Strategi Investasi Pabrik Pupuk Organik Di PTPN VI (Persero)

ABSTRAK

Seiring dengan meningkatnya permintaan dunia terhadap produk olahan
kelapa sawit, maka limbah yang dihasilkan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) juga
semakin meningkat. Dari pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) di Pabrik Kelapa
Sawit (PKS) dihasilkan limbah padat berupa Tandan Kosong Sawit (TKS) dan
limbah cair (LCPKS).
Untuk mengatasi limbah yang dihasilkan, Pusat Penelitian Kelapa Sawit
(PPKS) di Medan, Sumatera Utara, telah mengembangkan teknologi
pengomposan yang mengolah limbah PKS menjadi pupuk kompos (organik) yang
kaya akan unsur hara dan ramah lingkungan. Teknologi produksi sederhana ini
memungkinkan tercapainya nir limbah (zero waste) pada PKS. Sehingga tidak ada
lagi limbah yang mencemari lingkungan di sekitar pabrik.
Permintaan pupuk organik (kompos) juga semakin meningkat di pasaran
karena harga pupuk anorganik yang semakin mahal. Pola hidup masyarakat dunia
yang kembali ke makanan alami yang berasal dari bahan organik yang bebas dari
zat kimiawi juga turut mempengaruhi. Melihat peluang di bisnis ini, PT. ABC
menawarkan kerja sama pengelolaan limbah PKS di PTPN VI (Persero) dalam
bentuk joint venture. Perusahaan joint venture ini berencana membangun Pabrik
Pupuk Organik (PPO) dengan kapasitas 69 dan 138 ton/hari yang mengolah
limbah PKS kapasitas pengolahan TBS 30 ton dan 60 ton/jam di Propinsi Jambi.
Strategi investasi PPO berfokus pada lima aspek bisnis, yang terdiri dari
aspek produksi, manajemen, pemasaran, lingkungan dan keuangan. Penekanan
aspek keuangan pada analisis keputusan investasi dan strategi pendanaan. Pada
analisis aspek keuangan dibuat dua alternatif pendirian PPO yaitu alternatif A
(lantai produksi dari semen menggunakan mesin turner merk Backhus) dan
alternatif B (lantai produksi dari tanah yang dikeraskan menggunakan mesin
turner merk Asia Green) untuk PPO kapasitas 69 ton/hari dan 138 ton/hari.
Masing-masing alternatif tersebut memiliki tiga skenario pendanaan.
Hasil analisis aspek keuangan di setiap kapasitas pabrik pada tiga skenario
pendanaan menunjukkan bahwa alternatif A layak untuk dijalankan (NPV bernilai
positif, Pay Back Period dibawah jangka waktu proyek, IRR diatas nilai WACC
ii
dan nilai ROI diatas suku bunga pinjaman) sedangkan alternatif B tidak layak
untuk dijalankan. Prioritas struktur pendanaan adalah skenario 1 karena memiliki
nilai NPV dan ROI yang tertinggi dari dua skenario lainnya.
Hasil strategi investasi merupakan pedoman bagi PTPN VI (Persero) dan
PT. ABC untuk mendirikan dan mengoperasikan Pabrik Pupuk Organik (PPO).

Kata Kunci: Pabrik Kelapa Sawit, Tandan Kosong Sawit, Pupuk Organik,
Analisis Keuangan, Strategi Investasi

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Rancang Bangun Prototipe Reaktor Bio Gas Limbah Sapi Dengan Pengaturan Temperatur dan Derajat Kea...

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Setelah terjadinya krisis energi yang mencapai puncak pada dekade 1970, dunia menghadapi kenyataan bahwa persediaan minyak bumi, sebagai salah satu tulang punggung produksi energi terus berkurang. Bahkan beberapa ahli berpendapat, bahwa dengan pola konsumsi seperti sekarang, maka dalam waktu 50 tahun cadangan minyak bumi dunia akan habis (Pinske, 1993 dalam Salim, 2005).
Sebagai konsekwensi logis, tanpa bahan baku (energi), kehidupan ini tidak ada, oleh sebab itu akan merupakan suatu keharusan bagi setiap orang untuk melakukan usaha penyeimbangan antara kebutuhan dengan ketersediaan. Usaha-usaha tersebut bisa berupa pencarian dan pemanfaatan sumber bahan lain (pengganti). Pemanfaatan bio gas merupakan salah satu usaha untuk mengurangi kebergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbarui (Judoamidjojo dkk., 1992).
Berbagai bentuk energi telah digunakan manusia seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam yang merupakan bahan bakar fosil, dan juga bahan bakar tradisional, yaitu kayu. Walaupun masih digunakan, penggunaan kayu bakar terbatas dengan berkurangnya hutan sebagai sumber kayu. Tapi, dengan meningkatnya jumlah penduduk, terutama yang tinggal di pedesaan, kebutuhan energi rumah tangga masih menjadi persoalan yang harus dicarikan jalan keluarnya.
Bahan utama bio gas adalah metan (CH4) yang mencakup 60-70 persen, sedangkan sisanya berupa CO2, H2S dan gas lainnya (Nitrogen, Hidrogen) (Judoamidjojo dkk., 1992). Teknologi bio gas adalah transformasi dari limbah organik oleh bakteri metanogenik melalui fermentasi anaerobik untuk menghasilkan bio gas, misalnya metan (CH4) (Koottatep dkk., tanpa tahun). Secara alami teknik ini terjadi di dalam lambung ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba).

1.2 Permasalahan
Penelitian yang pernah dilakukan, lebih banyak menggunakan volume digester dan kebutuhan biomassa dalam skala besar yang membutuhkan biaya investasi yang cukup besar pula, namun produksi bio gas yang dihasilkan masih kurang optimal karena kondisi di dalam digester tidak sesuai bagi bakteri metanogenik untuk memproduksi bio gas dalam jumlah besar. Sebagai contoh pada digester model kubus dengan volume 8,5 m3, kapasitas 80 Kg kotoran sapi pada suhu sludge ± 20oC dan pH 4,5 – 5 menghasilkan gas sebanyak 1,4 m3 per hari (Cooney, 1983).
Menurut Wilson (1977), satu keluarga dengan empat orang anggota keluarga membutuhkan 2,8 m3 bio gas untuk masak dan penerangan setiap hari. Jadi untuk memenuhi kebutuhan harian satu keluarga, setiap rumah tangga harus memiliki reaktor bio gas dengan volume minimal 17 m3, sedangkan untuk membuat reaktor bio gas dengan volume digester 17 m3 memerlukan biaya investasi sangat besar dan tidak ekonomis apabila diaplikasikan dalam skala rumah tangga.
Apabila pada digester diberi perlakuan seperti di dalam lambung ruminansia, ada kemungkinan akan meningkatkan produksi bio gas, sehingga dapat diaplikasikan dalam skala rumah tangga dengan kebutuhan bahan baku yang tidak terlalu besar. Selain itu juga diharapkan mampu menekan biaya investasi alat.
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas maka perlu dirancang suatu reaktor yang mampu memproduksi bio gas yang lebih optimal yaitu dengan memberikan perlakuan pada digester seperti pada lambung ruminansia melalui pengaturan temperatur dan pH yang optimal untuk perkembangbiakan bakteri metanogenik di dalam digester.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah merancang prototipe reaktor bio gas dengan pengaturan temperatur pada digester dan pengaturan pH sludge agar menghasilkan output bio gas yang optimal dengan volume digester yang tidak terlalu besar sehingga dapat diaplikasikan di tingkat rumah tangga dan industri kecil.
1.4 Manfaat Penelitian
Dengan dirancangnya prototipe reaktor bio gas ini diupayakan dapat membantu mengatasi krisis energi dan membantu masyarakat melalui aplikasi di tingkat rumah tangga dan industri kecil.

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Rancang Bangun Alat Pemanggang

BAB I
PENDAHULUAN

Kerupuk kemplang merupakan makanan tradisional yang populer di daerah
Sumatera, khususnya di Palembang. Produk kerupuk kemplang terbuat dari daging ikan,
garam, tepung tapioka dan bumbu, yang dicampur dalam bentuk adonan dan diiris dengan
ketebalan 2 sampai 3 mm. Pembuatan kemplang biasanya dilakukan dengan cara digoreng
dan dipanggang (Mohamed, 1998). Kemplang panggang sangat sesuai bagi konsumen
yang mempunyai pantangan terhadap makanan berminyak (Romlah dan Tri Wardani,
1999).
Permintaan akan produk krupuk kemplang panggang terus meningkat tiap tahun.
Akan tetapi pengrajin kecil belum dapat memenuhi peningkatan permintaan tersebut
karena masih menggunakan cara tradisional, yaitu proses pemanggangan dilakukan secara
manual di atas bara api arang kayu yang memerlukan waktu yang lama dan hasil yang
tidak seragam serta kurang higienis.
Dalam rangka memenuhi peningkatan permintaan jumlah dan mutu kerupuk
kemplang panggang sesuai yang diperlukan oleh konsumen, perlu dilakukan beberapa
usaha perbaikan proses untuk meningkatkan hasil dan mutu kerupuk kemplang panggang
tersebut. Salah satu kelemahan pada proses pengolahan kemplang panggang secara
tradisional adalah pada proses pemanggangan dilakukan secara manual di atas bara api
arang kayu yang memerlukan waktu yang lama dan hasil yang tidak seragam serta kurang
higienis. Oleh sebab itu usaha perbaikan proses pemanggangan kerupuk kemplang
panggang perlu diteliti dalam rangka meningkatkan jumlah dan mutu kerupuk kempnag
panggang.
2
Hasil produk kerupuk kemplang panggang oleh pengrajin tradisional di Sumatera
Selatan pada umumnya tidak seragam yang berhubungan dengan ukuran, warna,
kerenyahan, mutu dan higienis. Selain itu jumlah produk yang dihasilkan juga masih
terbatas karena dilakukan secara manual yang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah
besar.
Salah satu penyebab dari hal tersebut adalah karena proses pemanggangan kerupuk
kemplang dilakukan secara manual di atas bara api arang kayu. Dengan cara ini panas
yang disalurkan ke kerupuk kemplang tidak merata, sehingga menyebabkan warna produk
yang tidak seragam. Selanjutnya banyak energi panas yang terbuang selama
pemanggangan sehingga menghasilkan efisiensi pemanggangan yang rendah. Selain itu
proses tersebut memerlukan waktu yang lama untuk pemanggangan karena produk harus
dibolak balik. Pada sisi lain lingkungan pemanggangan yang terbuka akan menyebabkan
hasil poduk kerupuk kemplang yang kurang higienis. Secara keseluruhan hal tersebut
menghasilkan produk kerupuk kemplang panggang dalam jumlah sedikit, mutu yang
kurang baik serta biaya proses pemanggangan yang mahal.
Sebagai upaya untuk meningkatkan jumlah produk kerupuk kemplang panggang,
meingkatkan mutu produk kerupuk kemplang panggang, serta mengurangi biaya yang
diperlukan pada proses pemanggangan, maka perlu dilakukan penelitian pada proses
pengolahan kerupuk kemplang, terutama pada proses pemanggangan kerupuk kemplang
panggang, sehingga diharapkan dapat meningkatkan jumlah dan mutu produk kerupuk
kemplang panggang, serta mengurangi biaya yang diperlukan pada proses pemanggangan.
Proses pemanggangan yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan alat
pemanggangan yang dirancang secara terkendali, bersifat sederhana, efektif, mempunyai
kapasitas kerja yang tinggi serta dengan biaya yang layak, sehingga diharapkan dapat
digunakan oleh pengrajin kerupuk kemplang panggang.

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Potensi Dan Pengembangan Lahan Hutan Gambut Melalui Sistem Informasi Manajemen di Kabupaten Ogan

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sumberdaya alam hayati didefinisikan sebagai unsur-unsur di alam yang terdiri dari sumber-sumber alam nabati dan hewani yang bersama dengan unsur non hayati disekitarnya secara keseluruhan membentuk suatu ekosistem (Poolock, 1991). Salah satu bentuk-bentuk sumberdaya alam adalah kekayaan hutan yang dimiliki bangsa Indonesia.
Pengelolaan sumberdaya hutan bertujuan untuk mendapatkan manfaat-manfaat penting dari hutan, diantaranya sebagai penghasil kayu dan vegetasi lainnya, satwa liar, tempat rekreasi, mencegah banjir dan erosi, mempertahankan kesuburan tanah, dan mengatur kondisi iklim dan lingkungan hidup (Worrel, 1970).
Hutan mempunyai banyak manfaat (multiple use) yang merupakan karakteristik sumberdaya alam ini yang berbeda dengan sumberdaya alam lainnya, sebab selain sebagai produksi kayu, hutan juga mempunyai berbagai fungsi penting lainnya, sehingga dalam pengambilan keputusan mengenai macam penggunaan hutan, perlu diperhatikan bahwa tidak semua lahan hutan cocok untuk semua bentuk pemanfaatan (Suparmoko, 1989).
Hutan di Indonesia merupakan 75 % dari seluruh wilayah Indonesia atau 50% dari hutan tropika di Asia Tenggara dan 10 % dari seluruh wilayah hutan tropika dunia. Hutan di Indonesia berdasarkan Tata Guna Lahan Kesepakatan (TGHK) secara nasional seluas 144 juta hektar yang tersebar di berbagai pulau utama di Indonesia. Kawasan hutan seluas 144 juta hektar tersebut dalam pembulatan presentase dibagi menjadi beberapa fungsi, yaitu 20 % sebagai hutan konversi, 27 % sebagai hutan lindung, 9,8 % sebagai hutan suaka alam dan wisata hutan, 17 % sebagai hutan produksi tetap, 16,1 % sebagai hutan produksi terbatas (Arief, 2001).
Salah satu wilayah Sumatera Selatan yang memiliki hutan produksi adalah Kabupaten Ogan Komering Ilir. Hutan produksi terdapat di berbagai lahan seperti lahan kering, rawa lebak, dan rawa gambut. Pengembangan hutan produksi sendiri masih memiliki berbagai kendala seperti kondisi lahan yang terbatas dan kemampuan lahan tidak merata, maka pengembangan lahan yang lestari dan berkelanjutan harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan sistem perencanaan yang akurat dan terukur. Oleh karena itu semua faktor yang mempengaruhi pengembangan hutan yang berkelanjutan, termasuk faktor pendukung dan pembatas, perlu dipikirkan sejak awal dan dituangkan dalam sebuah produk database dan peta.
Perkembangan penggunaan sumber daya lahan sampai saat ini di Kabupaten Ogan Komering Ilir belum sepenuhnya memiliki kontribusi yang nyata dalam meningkatkan produksi tanaman secara berkelanjutan. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi lahan bervariasi berdasarkan letak geografis dan topografinya, yang masing-masing sangat mempengaruhi produktifitas tanaman. Diperlukan perencanaan yang matang dalam mengambil keputusan jenis tanaman yang akan ditanam.
Perencanaan dan pengambilan keputusan yang tepat harus dilandasi oleh data dan informasi yang yang akurat tentang kondisi lahan. Penggunaan teknologi berbasis komputer untuk mendukung perencanaan tersebut mutlak diperlukan untuk menganalisis, memanipulasi dan menyajikan informasi dalam bentuk tabel dan keruangan. Salah satu teknologi tersebut adalah Sistem Informasi Geografis (SIG) yang memiliki kemampuan membuat model yang memberikan gambaran, penjelasan dan perkiraan dari suatu kondisi faktual.
Oleh karena itu maka untuk mendapatkan model, informasi dan gambaran keruangan tentang komoditas yang cocok di Kabupaten Ogan Komering Ilir secara cepat dan akurat, maka dilakukan kegiatan pembuatan peta dan sistem informasi mengenai lahan menggunakan metode GIS.

B. Tujuan
Tujuan penelitian sistem informasi lahan rawa gambut hutan produksi Pedamaran Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir adalah :
Tujuan penelitian potensi dan pengembangan lahan hutan gambut melalui Sistem Informasi Manajemen di Kabupaten Ogan Komering Ilir adalah:
1. Membuat database karakterisasi lahan hutan rawa gambut sebagai data dasar dalam membuat suatu perencanaan pengelolaan lahan rawa sesuai dengan karakteristik dan kemampuan lahan.
2. Mengidentifikasi potensi kesesuaian lahan terutama pada kawasan lahan hutan produksi dan menyajikan data dan informasi yang lebih akurat, obyektif dan lengkap sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan dalam pengembangan lahan hutan produksi.

3. Membuat Sistem Informasi Manajemen Lahan hutan rawa gambut di bentang lahan Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir.
4. Memberikan alternatif kegiatan masyarakat dalam mengelolan kawasan hutan secara baik dan berkesinambungan.

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Perbedaan Produktivitas Dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Antara Varietas Cisantana Dan Varieta

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Mengingat Indonesia sebagai negara agraris dan maritim yang mempunyai
kekayaan alam yang sangat potensial, sudah sewajarnya harus mampu mencukupi
kebutuhan pangan bagi penduduknya, karena pangan mempengaruhi kehidupan
masyarakat, berbangsa dan bernegara, baik di bidang ekonomi, politik, sosial budaya
dan hankam. Meskipun swasembada beras pernah dicapai pada tahun 1984, namun
berbagai upaya tetap dilakukan untuk meningkatkan produksi pangan dan
menempatkan sebagai prioritas tertinggi dalam pembangunan pertanian sebagai
bagian integral dari pembangunan nasional. Program ini bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan pangan (karbohidrat, protein, vitamin dan mineral) bagi seluruh penduduk.
Dua unsur utama yang dijadikan dasar dalam upaya peningkatan produksi
pangan adalah komitmen yang kuat dan stabilitas politik. Komitemen yang kuat telah
ditunjukkan oleh para pemimpin bangsa, mulai dari presiden, menteri, gubernur
sampai para pemimpin desa melalui penyediaan berbagai fasilitas dan dana serta
perbaikan struktur organisasi. Stabilitas politik berkaitan erat dengan keamanan
nasional yang menjamin bahwa program tersebut dapat dilaksanakan secara efektif
dan efisien.
Program peningkatan produksi pangan bertujuan memenuhi kebutuhan
pangan dalam negeri. Program ini dilaksanakan melalui peningkatan produktivitas,
stabilitas, keberlanjutan, dan keimbangan usahatani. Kebijaksanaan pemerintah
1
dalam program peningkatan produksi pangan, terutama padi mencakup : (1)
pengembangan dan penerapan teknologi baru; (2) upaya memotivasi partisipasi aktif
petani melalui program Aksi Masyarakat Agribisnis Tanaman Pangan (Proksi
Mantap) yang dulu dikenal dengan program Bimas; (3) penyediaan sarana produksi
tepat waktu, lokasi, jumlah, jenis dan harga; serta (4) penetapan harga dasar gabah
dan harga tertinggi (Anonim, 2005).
Strategi dasar yang diterapkan dalam pelaksanaan kebijaksanaan tersebut
difokuskan pada empat program pokok, yaitu intensifikasi, ekstensifikasi,
diversifikasi, dan rehabilitasi. Pelaksanaannya dilakukan dengan perencanaan yang
mantap melalui program yang serempak, terintegrasi, dan terkoordinasi. Oleh karena
itu, maka pembangunan pertanian merupakan sistem yang terdiri dari beberapa
subsistem yang saling terkait. Kekeliruan pada satu atau lebih subsistem akan
mempengaruhi subsistem lain atau bahkan sistem secara keseluruhan. Program
peningkatan produksi padi, misalnya, mencakup beberapa subsistem seperti sistem
penyaluran sarana produksi, sistem usahatani, sistem pemasaran hasil serta sistem
konsumsi. Untuk mempertahankan harga pangan tetap stabil, Bulog berperan
penting. Semua subsistem ini mendapat perhatian dalam upaya peningkatan produksi
padi (Anonim, 1994).
Penelitian mempunyai peran penting dalam upaya mempertahankan
swasembada beras. Berbagai informasi dan teknologi yang berkaitan dengan aspek
produksi, sosial, dan ekonomi telah dihasilkan oleh penelitian. Varietas unggul
berperan penting dalam program peningkatan produksi padi. Selain berdaya hasil
2
lebih tinggi, 5 – 8 ton/ha, varietas unggul juga berumur pendek, 110 – 135 hari,
dibandingkan varietas lokal dengan hasil 3 – 4 ton/ha dan umur 150 – 180 hari.
Dengan umur yang lebih pendek, petani dapat meningkatkan intensitas penanaman
dari satu menjadi dua kali padi atau lebih per tahun. Varietas unggul biasanya juga
tahan terhadap hama dan penyakit tertentu sehingga penggunaan pestisida dapat
ditekan. Disamping mengurangi biaya produksi, penggunaan pestisida yang lebih
sedikit juga berperan penting untuk mempertahankan kualitas lingkungan (Anonim,
1994).
Sejak diintroduksikannya varietas unggul IR5 dan IR8 pada tahun 1967, lebih
dari 100 varietas unggul telah dilepas di Indonesia. Sebagian besar varietas tersebut
dihasilkan oleh Lembaga Penelitian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
(Badan Litbang Pertanian), dan beberapa varietas lainnya dihasilkan oleh
International Rice Research Institute (IRRI) dan telah diuji oleh peneliti Badan
Litbang Pertanian sebelum dilepas. Selama tahun 1987 – 1993 telah dilepas 27
varietas unggul padi yang cocok untuk lingkungan spesifik (Anonim, 1994).
Pada saat ini, sekitar 80 % dari lahan sawah telah ditanami varietas unggul.
Terhadap varietas lokal juga dilakukan eksplorasi, koleksi, evaluasi dan dokumentasi
plasma nuthfah, karena varietas lokal memiliki sifat tertentu yang berguna bagi
program pemuliaan. Lebih dari 6.000 plasma nuthfah padi telah dikoleksi dan
didokumentasi untuk dievaluasi dan digunakan dalam program penelitian.
Berbagai penelitian terus dilakukan untuk mendapatkan jenis varietas unggul
yang cocok dengan kondisi alam dan tanah di wilayah tertentu. Penelitian lanjutan
3
terus dilakukan dengan mengambil sampel pada daerah-daerah yang memiliki lahan
persawahan di seluruh Indonesia, termasuk di Sulawesi Tenggara. Dari hasil
perpaduan dan kompleksitas penelitian terhadap varietas unggul tersebut, beberapa
peneliti kembali menemukan jenis varietas unggul baru yang saat ini sudah digunakan
di Sulawesi Tenggara, khususnya di Kota Bau-Bau, yakni di Kelurahan Ngkari -
Ngkari Kecamatan Bungi. Varietas unggul tersebut bernama Varietas Way Apoburu
dan Varietas Cisantana, yang berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Z.A
Manullang, dkk. Telah memenuhi syarat untuk digunakan. Kedua jenis varietas ini
pertama kali diterapkan di Propinsi Sulawesi Selatan, dan saat ini sudah menyebar di
seluruh wilayah Republik Indonesia, termasuk Sulawesi Tenggara, khususnya di
Kelurahan Ngkari- Ngkari Kecamatan Bungi Kota Bau-Bau.
Kelurahan Ngkari- Ngkari Kecamatan Bungi Kota Bau-Bau dengan luas areal
persawahan kurang lebih 422 Ha merupakan salah satu kelurahan di Sulawesi
Tenggara yang mengembangkan usahatani padi sawah dengan produktivitas rata-rata
4,5 - 5 ton/Ha. Produksi ini optimis dapat ditingkatkan jika terdapat varietas unggul,
khususnya varietas Cisantana dan varietas Way Apoburu.
Berdasarkan hal tersebut di atas, menarik untuk dikaji secara ilmiah melalui
penelitian dengan judul : “Perbedaan Produktivitas dan Pendapatan Usahatani Padi
Sawah Antara Varietas Cisantana dan Varietas Way Apoburu di Kelurahan Ngkari-
Ngkari Kecamatan Bungi Kota Bau-Bau”.
4
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas, maka penelitian ini diarahkan
untuk menjawab beberapa permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut :
1. Berapa besar produktivitas dan pendapatan usahatani padi sawah varietas
Cisantana dan Way Apoburu.
2. Apakah berbedaan produktivitas dan pendapatan usahatani padi sawah antara
varietas Cisantana dan Way Apoburu berbeda nyata.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan gambaran
mengenai perbedaan produktivitas dan pendapatan usahatani padi sawah dengan
menggunakan varietas unggul. Sehubungan dengan maksud tersebut, maka penelitian
ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui besar produktivitas dan pendapatan usahatani padi sawah
varietas Cisantana dan Way Apoburu.
2. Untuk menganalisis berbedaan produktivitas dan pendapatan usahatani padi
sawah antara varietas Cisantana dan Way Apoburu.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka manfaat penelitian ini adalah :
1. Sebagai bahan kajian dan referensi bagi pengembangan keilmuan yang lebih luas,
khususnya di bidang usahatani padi sawah melalui penggunaan varietas unggul.
5
2. Sebagai bahan informasi dan masukan bagi pemerintah (Dinas PKK Kota Bau-
Bau) dalam mengambil suatu kebijakan di bidang pertanian secara umum,
khususnya dalam bidang tanaman pangan.
3. Sebagai bahan masukan dan informasi bagi petani, khususnya dalam memilih
jenis varietas yang baik dan tepat yang mampu meningkatkan produktivitas dan
pendapatan usahatani.
4. Bahan pembanding lanjutan dengan skop yang lebih luas.

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Peranan Unit Pelayanan Pengembangan Dan Pengolahan Hasil Pertanian (UP3HP) Pada Usahatani Nangka

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan Unit Pelayanan Pengembangan Pengolahan Hasil Pertanian (UP3HP) pada usahatani komoditas nangka dilihat dari segi biaya dan pendapatan di Kecamatan Narmada.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Teknik Pengumpulan datanya mengunakan teknik survei dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya, sebagai responden ditetapkan 40 orang petani sampel secara Quota Sampling.

Untuk mengetahui besarnya biaya dan pendapatan dari petani yang komoditas nangka digunakan analisis biaya dan pendapatan, baik petani anggota UP3HP maupun yang bukan Anggota UP3HP. Sedangkan untuk melihat berperan atau tidaknya UP3HP terhadap peningkatan pendapatan petani komoditas nangka digunakan Uji Hipotesis atau Uji t (t test) dengan taraf 5 % ( persen).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya produksi yang dikeluarkan petani responden anggota UP3HP sebesar Rp. 114.472.540,- dan yang bukan anggota UP3HP sebesar Rp. 52.210.490,- sedangkan pendapatan bersih petani responden anggota UP3HP adalah Rp. 287.241.227,- dan pendapatan bersih petani responden bukan anggota UP3HP adalah Rp. 39.643.510,-

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada taraf nyata 5 persen pada lampiran ditunjukkan bahwa nilai t hitung (8,467), lebih besar dari t tabel (4.989). Hal ini berarti Hipotesis Nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (H1) diterima. Dengan demikian unit pelayanan pengembangan dan pengolahan hasil pertanian berperan nyata terhadap peningkatan pendapatan petani pengolah komoditas nangka di Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat.

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Penggunaan Bakteri Asam Laktat Dari Tempoyak Pada Fermentasi Sari Buah Nanas Dengan Penambahan Je...

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nanas merupakan komoditas unggulan di Sumatera Selatan. Permintaan pasar
dalam negeri terhadap buah nanas cenderung meningkat sejalan dengan pertumbuhan
jumlah penduduk, semakin baik pendapatan masyarakat, dan semakin tinggi
kesadaran penduduk tentang nilai gizi dari buah-buahan. Nanas termasuk komoditas
buah yang mudah rusak, susut, dan cepat busuk. Oleh karena itu, seusai panen
memerlukan penanganan pasca panen nanas, salah satunya dengan pengolahan.
Gagasan ini terbukti menguntungkan, sebab dengan menjadi produk olahan akan
diperoleh banyak keuntungan. Selain menyelamatkan hasil panen, pengolahan buah
nanas juga dapat memperpanjang umur simpan, diversifikasi pangan dan
meningkatkan kualitas maupun nilai ekonomis buah tesebut.
Produk olahan nanas dapat berupa makanan dan minuman, seperti selai, cocktail,
sirup, sari buah, keripik hingga manisan buah kering (Suprapti, 1994). Sari buuah
nanas adalah cairan yang diperoleh dari proses ekstraksi buah nanas. Sari buah
tersebut terbagi dua, ada yang dapat diminum langsung dan ada yang difermentasi
menjadi minuman kesehatan.
Sari buah nanas dapat difermentasi menjadi beberapa minuman seperti anggur,
cider, dan lain-lain. Minuman tersebut adalah produk fermentasi dari
mikroorganisme. Mikroorganisme yang berperan dalam fermentasi bahan pangan
sangat beragam diantaranya khamir, bakteri asam propionat, bakteri asam asetat, dan
bakteri asam laktat (Buckle et al., 1987).
Sari buah nanas difermentasi menggunakan bakteri asam laktat menjadi minuman
probiotik. Kelompok bakteri asam laktat merupakan salah satu kultur probiotik yang
telah lama digunakan dan kebanyakan dari spesiesnya tidak patogen. Kelebihan
bakteri asam laktat sebagai mikroorganisme probiotik yaitu dapat menurunkan
kolesterol, menghambat pertumbuhan bakteri lain yang tidak dikehendaki, dapat
menjaga kesehatan tubuh karena dapat tumbuh pada jalur intestin tubuh dan
menempel pada dinding usus sehingga mikroorganisme patogen tidak dapat tumbuh,
serta dapat melancarkan pencernaan (Rahayu, 2000).
Bakteri asam laktat (BAL) berperan penting dalam proses fermentasi makanan.
Pengawetan makanan dengan fermentasi asam laktat merupakan perubahan bahan
makanan menjadi produk lain yang lebih awet. Banyak bahan makanan yang
diawetkan dengan fementasi asam laktat seperti susu, daging, buah, dan sayuran.
Bakteri asam laktat tersebut diisolasi dari tempoyak. Tempoyak merupakan hasil
olahan daging buah durian yang diperoleh dengan cara fermentasi. Tempoyak dibuat
hanya dengan penambahan garam dapur ke dalam daging buah yang difermentasi
selama 3 hingga 4 hari. Penambahan garam dapur pada daging buah durian akan
menyebabkan bakteri asam laktat tumbuh baik, sehingga akan terbentuk asam-asam
dari bahan gula yang berasal dari daging buah durian (Astawan dan Astawan, 1991).
Hasil penelitian Indriasari (2000), bakteri asam laktat dapat tumbuh tetapi tidak
dapat berkembang pada sari buah nanas, diduga karena bakteri asam laktat tersebut
kekurangan sumber nitrogen. Sumber nitrogen dapat diperoleh dari penambahan
ZA(urea) yang biasa digunakan pada pembuatan nata de coco, amonium sulfat, susu
skim, ekstrak kecambah kacang hijau dan senyawa lainnya yang mengandung
nitrogen. Pada penelitian ini akan dikaji proses fermentasi sari buah nanas
menggunakan bakteri asam laktat yang diisolasi dari tempoyak dengan penambahan
jenis dan konsentrasi sumber nitrogen yang berbeda.
B. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan
penambahan jenis dan konsentrasi sumber nitrogen yang berbeda terhadap
karakteristik kimia, mikrobiologis, dan sensoris dari sari buah nanas fermentasi.
C. Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah diduga bahwa konsentrasi dan jenis sumber
nitrogen berpengaruh nyata terhadap karakteristik kimia, mikrobiologis, dan sensoris
sari buah nanas yang difementasi menggunakan bakteri asam laktat

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Pengaruh Pemberian Susu Berkalsium Tinggi terhadap Kadar Kalsium Darah dan Kepadatan Tulang Remaja

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Susu adalah bahan pangan yang dikenal kaya akan zat gizi yang diperlukan oleh
tubuh manusia. Konsumsi susu pada saat remaja terutama dimaksudkan untuk
memperkuat tulang sehingga tulang lebih padat, tidak rapuh dan tidak mudah terkena
risiko osteoporosis pada saat usia lanjut. Agar tulang menjadi kuat, diperlukan asupan zat
gizi yang cukup terutama kalsium. Kalsium merupakan zat utama yang diperlukan dalam
pembentukan tulang, dan zat gizi ini antara lain dapat diperoleh dari susu. Pada susu juga
terkandung zat-zat gizi yang berperan dalam pembentukan tulang seperti protein, fosfor,
vitamin D, vitamin C dan besi. Selain zat-zat gizi tersebut, susu juga masih mengandung
zat-zat gizi penting lainnya yang dapat meningkatkan status gizi.
Usia remaja merupakan masa yang penting dalam kelangsungan hidup manusia.
Masa ini merupakan masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa yang ditandai
dengan pertumbuhan dan perkembangan yang cepat baik fisik maupun mental, aktivitas
yang makin meningkat serta sering disertai dengan perubahan pola konsumsi pangan.
Menurut WHO (1989) dalam Wall (1998), remaja adalah mereka yang berusia antara 10
hingga 24 tahun.
Untuk mengimbangi pertumbuhan dan perkembangan yang cepat, tubuh
memerlukan zat gizi yang lebih banyak dan lebih berkualitas, sehingga apabila tidak
diimbangi dengan pola konsumsi pangan yang sehat, masa remaja dapat menjadi masa
yang rawan gizi. Salah satu zat gizi yang diperlukan pada masa remaja ini adalah
kalsium. Menurut Khomsan (2004), retensi kalsium pada remaja pria tiga kali lipat lebih
tinggi dibandingkan pada masa usia pra sekolah. Pada masa pra usia sekolah retensi
kalsium sebagai tulang adalah sebesar 100 mg/hari.
Pada usia remaja terjadi pembentukan jaringan tulang. Massa jaringan tulang
total pada tubuh 45% terbentuk pada saat remaja dan puncak kepadatan tulang dicapai
pada saat remaja akhir Masa pertumbuhan tulang sangat membutuhkan zat kalsium yang
terutama dapat diperoleh dari susu sebagai sumber utama kalsium (Matkovic et al.
1994). Selain itu, masa remaja dapat dianggap sebagai masa terakhir dalam perbaikan
gizi yang optimal, karena setelah melewati masa ini, perbaikan gizi sebagian besar hanya
bermanfaat untuk mempertahankan kebugaran tubuh.
Masa remaja merupakan masa puncak aktivitas. Pada masa ini umumnya sangat
sibuk dengan kegiatan baik yang bersifat kurikuler (kegiatan akademis) maupun kegiatan
non-kurikuler (di luar kegiatan akademis). Kegiatan kurikuler yang dilakukan antara lain
adalah kegiatan belajar, mengerjakan tugas-tugas dan lain-lainnya, sedangkan kegiatan
non-kurikuler seperti bermain, olah-raga serta kegiatan fisik lainnya. Pada umumnya
pada remaja pria porsinya lebih tinggi dibandingkan dengan remaja wanita. Kondisi
seperti ini tentunya sangat memerlukan asupan gizi yang tinggi dan berkualitas.
Susu merupakan sumber utama kalsium masyarakat di negara-negara Barat,
sedangkan di negara-negara berkembang seperti Indonesia, susu masih dianggap sebagai
bahan pangan mahal, sehingga hanya mampu dijangkau oleh masyarakat golongan
ekonomi menengah ke atas. Menurut Khomsan (2006), di negara-negara Barat, kebiasaan
minum susu telah mendarah daging sejak anak masih kecil hingga dewasa, sedangkan di
negara-negara berkembang upaya penggalakan minum susu masih menghadapi kendala
status ekonomi penduduk yang umumnya rendah.
Susu yang biasa dikonsumsi dan diperdagangkan saat ini pada umumnya adalah
susu sapi. Susu tidak hanya dapat dikonsumsi dalam bentuk cair, bahan pangan ini juga
dapat diolah dan dikonsumsi dalam berbagai bentuk seperti yoghurt, yakult, keju,
mentega dan berbagai bentuk olahan susu bubuk dan susu kental manis. Pada
perkembangan selanjutnya, dengan tujuan meningkatkan kualitas susu (dan juga untuk
lebih menarik minat konsumen), bentuk olahan susu banyak yang diperkaya dengan zat
gizi tambahan, misalnya dengan zat gizi kalsium (yang dikenal sebagai susu high
calcium). Selain itu ada juga dengan cara mengurangi kadar lemak susu (low fat)
sehingga secara proporsional kandungan gizi lainnya termasuk kalsium menjadi lebih
tinggi (high calcium). Jenis susu ini biasanya terdapat dalam bentuk susu bubuk yang
pada pengolahannya memerlukan suhu sangat tinggi, sehingga dapat menurunkan
kandungan gizi susu. Oleh karena itu untuk meningkatkan kualitas dan untuk
mempertahankan kandungan gizi pada susu bubuk, seringkali dilakukan melalui proses
pengayaan (enrichment) zat gizi.
Susu yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis susu berkalsium tinggi
(high calcium) dan susu segar cair (fresh milk) komersial yang dikonsumsi sebagai
minuman. Susu ini belum diubah komposisi gizinya dan diolah dengan menggunakan
pemanasan melalui proses UHT (Ultra High Temperature). Melalui pemanasan dengan
metode UHT, pada umumnya bakteri akan mati, khususnya yang bersifat patogen
sehingga susu terlindung dari kerusakan akibat kontaminasi bakteri yang dapat merusak
susu dan menimbulkan penyakit. Susu UHT yang digunakan dipanaskan pada suhu 1400
C selama empat detik, selanjutnya dikemas dengan menggunakan wadah (dus) aseptik
multilapis, sehingga dapat terhindar dari kontaminan yang berasal dari luar wadah.
Menurut Brown (2000), susu jenis ini umumnya dipanaskan pada suhu 1380-1500 C
selama 2–6 detik dan dapat disimpan di dalam suhu ruang dengan waktu lebih dari 3
bulan.
Menurut Weaver (2000), perubahan pola konsumsi pangan yang menonjol pada
remaja adalah perubahan konsumsi minuman. Remaja, terutama remaja putra, cenderung
lebih suka mengonsumsi minuman yang sedang populer atau digemari di kalangan
remaja dengan kurang bahkan tanpa memperhatikan pengaruhnya terhadap kesehatan.
Selanjutkan dikatakan bahwa sumber utama kalsium adalah susu dan produk olahannya,
akan tetapi terdapat kecenderungan pada remaja untuk menggantikan susu sebagai
minuman utama dengan minuman ringan (soft drink). Volek et al. (2003), melaporkan
bahwa perubahan konsumsi minuman di kalangan remaja ini berkontribusi pada asupan
yang rendah gizi termasuk kalsium. Lebih dari separuh remaja (di Amerika)
mengonsumsi susu kurang dari sekali sehari, sedangkan yang dianjurkan adalah sebanyak
tiga kali sehari. Di Indonesia, menurut Khomsan (2004), konsumsi susu rata-rata hanya
sekitar 0,5 gelas per minggu setiap orang.
Seseorang yang mengonsumsi susu dalam jumlah yang rendah pada saat anakanak
dan remaja, memiliki risiko kurangnya kepadatan tulang dan terjadinya osteoporosis
pada saat dewasa dan lanjut usia (Kalkwarf et al. 2003). Hasil penelitian yang dilakukan
oleh Volek et al. (2003) dengan pemberian susu dan jus buah selama 12 minggu pada dua
kelompok remaja putra yang sedang mengikuti pelatihan olahraga, menunjukkan bahwa
pada kelompok yang diberi susu tercatat secara nyata memiliki asupan kalsium dan
kepadatan tulang yang lebih tinggi daripada kelompok yang diberi jus buah. Pada remaja
wanita, yang diteliti oleh Cadogan et al. (1997), menunjukkan bahwa pemberian
minuman susu juga secara nyata dapat meningkatkan kepadatan tulang, akan tetapi tidak
menambah berat badan atau lemak tubuh.
Di Indonesia, pada moto gizi empat sehat lima sempurna, susu terletak pada
urutan paling terakhir yaitu pada kelompok lima sempurna. Hal ini karena susu masih
dianggap barang mahal dan masih sulit dijangkau oleh masyarakat banyak. Kondisi ini
dapat dilihat dari konsumsi susu yang masih rendah, yaitu hanya 5,10 kg/orang/tahun
(Khomsan 2004). Sementara itu, ukuran per saji untuk konsumsi susu sampai saat ini di
Indonesia belum baku. Ukuran per saji secara komersial yang ada saat ini adalah berkisar
antara 180 ml dan 250 ml. Di dalam anjuran jumlah per saji menurut kecukupan energi,
juga belum tercantum untuk kelompok umur 16-18 tahun dan 19-26 tahun untuk bahan
pangan susu (Depkes 2002).
Penelitian yang berhubungan dengan kepadatan tulang yang telah dilakukan
selama ini sebagian besar hanya terfokus pada wanita dan manula, sedangkan penelitian
kepadatan tulang pada pria, khususnya remaja pria, masih kurang. Penelitian kepadatan
tulang pada remaja pria seharusnya juga sama pentingnya seperti pada wanita. Walaupun
kejadian osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita, akan tetapi tingkat kematian
akibat patah tulang karena osteoporosis lebih tinggi terjadi pada pria dibandingkan
wanita. Menurut Campion dan Maricic (2003), tingkat kematian akibat patah tulang pada
pria mencapai 31%, sedangkan pada wanita hanya 17%. Selanjutnya, menurut Andersen
et al. (2000), prevalensi osteoporosis pada usia di bawah 50 tahun lebih tinggi terjadi
pada pria (14,3%) dibandingkan pada wanita (5,4%). Kondisi ini terutama karena pola
konsumsi pangan tidak sehat yang sering dilakukan oleh pria. Menurut analisis
Puslitbang Gizi dan Makanan, penderita osteoporosis di Indonesia telah mencapai tingkat
yang mengkhawatirkan yaitu sebesar 19,7%. Kecenderungan osteoporosis ini enam kali
lebih tinggi dibandingkan dengan osteoporosis di negeri Belanda (Depkes 2004).
Penelitian yang terkait dengan kesehatan tulang yang dilakukan di Indonesia pada
umumnya bersifat retrospektif, sedangkan penelitian yang bersifat eksperimental,
khususnya yang menggunakan susu komersial untuk remaja pria, sejauh ini belum
ditemui. Selain itu, hasil-hasil penelitian tentang pengaruh konsumsi susu terhadap
kepadatan tulang masih bersifat kontroversi. Menurut Weinsier dan Krumdieck (2000),
dari sebanyak 57 studi, 53% menunjukkan tidak terdapat pengaruh antara konsumsi susu
terhadap kepadatan tulang, 42% menunjukkan pengaruh positif dan 5% menunjukkan
pengaruh negatif terhadap kepadatan tulang.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka penelitian ini perlu dilakukan
khususnya untuk lebih jelas mengetahui pengaruh pemberian susu berkalsium tinggi
terhadap kepadatan tulang remaja pria. Dari penelitian ini diharapkan akan dapat
diketahui lebih jauh tentang masalah kepadatan tulang pada pria remaja dan hubungannya
dengan konsumsi susu.

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Pendapatan Usaha Tani Padi Sawah Antara Varietas Cisantana Dan Varietas Way Apoburu Di Kelurahan...

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Mengingat Indonesia sebagai negara agraris dan maritim yang mempunyai
kekayaan alam yang sangat potensial, sudah sewajarnya harus mampu mencukupi
kebutuhan pangan bagi penduduknya, karena pangan mempengaruhi kehidupan
masyarakat, berbangsa dan bernegara, baik di bidang ekonomi, politik, sosial budaya
dan hankam. Meskipun swasembada beras pernah dicapai pada tahun 1984, namun
berbagai upaya tetap dilakukan untuk meningkatkan produksi pangan dan
menempatkan sebagai prioritas tertinggi dalam pembangunan pertanian sebagai
bagian integral dari pembangunan nasional. Program ini bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan pangan (karbohidrat, protein, vitamin dan mineral) bagi seluruh penduduk.
Dua unsur utama yang dijadikan dasar dalam upaya peningkatan produksi
pangan adalah komitmen yang kuat dan stabilitas politik. Komitemen yang kuat telah
ditunjukkan oleh para pemimpin bangsa, mulai dari presiden, menteri, gubernur
sampai para pemimpin desa melalui penyediaan berbagai fasilitas dan dana serta
perbaikan struktur organisasi. Stabilitas politik berkaitan erat dengan keamanan
nasional yang menjamin bahwa program tersebut dapat dilaksanakan secara efektif
dan efisien.
Program peningkatan produksi pangan bertujuan memenuhi kebutuhan
pangan dalam negeri. Program ini dilaksanakan melalui peningkatan produktivitas,
stabilitas, keberlanjutan, dan keimbangan usahatani. Kebijaksanaan pemerintah
1
dalam program peningkatan produksi pangan, terutama padi mencakup : (1)
pengembangan dan penerapan teknologi baru; (2) upaya memotivasi partisipasi aktif
petani melalui program Aksi Masyarakat Agribisnis Tanaman Pangan (Proksi
Mantap) yang dulu dikenal dengan program Bimas; (3) penyediaan sarana produksi
tepat waktu, lokasi, jumlah, jenis dan harga; serta (4) penetapan harga dasar gabah
dan harga tertinggi (Anonim, 2005).
Strategi dasar yang diterapkan dalam pelaksanaan kebijaksanaan tersebut
difokuskan pada empat program pokok, yaitu intensifikasi, ekstensifikasi,
diversifikasi, dan rehabilitasi. Pelaksanaannya dilakukan dengan perencanaan yang
mantap melalui program yang serempak, terintegrasi, dan terkoordinasi. Oleh karena
itu, maka pembangunan pertanian merupakan sistem yang terdiri dari beberapa
subsistem yang saling terkait. Kekeliruan pada satu atau lebih subsistem akan
mempengaruhi subsistem lain atau bahkan sistem secara keseluruhan. Program
peningkatan produksi padi, misalnya, mencakup beberapa subsistem seperti sistem
penyaluran sarana produksi, sistem usahatani, sistem pemasaran hasil serta sistem
konsumsi. Untuk mempertahankan harga pangan tetap stabil, Bulog berperan
penting. Semua subsistem ini mendapat perhatian dalam upaya peningkatan produksi
padi (Anonim, 1994).
Penelitian mempunyai peran penting dalam upaya mempertahankan
swasembada beras. Berbagai informasi dan teknologi yang berkaitan dengan aspek
produksi, sosial, dan ekonomi telah dihasilkan oleh penelitian. Varietas unggul
berperan penting dalam program peningkatan produksi padi. Selain berdaya hasil
2
lebih tinggi, 5 – 8 ton/ha, varietas unggul juga berumur pendek, 110 – 135 hari,
dibandingkan varietas lokal dengan hasil 3 – 4 ton/ha dan umur 150 – 180 hari.
Dengan umur yang lebih pendek, petani dapat meningkatkan intensitas penanaman
dari satu menjadi dua kali padi atau lebih per tahun. Varietas unggul biasanya juga
tahan terhadap hama dan penyakit tertentu sehingga penggunaan pestisida dapat
ditekan. Disamping mengurangi biaya produksi, penggunaan pestisida yang lebih
sedikit juga berperan penting untuk mempertahankan kualitas lingkungan (Anonim,
1994).
Sejak diintroduksikannya varietas unggul IR5 dan IR8 pada tahun 1967, lebih
dari 100 varietas unggul telah dilepas di Indonesia. Sebagian besar varietas tersebut
dihasilkan oleh Lembaga Penelitian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
(Badan Litbang Pertanian), dan beberapa varietas lainnya dihasilkan oleh
International Rice Research Institute (IRRI) dan telah diuji oleh peneliti Badan
Litbang Pertanian sebelum dilepas. Selama tahun 1987 – 1993 telah dilepas 27
varietas unggul padi yang cocok untuk lingkungan spesifik (Anonim, 1994).
Pada saat ini, sekitar 80 % dari lahan sawah telah ditanami varietas unggul.
Terhadap varietas lokal juga dilakukan eksplorasi, koleksi, evaluasi dan dokumentasi
plasma nuthfah, karena varietas lokal memiliki sifat tertentu yang berguna bagi
program pemuliaan. Lebih dari 6.000 plasma nuthfah padi telah dikoleksi dan
didokumentasi untuk dievaluasi dan digunakan dalam program penelitian.
Berbagai penelitian terus dilakukan untuk mendapatkan jenis varietas unggul
yang cocok dengan kondisi alam dan tanah di wilayah tertentu. Penelitian lanjutan
3
terus dilakukan dengan mengambil sampel pada daerah-daerah yang memiliki lahan
persawahan di seluruh Indonesia, termasuk di Sulawesi Tenggara. Dari hasil
perpaduan dan kompleksitas penelitian terhadap varietas unggul tersebut, beberapa
peneliti kembali menemukan jenis varietas unggul baru yang saat ini sudah digunakan
di Sulawesi Tenggara, khususnya di Kota Bau-Bau, yakni di Kelurahan Ngkari -
Ngkari Kecamatan Bungi. Varietas unggul tersebut bernama Varietas Way Apoburu
dan Varietas Cisantana, yang berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Z.A
Manullang, dkk. Telah memenuhi syarat untuk digunakan. Kedua jenis varietas ini
pertama kali diterapkan di Propinsi Sulawesi Selatan, dan saat ini sudah menyebar di
seluruh wilayah Republik Indonesia, termasuk Sulawesi Tenggara, khususnya di
Kelurahan Ngkari- Ngkari Kecamatan Bungi Kota Bau-Bau.
Kelurahan Ngkari- Ngkari Kecamatan Bungi Kota Bau-Bau dengan luas areal
persawahan kurang lebih 422 Ha merupakan salah satu kelurahan di Sulawesi
Tenggara yang mengembangkan usahatani padi sawah dengan produktivitas rata-rata
4,5 - 5 ton/Ha. Produksi ini optimis dapat ditingkatkan jika terdapat varietas unggul,
khususnya varietas Cisantana dan varietas Way Apoburu.
Berdasarkan hal tersebut di atas, menarik untuk dikaji secara ilmiah melalui
penelitian dengan judul : “Perbedaan Produktivitas dan Pendapatan Usahatani Padi
Sawah Antara Varietas Cisantana dan Varietas Way Apoburu di Kelurahan Ngkari-
Ngkari Kecamatan Bungi Kota Bau-Bau”.
4
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas, maka penelitian ini diarahkan
untuk menjawab beberapa permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut :

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Kincir Angin Tipe Sumbu Horizontal

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Cadangan energi fosil semakin berkurang sedangkan kebutuhan konsumsi bahan
bakar minyak terus meningkat. Perkiraan kandungan minyak bumi di Indonesia dengan
tingkat konsumsi bahan bakar minyak seperti saat ini akan habis dalam waktu 10 sampai
15 tahun lagi. Jutaan barrel minyak mentah dieksploitasi tanpa memikirkan bahwa minyak
tersebut merupakan hasil evolusi alam yang berlangsung selama ribuan bahkan jutaan
tahun yang mungkin tidak dapat terulang lagi pada masa mendatang. Krisis energi bisa
langsung dirasakan masyarakat khususnya, petani terutama karena sebagian besar bahan
bakar alat pertanian seperti traktor menggunakan solar (Setyo dan Indartono, 2006).
Menurut Wandi (2004), konsumsi bahan bakar minyak (BBM) secara nasional
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Secara keseluruhan konsumsi BBM selama
tahun 2004 mencapai 61,6 juta kilo liter dengan rincian 16,2 juta kilo liter premium, 11,7
juta kilo liter minyak tanah, 26,9 juta kilo liter minyak solar, 1,1 juta kilo liter minyak
diesel dan 5,7 juta kilo liter minyak bakar. Selain itu kemampuan produksi bahan bakar
minyak di dalam negeri hanya sekitar 44,8 juta kilo liter sehingga sebagian kebutuhan
bahan bakar di dalam negeri harus diimpor.
Impor minyak mentah dan BBM setiap tahun mencapai 1,5 miliar dollar AS atau
sekitar 15 triliun rupiah. Peningkatkan laju konsumsi BBM tersebut diperburuk dengan
semakin menurunnya kemampuan produksi minyak bumi di dalam negeri sehingga perlu
dilakukan dilakukan langkah-langkah untuk mendapatkan sumber energi alternatif.
2
Berdasarkan survei dan pengukuran data angin yang telah dilakukan sejak 1989, banyak
daerah yang prospektif karena memiliki kecepatan angin rata–rata tahunan sebesar 4,3
m/detik sampai 5,5 m/detik atau mempunyai energi antara 200 W sampai 1.000 kW.
Potensi ini sudah dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik skala kecil sampai
10 kW (Kusumadewi, 2006)
Selama ini kincir angin yang digunakan di berbagai negara menggunakan sudu
yang terbuat dari material logam seperti aluminium, besi dan lain sebagainya. Kelemahan
unsur logam sebagai sudu kincir angin yaitu kecepatan putaran kincir tidak maksimal
karena potensi kecepatan angin di Indonesia tidak begitu besar sehingga jika kincir angin
seperti ini diterapkan di Indonesia membutuhkan tenaga angin yang besar untuk
mendorong sudu berputar (Taselan, 2005). Fibreglass merupakan nama dagang dari
campuran resin polyester tidak jenuh dengan penguat serat.
Fibreglass merupakan bahan yang sangat bermanfaat dalam dunia teknik. Polimer
mudah dibuat dan penerapannya pun mencakup berbagai bidang industri seperti industri
serat, karet, plastik, cat dan perekat (Sofyan, 2000). Resin polyester tidak jenuh berupa
resin cair dengan viskositas relatif rendah, mengeras pada suhu kamar dengan penggunaan
katalis tanpa menghasilkan gas sewaktu pengerasan seperti banyak resin lainnya maka
resin polyester tidak jenuh perlu diberi tekanan untuk pencetakkan.
Ketahanan kimia resin polyester yaitu kuat terhadap asam kecuali asam pengoksid,
tetapi lemah terhadap alkali. Bahan ini mudah mengembang dengan polimer stiren.
Kemampuan terhadap cuaca sangat baik. Tahan terhadap kelembaban dan sinar UV bila
lingkungan terbuka, tetapi sifat tembus cahaya permukaan rusak dalam beberapa tahun.
(Surdia dan Saito, 2005).
3
B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis teknis terhadap sudu terhadap
kincir angin tipe sumbu horizontal dari bahan fibreglass

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Karakteristik Tanah Gambut Areal Lahan Hutan Rawa Di Desa Cinta Jaya Kecamatan Pedamaran, Kabupat...

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia memiliki kawasan hutan seluas 144 juta hektar dan lebih dari 5 juta hektar berada di Sumatera Selatan, yang sekitar 8% merupakan hutan produksi terbatas. Hutan produksi terbatas ialah hutan yang hanya dapat dikelola dengan cara tebang pilih tanpa merusak atau mengurangi fungsi alaminya (Arief, 2001). Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) memiliki hutan produksi terbatas seluas 9.986 hektar atau sekitar 0,53% dari luas Kabupaten OKI yang seluas 1.902.311 hektar (Sumber: Subdin Perencanaan Dinas Kehutanan OKI, 2006). Hutan produksi terbatas di Kabupaten OKI termasuk dalam hutan dataran rendah dengan tipe hutan rawa dan hutan gambut. Kecamatan Pedamaran merupakan kecamatan di Kabupaten OKI yang memiliki wilayah hutan rawa gambut yang cukup luas. Ini merupakan suatu potensi sumberdaya alam yang sangat berharga. Pengelolaannya harus bersifat bijak dan sesuai kaidah konservasi alam dan kemampuan lahan. Hutan rawa gambut yang ada di Kecamatan Pedamaran, sebagian besar terdapat di Desa Cinta Jaya.
Lahan gambut ialah suatu ekosistem lahan basah yang dicirikan oleh adanya akumulasi bahan organik yang berlangsung dalam kurun waktu lama. Akumulasi bahan organik ini terjadi karena lambatnya laju dekomposisi dibandingkan dengan laju penimbunan bahan organik di lantai hutan lahan basah (Najiyati et al., 2005). Lahan gambut juga merupakan ekosistem yang marjinal dan rapuh sehingga mudah rusak, namun sangat sulit untuk diperbaharui. Kondisi seperti ini menuntut semua pihak untuk bersikap bijak dan harus melihat lahan gambut dari berbagai sudut pandang.
Perubahan dan penyusutan luas gambut dari masa ke masa selalu terjadi. Penyusutan lahan gambut dapat disebabkan oleh reklamasi dan pengatusan yang berlebihan (over drainage reclamation), perladangan (slash and burn), intensifikasi pemanfaatan dan kebakaran yang sering terjadi pada musim kemarau panjang. Tingkat kerusakan hutan di Indonesia tiap tahunnya terus bertambah dari sebelumnya 1,6 juta hektar pada periode 1985-1997, menjadi 2,1 juta hektar pada periode 1997-2001 (Media Indonesia, 2007). Dari kerusakan hutan yang ada sebagian merupakan hutan gambut. Hampir semua kerusakan lahan gambut disebabkan oleh kegiatan manusia. Kerusakan lahan ini umumnya terjadi karena penebangan dan pembukan lahan dengan cara membakar yang dilakukan oleh masyarakat penduduk desa sekitar hutan. Tekanan untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan hal yang mendasari penduduk desa melakukan kegiatan eksploitasi hutan dan lahan gambut.
Keseimbangan terhadap pentingnya berbagai fungsi gambut akan lebih menjamin keberlanjutan pemenuhan fungsi sosial, ekonomi, dan kelestarian lingkungan. Namun kesadaran semacam ini belum dimiliki oleh semua pihak sehingga kerusakan lahan gambut masih terjadi. Salah satu penyebab kerusakan lahan gambut adalah tidak diterapkannya konsep pembangunan berkelanjutan secara benar dan utuh.

Pembangunan hutan sebenarnya untuk mewujudkan interaksi positif antara masyarakat dengan hutan melalui pengelolaan partisipatif dan pembinaan produksi hasil hutan non-kayu yang dapat dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat sekitar hutan. Pembangunan hutan baik dalam kawasan hutan maupun di luar hutan akan mendukung fungsi hutan sekaligus mendukung kepentingan masyarakat, tanpa mengurangi fungsi hutan itu sendiri (Arief, 2001).
Pemanfaatan lahan gambut harus sesuai dengan daya dukung lahan itu sendiri berdasarkan karakteristik lahan tersebut. Sehingga pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan dapat tercapai.

B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik tanah gambut areal lahan hutan rawa di Desa Cinta Jaya Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir.

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Antioksidan Ekstrak Biji Terung Pucuk

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sayuran dan buah-buahan merupakan sumber utama serat makanan, vitamin
C, asam folat, senyawa metabolit sekunder seperti karotenoid, flavonoid, dan
senyawa-senyawa spesifik lainnya. Metabolit sekunder yang berasal dari tanaman
disebut juga fitokimia. Senyawa fitokimia yang terdapat dalam tanaman merupakan
sumber antioksidan alami. Secara umum, antioksidan didefinisikan sebagai zat yang
dapat menunda, memperlambat dan mencegah terjadinya proses oksidasi lipida
(Kochhar dan Rossell, 1990).
Menurut Muchtadi (2000), manfaat mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan
yang mengandung komponen bioaktif secara epidemilogi dapat menurunkan resiko
penyakit degeneratif. Selain dapat mencegah timbulnya penyakit, antioksidan
digunakan juga sebagai senyawa yang dapat mencegah kerusakan bahan pangan
akibat proses oksidasi lipida. Penyebab kerusakan mutu makanan terbesar
disebabkan oleh proses oksidasi lipida. Oksidasi lipida mengawali perubahanperubahan
dalam makanan yang berdampak pada mutu nutrisi, keamanan, warna,
aroma, dan tekstur makanan (Shahidi dan Nazck, 1995).
Penggunaan antioksidan alami saat ini dianggap lebih aman dibandingkan
dengan antioksidan sintetis karena antioksidan alami diperoleh dari ekstrak tanaman.
Oleh karena itu, penelitian tentang antioksidan alami baik pencarian sumber, cara
ekstraksi, isolasi dan pengujian aktivitas biologisnya banyak dilakukan baik di luar
negeri maupun di Indonesia. Bahan pangan yang dapat menjadi sumber
2
2
antioksidan alami meliputi beberapa jenis, misalnya rempah-rempah, teh, kokoa,
dedaunan, biji-bijian, serealia, sayur-sayuran, enzim, dan protein (Sarastani, 2001).
Tumbuhan yang akan digunakan sebagai sumber antioksidan alami dapat
diperoleh dari sekitar kita misalnya terung (Solanum melongena L). Terung yang
masih muda selain dikonsumsi sebagai sayuran, obat atau difermentasi menjadi cuka
(vinegar) atau pun sebagai rempah. Terung mengandung serat, zat gizi dan
berkhasiat obat (Muchtadi, 2000). Khasiat suatu tumbuhan berhubungan dengan
komponen kimia yang bersifat aktif yang terdapat pada tumbuhan tersebut, terutama
senyawa fitokimia. Penggolongan senyawa fitokimia berdasarkan struktur kimia
yaitu fenolik, terpenoid, alkaloid, steroid, kuinon, saponin, tanin dan flavonoid
(Harborne, 1987). Komponen bioaktif tersebut dapat diperoleh dari proses ekstraksi
bagian tumbuhan. Salah satu proses ekstraksi yang sering digunakan adalah
ekstraksi pelarut.
Satu jenis terung yang dikenal sebagai terung Pucuk
(Solanum macrocarpon L) terdapat di daerah Desa Muara Sae, Kecamatan
Pengandonan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Terung Pucuk berbentuk
bulat seperti tomat. Buah yang masih muda berwarna putih sedangkan buah yang
telah tua berwarna coklat. Masyarakat mengkonsumsi buah muda sebagai lalapan
sedangkan buah tua tidak dikonsumsi karena rasa buah tua pahit. Bagian lain yang
dikonsumsi adalah daun muda yang dikonsumsi sebagai sayur. Terung Pucuk belum
diteliti kandungan fitokimianya dan belum dibudidayakan sehingga sulit diperoleh di
pasar. Penelitian ini perlu dilakukan untuk mendapatkan data ilmiah tentang manfaat
biji terung Pucuk sehingga terung Pucuk dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh
masyarakat.
3
3
B. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui golongan fitokimia dan
mempelajari aktivitas antioksidan yang terkandung di dalam ekstrak biji terung
Pucuk.
C. Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah diduga senyawa fenolik pada ekstrak biji
terung Pucuk mempunyai aktivitas antioksidan

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Analisis Potensi Wilayah Untuk Pengembangan Usaha Sapi Potong Di Kecamatan Lubuk Alung Kabupaten...

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan di daerah Kecamatan Lubuk Alung ini yang bertujuan untuk mengetahui beberapa hal, yaitu ; (I) Potensi sumber daya alam (SDA) yang dimiliki kecamatan Lubuk Alung, (2) Potensi sumber daya manusia (SDM) yang ada di kecamatan Lubuk Alung untuk pengembangan usaha ternak sapi potong, dan (3) Untuk mengetahui lembaga pengembangan sapi potong di Kecamatan Lubuk Alung. Waktu penelitian dari tanggal 30 Juli sampai dengan tanggal 30 Agustus 2007. Penelitian ini menggunakan metode survei yaitu suatu metode penelitian yang mengambil sampel dari salah satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data. Pengambilan responden ditetapkan secara Quota, sebanyak 45 KK RTF yang tersebar pada sepuluh kelurahan yang ada di Kecamatan Lubuk Alung, dari 45 KKRTP di Stratakan menjadi 3 kelompok, dari yang terbanyak, sedang, dan sedikit.
Di tinjau dari aspek sumber daya alam yang dimiliki, Kecamatan Lubuk Alung memiliki potensi yang dapat menunjang pengembangan usaha sapi potong. Sedangkan dilihat dari aspek sumber daya manusia yang terdiri dari ; (I) Umur yang produktir untuk berusaha (15-64 th = 97.78%), (2) pengalaman beternak (> 10 th - 55,56%), (3) jumlah anggota keluarga (3-4 orang = 48.89%), (4) jumlah ternak sapi yang dipelihara (1-3 ekor =84.44%) dan (5) pekerjaan utama (petani = 60 %).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kecamatan Lubuk Alung belum memiliki potensi untuk dilakukan peningkatan populasi sapi potong ditinjau dari sumber daya alam yang tersedia, hal ini ditunjukkan dengan didapatnya nilai KPPTR SL sapi potong yaitu sebesar -8 380.81 ST. Kelembagaan yang tersedia yeng dapat mendukung pengembangan usaha sapi potong di Kecamatan Lubuk Alung diantaranya adalah Dinas Peternakan, Pertanian dan Kehutanan, Lembaga Keuangan (Bank Nagari). Kelompok peternak. Sedangkan kelembagaan pendukung yang tersedia lainnya seperti pos keswan, RPH tempat ini telah tersedia tapi tidak dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya peternak. .

Kata Kunci : Potensi, Pengembangan, Sapi Potong, KPPTR SL

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Analisis Penentuan Akses Jalan Masuk Di Lingkungan Universitas Jember Menggunakan Metode Pembeban

BAB.1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sistem jaringan jalan dalam kampus Universitas Jember (UNEJ) terdiri dari jaringan jalan kendaraan dan tempat parkir, jaringan jalan bagi pejalan kaki (pedestrian way) dan karakteristik areal parkir. Sistem jaringan jalan kampus UNEJ memberikan kemudahan aksesibilitas bagi jalan-jalan di eksternal kampus (Jalan Jawa, Jalan Mastrip, dan Jalan Kalimantan) yang ditunjukkan dengan adanya akses utama dan beberapa akses sekunder (ekonomi, UMC, SAC, FKG, dan FK). Menurut Black (1981), aksesibilitas adalah ukuran kenyamanan atau kemudahan mengenai cara lokasi tata guna lahan berinteraksi satu sama lain dan mudah atau susahnya lokasi tersebut dicapai melalui sistem jaringan transportasi. Kemudahan aksesibilitas masuk dari luar UNEJ dari satu sisi menguntungkan dan di sisi lain menimbulkan dampak negatif.
Kemudahan aksesibilitas masuk dari luar menuju kampus UNEJ mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan kampus antara lain: (i) keamanan dan kenyamanan kampus berkurang, (ii) timbulnya polusi udara maupun suara akibat keluar masukknya kendaraan orang-orang di luar civitas akademika kampus, (iii) kapasitas jalan pada jalan-jalan eksternal kampus menurun, dan (iv) main entrance sebagai identitas kampus UNEJ kurang terlihat. Untuk itu dalam Master Plan UNEJ 2005-2015 disebutkan terdapat tiga alternatif dalam pola pengembangan sirkulasi, yaitu: (i) sistem sirkulasi dengan kondisi eksisting, (ii) sistem sirkulasi dengan tiga akses pintu masuk (satu pintu utama-Jl. Kalimantan dan dua pintu pendukung-Jl. Jawa dan Jl. Mastrip), dan (iii) sistem sirkulasi dengan satu akses pintu utama (Jl. Kalimantan).
Hidayah (2006) melakukan analisis decision support system aksesibilitas kampus UNEJ dari tiga pola sirkulasi yang disebutkan Master Plan UNEJ. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa alternatif ke dua (tiga akses masuk) merupakan pilihan masyarakat kampus dan data sangat mendukung pilihan tersebut. Hal ini ditunjukkan dari nilai inconsistensi ratio kurang dari 0,1 (semua data dapat diterima). Pertimbangan yang paling penting dalam penentuan aksesibilitas adalah lingkungan (46,6%), kemudian diikuti sosial (29,6%) dan yang terakhir ekonomi (23,4%). Untuk prioritas ekonomi menunjukkan besar pilihan responden antara waktu tempuh perjalanan terhadap tingkat kecelakaan adalah berimbang, sedangkan untuk prioritas lingkungan (43,5%). Sementara untuk prioritas sosial pertimbangan keamanan lebih diutamakan oleh responden (56%). Namun demikian, pilihan ini kurang mewakili aspirasi masyarakat luar kampus mengingat keterbatasan jumlah responden dari luar kampus yang digunakan sebagai sampel.
Bertolak dari gambaran di atas, penelitian ini bermaksud melakukan analisis secara teknis terhadap pola sirkulasi di kampus UNEJ yang telah digariskan dalam Master Plan UNEJ 2005-2015. Analisis teknis yang dilakukan adalah dengan melakukan pembebanan lalu lintas terhadap jaringan jalan di lingkungan kampus UNEJ untuk setiap pola sirkulasi tersebut.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana kinerja sistem sirkulasi jaringan jalan pada kondisi eksiting?
2. Bagaimana kinerja sistem sirkulasi jaringan jalan dengan tiga akses pintu masuk (pintu utama Jl. Kalimantan dan dua pintu pendukung Jl. Jawa dan Jl. Mastrip)?
3. Bagaimana kinerja sistem sirkulasi jaringan jalan dengan satu akses pintu utama (Jl. Kalimantan)?
4. Bagaimana kondisi kinerja lalu lintas pada tahun 2010 dan 2015?

1.3 Tujuan Penelitian
Banyaknya akses jalan dari lingkungan kampus ke jalan eksternal kampus akan menurunkan kapasitas jalan eksternal kampus. Selain itu, banyaknya akses jalan menuju kampus akan menurunkan tingkat keamanan dan kenyamanan. Untuk meningkatkan keamanan di lingkungan kampus dan memberikan informasi kepada masyarakat serta kenyamanan bagi civitas akademika Universitas Jember dalam beraktivitas maka pengaturan akses masuk perlu dilakukan. Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan sistem pengaturan lalu lintas yang sesuai pada jaringan jalan di lingkungan Universitas Jember sebagai dampak pengaturan akses jalan masuk dengan analisis pembebanan lalu lintas. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui kinerja sistem sirkulasi jaringan jalan pada kondisi eksiting (eks).
2. Mengetahui kinerja sistem sirkulasi jaringan jalan dengan tiga akses pintu masuk (alternatif 2 = pintu utama Jl. Kalimantan dan dua pintu pendukung Jl. Jawa dan Jl. Mastrip).
3. Mengetahui Kinerja sistem sirkulasi jaringan jalan dengan satu akses pintu utama (alternatif 3 = Jl. Kalimantan).
4. Mengetahui kinerja sistem sirkulasi jaringan jalan di lingkungan Universitas Jember pada tahun 2010 dan 2015.

1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai aksesibilitas yang paling sesuai bagi pengaturan pintu masuk menuju Universitas Jember melalui studi simulasi yang dilakukan terhadap kondisi eksisting yang ada maupun simulasi yang lain, memberikan manfaat bagi pengguna jalan, baik jalan eksternal maupun jalan internal kampus Universitas Jember, baik mahasiswa, civitas akademika, maupun masyarakat. Hal yang terpenting yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah kontribusi yang positif dari penelitian ini yaitu untuk menentukan pola sirkulasi pengaturan lalu lintas pada sistem jaringan jalan di lingkungan kampus Universitas Jember.

1.5 Batasan Masalah Penelitian
1. Penelitian ini hanya melihat alternatif pada Master Plan dengan tiga alternatif:
a. Sistem sirkulasi dengan kondisi eksisting (eks).
b. Sistem sirkulasi dengan tiga akses pintu masuk (alt 2 = Pintu utama – Jl. Kalimantan dan dua pintu pendukung – Jl. Jawa dan Mastrip).
c. Sistem sirkulasi dengan satu akses pintu masuk utama (alt 3 = Jl. Kalimantan).
2. Penelitian ini hanya mempertimbangkan waktu dan jarak.
3. Penelitian ini menggunakan data tahun 2007.
4. Penelitian ini hanya mengkaji jalan-jalan internal di lingkungan Universitas Jember, dan 6 pintu masuk kampus yang tercantum dalam Master Plan Universitas Jember 2005-2015. Sedangkan untuk jalan-jalan tembusan (ilegal) yang tidak tercantum dalam Master Plan Universitas Jember tidak dikaji .
5. Penelitian ini hanya meninjau dari segi teknis, untuk pengaruh sosial yang ditimbulkan dari pola sirkulasi dari masing-masing alternatif telah dikaji pada penelitian sebelumnya.

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Sistem Klasifikasi Di Perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Teknologi Yogyakarta

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perpustakaan adalah sarana penunjang proses kegiatan belajar mengajar atau perkuliahan, tempat para mahasiswa atau pengguna mencari informasi, semakin banyak pengguna yang memanfaatkan perpustakaan maka semakin banyak pula koleksi yang harus disediakan oleh perpustakaan yang bersangkutan. Hal tersebut bukanlah semata-mata demi kepuasaan pengguna, akan tetapi dilain pihak menunjukkan eksistensi perpustakaan dalam membantu proses studi terlihat nyata.
Banyaknya koleksi yang dimiliki perpustakaan akan sangat menyulitkan petugas maupun pengguna apabila tidak ditata sedemikian rupa dalam menyusun kembali koleksi yang dibutuhkan. Usaha untuk menggolongkan koleksi berdasarkan kelompok kelasnya disebut dengan klasifikasi. Klasifikasi juga dapat diartikan sebagai penyusunan sistematik terhadap buku / bahan pustaka lain atau katalog atau indek berdasarkan subyek dalam cara paling berguna bagi mereka yang membaca atau mencari informasi (Sulistyo-basuki 1993:395).
Sistem klasifikasi yang digunakan oleh perpustakaan dan lembaga informasi secara umum ada dua sistem klasifikasi yaitu: sistem klasifikasi persepuluhan dewey atau Decimal Dewey Classification (DDC) dan Universal Decimal Clasification (UDC). Diantara dua sistem tersebut yang banyak digunakan pada perpustakaan dan lembaga informasi adalah sistem klasifikasi persepuluhan dewey atau Decimal Dewey Classification (DDC).
Dalam proses pemberian nomor klasifikasi, sistem klasifikasi pada setiap perpustakaan dengan berdasarkan subyek yang ada pada judul bahan pustaka atau pada isi atau pembahasan yang ada. Pada perpustakaan FE-UTY sistem klasifikasi dan penyusunan bahan koleksi pada rak juga berdasarkan subyek, sistem klasifikasi perpustakaan FE-UTY hanya menggunakan 2 kelas yang ada di DDC yaitu kelas 330 untuk ekonomi dan 658 untuk manajemen.
Dalam Penerapan sistem klasifikasinya ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan ketentuan yang ada, selain itu di perpustakaan FE-UTY tidak ada kartu katalog yang dapat membantu pengguna dalam menelusur dan menemukan kembali informasi yang dibutuhkan. Hal itulah yang menyulitkan pengguna dalam mencari koleksi yang dibutuhkan hingga saat ini. (Berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara dengan Candra mira salah satu staff perpustakaan). Oleh karena itu penulis mengangkat tema sistem klasifikasi di Perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Teknologi Yogyakarta.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana sistem klasifikasi di perpustakaan FE-UTY ?
2. Bagaimana penentuan subyek suatu judul bahan pustaka di perpustakaan FE-UTY ?
3. Apakah masalah yang muncul dalam menentukkan sistem klasifikasi di perpustakaan FE-UTY ?

C. TUJUAN LAPORAN
1. Tujuan Praktek kerja lapangan adalah

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Pengolahan Arsip Berbentuk Kertas Di Perpustakaan Lembaga Pendidikan Perkebunan Yogyakarta

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada dasarnya perpustakaan merupakan suatu unit kerja yang memberikan layanan informasi kepada pengunjung dalam menjalankan program Pendidikan –Latihan dan konsultasi pelayanan Lembaga Pendidikan Perkebunan. Di samping itu, perpustakaan juga merupakan suatu tempat untuk melindungi bahan pustaka serta media informasi lainnya. Salah satunya yaitu sebagai tempat untuk melindungi serta merawat arsip. Mengingat begitu pentingnya suatu arsip yang terdapat diperpustakaan ini, maka diperlukannya sistem tertentu yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. Namun karena kurang pedulinya seseorang dalam perawatan arsip serta kurangnya pengetahuan dalam tehnik perawatan arsip yang benar sehingga arsip–arsip yang ada di perpustakaan hanya dibiarkan begitu saja atau dikumpulkan menjadi satu tanpa penggolongan yang sesuai dengan jenis arsip yang ada.
Dengan demikian arsip yang ada akan mudah rusak dan sangat menyulitkan bagi orang yang suatu saat membutuhkan informasi dari salah satu arsip tersebut. Oleh sebab itu perawatan serta pemeliharaannya dibutuhkan ketelitian dan kemampuan yang dapat menunjang keawetan arsip. Arsip yang telah ada baik yang masuk maupun yang keluar, merupakan salah salah satu bukti suatu sejarah atau kejadian yang akan menunjang berjalannya suatu kegitan administrasi agar dapat berjalan sesuai rencana .Untuk memperlancar serta mempermudah penelusuran informasi, maka penyimpanan arsip tersebutu harus benar-benar diperhatikan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan serta dapat menghemat waktu dan tenaga.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara pengolahan arsip yang benar sesuai peraturan yang ada?.
2. Apa saja kendala yang ditemui di dalam mengolah serta melindungi arsip di perpustakaan LPP?.

C. Tujuan laporan
Tujuan laporan yang dapat penulis sampaikan, kurang lebih sebagai berikut:

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Pengelolaan Koleksi CD-ROM di Perpustakaan Fakultas Ekonomi UGM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa ini pertumbuhan dan perkembangan teknologi informasi telah membawa kita masuk ke dalamnya untuk mengamati, mencermati, memahami, dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Perpustakaan sebagai salah satu contoh sumber informasi mempunyai peranan dalam pengembangan teknologi informasi tersebut guna pemenuhan kebutuhan pengguna yang sangat beragam , kecenderungan pengguna pada umumnya menginginkan adanya layanan informasi yang serba instan misalnya CD- ROM, internet, microfilm, dan sumber-sumber penelusuran yang lain. (Prihatin, 2002 ).
Ada banyak perpustakaan di Indonesia salah satunya adalah perpustakaan perguruan tinggi. Perpustakaan PT adalah perpustakaan yang berada di bawah pengawasan dan dikelola oleh PT dengan tujuan utama membantu PT dalam mencapai tujuannya. Dalam pengertian, PT adalah universitas, fakultas, jurusan, institut, sekolah tinggi dan akademik serta berbagai badan bawahannya seperti lembaga penelitian ( Sulistyo-basuki, 1994: 65 ). Dalam konteks PT perpustakaan berfungsi sebagai penunjang bagi pelaksanaan Tri Dharma PT. Demikian halnya dengan perpustakaan FE- UGM berfungsi sebagai penyimpan dan penyebar informasi bagi pemakainya yang notabenenya adalah civitas akademika yang mempunyai kompetensi yang tinggi terhadap informasi. Melalui perpustakaan civitas akademika FE- UGM dapat mengakses informasi, ilmu, konsep dan wacana yang diperlukan, terutama yang berkaitan dengan disiplin ilmunya. Karenanya perpustakaan FE- UGM berusaha untuk memberikan layanan yang baik dalam memenuhi kebutuhan pemakainya akan informasi. Dalam penyediaan informasi perpustakaan FE- UGM menyajikan 2 bentuk yaitu bentuk cetak dan non cetak. Adapun bentuk cetak disajikan dalam bentuk monograf / buku teks. Sedangkan bentuk non cetak disajikan dalam bentuk piringan hitam atau yang lebih dikenal dengan sebutan CD- ROM.
Menurut pengamatan penulis selama melaksanakan PKL di perpustakaan FE- UGM, akses informasi yang dilakukan oleh civitas akademika sangatlah tinggi, baik yang berasal dari lingkungan dalam maupun luar FE- UGM. Namun hanya terbatas akses informasi dalam bentuk cetak, sedangkan akses informasi lewat CD- ROM hanya terbatas ketika informasi yang dicari tidak ditemukan dalam bentuk cetak. Salah satu penyebab munculnya hal tersebut adalah perpustakaan FE- UGM lebih menekankan pada pengelolan infoprmasi dalam bentuk cetak sehigga bahan pustaka non cetak kurang begitu mendapat perhatian dalam hal pengelolaannya. Padahal dalam era global saat ini, khususnya CD- ROM bukan merupakan hal baru di dunia perpustakaan. Sistem informasi berbasis komputer ini memiliki keungggulan yang lebih dibanding dengan system informasi yang bersifat manual. Kemampuan dalam kecepatan, ketepatan, penelusuran koleksi- koleksi data dari berbagi macam disiplin ilmu, jurnal-jurnal dan artikel – artikel yang penting merupakan kebutuhan yang diidamkan para ilmuwan dan akademisi. Karenanya perpustakaan FE- UGM dengan komunitas notatabenenya melek teknologi tentunya sangatlah berpotensi dalam memanfaatkan CD- ROM sebagai sarana penelusuran informasi. Maka perpustakaan FE- UGM hendaknya memberikan perhatian yang lebih terhadap koleksi CD ROM tersebut. Bahan pustaka tersebut memerlukan satu pengelolaan yang baik agar mudah diakses oleh pemakainya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pemanfaatan CD-ROM di perppustakaan FE- UGM ?
2. Bagaimana kegiatan pengelolaan CD ROM di perpustakaan FE -UGM ?
C. Tujuan Laporan PKL
1. Tujuan Umum
Meningkatkan kompetensi mahasiswa baik pengetahuan. Sikap ketrampilan maupun etos kerja sehigga setelah lulus dapat lebih siapmenghadapi persaingan global.
2. Tujuan Khusus

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Pengadaan Bahan Pustaka di UPT Perpustakaan UAD

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Salah satu fungsi perpustakaan adalah menyimpan koleksi yang diperlukan oleh pemakai. Sebuah perpustakaan dalam penyajian informasi harus mengenal kemauan pemakai. Hal ini bertujuan agar koleksi yang disajikan bermanfaat bagi pengguna. Untuk itu perpustakaan yang ideal adalah mampu menyediakan koleksi sesuai kebutuhan pemakai.
Pengembangan koleksi mencakup semua kegiatan untuk memperluas koleksi yang ada di perpustakaan. Menurut Yuyu Yulia (1993 : 17), untuk mencapai pengembangan koleksi yang sesuai dengan tujuan perpustakaan dan kebutuhan pemakai maka perpustakaan harus menetapkan kebijakan pengembangan koleksi secara tertulis berisikan tentang prioritas, penolakan dan persetujuan atas bahan pustaka yang akan di seleksi. Kebijakan ini harus dijadikan pegangan bagi pustakawan dalam proses penyeleksian bahan pustaka. Penyeleksian ini bertujuan untuk mendapatkan bahan pustaka yang sesuai kebutuhan pemakai, masih adakah di pasaran, mutu yang baik serta sesuai dengan tujuan perpustakaan, dalam hal pengadaan bahan pustaka.
Kegiatan pengadaan bahan pustaka merupakan salah satu kegiatan perpustakaan yang bertugas mengadakan dan mengembangkan semua jenis bahan pustaka (Yuyu Yulia, 1993 : 1). Kegiatan pengadaan merupakan kegiatan unit pelaksana teknis yang penting bagi suatu perpustakaan dalam rangka memperluas koleksi dan membangun koleksi yang kuat demi kepentingan pemakai maka kegiatan pengadaan bahan pustaka ini harus dilaksanakan oleh orang yang berpengalaman luas tentang bahan pustaka, trampil dalam urusan administrasi serta mengetahui fungsi dan tujuan perpustakan, agar koleksi yang disajikan dapat memenuhi kebutuhan pemakai.
Alasan penulis memilih judul pengadaan bahan pustaka di UPT Perpustakaan UAD Kampus 1, karena kegiatan pengadaan bahan pustaka merupakan kegiatan yang penting untuk dilaksanakan di perpustakaan, karena kegiatan ini menjadi salah satu faktor yang menunjang bagi perpustakaan dalam pemenuhan kebutuhan informasi bagi pemakai.
Perumusan Masalah
Masalah dalam laporan pengadaaan bahan pustaka adalah sebagai berikut:
Bagaimana kebijakan pengadaan koleksi di UPT Perpustakaan UAD Kampus 1 .
Metode apakah yang digunakan dalam pengadaan bahan pustaka.
Tujuan
Tujuan penulisan laporan ini adalah:
Penulis mengetahui apa saja kebijakan pengadaan bahan pustaka yang ada di UPT Perpustakaan UAD Kampus 1.
Penulis mengetahui metode pengadaan bahan pustaka yang digunakan oleh UPT Perpustakaan UAD Kampus 1.

Tujuan diadakannya praktik kerja lapangan adalah:

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Pemanfaatan Teknologi Informasi Di Perpustakaan MM UGM Yogyakarta

BAB I
PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi informasi telah memberikan dampak yang sangat luas bagi dunia perpustakaan. Kehadiran sarana dan prasarana pengolah informasi berupa perangkat keras dan lunak menuntut perpustakaan untuk merombak sistem kerjanya baik yang sifatnya internal maupun eksternal dalam upaya memberikan layanan kepada pengguna.
Perpustakaan sebagai pusat informasi bagi seluruh pengguna pada abad teknologi informasi ini. Perpustakaan berperan sebagai pusat ilmu pengetahuan dalam institusi baik bisnis, kerja, akademik maupun pemerintahan. Untuk itu perpustakaan dituntut untuk selalu meningkatkan mutu pelayanan.
Untuk mempermudah pelayanan informasi tidak hanya terbatas pada perpustakaan itu sendiri, akan tetapi juga dapat di akses dari luar perpustakaan, informasi tidak hanya dikemas dalam bentuk buku tetapi juga bentuk lain yang lebih informatif. Dengan bantuan teknologi informasi pelayanan informasi perpustakaan dapat dilakukan dengan mudah menuju sasaran informasi yang diperlukan. Ketersediaan informasi yang lengkap sangatlah penting di lingkungan perguruan tinggi untuk mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
Perkembangan teknologi informasi ditinjau dari berbagai media baik cetak ataupun elektronik berkembang pesat sehingga dapat terwujud perpustakaan elektronik, internet dokumen elektronik dan web site. Dengan media yang seperti itu informasi dapat lebih cepat terserap dan sampai pada pengguna di belahan dunia.
Perpustakaan berkembang dari waktu ke waktu dan dari zaman ke zaman. Media baru berupa digitalisasi sumber informasi perpustakaan adalah wujud dan upaya dalam rangka memberikan pelayanan bagi para pengguna perpustakaan untuk menyenangi dan memanfaatkan keberadaan perpustakaan sesuai dengan kondisi zaman yang berkembang pesat saat ini dalam bidang teknologi informasi.
Koleksi perpustakaan yang sudah lama akan mudah lapuk dan rusak. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maka perpustakaan berubah menjadi bentuk digital, maka akan tetap banyak orang yang tertarik dengan koleksi yang sebenarnya sudah tidak layak lagi. Tentu saja koleksi buku baru dan informasi baru yang disimpan dalam bentuk media elektronik untuk memudahkan dalam akses informasi, transfer informasi dan tukar menukar informasi dari berbagai lokasi dan waktu yang berbeda.
Penerapan TI di perpustakaan memang selayaknya dicermati secara khusus (Hindar Purnomo: 2002). Hal ini bukan saja dikarenakan memerlukan dan yang besar, tetapi juga menyangkut aspek SDM dan lingkungan.
Perpustakaan MM UGM untuk lebih memaksimalkan pelayanan bagi para penggunanya telah membentuk digitalisasi perpustakaan dan memanfaatkan teknologi informasi untuk mempermudah penelusuran oleh penggunanya.
A. LATAR BELAKANG
Dalam penyusunan laporan ini penulis mengambil tema Pemanfaatan Teknologi Informasi di Perpustakaan MM UGM dengan pertimbangan bahwa:

1. Perpustakaan MM UGM belum memanfaatkan teknologi informasi untuk menyebarkan informasi kepada pengguna yang ingin menelusur dari tempat yang jauh
Menurut pengamatan penulis, perpustakaan digital MM UGM mampu membangun sistem informasi jarak jauh. Hal ini didukung dengan adanya sumber daya manusia yang menguasai teknologi informasi dan biaya operasional yang memadai.
2. Tuntutan pemakai untuk dapat menelusur informasi yang ada di perpustakaan MM UGM dari jarak yang jauh
3. Pada masa yang akan datang UGM akan menerapkan sistem jaringan antar perpustakaan dan UPT perpustakaan UGM sebagai pusatnya. Untuk itu, semua perpustakaan di lingkungan UGM harus menggunakan sistem informasi terhubung
4. Perpustakaan virtual dengan koleksi elektronik yang beragam dan proses yang cepat menuntut perpustakaan untuk dapat mengelola dengan baik perpustakaan elektronik
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang yang telah penulis uraikan diatas, maka rumusan masalah yang dapat penulis rumuskan antara lain:
1. Sejauh mana pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan MM UGM ?
2. Apa saja teknologi informasi yang dimanfaatkan di perpustakaan MM UGM?
C. TUJUAN
Tujuan penulis melakukan PKL di perpustakaan MM UGM adalah :
1. Untuk membandingkan teori yang diperoleh selama kuliah dengan yang kenyataan yang ada di lapangan
2. Untuk melihat secara langsung kegiatan yang terjadi di perpustakaan MM UGM
3. Untuk mengetahui dunia kerja secara langsung
Sedangkan tujuan penulis mengambil tema pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan elektronik adalah:
1. Untuk mengetahui sejauh mana pemanfaatan teknologi informasi di perpustakaan MM UGM
2. Untuk menambah wawasan serta pengetahuan penulis tentang teknologi informasi
3. Untuk membandingkan teori teknologi informasi dengan penerapannya di perpustakaan MM UGM
D. MANFAAT
Penulis berharap tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi:

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Pelayanan Sirkulasi Di Perpustakaan SMU Muhammadiyah I Klaten

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Perkembangan dunia perpustakaan ditanah air kita demikian pesat. Dan dewasa ini sebagai akibat perkembangan dan kemajuan-kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, permintaan informasi dari para pemakai jasa layanan perpustakaan semakin meningkat.
Perpustakaan adalah pelayanan. Pelayanan berarti kesibukan. Bahan-bahan pustaka yang harus sewaktu-waktu tersedia bagi mereka yang memerlukannya, dikelas atau di luar kelas. Pemakaian bahan pustaka yang dinamis ini memerlukan kerja sama yang erat antara guru kelas, para pelajar dan pustakawannya (Nasution, dkk,1984 : 135).
Dalam sebuah perpustakaan terdapat beberapa jenis koleksi dan sumber informasi lainnya yang disimpan dan dikelola oleh staf-staf yang ahli dalam bidangnya, koleksi tersebut tidak akan bermanfaat apabila perpustakaan yang bersangkutan tidak melayankan koleksinya kepada pengguna.
Karena perpustakaan adalah sebagai tempat yang memberi berbagai informasi. Begitu juga perpustakaan sekolah. Selain sebagai pemberi informasi, perpustakaan sekolah juga berperan dalam menunjang program pendidikan pada umumnya sesuai kurikulum yang berlaku serta mengembangkan kemampuan siswa dalam memanfaatkan sumber informasi tercetak maupun terekam. Selain itu juga dapat membantu tugas-tugas guru dalam mengajar dan memperkaya ilmu pengetahuan.
Baik buruknya sebuah perpustakaan ditentukan oleh layanan sirkulasi yang diperolehnya dari perpustakaan. Menurut Martoatmojo (1998:43) betapapun besar koleksi yang dimiliki oleh sebuah perpustakaan, tetapi kalau sirkulasi dan pemakaiannya tidak lancar, atau hanya sedikit saja yang memanfaatkannya, maka kecil sajalah arti perpustakaan tersebut. Tetapi sebaliknya, jika kegiatan yang dilakukan oleh bagian sirkulasi lancar dan aktif, maka perpustakaan tersebut boleh dikatakan baik.
Kunci keberhasilan dalam pelayanan sirkulasi adalah jasa layanan yang sebaik-baiknya kepada pemakai jasa perpustakaan secara efektif dan efisien, serta informasi dapat ditemukan kembali secara cepat dan tepat.
Berdasar latar belakang tersebut, maka penulis bermaksud menulis laporan ini dengan judul “Pelayanan Sirkulasi di Perpustakaan SMU Muhammadiyah I Klaten”.

Rumusan Masalah
Berdasar latar belakang masalah, maka dalam laporan ini rumusan masalah yang akan dibahas adalah :
1. Sistem pelayanan apakah yang digunakan di Perpustakaan SMU Muhammadiyah 1 Klaten.
2. Kegiatan pelayanan sirkulasi apa saja yang ada di Perpustakaan SMU Muhammadiyah 1 Klaten.
3. Apakah pelayanan sirkulasi di Perpustakaan SMU Muhammadiyah 1 Klaten sudah efektif dan efisien
4. Apakah Pelayanan sirkulasi di Perpustakaan SMU Muhammadiyah 1 Klaten sudah berfungsi dan sesuai dengan kebutuhan pemakai.

Tujuan Pembahasan
1. Tujuan Pembahasan PKL
a. Menerapkan teori-teori perkuliahan
b. Memperluas wawasan dan memperoleh gambaran tentang dunia perpustakaan
c. Mengembangkan ilmu pengetahuan dalam PKL
d. Memahami kegiatan di perpustakaan
e. Sebagai salah satu syarat kelulusan program Diploma III
f. Membandingkan antara teori perkuliahan dengan praktek yang dilaksanakan selama PKL
2. Tujuan penulisan laporan
a. Untuk mengetahui bagaimana Pelayanan sirkulasi yang ada di Perpustakaan SMU Muhammadiyah 1 Klaten
b. Untuk mengetahui proses Pelayanan sirkulasi yang ada di Perpustakaan SMU Muhammadiyah 1 Klaten
c. Untuk mengetahui masalah-masalah yang muncul dalam pelayanan di Perpustakaan SMU Muhammadiyah 1 Klaten.

Waktu Pelaksanaan
Praktek Kerja Lapangan dilaksanakan dalam waktu 25 hari, yaitu mulai tanggal 16 Februari sampai dengan tanggal 16 Maret 2004 di Perpustakaan SMU Mhammadiyah 1 Klaten, Jl. Sersan Sadikin No. 89 Klaten.

Metode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan laporan, penulis menggunakan metode sebagai berikut :
1. Metode Observasi, yaitu suatu pengamatan yang khusus dan pencatatan yang sistematis ditujukan pada satu atau beberapa faset masalah didalam rangka penelitian dengan maksud untuk tujuan mendapatkan data yang diperlukan untuk pemecahan persoalan yang di hadapi (Asyari, Sapari Imam, 1981 : 82 ).
2. Metode Wawancara, yaitu tanya jawab dengan seseorang (pejabat dan sebagainya) yang diperlukan untuk dimintai keterangan pendapat mengenai suatu hal ( Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1995 : 1127 ).
3. Metode Dokumentasi, yaitu penyusunan, penyimpanan, temu balik, penyebaran dan evaluasi informasi, bagaimana cara merekamnya dalam bidang sains, teknologi, seni dan kemanusiaan ( Sulistyo-Basuki, 1996 : 13 )

Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Pada Bab ini memuat dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan laporan, waktu pelaksanaan PKL, metode pengumpulan data dan sistem penulisan laporan PKL, yaitu di Perpustakaan SMU Muahammadiyah 1 Klaten.
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PKL
Berisi deskripsi tentang lokasi PKL secara umum, dengan memaparkan kondisi riil semua aspek yang terdapat pada lokasi PKL. Yaitu tentang letak geografis, sejarah perpustakaan, fungsi perpustakaan, peran perpustakaan, struktur organisasi, personalia, lokasi, gedung dan sarana, anggaran, koleksi, dan peraturan peminjaman di perpustakaan SMU Muhammadiyah 1 Klaten
BAB III. LANDASAN TEORI
Berisi tentang permasalahan dan pemecahannya yang ada di Perpustakaan SMU Muhammadiyah I Klaten, yaitu : fungsi perpustakaan sekolah, pengertian pelayanan sirkulasi, tujuan pelayanan sirkulasi, jenis kegiatan perpustakaan, pelayanan pemakai, dan bimbingan pengguna perpustakaan di Perpustakaan SMU Muahammadiyah 1 Klaten.
BAB IV PELAYANAN SIRKULASI DI PERPUSTAKAAN SMU MUHAMMADIYAH I KLATEN
Membahas sistem pelayanan, jenis-jenis koleksi, jenis kegiatan sirkulasi,sistem kendali, jam buka pelayanan, ruang perpustakaan dan hambatan-hambatan di perpustakaan SMU Muhammadiyah I Klaten.
BAB V PENUTUP
Berisi tentang kesimpulan dan saran-saran.

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Layanan Penelusuran Di Upt Perpustakaan UPN “Veteran” Yogyakarta

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Perpustakaan Perguruan Tinggi adalah perpustakaan yang di kelola oleh Perguruan Tinggi dengan tujuan membantu tercapainya tujuan perguruan tinggi.(Sulistiyo-Basuki, 1991:160). Tujuan Perguruan Tinggi tersebut yaitu Tri Darma Perguruan Tinggi, yang terdiri atas pendidikan dan pengajran, peelitian dan pengapdian kepada masyarakat. Oleh karena itu Perguruan Tinggi yang bersangkutan harus memperhatikan keberadaan perpustakaan dan berorientasi pada apa yang dibutuhkan ole sivitas akademiaka.sivitas akademika yaitu mahasiswa,dosen dan pegawai administrasi dan lainnya. (Mustafa, 1996:46).
Perkembangan teknologi menuntut peranan perpustakaan yang lebih professional lagi. Selain sebagai pusat informasi, pengguna juga menginginkan informasi yang cepat, tepat, dan akurat. Salah satu cara untuk memperoleh informasi tersebut adalah dengan memanfaatkan internet. Perpustakaan perlu memanfaatkan internet sebagai penelusuran informasi (Sumarsih, 2002 : 18). Seperti yang dilakukan UPT Perpustakaan UPN “Veteran” Yogyakarta, yang saat ini menyediakan jenis layanan penelusuran informasi di ruang internet.
Layanan di UPT Perpustakaan UPN “Veteran” Yogyakarta dibedakan menjadi tiga berdasarkan tempat atau ruang, antara lain adalah:

1. Ruang sirkulasi
2. Ruang baca / referensi
3. Ruang internet
Dari berbagai aspek diatas penulis membatasi bahasan tentang layanan penelusuran informasi yang ada di ruang internet UPT Perpustakaan UPN “Veteran” Yogyakarta.

B. Rumusan Masalah
Penulis memilih judul “LAYANAN PENELUSURAN DI UPT PERPUSTAKAAN UPN “VETERAN” YOGYAKARTA”, karena tidak semua perpustakaan perguruan tinggi menyediakan jenis layanan ini.
Berdasarkan latarbelakang yang penulis kemukakan maka rumusan masalah yang ingin dikembangkan dalam pembahasan antara lain:
1. Apa saja jenis layanan penelusuran informasi yang ada di ruang internet UPT Perpustakaan UPN “Veteran” Yogyakarta?
2. Apa manfaat layanan penelusuran informasi di ruang internet UPT Perpustakaan UPN “Veteran” Yogyakarta?
3. Apa saja kendala yang dihadapi di ruang internet UPT Perpustakaan UPN “Veteran” Yogyakarta?
4. Bagaimana tanggapan pengguna terhadap layanan penelusuran informasi di ruang internet UPT Perpustakaan UPN “Veteran” Yogyakarta?
B. Tujuan
Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini wajib dilaksanakan setiap mahasiswa program studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam, sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan program studi.
Adapun tujuan dari PKL antara lain:
1. Mahasiswa dapat memahami aktifitas pustakawan sebagai sebuah profesi.
2. Membantu mahasiswa menerapkan teori dalam praktek dan membandiingkan antara teori dengan praktek di lapangan.
3. Menambah pengalaman dan wawasan dalam dunia kerja.
Tujuan penulis membahas topik mengenai layanan penelusuran informasi yang ada di Perpustakaan UPN “Veteran” Yogyakarta adalah:
1. Menambah pengetahuan tentang jenis layanan penelusuran informasi di ruang internet UPT Perpustakaan UPN “Veteran” Yogyakarta.
2. Mengetahui manfaat dari jenis layanan penelusuran informasi di ruang internet UPT Perpustakaan UPN “Veteran” Yogyakarta.
3. Dapat mengetahui kendala-kendala yang dihadapi di ruang internet UPT Perpustakaan UPN “Veteran” Yogyakarta.
4. Mengetahui tanggapan pengguna mengenai layanan penelusuran informasi di ruang internet UPT Perpustakaan UPN “Veteran” Yogyakarta.

D. Tempat dan Waktu
Praktek Kerja Lapangan bertempat di UPT Perpustakaan UPN “Veteran” Yogyakarta beralamat di jalan SWK 104 (Lingkar Utara) Condong Catur Yogyakarta 55283.

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Upaya Pengendalian Peningkatan Jumlah Kendaraan Bermotor

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Keuangan Pusat dan Daerah, diharapkan agar Pemerintah Daerah dapat mengelola keuangan daerah dengan sebaik-baiknya. Pengelolaan tersebut berkaitan dengan desentralisasi dan otonomi. Dimana setiap Daerah diberikan kewenangan untuk mengatur pemerintahan dan keuangan di daerah masing-masing.
Propinsi DKI Jakarta sebagai ibukota Negara merupakan tolak ukur bagi kesuksesan pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Propinsi DKI Jakarta, namun kegiatan pembangunan juga harus didukung oleh anggaran yang besar untuk membiayai kegiatan operasional Pemerintah Daerah propinsi lainnya di Indonesia. Besar-kecilnya suatu anggaran ditentukan oleh penerimaan daerah yang masuk ke Kas Daerah Propinsi DKI Jakarta.
Salah satu sumber penerimaan yang potensial bagi Pemerintah Daerah adalah Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Keberadaan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 sebagai penyempurnaan dari Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah memberikan peluang bagi daerah untuk menciptakan jenis-jenis Pajak Daerah baru sepanjang Pajak Daerah baru tersebut sesuai dengan berbagai kriteria yang ditetapkan, demikian juga dengan Retribusi Daerah.
Mengingat kondisi masyarakat Propinsi DKI Jakarta yang semakin kritis terhadap berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Propinsi DKI Jakarta, maka penggalian sumber-sumber penerimaan daerah melalui penciptaan jenis-jenis pajak daerah baru akan sangat sulit untuk diwujudkan. Untuk meningkatkan penerimaan daerah, maka Pemerintah Daerah Propinsi DKI Jakarta harus melakukan penggalian terhadap sumber-sumber penerimaan daerah yang potensial.
Alternatif yang dapat dilakukan ialah melalui upaya ekstensifikasi, yaitu dengan menciptakan jenis-jenis pajak daerah baru yang belum tentu dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Propinsi DKI Jakarta atau melalui upaya intensifikasi, yaitu dengan mengoptimalkan penerimaan dari jenis-jenis pajak daerah yang sudah ada. Dengan kondisi masyarakat Propinsi DKI Jakarta yang sangat kritis terhadap adanya suatu perubahan, maka alternatif terbaik yang dapat dilakukan ialah dengan mengoptimalkan jenis-jenis Pajak Daerah yang sudah ada, dimana masyarakat Propinsi DKI Jakarta telah menerima keberadaan Pajak-pajak Daerah tersebut. Kewenangan untuk mengatur dan melaksanakan pemungutan Pajak Daerah di Propinsi DKI Jakarta dilakukan oleh Dinas Pendapatan Daerah (DIPENDA) Propinsi DKI Jakarta.
Pajak kendaraan bermotor merupakan pajak daerah yang sangat potensial terutama pada kota metropolitan seperti kota DKI Jakarta yang padat penduduknya. Penerimaan pajak daerah yang berasal dari pajak kendaraan bermotor sangat besar. Sehingga dapat dikatakan bahwa upaya optimalisasi pajak kendaraan bermotor berjalan dengan baik. Hal ini dapat terlihat dari Grafik I.1 yang menggambarkan penerimaan pajak daerah, dimana pajak kendaraan bermotor merupakan sumber penerimaan pajak daerah terbesar kedua setelah Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB).

File Selengkapnya....
Baca Selengkapnya...

Sponsor

Teman DiskusiSkripsi.com

 

Posting Terbaru