi/balita. Berarti, akibat pneumonia, sebanyak 150.000 bayi/balita meninggal tiap tahun atau 12.500 korban per bulan atau 416 kasus sehari atau 17 anak per jam atau seorang bayi/balita tiap lima menit (DepKes RI, 2005). Dari laporan tersebut menunjukkan ISPA merupakan penyebab dominan dan merupakan beban umum secara global yang menyebabkan AKB dan AKABA (Lanata dkk., 2004).
Hasil survei di Puskesmas Gondangrejo Karanganyar yang terdiri dari 13 desa (Plesungan, Wonorejo, Jeruksawit, Jatikuwung, Selokaton, Rejosari, Bulurejo, Tuban, Krendowahono, Dayu, Wonosari, Karangturi dan Kragan) menunjukkan peringkat pertama dari 10 penyakit yang ada di wilayah tersebut pada tahun 2004 adalah (1) penyakit saluran pernafasan bagian atas (7705 kasus), (2) penyakit sistem otot dan jaringan pengikat (2777 kasus ), (3) penyakit sistem pencernaan (1865 kasus), (4) penyakit kulit (1753 kasus), (5) penyakit gigi (1220 kasus), penyakit tekanan darah tinggi (924 kasus), penyakit diare (667 kasus), penyakit TB paru (335 kasus), (9) penyakit konjungtivis (331 kasus), dan penyakit Telinga dan mastoid (203 kasus) (Puskesmas Gondangrejo Karanganyar, 2005a).
Untuk kasus ISPA pada balita di wilayah Puskesmas Gondangrejo juga menunjukkan fluktuasi selama tahun 2004, yaitu pada bulan Januari sebanyak 298 kasus, Pebruari sebanyak 300 kasus, Maret sebanyak 302 kasus, April sebanyak 308 kasus, Mei sebanyak 298 kasus, Juni sebanyak 272 kasus, Juli sebanyak 281 kasus, Agustus sebanyak 285 kasus, September sebanyak 269 kasus, oktober sebanyak 281 kasus, Nopember 283 kasus dan Desember sebanyak 298 kasus. Dari beberapa kasus tersebut yang terjadi di Kelurahan Selokaton menduduki peringkat yang tinggi, di mana hampir setiap bulan terjadi lebih dari 20 kasus (Puskesmas Gondangrejo Karanganyar, 2005b).
Melihat tingginya angka kejadian ISPA pada balita menunjukkan bahwa ISPA merupakan kelompok penyakit yang kompleks. Salah satu penularan ISPA adalah melalui udara yang tercemar dan masuk melalui saluran pernafasan. Secara demografis wilayah Puskesmas Gondangrejo Karanganyar berdekatan dengan kawasan industri sehingga pencemaran udara diperkirakan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA (Achmadi, dkk, 2004). Selain itu tingkat pendidikan ibu, status gizi balita dan lingkungan tempat tinggal (rumah) diperkirakan juga berpengaruh terhadap terjadinya ISPA pada balita. Mengingat kompleknya penyebab terjadinya ISPA pada balita maka peneliti tertarik untuk mengkaji faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton Wilayah Kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar.

B. Perumusan Masalah
Mengacu pada latar belakang masalah di atas maka masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
”Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton wilayah Kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar”

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Tujuan Umum
Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui besar pengaruh tingkat pendidikan ibu terhadap terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar
b. Mengetahui pengaruh sosial ekonomi keluarga (penghasilan keluarga) dengan terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar
c. Mengetahui pengaruh status gizi balita dengan terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar
d. Mengetahui pengaruh lingkungan rumah dengan terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar.
e. Mengetahui pengaruh yang paling dominan terjadinya ISPA pada balita diKelurahan Selokaton wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar.

D. Manfaat Penelitian
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Antar Pendidikan Dan Pelatihan Dengan Pengetahuan Perawat Tentang Pendokumentasian Asuhan Keperawatan Di Badan Rumah Sakit Umum XXX

Abstraksi:
Kegiatan pendokumentasian memerlukan pencatatan dan pelaporan. Tujuan dari pencatatan dan pelaporan ialah agar perawat mengetahui pencapaian hasil kegiatan pendokumentasian asuhan keperawatan. Di Rumah Sakit tingkat pengetahuan perawat dalam pendokumentasian masih kurang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pelatihan dengan pengetahuan perawat tentang pendokumentasian asuhan keperawatan di Badan Rumah Sakit XXX. Penelitian ini bersifat observasional dengan menggunakan rancangan cross sectional . Sampel dalam penelitian ini adalah 82 perawat. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah analisis diskriptif dan analisis statistik Rank Spearman.
Hasil statistik diperoleh perawat yang berpendidikan 12 tahun (SPK) sebesar 17,15% , yang berpendidikan 15 tahun (DIII) sebesar 79,3 % dan berpendidikan 18 tahun (SI) sebesar 3,7% dan perawat yang mengikuti pelatihan 1 kali sebesar 13,4% , 2 kali sebesar 15,9% , 3 kali sebesar 24,4% dan tidak mengikuti pelatihan sebesar 46,3% sedangkan tingkat pengetahuan katagori baik sebesar 32,9% dan tidak baik sebesar 67,1%. Hasil uji hubungan antara pendidikan dengan pengetahuan diperokeh p value 0,000 berarti ada hubungan. Hasil uji hubungan pelatihan dengan pengetahuan diperoleh p value 0,000 berarti ada hubungan.
Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pendidikan dan pelatihan dengan pengetahuan perawat tentang pendokumentasihan asuhan keperawatan, saran bagi perawat setiap ada pelatihan sebaiknya perawat mengikuti karena akan menambah pengetahuan tentang pendokumentasian asuhan keperawatan. Bagi Rumah Sakit mengadakan pelatihan yang berhubungan degan asuhan keperawatan.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut profesi kesehatan Termasuk profesi keperawatan untuk memberikan pelayanan berkualitas dan komprehensif sesuai dengan standar yang berlaku. Pelayanan keperawatan merupakan salah satu penentu baik buruknya dan citra rumah sakit, oleh karenanya kualitas pelayanan keperawatan perlu dipertahankan dan ditingkatkan seoptimal mungkin ( Nursalam 2002 ). Rumah Sakit sebagai salah satu penyelenggara pelayanan kesehatan hendaknya memberi pelayanan yang bermutu agar dapat memberi rasa puas kepada klien dan keluarganya yang dirawat. Mutu pelayanan kesehatan dirumah sakit dipengaruhi oleh mutu pelayanan keperawatan , karena pelayanan keperawatan merupakan bagian integral pelayanan kesehatan.
Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit , pelayanan keperawatan berperan sebagai salah satu penentu citra institusi pelayanan yang menerapkan standar pelayanan rumah sakit yang berlaku melalui SK Men Kes No.436 / MENKES / SK / 1993 dan standar asuhan keperawatan yang diberlakukan melalui SK Dirjen Pelayanan Medis No.00.03.26.7637 Tahun 1993. Ini berarti seluruh tenaga keperawatan di rumah sakit dalam memberikan asuhan keperawatan harus berpedoman atau mengacu pada standar asuhan keperawatan ( Depkes, 1995 ).
Keperawatan sebagai suatu profesi mengharuskan pelayanan keperawatan diberikan secara profesional oleh perawat. Salah satu langkah yang perlu di lakukan adalah dengan adanya kegiatan pencatatan dan pelaporan yang baik dan benar yang didalam keperawatan ini lebih spesifik pada kegiatan pendokumentasian (Depkes , 1997 ). Dokumentasi keperawatan merupakan unsur penting dalam sistim pelayanan kesehatan, karena melalui pendokumentasian yang lenkap dan akurat akan memberikan kemudahan bagi perawat dalam membantu penyelesaian masalah klien dapat teratasi, dan seberapa jauh masalah baru dapat diidentifikasi mutu pelayanan keperawatan . Dalam aspek legal perawat tidak mempunyai bukti tertulis jika klien menuntut ketidak puasan akan pelayanan keperawatan (Nursalam,2001) Guna menunjang keberhasilan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan yang profesional dipengaruhi oleh kualitas perawat yang di tentukan serta dipengaruhi oleh faktor-faktor pendidikan dan pelatihan Badan Rumah Sakit Umum XXX Boyolali sebagai pelaksana penyelenggara pelayanan kesehatan dalam melaksanakan program pembangunan kesehatan selalu berupaya untuk melakukan usaha-usaha guna meningkatkan pelayanannya dalam bidang kesehatan. Pelaksanaan program peningkatan pelayanan kesehatan akan berjalan lancar, efektif, berdaya guna serta berhasil guna apabila didukung oleh usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan tentang pendokumentasian asuhan keperawatan yang diadakan khususnya bagi perawat di Badan RSU yang akan menentukan pengetahuan dari perawat itu sendiri dalam melaksanakan dokumentasi asuhan keperawatan yang profesional. Aspek dasar pengetahuan dokumentasi proses keperawatan yang dimiliki oleh perawat adalah pengetahuan tentang proses keperawatan dan pengetahuan dasar tentang pengkajian. (Hidayat, 2001) Hasil penelitian Gulack (1983) yang dikutip Priharjo (1995) menyatakan bahwa keprofesionalan dari kemampuan perawat berinspirasi, menjalin rasa percaya dan konfidensi dengan pasien mempunyai pengetahuan yang memadai terhadap pekerjaan dipengaruhi oleh salah satunya adalah pendidikan.
Dari hasil penjajakan pendahuluan tentang pendokumentasian asuhan keperawatan di Badan Rumah Sakit Umum XXX Boyolali dari 10 status pasien yang dirawat minimal tiga hari dengan berbagai kasus di Bangsal E didapatkan pengkajian 70%, diagnose keperawatan 50%, rencana keperawatan 60%, pelaksanaan keperawatan 40% dan evaluasi 30% . Tingkat pendidikan perawat yang ada di Badan Rumah Sakit Umum Boyolali meliputi SPK 19 orang, D3 keperawatan 79 orang dan S1 Keperawatan 5 orang. Pelaksanaan pendokumentasian asuhan keperawatan dilakukan oleh perawat lulusan D3 dan perawat lulusan SPK jarang bahkan ada yang tidak pernah melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan Berdasarkan data tersebut peneliti tertarik untuk meneliti” Hubungan tingkat pendidikan dan pelatihan dengan pengetahuan perawat tentang pendokumentasian asuhan keperawatan”.

B.Batasan dan Perumusan Masalah
2. Batasan masalah
Pembatasan masalah dimaksudkan sebagai acuan di dalam penulis menguraikan permasalahan yaitu agar tidak terlalu luas dan menyimpang dari permasalahan pokok yang dikemukakan sesuai judul skripsi ini yaitu “Hubungan antara tingkat pendidikan dan pelatihan dengan pengetahuan perawat tentang pendokumentasian asuhan keperawatan dimana variabel bebas pendidikan dan pelatihan sedangkan variabel terikat adalah pengetahuan perawat tentang pendokumentasian asuhan keperawatan dengan populasi perawat RSU.
3. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah penelitian ini adalah “ Apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan dan pelatihan dengan pengetahuan perawat tentang pendokumentasian asuhan keperawatan di Badan RSU.

D. Tujuan penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan pelatihan dengan pengetahuan perawat tentang pendokumentasian asuhan keperawatan.
2. Tujuan khusus
a .Mengetahui tingkat pendidikan perawat
b .Mengetahui pelatihan tentang asuhan keperawatan
c .Mengetahui pengetahuan perawat tentang pendokumentasian asuhan keperawatan.
d. Mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan pengetahuan perawat tentang pendokumentasian asuhan keperawatan.
e. Mengetahui hubungan pelatihan asuhan keperawatan dengan pengetahuan perawat tentang pendokumentasian asuhan keperawatan.

E. Manfaat Penelitian
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Antara Faktor Demografi Dengan Terjadinya Depresi Pada Lanjut Usia

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup dan majunya ilmu pengetahuan, khususnya dibidang ilmu kedokteran meningkatkan umur harapan hidup. Akibatnya jumlah Manusia lanjut usia (lansia) akan bertambah, baik disadari atau tidak, secara naluri semua orang ingin mencapai usia sepanjang mungkin (Gunadi, 1984). Walau belum ada kesepakatan, umumnya lansia di Indonesia adalah diatas 60 th atau 65 th. Angka ini diperkirakan akan naik menjadi 7-9 % pada tahun 2000. Dengan bertambahnya jumlah warga lansia tersebut, maka masalah kesehatan baik fisik maupun kejiwaan dan masalah sosial yang berhubungan dengan lansia diduga akan bertambah secara cukup berarti (Karnadi, 1987). Dengan meningkatnya jumlah lansia akan menimbulkan banyak masalah baru, dimana sering terjadi depresi pada orang berumur 60an. Depresi sering mengisyaratkan adanya suatu penyakit organik (Maramis, 1998). Dalam menghadapi bertambahnya jumlah lansia yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan perlu ditingkatkan dan dikembangkan kualitas sumber daya manusia atau lembaga kesehatan khususnya tenaga keperawatan sehingga tercapai pelayanan yang berkualitas.
Menurut penelitiaan Kartidjo, (2002) depresi adalah penyakit menahun yang saat ini dimasukkan dalam rangking pertama penyebab disabilitas terbesar didunia, dengan jumlah disfungsi dua kali lebih besar dari penyakit yang umum kita jumpai. Sindroma depresi merupakan fenomena klinik yang ternyata tidak selalu jelas seperti yang dicantumkan dalam klasifikasi diagnostik (DSM-IV,ICD 10 maupun PPDGJ-III) makin banyak varian depresi yang ditemui, tidak saja mengenai manifestasi gejalanya yang berbeda, tetapi juga varian klinisnya seperti pada lansia. Depresi pada lansia dipandang sebagai masalah yang cukup penting, karena adanya bukti bahwa depresi pada lansia akan membawa kepada ketidakmampuan atau disabilitas baik dalam fungsi fisik maupun sosial
(Hoedijono, 1999). Adanya pandangan True depression in the aged is the syphilis of geriatric medicine (is the imitator of other diseases) juga merupakan alasan mengapa depresi ini dianggap sebagai masalah yang penting.
Depresi adalah gangguan psikiatrik yang paling penting diantara lansia dengan gejala-gejala klinis yang bervariasi (Hoedijono, 1999). Depresi bisa terjadi secara mendadak tetapi pada beberapa kasus bisa timbul dalam beberapa bulan. Gangguan ini dapat di cetuskan oleh “rasa kehilangan” atau penyakit-penyakit fisik (Gunadi, 1984). Rasa kehilangan disini adalah reaksi terhadap perasaan kehilangan sesuatu yang dicintainya (anak yang telah dewasa, suami atau istri, suami tidak lagi sama kasih sayangnya), kehilangan martabat atau self Esteem-nya, kehilangan tujuan hidup (karena peranannya sebagai ibu dan ibu rumah tangga telah berkurang), sakitnya suami atau istri (Hoedijono, 1999). Faktor-faktor risiko depresi pada lansia meliputi: janda atau perceraian, hidup sendiri, menurunnya aktifitas sosial, tidak adanya hubungan dengan orang yang dipercaya dan kehilangan ‘love object’ yang baru saja terjadi.
Selain itu depresi bisa timbul oleh karena perubahan sosial, kehilangan pekerjaan, teman akrab, aktifitas harian dan perpindahan tempat tinggal (ke rumah panti jompo atau tergusur oleh anggota keluarga) dapat menimbulkan depresi pada lansia, sehingga insiden depresi pada penderita-penderita ini lebih tinggi (Hoedijono, 1999). Pada tahun 2000 jumlah orang lansia di Indonesia diproyeksikan sebesar 7 – 28 %, tahun 2020 sebesar 11 – 34 %, bahkan dari data yang dikeluarkan oleh Bureau Of The Cencus USA (1993), Menurut penelitian Mudjaddid (2003) prevalensi depresi pada populasi umum 6,5%, sedang pada pasien lansia prevalensinya 15,9% dilaporkan bahwa di Indonesia tahun 1990–2025 akan mempunyai jumlah lansia sebesar 414 % satu angka paling tinggi di seluruh dunia. Dalam istilah demografi, penduduk Indonesia sedang bergerak ke arah struktur penduduk yang semakin menua (Ageing Population), sehingga sangat berpengaruh terhadap terjadinya gangguan depresi pada lansia.
Menurut Hierfield & Cross (1982) dalam Nuhriawangsa (1988), depresi terdapat dimana-mana, tidak dipengaruhi faktor rasial, lebih banyak terdapat pada perempuan, golongan sosial ekonomi rendah dan status tidak kawin. Prevalensi pada pasien perempuan biasanya dua kali lebih besar dari laki- laki, hal ini belum ada penjelasan yang menerangkannya (Kaplan & Sadock). Pada penelitian Post F & Shulman memisahkan penderita depresi pada lansia laki-laki yaitu 13,7% sedangkan pada lansia perempuan 18,2%. Setiap tahunnya WHO mencatat 100 juta kasus depresi, dengan angka prevalensi seumur hidup yang tinggi mencapai 15% pada laki-laki dan 24% pada perempuan (Kartidjo, 2002).
Ditinjau dari semua faktor sosial demografi, jenis kelamin merupakan faktor risiko yang konsisten, penelitian ini menunjukkan bahwa gejala depresi lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki (Dien,1985). Menurut penelitian yang dilakukan Sarason (1993), bahwa jenis kelamin sangat berpengaruh terhadap terjadinya depresi, ini ditunjukkan dengan adanya penelitian bahwa perempuan mempunyai risiko dua kali lebih besar dibandingkan dengan laki-laki untuk menderita depresi. Hal ini berkaitan dengan adanya pernyataan bahwa perempuan sering menggunakan perasaannya dalam mengahadapi berbagai hal, dan mereka sering menggunakan feeling dan emosi dalam memutuskan suatu perkara atau masalah.
Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan yang pada umumnya diawali pada masa pensiun karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi setelah orang pensiun lebih tergantung dari model kepribadiannya.
Kondisi ekonomi dan sosial yang buruk, seperti misalnya low incom dan tidak mempunyai pekerjaan, merupakan faktor risiko penyebab terjadinya depresi (Weisman. cit Kaplan & Sadock, 1995), didukung lagi dengan penelitian Jacob (2000), bahwa penghasilan sangat menentukan terjadinya depresi karena pendapatan dan penghasilan yang sudah berkurang, sulit mencari pekerjaan sedangkan kebutuhan-kebutuhan untuk memenuhi kewajibannya masih relatif tetap sehingga terjadi jurang antara penghasilan dan kebutuhan.
Kota Surakarta merupakan salah satu kota besar di Propinsi Jawa Tengah, terletak di tengah antara kota/kabupaten di karesidenan Surakarta. Hasil Pendaftaran Pemilih dan Pendatan Penduduk Berkelanjutan (P4B) tahun 2003 jumlah penduduknya 497.234 jiwa. Menurut kelompok umur 60+ tahun ada 29.498 jiwa. Secara administratif, Kota Surakarta terbagi dalam 5 kecamatan, yaitu Laweyan, Serengan, Pasar Kliwon, Jebres, Banjarsari. Daerah terluas ditempati oleh Kecamatan Banjarsari dengan luas mencapai 33,63% dari luas Kota Surakarta.
Wilayah Banjarsari terdapat 154.393 jiwa. Salah satu daerah Banjarsari adalah Kalurahan Nusukan. Hingga bulan Februari 2005 di Kalurahan Nusukan terdapat 28.723 jiwa. Menurut kelompok umur 60+ tahun terdapat 280 jiwa. Jenis lansia perempuan sebanyak 254 orang dan lansia laki – laki 26 orang. Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel di Nusukan, Surakarta Peneliti melihat fenomena atau kenyataan yang ada bahwa lansia di daerah tersebut berdasarkan studi pendahuluan yang telah peneliti lakukan terhadap 20 orang lansia, menunjukkan bahwa lansia di Nusukan banyak yang mengalami depresi yang disebabkan faktor demografi. Studi pendahuluan yang peneliti lakukan menunjukkan bahwa lansia di Nusukan cenderung mengalami depresi, misalnya saja jenis kelaminnya lebih banyak yang perempuan daripada yang laki – laki, sedangkan menurut penelitian Post F & Shulman bahwa perempuan dominan terkena depresi daripada laki-laki. Status pekerjaan pada lansia di Nusukan banyak yang tidak bekerja dari pada yang bekerja, tidak bekkerja baik yang disebabkan karena mengalami pensiunan maupun karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan lagi untuk bekerja. Studi pendahuluan tersebut lansia yang bekerja di sektor formal (25%), informal (75%). Status perkawinan banyak yang hidup sendiri (baik janda, duda, tanpa keluarga) dibandingkan yang masih hidup besama suami istri maupun keluarga. Penghasilan lansia di Nusukan lebih dominan yang <250.000 dari pada yang 250.000-500.000 dan >500.000. Karena keterbatasan pengetahuan, waktu, data dan materi maka peneliti hanya mengambil beberapa variabel tersebut diatas untuk diteliti.
Berangkat dari fenomena tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui adakah hubungan antara faktor demografi dengan terjadinya gangguan depresi pada lansia di Nusukan, Surakarta.
`
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka dapat diambil rumusan masalah yaitu: Adakah hubungan antara faktor demografi dengan terjadinya depresi pada lansia di Nusukan, Surakarta.

C. Tujuan Penelitiaan
1. Tujuan Umum.
Mengetahui hubungan antara faktor demografi dengan terjadinya depresi pada lansia di Nusukan, Surakarta.
2. Tujuan Khusus.
Mengetahui kakteristik jenis kelamin, status pekerjaan, status perkawinan, penghasilan dengan terjadinya depresi pada lansia.

D. Manfaat Penelitian
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Antara Informasi Prabedah Dengan Kecemasan Pasien Praoperasi Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah

Abstraksi:
Salah satu masalah individu ketika sakit adalah kecemasan, apalagi jika individu harus menjalani tindakan medis yaitu operasi dan berperan sebagai pasien. Kecemasan yang timbul dalam diri pasien dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk yang dialami pasien preoperasi. Pasien dapat merasa cemas berkaitan dengan penyakitnya, pengobatan dan pemeriksaan diagnosis yang dihadapi.
Perawat sebagai tenaga kesehatan di rumah sakit memiliki peran yang penting dalam membantu pasien mengatasi kecemasannya sehingga perlu adanya pelayanan keperawatan yang berkualitas termasuk di dalamnya informasi prabedah yang sama sekali belu pernah dikenal atau diketahui pasien. Apabila informasi yang diberikan oleh perawat atau tenaga kesehatan lainnya dengan jelas, khususnya masalah operasi sehingga pasien mengerti atau memahaminya sesuai kondisi sakit yang dialaminya maka hal ini dapat mempengaruhi pasien dalam kecemasannya, sehingga berkurang rasa cemasnya.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara informasi prabedah dengan kecemasan pasien preoperasi, sehingga hipotesa yang penulis susun adalah ada hubungan antara informasi prabedah dengan kecemasan pasien preoperasi. Artinya apabila informasi sebelum operasi yang diberikan atau dijelaskan kepada pasien kurang jelas atau sulit dimengerti pasien maka kecemasan pasien semakin tinggi.
Hasil penelitian dengan analisis Korelasi Rank Spearman membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara informasi prabedah dengan kecemasan pasien preoperasi. Hal ini ditunjukan dengan nilai signifikan yaitu 0,197 > 0,05.


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tujuan dari pembangunan kesehatan nasional adalah terciptanya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum. Untuk mencapai tersebut sangat diperlukan tenaga, fasilitas dan pelayanan kesehatan yang memadai, baik secara kualitas maupun kuantitasnya sebagai rujukan masyarakat (Arif, 1999). Satu fasilitas kesehatan yang ada adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan di Rumah Sakit adalah meliputi pencegahan, pengobatan penyakit dan promosi kesehatan yang dilakukan secara terintegrasi oleh semua tenaga kesehatan yang ada, maupun tenaga kesehatan yang lain yang terkait. Namun dari pelayanan kesehatan yang menonjol adalah pengobatan penyakit maupun rehabilitasinya. Salah satu cara pengobatan yang dilakukan adalah dengan operasi (Sukarman & Somapawiro, 1980).
Pembedahan merupakan tindakan pengobatan yang banyak menimbulkan kecemasan, sampai saat ini sebagian besar orang menganggap bahwa pembedahan merupakan pengalaman yang sangat menakutkan,baik bagi orang kesehatan sendiri maupun orang awan terutama jika pembedahan yang dilakukan termasuk dalam kategori segera dilakukan operasi. Reaksi cemas ini akan berlanjut bila klien tidak pernah atau kurang mendapat informasi yang berhubungan dengan penyakit dan tindakan yang dilakukan terhadap dirinya. Carbonel (2004) mengatakan setiap orang pernah mengalami periode cemas, apalagi pasien yang akan menjalani pembedahan. Kecemasan meupakan gejala klinik yang jelas terlihat pada pasien dengan penatalaksanaan medis. Carpenito (1999) mengatakan 90 % pasien pra operasi mengalami kecemasan.
Menghadapi pembedahan menyebabkan seseorang bertanya dan sering merasa takut tentang apa yang terjadi terhadap dirinya dan bagaimana pula akibatnya nanti. Saat–saat itu merupakan saat yang menggelisahkan bagi si pasien, lepas dari persoalan apakah ia membicarakan tentang hal tersebut atau tidak. Dalam keadaan seperti itu wajarlah kalau orang merasa kuatir dan sikap petugas yang terlibat dalam usaha mempersiapkan dirinya menghadapi pembedahan itu sangatlah mempengaruhinya (Depkes,1989). Tindakan pembedahan merupakan ancaman aktual atau hanya potensial pada integritas seseorang yang dapat mengakibatkan reaksi stres, baik stres fisiologi atau psikologi dan salah satu respon psikologi adalah kecemasan (Long, 1996).
Pernyataan diatas menunjukan bahwa penjelasan dan informasi yang lengkap dari tenaga kesehatan sebelum melakukan tindakan pada pasien sangat diperlukan sampai pasien memahami dari tujuan tindakan tersebut, sehingga pasien bebas dari rasa cemas dan bisa kooperatif terhadap apa yang dilakukan terhadap dirinya yang akhirnya akan meminimalkan resiko dari tindakan tersebut. Penyediaan waktu khusus untuk diskusi pra bedah dengan pasien dan keluarga adalah unsur penting pada persiapan pembedahan. Diskusi hanya boleh diakhiri bila dokter yakin bahwa pasien dan keluarganya sudah memahami indikasi operasi, sifat khusus tindakan dan resiko operasi tersebut. Semua pertanyaan harus dijawab dengan lengkap untuk memberi keterangan penting sebanyak mungkin, menghilangkan kecemasan atau ketakutan pasien yang tidak tahu serta mengurangi kecemasan yang tidak perlu terhadap masalah yang mungkin tidak akan terjadi (Sabiston, 1995).
Pada diskusi tentang perincian biaya harus secara jelas agar dipahami pasien dan keluarga. Aspek tentang operasi harus dibicarakan mencakup daerah insisi, peralatan yang diperlukan dan infus intravena, kemungkinan penggunaan sonde, penggunaan drain dan tindakan keperawatan khusus yang membutuhkan kerjasama dengan pasien. Harus dijelaskan keperluan dan perkiraan lama tinggal dalam pemulihan atau perawatan intensif. Tindakan yang akan banyak merubah fungsi tubuh harus dibicarakan dengan memperhatikan efek jangka pendek dan jangka panjang (Sabiston, 1995).
Respon psikologis secara umum berhubungan dengan adanya ketakutan– ketakutan terhadap anastesi, diagnosis yang belum pasti, keganasan, nyeri, ketidakmampuan, cerita yang mengerikan dari orang lain dan sebagainya. Itu adalah salah satu gambaran atau fakta tentang kecemasan pre operasi. Pasien yang akan menjalani pembedahan sangat membutuhkan informasi yang berhubungan dengan prosedur tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya, informasi pra bedah biasanya dilakukan oleh dokter operator atau dokter yang diberi wewenang dengan petunjuk dari dokter yang bertanggungjawab, tetapi karena keterbatasan waktu terkadang dokter hanya menjelaskan secara garis besarnya saja. Beberapa persiapan khusus yang diinstruksikan dokter harus dilaksanakan pasien sebelum pembedahan. Peraturan tertulis ini disebut peraturan–peraturan sebelum pembedahan, memperinci hal–hal yang harus dilakukan sebelum pembedahan dilakukan, untuk mencegah kemungkinan komplikasi selama pembedahan dan sesudahnya. Peraturan–peraturan itu akan membuat pasien lebih tenang, terutama apabila memahami apa sebabnya peraturan itu dilaksanakan. (Depkes RI, 1989).
Perawat menjadi salah satu tenaga kesehatan paling lama berinteraksi dengan pasien, mempunyai kewajiban membantu pasien mempersiapkan fisik dan mental untuk menghadapi operasi, maka memerlukan ketrampilan komunikasi yang baik, kepercayaan pasien kepada dokter atau ahli bedahnya dan semua petugas yang terlibat. Merupakan suatu pernyataan gamblang bahwa perasaan yang aman membantu pasien untuk lebih menarik manfaat dari persiapan– persiapan yang dilakukan sebelum pembedahan, pasien pergi ke kamar bedah dengan kondisi yang lebih baik untuk menerima anestesi. Sikap dan tingkah laku perawat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan ini. Setiap kontak yang dilakukan dengan pasien hendaklah membantu pasien itu menyakini bahwa ia berada diantara orang–orang yang memperhatikan keselamatannya. Salah satu cara melakukan hal ini ialah dengan mencurahkan perhatian sampai kepada hal yang sekeci–kecilnya dalam merawat pasien. Perawat harus mau mendengarkan semua keluhan dan sekaligus memperhatikan semua keperluan pribadi pasien
(Arif, 1999). Hubungan antara perawat dengan pasien melalui tehnik komunikasi terapeutik juga dapat meempengaruhi penurunan kecemasan pasien, pendapat ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Rachma di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta tahun 2000, yang berjudul Hubungan komunikasi terapeutik terhadap tingkat kecemasan pasien post laparatomi. Kesimpulannya adalah ada hubungan yang bermakna antara tehnik komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh perawat terhadap penurunan kecemasan pasien post bedah. Menurut Hidayanto tahun 1998 tentang kecemasan antara pekerja pria dan wanita di Perusahaan Rambak Bantul Yogyakarta menunjukan bahwa wanita lebih banyak mengalami kecemasan dibandingkan pria.
Menurut pengamatan dan observasi yang dilakukan di ruang rawat inap RS PKU Muhammadiyah Surakarta sering kali dijumpai pertanyaan atau pernyataan oleh pasien , keluarga atau teman. Mengapa harus operasi, berapa biaya operasi yang dibutuhkan, mengapa belum waktunya operasi dibawa ke kamar operasi, bagaimana perawatan setelah pulang, sembuhnya kapan, apakah nanti bisa beraktivitas seperti sebelum operasi, apakah nanti bisa kambuh lagi dan mungkin masih ada pertanyaan atau pernyataan lain yang tidak disebutkan. Menurut Caplan dan Sadock (1997) kecemasan pasien sebelum pembedahan meliputi pengalaman masa lalu tentang operasi, pengetahuan klien, usia, diagnosa penyakit, jenis pembedahan, informasi sebelum pembedahan, social ekonomi, hospitalisasi dan lama menunggu jadwal operasi. Berkaitan dengan persiapan pembedahan di RS PKU Muhammadiyah Surakarta, pasien yang akan di operasi biasanya menjadi gelisah dan takut. Perasaan gelisah dan takut kadang–kadang tidak terlihat jelas. Tetapi terkadang kecemasan itu dapat terlihat dalam bentuk lain dengan sering bertanya dan berulang walaupun pertanyaan telah dijawab. Takut sakit, takut pembiusan, khawatir soal pekerjaan, khawatir tergantung pada keluarga, khawatir soal keuangan, takut akan hari depan. Disamping perawat, dalam keadaan seperti ini petugas kerohaniwan juga memegang peranan penting.
Dari berbagai keadaan diatas, peneliti akan mengadakan penelitian dengan judul Hubungan antara informasi prabedah dengan kecemasan pasien sebelum operasi di RS PKU Muhammadiyah Surakarta. Dari studi pendahuluan yang dilakukan , frekuensi kasus pembedahan di RS PKU Muhammadiyah Surakarta ini cukup tinggi, data yang diambil dari rekam medis menunjukan , untuk pembedahan bulan Desember 2004 sebanyak 175 operasi, bulan Januari 2005 sebanyak 204 operasi dan bulan Februari sebanyak 162 operasi. Hal di atas menarik minat penulis untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Pertama, penelitian semacam ini belum pernah dilakukan di RS PKU Muhammadiyah Surakarta. Kedua, dengan persiapan operasi yang baik diharapkan operasi berjalan lancar. Ketiga, mencoba seminimal mungkin kecemasan pasien dalam menghadapi operasi.
Informasi prabedah menjadi variabel penelitian karena menurut peneliti pasien yang masuk rumah sakit khususnya pasien dengan indikasi operasi belum tahu hal-hal atau persiapan apa saja yang perlu dilakukan dalam menjalani pembedahan bahkan pasien mungkin tidak tahu mengapa harus dilakukan tindakan. Sedangkan kecemasan diungkapkan karena menurut Johnston (1987) bahwa kekhawatiran tentang hasil dari pembedahan paling sering dilaporkan pasien (dalam Pitts dan Philips,1995). Hal ini dijelaskan Taylor (1995) bahwa kegelisahan selama pemeriksaan laboratorium atau pembedahan serta hasil dari pemeriksaan laboratorium atau pembedahan itu dapat menimbulkan sulit tidur, mimpi-mimpi buruk dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi. Ketiga hal tersebut merupakan beberapa dari gejala-gejala yang menyertai kecemasan. Sebelumnya, tahun 1976, Wilson-Barnet (dalam Pitts dan Philips,1992) mengadakan wawancara dengan pasien di rumah sakit dan menemukan perpisahan dengan keluarga, teman dan pekerjaa merupakan sumber munculnya kecemasan.

B.RUMUSAN MASALAH
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Antara Karakteristik Demografi Dengan Motivasi Dalam Melakukan Mobilisasi Pada Pasien Post Operasi Fraktur

Abstraksi:
Mobilisasi dini merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan pada pasien post operasi yang dapat membantu dalam pemulihan dan menghindari komplikasi paska bedah. Motivasi yang menggerakkan pasien post operasi fraktur dalam melakukan mobilisasi dilatarbelakangi oleh motif dan aktor tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendiskripsikan faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi melakukan mobilisasi pada pasien post operasi fraktur di RSO. Prof. DR. R. Soeharso. Penelitian ini merupakan penelitian dilakukan menggunakan kuesioner dengan pertanyaan secara langsung terhadap beberapa sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan data yang sudah ada di RSO. Prof. DR. R. Soeharso saat itu dan didapatkan sampel sebanyak 32. Hasilnya kemudian dianalisa secara deskriptif dan secara analitik menggunakan uji korelasi Rank Spearman dan uji Reliabilitas. Hasil uji statistik pada penelitian ini didapatkan suatu kesimpulan bahwa pada usia yang lebih muda pasien cenderung mempunyai kondisi fisik kuat dan lebih berani untuk menggerakkan tubuhnya untuk mobilisasi sedang usia yang lebih tua kondisinya lebih lemah sehingga mobilisasinya akan kurang, hal ini karena pada pasien dengan usia muda proses pembentukan kalus lebih cepat dibanding dengan usia tua sehingga proses penyembuhan frakturnya juga lebih cepat, massa tulang pada usia muda juga lebih besar dibandingkan dengan usia tua. Sedang jenis kelamin laki-laki mempunyai motivasi yang lebih tinggi daripada wanita. Pria lebih aktif dalam hal mobilisasi dan mempunyai kemauan yang keras dalam proses penyembuhannya. Wanita cenderung merasa takut untuk melakukan mobilisasi karena merasa nyeri atau stres akibat pembedahan. Hal tersebut karena semua tindakan bedah apapun bentuk dan jenis merupakan stressor yang akan mengakibatkan dampak baik fisik maupun psikologis seseorang. Pasien dengan tingkat pendidikan menengah ke atas akan lebih mudah memahami penjelasan dari perawat tentang masalah kesehatan, pengetahuan mereka terutama yang didapat dari pendidikan formal juga cenderung lebih tinggi dibandingkan yang berpendidikan rendah sehingga akan mempengaruhi tingkat motivasinya dalam beraktivitas/mobilisasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan akan mempengaruhi perilaku seseorang termasuk perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut menerima informasi sehingga makin banyak pengetahuan yang dimiliki.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia, disamping juga merupakan karunia Tuhan yang perlu disyukuri, oleh karena itu kesehatan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya serta dilindungi dari ancaman yang merugikan. Dalam penelitian ini yang dipakai sebagai responden adalah jenis kelamin baik pria maupun wanita dengan umur 15 sampai 60 tahun, kemudian pendidikannya SD sampai Sarjana. Pembedahan merupakan salah satu bentuk terapi atau tindakan pengobatasan invasive yang sering dilakukan dalam penyembuhan pasien fraktur, hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya dampak yang berupa respon fisiologi maupun patologis yang berbeda pada setiap klien, tergantung koping individu. (Rothrock, 1999) Motivasi pada hakekatnya adalah penggerak tingkah laku. Setiap tindakan manusia digerakkan dan dilatar belakangi oleh motif-motif tertentu, tanpa motivasi orang tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi tidak semua motivasi itu disadari dan pada umumnya tingkah laku manusia tidak hanya digerakkan oleh satu motif saja akan tetapi motivasi merupakan salah satu faktor penentu tingkah laku.(Handoko, 1997)

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka permasalahan yang akan diteliti adalah “Adakah hubungan karakteristik demografi dan motivasi dalam melakukan mobilisasi pada pasien post operasi fraktur di Rumah Sakit Oertopedi Surakarta”.

C. Tujuan Penelitian
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Antara Sikap Dan Perilaku Perawat Dalam Berkomunikasi Terhadap Kepuasan Pasien Di Ruang Rawap Inap Badan Rumah Sakit Umum

Abstraksi:
Latar belakang: Kepuasan pasien rawat inap adalah tingkat perasaan seseorang pasien setelah membandingkan kinerja pelayanan atau hasil yang dirasakan dengan harapan yang diinginkan oleh pasien setelah menjalani rawat inap. Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan tidak terlepas dari (sikap dan perilaku) dalam berkomunikasi dengan pasien yang dapat mempengaruhi kepuasan pasien, meskipun sarana dan prasarana pelayanan sering dijadikan ukuran mutu oleh pelanggan namun ukuran utama penilaian tetap sikap dan perilaku pelayanan yang ditampilkan oleh petugas. Sikap dan perilaku yang baik oleh perawat sering dapat menutupi kekurangan dalam hal sarana dan prasarana.
Tujuan: untuk mengetahui kualitas sikap dan perilaku komunikasi perawat, memperoleh gambaran distribusi frekuensi komunikasi yang dilakukan perawat dan mengetahui efektifitas sikap dan perilaku perawat dalam berkomunikasi terhadap kepuasan pasien diruang rawat inap BRSU. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei dengan tipe explanasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang dirawat inap. Sedangkan sampelnya sebanyak 39 responden.
Analisa data pada penelitian ini dengan menggunakan korelasi chi square untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat, dan menggunakan koefisen korelasi bivariat yaitu statistik yang digunaka untuk menerangkan keeratan hubungan antara dua variabel yang keduanya berdistribusi normal. Dari hasil uji Chi-Square hubungan sikap dan perilaku perawat dalam berkomunikasi dengan kepuasan pasien mempunyai hubungan yang sangat signifikan dengan nilai X2 = 15,472 dan 14,544 Kesimpulan, bahwa sikap dan perilaku perawat dalam berkomunikasi berpengaruh besar terhadap kepuasan pasien, semakin aktif perawat melakukan komunikasi dengan pasien maka semakin tinggi kepuasan pasien.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Keperawatan adalah suatu upaya untuk membantu manusia seutuhnya (bio-psiko-sosial-spiritual) berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, untuk meningkatkan derajat kesehatan secara optimal kepada individu, keluarga dan masyarakat melalui upaya pelayanan keperawatan di rumah sakit dan institusi pelayanan kesehatan lainnya; yang memberikan pelayanan keperawatan profesional berorientasi kepada masyalah kesehatan guna memenuhi kebutuhan dasar manusia, dengan pendekatan proses keperawatan sebagai metode penyelesaian masalah; yang didasari ilmu dan kiat keperawatan, tanpa membedakan status sosial ekonomi dan budaya, (DEPKES RI, 1994).
Keperawatan sebagai pelayanan/asuhan keperawatan profesional bersifat humanistik, menggunakan pendekatan holistik, dilakukan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, berorientasi kepada kebutuhan obyektif klien, mengacu pada standar profesional keperawatan dan menggunakan etika keperawatan sebagai tuntutan utama (Nursalam, 2002). Profil perawat profesional adalah gambaran dan penampilan menyeluruh perawat dalam melakukan aktifitas keperawatan sesuai kode etik keperawatan. Aktifitas keperawatan meliputi peran dan fungsi pemberian asuhan /pelayanan keperawatan, praktik keperawatan, pengelola institusi keperawatan, pendidik pasien (individu, keluarga, dan masyarakat ) serta kegiatan penelitian dibidang keperawata ( Gaffar, 1999).
Rumah sakit sebagai salah satu penyedia layanan kesehatan sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat sebagai fasilitas yang mutlak harus ada dan mencukupi kebutuhan masyarakat. Ilyas (2000), produk rumah sakit adalah “jasa” kita dapat melihat dan merasakan bahwa produk yang berbentuk jasa akan segera dapat dinikmati secara instan begitu jasa dibeli oleh konsumen. Kondisi yang sama terjadi pada rumah sakit yang jasanya berbentuk instan. Artinya pelayanan rumah sakit dapat langsung dirasakan oleh konsumen sehingga dapat langsung bereaksi dengan segera terhadap jasa yang mereka beli. Perawat mempunyai peranan yang sangat besar, baik dilihat dari interaksinya dengan pasien dan keluarganya maupun dilihat dari keterlibatan pelayanan secara langsung kepada pasien. Perawat dalam berinteraksi dengan pasien maupun keluarganya, dituntut dapat berkomunikasi dengan baik sehingga tidak terjadi kesalah pahaman atau salah persepsi. Untuk menghindari agar tidak terjadi salah persepsi dalam berkomunikasi dengan pasien atau keluarganya maka perawat perlu meningkatkan keterampilan dasar dalam berkomunikasi agar mampu memulai, mengembangkan dan memelihara, komunikasi yang akrab, hangat, dan produktif dengan orang lain.
Komunikasi secara umum dapat diartikan sebagai penyampaian informasi dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan media dan cara penyampain informasi yang dipahami oleh kedua pihak, serta saling memiliki kesamaan arti lewat transmisi pesan secara simbolik (Marpaung, 2001). Menurut Monica yang diterjemahkan oleh Nurachmah (1998), mendefinisikan komunikasi sebagai semua yang terjadi di antara 2 pikiran atau lebih. Karena tingkah laku adalah apa yang dipersepsikan oleh orang lain, maka semua tingkah laku adalah komunikasi dan semua komunikasi mengahasilkan tingkah laku. Seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan, taraf hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta komunikasi, maka masyarakat menjadi lebih kritis didalam menilai dan meningkatkan tuntutan akan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Masyarakat mulai cenderung menuntut pelayanan kesehatan yang lebih baik, lebih ramah dan lebih bermutu.
Menurut Pranota, (2001) Manajemen Mutu Terpadu (MMT) adalah satu pola manajemen yang berisi prosedur agar dalam organisasi setiap orang berupaya secara optimal, terpadu dan terus menerus untuk memperbaiki cara menuju sukses, tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada stakeholders, dengan jalan memperbaiki produktifitas dan meningkatkan efisiensi. Mutu layanan atau produk yang dihasilkan diharapkan dapat menyamai atau bahkan melebihi kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan/stakeholders. Dengan tercapainya keinginan dan harapan yang merupakan kepuasan pelanggan, perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan sesuai dengan tuntutan pelanggan. Menurut Nursalam, (2000).Kepuasan pelanggan adalah hasil yang dicapai pada saat keistimewaan produk merespon dari kebutuhan pelanggan.
Ini biasanya sama dengan kepuasan produk. Kepuasan produk adalah suatu rangsangan terhadap daya jual produk. Dampak utama dari kepuasan produk adalah pangsa pasar, dan selanjutnya pada pendapatan dari penjualan Badan Rumah Sakit Umum Daerah (BRSUD) merupakan rumah sakit tipe C dengan kapasitas 103 tempat tidur. Hasil pelayanan pada tahun 2004 dengan rata-rata hunian BOR (Bed occupancy Rate) 41 %, LOS (Length Of Stay) 3,65 TOI (Tun Over Interval) 4,4 hari, BTO (Bed Turn over) 3,29. Dalam rangka memenuhi tuntutan masyrakat pengguna jasa rumah sakit, tersedia tenaga sebanyak 17 dokter spesialis, 9 dokter umum. Perawat PNS 62 orang, kontrak 16 orang. Bidan PNS 18 orang, kontrak 3 orang. Untuk kelancaran tugas ini didukung oleh penunujang medis seperti: Radiologi, laboratorium, farmasi, dan fisioterapi.
Melihat hasil cakupan pelayanan tersebut diatas dirasa masih sanga rendah dan ditambah dengan banyaknya pasien pulang paksa (data tahun 2004) yaitu ruang Bugenfil 11 orang, Bayi 11 orang, Cempaka 153 orang, Dahlia 18 orang, Edelweis 26 orang. Hasil pelayanan tersebut merupakan indikasi adanya ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan. Untuk itu penulis mengadakan prasurvey diruang rawat inap BRSUD dengan hasil bahwa terjadi ketidak puasan pasien terhadap sikap dan prilaku perawat dalam berkomunikasi, walaupun masih ada faktor lain yang mempengaruhi kepuasan pasien tersebut.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah yang dikemukakan tersebut diatas, maka penulis mengajukan rumusan masalah sebagai berikut:
“Apakah ada hubungan antara sikap dan prilaku perawat dalam berkomunikasi terhadap kepuasan pasien diruang rawat inap Badan Rumah Sakit Umum Kabupaten .

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum.
Untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara sikap dan perilaku perawat dalam berkomunikasi terhadap kepuasan pasien di ruang rawat inap BRSUD.
2. Tujuan Khusus.
a. Mengetahui kualitas sikap dan perilaku perawat didalam berkomunikasi
b. Memperoleh gambaran distribusi frekuensi kepuasan pasien.
c. Mengetahui efektifitas sikap dan prilaku perawat didalam berkomunikasi terhadap kepuasan pasien.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis penelitian.
Penelitian ini diharapkan dapat diketahui adanya hubungan antara sikap dan perilaku perawat dalam berkomunikasi dengan pasien terhadap kepuasan pasien.
2. Manfaat praktis penelitian.
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai:
a. Bagi Rumah Sakit.
Sebagai sumbang saran pemikiran dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan untuk mencapai kepuasan pasien di Badan Rumah Sakit Umum Daearah .
b. Bagi pembaca.
Diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam berkomunikasi yang efektif sehengga terjalin hubungan interpersonal yang harmonis.
c. Bagi Peneliti.
Penelitian ini sebagai sarana untuk memperluas pemikiran, menambah pengetahuan dan menerapkan ilmu yang diperoleh oleh peneliti yang berhubungan dengan sikap dan perilaku komunikasi serta untuk mempertajam pengamatan dan analisa.

E. Keaslian Penelitian.
Keaslian penelitian tentang Hubunga Antara Sikap dan Perilaku Komunikasi Perawat Terhadap Kepuasan Pasien di Ruang Rawat Inap BRSUD , sepengetahuan penulis belum pernah dilaksanakan, adapun penelitian tentang kepuasan dan komunikasi terhadap pasien yang sudah dilaksanakan adalah:
1. Haryosusanto (2001) “ Pengaruh Tingkat Kepuasan Pasien Akan Mutu Pelayanan Keperawatan Terhadap Minat untuk Menggunakan Kembali Jasa Pelayanan keperwatan di ruang Rawat Inap RSUD Cilacap” dengan menitik beratkan pada kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan, sedang penulis menitik beratkan pada kepuasan pasien akan sikap dan prilaku perawat dalam berkomunikasi. Adapun kesamaannya ada pada tingkat kepuasan pasien.
2. Sri Mulyani (2001) “efektifitas Komunikasi Terapeutik Terhadap Kecemasan Pada Pasien Pra Bedah Mayor Di IRNA I RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta” dengan menitik beratkan pada efektifitas komunikasi terapeutik, sedang penulis berorientasi pada efektifitas sikap dan prilaku komunikasi. Persamaannya adalah sama-sama cara pengumpulan data dan analisis.File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Dan Pengetahuan Perawat Dengan Kinerja Perawat Dalam Pelaksanaan Program Penanggulangan Tuberkulosis Di Puskesmas

Abstraksi:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan perawat dengan kinerja perawat dalam pelaksanaan program penanggulangan Tuberkulosis (P2 TB) di puskesmas se Kabupaten XXX, menggunakan rancangan penelitian non eksperimen dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah perawat di puskesmas se Kabupaten XXX dan yang dapat dijadikan responden sejumlah 100 orang dari 31 puskesmas. Menggunakan data primer dan sekunder, pengumpulan data dengan menyebarkan kuesioner untuk variabel tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan. Tehnik analisa statistik yang digunakan adalah korelasi.
Hasil penelitian uji statistik dengan tehnik korelasi terhadap variabel bebas tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan perawat dengan variabel terikat kinerja perawat dalam pelaksanaan program penanggulangan Tuberkulosis, seperti berikut : (1) hubungan antara tingkat pendidikan dengan kinerja perawat P2 TB adalah nilai r hitung untuk variabel pendidikan sebesar 0,236 dengan signfikansi r tabel a sebesar 0,090 ; (2) hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kinerja perawat P2 TB adalah nilai r hitung variabel pengetahuan sebesar 0,290 dengan signifikansi r tabel a sebesar 0,048 . Maka dapat disimpulkan bahwa dari analisis : (1) tingkat pendidikan perawat mayoritas SPK, (2) tingkat pengetahuan tentang pelaksanaan P2 TB rendah 68%, sedang 7%, tinggi 25%, (3) kinerja pelaksanaan program P2 TB rendah 97,1% , tinggi 2,9% (4) jenjang pendidikan tidak mempunyai hubungan dengan kinerja perawat dalam pelaksanaan program penanggulangan Tuberkulosis, (5) ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kinerja perawat dalam pelaksanaan program penanggulangan Tuberkulosis secara signifikan.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mycobacterium tuberculosae telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia, World Health Organisation (WHO) telah mencanangkan kedaruratan global penyakit Tuberkulosis (TB) sejak tahun 1993, karena pada sebagian negara di dunia penyakit TB tidak terkendali. Hal ini disebabkan banyaknya penderita yang tidak berhasil disembuhkan terutama penderita menular dengan BTA positif (Depkes RI, 2001). Di Indonesia telah diperkirakan oleh WHO pada tahun 1999 setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TB , dengan kematian sekitar 140.000. Sekitar 200.000 penderita TB ditemukan oleh Puskesmas, 200.000 penderita ditemukan pada pelayanan RS / klinik Pemerintah dan Swasta, praktek swasta dari dan sisanya belum terjangkau unit pelayanan kesehatan. Secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita baru TB paru BTA positif (Depkes RI, 2001).
Penderita Tuberkulosis Paru (TB Paru) kebanyakan dialami penderita dari kelompok sosial ekonomi lemah dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat serta tuberkulosis menyerang sebagian besar kelompok usia produktif kerja. Sejalan dengan program pemerintah saat ini, maka mengentaskan kemiskinan, akan dapat berdampak pada penyembuhan penerita TB. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukan bahwa TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia, dan nomor satu (1) dari penyakit golongan infeksi (Depkes RI, 2001).
Sejak tahun 1995 yang direkomendasikan oleh WHO program Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru, telah dilaksanakan dengan strategi DOTS (Directly Observed Threatment, Shortcourse chemotherapy). Kemudian berkembang seiring dengan pembentukan GERDUNAS-TB (Gerakan Terpadu Nasional Tuberkulosis), maka Pemberantasan Penyakit Tuberkulosis Paru berubah menjadi Program Penanggulangan Tuberkulosis. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS merupakan stategi kesehatan yang paling cost-effective atau membutuhkan biaya yang hemat. DOTS merupakan strategi pengobatan dan pengawasan pada penderita TB secara langsung dengan melibatkan pengawas minum obat (PMO) yang telah diberikan orientasi tentang tuberkulosis agar penderita terhindar dari drop out atau berhenti minum obat hingga kesembuhan dapat tercapai (Depkes RI, 2001). Pada tahun 2001 program Penanggulangan Tuberkulosis (P2 TB) dengan strategi DOTS belum dapat menjangkau seluruh Puskesmas. Demikian juga RS Pemerintah, swasta dan unit pelayanan kesehatan lainya. Penanggulangan TB dengan strategi DOTS dapat menghasilkan angka kesembuhan yang tinggi.
Namun penatalaksanaan penderita dan sistim pencatatan dan pelaporan belum seragam pada semua unit pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta dan pengobatan yang tidak teratur dan kombinasi obat yang tidak lengkap dimasa lalu, menjadi faktor kontribusi terjadinya kekebalan ganda terhadap kuman TB pada Obat Anti Tuberkulosis (OAT) atau Multi Drug Resistance (MDR) maka ditetapkan beberapa stategi antara lain dibentuklah KPP (Kelompok Puskesmas Pelaksana) terdiri dari 1(satu) PRM (Puskemas Rujukan Mikroskopis) dan beberapa PS (Puskesmas Satelit), untuk daerah dengan dengan geografis sulit dapat dibentuk PPM (Puskesmas Pelaksana Mandiri). Dalam rangka mencapai tujuan memutus rantai penularan, sehingga penyakit TB tidak lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia, maka salah satu target program adalah Case Detection Rate (CDR) meningkat hingga tahun 2005 mencapai 70 %, angka konversi pada akhir pengobatan tahap intensif minimal 80 %, angka kesembuhan minimal 85 % dari kasus baru BTA positif, dengan pemeriksaan dahak yang benar yaitu angka kesalahan maksimal 5 % (Depkes RI, 2001).
Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (DKKS) kabupaten XXX dalam melaksanakan P2 TB membuat target tahun 2004 pencapaian angka penemuan (Case Detection Rate) 60 %, angka konversi (Convertion Rate) tahap intensif > 80 %, angka kesembuhan (Cure Rate) BTA positif > 85 % dan angka kesalahan mikroskopis < 5 %. Dari gambaran pencapaian program P2 TB di. XXX, menunjukan bahwa penemuan penderita BTA positif pada tahun 2004 ada 143 kasus, sedangkan TB Klinis (suspect) ada 91 kasus. Angka tersebut meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2003 yaitu BTA Positif 62 Kasus, namun TB Klinis mengalami penurunan yaitu pada tahun 2003 ada 585 kasus. CDR 10 % , untuk Cure Rate 94 %, konversi Rate 84 % dan Error Rate 3 %.
Angka penemuan penderita BTA Positif tertinggi ada pada di kecamatan Prambanan dengan 17 orang , untuk BTA Klinis ada pada 14 orang. Dari angka tersebut yang mencapai kesembuhan tertinggi ada di kecamatan Jogonalan II dan Tulung (100 %). Terdapat angka kesembuhan kurang dari 80 % pada tingkat Puskesmas tahun 2004 terdapat di Puskesmas Pedan, Karangdowo, Gantiwarno, Juwiring, Wonosari I. Kunjungan pasien sebagai tersangka TB-Paru masih belum mencapai target, Case Detection Rate 10 %, sedangkan target nasional tahun 2004 adalah 60 %.
Dari data tahun 2004 di puskesmas Ngawen, Majegan, Tulung dan Bayat pencapaian target kinerja perawat pada penemuan penderita tuberkulosis BTA positif yang terlihat pada angka CDR masih rendah dibawah 15%. Dari survey pendahuluan mengenai pengetahuan tentang pelaksanaan Program Penanggulangan Tuberkulosis (P2 TB) pada 12 perawat di empat puskesmas memperlihatkan masih rendahnya pengetahuan tentang pelaksanaan P2 TB. Seyogyanya program P2 TB Paru ini dapat mencapai hasil yang memuaskan, apabila adanya kerja sama dengan program-program pokok puskesmas lainya ( Kerja sama Lintas Program misalnya Perawatan Kesehatan Masyarakat dsb) untuk menimbulkan kesadaran masyarakat dan kerja sama lintas sektoral dengan unsur pemerintahan setempat secara terpadu.
Kabupaten XXX tahun 2004 terdapat 34 Puskesmas dengan 81 puskesmas pembantu, pusling 35 buah dengan jumlah tenaga Perawat kesehatan 124 orang yang tercatat sebagai PNS di Puskesmas masih terbatas baik segi kualitas dan kuantitasnya, ragam pendidikan yang terdiri dari Akper ( Akademi Keperawatan) dan SPK (Sekolah Perawat Kesehatan). Disetiap Puskesmas terdapat satu perawat yang telah dilatih tentang pelaksanaan Program Penanggulangan TB, perawat lainya hanya mendapatkan informasi deseminasi dari perawat yang telah dilatih Dalam melaksanakan misi, puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dimasyarakat, Depkes menetapkan beberapa program yang berkaitan dengan masalah kesehatan dimasyarakat. Oleh karena itu salah satu faktor yang berperan dalam mensukseskan program-program di puskesmas adalah perawat kesehatan.

B. Perumusan Masalah
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap Penderita Tuberkulosis Paru Di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4)

Abstraksi:
Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia. Saat ini penyakit Tuberkulosis Paru masih dianggap menjadi masalah utama di negara berkembang seperti di Indonesia, hal ini karena berkaitan dengan perilaku, ekonomi dan tingkat sosial budaya masyarakatnya. Dewasa ini sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi Tuberkulosis. Setiap tahun ada sekitar 8 juta penderita baru TB dan hampir 3 juta orang yang meninggal di seluruh dunia akibat penyakit ini. Masalah yang dihadapi adalah karena sebagian besar penderita TB adalah masyarakat miskin yang tingkat pendidikan dan pengetahuan tentang kesehatan sangat rendah. Tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan sikap penderita Tuberkulosis Paru di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4) Surakarta.
Jenis penelitian yang digunakan adalah Observational dengan menggunakan desain penelitian Cross Sectional, menggunakan teknik Random Sampling. Sedangkan pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan Simple Random Sampling. Penelitian dilakukan di Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Surakarta mulai tanggal 5 Juli sampai dengan 25 Juli 2005. Subyek penelitian sebanyak 68 orang responden. Dari hasil analisa statistik Spearman Rank didapatkan P < 0,05 dan harga r =0,013, sehingga dapat diketahui bahwa nilai r hitung lebih kecil dari r tabel (0,298 < 0,381) dan nilai P lebih kecil dari nilai alpa (0,013 < 0,05). Sehingga Ho ditolak jadi dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan sikap penderita Tuberkulosis paru di Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Surakarta


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu kesehatan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya. Untuk mewujudkan paradigma tersebut pemerintah telah mencanangkan visi Indonesia Sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat Indonesian di masa depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi- tingginya (Astuti, 2005).
Sampai saat ini penyakit infeksi masih dianggap menjadi masalah utama di negara ini karena berkaitan dengan perilaku, ekonomi dan tingkat sosial budaya masyarakatnya. Salah satu jenis penyakit infeksi yaitu Tuberkulosis Paru. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, yang sampai saat ini belum ada satu negara pun yang dinyatakan bebas Tuberkulosis, sehingga pada tahun 1992 WHO mencanangakan Tuberkulosis sebagai Global Emergency
(Aditama, 2001).
Dewasa ini sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi Tuberkulosis. Setiap tahun ada sekitar 8 juta penderita baru Tuberkulosis dan hampir 3 juta orang yang meninggal di seluruh dunia akibat penyakit ini. Paling sedikit satu orang akan terinfeksi Tuberkulosis setiap detik dan setiap 10 detik akan ada satu orangyang meninggal akibat Tuberkulosis di dunia. Tuberkulosis membunuh hampir dari satu juta wanita setahunnya, lebih tinggi dari kematian wanita akibat proses kehamilan dan persalinan dan Tuberkulosis membunuh 100.000 anak setiap tahunnya.
Laporan WHO baru-baru ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah penyumbang kasus terbesar ke tiga di dunia setelah India dan Cina. Setiap tahunnya jumlah penderita baru Tuberkulosis menular adalah 262.000 orang dan jumlah seluruh penderita baru adalah 583.000 orang setiap tahunnya. Diperkirakan, sekitar 140.000 orang Indonesia yang meninggal setiap tahunnya akibat Tuberkulosis ini. WHO menyatakan bahwa bila situasi penanggulangan Tuberkulosis tetap seperti sekarang ini maka jumlah kasus Tuberkulosis di dunia tahun 2020 akan meningkat menjadi 11 juta jiwa, artinya 200 juta kasus Tuberkulosis dalam dua dekade pertama abad 21 ini. Jumlah kasus Tuberkulosis akan terus meningkat, dari 8,8 juta kasus di tahun ini 1995 menjadi 10,2 juta kasus di tahun 2000 dan 11,9 juta kasus Tuberkulosis baru di tahun 2005 (Aditama, 2001).
Menurut data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995, Tuberkulosis Paru merupakan penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan pada semua kelompok usia dan nomer satu dari golongan penyakit infeksi. Data Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis Paru (P2 Tuberkulosis Paru) menunjukkan adanya peningkatan kasus Tuberkulosis Paru dari tahun ke tahun. Diperkirakan ada sekitar 450.000 orang penderita, Tuberkulosis Paru setiap tahun dan sebanyak itu pula yang tak terdiagnosa di masyarakat, sedangkan yang meninggal akibat Tuberkulosis Paru diperkirakan 175.000 orang setiap tahun (Gerdunas- Tuberkulosis, 1999).
Khususnya di propinsi Jawa Tengah, menurut Data Kanwil Depkes, pada tahun 2000, sedikitnya 40.300 orang dari 31 juta penduduk Jawa Tengah mengidap Tuberkulosis Paru menular, Sedangkan Kotamadia Surakarta dengan angka 47,7%, diurutan ke-3 setelah Demak 76,3%, Blora 53,6%. Angka tersebut didapatkan dari Rumus Prevalensi Rate 130 per 100.000, artinya setiap 100.000 penduduk ada 130 orang yang terkena Tuberkulosis .
Balai Pengobatan Pusat Paru-Paru (BP4) Surakarta merupakan tempat rujukan pusat penyakit paru-paru di kota Surakarta dan Sekitarnya. Dalam pelaksanaannya BP4 Surakarta mempunyai beberapa program. Salah satunya adalah pemberantasan penyakit menular / Tuberkulosis. Dari data pasien BP4 Surakarta pada tahun 2003 didapatkan data jumlah penderita Tuberkulosis Paru sebanyak 24.360 orang. Dengan perincian pasien dengan BTA positif sebanyak 3,485 orang atau 14,30% dan pasien dengan BTA negative sebanyak 20.875 orang atau 85,69% serta ditemukan pasien yang meninggal sebanyak 11 orang atau 0,04%.
Indikator untuk mengukur keberhasilan program penanggulangan Tuberkulosis adalah penemuan penderita baru Case Detection Rate dan angka keberhasilan pengobatan Succes Rate (SR). Target yang akan dicapai pada tahun 2005 adalah cakupan penemuan penderita baru sebesar 70% dan angka keberhasilan pengobatan sebesar 85% (Depkes RI, 2001).
Sejak 1995 pengobatan yang dilakukan menggunakan metode DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) yang direkomendasikan oleh WHO. Kemudian berkembang seiring dengan pembentukan Gerdunas-Tuberkulosis. Strategi DOTS terdiri dari lima komponen yaitu komitmen politis, diagnosa Tuberkulosis dengan pemeriksaan dahak kopis, pengobatan dengan panduan obat anti Tuberkulosis (OAT) jangka pendek dengan pengawasan langsung pengawas pengawas menelan obat (PMO), kesinambungan ketersediaan OAT serta pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program penanggulangan Tuberkulosis. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS merupakan strategi kesehatan yang paling cost effective (Depkes RI, 2001).
Masalah yang dihadapi adalah karena sebagian besar penderita Tuberkulosis adalah masyarakat miskin yang tingkat pendidikan dan pengetahuan tentang kesehatan sangat rendah. Pengetahuan masyarakat di negara-negara miskin seperti Indonesia tentang Tuberkulosis Paru nampaknya kurang memadai, masih cukup banyak penderita beranggapan bahwa Tuberkulosis Paru disebabkan oleh keturunan serta mengira bahwa Tuberkulosis Paru disebarkan melalui makanan dan minuman. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Fahrudda (1999) yang meneliti tentang analisa faktor- faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan Tuberkulosis Paru dan efektifitas biayanya di Kotamadya Banjarmasin Propinsi Kalimantan Selatan. Pada penderita dengan tingkat pengetahuan yang rendah tentang penyakit yang diderita lebih dari 2 kali beresiko mengalami kegagalan pengobatan.
Faktor lain yaitu pengawas minum obat, penyuluhan, jangkauan fasilitas kesehatan, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan.
Tuberkulosis Paru merupakan penyakit menular yang mengganggu Sumber Daya Manusia (SDM) dan umumnya menyerang kelompok masyarakat dengan sosio-ekonomi rendah, dan sebagian besar kelompok usia kerja produktif dan berpendidikan rendah. Penyakit ini menular dengan cepat pada orang yang rentan dan daya tahan tubuh yang lemah, diperkirakan seorang penderita Tuberkulosis aktif dapat menularkan basil kepada 10 orang disekitarnya (Depkes RI, 1999).
Berdasarkan keterangan dari petugas kesehatan di BP4 Surakarta, didapatkan gambaran umum tentang pengetahuan dan sikap penderita Tuberkulosis Paru di daerah surakarta rata-rata masih rendah. Hal ini ditandai kurangnya kesadaran penderita untuk menjaga lingkungan rumah, kebiasaan meludah disembarang tempat, kecenderungan pasien untuk menutup-nutupi penyakitnya, penderita merasa terisolir dari pergaulannya dan kecenderungan menutup diri. Banyak penderita yang menganggap bahwa Tuberkulosis ditularkan melalui makanan dan peralatan makan yang digunakan bersama. Bahkan ketika pasien datang untuk pertama kalinya di rumah sakit mereka tidak tau tentang penyakit yang dideritanya.
Berdasarkan fenomena tersebut diatas maka peneliti akan melakukan penelitian tentang “Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap Penderita Tuberkulosis Paru Di Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Surakarta ”

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka didapatkan perumusan masalah sebagai berikut : Adakah hubungan antara tingkat pengetahuan penderita Tuberkulosis Paru dengan sikap penderita Tuberkulosis Paru di Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Surakarta.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan sikap penderita Tuberkulosis Paru di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4) Surakarta.
2. Tujuan khusus dari penelitian ini yaitu :
a. Mengetahui karakteristik pengetahuan penderita Tuberkulosis Paru.
b. Mengetahui karakteristik sikap penderita Tuberkulosis Paru.
c. Mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan sikap penderita Tuberkulosis Paru.

D. Manfaat Penelitian
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Antara Usia, Jenis Kelamin, Lokasi Fraktur Dengan Lama Hari Rawat Pada Pasien Bedah Tulang Di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum XXX

Abstraksi:
Kemajuan ilmu dan teknologi telah nyata memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Seiring dengan hal itu dampak negatif dari kemajuan tersebut juga semakin dirasakan. Salah satu contoh kemajuan teknologi transportasi, kecelakaan lalu lintas terus terjadi setiap hari. Pada tahun 2003 sebanyak 13.399 kejadian, dari jumlah tersebut sebagian besar dialami oleh kelompok usia produktif, yaitu usia 15-40 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian survey dengan desain studi korelasi. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi dan menggunakan pedoman evaluasi pada pasien yang telah menjalani perawatan dari pasien masuk hingga pasien dinyatakan sembuh(pulang), kemudian data dianalisis dengan SPSS 10.0. Sampel dari penelitian ini sebanyak 100 orang dari seluruh populasi yang merupakan pasien bedah tulang. Menurut data yang didapatkan, kelompok usia paling banyak adalah golongan usia 15-30 tahun yaitu sebanyak 43%, menurut jenis kelamin paling banyak golongan laki-laki yaitu sebanyak 56%, sedangkan lokasi fraktur paling banyak pada ekstremitas bawah yaitu sebanyak 64%. Hasil uji statistik pada penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara usia dan jenis kelamin dengan lama hari rawat serta ada hubungan yang signifikan antara lokasi fraktur dengan lama hari rawat pada pasien bedah tulang di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum XXX. Asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien bedah tulang perlu dipertimbangkan faktpr-faktor lain yang dapat mempengaruhi lamanya hari rawat, sehingga pasien dengan jumlah hari perawatan yang lama dapat tekan.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemajuan ilmu dan teknologi telah nyata memberi manfaat yang besar bagi kehidupan manusia. Seiring dengan itu dampak negatif dari kemajuan tersebut juga makin terasa sebagai akibat keteledoran manusia sendiri dalam mengendalikan loncatan ilmu dan teknologi yang dicapainya. Salah satu contoh, kemajuan dalam bidang transportasi maju begitu pesat, dampak yang tidak dikehendakipun muncul, seperti banyak jalan macet akibat kendaraan yang sangat padat, polusi dan akibat yang sering terjadi adalah kecelakaan lalulintas yang banyak mengakibatkan cidera bahkan kematian.
Kecelakaan lalu lintas merupakan masalah kesehatan yang sangat serius di seluruh dunia, masalah yang sama juga di hadapi indonesia. Menurut data kepolisian RI pada tahun 2003 jumlah kecelakaan di jalan mencapai 13.399 kejadian dengan jumlah kematian mencapai 9.865 orang, 6.142 orang mengalami luka berat dan 8.694 mengalami luka ringan. Dengan data itu rata-rata setiap hari terjadi 40 kejadian kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan 30 orang meninggal dunia, sedangkan sebagian besar kecelakaan dialami oleh kaum laki-laki dari kelompok usia produktif, yakni antara usia 15-40 tahun. Hal ini mengakibatkan penurunan produktivitas secara massal (www.depkes.go.id).
Di seluruh dunia sekitar 140.000 orang mengalami kecelakaan di jalan setiap harinya. Lebih dari 3.000 orang meninggal akibat kecelakaan di jalan dan sekitar 15.000 orang mengalami kecacatan seumur hidup. Bila masalah di jalan tidak diperhatikan dengan sungguh-sungguh, maka dikawatirkan pada tahun 2020 nanti, jumlah korban yang meninggal atau mengalami kecacatan setiap harinya mencapai lebih dari 60% di seluruh dunia. Sehingga kecelakaan di jalan menjadi penyebab utama kesakitan dan kecacatan (www.wahanaartha.com). Kasus-kasus kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan cidera adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius. Cidera merupakan penyebab utama kematian dan ketidakmampuan(cacat) pada anak-anak remaja. Cidera menghancurkan kehidupan dan mata pencaharian jutaan umat manusia. Setiap tahun lebih dari 140.000 orang meninggal karena cidera, dan hanya satu dari tiga orang yang cidera berakibat tidak fatal. Di Amerika, cidera/trauma menjadi penyebab utama kematian pada kelompok usia 15-44 tahun (Hudak & Gallo, 1995).
Data statistik di Rumah Sakit Umum XXX tahun 2004 kasus terbanyak adalah patah tulang (fraktur) yaitu sejumlah 6458 kasus atau 79,58 % bila dibandingkan dengan kasus penyakit yang lain. Rata-rata jumlah pasien bedah tahun 2004 Sedangkan untuk kasus bedah tulang yang menjalani perawatan satu hari (one day care) sejumlah 3202 orang pada tahun 2004. Dari data statistik diatas terlihat bahwa jumlah pasien patah tulang (fraktur) lebih besar daripada pasien dengan penyakit lain sehingga dalam perawatan pasien bedah tulang memerlukan perawatan intensif untuk menekan lamanya hari rawat pada kasus tersebut.
Pada dasarnya setiap individu mempunyai banyak faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan dalam menentukan lamanya perawatan, yaitu antara lain faktor pendidikan, jenis kelamin, sosial ekonomi, lokasi fraktur yang dialami maupun faktor usia. Namun dalam hal ini faktor usia menjadi hal penting yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Dengan adanya beberapa masalah tersebut perlu kiranya peneliti untuk melakukan penelitian yang menggambarkan lebih rinci tentang hubungan antara usia dan lama hari rawat pada pasien bedah tulang di Rumah Sakit Umum XXX.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang yang telah diuraikan di atas maka permasalahan yang akan diteliti adalah “Adakah hubungan antara usia, jenis kelamin, lokasi fraktur dengan lama hari rawat pada pasien bedah tulang di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum XXX ?”

C. Tujuan Penelitian
1.Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara usia, jenis kelamin, lokasi fraktur dengan lama hari rawat pada pasien bedah tulang di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum XXX.
2. Tujuan Khusus
a. Mendiskripsikan hubungan antara usia dengan lama hari rawat pada pasien bedah tulang di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum XXX
b. Mendiskripsikan hubungan antara jenis kelamin dengan lama hari rawat pada pasien bedah tulang di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum XXX.
c. Mendiskripsikan hubungan antara lokasi fraktur dengan lama hari rawat pada pasien bedah tulang di ruang rawat inap Rumah sakit Umum XXX.

D. Manfaat Penelitian
a. Sebagai masukan bagi institusi dalam meningkatkan pemberian pelayanan kesehatan dalam kaitannya dengan kesembuhan pasien bedah tulang sehingga dapat menekan lamanya hari rawat.
b. Bagi perawat agar lebih intensif dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya pada pasien bedah tulang.
c. Untuk menambah khasanah keilmuan bagi peneliti dalam mengkaji permasalahan hubungan usia dan lama hari rawat pada pasien bedah tulang. File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Pengetahuan Tentang Menstruasi Dengan Kesiapan Remaja Putri Usia Pubertas Menghadapi Manarche

Abstraksi:
Dari studi pendahuluan remaja putri usia pubertas paling banyak pada jenjang pendidikan SMP. Data di SMP menunjukkan bahwa pembelajaran di sekolah belum dapat menunjang tentang menstruasi yang dapat berdampak terhadap kesiapan menghadapi menarche. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang menstruasi dengan kesiapan remaja putri usia pubertas dalam menghadapi menarche. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Subjek penelitian ini adalah siswi putri SMPN XXX yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi pada bulan Juli 2005. jumlah dalam penelitian ini sebanyak 76 orang. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji statistik Kendall Tau. Uji statistik Kendall Tau didapat hasil dengan besarnya nilai signifikasi/probabilitas (p value) yang besarnya 0,042 yang apabila di bandingkan dengan α = 0,05, maka p value < 0,05, sehingga Ho ditolak Ha diterima artinya ada hubungan antara pengetahuan dengan kesiapan remaja putri dalam menghadapi menarche.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu modal dasar pembangunan suatu bangsa adalah tersedianya sumber daya manusia yang cukup, baik kuantitas maupun kualitas. Remaja merupakan kelompok yang paling potensial dalam pembangunan suatu negara. Hal ini karena posisinya sebagai tunas, penerus dan penentu masa depan bangsa di kemudian hari, oleh karena itu keberadaan kelompok remaja tidak bisa diabaikan. Pada masa remaja khususnya remaja putri akan mengalami perubahan fisik yang pesat, yang menjadi pertanda biologis dari kematangan seksual. Perubahan ini terjadi pada satu masa yang disebut masa pubertas, yang merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa reproduksi (Wikjosastro, 1999).
Masa-masa transisi anak dari pra pubertas sampai menjelang pubertas merupakan masa yang cukup sulit bagi anak. Mereka tidak lagi menjadi anak-anak tetapi sudah berkembang dan tumbuh pada tingkatan dewasa. Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan penting baik fisik maupun perilaku. Semua perubahan dan perkembangan yang terjadi memerlukan penyikapan yang benar sehingga remaja tersebut siap menerima perubahan-perubahan dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi (William, 1995).
Pada usia pubertas pengetahuan yang mantap tentang reproduksi merupakan modal yang penting untuk menjalani fase kehidupannya dan melaksanakan tugas perkembangannya. Hal ini diperlukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kesalahan remaja akibat kurangnya pengetahuan tentang reproduksi yang disebabkan minimnya pengetahuan yang didapat dari orangtua karena masih banyak orangtua yang menganggap bahwa membicarakan masalah reproduksi khususnya menstruasi masih merupakan hal yang tabu dan tidak sesuai dengan budaya atau adat istiadat di lingkungan mereka. Dengan demikian perawat berperan penting dalam mempromosikan praktik dan perilaku positif yang berhubungan dengan masalah kesehatan reproduksi dan seksual dengan cara memberikan informasi tentang kesehatan, mendeteksi masalah-masalah kesehatan pada tahap dini, mengkaji masalah yang berhubungan dengan ginekologi dan reproduksi, dan mendiskusikan pertanyaan atau kekhawatiran yang berhubungan dengan system reproduksi dan seksual karena biasanya remaja cemas, malu atau merasa tidak nyaman karena masalah reproduksi bersifat sangat pribadi (Brunner dan Suddarth, 2000).
Kurangnya pengetahuan tentang reproduksi khususnya menstruasi pada remaja putri dapat berdampak terhadap kesiapan dalam menghadapi menarche. Kesiapan atau ketidaksiapan menghadapi menarche berdampak terhadap reaksi individual remaja putri pada saat menstruasi pertama yang dapat berdampak positif atau negatif. Pengetahuan tentang menstruasi dapat distimulus dari berbagai faktor, diantaranya : sosial ekonomi, kultur, pendidikan, dan pengalaman. Remaja usia pubertas (8-14 tahun) paling tinggi berada pada jenjang pendidik SMP.
Berdasarkan studi pendahuluan terhadap guru-guru di SMPN XXX yang diwawancarai mengatakan kurikulum pembelajaran di sekolah belum dapat menunjang pengetahuan remaja usia pubertas tentang reproduksi khususnya tentang menstruasi, untuk SMP kelas satu sama sekali belum menyinggung masalah reproduksi manusia khususnya masalah menstruasi, hal ini akan dibahas kelas dua caturwulan ketiga dan itu pun masih sangat terbatas pada sistem hormonal. Dilihat dari lokasinya SMPN XXX jauh dari sumber informasi yang mendukung seperti toko buku, internet, serta sarana perpustakaan belum menyediakan buku-buku tentang kesehatan reproduksi khususnya masalah menstruasi yang memungkinkan para siswa mengalami kesulitan memperoleh informasi.
Apabila remaja putri usia pubertas, dengan bekal pengetahuan dari pelajaran di sekolah dan orangtua yang minim tentang menstruasi sedangkan pada saat itu mereka harus menghadapi menarche, apakah mereka siap menghadapinya. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik dan mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian tentang hubungan tingkat pengetahuan tentang menstruasi dengan kesiapan menghadapi menarche pada remaja putri usia pubertas, hal ini sangat penting dan layak untuk diteliti karena dapat memberikan bekal pengetahuan tentang menstruasi pada anak dalam menghadapi perubahan fisik dan psikis pada masa pubertas, sehingga anak dapat dengan cepat beradaptasi dalam menghadapi perubahan-perubahan tersebut.

B. Perumusan Masalah
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Support System Dan Pendidikan Dengan Motivasi Melakukan Mobilisasi Post Operasi Pada Pasien Post Operasi Fraktur

Abstraksi:
Keterbatasan pasien dalam melakukan aktivitas atau mobilitas merupakan hal yang membuat pasien tidak sabar untuk menunggu kesembuhan, sehingga perlu adanya support atau dukungan dari keluarga untuk memotivasi pasien mengikuti intervensi dalam perawatan dan penyembuhannya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara support system dan pendidikan dengan motivasi melakukan mobilisasi pada pasian post operasi fraktur. Dalam penelitian ini populasinya sebanyak 162 pasien post operasi fraktur di RSU Islam XXX. Dari jumlah tersebut yang dijadikan sampel sebanyak 68 pasien yang diambil dengan menerapkan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode pokok berupa angket, sedangkan observasi dan wawancara sebagai metode bantu. Metode angket digunakan untuk mengumpulkan data support system, pendidikan, dan motivasi melakukan mobilisasi. Data yang terkumpul dalam penelitian ini kemudian dianalisis dengan analisis korelasi.
Dari hasil analisis korelasi antara support system dengan motivasi melakukan mobilisasi diperoleh koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,641, dimana nilai tersebut terbukti signifikan dengan nilai probabilitas sebesar 0,002 (p?) pada taraf signifikansi 5%.. Artinya terdapat hubungan positif yang signifikan antara support system dengan motivasi melakukan mobilisasi pada pasien post operasi fraktur di ruang rawat inap rumah Sakit Islam XXX. Dari hasil analisis korelasi antara pendidikan keluarga dengan motivasi melakukan mobilisasi diperoleh koefisien korelasi (rxy) sebesar 0,521, dimana nilai tersebut terbukti signifikan dengan nilai probabilitas sebesar 0,003 (p??) pada taraf signifikansi 5%.. Artinya terdapat hubungan positif yang signifikan antara pendidikan keluarga dengan motivasi melakukan mobilisasi pada pasien post operasi fraktur di ruang rawat inap rumah Sakit Islam XXX. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan pasien dalam melakukan aktivitas atau mobilitas harus dibantu dengan support system dari keluarga untuk mempercepat proses penyembuhannya. Namun support system tidak dapat maksimal jika pendidikan keluarga rendah. Pendidikan yang rendah menunjukkan kurangnya pengetahuan akan kesehatan dan kurangnya upaya dukungan terhadap pasien.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses keperawatan membantu pasien melakukan kegiatan fisik agar fungsi tubuh meningkat dan menyegarkan sirkulasi darah dan ketegangan otot, meningkatkan latihan nafas lebih panjang, serta memotivasi pasien untuk berkeinginan segara sembuh. Motivasi merupakan perubahan energi dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. (McDonal cit Hamalik, 2000:173). Kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu disebut motivasi, yang menunjukkan suatu kondisi dalam diri individu tersebut melakukan kegiatan mencapai suatu tujuan (Sukmadinata, 2003:61).
Berdasarkan pengertian tersebut dapat dinyatakan bahwa motivasi melakukan mobilisasi dini pada pasien sangat diperlukan guna mempercepat kesembuhan pasien. Mobilitas dan ambulasi merupakan kegiatan yang penting pada periode paska bedah bagi pasien post operasi fraktur guna mencegah terjadinya komplikasi seperti infeksi, nekrosis avaskuler, cedera vaskuler dan syaraf, malunion dan borok akibat tekanan. (Henderson, 1989:222).
Fraktur atau patah tulang dapat menimbulkan berbagai gangguan fungsi tubuh diantaranya adalah fungsi motorik, kehilangan fungsi motorik permanen merupakan kondisi yang ditakuti oleh sebagian pasien. Fungsi motorik adalah keadaan yang dapat mengakibatkan bergeraknya anggota tubuh seperti tangan dan kaki. Keterbatasan pasien melakukan aktivitas / mobilitas merupakan hal yang membuat pasien tidak sabar untuk menunggu kesembuhan sewaktu dirawat di rumah sakit sehingga perlu adanya motivasi atau support sistem dari perawat untuk mengikuti intervensi dalam perawatan dan penyembuhannya. (Arlene, 1997:145).
Penyembuhan dan pemulihan kesehatan akibat fraktur memerlukan management care yang bisa berupa : treatment, terapi serta rehabilitasi fisioterapi untuk mempertahankan otot normal agar tidak mengecil secara cepat, karena otot tidak dipakai dan dilakukannya mobilisasi dini pasien. Kegiatan mobilisasi dini dan treatment pasien post operasi fraktur merupakan salah satu tindakan yang akan mempengaruhi pemulihan fungsi anal otot, tulang dan neuromuskuler post operasi tulang. Pengetahuan tentang bantuan perawat kepada pasien untuk mobilisasi mengalami peningkatan yang cukup pesat selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun-tahun terakhir ini motivasi pasien untuk meningkatkan activity day living semakin ditekankan agar orang lebih bertanggungjawab atas kesehatan diri sendiri dan hal ini termasuk juga orang yang sakit dapat mencapai tingkat kemandirian yang maksimal dalam hal mobilisasi yang disesuaikan menurut kondisi dan kesempatan yang ada. (Nancy, 1996:65) Kemampuan pasien untuk bergerak dan berjalan pada pasca bedah akan menentukan kegiatan yang selanjutnya dilaksanakan, yaitu untuk membantu pasien dapat menggerakkan badan secara maksimal. Bergeraknya badan di atas tempat tidur membantu mencegah komplikasi sirkulasi paru-paru dan kardiovaskuler, mencegah decubitus, merangsang peristaltik dan mengurangi nyeri. Karena kebanyakan gangguan muskuloskeletal merupakan keterbatasan gerak maka kegiatan pelayanan perawatan ditujukan untuk memperbaiki kegiatan atau aktivitas seperti mengistirahatkan persendian yang terganggu guna mencegah bertambahnya bagian yang sakit. (Long, 1996:45).
Gangguan pada fungsi extremitas dapat mengurangi kemampuan pasien bergerak karena masalah nyeri, yaitu tergeseknya saraf motorik pada luka operasi dan takut sehingga membatasi kemampuan pasien untuk mobilisasi terutama setelah operasi, sehingga pasien cenderung untuk tetap berbaring lama, membiarkan tubuh tetap kaku, mengabaikan daerah nyeri atau pembedahan. Untuk menghindari nyeri kegiatan mobilisasi harus menghindari kegiatan mengangkat atau menggunakan alat bantu. Perawat harus mampu memotivasi pasien dan menjelaskan pentingnya melakukan mobilisasi dini post operasi, membantu pasien melakukan gerak atau mobilisasi dengan meminimalkan rasa tidak nyaman. (Suhadijat, 1997: 29).
Orang yang mengalami masalah fraktur tulang akan berfikir beberapa kali untuk memutuskan persetujuan melakukan operasi. Bagi keluarga yang berpengetahuan rendah, pasien akan dibawa ke sangkal putung untuk pengobatan tradisional. Karena semua itu bertolak dari kemampuan finansial yang kurang. Faktor dukungan keluarga dan faktor tingkat pendidikan mempunyai pengaruh terhadap pemberian motivasi terhadap pasien post operasi fraktur.
Berdasarkan adanya masalah ini peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian yang menggambarkan lebih rinci tentang pemberian motivasi oleh keluarga dalam melakukan mobilisasi terutama pasca pembedahan. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa masih banyaknya beberapa pasien yang berasal dari kalangan keluarga yang kurang berpendidikan, sehingga jarang atau bahkan sama sekali tidak memperoleh motivasi untuk melakukan gerakan-gerakan yang mendukung untuk pemulihan pasca operasi fraktur. Keluarga seringkali beranggapan bahwa motivasi akan datang dari pasien sendiri serta bantuan dari perawat. Pihak keluarga kurang mengetahui bahwa dorongan dari keluargalah yang dibutuhkan pasien untuk melakukan mobilisasi.

B. Batasan dan Perumusan Masalah
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pelaksanaan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Di Dinas Kesehatan Kabupaten XXX

Abstraksi:
Sistem Informasi Manajemen Kesehatan merupakan suatu tatanan yang mencakup komponen masukan ( input ) yang berupa data tentang kesehatan terkait, komponen proses ( process ) dan komponen keluaran ( output ). Informasi kesehatan dan yang terkait digunakan sebagai bahan dalam proses pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan dalam manajemen kesehatan dilakukan untuk perumusan kebijakan, perencanaan strategis, manajemen operasional dan manajemen transaksi. Informasi kesehatan tersebut juga diperlukan dalam perencanaan, penggerakan, pemantauan, penilaian program di tingkat Kabupaten / Kota.
Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di wilayah XXX perlu ditunjang dengan Pelaksanaan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan yang baik dengan cara meningkatkan sistem kinerja Pelaksanaan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan di Dinas Kesehatan XXX. Penelitian ini menggunakan cara analisis univariate yang dilakukan terhadap variabel dari hasil penelitian dan memberikan prosentase terhadap setiap variabel yang telah dilakukan penelitian. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner yang telah diuji cobakan untuk semua variabel. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pelaksanaan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan di Dinas Kesehtan XXX sudah terlaksana dengan baik.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada bab pendahuluan, akan diberikan gambaran mengenai latar belakang, perumusan masalah, manfaat penelitian, tujuan penelitian, serta pernyataan keaslian penelitian tentang pelaksanaan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan di Dinas Kesehatan XXX. Sistem Informasi Manajemen Kesehatan merupakan suatu tatanan yang mencakup komponen masukan ( input ) yang berupa data tentang kesehatan terkait, komponen proses ( process ) dan komponen keluaran ( output ). Informasi kesehatan dan yang terkait digunakan sebagai bahan dalam proses pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan dalam manajemen kesehatan dilakukan untuk perumusan kebijakan, perencanaan strategis, manajemen operasional dan manajemen transaksi. Informasi kesehatan tersebut juga diperlukan dalam perencanaan, penggerakan, pemantauan, penilaian program di tingkat Kabupaten / Kota. (Dep. Kes RI 1997).
Dalam upaya memenuhi kebutuhan informasi di era informasi dan globalisasi yang menuntut percepatan arus informasi dan kecanggihannya maka pengembangan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan dewasa ini perlu semakin dimantapkan dan dikembangkan. Hal ini akan mendukung pelaksanaan manajemen kesehatan dan pengembangan uapaya-upaya kesehatan demi peningkatan derajad kesehatan masyarakat. Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan di Kabupaten / Kota ditujukan untuk menciptakan kemampuan menyediakan data dan informasi yang diperlukan dalam mencapai Indonesia Sehat, Propinsi sehat, Kabupaten / Kota sehat yang dirumuskan di dalam Sistem Informasi Kesehatan Nasional. ( Dep. Kes RI 1997 ).
Penataan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan sangat penting bagi daerah itu sendiri. Yakni sebagai sarana penyedia indikator-indikator yang menunjukkan tercapai / tidaknya “ Grobogan Sehat 2010 “. Lebih lanjut Sistem Informasi Manajemen Kesehatan adalah tulang punggung bagi pelaksanaan Pembangunan Daerah berwawasan kesehatan di XXX. Sistem ini diharapkan dapat menyediakan data dan informasi dalam penyusunan rencana Pembangunan Daerah, memberikan analisis-analisis yang mendukung penyediaan dana atau anggaran, memberikan data dan informasi sebagai landasan pengembangan sumber daya dan lain sebagainya. Dengan kata lain Sistem Informasi Manajemen Kesehatan harus dapat memberikan bukti-bukti untuk dapat dilakukannya pengambilan keputusan berdasarkan fakta ( evidence based decision making ) kepada para penentu kebijakan.
Hal ini didukung pendapat Winarno, W. W. ( 2004), bahwa Sistem Informasi diperlukan oleh sebuah organisasi untuk mengolah data menjadi informasi, sehingga berbagai pihak yang membuat keputusan, dapat menggunakan informasi tersebut untuk membuat keputusan yang baik. Upaya pengembangan dan pemantapan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan juga dilakukan oleh Dinas Kesehatan XXX dengan melaksanakan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan . Adapun tahapan-tahapan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan meliputi pengumpulan data, pengolahan data, dan penyajian data. Dari informasi yang diperoleh dari salah seorang staf Dinas Kesehatan Daerah XXX, didalam pelaksanaannya Sistem Informasi Manajemen Kesehatan seringkali terjadi masalah-masalah, sehingga menghambat proses pengambilan keputusan yang diperlukan. Adapun hambatan-hambatan yang terjadi didalam Sistem Informasi Manajemen Kesehatan disebabkan oleh faktor pengumpulan data yang terlambat dan tidak lengkap (misalnya data jumlah kunjungan pasien di Puskesmas dalam sehari), pengolahan data yang terhambat karena kurangnya tenaga yang terlatih dibidang Sistem Informasi Manajemen Kesehatan dan beban kerja yang cukup berat dan tidak seimbang, kurangya kemampuan, pengetahuan, kesadaran dan motivasi untuk melakukan pengolahan data, serta kurangnya kemauan tenaga kesehatan untuk menyimpan dan menyajikan data secara sistematis, cermat, lengkap dan aman. Berdasarkan uraian tersebut dapat dilihat bahwa tahapan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan di Dinas Kesehatan XXX belum sepenuhnya terlaksana sesuai harapan. Dengan demikian penulis merasa perlu untuk meneliti Sistem Informasi Manajemen Kesehatan dalam perencanaan kesehatan di Dinas Kesehatan XXX.

B. Perumusan Masalah
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Sponsor

Teman DiskusiSkripsi.com

 

Posting Terbaru