Showing posts with label Emosional. Show all posts
Showing posts with label Emosional. Show all posts

Metode Melatih Kecerdasan Emosional Pada Anak

PENDAHULUAN

A. PENEGASAN ISTILAH
Untuk memperoleh gambaran dan pengertian yang jelas serta untuk menghindari salah tafsir tentang judul ini, maka dianggap perlu untuk memeberi penegasan istilah berkaitan dengan judul ini.
1. Metode
Metode berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari kata meta yang berarti melalui dan hodos yang berarti jalan. Jadi metode adalah jalan yang dilalaui. Metode juga berarti cara kerja yang sistematis untuk mempermudah suatu kegiatan dalam mencapai maksudnya.
Penggunaan istilah metode dalam penelitian ini dengan maksud menyelidiki tentang berbagai cara yang digunakan sesuai dengan obyek yang diteliti.
2. Melatih Kecerdasan Emosional pada Anak
Melatih dapat diartikan dengan membiasakan diri atau belajar. Menurut Daniel Goleman dalam bukunya “Emotional Intellegence”, Kecerdasan emosional adalah kemampuan memahami perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi yang baik pada diri sendiri dan hubungannya dengan orang lain.
Jadi Emotional Intellegence merupakan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memanage emosinya supaya dapat terarah, sehingga emosi dapat digunakan secara proposional pada saat melakukan suatu tindakan serta dapat mengenali efek positif dan efek negatif dari emosi itu.
Anak adalah seseorang yang pada suatu masa dan perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi cerdas. Sedangkan anak menurut Zakiah Daradjat adalah manusia kecil yang berkisar antara umur 0-12 tahun. Dengan demikian, yang dimaksud dengan melatih kecerdasan emosional pada anak dalam penelitian ini ialah memberikan pembelajaran atau pembiasaan diri pada anak, khususnya anak pada umur sekitar 6–9 tahun tentang kemampuan memahami perasaannya sendiri, orang lain, memotivasi diri dan juga mampu memanage emosinya secara proposional.
3. Studi
Studi berasal dari bahasa Inggris Study, diIndonesiakan melalui proses peminjaman kata dari bahasa asing dengan mengagantikan huruf y memjadi I, kemudian studi mempunyai arti penyelidikan.
Agar lebih operasional, maka studi pada penelitian ini diartikan sebagai suatu penyelidikan tentang metode yang digunakan guru dalam melatih kecerdasan emosional siswa.
4. Praktek
Menurut Peter Salim dan Yenny Salim, praktek adalah cara pelaksnaan teori secara nyata. Praktek yang dimaksud dalam skripsi ini adalah praktek guru dalam mengenali emosi siswa, mengendalikan perilaku–perilaku negatif siswa, menjalin komunikasi secara empatik, dan menanamkan nilai–nilai emosional dan sosial, seperti; kedisiplinan, kemandirian, motivasi diri, ketekunan, ketrampilan berkomunikasi dan tata krama sosial. Siswa di sini dikhususkan pada siswa kelas rendah yaitu kelas I, II, dan III sekolah dasar.
5. SD Muhammadiyah Suronatan
Adalah merupakan salah satu instansi sekolah yyang dirintis oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan yang didirikan pada tahun 1918. Sekolah ini berada dibawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka maksud dari judul skripsi “METODE MELATIH KECERDASAN EMOSIONAL PADA ANAK (Studi Pada Praktek guru Melatih Kecerdasan Emosional Siswa di SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta), adalah penelitian lapangan yang berusaha menggambarkan mengemukakan dan menguraikan data atau informasi sebagaimana adanya tanpa memberikan perlakuan terhadap subyek penelitian.

B. LATAR BELAKANG MASALAH
Setiap anak yang lahir normal, baik fisik maupun mentalnya berpotensi menjadi cerdas. Hal yang demikian terjadi, karena secara File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Konsep Kecerdasan Emosi Daniel Goelman dan Relevansinya

BAB I
PENDAHULUAN

Penegasan Judul
Dalam penelitian ini penulis memberi judul “KONSEP KECERDASAN EMOSI DANIEL GOLEMAN DAN RELEVANSINYA DENGAN KESEHATAN MENTAL ZAKIAH DARADJAT”
Untuk menghindari kesalahan dan demi terarahnya pembahasan, maka penulis merasa perlu untuk menegaskan istilah-istilah pokok yang terdapat dalam judul tersebut. Adapun judul yang perlu dijelaskan adalah:
“Konsep”
Diambil dari kata “concept” (Inggris) yang mempunyai arti konsep, bagan dan pengertian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pengertian, pendapat, rancangan, cita-cita yang telah dipikirkan. Konsep yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gambaran ide, pengertian, pendapat, maupun gagasan Daniel Goleman tentang kecerdasan emosi dan pendapat Zakiah Daradjat tentang kesehatan mental.
“Kecerdasan Emosi”
Istilah ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995 dan untuk pertama kalinya dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Petersolovey dari Horvard University dan Jhon Mayer dari University of Newhampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan hidup manusia, antara lain empati, mengungkapkan, memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan mengendalikan diri. Jadi, kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk merasakan, memahami, mengarahkan emosi, sehingga dapat dimenej secara proposional ketika berhadapan dengan tantangan hidup, musibah, dan perlawanan orang lain.
“Relevansi”
Relevansi berarti hubungan, kaitan. Dan yang dimaksud relevansi dalam studi ini yaitu keterkaitan konsep kecerdasan emosi Daniel Goleman dengan kesehatan mental Zakiah Daradjat.
“Kesehatan Mental”
Yaitu kesehatan berasal dari kata “sehat” yang berarti dalam keadaan fisik yang baik, bebas dari sakit. Dalam Undang-Undang RI bahwa sehat adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan, mental, sosial bukan hanya dari penyakit cacat dan kelemahan. Mental (dari kata Latin mens, mentis) artinya jiwa, roh, nyawa, dan semangat. “Mental” adalah kepribadian yang merupakan kebulatan yang dinamik dari seseorang yang tercermin dalam cita-cita, sikap, dan kepribadian. Jadi, kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan, kemampuan dan fungsi jiwanya yang berupa fikiran, perasaan, sikap, pandangan, dan keyakinan hidup.

Latar Belakang Masalah
Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dengan pesatnya, bukan hanya di bidang teknologi, informasi, kedokteran, pertanian, akan tetapi juga di bidang psikologi, yaitu tentang konsep kecerdasan manusia.
Konsep kecerdasan manusia, jika dilihat dari sejarah perkembangannya pada mulanya lahir akibat adanya berbagai tes mental yang dilakukan oleh berbagai psikolog untuk menilai manusia ke dalam berbagai tingkat kecerdasan. Diistilahkan atau lebih dikenal dengan kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient). Tes IQ adalah cara yang digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang . Jadi menurut teori ini, semakin tinggi IQ seseorang maka semakin tinggi pula kecerdasannya.
Seiring dengan perkembangannya, tes inteligensi yang muncul pada awal abad ke-20 yang dipelopori oleh Alferd Binet (1980), ternyata tes inteligensi memiliki kekurangan atau kelemahan. Kekurangan itulah yang melatarbelakangi munculnya teori baru dan sebagai alat untuk menyerang teori tersebut. Teori baru ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman yang dikenal dengan istilah Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence). Menurut Daniel Goleman, EQ sama ampuhnya dengan IQ, dan bahkan lebih. Terlebih dengan adanya hasil riset terbaru yang menyatakan bahwa kecerdasan kognitif (IQ) bukanlah ukuran kecerdasan (Intelligence) yang sebenarnya, ternyata emosilah parameter yang paling menentukan dalam kehidupan manusia. Menurut Daniel Goleman (IQ) hanya mengembangkan 20 % terhadap kemungkinan kesuksesan hidup, sementara 80 % lainnya diisi oleh kekuatan-kekuatan lain. Ungkapan Goleman ini seolah menjadi jawaban bagi situasi ‘aneh’ yang sering terjadi di tengah masyarakat, di mana ada orang-orang yang diketahui ber-IQ tinggi ternyata tidak mampu mencapai prestasi yang lebih baik dari sesama yang ber-IQ lebih rendah.
Kelebihan lain dari kecerdasan emosi ini adalah kenyataan bahwa kecerdasan emosi bukanlah kecerdasan statis yang diperoleh karena ‘warisan’ orang tua seperti IQ. Selama ini telah diketahui bahwa seseorang yang terlahir dengan IQ rendah tidak dapat direkayasa untuk menjadi seorang jenius. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang dilahirkan dari orang tua ber-IQ tinggi kemungkinan besar akan ‘mengikuti jejak’ orang tuanya dengan ber-IQ tinggi juga. Adapun kecerdasan emosi dapat tumbuh dan berkembang seumur hidup dengan belajar. Cerdas tidaknya emosi seseorang tergantung pada proses pembelajaran, pengasahan, dan pelatihan yang dilakukan sepanjang hayat.
Seseorang yang belum memiliki kecerdasan emosi biasanya akan mudah mengalami gangguan kejiwaan, atau paling tidak kurang dapat mengendalikan emosinya, dan mudah larut dalam kesedihan apabila mengalami kegagalan. Apabila muncul perilaku-perilaku negatif yang disebabkan oleh kurangnya kecerdasan emosi, maka tidak mengherankan bila merugikan bagi orang lain yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu, kecerdasan emosi sangat diperlukan bagi setiap orang, karena dengan kecerdasan emosi orang akan memiliki rasa introspeksi yang tinggi, sehingga manusia tidak akan mudah marah, egois, tidak mudah putus asa, dan selalu memiliki rasa lapang dada dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Survey telah membuktikan terhadap orang tua dan guru-guru adanya kecenderungan yang sama diseluruh dunia, yaitu generasi sekarang, lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya: lebih kesepian dan pemurung, lebih brangasan dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif dan agresif. Dan dari hasil penelitanya Daniel Goleman menemukan situasi yang disebut dengan when smart is damb, ketika orang cerdas jadi bodoh . Daniel Goleman menemukan bahwa orang Amerika yang memiliki kecerdasan atau IQ diatas 125 umumnya bekerja kepada orang yang memiliki kecerdasan rata-rata 100. artinya, orang yang cerdas umumnya bekerja kepada orang yang lebih bodoh darinya. Jarang sekali orang yang cerdas secara intelektual sukses dalam kehidupan. Melainkan orang-orang yang biasalah yang sukses dalam kehidupanya karena kecerdasan emosinya.
Lantas apakah yang menentukan sukses dalam kehidupan ini? Bukan kecerdasan intelektual akan tetapi kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional diukur dari kemamapuan mengendalikan emosi dan menahan diri. Dalam kesehatan mental kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam menghadapi kesulitan, ketika belajar tekun dapat menyesuaikan diri, dapat mengembangkan potensi, dan berhasil dalam mengatasi berbagai gangguan dan dapat mengendalikan emosinya. Dan faktor-faktor ini pula yang menjadikan manusia sehat mentalnya.
Daniel Goleman menceritakan dalam kisah nyata betapa fatalnya orang yang tidak memiliki kecerdasan emosional. Pada suatu saat ada seorang anak meminta izin kepada orang tuanya untuk menginap dirumah kawanya. Sementara anak itu pergi, orangtuanyapun pergi untuk menonton opera. Taklama dari itu, anak tersebut kembali kerumah karena tidak betah tinggal di rumah temanya. Pada saat itu, orangtuanya masih menonton opera. Anak nakal itu mempunyai rencana, ia ingin membuat kejutan untuk orangtuanya ketika pulang kerumah pada waktu malam. Ia akan diam di teile dan jika orangtuanya datang, ia akan meloncat dari toilet itu sambil berteriak. Beberapa saat kemudian, orangtuanya pulang dari opera menjelang tengah malam. Ketika melihat lampu toilet di rumahnya masih menyala mereka menyangka ada pencuri di rumahnya. Mereka masuk kerumah perlahan-lahan sambil membuka pintu untuk segera mengambil pistol lalu mengendap naik ke atas loteng tempat toilet itu berada. Ketika sampai di atas, tiba-tiba terdengar teriakan dari toilet itu. Ditembaklah orang yang berteriak itu sampai lehernya putus. Dua jam kemudian anak itu meninggal dunia.
Bisa dibayangkan betapa menyesalnya kedua orangtua itu, mereka bertindak terlalu cepat. Mereka mengikuti emosi takut dan kehawatiranya sehingga panca indranya belum sempat menyampaikan informasi yang lengkap tentang orang yang meloncat dan berteriak itu, seharusnya mereka menganalisis dulu mereka lihat siapa orang itu. Kisah diatas menunjukkan akibat kecerdasan emosi yang tidak terlatih atau kategori kecerdasan emosi rendah mereka memperturutkan emosinya dalam bertindak.
Emosi sangat mempengaruhi kehidupan manusia ketika dalam mengambil keputusan, tidak jarang suatu keputusan diambil melalui emosinya. Tidak ada sama sekali keputusan yang diambil manusia murni dari pemikiran rasionalnya. Karena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional. Jika seseorang File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Teman DiskusiSkripsi.com


 

Free Affiliasi Program