<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138</id><updated>2010-07-24T12:59:59.606+07:00</updated><title type='text'>Kumpulan skripsi dari berbagai jurusan</title><subtitle type='html'>Anda Bingung mencari referensi skripsi??? Dapatkan Referensi Skripsimu disini</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.diskusiskripsi.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default?orderby=updated'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;orderby=updated'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>500</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-5767597286069927836</id><published>2010-07-15T00:23:00.001+07:00</published><updated>2010-07-15T00:23:56.807+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>PROXIMITY DAN KANDUNGAN SOSIOEMOSI ISI PESAN ELECTRONIC MAIL (E-MAIL) di MAILING LIST UNHAS-ML</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab I diuraikan mengenai latar belakang yang mendasari dilakukannya penelitian, rumusan masalah serta tujuan dan kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini.&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin pesat dewasa ini telah membuat bola dunia terasa makin kecil dan ruang seakan menjadi tak berjarak lagi. Mulai dari wahana teknologi komunikasi yang paling sederhana berupa perangkat radio dan televisi hingga internet dan telepon genggam dengan protokol aplikasi tanpa kabel, informasi mengalir dengan sangat cepat dan menyeruak ruang kesadaran banyak orang. Perubahan informasi kini tidak lagi dalam skala minggu atau hari bahkan jam melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik dan ini dapat diperoleh melalui sumber informasi yang disebut dengan internet.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet merupakan kumpulan atau jaringan komputer yang ada diseluruh dunia. Melalui teknologi ini, kita dapat merekam dan mendokumentasikan informasi melalui chip yang ada di komputer kemudian digabungkan dengan telepon, komputer, dan modem. Perkembangan internet yang begitu pesat dengan pemakai yang terus bertambah menjadikan aktivitas komunikasi data dan informasi semakin mudah dan cepat. Dewasa ini, diperkirakan ada lebih dari 30.000 jaringan dengan alamat lebih kurang 30 juta diseluruh dunia (http://www.rad.net.id/homes/edward/intnasic/1.htm). Data statistik yang diperoleh menunjukkan bahwa pada tahun 1995 terdapat 30 juta populasi pengguna dan 100 juta pengguna pada tahun 1998. Diperkirakan tahun 2010 semua orang akan terhubung ke internet dengan asumsi pertumbuhan setiap bulan sebesar 10% (http://www.ai3.itb.ac.id/news/sejarah_networklain.html).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, pengguna internet menurut data asosiasi penyelenggara jasa internet di Indonesia (APJIT) tahun 1996 hanya 110.000 orang dan tahun 2002 meningkat menjadi 220.000 orang. Hasil survei pengguna internet tahun 1999 menunjukkan karakter pengguna internet di Indonesia berdasarkan jenis kelamin di dominasi oleh kaum laki-laki dengan persentase hampir 90% sedangkan kaum wanita hanya lebih kurang 10% (majalah internet, 25 Juli 2002). Hadirnya penggunaan internet secara massal melalui sistem komunikasi yang bermediasi komputer disebut oleh Rogers “teknologi media komunikasi baru” (1986)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya teknologi komunikasi baru ternyata menggiring kita untuk menyebut abad ini sebagai abad komunikasi massa karena setiap orang dapat berkomunikasi dengan jutaan orang secara serentak dan serempak. Berlo (1975) dalam Fisher (1986) menamakan ledakan informasi dan revolusi teknologi yang terjadi dewasa ini sebagai “revolusi” dalam komunikasi. Dofivat (1967) dalam Rahmat (1999) berpendapat bahwa teknologi komunikasi mutakhir telah menciptakan apa yang disebut “publik dunia”. Liliweri (2003) menyebut gejala ini dengan istilah masa budaya elektronik. Beberapa ciri dari budaya elektronik yang dikemukakannya antara lain: (1) membagi informasi dengan sangat cepat; (2) proses penggandaan dan banyak copy diperoleh dengan cara yang mudah; (3) satu copy dapat diakses oleh orang banyak; (4) pelajaran baru kini disebut sebagai membaca linier; (5) ada semacam konsensus yang berjangka waktu lama, tetapi dengan partisipasi yang lebih seimbang; (6) menekan status dan tatanan sosial melalui tanda-tanda tertentu; (7) etiket tidak terlalu kuat sehingga individu bebas memperluas norma-norma yang dipertukarkan; (8) kerja kolaboratif bisa tepat pada waktunya dan jaraknya lebih besar; (9) komunikasi dapat membagi aspek-aspek bidang lisan maupun tulisan; (10) memberi sumbangan pada pembaharuan dan pemanfaatan organisasi baru; (11) alat-alat khusus sangat diperlukan sebagai syarat untuk berpartisipasi; (12) telah terjadi pengayaan informasi disatu pihak dan terjadi jurang kemiskinan di pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi komunikasi baru ternyata juga memberi pengaruh terhadap meningkatnya bidang penelitian komunikasi. Isu-isu yang dikaji telah dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi. Salah satu bidang penelitian baru yaitu penelitian terhadap isi pesan e-mail (electronik mail) yang merupakan salah satu fasilitas yang paling banyak digunakan di internet. Hal ini karena e-mail merupakan alat komunikasi paling murah dan cepat. Melalui e-mail kita dapat berhubungan dengan siapa saja yang terhubung ke internet di seluruh dunia. Dalam berbagai survei Internet yang dapat dilihat di http://dir.yahoo.com/computers and_internet/statistics_and_Demograpgics/surveys, maupun dalam berbagai kesempatan seminar dan diskusi, ternyata aplikasi tama yang digunakan pengguna internet untuk berkomunikasi dan bersilaturrahmi bukan sekedar akses web. Survei yang dilakukan oleh GVU (http://www.gvu.gatech.edu/user_surveys/) terlihat bahwa 84% responden memilih e-mail sebagai aplikasi yang paling penting di internet (Onno:2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kegunaan unik dari fasilitas e-mail ini yaitu terdapatnya pengguna yang berada pada grup tertentu. Penggunaan e-mail untuk forum diskusi kelompok yang besar dikenal dengan teknik atau aplikasi mailing list. Selanjutnya mailing list menjadi aplikasi dasar utama dalam pembentukan berbagai komunitas cyber. Anggota grup akan menerima pesan-pesan yang terkirim ke alamat group secara serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mailing list ini memberi setiap pribadi suatu wewenang untuk mengirimkan berbagai pesan yang berisi aneka ragam pikiran kepada ribuan orang tanpa disunting. Mailing list di sini berperan sebagai sebuah laporan pelanggan berkesinambungan karena setiap orang tak henti-hentinya menyumbangkan pandangan, pengalaman, peringatan melalui e-mail mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari hal inilah kemudian muncul apa yang disebut dengan istilah “demokratisasi informasi” yang memandang fasilitas ini benar-benar suatu forum demokratis karena pada jaringan ini komunikasi setiap orang ditangani secara merata. Ditambahkan lagi fasilitas komunikasi baru ini menjadi media diskusi antara pihak-pihak dengan ideologi dan kepentingan yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya yang terjadi di mailing list UNHAS-ML yang sejak 1 September 1999 telah dipenuhi berbagai pesan yang beraneka ragam kandungan sosioemosinya, juga menjadi forum diskusi bagi anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya dari hasil pengamatan awal yang dilakukan, forum ini telah menjadi arena perang simbolik untuk beberapa topik tertentu. Para anggota grup pada umumnya telah terjebak beropini secara emosional dalam menonjolkan kerangka pemikiran, perspektif, konsep dan interpretasi masing-masing dalam memaknai suatu objek pesan. Akibatnya, lahirlah deskripsi atau eksplanasi yang bersifat tendensius. Perdebatan yang terjadi pun menyiratkan tendensi untuk melegitimasi diri sendiri dan mendelegitimasi pihak lawan. Terjadi pro dan kontra dan masing-masing pihak memberi argumentasi pembenaran, bahkan sangat jelas siapa dan bagaimana anggota-anggota grup mendukung atau menolak pemikiran anggota-anggota lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala komunikasi seperti ini dapat dilihat dari beberapa kutipan e-mail dari anggota mailing list UNHAS-ML berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Visi ozpek Setiap tahun akademi baru zenior-zenior menyambut maba dan meneruskan visi yang telah terbentuk (jangan tanya saya siapa yang membentuk visi yang sudah terbangun…..karena saya harus mengontak sejumlah beliau-beliau dan meminta mereka bercerita). Beberapa visi itu misalnya menumbuhkan rasa percaya diri maupun rasa kebersamaan bagi mhs baru untuk menempuh kuliah, yang katanya lebih berat dari masa sekolah menengah. Dan metode pemasukan visi ini adalah ozpek, yang sebagian orang bilang in-doktrinasi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode ozpek karena saya lulusan teknik, jadi pernah merasakan ozpek, maka bolehlah saya bercerita sedikit tentang ozpek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……………………………………………………………………………………………….Visi agar memiliki kemauan kuat “ we are the champion” ini didasarkan pada kenyataan bahwa kuliah di teknik memang berat. Dan sedapatnya harus mengalahkan beban kuliah ini…………………..Kemudian visi kebersamaan, agar anak daerah tidak minder terhadap anak kota maka visi kebersamaan dicecoki kedalam kepala maba (kalau sekarang mungkin fasilitas daerah tidak kalah dengan Makassar…?. (4657)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Tjaronge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We are the champion” mungkin memang benar. Tapi dalam soal belajar, tidak ada sama sekali orientasi juara. Sejak masa belajarnya Aristoteles hingga ada Unhas secara konseptual, yang dibutuhkan bukan juara. Yang ada hanyalah “berhasil” atau “sukses”, seperti bapak hendak capai di negeri rantau. Tapi kalau Pak Tjaronge mau “the champion” silakan saja. Tapi menurut saya, untuk komunitas ilmiah, terlalu kampungan memuja “the champion”. Saya kira, kalau mahasiswa teknik hendak “the champion”, mestinya dalam hal-hal yang berkaitan dengan bidang studinya. Bukan ‘the champion’ memasang umbul-umbul tengkorak sepanjang pintu I Unhas, atau mengecet dinding kampus dengan warna hitam-merah.……………...……………….. (4686)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……………., kita juga bisa bertanya apa syarat perlunya “We Are The Champion”. Sebab kalo diklaim saja itu nda’ benar. Tentu ada pembenarannya, dan saya kira disinilah intinya pada saatnya pada saat klaim itu diindoktrinasi. Mari kita tanya pada saudara-saudara kita, “Why you klaim your self to be the champion”. Sebelum dijawab, sebenarnya perlu disorot tentang keberadaan champion. Kalo menurutSaudara W. Tjaronge, ini khan hanya untuk mahasiswa FT, saya kira ini ndak sepenuhnya benar, sebab dengan menyebut diri ‘We Are The Champion’, implisit ada “they”. They itu ndak champion. Implisist lagi, “We defeat them in match”. Makanya dibilang macthnya kan nda’ ada. Kalo menurut sdr Maqbul Halim, adopsi kata “champion’ implikasinya seolah-olah kita memandang proses belajar sebagai pertandingan. Thus, ada pihak juara dan ada pihak ndak juara. Sebab menyebut diri “We Are The Champion” secara tidak langsung bahwa “ I am better than others”. (4689)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;………………………………………………………………………………...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang memilih dan memberikan pertama kali lagu “We Are The Champion” di Opspek angjatan 1989, ini memang doktrin untuk mengukuhkan tekad JUARA dalam pergulatan melawan sikap sombong, arogan (wakti itu saya membaca ada kecenderungan sikap superior dari mahasiswa Teknik), huga juara intelektualitasnya, tekad melawan ketidakadilan di kampus, KKN Di Kampus, dosen-dosen yang bermental feodalis. Kami orang-orang dari fakultas teknik BUKAN BINATANG tasrief, yang mengajarkan hukum rimba pada adik-adik. Kami juga mendalami AGAMA. Ekses adalah konsekuensi yang mungkin terjadi dalam implementasi suatu konsep. (4657)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang berkaitan dengan isi pesan e-mail telah dilakukan oleh para ahli. Rogers (1986) melakukan penelitian terhadap pesan-pesan yang terposting di beberapa computer bulletin board California. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui topik-topik apa saja yang banyak melibatkan diskusi yang panjang sepanjang musim gugur tahun 1984. Penelitian Rogers tersebut menunjukkan bahwa topik tentang keadilan dalam kinerja Presiden Reagen, agama dan undang-undang di Amerika Serikat dan kegagalan beberapa satelit yang diluncurkan oleh beberapa kapal angkasa Amerika Serikat merupakan topik-topik yang menjadi bahan diskusi yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love dan Rice dalam Rogers (1986) juga melakukan penelitian terhadap kandungan sosioemosi isi pesan e-mail. Menurut Love dan Rice dalam penelitiannya terhadap kelompok pengguna mailing list yang berprofesi sebagai dokter, terdapat 30 persen dari 2347 kalimat yang diambil dari 388 pesan yang dijadikan sampel penelitian, memiliki masing-masing persentase yang berbeda untuk setiap jenis kandungan sosioemosinya. Jenis kandungan sosioemosi yang paling banyak yaitu yang menunjukkan sosioemosi solidaritas (18%) dari seluruh kalimat yang dijadikan sampel kemudian pemberian informasi pribadi (8%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena di mailing list inilah yang menurut penulis menarik untuk diteliti. Mewakilkan opini melalui perangkat elektronik menjadi suatu bidang penelitian yang patut diperhitungkan dan mendorong penulis untuk mencoba mengangkatnya menjadi kajian peneltian.&lt;br /&gt;B. Rumusan masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian gejala-gejala pada latar belakang di atas, menunjukkan adanya permasalahan dalam proses komunikasi yang berlangsung pada mailing list UNHAS-ML yaitu dilibatkannya emosi negatif yang tecermin melalui pemilihan kata yang kurang “simpatik” untuk dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini akan mencoba mengaitkan hal tersebut di atas dengan jenis-jenis proximity. Jenis-jenis proximity yang akan dibahas adalah kedekatan budaya, kedekatan psikologis, kedekatan sosial, dan kedekatan politis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan identifikasi masalah di atas, penulis mengkonsentrasikan penelitian pada tiga pertanyaan terpilih yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Peristiwa dan isu-isu apa sajakah menjadi topik perdebatan yang mengandung sosioemosi ketegangan di mailing list UNHAS-ML?&lt;br /&gt;   2. Seberapa besarkah faktor proximity dan faktor apakah yang dominan mempengaruhi minat anggota grup dalam menanggapi suatu pesan?&lt;br /&gt;   3. Seberapa besarkah faktor proximity mempengaruhi keberpihakan seorang anggota grup dalam menanggapi isi e-mail anggota yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini bertujuan untuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menjelaskan topik-topik yang dominan menjadi topik perdebatan di mailing list UNHAS-ML.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menggambarkan pengaruh dan faktor proximity yang dominan mempengaruhi minat para anggota grup menanggapi suatu pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menggambarkan faktor-faktor proximity yang mempengaruhi keberpihakan para anggota grup terhadap isi pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini juga diharapkan memiliki kegunaan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Secara teoretis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Diharapkan dapat menambah dan memperluas wawasan keilmuan khususnya dalam kajian teknologi komunikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pengembangan ilmu komunikasi pada umumnya dan penelitian dimasa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Secara praktis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan dapat memberi masukan yang bermanfaat bagi mailing list Unhas yang berperan sangat besar sebagai sarana komunikasi dan informasi.&lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-5767597286069927836?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/5767597286069927836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/5767597286069927836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/proximity-dan-kandungan-sosioemosi-isi.html' title='PROXIMITY DAN KANDUNGAN SOSIOEMOSI ISI PESAN ELECTRONIC MAIL (E-MAIL) di MAILING LIST UNHAS-ML'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-801561068010319089</id><published>2010-07-15T00:22:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:23:12.953+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>UPAYA–UPAYA YANG DILAKUKAN TELEVISI REPUBLIK INDONESIA STASIUN BANDUNG DALAM MENJARING PEMASANG IKLAN</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 1 Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan masuknya Indonesia ke dalam era reformasi, dengan itu pula dunia pers di Indonesia memasuki era kebebasannya. Persaingan di antara media massa pun tak terhindarkan. Tidak terkecuali media televisi, yang dewasa ini diyakini sebagai salah satu media massa yang paling berperan dalam proses globalisasi. Media komunikasi ini dianggap mempunyai kekuatan tersendiri dalam mentransfer gaya hidup dan menyebarkan budaya massa, dibandingkan dengan media komunikasi lainnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata televisi sendiri berasal dari kata tele (bahasa Yunani) yang artinya jauh, dan kata visi (videre – bahasa Latin) yang artinya penglihatan. Dengan demikian secara harfiah televisi berarti melihat dari jauh. Melihat dari jauh disini diartikan dengan, gambar dan suara yang diproduksi disuatu tempat (studio TV) dapat dilihat dari tempat lain melalui perangkat penerima atau televisi set (Wahyudi, 1986:49).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya media komunikasi massa televisi, kebutuhan masyarakat akan informasi maupun hiburan menjadi semakin mudah tepenuhi. Bahkan untuk sekarang ini dibandingkan dengan media massa lain, televisi merupakan media yang paling banyak diminati, karena dinilai lebih menarik dengan menampilkan paduan gambar dan suara secara bersamaan sehingga pesan yang disampaikan dapat ditangkap dan diinterpretasikan secara jelas oleh audience. Televisi memiliki daya tarik yang kuat disebabkan oleh unsur-unsur audio yang berupa suara, dan visual yang berupa gambar hidup yang menimbulkan kesan mendalam pada pemirsanya. Selain karena kelebihan tersebut, televisi juga diminati karena adanya beragam pilihan, mulai dari stasiun televisi sampai program-program acara yang dapat di akses dengan mudah dan cepat oleh pemirsa televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2001 lalu, di Indonesia telah hadir lima stasiun TV swasta baru, yaitu Metro TV, Trans TV, Lativi, TV7 dan Global TV. Dengan stasiun televisi swasta yang sudah ada sebelumnya, yaitu RCTI, SCTV, ANTV, TPI dan Indosiar, dunia pertelevisian pun semakin meriah dan persaingannya pun semakin ketat. Dengan masing-masing kreatifitas dan keunggulannya, stasiun-stasiun tersebut berusaha memperebutkan perhatian penonton televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, bermunculannya stasiun-stasiun televisi ternyata telah menggeser kiblat para produsen barang dan jasa dalam memanfaatkan media untuk melakukan promosi. Jangkauan yang lebih luas dari sebuah media televisi, memberikan tawaran biaya yang jauh lebih efisien dibanding media lain. Disamping itu, karakter media televisi juga mampu lebih menjamin efektifitas pesan (iklan) yang ingin mereka sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stasiun-stasiun televisi pun mau tidak mau harus saling berebut “kue iklan” dimana iklan ini dianggap sebagai sebuah hal yang wajib bagi sebuah lembaga pertelevisian, karena “hidup matinya” suatu media terutama media elektronik bergantung pada iklan atau sponsor. Semakin banyak pengiklan yang masuk pada sebuah stasiun televisi maka akan semakin banyak pula keuntungan akan diperoleh. Hal ini disebabkan, sebagian besar kegiatan operasional pertelevisian dibiayai oleh pendapatan dari iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi Republik Indonesia (TVRI) sebagai stasiun televisi pelopor milik pemerintah, juga ikut serta membidik peluang dengan kembali menghiasi jam-jam siarannya dengan tayangan iklan. Sebagai stasiun televisi dengan usia paling tua, sebenarnya TVRI adalah stasiun televisi di tanah air yang pertama kali menayangkan iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siaran iklan di TVRI sendiri dimulai pada tanggal 1 September 1975 berdasarkan Surat Keputusan Dirjen RTF nomor 11/ Kep/ Dirjen/ RTF/ 75. Sebagai satu-satunya media yang mempunyai jangkauan luas dan paling efektif dibanding media lain yang ada ketika itu, pemasukan TVRI dari iklan cukup besar. Namun dengan pertimbangan kesiapan mayoritas bangsa Indonesia dalam menghadapi implikasi yang dibawa oleh iklan maupun pesan sponsor di media televisi, khususnya terhadap kecendrungan konsumtif yang berkembang, pemerintah mencabut kebijakan memberi izin beriklan di TVRI. Dengan dikeluarkannya SK Mentri Penerangan nomor 30 / Kep/ MenPen/ 1981 berdasarkan pidato Presiden pada Sidang Paripurna DPR RI tanggal 5 Januari 1981 tentang Nota Keuangan RUU APBN 1981/ 1982, maka sejak 1 April 1981 siaran iklan di TVRI pun dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Departemen Penerangan RI ditiadakan oleh pemerintah, TVRI yang semula merupakan unit pelaksana teknis dibawah Direktorat Jenderal Radio, Televisi dan Film Departemen Penerangan RI merubah status kelembagaannya. Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah nomor 36 tahun 2000 yang ditanda tangani oleh Presiden Abdurachman Wahid pada tanggal 7 Juni 2000, TVRI resmi menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan statusnya sebagai perusahaan, maka TVRI kini terus berbenah diri untuk lebih meningkatkan profesionalisme di semua bidang yang terkait dalam penyiaran terutama dalam memerankan fungsinya sebagai televisi publik. Dengan perubahan pengelolaan TVRI dari televisi pemerintah menjadi televisi publik, dari sudut penyiaran TVRI tidak lagi diatur oleh pemerintah. Dengan itu untuk menunjang kegiatan operasional siaran, TVRI menganggap perlu adanya dukungan dari pihak ketiga, diantaranya dengan menjaring pemasang iklan, sponsorship dan kerjasama. Untuk mengatur siaran iklan, sponsor dan kerjasama melalui Perjan TVRI, dinyatakan dalam SK direksi Perjan TVRI No. /KPTS/ Direksi/ TV/ 2001 tentang Siaran komersial di Perjan TVRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kurang lebih 20 tahun TVRI dikenal sebagai stasiun televisi yang anti iklan, memasuki tahun 2000 lalu TVRI mulai mengubah paradigma tersebut dengan kembali menayangkan iklan pada jam-jam siarannya. Namun demikian TVRI kini dianggap sebagai “pemain baru” dalam persaingan perebutan iklan, karena pasar iklan di tanah air bisa dikatakan sudah dikuasai oleh stasiun-stasiun televisi swasta seperti RCTI, SCTV, ANTV, TPI dan Indosiar. Belum lagi TVRI masih harus bersaing dengan stasiun-stasiun TV swasta baru lainnya yang pada kenyataannya stasiun-stasiun televisi tersebut lebih memiliki keunggulan dan telah mendapatkan tempat di hati para pemirsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menangani permasalahan tersebut, TVRI memandang perlu membentuk satuan kerja Pemasaran dan Program, dimana tugas dari satuan kerja tersebut pada dasarnya adalah untuk memasarkan program-program acara kepada klien sehingga klien tersebut bersedia beriklan di TVRI. Seperti juga stasiun penyiaran TVRI daerah yang lain, Perjan TVRI Bandung pun melalui satuan kerja Pemasaran dan Programnya mulai melakukan berbagai upaya untuk menjaring perusahaan-perusahan untuk mengiklankan produk dan jasanya melalui layar kaca TVRI Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan kajian tentang hal-hal diatas dengan mengambil judul :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Upaya-upaya Yang dilakukan Perusahaan Jawatan TVRI Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Menjaring Pemasang Iklan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 2 Tujuan Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan judul dan latarbelakang yang diambil, maka penulis merumuskan tujuan-tujuan Penulisan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengetahui dan memperoleh gambaran tentang bauran pemasaran yang dikembangkan TVRI Bandung dalam rangka menjaring pemasang iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengetahui dan memperoleh gambaran tentang kegiatan-kegiatan komunikasi pemasaran yang dilakukan, dalam hubungannya dengan upaya penjaringan pemasang iklan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 3 Kegunaan Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kajian ini diharapkan kelak akan diperoleh informasi tentang upaya-upaya Perjan TVRI Bandung dalam menjaring pemasang iklan. Hasil dari penulisan sendiri diharapkan dapat digunakan oleh TVRI Stasiun Bandung sebagai arsip dan masukan, serta menambah koleksi bagi perpustakaan dan dapat digunakan oleh pihak-pihak lain yang berkepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain penulisan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis sebagai masukan yang dapat dijadikan rujukan untuk menghadapi dunia kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 4 Metode Pendekatan dan Teknik Pengumpulan Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu metode yang digunakan untuk mengamati hal-hal yang terjadi di lapangan, dalam hal ini adalah segala kegiatan di TVRI Bandung, khususnya yang berkaitan dengan proses dan menjaring pemasang iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan cara :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Observasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengumpulan data primer dengan cara pengamatan langsung dan melakukan pencatatan terhadap objek-objek terkait, selama penulis melakukan praktek kerja lapangan. Dalam hal ini penulis mengamati kinerja dan permasalahan baik itu mengenai sistem kerja, sumber daya manusia, dan masalah teknik di satuan Kerja Pemasaran dan Program TVRI Bandung khususnya yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada proses penjaringan pemasang iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wawancara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumpulan data dengan cara bertanya langsung, dalam hal ini yang menjadi sumber atau responden adalah staf dan karyawan Perjan TVRI Bandung, khususnya pada satuan kerja Pemasaran dan Program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Studi Literatur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempelajari dan mengumpulkan data dari bahan-bahan tertulis yang relevan dengan judul tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. 5 Lokasi dan Waktu Praktek Kerja Lapangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.1 Lokasi Praktek Kerja Lapangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan di Perusahaan Jawatan TVRI Bandung yang beralamat di Jln. Cibaduyut Raya No. 267 Bandung Jawa Barat. Perjan TVRI Bandung sendiri merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa, khususnya dalam dunia penyiaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.2 Waktu Praktek Kerja Lapangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek kerja lapangan dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan. Terhitung mulai tanggal 10 Maret s/d 09 April 2003.&lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-801561068010319089?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/801561068010319089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/801561068010319089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/upayaupaya-yang-dilakukan-televisi.html' title='UPAYA–UPAYA YANG DILAKUKAN TELEVISI REPUBLIK INDONESIA STASIUN BANDUNG DALAM MENJARING PEMASANG IKLAN'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-4833647715818493388</id><published>2010-07-15T00:21:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:22:30.541+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>PERSEPSI TARGET AUDIENCE TERHADAP BRAND IMAGE DALAM IKLAN YANG MENGGUNAKAN CELEBRITY ENDORSER</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 1. Latar Belakang Permasalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan selebriti atau orang – orang terkenal memberi dampak dalam berbagai segi kehidupan manusia, dari waktu ke waktu. Popularitas selebriti memang tak dapat dipungkiri menjadi suatu fenomena tersendiri karena menjadi salah satu fokus publisitas di berbagai media cetak dan media elektronik, dan bahkan kehidupan pribadinya sangat ditunggu para insan pers sebagai headline berita.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini dalam berbagai iklan khususnya untuk produk baru, penggunaan selebriti sebagai salah satu strategi pemasaran, sangat efektif untuk membentuk stopping power bagi audience. Kehadiran selebriti dimaksudkan untuk mengkomunikasikan suatu merk produk dan membentuk identitas serta menentukan citra produk yang diiklankan. Pemakaian selebriti sebagai daya tarik iklan (advertising appeals), dinilai dapat mempengaruhi preferensi konsumen karena selebriti dapat menjadi reference group yang mempengaruhi prilaku konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi produk baru, penggunaan endorser atau pembicara merupakan upaya pengiklan untuk meraih publisitas dan perhatian (attention getting power) produk tersebut. Meskipun mereka adalah aktor, selebriti, eksekutif, atau kepribadian yang diciptakan, endorser terbaik adalah mereka yang bisa membangun brand image yang kuat. Sebuah riset mengatakan bahwa selebriti yang cocok akan menaikkan nilai perhatian dan persuasi[1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan upaya membangun brand image ini sangat ditentukan oleh persepsi konsumen terhadap selebriti yang menjadi icon produk tersebut. Dengan dipersepsikannya seorang celebrity endorser secara positif oleh masyarakat, diharapkan positif pula brand image yang terbentuk di benak konsumen. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan munculnya brand image dalam pikiran konsumen yang tidak relevan dengan persepsinya terhadap celebrity endorser. Dengan kata lain, tidak selamanya seorang celebrity endorser dalam iklan dapat membangun brand image yang relevan dalam benak konsumen, seperti yang diinginkan pengiklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Life's Good (LG) telah meluncurkan ponsel terbaru yang bisa mengakses seluruh fasilitas 3G yang baru saja diluncurkan oleh salah satu operator selular terbesar di Indonesia yaitu Telkomsel dan diikuti oleh XL. Kehadiran ponsel LG tipe terbaru yakni KG 300 ini, dipasarkan di lego Rp 1.600.000,00. Produk ini akan melengkapi ponsel berfasilitas 3G, setelah Nokia, Sony Ericsson, dan Motorola. Produk yang diluncurkan sekitar bulan Januari - Februari ini memungkinkan para penggemar 3G memiliki banyak pilihan untuk menggunakan ponsel sesuai fasilitas yang disediakan. Apalagi saat ini penggemar dari 3G kian besar di beberapa kota besar di Indonesia, sementara ketersediaan ponsel masih terbatas karena belum semuanya ponsel bisa mengkover fasilitas 3G. Dengan demikian peluncuran ponsel LG KG 300 ini diharapkan dapat direspon besar oleh pasar ponsel di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini, peneliti memilih iklan ponsel LG KG 300 yang menggunakan Agnes Monica sebagai celebrity endorser. Dalam iklan tersebut Agnes Monica menjelaskan semua fitur yang ada dalam ponsel tersebut, dan bagaimana ponsel itu memberikan kenyamanan dalam keseharian Agnes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan ponsel LG KG 300 digunakan sebagai studi kasus dengan alasan utama yaitu produk ini merupakan produk baru. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, produk baru memerlukan publisitas dan perhatian untuk membangun image-nya. LG sendiri termasuk brand yang pangsa pasarnya berada di bawah brand-brand ponsel lain, seperti Nokia, Sony Ericsson, Motorola, dan Samsung. Posisi ponsel LG yang demikian inilah yang mendorong pengiklan menggunakan seorang endorser yang tingkat awarenessnya tinggi di mata publik. Ini menjadi alasan peneliti memilih ponsel LG KG 300 sebagai objek penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai selebriti, Agnes Monica memiliki tingkat popularitas tinggi di mata publik. Hal ini terlihat dari penggunaan Agnes dalam banyak iklan dan dianggap sebagai the next diva dalam dunia tarik suara. Agnes Monica merupakan ikon remaja yang terkenal memiliki image kuat dimata masyarakat. Dengan image Agnes yang demikian, maka ponsel LG menggunakan Agnes sebagai endoser dengan harapan image kuat Agnes juga mampu menguatkan image ponsel LG sebagai produk baru di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 2. Permasalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai reference group, atau sebagai inspirator, selebriti pada umumnya dapat mempengaruhi sikap, perilaku bahkan gaya berpakaian para penggemarnya. Apalagi, tak sedikit penggemar yang ingin mengikuti karakteristik idolanya, dan hal inilah yang dimanfaatkan oleh para pengiklan dalam memasarkan produknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya perbedaan persepsi tiap-tiap individu akan seorang selebriti sebagai icon dalam iklan, dapat membentuk brand image yang berbeda pula pada tiap individu. Persepsi ini dapat mendukung, atau dapat juga menjatuhkan brand image. Dengan demikian dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana image seorang celebrity endorser dapat membangun image positif produk ponsel LG KG 300 yang merupakan produk baru?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 3. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilatarbelakangi permasalahan tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui persepsi target audience terhadap celebrity endorser dalam iklan sebuah produk baru. Peneliti juga akan melihat brand image yang muncul setelah target audience melihat iklan tersebut. Kemudian brand image yang dipersepsikan target audience akan dibandingkan dengan persepsi terhadap celebrity endorser. Akan dilihat kecocokan kedua persepsi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian tujuan penelitian adalah untuk mengetahui relevansi atau kecocokan antara persepsi target audience terhadap celebrity endorser dengan persepsi target audience terhadap brand image produk baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 4. Signifikansi Praktis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan kontribusi positif bagi praktisi periklanan untuk mengetahui sejauh mana persepsi khalayak terhadap celebrity endorser dapat mempengaruhi brand image suatu produk. Penelitian ini juga bermanfaat untuk membantu para praktisi periklanan dalam hal penentuan celebrity endorser yang memiliki karakteristik yang tepat sesuai dengan persepsi konsumen yang ingin bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus bagi bidang marketing, penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan strategi komunikasi pemasaran, khusunya yang melibatkan selebriti dalam program-program pemasarannya. Penelitian ini juga bermanfaat bagi bidang kreatif sebagai masukan untuk perumusan pesan iklan atau ide kreatif yang menggunakan celebrity endorser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Kenneth Roman, Jane Maas, Martin Nisenholtz, How To Advertise, 114.&lt;br /&gt; &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-4833647715818493388?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/4833647715818493388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/4833647715818493388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/persepsi-target-audience-terhadap-brand_15.html' title='PERSEPSI TARGET AUDIENCE TERHADAP BRAND IMAGE DALAM IKLAN YANG MENGGUNAKAN CELEBRITY ENDORSER'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-1608858694468075821</id><published>2010-07-15T00:20:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:21:47.505+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>TANGGAPAN KELOMPOK SUPORTER PERSIB BANDUNG “VIKING” TERHADAP PEMBERITAAN SEPUTAR PERSIB BANDUNG DI HARIAN UMUM GALAMEDIA</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media Massa (Mass Media) merupakan channel of mass communication, yakni saluran, alat atau sarana yang dipergunakan dalam proses komunikasi massa. Komunikasi massa sendiri artinya penyampaian pesan, gagasan, atau informasi yang ditujukan kepada orang banyak (massa, publik). Adapun karakteristik media massa itu sendiri meliputi :&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Publisitas, disebarluaskan kepada khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Universalitas, pesannya bersifat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perioditas, tetap atau berkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kontinuitas, berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Aktualitas, berisi hal-hal baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Romly, 2003 : 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi media massa secara garis besar terbagi dalam tiga kategori : berita, opini, feature, karena pengaruhnya terhadap massa (dapat membentuk opini publik), media massa disebut “kekuatan keempat” (the fourth estate) setelah lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif (Romly, 2003 : 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai media massa dalam bukunya jurnalistik terapan, Asep Syamsul Romly (2003 : 5) berpendapat : “Media yang termasuk kedalam kategori media massa adalah surat kabar, majalah, radio, TV dan film. Kelima media tersebut dinamakan “The Big Five Of Mass Media” (lima besar media massa), media massa sendiri terbagi dua macam, media massa cetak (printed media), dan media massa elektronik (electronic media). Yang termasuk media massa elektronik adalah radio, TV, film (movie), termasuk CD. Sedangkan media massa cetak dari segi formatnya dibagi menjadi enam yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Koran atau surat kabar (ukuran kertas broadsheet atau ½ plano)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tabloid (½ broadsheet)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Majalah (½ tabloid atau kertas ukuran polio atau kuarto)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Buku (½ majalah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Newsletter (polio atau kuarto, jumlah halaman lazimnya 4 – 8 halaman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Buletin (½ majalah jumlah halaman lazimnya 4 – 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Romly, 2003 : 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan berikutnya penulis akan menggunakan media massa cetak yaitu surat kabar sebagai media yang akan diteliti, yakni Harian Umum Galamedia. Menurut Kurniawan Junaidi yang dimaksud dengan surat kabar adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebutan bagi penerbitan pers yang masuk dalam media massa tercetak berupa lembaran berisi tentang berita-berita, karangan-karangan dan iklan serta diterbitkan secara berkala, bisa harian, mingguan, bulanan serta diedarkan secara umum, isinya pun harus aktual, juga harus bersifat universal, maksudnya pemberitaanya harus bersangkut-paut dengan manusia dari berbagai golongan dan kalangan”. (Junaidi, 1991 : 105)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan fungsi media atau pers itu sendiri, seperti yang di gariskan dalam pasal 3 Bab II, Undang-undang No. 40 tahun 1999 Tentang Pers, yang menyebutkan bahwa fungsi pers meliputi empat hal yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harian Umum Galamedia, merupakan media cetak lokal yang terbit di kota Bandung dan sekitarnya. Merupakan salah satu media yang dalam pelaksanaan kegiatannya sebagai perusahaan pers berusaha untuk mewujudkan salah satu fungsinya sebagai alat informasi bagi masyarakat. Hal ini dapat di lihat dari salah satu rubriknya yaitu Rubrik Olahraga yang menyajikan berita-berita berbagai cabang olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kesadaran yang kian tinggi terhadap kualitas kehidupan mendorong orang semakin menyadari akan pentingnya informasi olahraga , itulah sebabya berita atau tulisan yang berkaitan dengan kegiatan olahraga sangat diminati khalayak pembaca. Disamping itu, peristiwa olahraga mengandung unsur-unsur persaingan dan drama manusia dalam pencapaian menjadi pemenang. Itulah sebabnya berita olah raga menepati halaman-halaman utama media massa khususnya surat kabar. Peristiwa olahraga selain mengandung unsur hiburan juga menjadi semacam pintu pelepasan (escaped gate) atau katarsis bagi sebagian besar masyarakat yang ingin mengaktualisasikan dirinya. dalam suatu masa tertentu, peristiwa olahraga dapat memberikan dampak besar bagi media massa, seperti peristiwa disaat Persib Bandung menjuarai Liga Indonesia I tahun 1994 dengan mengalahkan Petrokimia 1-0, keesokan harinya, berita tentang keberhasilan Persib Bandung menjuarai Liga Indonesia di surat kabar dicari pembaca, meski mereka sudah menyaksikan melalui televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap surat kabar sekarang mempunyai halaman olahraga, dengan menyediakan porsi khusus untuk pemberitaan olahraga, liputannya tidak saja pertandingannya sendiri, tetapi juga persiapan-persiapan pertandingan, ramalan-ramalannya, kelanjutan perkembangannya (follow-up story), dan feature-feature-nya. Disamping pertandingannya sendiri baik pertandingan olahraga besar atau kecil, terdapat bahan-bahan berita rutin yang layak dimuat dihalaman surat kabar, seperti data statistik, jadwal, pergantian pemain, fasilitas, pemain-pemain yang cedera dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat arti penting olahraga ahli filsafat Lorens Bagus dalam sebuah artikelnya di Tabloid Gema Olahraga edisi 13 Desember 1996, menyatakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olahraga membangun watak dan ketahanan mental dalam menghadapi kritis, kasus lain dalam hidup bagi generasi muda aktifitas olahraga memainkan peran mendidik yang unik, selain merangsang semangat persaingan yang sehat, olahraga juga mengajarkan mereka bersifat hormat terhadap sesama ; mengakui kelebihan orang lain dan menerima kelemahan diri, sikap ini meningkatkan rasa percaya diri mereka. (Gema Olahraga 1996 : 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rubrik olahraga merupakan salah satu rubrik di Harian Umum Galamedia. Rubrik ini memuat kolom yang tulisan atau informasi beberapa cabang olahraga nasional maupun internasional, Sebagai penerapan dari empat fungsi pers yakni sebagai media informasi, Harian Umum Galamedia dalam kegiatan keredaksionalannya menyajikan suatu informasi berupa berita, salah satu nya berita olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini penulis menekankan pada pemberitaan tim sepak bola Persib Bandung. Sebagai media massa lokal untuk memenuhi salah satu fungsinya Harian Umum Galamedia secara kontinyu memberikan informasi mengenai tim sepak bola Persib Bandung, dengan selalu memberikan ruang atau tempat pada setiap terbitannya dengan selalu menyuguhkan pemberitaan mengenai Persib Bandung seperti ulasan pertandingan, profil pemain, pelatih, data statistik, jadwal, pergantian pemain, fasilitas, pemain-pemain yang cedera dan sebagainya. Beritanya disajikan secara etis, tajam dan akurat bagi seluruh pendukung Persib Bandung terlebih untuk kelompok suporter Persib Bandung “Viking”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hari ke hari, Harian Umum Galamedia sangat identik dengan Persib Bandung, dengan selalu memberikan informasi secara rutin mengenai tim sepak bola kebanggaan Kota Bandung ini seperti halnya pada saat Persib Bandung berhasil meraih kemenangan pertama di Liga Indonesia XII setelah kalah beruntun di empat pertandingan awal kesokan harinya hampir 2 ½ halaman Harian Umum Galamedia edisi Senin, 6 February 2006 dihiasi dengan berita seputar Persib. Hal ini menandakan betapa identiknya Harian Umum Galamedia dengan pemberitaan seputar Persib Bandung, karena seperti diutarakan oleh redaktur olahraga Harian Umum Galamedia, Bapak Akhmad Zall yang menyatakan bahwa 75 % berita di rubrik olahraga merupakan berita seputar Persib Bandung..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lepas daripada hal tersebut tentunya sangat erat kaitannya dengan “Viking”, sebagai kelompok suporter Persib yang berdiri sejak tahun 1993, “Viking” secara rutin mengikuti perkembangan Persib baik secara langsung maupun tidak, meskipun masih kelompok suporter Persib lainnya seperti, Boboko, Bomber, Robokop, Blue Flowers. Viking merupakan kelompok terbesar yang anggotanya berjumlah 30524 yang tersebar di wilayah Bandung dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Viking sebagai kelompok mayoritas pendukung Persib Bandung tentunya sangat membutuhkan informasi seputar Persib Bandung, baik itu informasi mengenai ulasan pertandingan, profil pemain, pelatih, data statistik, jadwal, pergantian pemain, fasilitas, pemain-pemain yang cedera dan sebagainya. dan informasi tersebut salah satunya di dapat dengan membaca pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari latar belakang masalah diatas maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Identifikasi Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempermudah pembahasan, maka penulis mengidentifikasikan masalah-masalah yang akan diteliti sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bagaimana tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap unsur grafis dalam pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagaimana tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap nilai berita dalam pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagaimana tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap isi berita dalam pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bagaimana tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap frekuensi penyajian pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Maksud dan tujuan penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3.1 Maksud Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” mengenai pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3.2 Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Untuk mengetahui tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap unsur grafis dalam pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk mengetahui tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap nilai berita dalam pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk mengetahui Bagaimana tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap isi berita dalam pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Untuk mengetahui Bagaimana tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap frekuensi penyajian pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Kegunaan penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.1 Secara Teoritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teoritis penelitian ini memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu komunikasi pada umumnya dan studi tentang media cetak atau surat kabar pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.2 Secara Praktis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini di harapkan dapat mengetahui kebenaran dari proses komunikasi massa khususnya dari segi efek Media. Dalam kaitan ini adalah bagaimana pemberitaan seputar Persib Bandung menerpa kelompok suporter “Viking”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5 Kerangka Pemikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.1 Kerangka Teoritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan penelitian ini, kiranya penulis menganggap cukup relevan dengan menggunakan teori Uses and Gratification,.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Onong Uchjana Effendy mengemukakan bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan Uses and Gratification menempatkan manusia sebagai khalayak yang bersifat aktif dalam menghadapi terpaan pesan melalui media. Pesan yang diterima oleh khalayak, diolah sesuai bidang pengalaman yang dimiliki masing-masing khalayak dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Pendekatan ini pertama kali dikemukakan oleh Elihu Katz pada tahun 1959 melalui hasil penelitian yang menunjukan bahwa orang yang berbeda dapat menggunakan pesan komunikasi massa yang sama untuk kegunaan yang berbeda-beda. (Effendy, 1993 : 289).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Uses and gratification timbul dari sikap aktif khalayak dalam menggunakan media dari pemenuhan kebutuhan khalayak melalui penggunaan media tersebut. Model Uses and Gratification menunjukan bahwa, yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap prilaku khalayak, tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bobotnya ialah khalayak yang aktif, yang sengaja menggunakan media untuk mencapai tujuan khusus. Asumsi Uses and Gratification yang diungkapkan oleh, Tan yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penggunaan media pada akhirnya untuk mencapai suatu tujuan. Kita menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya spesifik, kebutuhan ini berkembang dalam lingkungan social kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Khalayak memilih jenis dan isi media untuk memenuhi isi kebutuhan. Jadi khalayak terlibat dalam satu proses komunikasi massa dan mereka dapat mempengaruhi media untuk kebutuhan-kebutuhan mereka secara lebih cepat dibandingkan dengan media yang dapat menguasai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Disamping media massa sebagai sumber informasi maka ada pula berbagai sumber lain yang dapat memuaskan kebutuhan khalayak. Oleh karena itu media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain. Dari sekian banyak sumber yang bukan media yang dapat memuaskan kebutuhan antara lain misalnya keluarga, teman-teman, komunikasi antar pribadi (dengan media, tanpa media), mengisi waktu luang bahkan minum obat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Khalayak mengetahui kebutuhan tersebut dan dapat memenuhi jika dikehendaki, juga mengetahui alasan-alasannya untuk menggunakan media massa. (Liliweri, 1991 : 134)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam model ini khalayak bersifat aktif dalam menghadapi terpaan pesan, karena pesan yang diterima oleh khalayak diolah sesuai bidang yang dimiliki masing-masing khalayak dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Jadi pesan-pesan yang terdapat di media massa surat kabar harus dapat menarik perhatian khalayak dengan memperhatikan antara lain daya tarik pesan yang disampaikan dalam arti kata pemberitaan seputar Persib Bandung disusun secara mantap baik dalam unsur grafis, kualitas berita, isi berita dan frekuensi penyajian berita, agar pemberitaan tersebut dapat menarik perhatian khalayak baik dalam sikap dan persepsi khalayak tentang pemberitaan seputar Persib Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Sikap adalah kecenderungan berpikir, berpersepsi, berpikir, dan mau dalam menghadapi ide, situasi atau nilai (Soemirat dan Ardianto, 2002 : 116), sedangkan Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan, persepsi memberikan makna pada stimuli inderawi (Sensory Stimuli). Faktor yang sangat mempengaruhi persepsi adalah perhatian. Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah, (Kenneth E. Andersen 1972:46).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.2 Kerangka Konseptual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memenuhi kebutuhan akan informasi, orang akan terdorong untuk mencari informasi yang dapat menambah wawasan tentang Persib Bandung, untuk itu dia memerlukan stimuli yang dapat memuaskan kebutuhannya yang dalam hal ini adalah pemberitaan seputar Persib bandung sebagai salah satu berita yang dapat memberikan informasi tentang Persib Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan apa yang menjadi bahan penelitian penulis, maka berdasarkan pendekatan Uses and Gratification yang mengatakan bahwa pendekatan Uses and Gratification menempatkan manusia sebagai khalayak yang bersifat aktif dalam menghadapi terpaan pesan melalui media. Dalam hal ini yang menjadi khalayak yaitu pembaca Harian Umum Galamedia Bandung kelompok suporter Persib Bandung “Viking”, kemudian pesan adalah pemberitaan Persib, serta media yang dimaksudkan disini adalah Harian Umum Galamedia Bandung. Karena pemberitaan Persib yang ada pada Harian Umum Galamedia disajikan secara kontinyu, maka konsep dari penelitian ini adalah bagaimana penyajian berita Persib yang terdapat pada surat kabar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini yang menjadi variabel utama adalah “Pemberitaan seputar Persib Bandung” di H.U Galamedia Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6 Operasional Variabel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini terdiri dari satu variabel yang terdiri dari beberapa indikator variabel. &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-1608858694468075821?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/1608858694468075821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/1608858694468075821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/tanggapan-kelompok-suporter-persib.html' title='TANGGAPAN KELOMPOK SUPORTER PERSIB BANDUNG “VIKING” TERHADAP PEMBERITAAN SEPUTAR PERSIB BANDUNG DI HARIAN UMUM GALAMEDIA'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-8027417698355301879</id><published>2010-07-15T00:19:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:20:50.191+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>Tanggapan Humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Pada Isi Berita Tentang Perusahaannya Dari Media Cetak Di Bandung</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi merupakan salah satu proses sosial yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan manusia, mendasar karena setiap orang dalam kehidupanya selalu berkeinginan untuk mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai aturan sosial melalui komunikasi. Komunikasi berlangsung untuk menjalin hubungan antar individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kegiataan komunikasi dilakukan dengan publiknya yang bertujuaan untuk memberikan informasi, media adalah sarana yang sangat dibutuhkan sekali agar pencapaian komunikasi dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan oleh perusahaan. Media yang digunakan bisa berupa media cetak atau bahkan media elektronik dalam menujang kegiataan komunikasinya, tetapi perusahaanpun harus mampu menentukan media mana yang bisa digunakan untuk menunjangnya. “secara efisien dan efektif, adakalanya penggunaan media massa pers, radio, televisi, tidak sesuai apalagi jika khalayak tersebut hanya terdiri dari kelompok kecil saja“ (Jefkins,1995:127).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media lahir sebagai suatu sarana untuk menjembatani suatu pesan ketika kebutuhan akan informasi dirasakan semakin meningkat dan tidak lagi dapat diatasi dengan komunikasi antar personal. Informasi harus sampai pada khalayak secara cepat dan menyebar seluas-luasnya, hal ini yang melahirkan konsep media massa yang memiliki ciri-ciri komunikatornya terlembaga, bersifat satu arah, pesannya bersifat umum, menimbulkan kesepakatan dari komunikan heterogen. Sejak kebutuhan itu lahir mediapun hadir dengan berbagai jenis atas media massa elektronik dan media massa cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media cetak menampilkan berita-berita sesuai dengan tujuan penerbitnya sehingga memiliki khalayak pada pembaca sendiri. Surat kabar merupakan salah satu dari bentuk media massa cetak. Saat ini banyak surat kabar yang memiliki segmentasi khalayak tertentu dan diproduksi untuk tujuan komersil ataupun dibagikan secara cuma-cuma biasanya merupakan media internal pada suatu organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini terdapat kecenderungan bahwa perusahaan terutama pada perusahan-perusahan besar dan jumlah karyawan yang besar pula menyelenggarakan komunikasi internal melalui media penerbitan internal perusahaan. Kecenderungan ini didorong oleh semakin maraknya kajian mengenai pentingnya komunikasi di dalam organisasi, untuk menunjang pencapaiaan misi dan sasaran organisasi atau perusahaan bersangkutan. Aspek komunikasi internal dianggap membantu manajemen dalam proses pencapaiaan tujuan organisasi, anggota organisasi disampaikan melalui prosedur yang telah dibakukan dengan efektif dan lebih cepat dibandingkan dengan penyampaian informasi bermedia komunikasi antar personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian pentingnya penggunaan media internal dalam sebuah organisasi diharapkan mampu menjembatani komunikasi antar karyawan dengan atasan dan antar karyawan sendiri secara keseluruhan serta mampu merupakan media pemersatu seluruh karyawan. Media internal yang lajim dipergunakan untuk membantu proses ini biasanya berupa, guntingan berita atau kliping, majalah, bulletin, news latter dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media internal merupakan sebuah medium yang diharapkan mampu memberikan informasi kepada khalayaknya yaitu karyawan, guntingan berita merupakan sebuah media internal yang menjembatani saluran komunikasi dan informasi internal maupun eksternal PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten. Seperti halnya media internal pada organisasi-organisasi lain, guntingan berita berisikan berbagi informasi yang berhubungan dengan perusahaan, mulai dari berbagai peristiwa yang berhubungan dengan perusahan maupun kepegawaian sampai perkembangan terbaru di lingkungan internal perusahaan juga eksternal perusahaan yang dapat mempengaruhi perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi dari guntingan berita diambil dari berbagi macam media cetak yang ada di Bandung atupun di Jawa Barat kegiataan seperti Pikiran Rakyat, Kompas, Suara Karya, Pos Kota, Fajar Banten, Galamedia, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Bisnis Indonesia, Metro, Rakyat Merdeka, Media Indonesia, Republika guntingan berita dilakukan oleh bagian humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten khususnya humas internal, ini dilakukan setiap hari kerja dengan subjek khusus mengenai berita atau artikel PT. PLN Group, surat pembaca dan wawancara internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tujuan dari guntingan berita yang erat kaitanya dengan pendokumentasian adalah merupakan sebagai alat bantu, yang memiliki beberapa manfaat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Sebagai bahan informasi terkini yang dapat diedarkan kebagian lain yang dianggap mempunyai hubungan atau kepentingan masing-masing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Sebagai bahan referensi tertentu sebagai alat atau informasi penunjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Sebagai pedoman atau acuan untuk mengantifikasi langkah-langkah suatu kejadian atau event tertentu yang tengah dihadapi atau di masa mendatang. Untuk perbaikan dan pengembangan dari langkah-langkah program di masa-masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Khusus kliping berperan sebagai sumber informasi dan data untuk memantau kegiatan pihak pesaing (Kompetitor)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Dapat juga kliping sebagai tolok ukur tentang sejauh mana keberhasilan perstasi dan reputasi yang dicapai, mengenai persepsi, keluhan, dan hingga perolehan citra di mata masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Sebagai media komunikasi internal melalui kliping dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Kemudian kliping tersebut disimpan sebagai kegiatan dokumentasi perusahaan atau lembaga. (Ruslan, 2002:236)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pada umumnya fungsi media massa yaitu informatif dan edukatif media internal guntingan berita memuat berbagai macam berita yang ada di dalam, hal ini humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten secara rutin pada setiap penerbitanya selalu didokumentasikan dan dibuat ringkasaan tentang guntingan berita agar humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten setiap saat dapat melihat kembali tentang berita yang ada di media cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai peristiwa penting yang terjadi di lingkungan PT. PLN di dokumentasikan secara khusus berbentuk buku semenarik mungkin guna mendapat respon positif dari khalayak khusunya karyawan, meskipun demikian berdasarkan praresearch yang dilakukan melalui wawancara singkat dengan beberapa karyawan bagian humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten ada kecenderungan bahwa sebagian dari mereka berpendapat bahwa berita yang disajikan tersebut kebanyakan kurang up to date, dan kadang-kadang kurang lengkap atau kata-kata lain masih kurang memenuhi syarat pemberitaan baik dengan lengkap unsur-unsur berita yaitu 5W+1H : Who, What, Why, When, Where, dan How&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Tanggapan Humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Pada Isi Berita Tentang Perusahaannya Dari Media Cetak Di Bandung ” adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Bagaimana Tanggapan Humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Pada Isi Berita Tentang Perusahaannya Dari Media Cetak Di Bandung ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Identifikasi Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apa tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten mengenai pemberitaan tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Apa tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten mengenai penyajian berita tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Apa tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten mengenai pemanfaatan guntingan berita tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Bagaimana Tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten pada isi berita tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari penelitian ini ialah melakukan kajian tentang Tanggapan Humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten pada isi berita tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung . Tujuan dari penelitian ini adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Untuk mengetahui tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten mengenai pemberitaan tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk mengetahui tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten mengenai penyajian berita tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk mengetahui tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten mengenai pemanfaatan guntingan berita tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Untuk mengetahui tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten pada isi berita tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Kegunaan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.1 Secara Teoritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teoritis hasil penelitian ini dapat berguna bagi ilmu komunikasi khususnya humas, selain itu pula dapat menjadi acuan dan dapat memperdalam teori-teori mengenai informasi yang berhubungan dengan studi komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.2 Secara Praktis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bagi penulis, penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan pada berita khususnya mengenai pengolahan Informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagi perusahaan, dapat menjadi masukan yang bermanfaat untuk terus menyempurnakan penggolahan Informasi yang menjadi kebutuhan publik internal pada isi berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5 Kerangka Pemikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini mengacu pada model teori Weick mengenai pengorganisasian yang dikemukakan oleh Dedi Mulyana dalam bukunya komunikasi organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Weick ini tertanam dalam teori sistem tetapi itu hanya suatu aspek teoritis dalam model tersebut secara keseluruhan. Kreps (1986) menerangkan model ini berdasarkan teori “evolusioner sosiokultural”, teori informasi dan teori sistem, walaupun teori ini mewakili suatu teori sistem, pelaku model tersebut amat berbeda karena proses-proses insani lebih diutamakan. Tujuan dari teori ini adalah menggambarkan aspek-aspek subjektif teori Weick ini membahas beberapa implikasi bagi komunikasi organisasi. (Mulyana,2000:78)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumusan Weick menyatakan bahwa struktur ditandai oleh prilaku pengorganisasian. Komunikasi tidak mencerminkan proses-proses penting tetapi komunikasinya merupakan proses penting yaitu proses penghasil struktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia terlibat dalam suatu proses berkesinambungan antara interaksi dan pertukaran dengan konteks mereka baik itu yang menerima, menafsirkan dan bertindak berdasarkan informasi yang di terima, dan dengan demikian menciptakan suatu pola yang baru. Informasi yang mempengaruhi perubahan-perubahan dalam bidang tersebut secara keseluruhan, hubungan antara individu dan konteks secara konseptual berubah sebagai hasil pertukaran ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam istilah informasi tersirat adanya konsep arus pesan (informasi) yang mengalir dari satu orang atau pihak (sumber) kepada orang atau pihak lain dan sebaliknya baik berupa arus yang mengalir atau beredar didalam suatu organisasi ataupun diluar organisasi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1.1 Teori Weick&lt;br /&gt; clip_image001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mulyana, 2000, 79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan apa yang menjadi penelitian penulis maka berdasarkan teori Weick tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : informasi yang beredar terkadang tidak sesuai dengan apa yang terjadi, informasi yang didapat di dalam berita yang menjadi sumber informasi bagi karyawan, dalam hal ini bagian humas berperan dalam menerima, menafsirkan dan bertindak berdasarkan informasi yang di terima yang ada di dalam perusahaan agar terjadi pola sistem yang baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaplikasiaan Teori Weick&lt;br /&gt; clip_image002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat informasi dari publik eksternal bagi humas adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Humas dapat mengetahui sejauh mana publik external menanggapi kegiataan atau kemajuan perusahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Humas dapat menjaga dan memperbaiki apa bila citra perusahaan melai menurun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Humas dapat secara cepat menanggulangi serta di ketahui langsung keluhan dari publik eksternal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Agar adanya saling keterkaitan antara pihak eksternal dan internal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Panduan ringkas PT. PLN (Persero) DJBB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian humas dapat mengetahui hal apa saja yang sedang ramai di luar tentang perusahaan, maka dari itu informasi terutama dari publik eksternal merupakan sumber terpenting guna meningkatkan citra perusahaan dan terjadi pola sistem yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6 Metodologi Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.1 Metode penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penelitian ini penulis mengunakan metode survei deskriptif, menurut Rahmat metode deskriptif yaitu yang bertujuan melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat. (Rakhmat, 2002: 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.2 Teknik Pengumpulan data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Angket adalah daftar pertanyaan yang telah disusun secara tertulis dan dibagikan kepada responden. responden dalam penelitiannya ini adalah humas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Wawancara adalah mengumpulkan pertanyaan langsung kepada Informan atau seorang ahli yang berwenang dalam suatu masalah (Keraf, 1994: 161)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengumpulkan data penulis malakukan wawancara dengan petugas bagian guntingan Berita yang berwenang di kantor PT. PLN (Persero) DJBB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Studi Kepustakaan adalah memanfaatkan buku, modul penyelenggaraan Guntingan Berita PT. PLN (Persero) DJBB, Out Book PT. PLN (Persero) DJBB dan sumber bacaan lain untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan penelitian sehingga data-data yang tercantum dalam penulisan lebih bersifat akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.3 Operasional Variabel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel Penelitian adalah “ Tanggapan Humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten pada isi berita tentang perusahaannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator I : Pemberitaan PT. PLN (Persero) DJBB pada media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;massa di Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat Ukur - Frekuensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat Ukur - Keterkaitan isu kelistrikan yang berkembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat Ukur - Kesenjangan antara informasi yang disampaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan yang di muat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator II : Penyajian berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat Ukur - Kelengkapan 5 W + 1 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat Ukur - Bahasa yang digunakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat Ukur - Pengunaan istilah jurnalistik yang digunakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator III : Pemanfaatan guntingan berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat Ukur - Tingkat kepentingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat Ukur - Sebagai alat informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat Ukur - Pengambilan keputusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.4 Populasi dan Sampel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.4.1 Populasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Populasi adalah “ keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya akan di duga (Singarimbun dan Efendi, 1989: 108) “ Populasi adalah kumpulan objek penelitin dapat berupa orang, organisasi, lembaga, buku, kata-kata, surat kabar, dll ” (Rakhmat, 2002: 78)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Populasi yang diteliti dalam penelitian ini adalah karyawan humas PT. PLN (Persero) DJBB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.4.2 Sampel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sudjana sampel adalah yang diambil dari populasi. Namun jika populasi berukuran terhingga, tetapi banyak anggota, untuk keperluan praktis populasi itu sering dianggap populasi berukuran takterhingga. Dengan demikian sampling juga dianggap sampling dari populasi takterhingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memudahkan penyebaran angket atau penentuan sampel diambil sebanyak 12 responden bagian Humas. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik total sampling, metode ini digunakan karena sesuai dengan karakterristik populasinya, adapun jumlah sampel untuk penelitian ini adalah 12 orang, berita yang dijadikan bahan penelitian pada periode Februari sampai Juli 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1.1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Personil Humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan Banten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMA&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDIDIKAN TERAKHIR&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUGAS &amp;TANGGUNGJAWAB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endro Yulianto&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S-1 Hukum&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deputy manager komunikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adang Djarkasih&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S-1 Teknik&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;External PRO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Wisnu Yulianto&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S-1 Komunikasi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;External &amp;Internal PRO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henny Utari&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S-1 Ekonomi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internal PRO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinpin AR&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S-1 Ekonomi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internal PRO &amp; PKBL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Budianto&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S-1 Fisip&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internal PRO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarifudin&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMU&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internal PRO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunadi Somantri&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D-3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adang Somantri&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D-3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staf PKBL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Iqbal&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMU&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internal PRO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selvie nurna. S&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMU&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Outsorching&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devie Yuniawati&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D-3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Outsorching&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PKBL :Program Kemitraan dan bina lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRO : Public relation office&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.5 Teknik Analisa Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang telah dikumpulkan selanjutnya diperikasa (editing) guna memastikan kesempurnaan dari setiap instrumen pengolahan data. Setelah data diperiksa, kemudia data tersebut di beri kode (coding) pada setiap data yang telah terkumpul disetiap instrumen, dan diolah untuk melihat hasilnya, kemudian data tersebut di analisa dan diberi penjelasan dihubungkan dengan teori-teori yang relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.7.1 Lokasi Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi penelitian adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT.PLN (Persero) Unit Bisnis Distribusi Jawa Barat dan Banten,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JL Cikapundung Barat No 2 Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tlp. 022-4230747 Fax. 022-4230822&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Homepage : http//www.pln-jabar.co.id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E-mail : sekertariat@pln-jabar.co.id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.7.2 Waktu Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal penelitian dimulai bulan Februari 2005 hingga bulan juli 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kegiatan penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feb&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mar&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apr&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juni&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajuan judul&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acc judul&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu pembimbing&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan Bab I&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbingan&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan Bab II&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbingan&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan Bab III&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumpulan Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran Kuesioner&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbingan&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan Data&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan Bab IV&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbingan&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan Bab V&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbingan&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusunan skripsi&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbingan&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.8 Sistematika Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penelitian di bagi menjadi lima bab yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bab I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab ini berisikan latar belakang penelitian, identifikasi masalah, maksud dan tujuan, kegunaan penelitian, kerangka pemikiran, metodologi penelitian, lokasi dan waktu penelitian, sistematika penulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bab II TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab ini memuat teori yang akan dijalankan landasan teoritis dalam penulisan Skripsi, pada bab ini akan membahas mengenai pengertian komunikasi yang didalamnya terdapat sifat-sifat komunikasi, proses komunikasi, fungsi komunikasi, pengertian public relations yang di dalam nya terdapat cirri dan fungsi public relations, tugas dan kewajiban public relations, penyampaian informasi perusahaan sebagai kegiataan internal, pengertian berita mengenai macam-macam berita, kelengkapan berita, nilai berita, dan pengertian informasi yang didalamnya sifat-sifat informasi, jenis-jenis informasi, hambatan dan pengolahan informasi yang ditunjang oleh data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bab III OBJEK PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini diuraikan mengenai sejarah singkat PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten, jenis perusahaan dan ruang lingkup usaha, struktur organisasi PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten dan job description PT. PLN (Persero) DJBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bab IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini penulis akan membahas semua data-data yang telah di peroleh dari responden dan tanggapannya terhadap pengolahan Informasi dalam kegiatan guntingan berita dsb. Kemudian data-data tersebut dibuat dalam table-tabel perhitungan dan selanjutnya dianalisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bab V KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini penulis membuat rangkuman dari suatu kesimpulan yang berkenaan dengan masalah yang telah di bahas, serta mencoba untuk memberikan saran-saran yang berhubungan dengan pengolahan informasi berita untuk memahami kebutuhan public eksternal maupun internal pada PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten yang sekiranya dapat dijadikan masukan yang berguna bagi pihak yang membutuhkan&lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-8027417698355301879?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/8027417698355301879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/8027417698355301879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/tanggapan-humas-pt-pln-persero.html' title='Tanggapan Humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Pada Isi Berita Tentang Perusahaannya Dari Media Cetak Di Bandung'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-1976183560219979068</id><published>2010-07-15T00:18:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:19:32.345+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>STRATEGI MEMENANGKAN PERSAINGAN DALAM PEMASARAN SURAT KABAR HARIAN DI MAKASSAR KASUS FAJAR, TRIBUN TIMUR DAN PEDOMAN RAKYAT</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertulis dalam sejarah Indonesia bahwa, pada tahun 1999 Indonesia melakukan perubahan besar yaitu masyarakat menuntut kebebasan yang disebut reformasi, masa ini masyarakat menuntut transparansi dari pemerintah. Pers dalam hal ini ikut mengambil bagian terpenting dan menguntungkan, karena semua warga negera Indonesia berhak untuk mendirikan perusahaan pers.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini membuat bisnis dibidang pers mengalami persaingan yang sangat ketat karena itu industri pers dituntut untuk mengemas produk informasinya lebih canggih lagi mengingat bisnis informasi sudah menjadi trend diawal millenium III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang informasi, menguasai pangsa pasar dan masuk dalam persaingan ketat antara perusahaan menjadi bagian terpenting dan tidak bisa dielakkan karena masyarakat penikmat informasi menjadikan berita sebagai kebutuhan sehar-hari yang tidak bisa diabaikan keberadakannya. Oleh karena itu, kehadiran media informasi baik milik pemerintah maupun swasta sangat menunjang pengadakan informasi dan itu sangat diperlukan. Informasi itu bisa melalui media cetak maupun elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persaingan media massa, selain media cetak sendiri, media elektronikpun (radio dan Televisi) dan media internet walaupun hanya satu persen bangsa Indonesia yang terkait ke internet, juga melakukan persaingan namun tidak separah dengan persaingan media cetak, karena kita mengenal lokalisasi media yang menjadi ancaman langsung bagi media nasional seperti surat kabar daerah, majalah daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, saat ini bisnis surat kabar pada saat ini merupakan bisnis yang menggiurkan bagi pengusaha-pengusaha pers, selama masyarakat Indonesia masih terikat dalam media konvensional, namun hal ini perusahaan pers perlu manajemen yang baik untuk mencapai tujuan perusahaan dalam persaingan persuratkabaran dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini perusahaan pers yang berusaha menciptakan produk, guna memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Karena demikian besar dan ketatnya persaingan yang mendominasi dunia usaha dewasa ini, dimana perusahaan berlomba menguasai pangsa pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup suatu perusahaan, seringkali perusahaan tersebut dihadapkan pada berbagai kesulitan, misalnya kesulitan merebut pangsa pasar yang lebih luas sebagai akibat dari persaingan antara perusahaan untuk mengatasi keadakan tersebut diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan kepuasan kepada konsumen dan masyarakat merupakan tujuan utama suatu perusahaan yang menganut konsep pemasaran yang mengajarkan bahwa rumusan strategi pamasaran sebagai suatu rencana yang diutamakan untuk mencapai tujuan tersebut, harus berdasarkan kebutuhan dan keinginan konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsumen perusahaan bukanlah merupakan tindakan khusus, tetapi lebih merupakan pernyatakan yang menunjukkan usaha-usaha pokok diarahkan untuk mencapai tujuan. Strategi pemasaran itu sendiri terdiri dari unsur-unsur pemasaran terpadu yaitu product, price, place, dan promotion (komunikasi pemasaran) yang selalu berubah-ubah sejalan dengan aktivitas perusahaan dan perubahan lingkungan pemasarannya serta perubahan prilaku konsumennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya perusahaan dalam masyarakat, pola beli yang berubah-ubah telah mengakibatkan banyaknya perusahaan hidup dalam situasi yang tidak menentu sehingga para pengusaha dituntut untuk mendalami pengetahuan tentang strategi bersaing yang mana merupakan salah satu aspek yang dapat memperlancar tujuan perusahaan yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa perusahaan pers di Makassar yang telah melayani segmen pembaca surat kabar kini mengalami panetrasi pasar dan produk bersaing dalam era globalisasi informasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaingan terdapat dari suatu industri yang mengejar pasar sasaran yang sama. Strategi bersaing meliputi penentuan posisi dalam suatu untuk memaksimalkan nilai kemampuan yang membedakannya dengan para pesaing, karena aspek yang sangat penting dalam perumusan strategi bersaing adalah analisis pesaing, yang mana sasarannya adalah pengembangan profit, sifat dan sukses dari akibat kemungkinan perubahan strategi yang dapat dilakukan oleh tiap-tiap pesaing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Makassar ada tiga perusahaan surat kabar yaitu harian Fajar Tribun Timur dan Pedoman Rakyat yang dianggap mempunyai persaingan dalam pemasaran. Mereka dituntut bagaimana dapat mempertahankan perkembangan pemasarannya&lt;br /&gt;B. Permasalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi apa yang diterapkan oleh surat kabar harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dalam memenangkan persaingan dalam pemasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyakan Penelitian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apakah strategi pemasaran yang dilakukan oleh surat kabar harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dapat meningkatkan oplah penjualan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah bauran pemasaran yang digunakan oleh surat kabar harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat berbeda dalam mempertahankan pangsa pasarnya?&lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah dapat dikemukakan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengkaji strategi pemasaran yang digunakan oleh Harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dalam memenangkan strategi persaingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengkaji bauran pemasaran yang dilakukan oleh Harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dalam mempertahankan pangsa pasarnya.&lt;br /&gt;D. Kegunakan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat Teoritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan yang bermanfaat bagi studi pemasaran yang akhir-akhir ini makin banyak memperoleh kajian dari berbagai disiplin ilmu baik melalui kajian teoritis maupun melalui kajian riset dibidang terapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat Praktis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara paraktis penelitian ini diharapkan dapat merefleksikan efektifitas penggunakan strategi dalam memenangkan persaingan pemasaran, dan tidak kalah pentingnya bahwa penelitian ini dapat memperkaya hasil penelitian pada ilmu komunikasi (komunikasi bisnis) khususnya dan pada strategi pemasaran pada tiga surat kabar di Makassar yaitu Harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dalam kegiatan pemasarannya untuk meningkatkan dan mempertahankan pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-1976183560219979068?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/1976183560219979068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/1976183560219979068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/strategi-memenangkan-persaingan-dalam.html' title='STRATEGI MEMENANGKAN PERSAINGAN DALAM PEMASARAN SURAT KABAR HARIAN DI MAKASSAR KASUS FAJAR, TRIBUN TIMUR DAN PEDOMAN RAKYAT'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-5226119473453445911</id><published>2010-07-15T00:17:00.001+07:00</published><updated>2010-07-15T00:17:46.718+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>PESAN KOMUNIKASI POLITIK ABDURRAHMAN WAHID (GUS DUR) DALAM GERAKAN DEMOKRASI DI INDONESIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KALANGAN NAHDLIYIN DI SAMARINDA</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki tiga dasawarsa terakhir dipenghujung abad ke-20, ada satu fenomena menarik di tengah-tengah masyarakat dunia, khususnya bangsa Indonesia, yaitu menguatnya tuntutan akan demokratisasi. Menguatnya tuntutan ini lantaran demokrasi dipandang sebagai sistem yang mampu mengantar masyarakat ke arah transformasi sosial politik yang lebih ideal. Demokrasi dinilai lebih mampu mengangkat harkat manusia, lebih rasional, dan realitis, untuk mencegah munculnya suatu kekuasaan yang dominan, represif, dan otoriter.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi dapat dimengerti sebagai suatu sistem politik di mana semua warga negara memiliki hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilu yang diadakan secara periodik dan bebas, yang secara efektif menawarkan peluang pada masyarakat untuk mengganti elit yang memerintah. Menurut Sundaussen dalam Murod (1999:59), demokrasi juga bisa dipahami sebagai suatu “policy” di mana semua warga menikmati kebebasan untuk berbicara, kebebasan berserikat, mempunyai hak yang sama di depan hukum, dan kebebasan untuk menjalankan agama yang dipeluknya. Meskipun begitu, Sundaussen meyakini bahwa tidak semua manifestasi-manifestasi tentang demokrasi di atas pernah dijalankan sepenuhnya, bahkan dalam suatu sistem yang demokratis sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah orde baru tumbang dan Indonesia secara dramatis sudah melangkah ke tahap institusionalisasi demokrasi, sebetulnya perubahan-perubahan penting telah banyak terjadi. Minimal dari segi pranata, legal dan institusional. Kita sudah melaksanakan pemilu legislatif dan pemilihan presiden secara langsung, kemudian banyak ritual-ritual demokrasi dimana partisipasi rakyat itu bisa diinstitusionalisasi berlangsung secara berkala dan reguler. Partai dibebaskan untuk berdiri, Indonesia mengalami periode dimana liberalisasi politik berpuncak pada multi partai yang luar biasa besar. Kondisi ini dapat dikatakan sebagai point of no return. Sejauh kita bertekad untuk meneruskan mekanisme politik seperti ini secara legal dan konstitusional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang Dasar 1945 sudah menjamin proses itu berlangsung terus. Beberapa perubahan penting yang cukup mendasar, salah satunya adalah desentralisasi. Sekarang dalam tahap menuju desentralisasi demokrasi. Memang kita akui mengandung banyak sekali kelemahan, banyak pertikaian yang tidak perlu, dan banyak sekali benturan kepentingan yang sengit agar desentralisasi betul-betul bermakna desentralisasi demokrasi maupun desentraliasi kekuasaan. Suasana ini sudah berlangsung sebagai basis bagi kehidupan berkala kita selama lima tahun proses sirkulasi kekuasaan. Hanya saja, siapa yang memanfaatkan situasi ini, memanfaatkan institusi ini, memanfaatkan mekanisme dan prosedur yang sudah demokratis seperti ini. Kita tahu bahwa yang berhasil memanfaatkan secara maksimal ternyata adalah aktor-aktor politik. Hal ini bisa dilihat pada semangat elit politik mendirikan partai politik guna meraih kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi yang kita pahami menyangkut gerakan demokrasi di Indonesia adalah berbasis aktor. Penulis mengasumsikan itu sebagai upaya berbagai kelompok aktor di kalangan masyarakat Indonesia, dan itu bisa berbagai variasi, yang berusaha memperkuat institusi-insitusi demokrasi pada tingkat yang lebih jauh, yaitu politik demokratisasi. Termasuk juga bagaimana demokrasi harus diberi konteks sosial kultural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara aktor politik yang turut berperan dalam gerakan demokrasi di Indonesia adalah KH. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Sebagai mantan presiden RI keempat hasil koalisi poros tengah dan mantan ketua Umum NU selama tiga periode, Gus Dur sangat dikenal sebagai tokoh yang “nyeleneh”, vokal, dan kontroversi. Sebagai contoh kasus pencabutan SIUPP Monitor tahun 1990, di saat mayoritas umat Islam mengecam angket yang dibuat Tabloit Monitor, Gus Dur justru sebaliknya mengecam tindakan tersebut. Kecaman Gus Dur ini bukan semata-mata membela Monitor, namun sikap umat Islam dalam pandangannya sudah kelewat batas. Dalam pengertian, sikap umat Islam justru sudah mengarah pada sikap anti-demokrasi, misalnya meminta pencabutan terhadap Harian kompas dan Gramedia Group. Gus Dur menyatakan tidak setuju menyelesaikan masalah hanya dengan pencabutan SIUPP saja tanpa mengedepankan perkara ke pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gayanya yang seperti “pemain ketoprak” ini oleh Abdurraman Wahid sudah dirajut semenjak dia mulai berkecipung dalam discourse pemikiran pada awal 1970-an. Hanya saja lantaran setiap lontaran pemikirannya dipandang tidak lazim untuk zamannya, penuh kontroversi, dan selalu membuat orang “terkejut”, tidak heran bila ada atau bahkan banyak yang menganggap Gus Dur sebagai cendekiawan Muslim penuh kontroversi, dan aneh. Predikat ini secara konsisten dipertahankannya hingga sekarang (Murod, 1999: 86).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Predikat ini tampaknya cukup tepat, bila mengamati sikap dan pemikiran politik Abdurrahman Wahid, sejak kemunculannya sebagai seorang scientist sampai kemudian menjadi seorang aktor politik (political player) yang cukup mumpuni, atau sebagai politisi paling ulung di era 1990-an, menurut Salim Said dalam Murod (1999:86). Dalam berbagai sepak terjangnya, Abdurrahman Wahid nyaris selalu berseberangan dengan mainstream sebagian cendekiawan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara faktual asumsi ini tak bisa dibantah, hanya saja menurut Al-Zastrouw (1994:2), bila dikaji secara lebih jauh apa yang dilakukan Abdurrahman Wahid sebenarnya hal yang wajar dan biasa terjadi dalam proses kehidupan. Jika dikatakan aneh dan kontroversi itu lantaran keberaniannya untuk berbeda dan keluar dari kelaziman. Ini diperkuat Emha Ainun Nadjib yang menyebut Abdurrahman Wahid sebagai “orang gila” dalam sejarah. “Orang gila” yang dimaksud Emha Ainun Najib adalah orang yang menggagas apa yang tidak digagas orang lain, memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain, dan membayangkan apa yang tidak dibayangkan orang lain (1993:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Hakim (dalam murod,1993:87), menyarankan bahwa untuk memahami Abdurrahman Wahid, ada tiga kunci yag harus diperhatikan, liberalisme, demokrasi, dan universalisme. Bila kita memahami dalam bingkai tiga kata kunci ini, apapun pemikiran atau langkah Gus Dur akan bisa dimaklumi. Artinya, bukan Abdurrahman Wahid yang mendahului jamannya, tetapi terkadang tidak sedikit orang yang terlalu konservatif, a-priori, picik, dan sempit pandangan dalam mengekspresikan sepak terjang Abdurrahman Wahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Abdurrahman Wahid juga pernah melontarkan berbagai gagasan yang terbilang aneh, seperti mengganti assalamu’alaikum menjadi “selamat pagi, sore atau malam”, menjadi juri Festifal Film Indonesia (FFI), membuka Malam Puisi Jesus Kristus di gereja, menolak bergabung dengan ICMI, di kala sebagian besar umat Islam mendambakan kehadirannya, termasuk juga keterlibatannya sebagai ketua di Forum Demokrasi (Fordem), serta kunjungannya ke negara Zionis, Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya itu, dalam konteks pergulatan politik di tingkat elit, Abdurrahman Wahid juga terbilang kontroversi dan vokal. Karenanya tidak mengherankan kalau kemudian ia sering terhalang oleh berbagai rintangan. Akhir 1998-an sampai dengan pertengahan 2004 merupakan masa penuh tantangan bagi Abdurrahman Wahid dalam konstelasi politik nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka membangun demokrasi di Indonesia, Abdurrahman Wahid bersama tiga tokoh nasional lainnya, M. Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X, mengadakan pertemuan politik di Ciganjur hingga melahirkan deklerasi Ciganjur (10/11/1998), disamping merupakan peristiwa ‘langka’, memiliki makna signifikan bagi gerakan demokrasi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Alfian (2001:36), setidaknya ada tiga makna signifikan atas pertemuan Ciganjur. Pertama, ia bermakna mendalam bagi kemajuan pendidikan politik secara luas. Ini terlihat dari delapan butir kesepakatan, yang menekankan orientasi persatuan dan kesatuan bangsa secara utuh, pengembalian kedaulatan rakyat, desentralisasi pemerintahan, perspektif reformasi untuk generasi baru, pemilu yang independen, penghapusan dwifungsi ABRI, pengusutan harta kekayaan Soeharto, dan pembubaran pengamanan swakarsa SI MPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ia bermakna signifikan bagi perkembangan konstruktif Indonesia masa depan, tatkala kini kebekuan (kultur) politik terjadi. Munculnya kekuatan-kekuatan politik baru, yang mewujud dalam banyaknya partai politik baru, merupakan fenomena yang perlu dijawab dengan sikap-sikap kedewasaan dalam pergaulan politik nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, ia mengawali sebuah ‘tradisi baru’ bagi upaya membangun demokrasi dan masyarakat madani di Indonesia. Tradisi ini menyiratkan pentingnya duduk bersama untuk merundingkan masalah-masalah bersama, dalam konteks reformasi dan kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deklerasi Ciganjur merupakan starting point bagi elit politik untuk meneruskan gerakan demokrasi di Indonesia pasca kejatuhan orde baru, peristiwa ini juga merupakan jempatan bagi Abdurrahman Wahid menjadi presiden RI ke-empat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa yang cukup spectacular dalam kehidupan politik Gus Dur juga nampak ketika ia membacakan dekrit presiden dengan maksud membubarkan parlemen DPR dan MPR, ia menganggap tindakan dewan sudah melampaui batas dan keluar dari koridor demokrasi, namun tindakan ini jadi bumerang bagi Gus Dur yang berakibat harus turun dari jabatannya sebagai presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Gus Dur bertendensi politis lainnya yang masih aktual adalah ketika ia memilih Golput (golongan putih) dalam pemilihan presiden secara langsung 2004. Gus Dur melakukan hal itu sebagai protesnya atas kecurangan, pemihakan, manipulasi yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menurutnya melanggar sejumlah undang-undang Pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun atas nama pribadi, sikap golput KH. Abdurrahman Wahid tersebut diduga berdampak pada peran serta masyarakat dalam pemilihan presiden secara langsug, hal ini dapat dilihat pada rekapitulasi KPU dari 155.048.803 pemilih terdaftar, lebih dari 36 juta di antaranya tidak mempergunakan hak pilihnya (golput). Jumlah ini jauh lebih tinggi dari perolehan suara pasangan Megawati Soekarnoputri dan KH. A. Hasyim Muzadi yang berada di urutan kedua dengan 31,5 juta suara (26,6 %). Perilaku golput ini meningkat pada pelaksanaan pilpres II menjadi 44 juta lebih besar dari perolehan suara pasangan Mega-Hasyim yang tetap diurutan kedua dengan 43,2 juta suara (39,1 %).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan golput masyarakat terjadi di semua kota di Indonesia, seperti juga di Samarinda tempat penelitian ini dilakukan, Sebanyak 32,52 persen atau 683.635 pemilih yang terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT) tidak menggunakan hak suaranya alias golput dalam Pilpres putaran kedua 20 September 2004. Angka ini meningkat dibandingkan dengan Pilpres putaran pertama yang mencapai 29,95 persen atau 607.483 pemilih dari jumlah pemilih terdaftar sebanyak 2.028.160 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang tokoh NU dan telah menjadi ketua umum selama tiga periode, manuver politik Gus Dur tak lepas dari perjalanan NU. Melalui partai politik PKB yang berbasis massa warga nahdliyin. Agaknya Gus Dur hendak mengangkat derajat politik di kalangan NU. Hal ini setidaknya, terbaca dalam dua hal. Pertama, Gus Dur sengaja memunculkan namanya dengan legitimasi pimpinan NU yang memiliki banyak pengikut sebagai repsentasi kelompok informal-luar sistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Gus Dur berhasil memantapkan dirinya sebagai poros politik dominan ditubuh NU walaupun ditubuh NU terbelah dalam beberapa partai politik, bahkan lebih dari itu Gus Dur telah menjadi tokoh nasional dan internasional (Alfian, 2001:35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat banyaknya aktivitas Gus Dur yang mengandung pesan politik dalam gerakan demokrasi di Indonesia dan diduga turut mempengaruhi perilaku politik rakyat Indonesia khususnya warga NU menjadi sangat menarik untuk diteliti lebih mendalam.&lt;br /&gt;Rumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pesan komunikasi politik Gus Dur dalam Gerakan Demokrasi Di Indonesia pada kalangan Nadliyin di Samarinda ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perilaku Kalangan Nahdliyin dalam Menerima Pesan Gus Dur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaiman pengaruh pesan komunikasi politik Gus Dur di kalangan nahdliyin Samarinda ?&lt;br /&gt;Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan penelitian ini sesuai dengan permasalahan yang diangkat, yaitu untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menganalisis bentuk pesan komunikasi politik Gus Dur dalam Gerakan Demokrasi Di Indonesia pada kalangan Nadliyin di Samarinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menganalisis perilaku Kalangan Nahdliyin dalam menerima Pesan politik Gus Dur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menganalisis pengaruh pesan komunikasi politik Gus Dur di kalangan Nahdliyin Samarinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegunaan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu komunikasi, baik secara teoritis maupun praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan dapat memberi sumbangan bagi upaya perkembangan ilmu pengetahuan, khusunya Ilmu Komunikasi dan studi komunikasi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan menjadi bahan rujukan bagi peneliti yang berminat pada kajian yang sama dengan permasalahan yang berbeda dengan wacana membangun demokrasi Indonesia yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan dapat memberi masukan yang bermanfaat dalam mengambil keputusan atau langkah-langkah bagi yang berkepentingan dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing. &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-5226119473453445911?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/5226119473453445911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/5226119473453445911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/pesan-komunikasi-politik-abdurrahman.html' title='PESAN KOMUNIKASI POLITIK ABDURRAHMAN WAHID (GUS DUR) DALAM GERAKAN DEMOKRASI DI INDONESIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KALANGAN NAHDLIYIN DI SAMARINDA'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-2495136413840050668</id><published>2010-07-15T00:16:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:17:07.754+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>PERSEPSI TARGET AUDIENCE TERHADAP BRAND IMAGE DALAM IKLAN YANG MENGGUNAKAN CELEBRITY ENDORSER</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 1. Latar Belakang Permasalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan selebriti atau orang – orang terkenal memberi dampak dalam berbagai segi kehidupan manusia, dari waktu ke waktu. Popularitas selebriti memang tak dapat dipungkiri menjadi suatu fenomena tersendiri karena menjadi salah satu fokus publisitas di berbagai media cetak dan media elektronik, dan bahkan kehidupan pribadinya sangat ditunggu para insan pers sebagai headline berita.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini dalam berbagai iklan khususnya untuk produk baru, penggunaan selebriti sebagai salah satu strategi pemasaran, sangat efektif untuk membentuk stopping power bagi audience. Kehadiran selebriti dimaksudkan untuk mengkomunikasikan suatu merk produk dan membentuk identitas serta menentukan citra produk yang diiklankan. Pemakaian selebriti sebagai daya tarik iklan (advertising appeals), dinilai dapat mempengaruhi preferensi konsumen karena selebriti dapat menjadi reference group yang mempengaruhi prilaku konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi produk baru, penggunaan endorser atau pembicara merupakan upaya pengiklan untuk meraih publisitas dan perhatian (attention getting power) produk tersebut. Meskipun mereka adalah aktor, selebriti, eksekutif, atau kepribadian yang diciptakan, endorser terbaik adalah mereka yang bisa membangun brand image yang kuat. Sebuah riset mengatakan bahwa selebriti yang cocok akan menaikkan nilai perhatian dan persuasi[1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan upaya membangun brand image ini sangat ditentukan oleh persepsi konsumen terhadap selebriti yang menjadi icon produk tersebut. Dengan dipersepsikannya seorang celebrity endorser secara positif oleh masyarakat, diharapkan positif pula brand image yang terbentuk di benak konsumen. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan munculnya brand image dalam pikiran konsumen yang tidak relevan dengan persepsinya terhadap celebrity endorser. Dengan kata lain, tidak selamanya seorang celebrity endorser dalam iklan dapat membangun brand image yang relevan dalam benak konsumen, seperti yang diinginkan pengiklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Life's Good (LG) telah meluncurkan ponsel terbaru yang bisa mengakses seluruh fasilitas 3G yang baru saja diluncurkan oleh salah satu operator selular terbesar di Indonesia yaitu Telkomsel dan diikuti oleh XL. Kehadiran ponsel LG tipe terbaru yakni KG 300 ini, dipasarkan di lego Rp 1.600.000,00. Produk ini akan melengkapi ponsel berfasilitas 3G, setelah Nokia, Sony Ericsson, dan Motorola. Produk yang diluncurkan sekitar bulan Januari - Februari ini memungkinkan para penggemar 3G memiliki banyak pilihan untuk menggunakan ponsel sesuai fasilitas yang disediakan. Apalagi saat ini penggemar dari 3G kian besar di beberapa kota besar di Indonesia, sementara ketersediaan ponsel masih terbatas karena belum semuanya ponsel bisa mengkover fasilitas 3G. Dengan demikian peluncuran ponsel LG KG 300 ini diharapkan dapat direspon besar oleh pasar ponsel di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini, peneliti memilih iklan ponsel LG KG 300 yang menggunakan Agnes Monica sebagai celebrity endorser. Dalam iklan tersebut Agnes Monica menjelaskan semua fitur yang ada dalam ponsel tersebut, dan bagaimana ponsel itu memberikan kenyamanan dalam keseharian Agnes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan ponsel LG KG 300 digunakan sebagai studi kasus dengan alasan utama yaitu produk ini merupakan produk baru. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, produk baru memerlukan publisitas dan perhatian untuk membangun image-nya. LG sendiri termasuk brand yang pangsa pasarnya berada di bawah brand-brand ponsel lain, seperti Nokia, Sony Ericsson, Motorola, dan Samsung. Posisi ponsel LG yang demikian inilah yang mendorong pengiklan menggunakan seorang endorser yang tingkat awarenessnya tinggi di mata publik. Ini menjadi alasan peneliti memilih ponsel LG KG 300 sebagai objek penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai selebriti, Agnes Monica memiliki tingkat popularitas tinggi di mata publik. Hal ini terlihat dari penggunaan Agnes dalam banyak iklan dan dianggap sebagai the next diva dalam dunia tarik suara. Agnes Monica merupakan ikon remaja yang terkenal memiliki image kuat dimata masyarakat. Dengan image Agnes yang demikian, maka ponsel LG menggunakan Agnes sebagai endoser dengan harapan image kuat Agnes juga mampu menguatkan image ponsel LG sebagai produk baru di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 2. Permasalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai reference group, atau sebagai inspirator, selebriti pada umumnya dapat mempengaruhi sikap, perilaku bahkan gaya berpakaian para penggemarnya. Apalagi, tak sedikit penggemar yang ingin mengikuti karakteristik idolanya, dan hal inilah yang dimanfaatkan oleh para pengiklan dalam memasarkan produknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya perbedaan persepsi tiap-tiap individu akan seorang selebriti sebagai icon dalam iklan, dapat membentuk brand image yang berbeda pula pada tiap individu. Persepsi ini dapat mendukung, atau dapat juga menjatuhkan brand image. Dengan demikian dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana image seorang celebrity endorser dapat membangun image positif produk ponsel LG KG 300 yang merupakan produk baru?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 3. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilatarbelakangi permasalahan tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui persepsi target audience terhadap celebrity endorser dalam iklan sebuah produk baru. Peneliti juga akan melihat brand image yang muncul setelah target audience melihat iklan tersebut. Kemudian brand image yang dipersepsikan target audience akan dibandingkan dengan persepsi terhadap celebrity endorser. Akan dilihat kecocokan kedua persepsi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian tujuan penelitian adalah untuk mengetahui relevansi atau kecocokan antara persepsi target audience terhadap celebrity endorser dengan persepsi target audience terhadap brand image produk baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. 4. Signifikansi Praktis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan kontribusi positif bagi praktisi periklanan untuk mengetahui sejauh mana persepsi khalayak terhadap celebrity endorser dapat mempengaruhi brand image suatu produk. Penelitian ini juga bermanfaat untuk membantu para praktisi periklanan dalam hal penentuan celebrity endorser yang memiliki karakteristik yang tepat sesuai dengan persepsi konsumen yang ingin bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus bagi bidang marketing, penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan strategi komunikasi pemasaran, khusunya yang melibatkan selebriti dalam program-program pemasarannya. Penelitian ini juga bermanfaat bagi bidang kreatif sebagai masukan untuk perumusan pesan iklan atau ide kreatif yang menggunakan celebrity endorser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Kenneth Roman, Jane Maas, Martin Nisenholtz, How To Advertise, 114. &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-2495136413840050668?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/2495136413840050668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/2495136413840050668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/persepsi-target-audience-terhadap-brand.html' title='PERSEPSI TARGET AUDIENCE TERHADAP BRAND IMAGE DALAM IKLAN YANG MENGGUNAKAN CELEBRITY ENDORSER'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-4280841874326462704</id><published>2010-07-15T00:15:00.002+07:00</published><updated>2010-07-15T00:16:26.994+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>PERANAN MEDIA KOMUNIKASI (RADIO SWASTA) DALAM MENINGKATKAN TINGKAT KEPEDULIAN MASYARAKAT DI KOTAMADYA YOGYAKARTA</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas lalu, hubungan lingkungan hidup dengan komunikasi mungkin tidak nampak. Namun kalau dipikirkan secara lebih mendalam, lingkungan hidup sebenarnya merupakan konsep yang sangat relevan bagi komunikasi ditinjau dari berbagai segi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dipandang dari segi luas, komunikasi hanya berarti dalam konteks lingkungan hidup. Pada intinya. komunikasi adalah proses yang menyangkut hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya Tanpa komunikasi manusia jadi terpisah dari lingkungan. Namun tanpa lingkungan komunikasi menjadi kegiatan yang tidak relevan. Dengan kata lain, manusia berkomunikasi karena perlu mengadakan hubungan dengan lingkungannya, meskipun caranya berbeda tergantung lingkungan yang dihadapi, umpamanya dengan lingkungan sosial tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, secara langsung atau tidak sebagian besar komunikasi manusia sebenarnya menyangkut atau bertitik tolak pada informasi tentang lingkungannya. Baik mengenai benda fisik dan komponen lingkungan itu, prinsipnya yang mengatur hubungan antara komponen tersebut, proses dan cara kerjanya, ataupun gagasan dan keinginan yang ada dalam otak manusia mengenai bagaimana seharusnya lingkungan itu. Ini bukanlah hal baru. Pengetahuan dan konsep yang ada pada seseorang dibentuk pertama kali oleh lingkungannya, atau berdasar kepada hal-hal yang diamati dari lingkungan. Andaikata ia kemudian belajar tentang hal-hal mengenai lingkungan yang lain, informasi itu pun akan selalu mengacu atau dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya. Itulah sebabnya maka komunikasi biasanya lebih lancar dan lebih efektif jika menyangkut atau berkaitan dengan lingkungan yang telah dikenalnya. Dapat dikatakan komunikasi akan makin berarti bagi seseorang jikalau informasi yang disampaikan makin terkait dengan lingkungan orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan erat dengan ini adalah relevansi lingkungan yang ketiga, yaitu dari segi fungsi komunikasi. Seperti yang dikemukakan banyak pakar, bahwa salah satu fungsi penting komunikasi bagi manusia dalam masyarakat adalah pengamatan lingkungan. Di mana ada media, fungsi ini terbantu dengan komunikasi massa yang diharapkan menyampaikan hasil pengamatan secara teratur dan sistematik. Dimana tidak ada media, fungsi ini dilakukan melalui komunikasi interpersonal dan sosial. Orang saling bertanya dan bertukar informasi setiap hari untuk mendapatkan gambaran mengenai perubahan yang terjadi dan keadaan terakhir (termasuk ancaman, bahaya maupun keadaan yang menguntungkan) yang berkembang di sekitaraya, agar mereka dapat menyesuaikan kehidupannya, sebaik mungkin (M. Alwi Dahlan, 1987: 2-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu informasi yang diperoleh melalui berbagai media massa memegang peranan sangat penting dalam membentuk sikap mental masyarakat agar dapat berperan secara aktif dalam pelaksanaan pembangunan umumnya dan terhadap kesadaran untuk aktif menjaga kelestarian lingkungan khususnya. Namun dalam pemberian informasi kepada masyarakat ada masalah-masalah yang harus dihadapi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemastian penerimaan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Informasi lintas batas (transfrontier).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Informasi tepat waktu (timely information).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Informasi lengkap (comprehensive information).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Informasi yang dapat dipahami (comprehensible information)&lt;br /&gt;(Koesnadi, 1988: 141-144).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya permasalahan ini menuntut bahwa informasi yang dibutuhkan, diharapkan akan memberikan manfaat dan tambahan pengetahuan bagi masyarakat. Kedudukan masyarakat amat penting karena keefektifannya bertindak selaku pengawas terhadap setiap adanya permasalahan lingkungan sehingga diharapkan dengan secepatnya kondisi tersebut diantisipasi dan dikembalikan ke keadaan semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan makin berkembangnya teknologi komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan dan kelestarian lingkungan, sebenarnya masalah kecepatan, daya jangkau, ketepatan, volume maupun jenis informasi yang dapat diberikan kepada masyarakat sudah tidak lagi menjadi permasalahan. Dalam kenyataannya masyarakat masih banyak yang belum memahami apa yang seharusnya diketahui mengenai lingkungan sekitarnya terutama terhadap kegiatan-kegiatan yang memungkinkan timbulnya masalah lingkungan. Seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat, akhir-akhir ini masalah lingkungan banyak menarik perhatian terutama dari media massa yang meliput secara langsung atau berdasarkan laporan dari masyarakat yang terkena dampak masalah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketentuan Undang Undang No. 4 Tahun 1982 Pasal 9 tentang Lingkungan Hidup yang berbunyi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemerintah berkewajiban menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran masyarakat akan tanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui penyuluhan, bimbingan, pendidikan, dan penelitian tentang lingkungan hidup".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serta penjelasannya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendidikan untuk menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran masyarakat dilaksanakan baik melalui jalur pendidikan formal mulai dari taman kanak-kanak atau sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi maupun melalui jalur pendidikan nonformal"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penyebarluasan informasi lingkungan dapat dilaksanakan melalui penyuluhan, bimbingan, pendidikan secara formal maupun non formal. Dengan makin berkembangnya kesadaran dan kehidupan masyarakat dalam mengelola lingkungan hidup maka dikeluarkanlah peraturan perundangan lingkungan hidup yang baru yaitu Undang Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang merupakan penyempurnaan dari Undang Undang No. 4 Tahun 1982. Selanjutnya Undang Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup ini disebut UUPLH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Pasal 10 huruf b UUPLH dengan tegas disebutkan bahwa;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah berkewajiban mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam penjelasannya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan, bimbingan, serta pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai bentuk informasi lingkungan wajib diberikan pemerintah kepada masyarakat untuk peningkatan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam mengelola lingkungannya. Jika dikaitkan dengan ketentuan Pasal 7 ayat (1) UUPLH yang menyebutkan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka tanggung jawab terhadap lingkungan bukan hanya terletak kepada pemerintah saja tetapi juga pada masyarakat secara keseluruhan karena baik secara langsung maupun tidak langsung masyarakat merasakan dampak negatif dari kerusakan lingkungan itu. Dengan dasar pemikiran itu penggunaan berbagai media massa sangat menunjang berbagai bentuk usaha peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua bentuk media massa yaitu media elektronik dan media cetak, radio merupakan salah satu media elektronik yang berfungsi sebagai media penyampaian informasi dan dinilai mampu untuk menjangkau segala lapisan masyarakat. Oleh karena itu rasio memegang peranan pentin dalam menumbuhkan dan membina sikap mental masyarakat dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketentuan Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang No. 3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi yang menyatakan bahwa;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penyelenggaraan telekomunikasi untuk keperluan khusus dapat dilakukan oleh instansi pemerintah tertentu, perseorangan, atau badan hukum selain badan penyelenggaraan dan badan lain sebagai mana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka secara jelas dinyatakan bahwa di samping pemerintah selaku pembina dan penyelenggara telekomunikasi pihak swasta dapat juga berperan serta baik perseorangan maupun badan hukum. Ketentuan ini berimplikasi kepada media elektronik, televisi maupun radio, sehingga pada saat ini telah berdiri sejumlah televisi swasta dan radio swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat media komunikasi milik pemerintah, TVRI dan RRI, dan media komunikasi swasta, yaitu radio siaran swasta FM dan AM yang dapat digunakan untuk penyampaian informasi mengenai masalah lingkungan Informasi ini dapat dikemas dalam bentuk acara khusus maupun dengan memasukkan pesan ke dalam acara tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan penting TVRI, RRI, dan radio swasta adalah dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran lingkungan sehingga peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup dapat meningkat.&lt;br /&gt;B. Perumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bagaimana peranan radio siaran swasta dapat meningkatkan dan memberikan&lt;br /&gt;bekal pengetahuan mengenai lingkungan kepada masyarakat dikaitkan dengan&lt;br /&gt;ketentuan Pasal 10 huruf b UUPLH?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari ketentuan yang telah ada yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun&lt;br /&gt;1970 tentang Radio Siaran Non-Pemerintah, berutama mengenai fungsinya sebagai alat pendidikan dan alat penerangan, apakah ketentuan ini sudah dapat berjalan seperti yang diharapkan oleh ketentuan Pasal 10 huruf b UUPLH ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap adanya program atau acara yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian lingkungan yang dikelola oleh radio siaran swasta?&lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tujuan Obyektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Untuk mengetahui peranan salah satu media komunikasi, dalam hal ini radio siaran swasta, yang digunakan sebagai sarana penerangan dan pendidikan lingkungan kepada masyarakat melalui jalur nonformal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Dengan ketentuan yang ada, baik Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 1970 maupun Pasal 10 huruf b UUPLH dapat diketahui kondisi yang diharapkan tercipta dalam hubungan komunikasi dan informasi khususnya dalam bidang lingkungan antara masyarakat dengan radio siaran swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Untuk mengetahui tanggapan yang diberikan oleh masyarakat mengenai program atau acara radio siaran swasta yang berkaitan dengan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan Subyektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan jenjang studi strata satu di Universitas Gadjah Mada.&lt;br /&gt;D. Tinjauan Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat komunikasi dalam arti luas adalah suatu kegiatan manusia baik secara pribadi maupun kolektif sebagai masyarakat untuk menyebarluaskan gagasan atau pikiran, fakta ataupun data agar gagasan, fakta dan data tersebut menjadi milik bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam batasan ini komunikasi juga berfungsi sebagai usaha untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memberi informasi yang mencakup pengumpulan, penyimpanan,&lt;br /&gt;pengelolaan dan penyebarluasan berita, gambar, fakta dan pesan, pendapat&lt;br /&gt;serta tanggapan yang diperlukan untuk mengerti dan menanggapi sesuatu&lt;br /&gt;keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memasyarakatkan yakni memberi bekal pengetahuan untuk menjadi&lt;br /&gt;milik bersama masyarakat agar masing-masing warganya dapat secara&lt;br /&gt;efektif melibatkan diri dalam kegiatan masyarakat dalam rangka membina&lt;br /&gt;kebersamaan hidup dan solidaritas sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengembangkan motivasi yakni merangsang gairah orang atau masyarakat untuk mencapai sasaran dan aspirasi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memberi pendidikan dalam rangka pengembangan kecerdasan intelektual, pembinaan watak dan memperoleh keterampilan pada semua tingkat umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mengembangkan kebudayaan yakni menyebarluaskan hasil ciptaan seni budaya dengan maksud untuk melestarikan warisan budaya nenek moyang, mengembangkan kebudayaan dengan meluaskan cakrawala pandangan masyarakat, mengasah daya ciptanya dan merangsang tumbuhnya kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Memberikan hiburan dengan antara lain mementaskan atau&lt;br /&gt;mengembangkan seni drama, seni tari, seni sastra, seni lukis, seni musik, seni lawak, olah raga dan lain-lain untuk dapat dinikmati secara, pribadi atau secara bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Mengembangkan integrasi ke arah kokohnya persatuan dan kesatuan nasional serta mantapnya, tanggung jawab disiplin dan jiwa bangsa (Departemen Penerangan, 1987: 212-213).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses komunikasi ada 3 unsur pokok:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemberi atau sumber informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Media informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penerima atau sasaran informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sasaran penyampaian informasi adalah masyarakat luas, sedangkan media informasi baik media elektronik maupun media cetak jenisnya beragam dan informasi yang disampaikan tidak selalu memiliki aspek positif bagi pembangunan nasional, maka berdasarkan ketentuan Pasal 33 ayat (2) yaag menyatakan bahwa;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan dalam bagian menimbang sub (b) UU No. 3 Tahun 1989 yang menyatakan ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahwa telekomunikasi merupakan cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak sehingga perlu dikuasai oleh negara demi terwujudnya pembangunan nasional"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pemerintah berkedudukan sebagai penyelenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman bagi pemerintah, dalam hal ini departemen penerangan, dalam menyelenggarakan telekomunikasi tertuang dalam TAP MPR No. II/MPR/1998 mengenai Penerangan, Komunikasi dan Media Massa sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pembangunan penerangan, komunikasi, dan media massa diarahkan pada&lt;br /&gt;peningkatan kemampuan penerangan, komunikasi, dan media massa&lt;br /&gt;nasional, ditujukan untuk meningkatkan peran serta aktif positif&lt;br /&gt;masyarakat dalam pembangunan, meningkatkan keterbukaan yang&lt;br /&gt;bertanggung jawab dan makin meningkatkan kesadaran bermasyarakat,&lt;br /&gt;berbangsa, dan bernegara yang dilandasi nilai-nilai luhur Pancasila dan&lt;br /&gt;UUD 45.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pembangunan penerangan, komunikasi, media massa harus mampu&lt;br /&gt;meningkatkan kesadaran masyarakat akan hak dan kewajibannya sebagai&lt;br /&gt;warga negara dan menciptakan iklim yang dapat mendorong terjadinya&lt;br /&gt;interaksi timbal balik secara terbuka dan bertangung jawab antara sesama&lt;br /&gt;warga masyarakat dengan pemerintah dalam memperoleh informasi tentang pembangunan dan hasil-hasilnya, serta perkembangan global sehingga makin meningkatkan kualitas, peranan, peran serta, dan tanggung jawab masyarakat dalam pembangunan, dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan tekad kemandirian serta ketangguhan bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pembangunan penerangan, komunikasi, dan media massa terus ditingkatkan kualitas dan jangkauannya agar mendukung upaya&lt;br /&gt;memantapkan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,&lt;br /&gt;mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara, memperkuat moral, mental,&lt;br /&gt;budaya bangsa serta menggelorakan semangat pengabdian dan perjuangan&lt;br /&gt;bangsa, dan menggairahkan peran serta masyarakat dalam rangka&lt;br /&gt;memantapkan kehidupan demokrasi Pancasila sehingga masyarakat siap&lt;br /&gt;untuk makin mampu menyerap nilai yang positif dan menangkal pengaruh&lt;br /&gt;negatif arus informasi. Untuk itu, media massa harus makin meningkatkan&lt;br /&gt;pengabdian, tanggung jawab dan etik profesi, kemampuan, dan kualitas&lt;br /&gt;sumber daya manusianya, serta makin mampu meningkatkan&lt;br /&gt;pendayagunaan sarana dan prasarana komunikasi dengan lebih efektif dan&lt;br /&gt;eflsien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pembangunan sarana dan prasarana penerangan, komunikasi dan media&lt;br /&gt;massa perlu makin ditingkatkan dengan memperhatikan kemajuan ilmu&lt;br /&gt;pengetahuan dan teknologi komunikasi sehingga mampu menjangkau dan&lt;br /&gt;menjamin lancarnya penyebaran informasi secara luas serta dapat&lt;br /&gt;mewujudkan tersedianya wahana komunikasi dan informasi yang andal&lt;br /&gt;serta tersebar makin merata di seluruh pelosok tanah air sesuai dengan&lt;br /&gt;tuntutan pembangunan. Pengelolaan dan pengembangaa sarana dan&lt;br /&gt;prasarana penerangan, komunikasi, dan media massa perlu terus didorong&lt;br /&gt;dan dimantapkan dalam rangka meningkatkan efisiensi pendayagunaan&lt;br /&gt;sumber daya nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Dalam rangka peningkatan peranan media massa yang bebas dan&lt;br /&gt;bertanggung jawab berdasarkan Pancasila perlu terus diupayakan makin&lt;br /&gt;berkembangnya interaksi positif antara media massa, pemerintah, dan&lt;br /&gt;masyarakat sehingga dapat makin diwujudkan peran serta aktif media&lt;br /&gt;massa dalam mendukung pembangunan menyebarkan informasi yang&lt;br /&gt;objektif dan edukatif, melakukan kontrol sosial yang konsumptif menyalurkan aspirasi rakyat serta memperluas komunikasi dan peran serta&lt;br /&gt;positif masyarakat. Untuk itu kelangsungan hidup media massa yang bebas dan bertanggung jawab dijamin oleh undang-undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Upaya penyebarluasan peran media massa, baik cetak maupun elektronik&lt;br /&gt;seperti radio, televisi, film, video, multi media, surat kabar, majalah, dan&lt;br /&gt;kantor berita perlu terus ditingkatkan baik dalam jumlah, kualitas maupun&lt;br /&gt;jangkauannya termasuk media tradisional sehingga makin dapat dicapai&lt;br /&gt;tujuan penyebaran informasi yang lebih efektif sesuai dengan kebhinekaan&lt;br /&gt;masyarakat Indonesia di perkotaan dan perdesaan guna mendukung makin&lt;br /&gt;kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa. Sejalan dengan itu perlu terus&lt;br /&gt;dikembangkan dan dilindungi kehidupan pers daerah sehingga mampu&lt;br /&gt;berkembang dan berperan secara mandiri dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Peningkatan peranan media massa dalam pembangunan perlu terus&lt;br /&gt;didukung oleh peningkatan jumlah dan kualitas tenaga terdidik dan&lt;br /&gt;profesional, yang mampu mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan&lt;br /&gt;ilmu pengetahuan dan teknologi informasi komunikasi sebagai insan&lt;br /&gt;media massa yang memiliki idealisme, integritas, dan wawasan kebangsaan serta pengetahuan, keahlian, dan ketrampilan dalam pengabdian terhadap profesi disertai peningkatan kesejahteraannya. Lembaga pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia di bidang media massa perlu terus dikembangkan dan ditingkatkan untuk mengabdi kepada kepentingan bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Pembinaan dan pengembangan film nasional ditingkatkan fungsi dan perannya secara terus menerus baik kualitas maupun kuantitasnya yang dititik beratkan pada kemampuan bersaing dengan menekankan peningkatan film yang berkualitas yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa, terciptanya iklim yang mendukung peningkatan produksi serta perlindungan film nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Peranan penerangan, komunikasi, dan media massa di dalam pergaulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;internasional perlu terus ditingkatkan dalam rangka mengembangkan citra dan pengertian dunia terhadap harkat dan martabat bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang berdasarkan Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. Pembangunan aparat dan pelaku penerangan, komunikasi, dan media massa terus ditingkatkan dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga terdidik yang profesional, mampu mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahnan dan teknologi, memiliki idealisme, integritas moral, kepribadian, dan semangat kebangsaan, disertai dengan pengembangan dan peningkatan lembaga pendidikan dan pelatihan, serta perlindungan terhadap kegiatan jurnalistik dan perlindungan terhadap masyarakat agar mendapat informasi yang benar sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. Pembangunan hubungan kemasyarakatan sebagai pengemas dan penyalur informasi terus ditingkatkan untuk menumbuhkan iklim komunikasi dua arah, memantapkan suasana keterbukaan yang bertanggung jawab, dan makin membina citra positif bangsa dan negara baik di dalam maupun di luar negeri. Penataan struktur, wewenang, dan pembinaan sumber daya hubungan kemasyarakatan terus dikembangkan sesuai dengan jati diri bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l. Pembangunan periklanan nasional terus ditingkatkan dan dimanfaatkan secara posititf dan kreatif untuk mendinamiskan kegiatan perekonomian masyarakat tentang pembangunan, mengimbangi dan menangkal pengaruh negatif pesan komunikasi pemasaran, meningkatkan kecintaan masyarakat pada produk dalam negeri, dan memantapkan daya saing produk nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan ketentuan Pasal 10 huruf b UUPLH yang berbunyi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup pemerintah berkewajiban: mewujudkan, menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serta penjelasannya ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan, bimbingan, serta pendidikan, dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pemerintah bertanggung jawab dalam menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran lingkungan masyarakat, karena itu sangat penting untuk menumbuhkan pengertian, penghayatan, dan motivasi untuk ikut serta dalam mengembangkan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman pengertian tentang manfaat yang diperoleh dari pengembangan lingkungan hidup dapat disalurkan melalui berbagai jalur pendidikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pendidikan formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui SD, SMTP, SMTA, dan Perguruan Tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pendidikan nonformal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui kursus-kursus dan kegiatan-kegiatan lainnya yang diselenggarakan di luar lembaga-lembaga pendidikan formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pendidikan informal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui keluarga dan kehidupan sehari-hari dalam masyarakat (Koesnadi., 1988: 195).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pendidikan nonformal perlu diperhatikan penyusunan dari naskah-naskah yang mudah dibaca dan dipahami, dengan mengingat keadaan setempat, penggunaan bahasa daerah dalam penyusunan naskah-naskah tersebut perlu memperoleh perhatian agar langsung mencapai sasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat kemajemukan masyarakat kita, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tingkat pendidikan, adat istiadat, letak geografis dan sebagainya maka cara-cara menanamkan pengertian tersebut harus berbeda-beda pula (Koesnadi, 1988 : 201).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan yang hendak dicapai oleh pemerintah dalam pendidikan lingkungan hidup adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Memperoleh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Pengenalan lingkungan hidup pada umumnya (tingkat SD dan SMTP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pengenalan dan identifikasi masalah-masalah lingkungan hidup (tingkat SMTA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah lingkungan hidup (tingkat&lt;br /&gt;Perguruan Tinggi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Membudayakan "concern" terhadap lingkungan hidup yaitu memasukkannya dalam tata nilai bersama (value-clarification dan value-information).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Menggugah kesadaran untuk mau berbuat, baik secara pribadi maupun secara kelompok masyarakat untuk menanggulangi masalah lingkungan hidup, yang berarti pula meningkatkan ketrampilan mengatur diri dan kelompok masyarakat dalam suatu lembaga swadaya masyarakat untuk melakukan kegiatan-kegiatan di bidang lingkungan hidup (Koesnadi, 1988: 202).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai seberapa jauh hubungan komunikasi, baik melalui media elektronik maupun media cetak, dengan tumbuh dan berkembangnya kesadaran masyarakat akan lingkungannya dapat kita lihat dari potensi pengaruh komunikasi terhadap berkembangnya wawasan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kegiatan pembangunan tidak hanya terbatas pada kegiatan sektor pemerintah saja, meskipun jumlah dana yang dikerahkan bagi pembangunan di sektor pemerintah mungkin sangat tinggi, tetapi pada umumnya terpusat pada kegiatan-kegiatan yang besar yang jumlahnya relatif sedikit. Walaupun kebanyakan berukuran lebih kecil, jumlah kegiatan di sektor swasta jauh lebih banyak dan secara langsung&lt;br /&gt;mungkin melibatkan jumlah orang yang jauh lebih besar, apa lagi kalau termasuk&lt;br /&gt;sektor informal. Sektor swasta ini tidak dapat direncanakan atau dikendalikan&lt;br /&gt;geraknya oleh pemerintah (kecuali perencanaan sektor makro atau sekedar&lt;br /&gt;pengaturan) namun dapat dipengaruhi oleh lintas informasi dan komunikasi dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawasan lingkungan juga perlu dalam komunikasi mengingat bahwa keseluruhan bagian ekosistem saling berkait dan saling tergantung. Karena itu pertimbangan lingkungan perlu diperhatikan dalam segala jenis kegiatan yang secara langsung atau tidak dapat mempengaruhi jalannya pembangunan dan keadaan lingkungan hidup. Komunikasi massa dan komunikasi sosial dalam segala bentuk merupakan kegiatan yang dapat menimbulkan pengaruh seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain menyangkut pengetahuan dan pemahaman masyarakat yang masih kurang mengenai sistem lingkungan hidup. Sebagai akibat, perilaku yang mempunyai danpak negatif terhadap lingkungan, termasuk perilaku yang digambarkan dalam komunikasi massa, masih saja banyak diperbuat tanpa disadari, bahkan sering dengan itikad baik. Komunikasi yang berwawasan lingkungan dapat mengurangi perilaku sedemikian, antara lain dengan memberikan interpretasi yang lebih tepat, menghindarkan penonjolan perilaku negatif, atau mendorong perilaku pengganti yang lebih positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh atau dampak komunikasi ini dapat terjadi melalui berbagai cara Secara langsung, komunikasi dapat mendorong gaya hidup dan perilaku yang merusak atau tidak tepat lingkungan, atau mengukuhkan kebiasaan yang tidak baik. Secara tidak langsung, nilai-nilai yang tadinya dianggap asing, lama kelamaan dapat diperlakukan sebagai sesuatu yang biasa karena seringnya disajikan secara menguntungkan atau karena tidak mendapat reaksi yang keras. Perilaku yang tadinya dinilai negatif dapat diliput atau disajikan sedemikian rupa oleh media massa sehingga menjadi perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat, bahkan kemudian dianggap pantas ditiru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dapat terjadi karena komunikasi, termasuk komunikasi massa, mempunyai fungsi pembentukan konsensus dan sosialisasi nilai. Gagasan dan kebiasaan yang diliputnya serta interpretasi yang dilontarkannya, diamati, dinilai dan dijadikan rujukan sementara oleh masyarakat. Apabila kemudian tidak mendapat tanggapan atau ternyata mulai diterapkan, orang mengambil kesimpulan bahwa hal baru itu memang baik atau dapat diterima bersama Semakin sering dimunculkan, semakin kuat patokan untuk menerima dan menerapkannya. Proses seperti ini terjadi baik pada penularan gaya yang relatif sepele tetapi mempunyai implikasi agak serius sampai ke inovasi dan gagasan yang mempunyai akibat yang jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena lingkungan hidup merupakan hal yang kompleks dan menyangkut aneka ragam segi, dapat terjadi bahwa sesuatu hal yang sepele jika dipandang dari sudut lain dapat merupakan hal yang serius apabila jika dipandang dari segi lingkungan. Hal seperti itu hanya mungkin dicegah jika komunikasi diselenggarakan dengan pemahaman yang cukup luas mengenai potensi dampak lingkungan dari setiap pesan (M. Alwi Dahlan, 1987: 2-3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian yang tak kurang pentingnya dalam proses menumbuh kembangkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya adalah sosialisasi atau pemasyarakatan penuturan perundang-undangan di bidang lingkungan. Karena untuk tugas mengundangkan suatu peraturan ada pada pemerintaah maka beban untuk mensosialisasikanpun ada pada pemerintah. Namun mengingat bahwa pihak-pihak yang terkait dalam bidang lingkungan sangat luas, maka sudah seharusnya beban memasyarakatkan peraturan juga ada pada pihak-pihak yang berkepentingan seperti perusahaan, media massa, lembaga pemerintah dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya pengetahuan masyarakat terhadap adanya suatu peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan sangat rendah sebab keluarnya suatu peraturan belum diikuti dengan kemasyarakatkannya. Kalaupun itu ada hanya untuk kalangan atau golongan tertentu saja, meskipun tujuannya adalah untuk masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam publikasi OECD tentang "Public Participation and Environmental Matters” disebutkan bahwa usaha untuk mengikut sertakan masyarakat pada tahap awal dalam proses rencana kebijaksanaan memberikan satu kesempatan untuk menilai kebutuhan dan keinginan masyarakat, menjelaskan unsur-unsnr yang menjadi permasalahan dan mengevaluasi secara menyeluruh terhadap kemungkinan-kemungkinan kebijaksanaan. informasi adalah salah satu syarat untuk mengefektifkan peran serta masyarakat dan pemerintah bertanggung jawab tidak hanya untuk memberikan informasi yang ada mengenai permasalahan lingkungan kepada masyarakat tepat pada waktunya dan bersikap terbuka tetapi juga untuk menjamin bahwa warga negara mampu memberikan tanggapan atau masukan yang konstruktif dan tepat waktu kepada pemerintah. Peran serta masyarakat dapat dilihat dalam arti pentingnya untuk meningkatkan lingkungan sebaik kesadaran politik, untuk menjelaskan pilihan-pilihan yang harus ditentukan dan untuk menemukan kesepakatan sosial terhadap keseimbangan yang harus ditemukan antara pembangunan ekonomi dan kepentingan lingkungan (Koesnadi, 1989: 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media massa pada umumnya sangat memegang peranan penting dalam memasyarakatkan peraturan di bidang lingkungan. Ini dapat kita lihat dari tanggapan&lt;br /&gt;media massa di antaranya meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peliputan khusus masalah lingkungan melalui pemberitaan atau rubrik&lt;br /&gt;lingkungan sebagaimana terdapat dalam surat kabar dan majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penunjukan wartawan (reporter) yang khusus ditugasi meliput masalah&lt;br /&gt;lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penyelenggaraan lokakarya dan pertemuan lainnya yang dilaksanakan&lt;br /&gt;oleh PWI untuk keperluan peningkatan pemahaman wartawan tentang&lt;br /&gt;masalah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media massa yang meliput masalah lingkungan tidak hanya berupa media massa cetak., akan tetapi juga media massa elektronik (TV, Radio) sehingga coverage atau liputannya menjadi sangat luas (Koesnadi, 1992: 20-21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena luasnya aspek permasalahan lingkungan sehingga memerlukan pendekatan yang sifatnya menyeluruh tidak hanya oleh pembuat peraturan perundangan, pihak yang terkait dengan peraturan itu tetapi juga masyarakat luas. Dengan pendekatan ini diharapkan dapat membentuk masyarakat yang tanggap dan berwawasan lingkungan guna menunjang pembangunan nasional.&lt;br /&gt;E. Metodologi Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bahan dan alat pengumpulan data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini bahan penelitian diperoleh dari sumber data sebagai&lt;br /&gt;berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh secara langsung dari responden, dengan cara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Wawancara, yaitu pengumpulan data dengan cara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melakukan tanya jawab secara langsung yang ditujukan kepada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Radio Siaran Swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Masyarakat yang turut menikmati siaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kuesioner adalah pengumpulan data dengan cara mengajukan daftar pertanyaan secara langsung kepada responden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sumber data sekunder adalah sumber data yang diperoleh melalui:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dokumen-dokumen yang diperoleh melalui Kantor Wilayah Departemen Penerangan DIY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Literatur dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan obyek dan masalah penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penentuan Sampel dan Lokasi Penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan metode nonprobability sampling yaitu; pemilihan sampel didasarkan atas pengetahuan bahwa radio siaran swasta tersebut memiliki program atau acara yang berkaitan dengan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian dilakukan di:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Radio-radio siaran swasta di Kodya Yogyakarta,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini sampel radio siaran swasta yang dipilih adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Retjo Buntung (FM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Unisi (FM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Arma Sebelas (AM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Masyarakat pendengar siaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini masyarakat digolongkan kedalam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Masyarakat umum yang terdidik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dalam program atau acara yang berkaitan dengan lingkungan yang disiarkan radio swasta membutuhkan tingkat pemahaman mengenai apa yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mahasiswa atau pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat bahwa Yogyakarta pendengarnya kebanyakan dikenal dari golongan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Metode Analisis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Metode deskriptif yaitu cara penelitian yang bertujuan untuk memperoleh data tentang hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain, dalam hal ini hubungan program atau mata acara yang berkaitan dengan lingkungan radio siaran swasta dengan tingkat kepedulian masyarakat terhadap lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Metode kualitafif yaitu cara, penelitian yang dinyatakan responden secara tertulis atau lisan dan juga perilaku yang nyata yang dipelajari sebagai sesuatu yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua metode di atas digunakan karena maksud penelitian ini untuk mengetahui secara jelas bagaimana peran serta radio siaran swasta dalam rangka turut menumbuhkan dan mengembangkan tingkat kepedulian masyarakat dalam mengelola lingkungan hidup di sekitarnya. &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-4280841874326462704?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/4280841874326462704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/4280841874326462704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/peranan-media-komunikasi-radio-swasta.html' title='PERANAN MEDIA KOMUNIKASI (RADIO SWASTA) DALAM MENINGKATKAN TINGKAT KEPEDULIAN MASYARAKAT DI KOTAMADYA YOGYAKARTA'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-4895156456979296314</id><published>2010-07-15T00:15:00.001+07:00</published><updated>2010-07-15T00:15:48.709+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>Pengaruh Komunikasi Interpersonal Antar Pegawai Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesamanya. Dalam kehidupannya manusia sering dipertemukan satu sama lainnya dalam suatu wadah baik formal maupun informal.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi adalah sebuah sistem sosial yang kompleksitasnya jelas terlihat melalui jenis, peringkat, bentuk dan jumlah interaksi yang berlaku. Proses dalam organisasi adalah salah satu faktor penentu dalam mencapai organisasi yang efektif. Salah satu proses yang akan selalu terjadi dalam organisasi apapun adalah proses komunikasi. Melalui organisasi terjadi pertukaran informasi, gagasan, dan pengalaman. Mengingat perannya yang penting dalam menunjang kelancaran berorganisasi, maka perhatian yang cukup perlu dicurahkan untuk mengelola komunikasi dalam organisasi. Proses komunikasi yang begitu dinamik dapat menimbulkan berbagai masalah yang mempengaruhi pencapaian sebuah organisasi terutama dengan timbulnya salah faham dan konflik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi memelihara motivasi dengan memberikan penjelasan kepada para pegawai tentang apa yang harus dilakukan, seberapa baik mereka mengerjakannya dan apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja jika sedang berada di bawah standar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas komunikasi di perkantoran senantiasa disertai dengan tujuan yang ingin dicapai. sesama dalam kelompok dan masyarakat. Budaya komunikasi dalam konteks komunikasi organisasi harus dilihat dari berbagai sisi. Sisi pertama adalah komunikasi antara atasan kepada bawahan. Sisi kedua antara pegawai yang satu dengan pegawai yang lain. Sisi ketiga adalah antara pegawai kepada atasan. Masing-masing komunikasi tersebut mempunyai polanya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kedua belah pihak harus ada two-way-communications atau komunikasi dua arah atau komunikasi timbal balik, untuk itu diperlukan adanya kerja sama yang diharapkan untuk mencapai cita-cita, baik cita-cita pribadi, maupun kelompok, untuk mencapai tujuan suatu organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi merupakan sarana untuk mengadakan koordinasi antara berbagai subsistem dalam perkantoran. Menurut Kohler ada dua model komunikasi dalam rangka meningkatkan kinerja dan mencapai tujuan perkantoran ini. Pertama, komunikasi koordinatif, yaitu proses komunikasi yang berfungsi untuk menyatukan bagian-bagian (subsistem) perkantoran. Kedua, komunikasi interaktif, ialah proses pertukaran informasi yang berjalan secara berkesinambungan, pertukaran pendapat dan sikap yang dipakai sebagai dasar penyesuaian di antara sub-sub sistem dalam perkantoran, maupun antara perkantoran dengan mitra kerja. Frekuensi dan intensitas komunikasi yang dilakukan juga turut mempengaruhi hasil dari suatu proses komunikasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal komunikasi yang terjadi antar pegawai, kompetensi komunikasi yang baik akan mampu memperoleh dan mengembangkan tugas yang diembannya, sehingga tingkat kinerja suatu organisasi (perkantoran) menjadi semakin baik. Dan sebaliknya, apabila terjadi komunikasi yang buruk akibat tidak terjalinnya hubungan yang baik, sikap yang otoriter atau acuh, perbedaan pendapat atau konflik yang berkepanjangan, dan sebagainya, dapat berdampak pada hasil kerja yang tidak maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan kinerja pegawai secara perorangan akan mendorong kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan dan memberikan feed back yang tepat terhadap perubahan perilaku, yang direkflesikan dalam kenaikan produktifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang merupakan salah satu organisasi formal di lingkungan aparatur pemerintah yang memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembangunan khususnya kota Palembang. Program-program kerja yang dirancang bertujuan untuk menmpromosikan dan melindungi bidang kepariwisataan yang merupakan aset negara yang sangat penting sehingga sangat diharapkan kinerja yang optimal yang dapat diwujudkan melalui peranan komunikasi yang efektif supaya dapat memenuhi peran dan fungsinya sebagai aparat pemerintah yang mengabdikan dirinya pada bangsa dan negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat pengaruh yang sangat penting antara proses komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi khususnya komunikasi interpersonal antar pegawai dengan tingkat kinerja pegawai maka penulis tertarik mengambil judul “Pengaruh Komunikasi Interpersonal Antar Pegawai Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Masih kurangnya komunikasi interpersonal yang terjadi antar pegawai.&lt;br /&gt;   2. Masih banyak ditemukan kendala atau hambatan-hambatan dalam melakukan komunikasi interpersonal.&lt;br /&gt;   3. Kurang optimalnya kinerja pegawai akibat buruknya proses komunikasi interpersonal yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “Bagaimana pengaruh komunikasi interpersonal terhadap kinerja pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang ?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Pembatasan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penelitian dibatasi pada permasalahan komunikasi interpersonal yang terjadi pada pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hanya terbatas pada pegawai di lingkungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Maksud dan Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun maksud dan tujuan dilakukannya penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Untuk mengetahui proses komunikasi interpersonal antar pegawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang terjadi selama proses komunikasi interpersonal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk mengetahui tingkat kinerja pegawai akibat pengaruh proses komunikasi interpersonal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5 Kegunaan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sebagai masukan atau sumbangan pemikiran dan sumber informasi bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang dalam hal peningkatan kinerja pegawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dapat menjadi bahan bagi peneliti selanjutnya mengenai komunikasi interpersonal dalam sebuah organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sebagai salah satu syarat guna meraih gelar Sarjana Negara Strata Satu (S1) Jurusan Ilmu Komunikasi Stisipol Candradimuka Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6 Kerangka Pemikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, komunikasi mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap kinerja pegawai. Menurut defenisi Carl I. Hovland “Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikan)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu jenis komunikasi yang sangat penting adalah komunikasi interpersonal atau komunikasi yang terjadi secara tatap muka antara beberapa pribadi yang memungkinkan respon verbal maupun nonverbal berlangsung secara langsung. Dalam operasionalnya, komunikasi berlangsung secara timbal balik dan menghasilkan feed back secara langsung dalam menanggapi suatu pesan. Komunikasi yang dilakukan dengan dua arah dan feed back secara langsung akan sangat memungkinkan untuk terjadinya komunikasi yang efektif. Hal ini sesuai dengan pendapat Onong U. Effendy yang mengatakan bahwa, “Efektifitas komunikasi antar pribadi itu ialah karena adanya arus balik langsung”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam suatu organisasi khususnya perkantoran, proses komunikasi adalah proses yang pasti dan selalu terjadi. Komunikasi adalah sarana untuk mengadakan koordinasi antara berbagai subsistem dalam perkantoran. Perkantoran yang berfungsi baik, ditandai oleh adanya kerjasama secara sinergis dan harmonis dari berbagai komponen. Suatu perkantoran dikonstruksi dan dipelihara dengan komunikasi. Artinya, ketika proses komunikasi antar komponen tersebut dapat diselenggarakan secara harmonis, maka perkantoran tersebut semakin kokoh dan kinerja perkantoran akan meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan kinerja pegawai secara perorangan akan mendorong kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan dan memberikan feed back yang tepat terhadap perubahan perilaku, yang direkflesikan dalam kenaikan produktifitas. Jadi dapat dikatakan bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat didukung dari tingkat kinerja pegawai yang sangat dipengaruhi oleh proses komunikasi yang terjadi antar pegawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.7 Hipotesis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan dari kerangka teori penelitian maka dapat ditarik suatu hipotesis sebagai suatu kesimpulan sementara yaitu sebagai berikut : “Terdapat pengaruh yang positif antara proses komunikasi interpersonal antar pegawai terhadap kinerja pegawai.” &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-4895156456979296314?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/4895156456979296314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/4895156456979296314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/pengaruh-komunikasi-interpersonal-antar_15.html' title='Pengaruh Komunikasi Interpersonal Antar Pegawai Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-4461741381420551384</id><published>2010-07-15T00:14:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:15:11.954+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KARYAWAN TERHADAP PENINGKATAN KINERJA KARYAWAN PADA PT. SUMATERA PRIMA FIBREBOARD BULAN APRIL 2007</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), adalah mendapatkan orang-orang untuk mengisi organisasi. Biasanya yang menangani masalah ini dikoordinir oleh Departemen SDM dan melibatkan bagian-bagian lain yang terkait (pada organisasi yang besar). Pada organisasi yang kecil pemimpin dapat secara langsung melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain atau para ahli. &lt;span class="fullpost"&gt; Namun pada keduanya ada satu langkah penting yang harus dilakukan sebelum melakukan penarikan tenaga kerja (recruitment), yaitu menentukan jenis atau kualitas pegawai yang diinginkan untuk mengisi jabatan tersebut dan rincian mengenai jumlah atau kuantitas yang nanti akan menempati jabatan tersebut. Dengan demikian fungsi atau kegiatan pertama dalam manajemen SDM adalah mendapatkan orang yang tepat, baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Setelah itu dilanjutkan pada penarikan tenaga kerja, seleksi penempatan, orientasi, promosi dan pemindahan atau mutasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut (B Flippo, 1999, hal 31) metode yang paling sering digunakan dalam penentuan jenis atau kualitas tenaga kerja yang akan ditarik (recruitment) adalah analisis jabatan (job analysis). Job analysis terdiri dari dua kata job dan analysis. Job biasa diartikan sebagai jabatan, pekerjaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tugas, macam pekerjaan, dan kegiatan pekerjan. Analysis diterjemahkan memisah-misahkan atau menguraikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa astilah-istilah yang berkaitan dengan analysis jabatan : (Kogakusha, 2002, hal 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Unsur (element) adalah kesatuan pekerjaan yang paling kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Tugas (task) adalah satu bagian atau satu komponen dari suatu jabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Posisi (position) adalah tugas-tugas dan tanggung jawab-tanggung jawab dari seorang pegawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Jabatan (job) adalah sekelompok posisi yang hampir sama dalam suatu badan, lembaga atau perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Okupasi (occupation) adalah jabatan-jabatan yang hampir sama yang terdapat dalam banyak perusahaan atau daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Analysis jabatan (job analyasis) adalah suatu kegiatan yang mempelajari, mengumpulkan, dan mencatat informasi-informasi atau fakta-fakta yang berhubungan dengan masing-masing jabatan secara sitematis dan teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Uraian jabatan (job description) adalah suatu keterangan singkat yang ditulis secara cemat mengenai kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab-tanggung jawab dari suatu jabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Persyaratan jabatan (job specification) adalah suatu catatan mengenai syarat-syarat orang yang minimum yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu jabatan dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Penilaian jabatan (job evaluation) adalah kegiatan yang dilakukan guna membandingkan nilai dari suatu jabatan dengan nilai dari jabatan atau jabatan-jabatan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Klasifikasi jabatan (job classification) adalah pengelompokkan jabatan-jabatan yang mempunyai nilai hampir sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses analisis jabatan dokumen-dokumen penting yang dihasilkan adalah uraian jabatan dan persyaratan jabatan. Uraian jabatan mengandung catatan-catatan yang berhubungan dengan standar pelaksanaan pekerjaan, khususnya bila analisis jabatan memakai penyelidikan waktu dan gerak. Dalam hal demikian, maka uraian jabatan berisi rincian gerak yang termasuk dalam pelaksanaan atau produksi, lamanya waktu yang diperlukan untuk tiap gerak tersebut, dan standar hasil pekerjaan untuk semua jabatan. Persyaratan jabatan lebih menitik beratkan pada syarat-syarat mengenai orang yang diperlukan untuk mengisi jabatan tesebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan dan pelatihan memberikan ikhtisar kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab-tanggung jawab dari suatu jabatan, hubungannya dengan jabatan-jabatan lain, pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan, dan kondisi kerja didalam mana jabatan itu diselesaikan. Pendidikan dan pelatihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diadakan untuk memberikan pengertian tentang tugas-tugas yang terkandung dalam tiap jabatan, tetapi juga bagaimana melaksanakan tugas-tugas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan dan pelatihan digunakan untuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mendapatkan kualitas dan kuantitas pegawai yang tepat yang diperlukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencapai tujuan organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan jabatan merupakan standar pegawai dengan mana pelamar jabatan dapat diukur. Isi persyaratan jabatan memberikan dasar untuk pembuatan prosedur seleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pelatihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian kewajiban-kewajiban dan alat-alat yang digunakan merupakan bantuan penting untuk mengembangkan isi program pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian jabatan dan rincian syarat-syarat manusia dievaluasi berdasarkan nilainya dengan tujuan akhir menentukan nilai kompensasinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Penilaian pelaksanaan pekerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Daripada menilai pegawai berdasarkan sifat-sifatnya seperti dapat dipercaya dan prakarsa, sekarang ada suatu kecenderngan untuk menetukan sasaran jabatan dan menilai pekejaan yang dilakukan berdasarkan sasaran tersebut. Dalam jenis penilaian ini, uraian jabatan adalah berguna untuk merumuskan bidang-bidang di dalam mana sasaran jabatan ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Promosi dan Pemindahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi jabatan membantu dalam merencanakan saluran-saluran promosi dan dalam mewujudkan garis-garis pemindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Organisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi jabatan yang diperoleh melalui analisis jabatan sering mengungkapkan hal-hal yang tidak baik dipandang dari sudut faktor-faktor yang mempengaruhi pola jabatan. Oleh karena itu proses analisis merupakan suatu jenis pemeriksaan organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Perkenalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang peseta pelatihan yang baru, uraian jabatan paling berguna untuk tujuan perkenalan. Uraian jabatan membantu pengertian tentang jabatan dan organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Penyuluhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sendirinya Informasi jabatan sangat banyak nilainya dalam penyuluhan jabatan. Penyuluhan demikian sebaiknya diadakan pada perguruan tinggi, karena banyak lulusan perguruan tinggi tersebut, tidak menyadari akan jenis-jenis jabatan yang ada. Penyuluhan juga diadakan apabila ada pegawai yang tampaknya tidak sesuai dengan posisinya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Hubungan ketenagakerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian jabatan merupakan standar fungsi. Apabila pegawai berusaha menambah atau mengurangi kewajiban - kewajiban yang terdapat di&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalamnya, maka ini berarti bahwa ia tidak menaati standar. Sering timbul perdebatan dan dokumen tertulis tentang jabatan standar adalah berharga untuk memecahkan perdebatan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Perencanan kembali jabatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila majikan ingin menyesuaikan diri dengan suatu kelompok tertentu, misalnya dengan pegawai-pegawai cacat fisik, maka biasanya ia harus mengubah isi jabatan tertentu. Analisi jabatan memberikan informasi yang akan memudahkan perubahan jabatan-jabatan tersebut diisi oleh orang-orang yang mempunyai ciri-ciri khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi analisis jabatan mempunyai peranan yang penting sekali dalam perencanaan sumber daya manusia. Para perencanaan-peencanaan sumber daya manusia menggunakan data analisis jabatan dalam membandingkan kecakapan dari para pegawai yang diperlukan dengan kecakapan yang sesungguhnya ada untuk mengisi suatu jabatan tertentu dalam organisasi sampai tingkat dimana kecakapan yang sesungguhnya sudah tidak sesuai lagi dengan kecakapan yang dibutuhkan. Sehingga organisasi bisa mengambil beberapa tindakan untuk mengurangi ketidak sesuaian tesebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PT. Sumatera prima Fibreboard adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang produksi Medium Density Fibreboard (MDF) yang berlokasi di desa Tanjung Seteko KM.28 Inderalaya Ogan Ilir. Pada tahun 1999 terjadi reorganisasi yang melakukan banyak jabatan yang kosong. Dalam penempatan pegawai untuk mengisi jabatan yang kosong tersebut tidak tesebut tidak didasari pada pendidikan dan pelatihan karyawan akan tetapi berdasarkan pengangkatan oleh pimpinan secara langsung yang tentunya lebih bersifat subyektif. Dari penelitian awal yang penulis lakukan, hal tersebut menyebabkan produktifitas sulit untuk ditingkatkan dan cenderung menurun.Hal ini di sebabkan oleh ketidak sesuaian antara syarat-syarat jabatan dengan kualifikasi orang-orang yang menangani pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak buruk lainnya yang disebabkan oleh hal tersebut adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Tingkat kemangkiran yang semakinmeningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Turunnya motivasi dalam bekerja bagi sebagian karyawan yang memegang jabatan tidak sesuai dengan kemampuannya sehingga proses produksi mengalami hambatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan latar belakang permasalahan seperti diuraikan diatas maka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KARYAWAN TERHADAP PENINGKATAN KINERJA KARYAWAN PADA PT. SUMATERA PRIMA FIBREBOARD BULAN APRIL 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. RUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa permasalahan pada PT. Sumatera Prima Fibreboard antara lain sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apakah ada hubungan pendidikan dan pelatihan karyawan secara simultan terhadap peningkatan kinerja karyawan PT. Sumatera Prima Fibreboard ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah ada hubungan pendidikan karyawan secara parsial terhadap peningkatan kinerja karyawan PT. Sumatera fibreboard ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Apakah ada hubungan pelatihan karyawan secara parsial terhadap peningkatan kinerja karyawan PT. Sumatera Prima Fibreboard ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. TUJUAN PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3.1 Tujuan Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui hubungan pendidikan dan pelatihan karyawan secara simultan terhadap peningkatan kinerja karyawan pada PT. Sumatera Prima Fibreboard Inderalaya Ogan ilir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3.2 Tujuan khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Diketahuinya hubungan pendidikan karyawan secara parsial terhadap peningkatan kinerja karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diketahuinya hubungan pelatihan kayawan secara parsial terhadap peningkatan kinerja karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4. MANFAAT PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun manfaat penelitian ini sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bagi Peneliti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bidang pendidikan dan pelatihan karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagi PT. Sumatera Prima Fibreboard&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat memberikan informasi kepada pimpinan perusahaan yang bersangkutan guna melakukan perubahan dan pebaikan dalam melaksanakan pendidikan dan pelatihan karyawan di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagi Universitas Kader Bangsa Palembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat digunakan sebagai acuan dan perbandingan untuk melakukan penelitian sejenis dalam rangka mendapatkan hasil yang lebih baik di masa yang akan datang.&lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-4461741381420551384?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/4461741381420551384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/4461741381420551384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/hubungan-pendidikan-dan-pelatihan_15.html' title='HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KARYAWAN TERHADAP PENINGKATAN KINERJA KARYAWAN PADA PT. SUMATERA PRIMA FIBREBOARD BULAN APRIL 2007'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-5267487683971404728</id><published>2010-07-15T00:13:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:14:32.110+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN TELEPON SELULER</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi informasi dan globalisasi yang begitu pesat, berdampak semakin tingginya persaingan memperebutkan pangsa pasar pada dunia usaha saat ini. Perusahaan yang ingin berhasil dalam persaingan pada era millinium harus memiliki strategi perusahaan yang dapat memahami perilaku konsumen. Perusahaan yang baik adalah memahami betul siapa konsumennya dan bagaimana mereka berperilaku.&lt;span class="fullpost"&gt; Pemahaman mengenai siapa konsumennya akan menuntun para pengusaha kepada keberhasilan memenangkan persaingan dunia usaha yang telah melampaui batas negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia teknologi informasi memang selalu menarik untuk diamati, terutama yang berkaitan dengan telekomunikasi. Ini ditandai dengan perkembangan internet, kemudian disusul dengan teknologi telepon seluler yang begitu cepat dan canggih sehingga setiap orang tertarik untuk memiliki. Sekarang ini setiap orang tidak hanya memiliki suatu produk karena fungsinya saja, tetapi juga rasa bangga dan pengakuan yang didapatkan dari memiliki produk tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi dalam telepon seluler merupakan salah satu daya tarik untuk menarik perhatian konsumen untuk membeli. Desain atau model unik serta teknologi yang digunakan seperti kamera, bunyi panggilan serta fasilitas yang dapat berinternet merupakan daya tarik untuk mempengaruhi perilaku konsumen. Seperti yang dilakukan oleh perusahaan telepon seluler NOKIA yang memiliki keunggulan dalam hal desain/model dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya seperti MOTOROLA, ERICCSON (kemudian merger dengan SONY menjadi SONY ERICCSON), SAMSUNG dan SIEMENS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain yang beda dan unik tetapi tidak lagi di monopoli oleh NOKIA tetapi perusahaan Korea Selatan SAMSUNG perusahaan ini sudah mulai memasuki pangsa pasar telepon seluler setelah perusahaan ini telah memasuki pangsa pasar komputer hingga mesin cuci. Desain SAMSUNG dikembangkan oleh peneliti-penelitinya dengan desain yang lebih canggih sehingga menghasilkan telepon seluler yang gaya dan lucu yang dikemas untuk golongan anak muda. Bahkan sekarang SAMSUNG mengembangkan desain ”generik” yang dapat menggambarkan identitas SAMSUNG sehingga konsumen melihat telepon seluler, mereka akan berkata ”oh, itu pasti SAMSUNG”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan telepon seluler dengan teknologi informasi yang digunakan serta desain dan model telepon seluler, ditandai dengan peningkatan penjualan setiap tahunnya. Di mana tahun 2004 telepon seluler telah dilempar ke pasar sebesar 194,3 juta unit telepon seluler. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 18,1 persen dibandingkan pada kuartal ketiga tahun 2004 dan naik 24 persen dari tahun 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaingan sangat ketat diantara telepon seluler dimana NOKIA meraih pangsa pasar telepon seluler sebesar 30 persen, kemudian MOTOROLA dengan pangsa pasar 16,4 persen, dimana mengirimkan 10 juta ponsel ke pasaran, dan produsen asal Korea Selatan SAMSUNG berusaha mengejar dengan 10,9 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringkat Telepon Seluler di Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERINGKAT TELEPON SELULER DUNIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VENDOR&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANGSA PASAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nokia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motorola&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samsung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siemens&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lainnya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16,4 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10,9 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7,2 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0,3 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35,2 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : WWW. IDC.COM Tahun 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan penjualan telepon seluler yang cukup pesat, dapat dilihat strategi pemasaran perusahaan-perusahaan telepon seluler dalam mengubah perilaku untuk membeli telepon seluler mereka. Salah satu dengan melakukan promosi dengan iklan. Karena menurut seorang biro iklan mengatakan bahwa pengaruh iklan terhadap peningkatan penjualan cukup besar, walaupun belum ada suatu riset yang mengatakan bahwa seberapa persen pengaruh iklan terhadap peningkatan penjualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pemimpin pasar telepon seluler dunia NOKIA dalam strategi pemasarannya selain menggunakan iklan sebagai promosi, salah satunya yaitu dengan mengamati pola perilaku konsumen dan menarik konsumen atau memberikan kemudahan dan tawaran kepada konsumennya dengan membentuk suatu komunitas yang disebut CLUB NOKIA. Komunitas ini dijadikan sebagai senjata oleh NOKIA untuk mempertahankan dan meningkatkan penjualannya, dimana sesama pengguna NOKIA dapat saling berinteraksi dan tentunya memperoleh sesuatu yang tidak bisa didapatkan oleh konsumen pengguna telepon seluler merek lain dan bisa juga menarik konsumen untuk memiliki telepon seluler NOKIA dengan informasi dari komunitas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan telepon seluler yang memasarkan produknya dengan persaingan yang semakin sulit, sudah seharusnya memperhatikan perilaku dari target konsumen seperti yang dilakukan NOKIA seperti, gaya hidup, tingkat harga, kualitas produk, model dan lain sebagainya. Yang penting bagaimana perusahaan bisa memposisikan produk mereka di mata konsumen dan harus bisa dibedakan dengan produk lain yang sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan konsep pemasaran mutakhir konsumen ditempatkan sebagai sentral perhatian bagi perusahaan. Adu dua alasan mengapa konsumen sebagai titik sentral perhatian pemasaran. Pertama, sebagai titik sentral konsumen, perusahaan juga harus mempelajari apa yang dibutuhkan dan diinginkan konsumen merupakan hal yang sangat penting. Untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan konsumen, maka aspek-aspek yang mempengaruhi konsumen secara individu seperti persepsi, cara memperoleh informasi, sikap, demografi, kepribadian dan gaya hidup konsumen perlu dianalisis. Selain juga dianalisis aspek lingkungan seperti budaya, kelas sosial, proses komunikasi, keluarga dll yang semuanya bisa mempengaruhi perilaku konsumen. Kedua, bagaimana perusahaan dapat mengomunikasikan produk kepada konsumen, sehingga konsumen mengetahui tentang produk tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami perilaku konsumen harus selalu dilakukan sesuai dengan perkembangan teknologi informasi, tanpa kerangka yang jelas mereka tidak akan memberikan informasi yang akurat untuk membuat strategi pemasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan dalam memasarkan produknya kepada konsumen dengan menggunakan stimulus-stilmulus pemasaran seperti iklan dan sejenisnya seperti promosi, hubungan masyarakat, publisitas, penjualan pribadi dan pemasaran langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan merupakan salah satu sarana untuk mempengaruhi massa juga merupakan alat komunikasi antara perusahaan dengan konsumen, konsumen perlu mengetahui apa saja keunggulan produknya dengan produk yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses mengomunikasikan produk ke pasar konsumen, sangat perlu diperhatikan oleh perusahaan yaitu slogan dan tema yang harus disampaikan seperti slogan iklan Nokia Connecting People. Persoalan ini penting karena berkaitan dengan perusahaan yang memposisikan produknya di mata konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan iklan yang menggunakan slogan atau tema tertentu untuk mempersuasi konsumen. Pesan yang efektif dalam suatu iklan dan memberikan satu taraf ingatan terhadap nama produk atau merek. Jika seseorang mengatakan ”kesan pertama begitu menggoda” selanjutnya akan mengubah perilaku konsumen untuk membeli produk tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan juga biasanya memasang tokoh yang berkompeten terhadap barang yang diiklankan seperti seorang artis. Misalnya seorang artis yang menjadi idola konsumen memakai produk yang diiklankan. Ketika iklan itu disampaikan kepada masyarakat atau konsumen, maka akan banyak konsumen langsung terpengaruh dan membeli produk itu dengan harapan produk yang dipakai oleh konsumen sama dengan tokoh atau artis yang menjadi idola konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembuatan iklan, produsen bertindak sebagai sosok yang memiliki kekuatan yang luas biasa untuk menyuntikkan pesan-pesan yang terkadang penuh dengan tipuan dengan tujuan mendapatkan konsumen yang sebesar-banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan yang masuk ke dalam diri konsumen hanya menggunakan satu langkah yaitu dengan menggunakan media langsung ke konsumen. Iklan yang dipasang di media, baik media cetak atau elektronik akan dengan mudah membius konsumen, jika konsumen lengah maka akan mudah terkecoh oleh iklan yang dipasang, kemudian secara langsung mengubah perilakunya sesuai dengan yang diharapkan oleh pengiklan dan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan sebagai bagian dari promotion mix telah menjadi bagian telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di dunia. Dimana sejak kita bangun tidur telah diterpa produk iklan. Iklan memang sudah menjadi hal yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan yang disampaikan melalui media memiliki kekuatan yang maha besar untuk membentuk perilaku, pandangan atau tindakan dari khalayaknya. Maka tak jarang produk yang laku di pasaran adalah produk yang kemasan iklannya bagus, slogannya mudah diingat, model iklannya terkenal, berhasil mempersuasi penonton dan intesitas yang cukup tinggi, sehingga masyarakat secara tidak sadar menelan mentah-mentah isi dari iklan tersebut tanpa mempertimbangan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periklanan diakui atau tidak sekarang telah menjadi bagian dari sebuah sistem perekonomian. Karena perusahaan yang ingin mengiklankan produknya menggunakan biro iklan untuk membuat iklan dan media sebagai penyampai pesan iklan seperti surat kabar, televisi dan sebagainya. Sehingga semakin terbukanya pekerjaan yang lahir dari fenomena dari iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan dari suatu perekonomian secara nasional banyak ditentukan oleh kegiatan-kegiatan periklanan seperti negara tetangga kita Singapura, dimana kegiatan periklanan dalam menunjang usaha penjualan yang menentukan kelangsungan hidup produksi pabrik-pabrik, terciptanya lapangan kerja, serta adanya hasil yang menguntungkan dari uang yang diinvestasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya periklanan adalah bagian dari kehidupan industri modern dan hanya bisa ditemukan di negara-negara maju atau negara yang tengah mengalami perkembangan ekonomi secara pesat. Kehidupan dunia modern kita saat ini sangat tergantung pada iklan, tanpa iklan produsen dan distributornya tidak akan dapat menjual barangnya, sedangkan disisi lain para pembeli tidak akan memiliki informasi yang memadai mengenai produk barang atau jasa yang tersedia di pasar. Jika itu terjadi maka dunia industri dan perkonomian modern pasti akan lumpuh. Jika sebuah perusahaan mempertahankan tingkat keuntungan, maka ia harus melangsungkan kegiatan-kegiatan periklanan secara memadai dan terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi periklanan di Indonesia belum lama berkembang, namun secara signifikan sistem tersebut telah memberikan pengaruh terhadap perekonomian nasional baik secara makro dan mikro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tataran perekonomian secara makro keberadaan periklanan sangat penting bagi denyut perekonomian bangsa ini. Dengan adanya kegiatan komunikasi periklanan yang melibatkan dana sangat besar, periklanan ikut menggerakkan roda perekonomian. Dan secara bersamaan ia menjadi sistem tersendiri yang memiliki keterkaitan dan pengaruh terhadap sistem-sistem yang lain. Sedangkan dalam tataran mikro, iklan membantu kegiatan perusahaan khususnya dalam bidang pemasaran. Sedangkan dari segi konsumen, melalui iklan mereka mendapat informasi mengenai suatu produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fenomena-fenomena di atas penjualan telepon seluler yang begitu pesat, maka penulis mencoba mengungkapkan pengaruh media massa terutama iklan media cetak yang mempengaruhi perilaku konsumen serta faktor-faktor lain yang mempengaruhi dalam pembelian telepon seluler di Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli telepon seluler dengan memilih merek tertentu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah iklan yang menggunakan media cetak (surat kabar dan majalah) efektif untuk mengubah perilaku konsumen dalam pembelian telepon seluler?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli telepon seluler dengan merek tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk menganalisis iklan yang menggunakan media cetak (majalah dan surat kabar) untuk memgubah perilaku dalam pembelian telepon seluler.&lt;br /&gt;D. Kegunaan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menambah pengetahuan dan wawasan kelimuan tentang media khususnya tentang iklan media cetak dan perilaku konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk memperkaya khasanah penelitian yang ada serta dapat digunakan sebagai perbandingan penelitian berikutnya. &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-5267487683971404728?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/5267487683971404728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/5267487683971404728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/faktor-faktor-yang-mempengaruhi_3756.html' title='FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN TELEPON SELULER'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-1139165159748647946</id><published>2010-07-15T00:11:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:13:42.792+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Komunikasi'/><title type='text'>ANALISIS KONEKSITAS KOMUNIKASI ORGANISASI</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan Nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan, berdasarkan kemampuan nasional dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperhatikan tantangan perkembangan global (Tap. MPR No. IV/MPR/1999).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengimplementasikan pembangunan nasional senantiasa mengacu pada kepribadian bangsa dan nilai luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, maju, serta kokoh, baik kekuatan moral maupun etika bangsa Indonesia. Hal ini sesuai dengan tujuan nasional, sebagaimana yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan di atas merupakan cerminan bahwa pada dasarnya tujuan pembangunan nasional adalah untuk mewujudkan kehidupan masyarakat Indonesia yang sejahtera, lahiriah maupun batiniah. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia merupakan pembangunan yang berkesinambungan, yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar pembangunan yang dilaksanakan lebih terarah dan memberikan hasil dan daya guna yang efektif bagi kehidupan seluruh bangsa Indonesia maka pembangunan yang dilaksanakan mengacu pada perencanaan yang terprogram secara bertahap dengan memperhatikan perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu pemerintah merancang suatu perencanaan pembangunan yang tersusun dalam suatu Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun), dan mulai Repelita VII diuraikan dalam suatu Repeta (Rencana Pembangunan Tahunan), yang memuat uraian kebijakan secara rinci dan terukur tentang beberapa Propenas (Program Pembangunan Nasional). Rancangan APBN tahun 2001 adalah Repeta pertama dari pelaksanaan Propenas yang merupakan penjabaran GBHN 1999-2004, di samping merupakan tahun pertama pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak repelita pertama (tahun 1969) hingga repelita sekarang (tahun1999) telah terealisasi beberapa program pembangunan yang hasilnya telah menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat, baik aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya. Meskipun realisasi pembangunan telah menyentuh dan dinikmati oleh hampir seluruh masyarakat, namun tidak berarti terjadi secara demokratis. Dengan kata lain, hasil-hasil pembangunan tersebut belum mampu menjangkau pemerataan kehidupan seluruh masyarakat. Masih banyak terjadi ketimpangan atau kesenjangan pembangunan maupun hasil-hasilnya, baik antara pusat dan daerah atau dalam lingkup yang luas adalah kesenjangan antara Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan Kawasan Barat Indonesia (KBI), khususnya pada sektor ekonomi. Salah satu kesenjangan di sektor ekonomi tersebut diantaranya adalah tidak meratanya kekuatan ekonomi di setiap wilayah, seperti tidak meratanya tingkat pendapatan (per kapita) penduduk, tingkat kemiskinan dan kemakmuran, mekanisme pasar dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari kesenjangan tersebut telah menimbulkan beberapa gejolak dalam bentuk tuntutan adanya pemerataan pembangunan maupun hasil-hasilnya, dari dan untuk setiap wilayah di Indonesia. Untuk mengurangi bahkan menghilangkan kesenjangan tersebut pemerintah telah menempuh beberapa kebijaksanaan pembangunan diantaranya dengan memberlakukan Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah yang pada prinsipnya merupakan pelimpahan wewenang pusat ke daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus pada pengembangan Kawasan Timur Indonesia, pemerintah telah menempuh pula suatu kebijaksanaan pembangunan sektor ekonomi untuk setiap kawasan andalan di setiap propinsi KTI, yakni melalui Keppres Nomor 8 tahun 1996 dengan menetapkan 13 Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET). Aktualisasi dari pelaksanaan Keppres tersebut adalah dengan pembentukan suatu lembaga khusus Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia (DP-KTI), dan lembaga ini telah menetapkan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) untuk wilayah andalan Propinsi Sulawesi Selatan, yakni Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare yang meliputi lima wilayah, yakni Kotamadya Parepare, Kabupaten Barru, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidrap, dan Kabupaten Enrekang. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare berpusat di Kotamadya Parepare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangan utama pembentukan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare adalah dalam rangka memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan, khususnya pada sektor ekonomi bagi daerah hinterland (sekitarnya) kelima Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare tersebut dengan memberikan peluang bagi para investor, baik investor asing maupun investor luar negeri untuk berperan aktif secara lebih luas di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Hal ini ditegaskan dalam Keppres Nomor 164 Tahun 1998 tentang Penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di Kawasan timur Indonesia, khususnya Propinsi Sulawesi Selatan dipandang perlu menetapkan beberapa wilayah tertentu sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu yang berpusat di Kotamadya Parepare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian pembentukan KAPET Parepare tersebut merupakan salah satu wujud nyata tindakan antisipatif pemerintah dalam rangka memasuki dan menghadapi era globalisasi yang penuh dengan persaingan yang ketat dan semakin kompetitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ditinjau dari pembentukannya, KAPET Parepare hadir satu tahun lebih dahulu dibanding pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, dan bagi KTI, khususnya Propinsi Sulawesi Selatan, kehadiran KAPET Parepare memiliki arti yang lebih penting karena sifatnya yang lebih “khusus” dan “focus” terhadap upaya memacu dan mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan. Namun di lain pihak pemberlakuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 diharapkan dapat berperan sebagai instrumen pendukung operasional kinerja dan visi KAPET Parepare sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi, yaitu terwujudnya wilayah KAPET Parepare sebagai kawasan pusat pertumbuhan ekonomi yang dapat menggerakkan perekonomian wilayah melalui percepatan pembangunan ekonomi yang didasarkan atas potensi sektor/komoditas unggulan serta keterkaitan antar wilayah yang berbasis kemandirian lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kehadirannya, kinerja KAPET Parepare telah melakukan upaya-upaya pendayagunaan potensi daerah, namun sampai saat ini pertumbuhan ekonomi belum mampu mencapai angka optimal. Menurut penulis, hal tersebut disamping disebabkan oleh keterbatasan kemampuan daerah itu sendiri, khususnya dalam hal working capital (permodalan kerja), disebabkan pula oleh kurang terjalinnya komunikasi atau hubungan kerja organisasi antar kelima wilayah KAPET Parepare tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut menunjukkan bahwa konsekuensi dari upaya percepatan pembangunan ekonomi kawasan tersebut diperlukan adanya working interaction (interaksi kerja) dalam konteks working connection (hubungan kerja) organisasi yang terkoordinasi secara terbuka dan profesional antar kelima wilayah KAPET Parepare tersebut, diantaranya dalam bentuk interconnection (koneksitas) kebijakan-kebijakan organisasi, seperti koordinasi, sosialisasi, sinergis, dan evaluasi pelaksanaan program maupun hasilnya bagi kelima wilayah KAPET Parepare tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terjalinnya interconnection (koneksitas) antar kelima wilayah KAPET Parepare dalam bentuk interaksi komunikasi organisasi dalam kapasitasnya sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi diharapkan dapat memperlancar pelaksanaan percepatan pembangunan ekonomi secara terpadu, efektif dan efisien di setiap daerah hinterlandnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini, penulis membatasi diri pada koneksitas dalam konteks komunikasi organisasi antar kelima wilayah KAPET Parepare tersebut, yang berkaitan dengan usaha-usaha yang mengarah pada percepatan pembangunan ekonomi untuk setiap daerah-daerah hinterlandnya dalam Propinsi Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari pemikiran di atas, maka penulis berusaha mengkaji lebih cermat tentang koneksitas antar kelima wilayah KAPET Parepare tersebut dalam kaitannya dengan usaha percepatan pembangunan ekonomi masing-masing daerah hinterlandnya serta faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya, dengan melakukan penelitian yang berjudul:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Koneksitas Komunikasi Organisasi Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Parepare terhadap Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan Hinterland.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan fenomena-fenomena yang terjadi, sebagaimana yang dikemukakan pada latar belakang masalah, maka melahirkan beberapa butir permasalahan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bagaimana koneksitas komunikasi organisasi Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) Parepare ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagaimana percepatan pembangunan ekonomi daerah hinterland Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sejauh mana pengaruh dan hubungan koneksitas komunikasi organisasi Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare terhadap percepatan pembangunan ekonomi daerah hinterlandnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan penelitian ini pada dasarnya adalah untuk menjawab rumusan masalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Untuk mengkaji koneksitas komunikasi organisasi Kawasan Pengembangan Ekonomi Kerpadu (KAPET) Parepare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk mengkaji percepatan pembangunan ekonomi daerah hinterland Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk mengkaji pengaruh dan hubungan koneksitas komunikasi organisasi Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare terhadap percepatan pembangunan ekonomi daerah hinterlandnya.&lt;br /&gt;Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Teoritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sebagai pengayaan dalam menunjang pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya pada bidang komunikasi organisasi dan kaitannya dengan pembangunan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sebagai sumbangsih informasi dan instrumen rujukan ilmiah bagi pihak-pihak berkepentingan, khususnya insan akademisi yang ingin atau sedang melakukan penelitian/pengkajian tentang masalah yang serupa dengan penelitian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Praktis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sebagai sumbangsih informasi dan pemikiran bagi para pengambil kebijakan/keputusan, khususnya bagi para Pimpinan/Badan Pengelola (BP) Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare dalam rangka meningkatkan koneksitas dan kinerja para karyawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sebagai sumbangsih informasi dan perbandingan bagi pemerintah propinsi Sulawesi Selatan maupun pemerintah daerah masing-masing wilayah KAPET Parepare dalam mengevaluasi dan mengantisipasi beberapa kendala perencanaan, program dan pelaksanaan kinerja KAPET Parepare sehingga tercipta iklim kerja yang kondusif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan dapat menunjang percepatan pembangunan ekonomi untuk setiap daerah hinterland kelima wilayah KAPET Parepare. &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-1139165159748647946?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/1139165159748647946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/1139165159748647946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/analisis-koneksitas-komunikasi.html' title='ANALISIS KONEKSITAS KOMUNIKASI ORGANISASI'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-3903983029006749804</id><published>2010-07-15T00:10:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:11:22.790+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Akuntansi'/><title type='text'>PERSEPSI MANAJEMEN BADAN USAHA MILIK NEGARADAERAH DAN BADAN USAHA MILIK SWASTA DI JAWA TIMUR TERHADAP MANAGEMENT AUDIT</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Latar Belakang Permasalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manajer yang mengelola suatu perusahaan, baik itu perusahaan milik negara atau daerah maupun perusahaan swasta berkeinginan agar pengelolaan perusahaan berlangsung dengan tingkat efisiensi, efektifitas dan produktifitas yang setinggi mungkin. Hal tersebut dipicu oleh adanya tuntutan dari pihak-pihak yang berkepentingan agar perusahaan dikelola sedemikian rupa sehingga terhindar dari pemborosan dan bisa mencapai tujuan yang diharapkan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap perusahaan yang bersifat profit oriented bertujuan untuk memperoleh laba yang maksimal dalam menjalankan usahanya, sedangkan perusahaan menghadapi berbagai kendala seperti kelangkaan input berupa dana, daya, sarana dan prasarana sehingga tidak pernah ada alasan apapun yang membenarkan adanya inefisiensi dalam pengelolaan input tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya, seringkali tujuan perusahaan untuk mencapai produktifitas maksimal tersebut terhambat oleh praktik-praktik kecurangan (fraud) yang terjadi didalam perusahaan. Dari sudut pandang akuntansi dan audit, kecurangan adalah penggambaran yang salah dari fakta material dalam buku besar atau laporan keuangan. Pernyataan yang salah dapat ditujukan pada pihak luar organisasi seperti pemegang saham atau kreditor, atau pada organisasi itu sendiri dengan cara menutupi atau menyamarkan penggelapan uang, ketidakcakapan, penerapan dana yang salah atau pencurian atau penggunaan aktiva organisasi yang tidak tepat oleh petugas, pegawai dan agen. Kecurangan dapat juga ditujukan pada organisasi oleh pihak luar, misalnya lewat penagihan yang berlebihan, dua kali penagihan, pengiriman material dengan kualitas yang tidak sesuai, pernyataan yang salah mengenai mutu dan nilai barang yang dibeli, atau besarnya kredit pelanggan. The Institute of Internal Auditor di Amerika mendefinisikan kecurangan mencakup suatu ketidakberesan dan tindakan ilegal yang bercirikan penipuan yang disengaja. Ia dapat dilakukan untuk manfaat dan atau kerugian organisasi oleh orang diluar atau dalam organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini menitikberatkan pada kecurangan yang dilakukan oleh pihak didalam perusahaan, baik itu karyawan maupun manajemen. Perusahaan kecil maupun perusahaan besar, milik negara atau daerah maupun swasta tidak kebal terhadap pencurian dan kecurangan. Akan tetapi, seringkali pemilik perusahaan-perusahaan yang tidak begitu besar tidak percaya bahwa hal itu bisa terjadi kepada mereka, padahal perusahaan tersebut juga rentan terhadap adanya praktik pencurian dan kecurangan. Perusahaan-perusahaan dengan skala yang tidak begitu besar biasanya mempunyai karyawan yang tidak terlalu banyak, sehingga masih kurang dalam hal pemisahan tugas, pengendalian akuntansi juga masih lemah dan biasanya ada kepercayaan yang besar dari pemilik kepada karyawannya. Orang-orang yang melakukan kecurangan dalam perusahaan biasanya tidak tampak seperti seorang pencuri. Mereka biasanya adalah karyawan-karyawan lama yang telah memperoleh posisi dan kepercayaan. Bahkan, pada perusahaan dengan sistem dan prosedur yang baik sekalipun, praktik kecurangan ini bisa terjadi karena faktor-faktor manusiawi dimana setiap manusia pada kondisi tertentu berpotensi untuk berbuat menyimpang, disamping karena faktor-faktor yang berasal dari perusahaan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas semua fungsi di perusahaan berpengaruh besar terhadap keberhasilan perusahaan dan salah satunya adalah fungsi pembelian. Fungsi pembelian merupakan fungsi yang dianggap sangat penting karena mempengaruhi berbagai jenis pelaksanaan pada bagian-bagian yang ada dalam perusahaan. Dalam berbagai perusahaan, fungsi pembelian merupakan permulaan dari proses usaha. Dalam suatu proses produksi perusahaan memerlukan bahan mentah dan atau bahan baku. Pengalaman banyak perusahaan menunjukkan bahwa biaya untuk menghasilkan suatu produk mungkin mencapai sekitar lima puluh persen dari harga jual produk. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi pembelian dapat menjadi sumber pemborosan apabila tidak diselenggarakan dengan baik dan sebaliknya merupakan sumber penghematan yang akan memperbesar laba perusahaan apabila dilakukan dengan teliti dan cermat. Fungsi pembelian juga meliputi semua pengadaan barang yang dibutuhkan oleh perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siagian (2001:209) mengatakan bahwa jika diterima pendapat bahwa fungsi pembelian merupakan salah satu fungsi terpenting dalam kehidupan suatu perusahaan dan bahwa seluruh aspek kegiatan pembelian harus terselenggara dengan tingkat efisiensi yang setinggi mungkin, berarti harus pula diterima pandangan bahwa audit fungsi pembelian wajar dan tepat dijadikan salah satu sasaran audit. Pada intinya dapat dikatakan bahwa penyelenggaraan proses audit dengan menjadikan fungsi pembelian sebagai sasarannya berorientasi pada pencarian dan penemuan fakta dan informasi tentang seluruh kegiatan pembelian. Informasi yang terungkap akan digunakan oleh manajemen puncak sebagai masukan untuk pengambilan keputusan, bukan hanya tentang penyelenggaraan fungsi pembelian di masa yang akan datang melainkan juga pada berbagai kegiatan lain yang terjadi karena dilakukannya pembelian tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecurangan yang terjadi pada fungsi pembelian akan mengakibatkan perusahaan tidak bisa mencapai tujuan perusahaan dengan efektif dan efisien sehingga bisa merugikan perusahaan dalam jumlah besar. Contoh-contoh kecurangan yang mungkin dilakukan oleh bagian pembelian adalah membayar tagihan palsu yang dibuat sendiri, memperbesar jumlah faktur pemasok, membebankan pembelian pribadi pada perusahaan, dan yang paling sering terjadi adalah mengijinkan pemberian harga khusus atau hak khusus pada konsumen, atau memprioritaskan pemasok tertentu dengan tujuan untuk mendapatkan uang suap (kickback). Kasus-kasus yang terungkap beberapa waktu ini, memperlihatkan bahwa sebagian besar kecurangan terjadi pada bagian logistik atau pengadaan barang. Kasus-kasus yang terungkap tersebut sebagian besar berasal dari proyek-proyek pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dimana terjadi over-invoice/over-price untuk manipulasi harga yang dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan pribadi bagi pihak-pihak pelaksana transaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sejak lama audit digunakan sebagai instrumen untuk mengetahui tingkat keberhasilan usaha. Pada era Revolusi Industri, seiring dengan perkembangan industri manufaktur, para pemilik perusahaan mulai menggunakan jasa manajemen dari pihak luar untuk menjalankan perusahaan. Dengan adanya pemisahan antara pemilik dan manajemen tersebut, maka pemeriksaan oleh auditor lebih menekankan pada bagaimana menjaga pemilik perusahaan dari bahaya kecurangan yang kemungkinan dilakukan oleh manajer dan karyawan. Pada awal pertengahan abad ke-20, tujuan dari pekerjaan audit mulai bergeser dari untuk mendeteksi kecurangan menjadi untuk menentukan apakah laporan keuangan sudah memberikan gambaran yang lengkap dan wajar mengenai posisi keuangan, hasil operasi dan perubahan posisi keuangan. Pergeseran ini sebagai respon terhadap peningkatan jumlah pemegang saham dan entitas perusahaan yang menjadi semakin besar. Profesi akuntansi juga merasakan bahwa audit yang dibuat untuk menemukan kecurangan terlalu banyak memakan biaya, sementara saat itu sudah terjadi peningkatan dalam hal penggunaan sampling dan pengendalian internal untuk pelaksanaan pekerjaan audit. Pengendalian internal yang baik dan surety bonds dianggap lebih baik sebagai alat proteksi kecurangan dibandingkan audit. Namun, pada awal tahun 1960an pendeteksian terhadap kecurangan yang material memperoleh porsi yang besar dalam proses audit. Hal ini antara lain disebabkan karena tekanan kongres untuk tanggung jawab yang lebih besar terhadap kecurangan maaterial, adanya cukup banyak perkara hukum yang disebabkan kecurangan manajemen yang tidak terdeteksi oleh auditor independen dan keyakinan akuntan publik bahwa audit diharapkan untuk bisa mendeteksi adanya kecurangan yang material. Selanjutnya, pada awal 1990an terjadi peningkatan permintaan atestasi oleh Akuntan Publik terhadap asersi manajemen mengenai ketaatan manajemen terhadap hukum dan peraturan serta efektivitas dari pengendalian internal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan (audit) manajemen merupakan suatu pengujian yang independen atas bukti yang obyektif, yang dilakukan oleh personil yang kompeten, untuk menentukan apakah manajemen mampu membantu perusahaan mencapai kebijakan dan tujuannya, memenuhi kewajiban kontraktual dan legal, mempunyai sistem manajemen yang diintegrasikan untuk melakukannya sedemikian dan secara efektif mengimplementasikan sistem tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan manajemen (management audit) berbeda dengan pemeriksaan keuangan, sedangkan dalam hal-hal tertentu pemeriksaan ini sama dengan pendekatan pemeriksaan operasional (Hamilton 1986:1). Tujuan utama pemeriksaan keuangan adalah untuk membuktikan kewajaran keadaan keuangan perusahaan selama periode tertentu, sedangkan pemeriksaan operasional dimaksudkan untuk mengevaluasi sumber-sumber yang dapat melengkapi data keuangan dan untuk menentukan apakah transaksi-transaksi utama sudah dikendalikan dengan tepat sehingga mereka menyuplai data yang akurat dan dapat dipercaya. Tujuan dari pemeriksaan manajemen secara keseluruhan adalah untuk mengevaluasi keberhasilan dan efisiensi pada perusahaan, yang lingkupnya bisa juga dibatasi pada suatu bagian tertentu atau fungsi dari organisasi. Pemeriksaan manajemen menurut Hamilton juga bisa digunakan untuk mengenal tanda-tanda bahaya bagi perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan organisasi mempunyai alat untuk melakukan pemeriksaan keuangan oleh kelompok audit internal, akan tetapi masih sedikit perusahaan yang melakukan pemeriksaan manajemen. Pemeriksaan manajemen berpandangan kedepan untuk melihat seberapa baik manajemen mencapai tujuannya dan untuk melihat kesulitan operasional sebelum fakta. Pemeriksaan manajemen yang dilakukan secara periodik dapat menunjukkan masalah ketika masalah tersebut masih berskala kecil. Pemeriksaan manajemen juga merupakan alat manajemen untuk membantu organisasi dalam mencapai tujuannya. Dengan pemeriksaan manajemen maka hambatan-hambatan terhadap pencapaian tujuan perusahaan dan pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah organisasi selama ini sudah diselenggarakan dan dikelola secara efisien dan efektif dapat terjawab, sehingga apabila ditemukan hal-hal yang sekiranya tidak sesuai dapat segera dilakukan tindakan korektif dan rekomendasi untuk pemecahan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab utama terhadap kecurangan yang terjadi didalam perusahaan adalah pada manajemen perusahaan. Lewat pemeriksaan manajemen, dilakukan evaluasi terhadap sistem pengendalian internal yang ada untuk kemudian menentukan langkah yang diperlukan atau rekomendasi dalam mengatasi kelemahan sekaligus mencegah tindakan curang yang dilakukan baik oleh pihak intern maupun ekstern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar kecurangan biasanya ditemukan secara tidak sengaja atau kebetulan, melalui informan, atau selama audit. Apabila pemeriksaan manajemen ini dilakukan oleh seorang internal auditor, maka ia harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kecurangan dan dapat mengidentifikasi indikator kemungkinan terjadinya kecurangan. Untuk selanjutnya bukanlah tanggungjawab internal auditor untuk melakukan investigasi atau penyelidikan terhadap kecurangan tersebut, karena ada audit khusus untuk penyelidikan yang lebih mendalam terhadap kecurangan. Akan tetapi, lewat pemeriksaan manajemen yang dilakukan secara perodik sesuai dengan kebutuhan manajemen, setidaknya praktik-praktik kecurangan bisa terdeteksi lebih awal, tidak perlu menunggu kecurangan tersebut menjadi material, sehingga perlu melakukan audit khusus untuk melakukan penyelidikan terhadap kecurangan yang tentunya akan memakan banyak biaya dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini kasus-kasus yang sering terungkap mengenai kecurangan terjadi pada BUMN/BUMD dan pemeriksaan non keuangan memang lebih dikenal pada BUMN/BUMD seperti dikatakan oleh Karni (2000:7) bahwa audit khusus sudah dikenal luas dalam BUMN/BUMD maupun di lingkungan APBN/APBD. Tuntutan untuk melakukan management audit sendiri lebih banyak ditujukan kepada sektor publik, seperti yang dikatakan oleh Sjamsuddin (1995) bahwa sebagai bentuk pengendalian dan pengawasan BUMN/BUMD pada era globalisasi pemeriksaan manajemen (management audit) harus ditingkatkan, misalnya terhadap kegiatan atau segmen yang tidak mencapai sasaran atau secara potensial telah menyebabkan kerugian atau masih dapat ditingkatkan efisiensi dan efektifitasnya. Arifin (2000) juga mengungkapkan bahwa tuntutan untuk melakukan value for money audit pada sektor publik mendesak seiring dengan adanya perubahan, tatanan politik, ekonomi, serta sosial di Indonesia. Pihak Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), seperti dikutip oleh Zuhroh (2001) menyarankan kepada pemerintah agar melakukan management audit terhadap PT KAI. Menyoroti kinerja manajemen PT Pertamina, seperti yang diungkapkan oleh Widyahartono (2005), pimpinan DPR meminta laporan audit dari Departemen Keuangan tidak hanya audit finansial tapi justru sepatutnya audit manajemen secara menyeluruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal-hal yang sudah dibahas diatas penulis ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan persepsi manajemen Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Usaha Milik Swasta di Jawa Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian. Mengapa pemeriksaan manajemen dan bukan pemeriksaan keuangan? Sebab pemeriksaan keuangan lebih berfokus pada aspek-aspek keuangan khususnya pada pemberian opini akuntan publik terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan, dan lebih ditujukan kepada kepentingan pihak eksernal perusahaan. Pemeriksaan manajemen dimaksudkan untuk menilai kinerja organisasi berdasarkan efisiensi, efektifitas dan ekonomisasi. Kinerja tersebut bisa dibatasi hanya pada suatu fungsi tertentu dalam organisasi, dalam hal ini fungsi pembelian karena penulis melihat fungsi pembelian sebagai area yang rawan terhadap kecurangan yang sulit terdeteksi lewat pemeriksaan keuangan. Efektifitas yang diharapkan perusahaan bisa terhambat karena adanya praktek kecurangan. Perlu adanya deteksi terhadap adanya kecurangan yang terjadi di dalam perusahaan dan pencegahan kecurangan-kecurangan yang material agar tidak menjadi semakin besar. Sampel badan-badan usaha yang dianalisa dibatasi untuk wilayah propinsi Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Rumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang masalah, maka permasalahan yang akan dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut : “Apakah terdapat perbedaan persepsi antara manajemen Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Usaha Milik Swasta di Jawa Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini mempunyai tujuan untuk memperoleh kesimpulan tentang terdapat tidaknya perbedaan persepsi manajemen pada Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Usaha Milik Swasta di Jawa Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4. Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pembaca, sebagai informasi mengenai ada tidaknya perbedaan persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Peneliti berikutnya, sebagai referensi bahan penelitian dan bahan kajian penentuan hipotesis lainnya yang berkaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5. Sistematika Skripsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam membahas permasalahan yang ada, penulisan skripsi ini dibagi dalam beberapa bagian atau bab sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I :Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini diuraikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika skripsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II : Tinjauan Kepustakaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini diuraikan tentang teori-teori dari berbagai studi kepustakaan yang berhubungan dengan persepsi, kecurangan, fungsi pembelian, management audit, hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan, serta model analisis penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III : Metode Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini dijelaskan tentang pendekatan penelitian, bagaimana penelitian dilakukan, jenis penelitian, jenis data dan dari mana data diperoleh, ruang lingkup penelitian serta metode analisis data yang akan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV : Hasil dan Pembahasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini diuraikan analisis pembahasan dari data-data yang diperoleh dan diolah, kemudian digunakan untuk menjawab permasalahan yang telah diajukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V : Simpulan dan Saran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini akan dikemukakan simpulan dari pembahasan yang dilakukan, keterbatasan penelitian dan kemungkinan saran-saran yang diperlukan bagi penelitian selanjutnya. &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-3903983029006749804?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/3903983029006749804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/3903983029006749804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/persepsi-manajemen-badan-usaha-milik.html' title='PERSEPSI MANAJEMEN BADAN USAHA MILIK NEGARADAERAH DAN BADAN USAHA MILIK SWASTA DI JAWA TIMUR TERHADAP MANAGEMENT AUDIT'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-6536618640050415090</id><published>2010-07-15T00:09:00.001+07:00</published><updated>2010-07-15T00:10:44.096+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Akuntansi'/><title type='text'>PERANAN PERILAKU SOSIAL PT “X” SEBAGAI BENTUK PERTANGGUNGJAWABAN SOSIAL PERUSAHAAN TERHADAP LINGKUNGAN SEKITARNYA</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.1. Latar Belakang Permasalahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan sebuah perusahaan yang didukung kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, politik dan budaya membuat dunia bisnis melaju dengan cepat, dan merupakan suatu hal yang positif apabila dibarengi dengan adanya tanggung jawab perusahaan terhadap apapun yang dilakukan. Karena pada dasarnya kemajuan tersebut mengakibatkan makin maju dan kompleksnya aktivitas perusahaan yang mengarah pada keinginan perusahaan untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam menjalankan aktivitas operasionalnya. &lt;span class="fullpost"&gt;Kemudahan-kemudahan itu didapat, karena selama ini perusahaan dianggap sebagai lembaga yang dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat, antara lain membuka lapangan pekerjaan, menyediakan kebutuhan masyarakat dan pembayaran pajak bagi pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis yang baik selalu mempunyai misi tertentu yang luhur dan tidak sekedar mencari keuntungan, akan tetapi harus dapat meningkatkan standar hidup masyarakat dan membuat hidup manusia lebih manusiawi melalui pemenuhan kebutuhan secara baik. Bisnis yang hanya mencari keuntungan telah menyebabkan perilaku yang menjurus menghalalkan segala cara demi mencari keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa mengindahkan nilai-nilai manusiawi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini perusahaan dihadapkan pada persaingan global dengan linkungan yang berubah secara cepat. Perekonomian kapitalis yang pada prakteknya sering mengabaikan kepentingan sosial dan lingkungan, perlahan namun pasti sudah mulai mengadopsi nilai-nilai sosial. Perekonomian kapitalisme yang dulu hanya menekankan pada aspek pertumbuhan skala makro dan maksimalisasi laba berkelanjutan pada skala perusahaan, sekarang mulai memperhatikan kepentingan di luar laba. Hal ini menuntut manajemen perusahaan untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan stockholders, tetapi lebih pada kepentingan stakeholders.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya akuntansi sosial tidak terlepas dari kesadaran perusahaan terhadap kepentingan lain selain untuk memaksimalkan laba bagi perusahaan. Perusahaan menyadari bahwa mereka selalu bersinggungan dengan berbagai kontroversi dan masalah sosial sehingga perusahaan mulai memperhartikan hubungan dengan lingkungan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akuntansi untuk pertanggungjawaban sosial merupakan perluasan pertanggungjawaban organisasi (perusahaan) diluar batas-batas akuntansi keuangan tradisional, yaitu menyediakan laporan keuangan tidak hanya kepada pemilik modal khususnya pemegang saham. Perluasan ini didasarkan pada anggapan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab yang lebih luas dan tidak sekedar mencari uang untuk para pemegang saham tetapi juga bertanggung jawab kepada seluruh stakeholders. Hal ini terdapat dalam Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia yang telah mengakomodasi hal tersebut, yaitu dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan no. 1 paragraph ke-9 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan penting bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan keuangan sebagai laporan pertanggungjawaban perusahaan kepada pemilik dan kreditur ternyata belum mencukupi. Dapat dikatakan, entitas perusahaan tidak hanya dituntut untuk menghasilkan laba sebanyak-banyaknya bagi entitas tetapi juga dituntut untuk menghasilkan benefit yang maksimal bagi masyarakat umum dan lingkungan sosial, karena pengguna laporan keuangan tidak terbatas kepada pemegang saham, calon investor, kreditur dan pemerintah semata tetapi juga untuk stakeholder yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penerapannya, akuntansi pertanggungjawaban sosial mengalami berbagai kendala, terutama dalam masalah pengukuran elemen-elemen sosial dan dalam rangka penyajiannya di laporan keuangan yang bersifat kuantitatif. Masalah pengukuran timbul terutama karena tidak semua elemen sosial dapat diukur dengan satuan uang serta belum terdapatnya standar akuntansi yang baku mengenai pengukuran dan pelaporan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan-perusahaan di Indonesia mulai mempedulikan lingkungan sosialnya, mengingat pentingnya aspek sosial tersebut. Wujud perhatian itu tampak pada kebijakan yang ditetapkan oleh perusahaan. Akuntansi yang merupakan bagian dari dunia usaha ikut memberikan kontribusi dalam merespon kepedulian sosial perusahaan dengan berkembangnya akuntansi sosial termasuk didalamnya pengungkapan aktivitas sosial dalam laporan keuangan tahunan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.2. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka, penulis merumuskan beberapa permasalahan antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bagaimanakah perilaku sosial perusahaan dalam melaksanakan aktivitas-aktivitasnya terhadap lingkungan sekitarnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagaimanakah laporan akuntansi pertanggungjawaban sosial untuk menilai kinerja sosial perusahaan pada PT”X” ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.3. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tujuan penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Mengetahui perilaku sosial perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya dalam melaksanakan aktivitas-aktivitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Mengetahui laporan akuntansi pertanggungjawaban sosial untuk menilai kinerja sosial perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.4. Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan Skripsi ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Bermanfaat bagi pembaca dalam menambah wawasan tentang penerapan akuntansi pertanggungjawaban sosial yang dapat dilakukan pada suatu perusahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Bermanfaat untuk membantu manajemen perusahaan untuk menyusun suatu laporan tentang biaya-biaya sosial dan laporan nilai tambah sebagai pelengkap dalam laporan keuangan untuk menunjukkan pertanggungjawaban sosial perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   3. Sebagai referensi bagi pihak lain yang akan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai topik ini.  &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-6536618640050415090?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/6536618640050415090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/6536618640050415090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/peranan-perilaku-sosial-pt-x-sebagai_15.html' title='PERANAN PERILAKU SOSIAL PT “X” SEBAGAI BENTUK PERTANGGUNGJAWABAN SOSIAL PERUSAHAAN TERHADAP LINGKUNGAN SEKITARNYA'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-7556601792047844257</id><published>2010-07-15T00:08:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:09:25.372+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Akuntansi'/><title type='text'>Analisis Hubungan Kausalitas Granger Antara Tingkat Imbal Jasa Agregat Dengan Tingkat Pembiayaan Perbankan Syariah Dan Tingkat Kredit Perbankan Konven</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang manusia pada umumnya tak bisa terlepas dari perilaku yang bersifat kemasyarakatan atau sosial baik dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup ataupun dalam hal bergaul, oleh karena itulah kemudian Aristoteles menyebut manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan sesamanya yang lain di dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, setiap manusia memiliki sikap dan perilakunya masing-masing. Sikap dan perilaku ekonomi manusia senantiasa distimulus dan didorong oleh 2 faktor utama (Rahman, 2004). Faktor pertama merupakan faktor internal yaitu motif ekonomi. Serangkaian motif bisa mendorong manusia, sebagai pelaku ekonomi, untuk melakukan tindakan ekonomi tertentu seperti motif untuk memperoleh laba (profits) dan motif untuk memperoleh pengakuan ataupun penghargaan dari masyarakat (social rewards). Faktor lainnya adalah faktor eksternal yaitu lingkungan dan habitat ekonomi yang menjadi tempat hidup seseorang atau suatu komunitas dalam melaksanakan kehidupan ekonominya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan manusia dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi dan motif ekonomi inilah yang kemudian melahirkan seperangkat pranata yang dapat memudahkannya, diantaranya adalah hadirnya lembaga intermediasi keuangan yaitu instirusi atau lembaga yang menghimpun dana dari masyarakat yang menabung atau kelebihan dana dan sebaliknya melakukan peminjaman kepada mereka yang membutuhkan (Mishkin, 2001). Lembaga intermediasi keuangan yang paling umum dan sering dipergunakan jasanya oleh masyarakat hingga saat ini adalah perbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank sendiri menurut UU No. 7 tahun 1992 adalah suatu badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan hukum sistem perbankan di Indonesia mula-mula adalah UU No. 11 tahun 1953 tentang Pokok Bank Indonesia dan PP No.1 tahun 1955 tentang pengawasan terhadap urusan kredit yang diumumkan dalam lembaran negara No.2 tahun 1955.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan perbankan sebelum 1 juni 1983 ditandai oleh pemberian kredit likuiditas Bank Indonesia yang dimaksudkan untuk memungkinkan perbankan memberikan kredit dengan unsur subsidi yang besar kepada masyarakat hal ini ternyata mempunyai pengaruh inflatoir terhadap perkembangan moneter, yang akhirnya memberi tekanan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sehingga untuk mengatasi dampak negatif ini pemerintah mengeluarkan kebijakan 1 juni 1983[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya membangun sektor keuangan dilanjutkan dengan dikeluarkannnya paket kebijakan 29 januari 1990 yang menyempurnakan sistem perkreditan yang semula mengandalkan kredit likuiditas Bank Indonesia. Sejalan dengan perkembangan perekonomian Indonesia dimana jumlah bank bertambah dengan bermacam-macam pola pelayanan yang ditawarkan bank maka keluarlah UU no.7 tahun 1992 tentang perbankan yang turut pula menyisipkan bank dengan kategori bagi hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal kelahirannya hingga sekarang bank syariah dilandasi dengan kehadiran dua gerakan renaissance Islam Modern: neorevivalis dan modernis, tujuan utama dari pendirian lembaga keuangan berlandaskan etika ini, tiada lain sebagai upaya kaum muslimin untuk mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya awal penerapan sistem profit dan loss sharing tercatat di Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940-an, yaitu adanya upaya mengelola dana jamaah haji secara non-konvensional. Rintisan institusional lainnya adalah Islamic Rural Bank di desa Mit Ghamr pada tahun 1963 di Kairo, Mesir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdirinya Islamic Development Bank (IDB) pada tahun 1975 di Jeddah telah memotivasi banyak negara Islam untuk mendirikan lembaga keuangan syariah. Pada awal periode 1980-an bank-bank syariah bermunculan di Mesir, Sudan, Pakistan, Iran, Malaysia, Bangladesh, serta Turki..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada praktiknya perkembangan bank syariah dipelopori oleh Pakistan, pada tahun 1979 sistem bunga dihapuskan, pada tahun 1985 seluruh sistem perbankan Pakistan dikonversi dengan sistem yang baru, yaitu sistem perbankan syariah. Sedangkan di Mesir bank syariah pertama yang didirikan adalah Faisal Islamic Bank pada tahun 1978, sementara di Malaysia, Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) yang didirikan tahun 1983 merupakan bank syariah pertama di Asia Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri bank syariah pertama kali didirikan pada tahun 1992 dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI). Pada awal berdirinya keberadaan bank syariah belum mendapat perhatian yang optimal dalam tatanan industri perbankan nasional. Kemudian setelah UU No.7/1992 diganti dengan UU No.10 tahun 1998 yang mengatur dengan rinci landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah, maka bank syariah mulai menunjukkan perkembangannya. Undang-undang ini pula memberikan arahan bagi bank konvensional untuk membuka cabang syariah atau mengkonversikan diri menjadi bank syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan perbankan syariah dapat kita lihat dari banyaknya pertambahan jumlah bank dengan landasan operasi syariah dimana tahun 2000 baru ada 2 bank umum; 3 unit usaha syariah pada bank umum konvensional yang tersebar; serta 79 BPRS. Diakhir tahun 2004 jumlah bank syariah telah mencapai delapan belas buah.dan BPRS sebanyak 88 buah. (lihat tabel 1.1) &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-7556601792047844257?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/7556601792047844257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/7556601792047844257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/analisis-hubungan-kausalitas-granger_15.html' title='Analisis Hubungan Kausalitas Granger Antara Tingkat Imbal Jasa Agregat Dengan Tingkat Pembiayaan Perbankan Syariah Dan Tingkat Kredit Perbankan Konven'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-1271978235023766087</id><published>2010-07-15T00:07:00.002+07:00</published><updated>2010-07-15T00:08:40.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Akuntansi'/><title type='text'>Pengaruh Utang Luar Negeri (Foreign Debt) dan Penanaman Modal Asing (PMA) terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sebagai negara yang sedang membangun, ingin mencoba untuk dapat membangun bangsa dan negaranya sendiri tanpa memperdulikan bantuan dari negara lain. Tentu ini pernah dicoba. Namun ternyata Indonesia sulit untuk terus bertahan ditengah derasnya laju globalisasi yang terus berkembang dengan cepat tanpa mau menghiraukan bangsa yang lain yang masih membangun. Dalam kondisi seperti ini, Indonesia akhirnya terpaksa mengikuti arus tersebut, mencoba untuk membuka diri dengan berhubungan lebih akrab dengan bangsa lain demi menunjang pembangunan bangsanya terutama dari sendi ekonomi nasionalnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Boediono (1999:22), pertumbuhan ekonomi merupakan tingkat pertambahan dari pendapatan nasional. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi merupakan sebagai proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang dan merupakan ukuran keberhasilan pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sebenarnya pernah memiliki suatu kondisi perekonomian yang cukup menjanjikan pada awal dekade 1980-an sampai pertengahan dekade 1990-an. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak tahun 1986 sampai tahun 1989 terus mengalami peningkatan, yakni masing-masing 5,9% di tahun 1986, kemudian 6,9% di tahun 1988 dan menjadi 7,5% di tahun 1989. Namun pada tahun 1990 dan 1991 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencatat angka yang sama yakni sebesar 7,0%, kemudian tahun 1992, 1993, 1994, 1995, dan 1996, masing-masing tingkat pertumbuhan ekonominya adalah sebesar 6,2%, 5,8%, 7,2%, 6,8%, dan 5,8%. Angka inflasi yang stabil, jumlah pengangguran yang cukup rendah seiring dengan kondusifnya iklim investasi yang ditandai dengan kesempatan kerja yang terus meningkat, angka kemiskinan yang cukup berhasil ditekan, dan sebagainya. Namun, pada satu titik tertentu, perekonomian Indonesia akhirnya runtuh oleh terjangan krisis ekonomi yang melanda secara global di seluruh dunia. Ini ditandai dengan tingginya angka inflasi, nilai kurs Rupiah yang terus melemah, tingginya angka pengangguran seiring dengan kecilnya kesempatan kerja, dan ditambah lagi dengan semakin membesarnya jumlah utang luar negeri Indonesia akibat kurs Rupiah yang semakin melemah karena utang luar negeri Indonesia semuanya dalam bentuk US Dollar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kerapuhan Indonesia tersebut disebabkan dengan tidak adanya dukungan mikro ekonomi yang kuat. Permasalahan yang masih tidak dapat diselesaikan sampai saat ini adalah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang terlalu tinggi di Indonesia, sumber daya manusia Indonesia kurang kompetitif, jiwa entrepreneurship yang kurang, dan sebagainya (Anggito Abimanyu. 2000:8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya pertumbuhan investasi di Indonesia dimulai dengan ditetapkannya Undang-Undang No.1 / tahun 1967 tentang penanaman modal asing (PMA) dan Undang-Undang No.6 / tahun 1968 tentang penanaman modal dalam negeri (PMDN). Dengan diberlakukannya Undang-undang tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan investasi di Indonesia dari waktu ke waktu yang kemudian menciptakan iklim investasi yang kondusif selama proses pembangunan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arus masuk modal asing (capital inflows) juga berperan dalam menutup gap devisa yang ditimbulkan oleh defisit pada transaksi berjalan. Selain itu, masuknya modal asing juga mampu menggerakkan kegiatan ekonomi yang lesu akibat kurangnya modal (saving investment gap) bagi pelaksanaan pembangunan ekonomi. Modal asing ini selain sebagai perpindahan modal juga dapat memberikan kontribusi positif melalui aliran industrialisasi dan modernisasi. Akan tetapi apabila modal asing tersebut tidak dikalola dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif yang besar terutama apabila terjadinya capital flows reversal (Zulkarnaen Djamin, 1996: 26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa utang luar negeri turut mendukung terjadinya krisis ekonomi di Indonesia pada pertengahan tahun 1997. Pada dasarnya, dalam proses pelaksanaan pembangunan ekonomi di negara berkembang seperti di Indonesia, akumulasi utang luar negeri merupakan suatu gejala umum yang wajar. Hal tersebut disebabkan tabungan dalam negeri yang rendah tidak memungkinkan dilakukannya investasi yang memadai sehingga banyak pemerintah negara yang sedang berkembang harus menarik dana dan pinjaman dari luar negeri. Selain itu, defisit pada neraca perdagangan barang dan jasa yang tinggi berhubungan juga dengan dilakukannya impor modal untuk menambah sumber daya keuangan dalam negeri yang terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi negara berkembang termasuk Indonesia, pesatnya aliran modal merupakan kesempatan yang bagus guna memperoleh pembiayaan pembangunan ekonomi. Dimana pembangunan ekonomi yang sedang dijalankan oleh pemerintah Indonesia merupakan suatu usaha berkelanjutan yang diharapkan dapat mewujudkan masyarakat adil dan makmur sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945, sehingga untuk dapat mencapai tujuan itu maka pembangunan nasional dipusatkan pada pertumbuhan ekonomi. Namun karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki (tercermin pada tabungan nasional yang masih sedikit) sedangkan kebutuhan dana untuk pembangunaan ekonomi sangat besar. Maka cara untuk mencapai pertumbuhan ekonomi itu adalah dengan berusaha meningkatkan investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan dekade 1980-an, modal asing yang masuk ke Indonesia masih didominasi oleh investasi langsung atau penanaman modal asing (PMA) dan pinjaman luar negeri (terutama pinjaman pemerintah). Baru setelah pemerintah melakukan deregulasi di sektor keuangan/perbankan yang dimulai sejak awal 1980-an, yang antara lain membuat sektor tersebut, termasuk pasar modal, berkembang dengan pesat, arus modal swasta jangka pendek dari luar negeri mulai mengalir ke dalam negeri. Penanaman Modal Asing (PMA) sendiri, berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sampai akhir Juli 2006 meningkat menjadi US$ 3.713.4 juta dengan realisasi proyek yang telah disetujui pemerintah sebanyak 563 proyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian tersebut di atas tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai komponen dalam neraca pembayaran turut mempengaruhi keadaan perekonomian di suatu negara. Negara-negara yang umumnya merupakan negara yang sedang berkembang masih terus berusaha untuk menyempurnakan ekonomi internasionalnya (Hady Hamdy, 2001: 42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan diatas, Penulis mencoba untuk membahas masalah pertumbuhan ekonomi di Indonesia dalam hubungannya dengan utang luar negeri (foreign debt) dan penanaman modal asing (PMA) dengan mengangkat judul “Analisis Pengaruh Utang Luar Negeri (Foreign Debt) dan Penanaman Modal Asing (PMA) terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Perumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertitik tolak dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka Penulis terlebih dahulu mengemukakan permasalahan yang menjadi objek analisis penelitian. Sehubungan dengan hal tersebut, Penulis mengidentifikasikan permasalahannya sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Bagaimana pengaruh utang luar negeri (foreign debt) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia?&lt;br /&gt;   2. Bagaimana pengaruh penanaman modal asing (PMA) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Hipotesis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang menjadi objek penilitian yang masih perlu diuji dan dibuktikan secara empiris tingkat kebenarannya dengan menggunakan data-data yang berhubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka Penulis membuat hipotesis sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Utang Luar Negeri (Foreign debt) berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, ceteris paribus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penanaman Modal Asing (PMA) berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, ceteris paribus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang menjadi tujuan Penulis dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Untuk mengetahui pengaruh Utang Luar Negeri (foreign debt) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Untuk mengetahui pengaruh Penanaman Modal Asing (PMA) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sebagai masukan bagi pemerintah terutama bagi instansi-instansi terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sebagai masukan bagi masyarakat Indonesia agar dapat mengetahui kondisi perekonomian Indonesia yang berhubungan dengan utang luar negeri dan PMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk menambah wawasan Penulis dalam perekonomian Indonesia khususnya yang berhubungan dengan utang luar negeri dan penanaman modal asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sebagai referensi bagi peneliti lain yang sedang meneliti topik yang berkaitan dengan penelitian ini. &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-1271978235023766087?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/1271978235023766087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/1271978235023766087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/pengaruh-utang-luar-negeri-foreign-debt.html' title='Pengaruh Utang Luar Negeri (Foreign Debt) dan Penanaman Modal Asing (PMA) terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-2095028180351654775</id><published>2010-07-15T00:07:00.001+07:00</published><updated>2010-07-15T00:07:50.949+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Akuntansi'/><title type='text'>PENGARUH MOTIVASI, METODE PEMBELAJARAN DAN LINGKUNGAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PADA SISWA KELAS XI ILMU SOSIAL SMA NEGERI 1 KARANGANOM KLAT</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan jaman yang semakin modern terutama pada era globalisasi seperti sekarang ini menuntut adanya sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan. Salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia melalui kegiatan pengajaran. UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003, menyatakan, bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UU Sisdiknas : 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah Menengah Atas (SMA) mempunyai tujuan yaitu menciptakan atau menyiapkan peserta didik agar mempunyai kemampuan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu Perguruan Tinggi. Salah satu usaha yang digunakan untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah meningkatkan prestasi belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi belajar merupakan tolok ukur yang utama untuk mengetahui keberhasilan belajar seseorang. Seorang yang prestasinya tinggi dapat dikatakan bahwa ia telah berhasil dalam belajar. Prestasi belajar adalah tingkat pengetahuan sejauh mana anak terhadap materi yang diterima (Slameto, 1993:17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di sekolah (Tu’u,2004:75). Prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang berasal dari diri siswa (faktor internal) maupun dari luar siswa (faktor eksternal). Faktor internal diantaranya adalah minat, bakat, motivasi, tingkat intelegensi. Sedangkan faktor eksternal diantaranya adalah faktor metode pembelajaran dan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu faktor dari dalam diri siswa yang menentukan berhasil tidaknya siswa dalam proses belajar mengajar adalah motivasi belajar.Dalam kegiatan belajar, motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar,yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar (Sardiman, 2006:75). Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual. Seorang siswa yang mempunyai intelegensi yang cukup tinggi, bisa gagal karena kurang adanya motivasi dalam belajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar baik bagi guru maupun siswa. Bagi guru mengetahui motivasi belajar dari siswa sangat diperlukan guna memelihara dan meningkatkan semangat belajar siswa. Bagi siswa motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar sehingga siswa terdorong untuk melakukan perbuatan belajar. Siswa melakukan aktivitas belajar dengan senang karena didorong motivasi. Selama ini kebanyakan motivasi belajar akuntansi siswa kelas XI IS SMA Negeri 1 Karanganom Klaten kurang, hal ini dapat dilihat dari kurangnya perhatian siswa dalam menerima pelajaran akuntansi di kelas. Selain itu masih ada siswa yang terlambat mengerjakan tugas, tidak memiliki kelengkapan belajar akuntansi misalnya: kalkulator, penggaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan faktor dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi belajar adalah faktor metode pembelajaran. Selain siswa, unsur terpenting yang ada dalam kegiatan pembelajaran adalah guru. Guru sebagai pengajar yang memberikan ilmu pengetahuan sekaligus pendidik yang mengajarkan nilai-nilai, akhlak, moral maupun sosial dan untuk menjalankan peran tersebut seorang guru dituntut untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas yang nantinya akan diajarkan kepada siswa. Seorang guru dalam menyampaikan materi perlu memilih metode mana yang sesuai dengan keadaan kelas atau siswa sehingga siswa merasa tertarik untuk mengikuti pelajaran yang diajarkan. Dengan variasi metode dapat meningkatkan kegiatan belajar siswa (Slameto,2003:96)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode pembelajaran akuntansi adalah cara atau pendekatan yang dipergunakan dalam menyajikan atau menyampaikan materi pelajaran akuntansi. Mata pelajaran akuntansi adalah mata pelajaran yang membutuhkan kasabaran, kecermatan, serta ketelitian. Untuk itu guru dituntut untuk tidak hanya menyampaikan materi secara lisan atau ceramah saja tetapi harus memilih metode yang dapat melatih siswa belajar, misalnya dengan diskusi, praktek komputer akuntansi, memperbanyak latihan mengerjakan soal. Selama ini guru di dalam menyampaikan materi pelajaran akuntansi dengan ceramah secara lisan dan dengan menjelaskan materi di papan tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain faktor metode pembelajaran, faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah faktor lingkungan.Lingkungan merupakan suatu komponen sistem yang ikut menentukan keberhasilan proses pendidikan.Dalam penelitian ini kondisi lingkungan sekolah dan keluarga menjadi perhatian karena faktor ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa yang sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar. Sekolah adalah wahana kegiatan dan proses pendidikan berlangsung. Di sekolah nilai-nilai kehidupan ditumbuhkan dan dikembangkan. Oleh karena itu, sekolah menjadi wahana yang sangat dominan bagi pengaruh dan pembentukan sikap, perilaku, dan prestasi seorang siswa (Tu’u, 2004:18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan sekolah yang kondusif akan mendukung proses kegiatan belajar mengajar. Lingkungan sekolah SMA Negeri 1 Karanganom yang letaknya sangat dekat dengan jalan raya menyebabkan proses kegiatan belajar mengajar agak terganggu selain itu buku pelajaran akuntansi yang tersedia di perpustakaan yang digunakan dalam pelajaran kurang lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain lingkungan sekolah, lingkungan keluarga juga berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa. Pengaruh pertama dan utama bagi kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan seseorang adalah keluarga. Banyak waktu dan kesempatan bagi anak untuk berjumpa dan berinteraksi dengan keluarga.Perjumpaan dan interaksi tersebut sangat besar pengaruhnya bagi perilaku dan prestasi seseorang (Tu’u,2004:16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan jaman, dalam kenyataannya tidak terasa telah terdapat pergeseran fungsi dan peranan orang tua terhadap pendidikan anaknya. Kebanyakan para orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya pada sekolah. Padahal seharusnya orang tua memberikan perhatian dan semangat belajar yang lebih, karena waktu di rumah lebih banyak daripada di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Pelajaran Akuntansi merupakan salah satu mata pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa jurusan IS. Penguasaan siswa terhadap mata pelajaran akuntansi dapat dilihat dari kemampuan dalam melakukan pembukuan. Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Karanganom Klaten mempunyai harapan siswa jurusan Ilmu Sosial (IS) mampu menguasai mata pelajaran akuntansi tetapi yang menjadi kendala adalah mata pelajaran akuntansi dianggap sulit oleh siswa. Mata pelajaran Akuntansi yang diajarkan di SMA masih bersifat dasar yaitu siklus Akuntansi. Siklus akuntansi merupakan proses pencatatan, pengelompokkan, pengikhtisaran, serta penyusunan laporan keuangan baik di dalam perusahaan jasa, dagang maupun koperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil penelitian awal yang dilakukan di SMA Negeri 1 Karanganom Klaten menunjukkan bahwa nilai-nilai rata-rata ulangan harian mata pelajaran akuntansi belum mencapai hasil yang maksimal. Dari 159 siswa sebanyak 90 siswa tuntas dalam belajar dan masih ada 69 siswa belum tuntas.Standart Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) yang ditetapkan di SMA Negeri 1 Karanganom Klaten untuk mata pelajaran akuntansi yaitu 68.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kenyataan tersebut dapat diindikasikan bahwa hasil belajar siswa belum cukup optimal. Hal itu dapat disebabkan karena faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar .Faktor-faktor yng mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat berasal dari dalam diri siswa antara lain motivasi belajar, sedangkan faktor dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa diantaranya adalah faktor metode pembelajaran dan faktor lingkungan.Yang termasuk lingkungan dalam penelitian ini adalah lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga. Atas dasar pemikiran di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: “Pengaruh Motivasi, Metode Pembelajaran, dan Lingkungan terhadap Prestasi Belajar Akuntansi pada Siswa Kelas XI Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Karanganom Klaten”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Rumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bagaimanakah motivasi belajar akuntansi siswa kelas XI IS SMA Negeri 1 Karanganom Klaten?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagaimanakah metode pembelajaran yang digunakan guru akuntansi dalam pembelajaran pada siswa kelas XI IS SMA Negeri 1 Karanganom Klaten?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagaimanakah kondisi lingkungan sekolah siswa kelas XI IS SMA Negeri 1 Karanganom Klaten?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bagaimanakah kondisi lingkungan keluarga siswa kelas XI IS SMA Negeri 1 Karanganom Klaten?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Apakah ada pengaruh yang signifikan antara motivasi belajar, metode pembelajaran, lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar akuntansi pada siswa kelas XI IS SMA Negeri 1 Karanganom Klaten?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Untuk mengetahui motivasi belajar akuntansi siswa kelas XI IS SMA Negeri 1 Karanganom Klaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk mengetahui metode pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran akuntansi pada siswa kelas XI IS SMA Negeri 1 Karanganom Klaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk mengetahui kondisi lingkungan sekolah siswa kelas XI IS SMA Negeri 1 Karanganom Klaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Untuk mengetahui kondisi lingkungan keluarga siswa kelas XI IS SMA Negeri 1 Karanganom Klaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara motivasi belajar, metode pembelajaran, lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar akuntansi pada siswa kelas XI IS SMA Negeri 1 Karanganom Klaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat yang diharapakan oleh peneliti dari pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.1 Manfaat teoritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti mengenai masalah yang diteliti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sebagai latihan dan pengalaman dalam mempraktekkan teori yang diterima dibangku kuliah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.2 Manfaat praktis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Bagi siswa dapat menumbuhkan motivasi belajar yang positif terhadap mata pelajaran akuntansi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Bagi sekolah sebagai masukan dalam usaha meningkatkan kualitas peserta didik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Bagi guru sebagai masukan untuk dapat menentukan metode pembelajaran yang tepat sehingga dapat membangkitkan motivasi belajar akuntansi siswanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Bagi orang tua dapat menambah kesadaran untuk lebih memberikan dukungan dan motivasi terhadap pendidikan anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5 Sistematika Penulisan Skripsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistematika skripsi disusun sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bagian Pendahuluan Skripsi yang berisi tentang halaman judul, halaman pengesahan, ringkasan atau sari, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, dan daftar lampiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagian isi skripsi terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB 1 : Pendahuluan berisi manfaat penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II : Bab ini berisi tentang landasan teori yang membahas teori yang disajikan sebagai acuan penelitian untuk menggadakan penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III : Prosedur penelitian meliputi setting penelitian, prosedur penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV : Laporan hasil penelitian yang mengguraikan hasil penelitian dan pembahasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V : Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagian akhir skripsi berisi tentang daftar pustaka dan lampiran-lampiran. &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-2095028180351654775?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/2095028180351654775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/2095028180351654775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/pengaruh-motivasi-metode-pembelajaran_15.html' title='PENGARUH MOTIVASI, METODE PEMBELAJARAN DAN LINGKUNGAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PADA SISWA KELAS XI ILMU SOSIAL SMA NEGERI 1 KARANGANOM KLAT'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-1467318474591423564</id><published>2010-07-15T00:06:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:07:00.199+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Akuntansi'/><title type='text'>PENGARUH KOMPONEN PENGELUARAN AGREGAT TERHADAP PERMINTAAN AGREGAT IMPOR INDONESIA PERIODE 1970-2001</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekonomian dunia dewasa ini telah semakin menunjukkan gejala interdependensi, yaitu sudah berlangsungnya hubungan timbal balik antara belahan-belahan dalam sistem perekonomian dunia dan saling bergantungnya perkembangan di satu belahan dunia dari perkembangan di belahan-belahan dunia yang lainnya. Peningkatan kegiatan niaga dalam lalu lintas internasional menyentuh kepentingan negara-negara berkembang maupun negara industri. Kebanyakan negara-negara dewasa ini mempunyai ciri perekonomian&lt;span class="fullpost"&gt; terbuka, artinya lalu lintas kegiatan ekonomi luar negeri mengandung arti yang besar sekali bagi kepentingan ekonomi suatu negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat, pembagian kerja menjadi semakin pesat, sebagai akibatnya semakin meningkat pula produksi barang dan jasa yang dibutuhkan untuk memuaskan masyarakat. Perkembangan spesialisasi berarti pula perkembangan perdagangan, karena tidak semua sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa dapat diperoleh di dalam negeri, akibatnya perdagangan antar negara akan meningkat dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdagangan menciptakan keuntungan dengan memberikan peluang kepada setiap negara untuk mengekspor barang-barang yang diproduksinya dengan menggunakan sebagian besar sumber daya yang berlimpah terdapat di negara yang bersangkutan serta mengimpor barang-barang yang produksinya menggunakan sumber daya yang langka di negara tersebut.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sebagai negara berkembang masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap produk dan faktor produksi dari luar negeri, dalam upaya untuk mendukung ekspor non migasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ekspor dan impor Indonesia untuk periode 1970-2001 dapat dilihat pada grafik 1.1. Ekspor maupun impor Indonesia memiliki kecenderungan untuk terus meningkat meski terdapat penurunan pada tahun-tahun tertentu. Bila diperhatikan, fluktuasi ekspor dan impor yang terjadi cenderung selalu sama. Yakni pada saat ekspor meningkat, imporpun meningkat. Demikian pula sebaliknya pada saat ekspor turun, impor ikut menurun. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara ekspor dan impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grafik 1.1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan perdagangan luar negeri Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image002periode 1970-2001 ($US Juta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Statistik Indonesia, Badan Pusat Statistik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari grafik 1.1 terlihat bahwa sejak tahun 1970 nilai ekspor dan impor Indonesia senantiasa meningkat, pada tahun 1985-1986 sempat terjadi penurunan yang kemudian pada tahun berikutnya kembali mengalami peningkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis ekonomi tahun 1997 yang dialami Asia Tenggara termasuk Indonesia telah membawa pengaruh pada permintaan impor. Dimana selama tahun 1997-1999 terjadi penurunan nilai impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati tahun 2000, nilai impor Indonesia mengalami peningkatan. Peningkatan ini terkait dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal yang sangat dibutuhkan dalam kegiatan produksi dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian mengenai perkembangan ekspor dan impor Indonesia, dapat dikatakan bahwa impor secara tidak langsung menjadi penunjang pertumbuhan ekonomi, karena bahan baku/penolong maupun barang modal yang diimpor dipergunakan untuk memproduksi barang-barang yang akan diekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut konsep permintaan impor tradisional, faktor yang dianggap dominan dalam mempengaruhi permintaan impor adalah faktor pendapatan dan harga relatif impor dimana ukuran pendapatan yang sering digunakan adalah Produk Domestik Bruto (PDB) riil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori, selain dari sisi produksi (sektoral), PDB dapat pula di lihat menurut penggunaan (pengeluaran) yang secara garis besar menggambarkan struktur penggunaan pendapatan nasional untuk konsumsi dan investasi. PDB menurut pengeluaran juga diartikan sebagai permintaan akhir domestik. Permintaan yang dimaksud adalah permintaan akhir yang dibedakan menurut permintaan dalam dan luar negeri. Permintaan dalam negeri terdiri dari pengeluaran konsumsi rumah tangga/swasta (private consumption expenditure), pengeluaran konsumsi pemerintah (government consumption expenditure), Pengeluaran investasi (expenditure on investment goods), sedangkan permintaan luar negeri merupakan ekspor barang dan jasa (export of goods and services).[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grafik 1.2 menunjukkan perkembangan PDB menurut penggunaannya dari sisi permintaan dalam negeri, yaitu pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi pemerintah dan investasi pembentukan modal bruto untuk periode 1970-2001. Pada grafik 2.1 terlihat bahwa dari tahun ketahun pengeluaran konsumsi rumah tangga merupakan komponen pengeluaran yang paling besar, diikuti oleh pengeluaran investasi pembentukan modal bruto dan pengeluaran konsumsi pemerintah, dimana pada akhir periode tahun 2001 jumlah pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 67,26% dari PDB, pengeluaran investasi pembentukan modal sebesar 21,81% dan pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 7,18%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grafik 1.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan penggunaan PDB Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image004Periode 1970-2001 (Rp Milyar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, komposisi komponen pengeluaran agregat (aggregate expenditure components) atau permintaan akhir (final demand expenditure) ternyata menjadi faktor penting yang menentukan tingkat permintaan agregat impor. Komponen pengeluaran agregat yang terdiri atas pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi pemerintah, pengeluaran investasi serta ekspor barang dan jasa diteliti dengan alasan bahwa adanya perbedaan dalam komponen ini dapat mengakibatkan perbedaan dalam kandungan permintaan impor. Jika hal ini benar, maka penggunaan variabel pendapatan tunggal dalam fungsi permintaan impor tradisional dapat mengakibatkan terjadinya bias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Identifikasi Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut, maka penulis mengidentifikasikan permasalahan yang ada sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Bagaimana pengaruh komponen pengeluaran agregat terhadap permintaan agregat impor Indonesia dalam jangka panjang dan jangka pendek untuk periode 1970-2001?&lt;br /&gt;   2. Dari berbagai variabel dalam komponen pengeluaran agregat, variabel mana sajakah yang secara signifikan menentukan permintaan agregat impor Indonesia dalam jangka panjang dan jangka pendek untuk periode 1970-2001?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengetahui besarnya pengaruh komponen pengeluaran agregat terhadap permintaan agregat impor di Indonesia dalam jangka panjang dan jangka pendek untuk periode 1970-2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Kerangka Pemikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.1 Teori Permintaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dilihat secara mikro, permintaan suatu barang akan dipengaruhi oleh:[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Harga barang tersebut. Jika harga barang naik, maka jumlah barang yang diminta akan menurun, demikian pula sebaliknya jika harga barang turun, maka jumlah barang yang diminta akan bertambah.&lt;br /&gt;   2. Pendapatan. Jika pendapatan seseorang meningkat, maka permintaan terhadap suatu barang juga akan meningkat.&lt;br /&gt;   3. Harga barang lain. Misalkan terdapat dua macam barang, yaitu barang A dan B. Bila penurunan harga barang A (harga barang B tetap) menyebabkan permintaan barang A meningkat dan permintaan terhadap barang B berkurang, maka dapat dikatakan bahwa barang A merupakan subtitusi barang B. Tetapi bila penurunan harga barang A menyebabkan permintaan terhadap barang B meningkat maka dapat dikatakan bahwa barang A merupakan komplementer barang B.&lt;br /&gt;   4. Selera. Bila selera seseorang terhadap suatu barang menurun, maka permintaan terhadap barang tersebut juga menurun. Sebaliknya jika selera seseorang terhadap suatu barang meningkat, maka permintaan terhadap suatu barang akan meningkat.&lt;br /&gt;   5. Distribusi pendapatan di masyarakat. Bila distribusi pendapatan di masyarakat merata dan meningkat, maka permintaan terhadap suatu barang akan meningkat.&lt;br /&gt;   6. Populasi. Peningkatan populasi akan meningkatkan permintaan terhadap suatu barang.&lt;br /&gt;   7. Pengaruh khusus. Permintaan terhadap suatu barang juga dipengaruhi oleh hal-hal khusus seperti musim, letak geografis dan ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dimasa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.2 Agregat Impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agregat impor merupakan kelebihan permintaan (excess demand) domestik, sehingga perekonomian dalam negeri mengalokasikan pembelanjaannya meliputi pembelian barang dan jasa dari luar negeri. Secara konseptual, permintaan impor sama dengan model permintaan pada umumnya, yang merupakan permintaan suatu negara terhadap produk luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini variabel permintaan impor (M) yang digunakan adalah nilai impor barang dan jasa (import of goods and services) yang diminta dari luar negeri yang diukur secara riil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan teori permintaan impor tradisional, permintaan impor suatu negara tergantung pada pendapatan nasional, harga impor dan harga produk domestik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M = ƒ (Y, Pm, Pd) ………………………………………………..… (1.1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M = Permintaan impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Y = Pendapatan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pm = Harga impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pd = Harga domestik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, ternyata komponen pengeluaran PDB (final demand expenditure) suatu negara juga dianggap sebagai faktor penting yang mempengaruhi besarnya permintaan akan impor karena dalam berbagai komponen pengeluaran terdapat jenis impor yang berbeda.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini dibedakan empat kategori utama dari komponen pengeluaran, yaitu: pengeluaran konsumsi rumah tangga/swasta, (private consumption expenditure), pengeluaran konsumsi pemerintah (government consumption expenditure), pengeluaran investasi (expenditure on investment goods) oleh sektor swasta dan sektor pemerintah. Dan yang terakhir adalah komponen ekspor barang dan jasa (export of goods and services).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel penting lainnya yang mempengaruhi permintaan impor berdasarkan teori adalah harga relatif impor. Dengan asumsi harga relatif impor sebagai variabel eksogen karena penawaran dunia tidak terbatas pada harga dunia yang berlaku sekarang. Pengaruh perubahan harga relatif impor mengakibatkan dua efek, yaitu efek pendapatan dan efek subtitusi. Kenaikan harga relatif impor menyebabkan konsumen merasa memiliki pendapatan yang kurang untuk dapat mengkonsumsi barang impor. Sedangkan pada efek subtitusi, permintaan impor turun akibat kenaikan harga relatif impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perekonomian terbuka nilai tukar akan mempengaruhi transaksi perdagangan internasional suatu negara, termasuk impor. Jika terjadi depresiasi pada mata uang domestik, maka harga barang domestik relatif lebih murah dibandingkan harga barang luar negeri. Perubahan harga tersebut akan ditanggapi oleh konsumen domestik dengan menurunkan permintaan impor. Hal ini tergantung pada elastisitas nilai tukar terhadap permintan impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan asumsi diatas, maka fungsi permintaan impor dapat digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mt = ƒ (PCEt, GCEt, EIGt, EXt, Pt, RERt) ……………………….…... (1.2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mt = Permintaan agregat impor (aggregate import demand) pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FCEt = Pengeluaran konsumsi rumah tangga/swasta (private&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;consumption expenditure) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GCEt = Pengeluaran konsumsi pemerintah (government consumption&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;expenditure) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EIGt = Pengeluaran investasi (expenditure on investment goods) pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EXt = Nilai ekspor barang dan jasa (export of goods and services) pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pt = Harga relatif impor (relative import price) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RERt = Nilai tukar riil (real exchange rate) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5 Metode Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.1 Metodologi Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis dilakukan terhadap fungsi matematis antara variabel-variabel pengeluaran yang diduga mempengaruhi besarnya tingkat permintaan agregat impor di Indonesia untuk periode 1970-2001 menggunakan model kointegrasi dan model dinamis Error Correction Model (ECM). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari data World Development Indicator (WDI) Bank Dunia, data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia dan data IMF’s International Financial Statistics (IFS), untuk kemudian diolah dengan bantuan program E-Views 4.1 dan Microsoft Excel 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.2 Deskripsi Variabel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.2.1 Variabel Dependen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel dependen (tidak bebas) dalam penelitian ini adalah permintaan agregat impor (M). Data impor yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai impor riil barang dan jasa yang diukur pada harga konstan dengan tahun dasar 1995. Data nilai impor riil didapat dari data World Development Indicators (WDI) Bank Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.2.2 Variabel Independen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel independen (bebas) dalam penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengeluaran konsumsi rumah tangga/swasta (PCE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan nilai dari pengeluaran konsumsi oleh sektor rumah tangga/swasta (private consumption expenditure) Data yang digunakan adalah pengeluaran konsumsi rumah tangga/swasta riil yang diukur dengan harga konstan pada tahun dasar 1995. Data nilai impor riil didapat dari data World Development Indicators (WDI) Bank Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel ini diduga berdampak positif terhadap permintaan agregat impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengeluaran konsumsi pemerintah (GCE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan nilai dari pengeluaran konsumsi oleh sektor pemerintah baik pusat maupun daerah (government consumption expenditure). Data yang digunakan adalah pengeluaran konsumsi pemerintah riil yang diukur pada harga konstan dengan tahun dasar 1995. Data pengeluaran konsumsi pemerintah didapat dari data World Development Indicators (WDI) Bank Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel ini diduga berdampak positif terhadap permintaan agregat impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengeluaran investasi (EIG)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data pengeluaran investasi (expenditure on investment goods) yang digunakan dalam penelitian ini didapat dari jumlah investasi pembentukan modal domestik bruto (gross domestik capital formation). Data yang digunakan adalah data pembentukan modal domestik bruto dalam negeri riil pada tahun dasar 1995. Data pengeluaran konsumsi pemerintah didapat dari data World Development Indicators (WDI) Bank Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengeluaran investasi diharapkan berpengaruh positif terhadap model.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Nilai Ekspor barang dan jasa (EX)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data ekspor dalam penelitian ini menggunakan data nilai ekspor barang dan jasa riil pada tahun dasar 1995. Data nilai impor riil didapat dari data World Development Indicators (WDI) Bank Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengeluaran ekspor diharapkan memberikan pengaruh positif terhadap permintaan agregat impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Harga Relatif Impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga relatif impor dalam penelitian ini merupakan rasio dari indeks harga impor (IPm) dengan indeks harga domestik (Pd). Harga domestik yang digunakan adalah indeks harga perdagangan besar (IHPB) domestik karena dianggap lebih tepat menggambarkan persaingan produk yang kompetitif di pasar internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image006 …………………………………………………………... (1.3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeks harga impor didapat melalui:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image008 …………………………………………….. (1.4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P = Harga relatif impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IPm = Indeks harga impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IHPB = Indeks harga perdagangan besar domestik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mnominal = Nilai impor nominal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mriil = Nilai impor riil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan dalam variabel ini diharapkan akan mempengaruhi besarnya impor secara negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Nilai tukar riil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan nilai tukar antara mata uang domestik dengan mata uang luar negeri dalam hal ini adalah mata uang rupiah terhadap dollar Amerika. Nilai tukar yang digunakan adalah nilai tukar riil yang didapatkan melalui:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image010 ……………………………………..…… (1.5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RER = Nilai tukar riil (real exchange rate)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ERnominal = Nilai tukar nominal (Rp/$)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pdomestik = Tingkat harga domestik, digunakan IHPB domestik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluar negeri = Tingkat harga luar negeri, digunakan IHPBluar negeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan dalam variabel ini diharapkan akan mempengaruhi besarnya impor secara negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.3 Model Ekonometrika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengolahan data dilakukan dengan metode ekonometrika sehingga diketahui hubungan masing-masing variabel. Untuk analisis data digunakan metode deskriptif kuantitatif dengan menggunakan model matematik dan model ekonometrik. Model yang digunakan dalam analisis ini adalah model kointegrasi dan model dinamis Error Correction Model (ECM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.3.1 Model Dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model dasar yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model yang digunakan oleh Mohammad Aji Alias dan Tang Tuck Cheong (2000) dalam penelitiannya mengenai permintaan agregat impor dan komponen pengeluaran di Malaysia, yaitu:[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mt = ƒ (FCEt, EIGt, Ext, Pt) …………………………………..…….. (1.6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mt = Permintaan agregat impor (import) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FCEt = Pengeluaran konsumsi akhir (final consumption expenditure)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EIGt = Pengeluaran untuk barang-barang investasi (expenditure on&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;investment goods) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EXt = Ekspor (export ) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pt = Harga relatif impor (relative import price) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dalam penelitian ini penulis membagi variabel pengeluaran konsumsi akhir/final consumption expenditure ke dalam dua bagian yaitu pengeluaran konsumsi rumah tangga /swasta (private consumption expenditure) dan pengeluaran konsumsi pemerintah (government consumption expenditure), dimana hal ini dilakukan untuk mengetahui lebih jauh peranan dari kedua variabel ini terhadap permintaan impor. Kemudian karena permintaan impor juga dipengaruhi oleh nilai tukar, maka penulis memasukkan variabel nilai tukar riil ke dalam model.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga spesifikasi model dalam persamaan ekonometrika untuk permintaan agregat impor adalah sabagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LnMt = α0 + α1 LnPCEt + α2 LnGCEt + α3 LnEIGt + α4 LnEXt +&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;α5 LnPt + α6 LnRERt + ut ………………………….…..… (1.7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ln = Logaritma natural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mt = Permintaan agregat impor (import) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PCEt = Pengeluaran konsumsi swasta (private consumption&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;expenditure) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GCEt = Pengeluaran konsumsi pemerintah (government&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;consumption expenditure) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EIGt = Pengeluaran untuk investasi (expenditure on investment&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;goods) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EXt = Nilai ekspor barang dan jasa (export of goods and&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;services) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pt = Harga relatif impor (relative import price) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RERt = Nilai tukar riil pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;α0 = Konstanta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;α1, α2, α3, α4, α5 = Koefisien parameter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ut = Residual pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model dibuat dalam bentuk logaritma natural untuk dapat diketahui nilai persentase perubahan variabel independen terhadap perubahan permintaan agregat impor, yang tidak lain merupakan nilai elastisitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.3.2 Analisis Model Kointegrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang menggunakan data time series akan menghadapi masalah yang tidak dihadapi oleh penelitian yang menggunakan data Cross-section: (1) antar variabel time series dapat mempengaruhi lainnya dengan lag waktu; dan (2) Apabila variabel-variabel adalah nonstasioner, masalah spurious regression (regresi lancung) dapat terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengujian keberadaan spurious regression dapat dilakukan dengan dengan pengujian stasionaritas data melalui uji akar-akar unit (unit roots test). Apabila variabel yang diamati stasioner pada derajat yang sama, maka dapat dilakukan regresi kointegrasi guna menguji residual apakah stasioner/tidak dan langkah ini dikenal sebagai uji kointegrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis model kointegrasi dimaksudkan untuk mengetahui apakah terjadi keseimbangan dalam jangka panjang pada model yang digunakan, yaitu dengan cara menguji stasionaritas error term-nya. Dalam penelitian ini, metode estimasi hubungan jangka panjang dilakukan dengan menggunakan metode Engle-Granger. Persamaan yang digunakan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ΔUt = ρUt-1 + vt ……………………………………………………... (1.8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesis untuk pengujian kointegrasi adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H0 : ρ = 0, variabel-variabel dalam model tidak terkointegrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H1 : ρ ≠ 0, variabel-variabel dalam model tidak terkointegrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.3.3 Model Dinamis Error Correction Model (ECM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya keseimbangan dalam jangka panjang dalam suatu model estimasi tidak selalu mencerminkan adanya keseimbangan dalam jangka pendek. Karena dalam jangka pendek, pergerakan dari setiap variabel mungkin saja akan menyimpang dari keseimbangan jangka panjangnya yang diakibatkan oleh faktor ekonomi ataupun faktor non ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hubungan variabel terkointegrasi, yang berarti di dalam jangka panjang akan tercapai kondisi keseimbangan, maka error (deviasi) jangka pendek tersebut akan terkoreksi untuk kembali pada keseimbangan jangka panjangnya. Proses koreksi ini secara ekonometrika disebut sebagai mekanisme koreksi error/ error correction model (ECM), yang dapat diuraikan dalam langkah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persamaan (1.12) diestimasi menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square). Kemudian diperoleh nilai residual (ut), selanjutnya dihitung nilai ut-1 yang akan digunakan sebagai explanatory variable Ect-1 pada persamaan ECM menurut persamaan:&lt;br /&gt; clip_image012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∆LnMt = First difference dari lon permintaan agregat impor pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∆LnPCEt = First difference dari lon pengeluaran konsumsi rumah tangga/swasta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∆LnGCEt = First difference dari lon pengeluaran konsumsi pemerintah pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∆LnEIGt = First difference dari lon pengeluaran investasi pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∆LnEXt = First difference dari lon nilai ekspor barang dan jasa pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∆LnPt = First difference dari lon harga relatif impor pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∆LnPt = First difference dari lon nilai tukar riil pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ECTt-1 = Koreksi kesalahan (error correction term) pada t-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;vt = Residual pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengujian-pengujian statistik dilakukan untuk memperkuat hasil penelitian yaitu uji stasionaritas dengan menggunakan metode ADF (Augmented Dickey Fuller) Test, uji multikolinearitas dengan metode pengujian parsial antara explanatory variable, uji autokorelasi dengan metode Durbin-Watson d Test dan Run Test, uji parsial (t-stat), uji keseluruhan model (F-stat), uji koefisien determinasi dan uji kointegrasi dengan Engle-Granger Test.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6 Metode Analisis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.1 Pengujian Statistik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.1.1 Uji Stasionaritas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji ini dilakukan untuk mendeteksi data apakah benar-benar bersifat stasioner, karena ternyata data tidak stasioner berarti terdapat ketidakstabilan pada model time series yang memungkinkan untuk dapat menimbulkan gangguan autokorelasi pada model ekonometrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Uji Unit Root Augmented Dickey Fuller [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses stokastik disebut stasioner bila mean dan variance-nya konstan dalam rentangan waktu dan nilai covariance diantara dua periode waktu hanya bergantung pada jarak lag diantara dua periode waktu dan tidak pada waktu aktual pada saat covariance tersebut dihitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengujian stasioner tidaknya data yang akan dianalisis, dilakukan dengan mengunakan pengujian unit root. Prosedur pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya variabel Yt sebagai variabel independen, maka akan diubah menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yt = δYt-1 + μt ……………………………………………...……….. (1.10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika koefisien Yt (δ=1), maka variabel mengandung unit root dan bersifat stasioner. Untuk merubah Yt yang bersifat nonstasioner menjadi stasioner maka dilakukan uji pada order pertama (first difference), yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pure random walk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image014 ………………………………………. (1.11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Random walk with drift&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image016 ………………………………… (1.12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Random walk with drift and trend&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image018 ……………………………(1.13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan ADF Test adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H0 : δ = 0 (terdapat unit roots, variabel Y tidak stasioner)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H0 : δ ≠ 0 (tidak terdapat unit roots, variabel Y stasioner)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan hasil uji unit root test diperoleh dengan membandingkan nilai t-hitung dengan t-tabel pada tabel ADF test.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.1.2 Uji Kointegrasi[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji ini dikembangkan berdasarkan adanya persepsi model data yang tidak stasioner dapat terjadi kointegrasi jangka panjang antara tiap variabel yang diuji. Uji ini disebut Engle-Granger Test dengan langkah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Pertama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Estimasi tiap parameter dari persamaan regresi dengan menggunakan model Ordinary Least Square (OLS) dari X terhadap Y dan peroleh nilai residualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yt = α0 + α1 Xt1 + α2 Xt2 + ut ………………………………………. (1.14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Kedua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan uji stasionaritas (Unit Root Test) pada nilai residual menggunakan ADF critical value.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ΔUt = ρUt-1 + vt ………………….……………………………..…… (1.15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hipotesis unit root ditolak maka disimpulkan bahwa Y dan X terkointegrasi dan apabila hipotesis unit root tidak ditolak, maka kointegrasi tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.1.2 Uji Koefisien Determinasi (R2)[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji ini digunakan untuk mengukur kedekatan hubungan dari model yang dipakai. Koefisien determinasi (R2) yaitu angka yang menunjukkan besarnya kemampuan varians atau penyebaran dari variabel-variabel bebas yang menerangkan variabel tidak bebas atau angka yang menunjukkan seberapa besar variabel tidak bebas dipengaruhi oleh variabel-variabel bebasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya nilai koefisien determinasi adalah antara 0 hingga 1 (0 &lt; R &lt;1), dimana nilai koefisien mendekati 1, maka model tersebut dikatakan baik karena semakin dekat hubungan antara variabel bebas dengan variabel tidak bebasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.1.3 Uji t-statistik[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji t-statistik digunakan untuk menguji pengaruh parsial dari variabel-variabel independen terhadap variabel dependennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menguji satu arah dalam signifikansi α, dan derajat kebebasan (degree of freedom, df ) = n – k (n = jumlah observasi dan k = jumlah parameter termasuk konstanta), maka hasil pengujian akan menunjukkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1.1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan pengujian t-stat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe hipotesis&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ho&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu arah (kanan)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;β ≤ 0&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;β &gt; 0&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;t-stat &gt; t-tabel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu arah (kiri)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;β ≥ 0&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;β &lt; 0&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;t-stat &lt; t tabel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua arah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;β = 0&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;β ≠ 0&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-t-stat &lt; t-tabel &lt; t-stat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.1.4 Uji F-statistik[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengujian ini digunakan untuk menguji signifikansi pengaruh dari semua variabel bebas secara keseluruhan terhadap variabel tidak bebasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesa yang digunakan adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H0 : β0 = β1 = β2 = β3 = β4 = 0 , Semua variabel bebas secara bersama-sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak berpengaruh terhadap variabel tidak bebasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H1 : Salah satu βn ≠ 0 ,Semua variabel bebas secara bersama-sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berpengaruh terhadap variabel tidak bebasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tingkat keyakinan = α dan df = (k-1) (N-k)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pengujian akan menunjukkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Apabila nilai F-hitung &gt; F-tabel, maka H0 ditolak ; artinya setiap variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel tidak bebasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Apabila F-hitung &lt; F-tabel, maka Ho diterima ; artinya variabel bebas secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel tidak bebasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.2 Pengujian Masalah dalam Regresi Linear&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.2.1 Masalah Multikoliniearitas[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multikolinear menunjukkan gejala adanya hubungan linear atau hubungan yang pasti diantara explanatory variable (variabel penjelas) dalam model regresi. Gejala ditunjukkan oleh beberapa faktor, namun yang paling mendukung penjelasan adanya multikolinier dalam model yaitu apabila nilai R2 dari hasil regresi sangat tinggi namun sebagian besar explanatory variable tidak menjelaskan hubungan yang signifikan terhadap variabel yang dijelaskan, melalui perbandingan antara nilai t-stat dan F-stat dengan t-tabel dan F-tabel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pengukuran besarnya R2 dan jumlah t-stat signifikan bersifat relatif, maka dilakukan pengujian tambahan dengan memperhatikan korelasi parsial diantara regresor dalam bentuk matriks. Rule of thumb dari pengukuran ini adalah semakin tingginya nilai korelasi parsial sepasang regresor, maka terdapat multikolinearitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.2.2 Masalah Autokorelasi[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Autokorelasi adalah korelasi diantara anggota observasi. Masalah autokorelasi dalam model menunjukkan adanya hubungan korelasi antara variabel gangguan (error term) dalam suatu model, ketidakberadaan masalah autokorelasi penting karena merupakan salah satu asumsi CLRM (Classical Linear Reggression Model). Autokorelasi dapat terjadi karena beberapa faktor :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Inersia, data observasi dipengaruhi oleh data sebelumnya. Misalnya data observasi saat terjadi kelesuan ekonomi sehingga data time series berikutnya dipengaruhi data sebelumnya walaupun perekonomian sudah membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bias spesifikasi dengan mengeluarkan atau tidak memasukan variabel bebas tertentu yang sebenarnya turut mempengaruhi variabel tidak bebasnya menurut teori ekonomi, walaupun hasil perhitungan kuantitas tidak mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bias spesifikasi berupa bentuk model yang tidak tepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Manipulasi data akibat data secara sistematis tidak tersedia untuk periode yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diharapkan, seperti penggunaan interpolasi, ekstrapolasi, dan transformasi data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Non stasioneritas pada data time series yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala ini dapat terdeteksi melalui graphical method dengan mem-plot waktu dan residual. Sedangkan Uji formal yang dapat dilakukan adalah uji Durbin-Watson d Test dan Run Test.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durbin Watson Test&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan yang berlaku untuk melihat apakah suatu model mempunyai masalah korelasi berdasarkan pada daerah kritis di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1.1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Batas Kritis DW - Stat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image019clip_image020clip_image021clip_image022clip_image022[1]clip_image023clip_image023[1]clip_image024clip_image025clip_image025[1]clip_image024[1]clip_image024[2]clip_image024[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image026clip_image027&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Gambar 12.10 ,Basic Econometrics 4th edition, Damodar N Gujarati, 2003:469&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hipotesa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H0 : Tidak terdapat positif autokorelasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H0* : Tidak terdapat negatif autokorelasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dL = Batas kritis bawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dU = Batas kritis atas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4-dU = batas kritis atas (dilihat dari batas maksimum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4-dL = batas kritis bawah (dilihat dari batas minimum)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan penilaian batas kritis yang menjelaskan ada atau tidaknya masalah serial korelasi dalam model adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian Batas Kritis Durbin Watson Test&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesa nol (H0)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Nilai Kritis&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada positif autokorelasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada positif autokorelasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada negatif autokorelasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada negatif autokorelasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada autokorelasi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0 &lt; d &lt; dL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dL &lt; d &lt; dU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 – dL &lt; d &lt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 – dU &lt; d &lt; 4 – dL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dU &lt; d &lt; 4 – dU&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ho ditolak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Autokorelasi tidak jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ho ditolak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Autokorelasi tidak jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ho diterima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Tabel 12.6, Basic Econometrics 4th edition, Damodar N Gujarati, 2003:470&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji Run&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji ini dilakukan dengan menampilkan residual (ut) dan residual yang telah distandarisasi (ut / varians) dari persamaan ekonometrik yang diperoleh. Melihat residual yang random ini dapat kita bedakan kedalam kelompok positif dan negatif. Prediksi sederhana dapat dilihat dari jumlah run. Run yang terlalu banyak menunjukkan autokorelasi positif, run yang terlalu sedikit menunjukkan autokorelasi positif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh pengujian adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(- - - - - - -)( + + + + + + + + + + + + +)(- - - - - - - - - -)(+ + + + + + + +)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian dari hasil pengelompokan tersebut dihitung:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n = total jumlah observasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n1 = jumlah simbol +&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n2 = jumlah simbol –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k = jumlah run&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan asumsi n1 &gt; 10 dan n2 &gt; 10, dihitung :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image029 ……………………………………………...…….. (1.22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image031 ………………………………… (1.23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian nilai s2k dibandingkan dengan hipotesa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ho : Tidak terdapat autokorelasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H1 : Terdapat autokorelasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila nilai k berada pada interval&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(E(k) – (t-tabel)sk ≤ k ≤ E(k) + (t -tabel)sk) Ho tidak ditolak, tidak terdapat autokorelasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Krugman, Paul R. Obtsfeld, Maurice. (1999) “Ekonomi Internasional Teori dan Kebijakan” edisi kedua, buku pertama: Perdagangan, Rajawali Pers, Jakarta, hal. 15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Dornbusch, Rudiger. Fischer, Stanley. Startz, Richard. (1998) “Macroeconomics” 7th Edition, McGraw-Hill, p. 23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Samuelson. Paul A. Nordhaus, William D. (1995) “Economics” fifteenth edition, Mc Graw-Hill, Inc. p. 40-41&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Abbott, A. J. and H. R. Seddighi. “Aggregate Imports and Expenditure Components in UK: An Empirical Analysis”. Applied Economics 28 (1996): 1119-125.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Mohammad Aji Alias, Tang Tuck Cheong. “Aggregate Imports and Expenditure Component in Malaysia A Cointegration and Error Correction Analysis” ASEAN Economic Bulletin Vol 17, N0. 3 (2000) p. 257-269)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Gujarati, Damodar N. (2003) “Basic Econometrics” fourth edition, Mc Graw-Hill, p. 814-817&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Ibid, p. 822-824&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Ibid, p. 81-87&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Ibid, p. 129-133&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Ibid, p. 254-259&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Ibid, p. 341-375&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Ibid, p. 441-490&lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-1467318474591423564?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/1467318474591423564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/1467318474591423564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/pengaruh-komponen-pengeluaran-agregat_15.html' title='PENGARUH KOMPONEN PENGELUARAN AGREGAT TERHADAP PERMINTAAN AGREGAT IMPOR INDONESIA PERIODE 1970-2001'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-4248482964330954509</id><published>2010-07-15T00:04:00.002+07:00</published><updated>2010-07-15T00:06:06.827+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Akuntansi'/><title type='text'>PENGARUH KOMPONEN PENGELUARAN AGREGAT TERHADAP PERMINTAAN AGREGAT IMPOR INDONESIA</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekonomian dunia dewasa ini telah semakin menunjukkan gejala interdependensi, yaitu sudah berlangsungnya hubungan timbal balik antara belahan-belahan dalam sistem perekonomian dunia dan saling bergantungnya perkembangan di satu belahan dunia dari perkembangan di belahan-belahan dunia yang lainnya. Peningkatan kegiatan niaga dalam lalu lintas internasional menyentuh kepentingan negara-negara berkembang maupun negara industri. Kebanyakan negara-negara dewasa ini mempunyai ciri perekonomian terbuka, artinya lalu lintas kegiatan ekonomi luar negeri mengandung arti yang besar sekali bagi kepentingan ekonomi suatu negara.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat, pembagian kerja menjadi semakin pesat, sebagai akibatnya semakin meningkat pula produksi barang dan jasa yang dibutuhkan untuk memuaskan masyarakat. Perkembangan spesialisasi berarti pula perkembangan perdagangan, karena tidak semua sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa dapat diperoleh di dalam negeri, akibatnya perdagangan antar negara akan meningkat dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdagangan menciptakan keuntungan dengan memberikan peluang kepada setiap negara untuk mengekspor barang-barang yang diproduksinya dengan menggunakan sebagian besar sumber daya yang berlimpah terdapat di negara yang bersangkutan serta mengimpor barang-barang yang produksinya menggunakan sumber daya yang langka di negara tersebut.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sebagai negara berkembang masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap produk dan faktor produksi dari luar negeri, dalam upaya untuk mendukung ekspor non migasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ekspor dan impor Indonesia untuk periode 1970-2001 dapat dilihat pada grafik 1.1. Ekspor maupun impor Indonesia memiliki kecenderungan untuk terus meningkat meski terdapat penurunan pada tahun-tahun tertentu. Bila diperhatikan, fluktuasi ekspor dan impor yang terjadi cenderung selalu sama. Yakni pada saat ekspor meningkat, imporpun meningkat. Demikian pula sebaliknya pada saat ekspor turun, impor ikut menurun. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara ekspor dan impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grafik 1.1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan perdagangan luar negeri Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image002periode 1970-2001 ($US Juta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Statistik Indonesia, Badan Pusat Statistik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari grafik 1.1 terlihat bahwa sejak tahun 1970 nilai ekspor dan impor Indonesia senantiasa meningkat, pada tahun 1985-1986 sempat terjadi penurunan yang kemudian pada tahun berikutnya kembali mengalami peningkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis ekonomi tahun 1997 yang dialami Asia Tenggara termasuk Indonesia telah membawa pengaruh pada permintaan impor. Dimana selama tahun 1997-1999 terjadi penurunan nilai impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati tahun 2000, nilai impor Indonesia mengalami peningkatan. Peningkatan ini terkait dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal yang sangat dibutuhkan dalam kegiatan produksi dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian mengenai perkembangan ekspor dan impor Indonesia, dapat dikatakan bahwa impor secara tidak langsung menjadi penunjang pertumbuhan ekonomi, karena bahan baku/penolong maupun barang modal yang diimpor dipergunakan untuk memproduksi barang-barang yang akan diekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut konsep permintaan impor tradisional, faktor yang dianggap dominan dalam mempengaruhi permintaan impor adalah faktor pendapatan nasional dan harga relatif impor dimana ukuran pendapatan nasional yang sering digunakan adalah Produk Domestik Bruto (PDB) riil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teori, selain dari sisi produksi (sektoral), PDB dapat pula di lihat menurut penggunaan (pengeluaran) yang secara garis besar menggambarkan struktur penggunaan pendapatan nasional untuk konsumsi dan investasi. PDB menurut pengeluaran juga diartikan sebagai permintaan akhir domestik. Permintaan yang dimaksud adalah permintaan akhir yang dibedakan menurut permintaan dalam dan luar negeri. Permintaan dalam negeri terdiri dari pengeluaran konsumsi rumah tangga/swasta (private consumption expenditure), pengeluaran konsumsi pemerintah (government consumption expenditure), Pengeluaran investasi (expenditure on investment goods), sedangkan permintaan luar negeri merupakan ekspor barang dan jasa (export of goods and services).[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grafik 1.2 menunjukkan perkembangan PDB menurut penggunaannya dari sisi permintaan dalam negeri, yaitu pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi pemerintah dan investasi pembentukan modal bruto untuk periode 1970-2001. Pada grafik 2.1 terlihat bahwa dari tahun ketahun pengeluaran konsumsi rumah tangga merupakan komponen pengeluaran yang paling besar, diikuti oleh pengeluaran investasi pembentukan modal bruto dan pengeluaran konsumsi pemerintah, dimana pada akhir periode tahun 2001 jumlah pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 67,26% dari PDB, pengeluaran investasi pembentukan modal sebesar 21,81% dan pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 7,18%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grafik 1.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan penggunaan PDB Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image004Periode 1970-2001 (Rp Milyar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, komposisi komponen pengeluaran agregat (aggregate expenditure components) atau permintaan akhir (final demand expenditure) ternyata menjadi faktor penting yang menentukan tingkat permintaan agregat impor. Komponen pengeluaran agregat yang terdiri atas pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi pemerintah, pengeluaran investasi serta ekspor barang dan jasa diteliti dengan alasan bahwa adanya perbedaan dalam komponen ini dapat mengakibatkan perbedaan dalam kandungan permintaan impor. Jika hal ini benar, maka penggunaan variabel pendapatan tunggal dalam fungsi permintaan impor tradisional dapat mengakibatkan terjadinya bias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Identifikasi Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut, maka penulis mengidentifikasikan permasalahan yang ada sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Bagaimana pengaruh komponen pengeluaran agregat terhadap permintaan agregat impor Indonesia dalam jangka panjang dan jangka pendek untuk periode 1970-2001?&lt;br /&gt;   2. Dari berbagai variabel dalam komponen pengeluaran agregat, variabel mana sajakah yang secara signifikan menentukan permintaan agregat impor Indonesia dalam jangka panjang dan jangka pendek untuk periode 1970-2001?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh komponen pengeluaran agregat terhadap permintaan agregat impor di Indonesia dalam jangka panjang dan jangka pendek untuk periode 1970-2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Kerangka Pemikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.1 Teori Permintaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dilihat secara mikro, permintaan suatu barang akan dipengaruhi oleh:[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Harga barang tersebut. Jika harga barang naik, maka jumlah barang yang diminta akan menurun, demikian pula sebaliknya jika harga barang turun, maka jumlah barang yang diminta akan bertambah.&lt;br /&gt;   2. Pendapatan. Jika pendapatan seseorang meningkat, maka permintaan terhadap suatu barang juga akan meningkat.&lt;br /&gt;   3. Harga barang lain. Misalkan terdapat dua macam barang, yaitu barang A dan B. Bila penurunan harga barang A (harga barang B tetap) menyebabkan permintaan barang A meningkat dan permintaan terhadap barang B berkurang, maka dapat dikatakan bahwa barang A merupakan subtitusi barang B. Tetapi bila penurunan harga barang A menyebabkan permintaan terhadap barang B meningkat maka dapat dikatakan bahwa barang A merupakan komplementer barang B.&lt;br /&gt;   4. Selera. Bila selera seseorang terhadap suatu barang menurun, maka permintaan terhadap barang tersebut juga menurun. Sebaliknya jika selera seseorang terhadap suatu barang meningkat, maka permintaan terhadap suatu barang akan meningkat.&lt;br /&gt;   5. Distribusi pendapatan di masyarakat. Bila distribusi pendapatan di masyarakat merata dan meningkat, maka permintaan terhadap suatu barang akan meningkat.&lt;br /&gt;   6. Populasi. Peningkatan populasi akan meningkatkan permintaan terhadap suatu barang.&lt;br /&gt;   7. Pengaruh khusus. Permintaan terhadap suatu barang juga dipengaruhi oleh hal-hal khusus seperti musim, letak geografis dan ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dimasa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.2 Agregat Impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agregat impor merupakan kelebihan permintaan (excess demand) domestik, sehingga perekonomian dalam negeri mengalokasikan pembelanjaannya meliputi pembelian atas barang dan jasa dari luar negeri. Secara konseptual, permintaan impor sama dengan model permintaan pada umumnya, yang merupakan permintaan suatu negara terhadap produk luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini variabel permintaan impor (M) yang digunakan adalah nilai impor barang dan jasa (import of goods and services) yang diminta dari luar negeri yang diukur secara riil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan teori permintaan impor tradisional, permintaan impor suatu negara tergantung pada pendapatan nasional, harga impor dan harga produk domestik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M = ƒ (Y, Pm, Pd)[4] ……………………………………………….… (1.1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M = Permintaan impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Y = Pendapatan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pm = Harga impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pd = Harga domestik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, ternyata komponen pengeluaran (final demand expenditure) suatu negara juga dianggap sebagai faktor penting yang mempengaruhi besarnya permintaan akan impor karena dalam berbagai komponen pengeluaran terdapat jenis impor yang berbeda.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini dibedakan empat kategori utama dari komponen pengeluaran, yaitu: pengeluaran konsumsi rumah tangga/swasta, (private consumption expenditure), pengeluaran konsumsi pemerintah (government consumption expenditure), pengeluaran investasi (expenditure on investment goods) oleh sektor swasta dan sektor pemerintah. Dan yang terakhir adalah komponen ekspor barang dan jasa (export of goods and services).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel penting lainnya yang mempengaruhi permintaan impor berdasarkan teori adalah harga relatif impor. Dengan asumsi harga relatif impor sebagai variabel eksogen karena penawaran dunia tidak terbatas pada harga dunia yang berlaku sekarang. Pengaruh perubahan harga relatif impor mengakibatkan dua efek, yaitu efek pendapatan dan efek subtitusi. Kenaikan harga relatif impor menyebabkan konsumen merasa memiliki pendapatan yang kurang untuk dapat mengkonsumsi barang impor. Sedangkan pada efek subtitusi, permintaan impor turun akibat kenaikan harga relatif impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan asumsi diatas, maka fungsi permintaan impor dapat digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mt = ƒ (PCEt, GCEt, EIGt, EXt, Pt) …………………………………... (1.2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mt = Permintaan agregat impor (aggregate import demand) pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FCEt = Pengeluaran konsumsi rumah tangga/swasta (private&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;consumption expenditure) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GCEt = Pengeluaran konsumsi pemerintah (government consumption&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;expenditure) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EIGt = Pengeluaran investasi (expenditure on investment goods) pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EXt = Nilai ekspor barang dan jasa (export of goods and services) pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pt = Harga relatif impor (relative import price) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5 Metode Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.1 Metodologi Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis dilakukan terhadap fungsi matematis antara variabel-variabel pengeluaran yang diduga mempengaruhi besarnya tingkat permintaan agregat impor di Indonesia untuk periode 1970-2001 menggunakan model kointegrasi dan model dinamis Error Correction Model (ECM). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari data World Development Indicators (WDI) World Bank, data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia dan data IMF’s International Financial Statistics (IFS), untuk kemudian diolah dengan bantuan program E-Views 4.1 dan Microsoft Excel 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.2 Deskripsi Variabel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.2.1 Variabel Dependen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel dependen (tidak bebas) dalam penelitian ini adalah permintaan agregat impor (M) yang merupakan pembelanjaan domestik atas barang dan jasa dari luar negeri. Data impor yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai impor riil barang dan jasa yang didapat dengan membagi nilai impor nominal dengan indeks harga impor kemudian dikalikan 100, dibuat menggunakan tahun dasar 1995. Data nilai impor nominal didapat dari data World Development Indicators (WDI) 2003, World Bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image006 …………………………………………………..(1.3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MRiil = Nilai impor riil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MNom = Nilai impor nominal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IPm = Indeks harga impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.2.2 Variabel Independen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel independen (bebas) dalam penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pengeluaran konsumsi rumah tangga/swasta (PCE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan nilai dari pengeluaran konsumsi oleh sektor rumah tangga/swasta (private consumption expenditure) sebagai bagian dari komponen pengeluaran. Data yang digunakan adalah pengeluaran konsumsi rumah tangga/swasta riil pada tahun dasar 1995 yang didapat melalui persamaan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image008 ………….…………………………………. (1.4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PCERiil = Pengeluaran konsumsi rumah tangga/swasta riil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PCENom = Pengeluaran konsumsi rumah tangga/swasta nominal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IHK = Indeks harga konsumen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel ini diduga berdampak positif terhadap permintaan agregat impor. Data PCE nominal dan IHK didapat dari data World Development Indicators (WDI) 2003, World Bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pengeluaran konsumsi pemerintah (GCE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan nilai dari pengeluaran konsumsi oleh sektor pemerintah baik pusat maupun daerah (government consumption expenditure) sebagai bagian dari komponen pengeluaran. Data yang digunakan adalah pengeluaran konsumsi pemerintah riil pada tahun dasar 1995 yang didapat melalui persamaan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image010 ………………………………………..….. (1.5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GCERiil = Pengeluaran konsumsi pemerintah riil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GCENom = Pengeluaran konsumsi pemerintah nominal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IHK = Indeks harga konsumen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel ini diduga berdampak positif terhadap permintaan agregat impor. Data GCE nominal didapat dari data World Development Indicators (WDI) 2003, World Bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pengeluaran investasi (EIG)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencakup pembuatan dan pembelian barang modal baru dari dalam negeri dan barang modal baru ataupun bekas dari luar negeri sebagai bagian dari komponen pengeluaran. Data pengeluaran investasi (expenditure on investment goods) yang digunakan dalam penelitian ini didapat dari jumlah investasi pembentukan modal bruto dalam negeri (gross capital formation). Data yang digunakan adalah pembentukan modal bruto dalam negeri riil pada tahun dasar 1995 yang didapat melalui persamaan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image012 …………………………………………….. (1.6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EIGRiil = Pembentukan modal bruto dalam negeri riil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EIGNom = Pembentukan modal bruto dalam negeri nominal`&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IHPB = Indeks harga perdagangan besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengeluaran investasi diharapkan berpengaruh positif terhadap model. Data diperoleh dari data World Development Indicators (WDI) 2003, World Bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Nilai Ekspor barang dan jasa (EX)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan permintaan atau belanja pihak luar negeri terhadap barang dan jasa dari dalam negeri. Ekspor barang dan jasa merupakan bagian dari komponen pengeluaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data ekspor dalam penelitian ini menggunakan data nilai ekspor barang dan jasa yang diukur secara riil pada tahun dasar 1995, yang didapat melelui persamaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image014………………………………………….…….. (1.7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EXRiil = Nilai ekspor barang dan jasa riil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EXNom = Nilai ekspor barang dan jasa nominal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IPex = Indeks harga ekspor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengeluaran ekspor diharapkan memberikan pengaruh positif terhadap permintaan agregat impor. Data diperoleh dari data World Development Indicators (WDI) 2003, World Bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Harga Relatif Impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga relatif impor dalam penelitian ini merupakan rasio dari harga impor (Pm) dengan harga domestik (Pd). Harga impor (Pm) diperoleh dari rasio nilai impor nominal dengan volume impor (Vm). Harga domestik (Pd) didapatkan melalui nilai indeks harga perdagangan besar (IHPB). Data dibuat dalam indeks dengan tahun 1995 sebagai tahun dasar (1995=100).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image016 …………………………………………………….….. (1.8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image018 …………………………………………………….(1.9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image020 ……………………………………………………..…... (1.10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pm = Harga impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MNom = Nilai impor nominal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vm = Volume impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IPm = Indeks harga impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pm1995 = Harga impor tahun 1995&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P = Harga relatif impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IHPB = Indeks harga kperdagangan besar domestik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan dalam variabel ini diharapkan akan mempengaruhi besarnya impor secara negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.3 Model Ekonometrika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengolahan data dilakukan dengan metode ekonometrika sehingga diketahui hubungan masing-masing variabel. Untuk analisis data digunakan metode deskriptif kuantitatif dengan menggunakan model matematik dan model ekonometrik. Model yang digunakan dalam analisis ini adalah model kointegrasi dan model dinamis Error Correction Model (ECM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.3.1 Model Dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model dasar yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model yang digunakan oleh Mohammad Aji Alias dan Tang Tuck Cheong (2000) dalam penelitiannya mengenai permintaan agregat impor dan komponen pengeluaran di Malaysia, yaitu:[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mt = ƒ (FCEt, EIGt, EXt, Pt) ………………………………..……..... (1.11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mt = Permintaan agregat impor (import) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FCEt = Pengeluaran konsumsi akhir (final consumption expenditure)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EIGt = Pengeluaran untuk barang-barang investasi (expenditure on&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;investment goods) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EXt = Ekspor (export ) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pt = Harga relatif impor (relative import price) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dalam penelitian ini penulis membagi variabel pengeluaran konsumsi akhir/final consumption expenditure ke dalam dua bagian yaitu pengeluaran konsumsi rumah tangga /swasta (private consumption expenditure) dan pengeluaran konsumsi pemerintah (government consumption expenditure), dimana hal ini dilakukan untuk mengetahui lebih jauh pengaruh dari kedua variabel ini terhadap permintaan impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga spesifikasi model dalam persamaan ekonometrika untuk permintaan agregat impor adalah sabagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LnMt = α0 + α1 LnPCEt + α2 LnGCEt + α3 LnEIGt + α4 LnEXt +&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;α5 LnPt + ut …………………………………….…….…..… (1.12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ln = Logaritma natural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mt = Permintaan agregat impor (import) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PCEt = Pengeluaran konsumsi rumah tangga/swasta (private&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;consumption expenditure) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GCEt = Pengeluaran konsumsi pemerintah (government&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;consumption expenditure) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EIGt = Pengeluaran investasi (expenditure on investment goods)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EXt = Nilai ekspor barang dan jasa (export of goods and&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;services) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pt = Harga relatif impor (relative import price) pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;α0 = Konstanta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;α1, α2, α3, α4, α5 = Koefisien parameter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ut = Residual pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model dibuat dalam bentuk logaritma natural untuk dapat diketahui nilai persentase perubahan variabel independen terhadap perubahan permintaan agregat impor, yang tidak lain merupakan nilai elastisitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian yang menggunakan data time series akan menghadapi masalah yang tidak dihadapi oleh penelitian yang menggunakan data Cross-section: (1) antar variabel time series dapat mempengaruhi lainnya dengan lag waktu; dan (2) Apabila variabel-variabel adalah nonstasioner, masalah spurious regression (regresi lancung/palsu) dapat terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengujian keberadaan spurious regression dapat dilakukan dengan dengan pengujian stasionaritas data melalui uji akar-akar unit (unit roots test). Apabila variabel yang diamati stasiner pada derajat yang sama, maka dapat dilakukan regresi kointegrasi guna menguji residual apakah stasioner/tidak dan langkah ini dikenal sebagai uji kointegrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.3.2 Analisis Model Kointegrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis model kointegrasi dimaksudkan untuk mengetahui apakah terjadi keseimbangan dalam jangka panjang pada model yang digunakan, yaitu dengan cara menguji stasionaritas error term-nya. Dalam penelitian ini, metode estimasi hubungan jangka panjang dilakukan dengan menggunakan metode Engle-Granger. Persamaan yang digunakan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ΔUt = ρUt-1 + ut ……………………………………………………... (1.13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesis untuk pengujian kointegrasi adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H0 : ρ = 0, variabel-variabel dalam model tidak terkointegrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H1 : ρ ≠ 0, variabel-variabel dalam model terkointegrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5.3.3 Model Dinamis Error Correction Model (ECM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya keseimbangan dalam jangka panjang dalam suatu model estimasi tidak selalu mencerminkan adanya keseimbangan dalam jangka pendek. Karena dalam jangka pendek, pergerakan dari setiap variabel mungkin saja akan menyimpang dari keseimbangan jangka panjangnya yang diakibatkan oleh faktor ekonomi ataupun faktor non ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hubungan variabel terkointegrasi, yang berarti di dalam jangka panjang akan tercapai kondisi keseimbangan, maka error (deviasi) jangka pendek tersebut akan terkoreksi untuk kembali pada keseimbangan jangka panjangnya. Proses koreksi ini secara ekonometrika disebut sebagai mekanisme koreksi kesalahan/ error correction model (ECM), yang dapat diuraikan dalam langkah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persamaan (1.12) diestimasi menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square). Kemudian diperoleh nilai residual (ut), selanjutnya dihitung nilai ut-1 yang akan digunakan sebagai explanatory variable ECTt-1 pada persamaan ECM menurut persamaan:&lt;br /&gt; clip_image022&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;` Dimana:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∆LnMt = First difference dari lon permintaan agregat impor pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∆LnPCEt = First difference dari lon pengeluaran konsumsi rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tangga/swasta pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∆LnGCEt = First difference dari lon pengeluaran konsumsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pemerintah pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∆LnEIGt = First difference dari lon pengeluaran investasi pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∆LnEXt = First difference dari lon nilai ekspor barang dan jasa pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;∆LnPt = First difference dari lon harga relatif impor pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ECTt-1 = Koreksi kesalahan pada periode t-1 (lag satu tahun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;vt = Residual pada periode t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengujian-pengujian statistik dilakukan untuk memperkuat hasil penelitian yaitu uji stasionaritas dengan menggunakan metode ADF (Augmented Dickey Fuller) Test, uji multikolinearitas dengan metode pengujian parsial antara explanatory variable, uji autokorelasi dengan metode Durbin-Watson d Test dan Run Test, uji parsial (t-stat), uji keseluruhan model (F-stat), uji koefisien determinasi dan uji kointegrasi dengan Engle-Granger Test.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6 Metode Analisis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.1 Pengujian Statistik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.1.1 Uji Stasionaritas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji ini dilakukan untuk mendeteksi data apakah benar-benar bersifat stasioner, karena ternyata data tidak stasioner berarti terdapat ketidakstabilan pada model time series yang memungkinkan untuk dapat menimbulkan gangguan autokorelasi pada model ekonometrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Uji Unit Root Augmented Dickey Fuller [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses stokastik disebut stasioner bila mean dan variance-nya konstan dalam rentangan waktu dan nilai covariance diantara dua periode waktu hanya bergantung pada jarak lag diantara dua periode waktu dan tidak pada waktu aktual pada saat covariance tersebut dihitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengujian stasioner tidaknya data yang akan dianalisis, dilakukan dengan mengunakan pengujian unit root. Prosedur pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya variabel Yt sebagai variabel independen, maka akan diubah menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yt = δYt-1 + μt ……………………………………………...……….. (1.15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika koefisien Yt (δ=1), maka variabel mengandung unit root dan bersifat stasioner. Untuk merubah Yt yang bersifat nonstasioner menjadi stasioner maka dilakukan uji pada order pertama (first difference), yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pure random walk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image024 ………………………………………. (1.16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Random walk with drift&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image026 ………………………………… (1.17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Random walk with drift and trend&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image028 ……………………………(1.18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan ADF Test adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H0 : δ = 0 (terdapat unit roots, variabel Y tidak stasioner)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H0 : δ ≠ 0 (tidak terdapat unit roots, variabel Y stasioner)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan hasil uji unit root test diperoleh dengan membandingkan nilai t-hitung dengan t-tabel pada tabel ADF test.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.1.2 Uji Kointegrasi[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji ini dikembangkan berdasarkan adanya persepsi model data yang tidak stasioner dapat terjadi kointegrasi jangka panjang antara tiap variabel yang diuji. Uji ini disebut Engle-Granger Test dengan langkah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Pertama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Estimasi tiap parameter dari persamaan regresi dengan menggunakan model Ordinary Least Square (OLS) dari X terhadap Y dan peroleh nilai residualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yt = α0 + α1 Xt1 + α2 Xt2 + ut ………………………………………. (1.19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Kedua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan uji stasionaritas (Unit Root Test) pada nilai residual menggunakan ADF critical value.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Δut = ρut-1 + vt………………………………………………….…… (1.20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hipotesis unit root ditolak maka disimpulkan bahwa Y dan X terkointegrasi dan apabila hipotesis unit root tidak ditolak, maka kointegrasi tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.1.3 Uji Koefisien Determinasi (R2)[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji ini digunakan untuk mengukur kedekatan hubungan dari model yang dipakai. Koefisien determinasi (R2) yaitu angka yang menunjukkan besarnya kemampuan varians atau penyebaran dari variabel-variabel bebas yang menerangkan variabel tidak bebas atau angka yang menunjukkan seberapa besar variabel tidak bebas dipengaruhi oleh variabel-variabel bebasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya nilai koefisien determinasi adalah antara 0 hingga 1 (0 &lt; R &lt;1), dimana nilai koefisien mendekati 1, maka model tersebut dikatakan baik karena semakin dekat hubungan antara variabel bebas dengan variabel tidak bebasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.6.1.4 Uji t-statistik[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji t-statistik digunakan untuk menguji pengaruh parsial dari variabel-variabel independen terhadap variabel dependennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menguji satu arah dalam signifikansi α, dan derajat kebebasan (degree of freedom, df ) = n – k (n = jumlah observasi dan k = jumlah parameter termasuk konstanta), maka hasil pengujian akan menunjukkan : &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-4248482964330954509?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/4248482964330954509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/4248482964330954509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/pengaruh-komponen-pengeluaran-agregat.html' title='PENGARUH KOMPONEN PENGELUARAN AGREGAT TERHADAP PERMINTAAN AGREGAT IMPOR INDONESIA'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-2894981235291580583</id><published>2010-07-15T00:04:00.001+07:00</published><updated>2010-07-15T00:04:55.660+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Akuntansi'/><title type='text'>FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI PETANI KARET YANG DIKELOLA OLEH PT. JA. WATTIE (STUDI KASUS DI DESA PEGADINGAN, KECAMATAN CIPARI KABUPATEN CI</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua negara yang ada di dunia baik negara-negara maju maupun negara sedang berkembang tentu melaksanakan pembangunan ekonomi. Untuk meningkatkan pendapatan riil perkapita atau paling tidak mempertahankan tingkat pendapatan yang telah dicapai. Bagi negara sedang berkembang pembangunan ekonomi jelas dimaksudkan untuk meningkatkan taraf hidup sehingga setaraf dengan tingkat hidup di negara-negara maju.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan masalah perekonomian yang dihadapi oleh banyak negara dimana keadaan perekonomian sering mengalami gejolak yang tidak menentu. Setelah badai krisis, terlalu banyak negara, di Kawasan Asia khususnya Indonesia mengalami keterpurukan di bidang perekonomian yang sangat memprihatinkan. Hal ini berpengaruh besar terhadap dunia usaha, khususnya di bidang industri. Bidang industri merupakan salah satu yang mendapat perhatian untuk dikembangkan dalam pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakekat pembangunan ekonomi adalah pertumbuhan yang diikuti oleh perubahan-perubahan dalam struktur dan corak kegitan ekonomi (Sadono Sukirno, 1998 : 45). Istilah pembangunan ekonomi tidak hanya pada masalah perkembangan pendapatan nasional riil, tetapi juga kepada modernisasi kegiatan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses industrialisasi dan pembangunan industri ini sebenarnya merupakan jalur kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dalam arah tingkat hidup yang relatif tinggi. Selain itu industrialisasi dapat merangsang dan mendorong investasi di sektor lain. Pembangunan diupayakan untuk mengembangkan potensi yang ada secara optimal. Pengembangan sektor industri juga diharapkan dapat merubah komposisi ekspor, sehingga ekspor industri yang dahulunya merupakan ekspor barang mentah akan berubah menjadi barang yang sudah diolah baik berupa barang setengah jadi atau barang jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aspek-Aspek yang Mempengaruhi Pengembangan Industri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan industri akan mempunyai pengaruh terhadap beberapa aspek, antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Memperluas kesempatan kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Menghasilkan barang-barang yang dibuat masyarakat banyak dan sektor-sektor pengembangan lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Meningkatkan pendapatan industri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Menghemat devisa khususnya bagi industri yang bersifat substitusi impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan perubahan dan gejolak baru yaitu oleh globalisasi khususnya di bidang ekonomi yang dapat mempengaruhi stabilisasi nasional dan ketahanan nasional yang pada gilirannya akan berdampak pada pelaksanaan pembangunan nasional di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Unsur Pelengkap Dasar Pembangunan Ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan ekonomi yang dilandaskan pada prioritas pertanian atau perkebunan serta ketenagakerjaan paling tidak memerlukan tiga unsur pelengkap dasar yaitu sebagai berikut : (Michael P. Torado, 2000 : 432)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Percepatan pertumbuhan output melalui serangkaian penyesuaian teknologi, institusional dan insentif harga yang khusus dirancang untuk meningkatkan produktivitas hasil produksi pertanian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Peningkatan permintaan domestik terhadap output pertanian yang didasarkan pada strategi pembangunan penataan yang berorientasi pada pembinaan ketenagakerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Diversifikasi kegiatan pembangunan pedesaan padat karya non pertanian yang secara langsung dan tidak langsung akan menunjang dan ditunjang oleh masyarakat pertanian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa jenis industri yang diusahakan salah satunya adalah industri karet. Industri karet yang ada di Indonesia yaitu di wilayah Kalimantan, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau, Lampung, Bengkulu, Jambi, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di daerah Jawa Tengah terletak di Cilacap yaitu di Jeruk Legi dan di Cipari. Peneliti mengadakan penelitian di Cipari karena merupakan perkebunan karet yang terluas dibandingkan di daerah yang lain yang ada di kawasan Cilacap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkebunan karet yang ada di Cipari yaitu PT. JA Wattie mengadakan kemitraan dengan petani karet Kecamatan Dayeuhluhur. Kemitraan itu terjalin sejak bulan April 1995, dimana produksi karet rakyat dikirim ke Perkebunan Ciseru-Cipari. Bahan olahan dari petani berupa lump tahu / stab dibeli dengan harga berdasarkan kadar karet / rendemen (mutu barang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan perkembangan, maka pada tanggal 05 Maret 1997 kemitraan ini dikukuhkan dengan ditandatanganinya perjanjian Kesepakatan Kemitraan Usaha Antar Kelompok Tani Karet Swadaya Murni Kabupaten Cilacap dengan PT. JA Wattie Perkebunan Ciseru-Cipari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kedudukannya sebagai kebun inti, Perkebunan Ciseru-Cipari menjalankan prinsip-prinsip kemitraan usaha yang saling menguntungkan, saling membutuhkan, saling percaya, saling menghormati, saling koreksi, dan saling kerjasama dengan baik agar kemitraan ini berjalan harmonis, selaras dan berkesinambungan. Beberapa fasilitas yang diberikan kepada petani adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bantuan hibah bibit karet sebanyak 10.000 pohon untuk pengembangan seluas 2.000 Ha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bantuan modal berupa kredit lunak tanpa bunga dengan cicilan selama 10 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dukungan sarana produksi seperti pestisida dan herbisida serta alat-alat sadap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bimbingan teknologi budidaya, melalui pembinaan dan penyuluhan secara rutin untuk menerapkan teknologi pengolahan karet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menjamin pembelian hasil / produksi karet rakyat sampai pengolahan dan pemasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program pengembangan areal karet rakyat mengacu kepada program yang dicanangkan oleh Pemerintah melalui dana APBN dan APBD. Target pengembangan seluas 5.000 Ha. Realisasi pengembangan tahun 1997 / 1998 telah dilaksanakan seluas 25.000 Ha dengan bantuan dana dari OECF melalui proyek pengembangan sumber daya sarana dan prasarana perkebunan Jawa Tengah, dimana Perkebunan Ciseru-Cipari sebagai pelaksana pembangunan kebun / penanaman karet di Dayeuhluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan perkebunan karet merupakan salah satu aspek dari suatu pembangunan daerah di Kabupaten Cilacap. Pengusaha tanaman karet sering dipengaruhi oleh pemilikan tanah, luas lahan yang digarap serta kemampuan pekerja dalam memanfaatkan berbagai sarana dan faslitas yang tersedia lainnya yang dapat menunjang dalam usaha perkebunan. Pendapatan pekerja banyak dipengaruhi berbagai faktor internal yang berasal dari pihak pekerja, jumlah tenaga kerja dalam keluarga, dan kemampuan ekonomi. Sedangkan faktor eksternal adalah kondisi tanah yang dipakai pada usaha perkebunan, tingkat kesuburan tanah, tingkat harga jual, luas daerah pemasaran serta faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dari perkebunan karet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara berbagai faktor produksi dari usaha perkebunan atau pertanian produksi karet tersebut diperkirakan terdapat faktor produksi yang sangat menentukan dalam usaha di bidang perkebunan yang meliputi lahan, modal, pupuk, tenaga kerja serta upah. Dan usaha di bidang perkebunan merupakan kegiatan yang mencakup kehidupan masyarakat yaitu di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya yang menyangkut masalah kemasyarakatan yang mana bidang tersebut dapat dipakai sebagai obyek penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berdasarkan pada permasalahan yang diuraikan pada latar belakang masalah di atas, maka penulis mengangkat judul permasalahan "FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI PETANI KARET YANG DIKELOLA OLEH PT. JA. WATTIE (STUDI KASUS DI DESA PEGADINGAN, KECAMATAN CIPARI KABUPATEN CILACAP)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembatasan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan banyaknya masalah yang dihadapi dalam usaha perkebunan karet, serta berdasarkan pertimbangan keterbatasan kemampuan, biaya dan waktu penelitian, maka penelitian ini ditekankan pada satu topik yaitu hasil produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, penulis membatasi masalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai produksi dibatasi pada variabel-variabel :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tenaga Kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenaga kerja yaitu jumlah tenaga kerja yang mengelola tanaman karet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Luas Lahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas lahan yaitu luas lahan yang dipergunakan untuk membudidayakan karet dalam satuan meter persegi (m2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pupuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan pupuk mulai dari penanaman bibit sampai dengan masa penyadapan, dalam satuan rupiah (Rp).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Modal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal yaitu besarnya modal yang diperlukan dalam sekali masa penyadapan yaitu satu tahun, dalam satuan rupiah (Rp).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Upah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upah yaitu besarnya upah yang diterima oleh setiap pekerja setiap bulannya, dalam satuan rupiah (Rp).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Perumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka perumusannya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Apakah ada pengaruh yang besar antara penggunaan faktor produksi tenaga kerja, luas lahan, pupuk, modal dan upah terhadap hasil produksi karet ?&lt;br /&gt;   2. Faktor produksi mana yang paling berpengaruh dalam hasil produksi karet ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun maksud dan tujuan penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Untuk mengetahui pengaruh tenaga kerja, luas lahan, pupuk, modal dan upah terhadap hasil produksi karet&lt;br /&gt;   2. Untuk mengetahui faktor produksi yang lebih berpengaruh dalam hasil produksi karet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Bagi Perusahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bahan masukan dalam mengambil kebijaksanaan perusahaan untuk meningkatkan produksi atau usahanya dengan cara memperbaiki kelemahan atau kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Bagi Pihak Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi pihak yang memerlukan pengembangan pengetahuan lebih lanjut dan dapat digunakan sebagai bahan perbandingan untuk kasus-kasus serupa mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Bagi Penulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperluas dan memahami bidang produksi khususnya dan ilmu ekonomi pembangunan umumnya, serta sarana berfikir dan berlatih dalam menghadapi masalah untuk kemudian pemecahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Hipotesis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pada perumusan masalah tersebut maka dibuat hipotesis sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Tenaga kerja perkebunan karet mempengaruhi hasil usaha karet secara positif&lt;br /&gt;   2. Luas lahan perkebunan karet mempengaruhi hasil usaha karet secara positif&lt;br /&gt;   3. Pupuk perkebunan karet mempengaruhi hasil usaha karet secara positif&lt;br /&gt;   4. Modal perkebunan karet mempengaruhi hasil usaha karet secara positif&lt;br /&gt;   5. Upah perkebunan karet mempengaruhi hasil usaha karet secara positif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Metodologi Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Daerah Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah penelitian adalah di Desa Pegadingan, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Dengan sistem random menggunakan 30 responden dan data kroseksion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Sumber Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Data Primer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari responden usaha karet. Adapun data tersebut diperoleh dengan metode sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Metode Wawancara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode wawancara yaitu pengumpulan data dengan cara wawancara langsung dengan pihak yang berwenang dalam perkebunan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Metode Observasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode observasi yaitu pengumpulan data langsung dari obyek yang akan diteliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Data Sekunder&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data yang diperoleh dari lembaga-lembaga yang erat hubungannya dengan penelitian ini, dengan cara pengutipan data dan membaca literatur untuk mendapat dasar teori yang selanjutnya digunakan sebagai alat analisis dalam pemecahan permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Metode Analisis Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Analisis Kuantitatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis yang digunakan yaitu dengan menggunakan angka-angka perhitungan yang berguna untuk menghitung variabel bebas terhadap variabel tak bebas. Alat analisis kuantitatif yang digunakan adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Analisis Regresi Berganda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis regresi berganda digunakan untuk menghitung besarnya pengaruh variabel bebas yaitu tenaga kerja, luas lahan, pupuk, modal, dan upah terhadap variabel tidak bebas (produksi) dengan menggunakan fungsi Cobb Douglas sebagai berikut : (Sudjana, 1992 : 69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Y = b0 X1b1. X2b2. X3b3. X4b4. X5b5.e&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menganalisis hubungan variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y) maka kita perlu mengubah bentuk linier. Tujuannya untuk mempermudah analisis regresi antara kedua variabel secara lebih tepat dan konstan. Bentuk liniernya dapat ditulis sebagai berikut : (Sudjana, 1992 : 70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ln Y = b0 + b1LnX1 + b2LnX2 + b3LnX3 + b4LnX4 + b5LnX5 + e&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Y = Produksi (Rp)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b0 = Intersep (konstanta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X1 = Tenaga Kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X2 = Luas lahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X3 = Pupuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X4 = Modal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X5 = Upah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e = Penyimpangan yang mungkin terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b1, b2, b3, b4, b5 = Koefisien regresi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi produksi Cobb Douglas adalah suatu fungsi yang memperhatikan dua variabel atau lebih dimana variabel satu disebut variabel dependen (Y) dan variabel yang lain disebut independen (X). Penyelesaian hubungan antara X dan Y adalah biasanya diselesaikan dengan regresi dimana Y akan dipengaruhi variasi X. Dengan demikian kaidah-kaidah pada regresi juga berlaku dalam penyelesaian fungsi Cobb Douglas (Soekartawi, 1994 : 159).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menunjukkan seberapa bebas tingkat antara variabel-variabel bebas dengan variabel tidak bebas digunakan rumus korelasi berganda, yaitu : (Damodar Gujarati, 1993 : 104).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;r = clip_image002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Analisis yang digunakan untuk mengetahui tingkat signifikan dari hasil regresi tersebut digunakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Uji t statistik (t-test)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji ini digunakan untuk menguji signifikan koefisien regresi dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen (Damodar Gujarati, 1993 : 112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;t-hitung =&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sbi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bi = Koefisien Xi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sbi = Standar deviasi dari koefisien X1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesisnya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ho : bi = 0, artinya variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ho : bi ¹ 0, artinya variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan derajat keyakinan tertentu (level of significant) maka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika t hitung &lt; t tabel maka Ho diterima yang berarti kedua variabel tidak berhubungan secara signifikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika t hitung &gt; t tabel maka Ho ditolak yang berarti kedua variabel berhubungan secara signifikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Uji F Statistik (F-test)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji ini digunakan untuk menguji tingkat signifikan hubungan seluruh variabel independen terhadap variabel dependen (Damodar Gujarati, 1993 : 104).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F-hitung =&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R2 / (k – 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1 – R2) / (n – k)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R2 = Koefisien determinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K = Jumlah variabel independen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n = Jumlah sampel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesisnya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ho : b1 = b2 = b3 = b4 = b5 = 0, artinya variabel independen secara bersama tidak berpengaruh terhadap variabel dependen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ho : b1 ¹ b2 ¹ b3 ¹ b4 ¹ b5 ¹ 0, artinya variabel independen secara bersama berpengaruh terhadap variabel dependen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan derajat keyakinan tertentu, maka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika F hitung &gt; F tabel berarti Ho ditolak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika F hitung &lt; F tabel berarti Ho diterima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pengujian terhadap Asumsi Klasik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengujian terhadap asumsi klasik dilakukan untuk melengkapi pengujian statistik yang telah dilakukan yaitu uji t dan uji F.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Uji Multikolinearitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digunakan untuk menunjukkan ada tidaknya hubungan linier yang sempurna diantara variabel-variabel bebas dalam model regresi. Hubungan ini bisa sempurna, bisa tidak. Ada berbagai cara untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearitas, diantaranya dengan melihat nilai koefisien regresi parsial. Selain itu multikolinearitas dapat juga diketahui dengan adanya menduga kalau R2 nilai regresi antara variabel bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Uji Autokorelasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berfungsi untuk mengetahui apakah kesalahan pengganggu menunjukkan hubungan antara nilai-nilai yang berurutan dari variabel yang sama. Pada umumnya pengujian untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi menggunakan statistik Durbin Watson, yang dilihat berdasarkan jumlah selisih kuadrat nilai taksiran faktor-faktor pengganggu yang diurut (Gunawan Sumodiningrat, 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Uji Heteroskedastisitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heteroskedastisitas terjadi bila kesalahan penggunaan tidak mempunyai variasi yang sama untuk satu observasi akibat parameter estimasi akan bias dan tidak konsisten dan mempunyai varian yang minimum. Untuk mendeteksi apakah ada tidaknya heteroskedastisitas, yaitu dapat digunakan beberapa macam model, yaitu salah satunya dengan uji Park.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji Park ini dilakukan melalui tahapan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Memahami regresi atas model yang digunakan, tanpa memperhatikan adanya heteroskedastisitas dan hasil dari regresi tersebut diperoleh besarnya residual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Membuat regresi berikutnya dengan residual sebagai variabel dependen. Regresi ini dilakukan secara individual terhadap masing-masing variabel independen. Apabila tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara residual dengan persamaan variabel independennya, berarti dalam model tersebut tidak ada gejala heteroskedastisitas. &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-2894981235291580583?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/2894981235291580583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/2894981235291580583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/faktor-faktor-yang-mempengaruhi_9562.html' title='FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI PETANI KARET YANG DIKELOLA OLEH PT. JA. WATTIE (STUDI KASUS DI DESA PEGADINGAN, KECAMATAN CIPARI KABUPATEN CI'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-8679302554008714775</id><published>2010-07-15T00:03:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:04:07.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Akuntansi'/><title type='text'>Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Simpanan Berjangka Pada Bank Umum Konvesional di Indonesia Tahun</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melakukan pembangunan, banyak masalah yang dihadapi oleh negara Indonesia. Salah satu masalah tersebut adalah kecilnya modal yang dimiliki. Modal sebagai sumber pembiayaan pembangunan bisa berasal dari dalam negari maupun luar negeri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal Pembangunan yang berasal dari luar negeri, terutama dalam bentuk utang luar negeri, sangatlah besar resikonya. Tidak hanya membebani anggaran penerimaan dan belanja negara tiap tahunnya, tetapi biasanya juga disertai campur tangan urusan dalam negeri oleh negara donor. Hal ini membuat banyak pihak tidak menyukai sumber modal dari luar negeri. Dengan kata lain sumber modal luar negeri merupakan alternatif terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang membutuhkan dana domenstik yang cukup besar guna membiayai pembangunan. Sekarang ini bangsa Indonesia tengah dihadapakan pada dua masalah pokok. Pertama, kewajiban terhadap hutang luar negeri (foreign debt service); dan kedua, penyedian lapangan kerja untuk pertambahan tenaga kerja setiap tahunnya. Guna mempengaruhi kedua masalah tersebut memerlukan dana yang cukup sehingga bangsa indonesia dituntut untuk lebih cerdik dalam usaha meningkatkan pembentukan permodalan (Budiono, 2001, 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya mendatangkan modal asing untuk menutupi kekurangan tabungan domenstik sangat diperlukan agar target pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dapat dicapai. Hal ini mengingat keadaan perekonomian negara indonesia yang masih belum stabil dan kondisi keamanan di Indonesia juga dirasakan masih belum nyaman oleh para investor baik asing maupun investor lokal guna melakukan investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu jenis modal asing yang masuk ke Indonesia adalah berupa pinjaman luar negeri baik yang mengalir ke sektor pemerintah maupun swasta nasional. Penggunaan pinjaman luar negeri mempunyai fungsi sebagai pelengkap dana domenstik yang belum memadai untuk membiayai seluruh proses pembangunan di Indonesia. Namun demikian, penggunaan pinjaman luar negeri yang semakin besar porsinya dalam pembiayaan pembangunan, telah menciptakan ketergantungan terhadap negara – negara atau lembaga donor, menimbulkan beban hutang yang semakin berat dan turut andil pada terjadinya krisis nilai tukar dan krisis ekonomi di Indonesia sejak petengahan tahun 1997. (Boediono, 16, 2001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu upaya yang digunakan untuk memperkokoh pondasi bagi proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi indonesia adalah mengurangi ketergantungan dari arus modal asing (terutama arus modal jangka pendek) dan pinjaman luar negeri yang telah menjadi salah satu penyebab ambruknya perekonomian Indonesia. Dalam kaitan dengan hal ini, usaha mobilisasi dana domestik merupakan masalah yang sangat penting, agar penggunaan modal asing serta pinjaman luar negari dapat dikurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Institusi yang mempunyai peran penting dalam menghimpun dana masyarakat adalah lembaga perbankan. Masyarakat menyisihkan sebagian dari pendapatannya yang tidak dikonsumsi untuk menabung. Tabungan inilah yang akan dihimpun oleh pihak bank sebagai dana pihak ketiga (DPK). Dimana tabungan ini hanya terjadi jika perkembangan perkonomi indonesia bisa jalan dengan lancar dan memungkinkan setiap rakyat Indonesia mempunyai kemampuan menabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak dikeluarakan kebijakan pemerintah disektor moneter yang diawali dengan deregulasi 1 Juni 1983. Mulai ada perubahan yang cukup mendasar pada industri perbankan di Indonesia. Kebijakan yang berupa penetapan suku bunga, pengerahan dana masyarakat, perkreditan, maupun penciptaan produk – produk perbankan kecuali yang mendapatkan prioritas mulai diserahkan kepada masyarakat perbankan sendiri. Sehingga perbankan yang biasa besifat pasif dan hanya menunggu nasabah, kini harus aktif mencari nasabah dengan berbagai cara yang bisa menarik masyarakat menjadi nasabah. (Susilo, Sri, dkk, 2000, 43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari kebijakan pemerintah tersebut cukup menggembirakan sebagaimana terlihat dari meningkatnya dana simpanan berjangka dan tabungan masyarakat yang meningkat secara pesat. Walaupun beberapa kesukaran masih tetap membayangi kemantapan ekonomi kita umumnya. Kebijakan deregulasi membuat industri perbankan dan perekonomian lebih berwawasan global disebabkan oleh ekspor oriented economy, makin berperannya Pemegang Modal Asing (PMA), sistem devisa bebas dan komunikasi semakin canggih, sehingga lebih terbuka terhadap pengaruh pasar finansial global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna Mendorong perkembangan perbankan, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan berupa ”Paket 27 Oktober 1988”. Isi dari Pakto 88 ini antara lain memberikan kemudahan untuk mendirikan bank baru baik swasta nasional, campuran, maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Pembukaan Kantor cabang baru, peningkatan status sebagai bank devisa. Pakto 88 memiliki tujuan memperluas jaringan perbankan dan meningkatakan keanekaragaman pelayanan untuk menggali sumber dana masyarakat dalam lingkup yang lebih luas agar dapat mempercepat tercapainya pembentukan permodalan bangsa Indonesia, lebih menyehatkan sistem perbankan di Indonesia untuk menjamin keamanan dana masyarakat secara preventif dan bukan protektif, memberi kesempatan yang sama sekaligus meningkatkan daya saing dan kemampuan Perbankan Indonesia. (Susilo, Sri, 2000, 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paket 27 Oktober 1988 diharapkan dapat membuat perbankan nasional menjadi semakin profesional mandiri dan tentunya lebih dewasa, tidak lagi banyak bergantung pada Bank sentral seperti masa sebelumnya. Namun, karena pertumbuhannya sangat pesat menyebabkan persaingan juga semakin tajam maka, dalam perkembangannya perbankan membutuhkan tenaga profesional karena masih banyak bank yang melakukan pembajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank Umum didefinisikan oleh Undang – undang No.10 Tahun 1998 sebagai Bank yang melaksanakan kegiatanya secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatanya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Dari berbagai jenis simpanan masyarakat di Bank, yang paling besar porsinya adalah Simpanan Berjangka (Deposito Berjangka). Proporsinya yang dominan dari simpanan berjangka dalam penghimpunan dana masyarakat pada bank umum di Indonesia, pada tahun 2000:1 Simpanan berjangka di Indonesia sebesar Rp. 286843 miliar. Pada tahun 2002:4 meningkat lagi menjadi Rp. 365771 miliar, dan pada tahun 2004:1 mengalami penurunan menjadi Rp. 331603 tetapi tetap dominan diminati oleh masyarakat untuk menyimpan uangnya. Pada tahun 2004:4 mengalami peningkatan yang cukup besar sebesar Rp. 352723 Miliar, tapi pada tahun 2005:1 mengalami penurunan kembali sebesar Rp. 351596 Miliar dan untuk tahun 2005.4 mengalami kenaikan lagi sebesar Rp. 456739.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Simpanan Bejangka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Bank Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2000 :1 – 2005 : 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Miliar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpanan Berjangka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2000.1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;286843&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2000.2&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;293163&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2000.3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;296284&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2000.4&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;296885&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2001.1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;321209&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2001.2&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;315200&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2001.3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;323338&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2001.4&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;348257&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2002.1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;358239&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2002.2&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;362711&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2002.3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;368091&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2002.4&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;365771&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003.1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;377214&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003.2&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;370171&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003.3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;359810&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003.4&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;356890&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2004.1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;331603&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2004.2&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;337841&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2004.3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;340441&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2004.4&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;352723&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005.1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;351596&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005.2&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;376494&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005.3&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;409322&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2005.4&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;456740&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Badan Pusat Statistik, BPS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kepemilikan sahamnya, Bank Umum di Indonesia di bagi menjadi empat, yaitu Bank Umum Pemerintah, Bank Pemerintah Daerah, Bank Umum Swasta Nasional, dan Bank Umum Swasta Asing. Keempat jenis bank tersebut hanya bank pemerintah dan Bank Umum Swasta Nasional yang memiliki peranan dominan dalam menghimpun Simpanan Berjangka masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas, penghimpunan Simpanan Berjangka oleh Bank Umum, Pertama – tama sangat bergantung pada kemampuan masyarakat dalam menyimpan uangnya, dimana kemampuan ini akan tercermin dari tingkat pendapatan nasional. Sebelum masyarakat memutuskan untuk menyimpan dananya pada lembaga keuangan perbankan, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan. Faktor – faktor tersebut seperti tingkat bunga, jumlah kantor Bank dan nilai Dollar Amerika Serikat terhadap Rupiah. Tingkat bunga menunjukan ukuran bank (Bank Size) yang dipandang oleh penyimpan dana sebagi salah satu faktor yang menentukan kredibilitas bank, keberhasilan lembaga perbankan dalam menjangkau lokasi penabung dan memberikan pelayanan kepada nasabah yang tercermin dari jumlah bank yang ada dan akhirnya stabilitas nilai kurs atau nilai tukar dollar Amerika terhadap rupiah, faktor penting untuk mempengaruhi permintaan simpanan berjangka, diantaranya memudahkan membat proyeksi nilai ekspektasi dimasa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Penelitian tentang faktor – faktor yang mempengaruhi simpanan berjangka pada Bank Umum ini variabel yang digunakan adalah PDB rill harga konstan tahun 2000, tingkat bunga, jumlah kantor bank, nilai tukar dollar Amerika Serikat dengan Rupiah, dan simpanan berjangka periode yang lalu, dengan menggunakan alat analisis Partial Adjusment Models.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan keadaan yang telah diuraikan diatas, maka penulis dalam penelitian ini akan mengambil judul ” Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Simpanan Berjangka Pada Bank Umum Konvesional di Indonesia Tahun 2000.1 – 2005.4.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Rumusan Masalah Penelitian .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan masalah yang telah diuraikan, maka dapat dinyatakan rumusan masalah penelitain tersebut sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apakah pendapatan nasional mempunyai pengaruh terhadap permintaan simpanan berjangaka bank umum di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah tingkat suku bunga simpanan berjangka mempunyai pengaruh terhadap permintaan simpanan berjangka bank umum di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Apakah jumlah kantor mempunyai pengaruh terhadap permintaan simpanan berjangka bank umum di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Apakah nilai tukar dollar Amerika Serikat dengan rupiah mempunyai pengaruh tehadap permintaan deposito berjangka pada bank umum di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Apakah simpanan berjangka periode yang lalu mempunyai pengaruh terhadap permintaan simpanan berjangka pada bank umum di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Untuk menganalisa pengaruh pendapatan nasional terhadap permintaan simpanan berjangka pada bank umum di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Untuk Menganalisa pengaruh tingkat suku bunga simpanan berjangka terhadap permintaan simpanan berjangka pada bank umum di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Untuk menganalisa pengaruh jumlah kantor terhadap permintaan simpanan berjangka pada bank umum di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Untuk menganalisa pengaruh nilai tukar dollar Amerika Serikat terhadap rupiah rupiah terhadap permintaan simpanan berjangka pada bank umum di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Untuk menganalisa pengaruh simpanan berjangka periode yang lalu terhadap permintaan simpanan berjangka pada bank umum di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sebagai bahan pembanding bagi pembaca yang tertarik unuk meneliti hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar sarjana pada fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Sebagi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan tentang kebijakan simpanan berjangka bagi pihak yang berkepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5 Sistematika Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan skipsi ini akan meliputi beberapa bab, dengan sistematika penulisan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, tema yang diangkat, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodelogi penelitian,serta sistematika penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II Tinjauan Umum Subyek Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab ini merupakan uraian deskriptif, gambaran secara umum atas obyek penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III Kajian Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori yang sesuai den melandsi penelitian yang akan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV Landasan Teori dan Hipotesis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berisi tentang teori yang digunakan untuk mendekati permasalahan yang akan diteliti. Hipotesis merupakan pernyataan yang menjawab pertanyaan pada rumusan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V Metode Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini menguraikan tentang metode analisis yang digunakan dalam penelitiaan dan dat-data yang digunakan beserta sumber data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VI Analisis dan Pembahasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bab ini akan dilakukan pengujian data dengan bantuan komputer dan pembahasan dari hasil data yang telah dianalisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab VII Kesimpulan dan Implikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian terakhir atau penutup meliputi kesimpulan dan saran-saran yang dapat penulis ajukan sehubungan dengan penulisan yang telah dilakukan&lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-8679302554008714775?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/8679302554008714775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/8679302554008714775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/faktor-faktor-yang-mempengaruhi_15.html' title='Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Simpanan Berjangka Pada Bank Umum Konvesional di Indonesia Tahun'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-7712988357688322</id><published>2010-07-15T00:02:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:03:22.321+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Akuntansi'/><title type='text'>ANALISIS PINJAMAN KONSUMTIF RIIL PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal kelahirannya, perbankan syariah dilandasi dengan kehadiran dua gerakan renaissance Islam modern : neorevivalis dan modernis. Tujuan utama dari pendirian lembaga keuangan berlandaskan etika ini adalah tiada lain sebagai upaya kaum muslim untuk mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya berlandaskan Al – Quran dan As – Sunnah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya awal penerapan system profit dan loss sharing tercatat di Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940-an , yaitu adanya upaya mengelola dana jemaah haji secara nonkonvensional. Rintisan intitusional lainnya adalah Islamic Rural Bank di desa Mit Ghamr pada tahun 1963 di Kairo Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua rintisan awal yang cukup sederhana ini, bank Islam tumbuh dengan sangat pesat yang beroperasi diseluruh dunia, baik dinegara-negara yang berpenduduk muslim maupun di Eropa, Australia maupun Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang juga patut dicatat adalah saat ini banyak nama besar dalam dunia keuangan internasional seperti Citibank, Jardine Flemming, ANZ, Chase Chemical Bank, Goldman Sech, dan lain-lain telah membuka cabang dan subsidiaries yang berdasarkan syariah. Dalam dunia pasar modal pun, Islamic fund kini ramai diperdagangkan, suatu hal yang mendorong singa pasar modal dunia Dow Jones untuk menerbitkan Islamic Dow Jones Index .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu tak heran jika Scharf, mantan direktur utama bank Islam Denmark yang non muslim itu, menyatakan bahwa bank Islam itu adalah partner baru pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkembangnya bank-bank syariah di negara-negara Islam berpengaruh ke Indonesia. Pada awal periode 1980-an, diskusi mengenai bank syariah sebagai pilar ekonomi Islam mulai dilakukan. Para tokoh yang terlibat dalam kajian tersebut adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Karnael A. Purwataatmaja,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. M. Dewam Rahardjo, A,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. M. Saefuddin ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. M. Amien Azis, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa uji coba pada skala yang relatif terbatas telah diwujudkan. Diantaranya adalah Baitut Tamwil-Salman, Bandung, yang sempat tumbuh mengesankan. Di Jakarta juga dibentuk lembaga serupa yang berbentuk koperasi, yakni Koperasi Ridho Gusti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, prakarsa lebih khusus untuk mendirikan bank Islam di Indonesia baru dilakukan pada tahun 1990 menyelenggarakan Lokakarya Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua Bogor Jawa Barat. Hasil Lokakarya tersebut dibahas lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV MUI yang berlangsung di Hotel Sahid Jaya Jakarta, 22-25 Agustus 1990. Berdasarkan Amanat Munas IV MUI , dibentuk kelompok kerja untuk mendirikan bank Islam di Indonesia. (M. Syafi’i Antonio, 2001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok kerja yang disebut Tim perbankan MUI, bertugas melakukan pendekatan dan konsultasi dengan semua pihak terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan perbankan syariah pada era reformasi ditandai dengan disetujuinya Undang-Undang No 10 Tahun 1998. Dalam undang-undang tersebut diatur dengan landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah. Undang-undang tersebut juga memberikan arahan bagi bank-bank konvensional untuk membuka cabang syariah atau bahkan mengkonvensi diri secara total menjadi bank syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang tersebut ternyata disambut antusias oleh masyarakat perbankan. Sejumlah bank mulai memberikan pelatihan dalam bidang perbankan syariah bagi para stafnya. Sebagian bank tersebut ingin menjajaki untuk membuka divisi atau cabang syariah dalam institusinya. Sebagian lainnya bahkan berencana mengkonvensi diri secara total menjadi bank syariah. Hal demikian diantisipasi oleh Bank Indonesia dengan mengadakan “Pelatihan Perbankan Syariah” bagi para pejabat Bank Indonesia dari segenap bagian, terutama terutama aparat yang terkait langsung seperti DPNP (Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan), kredit, pengawasan, akuntansi, riset, dan moneter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank Syariah Mandiri (BSM) merupakan bank milik pemerintah pertama yang melandaskan operasionalnya pada prinsip syariah. Secara structural, BSM berasal dari Bank Susila Bakti (BSB), sebagai salah satu anak perusahaan dilingkup Bank Mandiri (ex BDN), yang kemudian dikonversikan menjadi bank syariah secara penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu perkembangan lain perbankan syariah di Indonesia pasca reformasi adalah diperkenankannya konversi cabang bank umum konvensional menjadi bank syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa hal, bank konvensional dan bank syariah memiliki persamaan, terutama pada sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi computer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan, dan sebagainya. Akan tetapi, terdapat banyak perbedaan mendasar diantara keduanya. Perbedaan itu menyangkut aspek legal, stuktur organisasi, usaha yang dibiayai, dan lingkungan kerja. (Adiwarman Karim , 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bank syariah , akad yang dilakukan memiliki konsekwensi duniawi dan ukhrawi karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum Islam. Seringkali nasabah berani melanggar kesepakatan/perjanjian yang telah dilakukan bila hukum itu hukum positif belaka, tapi tidak demikian bila perjanjian tersebut memiliki pertanggungjawaban hingga yaumil qiyamah nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap akad dalam perbankan syariah , baik dalam hal barang, perilaku transaksi, maupun ketentuan lainnya, harus memenuhi ketentuan akad, seperti hal-hal berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Rukun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- penjual,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pembeli,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- barang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- bunga,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- akad/ ijab-qabul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Syarat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti syarat berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Barang dan jasa harus halal sehingga transaksi atas barang dan jasa yang haram menjadi batal demi hukum syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Harga barang dan jasa harus jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tempat penyerahan (delivery) harus jelas karena akan berdampak pada biaya transportasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Barang boleh ditransaksikan harus sepenuhnya dalam kepemilikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank syariah dapat memiliki stuktur yang sama dengan bank konvensional, misalnya dalam hal komisaris dan direksi, tetapi unsur yang membedakan adalah harus adanya Dewan Pengawas Syariah yang bertugas mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan garis-garis syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Pengawas Syariah biasanya diletakan pada posisi setingkat Dewan Komisaris pada setiap bank. Hal ini untuk menjamin efektivitas dan setiap opini yang diberikan oleh Dewan Pengawas Syariah. Karena itu, biasanya penempatan Badan Pengawas Syariah dilakukan oleh Rapat. Umumnya Pemegang Saham, setelah para anggota Dewan Pengawas Syariah itu mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bank syariah, bisnis dan usaha yang dilaksanakan tidak terlepas dari saringan syariah. Karena itu, bank syariah tidak akan mungkin membiayai usaha yang terkandung di dalamnya hal-hal yang diharamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perbankan syariah suatu pembiayaan tidak akan disetujui sebelum dipastikan beberapa hal pokok, diantaranya sebagai berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apakah objek pembiayaan halal atau haram?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah proyek menimbulkan kemudharatan untuk masyarakat ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Apakah proyek berkaitan dengan perbuatan mesum/asusila ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Apakah proyek berkaitan dengan penjudian ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Apakah usaha itu berkaitan dengan industri senjata yang illegal atau berorientasi pada pengembangan senjata pembunuh masal ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Apakah proyek dapat merugikan syiar islam, baik secara langsung maupun tidak langsung ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan antara bank syariah dan bank konvensional disajikan dalam tabel 1.1 berikut ini,  &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-7712988357688322?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/7712988357688322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/7712988357688322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/analisis-pinjaman-konsumtif-riil-pada.html' title='ANALISIS PINJAMAN KONSUMTIF RIIL PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-5043359598473366712</id><published>2010-07-15T00:01:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:02:27.692+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Akuntansi'/><title type='text'>ANALISIS PERKEMBANGAN KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH DALAM MENDUKUNG PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH DI KABUPATEN SUKOHARJO</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi pemerintah merupakan salah satu bentuk organisasi non profit yang bertujuan meningkatan pelayanan kepada masyarakat umum yang dapat berupa peningkatan keamanan, peningkatan mutu pendidikan atau peningkatan mutu kesehatan dan lain-lain. Selain itu organisasi non profit ini merupakan organisasi yang orientasi utamanya bukan untuk mencari laba.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dibandingkan dengan organisasi lain, organisasi pemerintah memiliki karakteristik tersendiri yang lebih terkesan sebagai lembaga politik daripada lembaga ekonomi. Akan tetapi, sebagaimana bentuk-bentuk kelembagaan lainnya, lembaga / organisasi pemerintah juga memiliki aspek sebagai lembaga ekonomi. Lembaga pemerintahan melakukan berbagai bentuk pengeluaran guna membiayai kegiatan-kegiatan yang dilakukan di satu sisi, dan di sisi lain lembaga ini harus melakukan berbagai upaya untuk memperoleh penghasilan guna menutupi seluruh biaya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan aktivitas ekonominya, organisasi atau lembaga pemerintah membutuhkan jasa akuntansi untuk pengawasan dan menghasilkan informasi keuangan yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan-keputusan ekonominya. Akan tetapi, karena sifat lembaga pemerintahan berbeda dari sifat perusahaan yang bertujuan mencari laba, maka sifat akuntansi pemerintahan berbeda dari sifat akuntansi perusahaan. Dengan adanya akuntansi pemerintahan maka pemerintah harus mempunyai rencana yang matang untuk suatu tujuan yang dicita-citakan sesuai dengan penerapan akuntansi pemerintahan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ditetapkannya Undang-Undang No. 22 tahun 1999 jo Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah serta Undang-Undang No. 25 tahun 1999 jo Undang-Undang No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara pusat dan daerah akan dapat memberikan kewenangan atau otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada pemerintah daerah secara secara proporsional. Hal ini diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional, serta perimbangan keuangan daerah dan pusat secara demokratis, peran serta masyarakat, pemerataan keadilan, serta memperhatikan potensi dan keragaman daerah, terutama kepada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota. Tujuan pemberian keuangan dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah adalah guna meningkatkan kesejahteraan rakyat, pemerataan dan keadilan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Undang-Undang No. 32 tahun 2004 pasal 1 ayat 5. Otonomi Daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Berkaitan dengan hal tersebut peranan pemerintah daerah sangat menentukan berhasil tidaknya menciptakan kemandirian yang selalu didambakan Pemerintah Daerah. Terlepas dari perdebatan mengenai ketidaksiapan daerah di berbagai bidang untuk melaksanakan kedua Undang-Undang tersebut, otonomi daerah diyakini merupakan jalan terbaik dalam rangka mendorong pembangunan daerah. Menggantikan system pembangunan terpusat yang oleh beberapa pihak dianggap sebagai penyebab lambannya pembangunannya di daerah dan semakin besarnya ketimpangan antar daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam pelaksanaan Otonomi Daerah terdapat empat elemen penting yang diserahkan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah. Ke empat elemen tersebut menurut Cheema dan Rondinelli (dalam Anita Wulandari, 2001:17), adalah Desentralisasi Politik , Desentralisasi Fiskal, Desentralisasi Administrasi dan Desentralisasi Ekonomi. Keempat elemen tersebut menjadi kewajiban daerah untuk mengelola secara efisien dan efektif. Sehingga dengan demikian akan terjadi kemampuan / kemandirian suatu daerah untuk melaksanakan fungsinya dengan dengan baik. Salah satu elemen yang diserahkan pemerintah pusat kepada pemerintah deerah adalah desentralisasi fiskal. Desentralisasi fiskal yang merupakan komponen utama dari desentralisasi pelaksanaan otonomi daerah dan menandai dimulainya babak baru dalam pembangunan daerah serta masyarakatnya dalam mengelola sumber daya / segenap potensi yang dimiliki untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya otonomi daerah, kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah akan semakin besar sehingga tanggung jawab yang diembannya akan bertambah banyak. Implikasi dari adanya kewenangan urusan pemerintahan yang begitu luas yang diberikan kepada daerah dalam rangka otonomi daerah dapat menjadi suatu berkah bagi daerah. Namun disisi lain bertambahnya kewenangan daerah tersebut juga merupakan beban yang menuntut kesiapan daerah untuk pelaksanaannya, karena semakin besar urusan pemerintah yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Oleh karena itu ada beberapa aspek yang harus dipersiapkan antara lain sumber daya manusia, sumber daya keuangan, sarana dan pra sarana daerah. Aspek keuangan merupakan salah satu dasar kriteria untuk dapat mengetahui secara nyata kemampuan daerah dalam mengurus rumah tangganya sendiri. Kemampuan daerah yang dimaksud adalah sampai sejauh mana daerah dapat menggali sumber-sumber keuangan sendiri guna membiayai kebutuhan keuangan daerah tanpa harus menggantungkan diri pada bantuan dan subsidi dari pemerintah pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan pemerintah daerah dalam mengelola keuangan tercermin dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai kegiatan pelaksanaan tugas pembangunan, serta pemerataan dan keadilan dengan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ciri utama daerah mampu dalam melaksanakan otonomi daerah menurut Yuliati (2001:22), adalah terletak pada kemampuan keuangan daerah untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerahnya dengan tingkat ketergantungan kepada pemerintah pusat mempunyai proporsi yang semakin mengecil dan diharapkan bahwa PAD harus menjadi bagian terbesar dalam memobilisasi dana penyelenggaraan pemerintah daerah. Pendapatan Asli Daerah merupakan salah satu faktor yang penting dalam pelaksanaan roda pemerintahan suatu daerah yang berdasar pada prinsip otonomi yang nyata, luas dan bertanggung jawab. Peranan Pendapatan Asli Daerah dalam keuangan daerah menjadi salah satu tolak ukur penting dalam pelaksanaan otonomi daerah, dalam arti semakin besar suatu daerah memperoleh dan menghimpun PAD maka akan semakin besar pula tersedianya jumlah keuangan daerah yang dapat digunakan untuk membiayai penyelenggaraan Otonomi Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anita Wulandari (2001), melakukan penelitian tentang kemampuan keuangan daerah di kota Jambi dalam pelaksanaan Otonomi Daerah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan Otonomi Daerah, kota Jambi dihadapkan pada kendala rendahnya kemampuan keuangan daerah, yang dilihat dari rendahnya kontribusi Pendapatan Asli Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widodo (2001), melakukan penelitian tentang Analisis Rasio Keuangan APBD Kabupaten Boyolali. Hasilnya menunjukkan bahwa kemandirian pemerintah daerah Boyolali dalam memenuhi kebutuhan dana untuk penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan pelayanan sosial kemasyarakatan masih relatif rendah dan cenderung menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengacu pada penelitian sebelumnya, tentu saja disesuaikan dengan kemampuan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, penulis ingin mereplikasi dan mengembangkan penelitian-penelitian tersebut. Akan tetapi terdapat beberapa perbedaan, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Periode penelitian. Penelitian ini dilakukan pada periode tahun 2001-2005, sedangkan penelitian sebelumnya pada periode sebelum tahun 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Daerah penelitian. Penelitian ini mengambil daerah penelitian di Kabupaten Sukoharjo, sedangkan peneliti terdahulu mengambil daerah penelitian di kota Jambi, Boyolali, dan Sragen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian sebelumnya, penulis tertarik unuk melakukan penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”ANALISIS PERKEMBANGAN KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH DALAM MENDUKUNG PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH DI KABUPATEN SUKOHARJO”&lt;br /&gt;B. Perumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perumusan masalah yang akan dibahas dalam penilitian ini adalah: ”Apakah tedapat perkembangan kemampuan keuangan daerah di kabupaten Sukoharjo dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi daerah?”&lt;br /&gt;C. Pembatasan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembatasan masalah dalam penelitian ini lebih terfokus pada perkembangan APBD di Kabupaten Sukoharjo tahun anggaran 2001-2005.&lt;br /&gt;D. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasar latar belakang masalah tersebut diatas, maka tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui tingkat perkembangan kemampuan keuangan di Kabupaten Sukoharjo dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menjadi bahan masukan bagi perencanaan pembangunan dan pengambilan keputusan pembangunan dalam rangka meningkatkan pelaksanaan otonomi daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dapat dijadikan acuan atau referansi untuk penelitian berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Sistematika Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistematika penulisan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran penelitian yang lebih jelas dan sistematis agar mempermudah bagi pembaca dalam memahami penulisan penelitian ini. Dari masing-masing bab secara garis besar dapat diuaraikan sebagai berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini akan diuaraikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini berisi pembahasan tentang akuntansi pemerintahan, otonomi daerah, tinjauan keuangan daerah, anggaran pendapatan belanja daerah (APBD), analisis rasio APBD dan tinjauan penelitian terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini berisi tentang jenis penelitian, obyek penelitian, data dan sumber data, serta metode analisis data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini membahas tentang gambaran umum Kabupaten Sukoharjo, baik kondisi geografis maupun segi ekonomi dan hasil analitis data serta pembahasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab ini berisi tentang kesimpulan hasil analisis data dan pembahasan serta saran-saran yang dapat diberikan kepada pemerintah kabupaten Sukoharjo. &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-5043359598473366712?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/5043359598473366712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/5043359598473366712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/analisis-perkembangan-kemampuan_15.html' title='ANALISIS PERKEMBANGAN KEMAMPUAN KEUANGAN DAERAH DALAM MENDUKUNG PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH DI KABUPATEN SUKOHARJO'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-171429821374358138.post-5331098127834369421</id><published>2010-07-15T00:00:00.000+07:00</published><updated>2010-07-15T00:01:27.962+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi Akuntansi'/><title type='text'>Analisis Peranan Sektor Usaha Kecil Menengah Tidak Berbadan Hukum dalam Penyerapan Tenaga Kerja di Daerah Jawa dan Bali</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama empat dasawarsa terakhir ini, perhatian utama perekonomian dunia tertuju pada cara-cara untuk mempercepat tingkat pertumbuhan ekonomi. Para ekonom di negara kaya dan miskin yang menganut sistem kapitalis , sosialis maupun campuran semuanya sangat mendambakan dan menomorsatukan pertumbuhan ekonomi (economic growth).&lt;span class="fullpost"&gt; “Pengejaran pertumbuhan “ merupakan tema sentral dalam kehidupan ekonomi semua negara di dunia dewasa ini. Berhasil tidaknya program – program pembangunan di negara dunia ketiga sering dinilai berdasarkan tinggi rendahnya tingkat pertumbuhan output dan pendapatan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua negara muslim masuk dalam kategori negara-negara berkembang meskipun diantaranya relatif kaya sementara sebagian lain relatif miskin . Mayoritas negeri-negeri ini, terutama yang miskin seperti negara berkembang lainnya, dihadapkan pada persoalan yang sulit. Salah satu problemnya adalah ketidakseimbangan ekonomi makro yang dicerminkan dalam angka pengangguran dan inflasi yang tinggi, defisit neraca pembayaran yang sangat besar , depresiasi nilai tukar mata uang yang berkelanjutan dan beban utang yang berat , problem lainnya adalah kesenjangan pendapatan dan kekayaan yang sangat melebar diantara golongan yang berbeda-beda dari setiap negara dan juga antar negara muslim. (Umer Chapra, 2001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang menyebutkan ekonomi adalah segala tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhannya yang tak terbatas dengan menggunakan faktor-faktor produksi yang terbatas, sehingga dapat disimpulkan (Sakti, 2003) ; pertama, definisi ini meyiratkan tingkah laku manusia tersebut terfokus sebagai tingkah laku yang bersifat individualis. Kedua, bahwa tingkah laku manusia itu bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan (needs), tetapi pada hakekatnya untuk memuaskan keinginan (wants) yang memang tak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dalam Islam tidak mengenyampingkan unsur-unsur ego yang timbul dari dalam diri manusia, namun sebelumnya ada keyakinan dan pemahaman bahwa hidup ini adalah ibadah (kepatuhan kepada Tuhan), hidup ini hanyalah sementara (keyakinan pada kehidupan setelah mati), dan tujuan hidup adalah kebaikan akhirat (Umer Chapra,2000) mnusia pun sepatutnya merujuk pada keyakinan tadi dengan mematuhi “prasyarat-prasyarat” moral maupun fisik dari keyakinan itu. Dengan begitu perilaku tidak lagi didominasi oleh ego. Manusia Islam berkeyakinan bahwa melaksanakan kewajiban-kewajiban asasinya (meminjam istilah “kewajiban asasi”-nya Emha Ainun Najib) sebagai hamba Allah SWT dan sebagai makhluk sosial akan secara otomatis memenuhi hak-hak asasinya sebagai seorang individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penciptaan konsep hidup Islam yang memang Allah SWT khususkan buat manusia tentu sudah begitu sesuai dengan kecenderungan dan karakteristik manusia, sebab Allah jualah yang enciptakan manusia dengan segala variasi kecenderungan sifat, sikap, kecerdasan dan emosi berikut karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep hidup yang kemudian secara spesifik memiliki aturan-aturan yang khas pada semua aspek kehidupan, ekonomi, hukum, politik dan sosial-budaya, tentu saja mempertimbangkan dan mengerti betul apa yang menjadi fitrah manusia. Dengan demikian konsep hidup Islam sudah menjadi konsep hidup yang dapat dikatakan sempurna. Islam lengkap mengatur semua aktivitas manusia dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Allah SWT melihat dan menilai interaksi manusia di dunia menggunakan konsep hidup yang memang sudah Allah ridhai[1] mempertimbangkan juga kemampuan manusia tersebut. Jadi kesuksesan manusia di dunia yang akan terlihat dalam kehidupan akherat juga bergantung pada kemampuan masing-masing manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia sebagai individu perlu menjaga keberlangsungan hidupnya dengan cara mencari harta (produksi). Perilaku produksi pada dasarnya merupakan usaha dari seseorang atau beberapa orang untuk lepas dari kemiskinan. Di samping itu produksi dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan setiap individu dan membangun kemandirian ummat. Qardhawi menambahkan bahwa nilai moral yang menjadi motif perilaku adalah keutamaan mencari nafkah, menjaga semua sumber daya (flora-fauna dan alam sekitar), professional (amanah) dan berusaha pada sesuatu yang halal (Qardhawi, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup itu diantaranya dengan melakukan Usaha Kecil Menengah. Keberadaan (existence) dan keberlangsungan (continuity) hidup UKM (Usaha Kecil dan Menengah) ikut dipengaruhi juga oleh kedua faktor Internal yaitu motif ekonomi dan Eksternal yaitu lingkungan dan habitat ekonomi yang menjadi tempat hidup seseorang atau suatu komunitas dalam melaksanakan kehidupan ekonominya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ada usaha untuk melakukan penelaahan dan pengkajian UKM maka setidaknya 2 hal tadi mesti dipahami dengan baik. Pertama hendaknya UKM sendiri hendaknya bisa mengkaji diri untuk mengambil pemahaman diri secara baik sedangkan yang ke dua bahwa UKM harus bisa memahami arah, hubungan, dan kondisi yang terciptakan dengan pihak luar, termasuk pihak negara yang dalam hal ini direpresentasikan oleh pemerintah sebagai organisator negara. Hubungan antara pemerintah dengan UKM yang tepat adalah hubungan peran abdi negara terhadap salah satu bagian pemilik negara, dengan jalan memandang UKM sebagai usaha ekonomi yang melibatkan banyak orang dan menjadi gantungan hidup bagi sebagian besar rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan usaha kecil menengah (UKM) diperkirakan lebih baik karena makin terbukanya kesempatan berusaha serta adanya konsolidasi di kalangan UKM dalam mengatasi keterbatasan akses permodalan (Sukamdani,2001), sejak krisis keuangan sektor UKM tetap bisa berjalan meskipun tidak didukung kebijakan yang tepat dari pemerintah maupun kredit perbankan."Justru dalam keadaan sulit seperti itu UKM belajar bagaimana menciptakan peluang-peluang baru termasuk mengatasi keterbatasan modal dengan cara sharing sesama pengusaha dengan pola bagi hasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UKM yang dahulu banyak mengandalkan dari proyek pemerintah kini sudah banyak beralih ke bisnis yang tahan terhadap krisis seperti agroindustri, perdagangan, ekspor serta yang berbasis human resources. Ke depannya perkembangan UKM informal cukup baik asalkan faktor politik dan keamanan dapat mendukung dalam arti kondisi stabilitas politik dan keamanan harus lebih bagus.  &lt;h2 style="color: rgb(255, 0, 0);" class="title"&gt;&lt;a href="http://www.diskusiskripsi.com/2010/04/katalog-judul-dvd-koleksi-skripsi.html"&gt;&lt;blink&gt;File Selengkapnya.....&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/171429821374358138-5331098127834369421?l=www.diskusiskripsi.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/5331098127834369421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/171429821374358138/posts/default/5331098127834369421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.diskusiskripsi.com/2010/07/analisis-peranan-sektor-usaha-kecil.html' title='Analisis Peranan Sektor Usaha Kecil Menengah Tidak Berbadan Hukum dalam Penyerapan Tenaga Kerja di Daerah Jawa dan Bali'/><author><name>DiskusiSkripsi.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04047511595934242909</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='11059292987006531593'/></author></entry></feed>