Showing posts with label Keperawatan. Show all posts
Showing posts with label Keperawatan. Show all posts

Persepsi Karyawan terhadap Sistem Akuntansi Penjualan Tunai di Rimo Departemen

BAB I

PENDAHULUAN


Seiring dengan perkembangan jaman, keberadaan pasar tradisional mulai

tersaingi atau bahkan tergeser oleh adanya bisnis eceran modern. Bisnis eceran

atau biasa disebut dengan pedagang eceran semakin terasa keberadaannya dalam

kehidupan masyarakat sehari hari. Berbagai macam pusat perbelanjaan eceran

mulai bermunculan dengan bermacam bentuk dan ukuran. Beberapa contoh

bentuk pusat perbelanjaan eceran misalnya minimarket dan supermarket.

Dengan semakin banyak supermarket di berbagai kota, maka keberadaan

supermarket di tengah-tengah masyarakat menjadi semakin penting. Hal ini

disebabkan selain karena adanya perubahan cara pandang konsumen terhadap

supermarket itu sendiri.

Kadang konsumen sekedar pergi berbelanja tanpa produk atau merek
spesifik dalam pikirannya. Ini mungkin mencerminkan suatu keinginan
untuk keluar dari rumah, untuk melihat-lihat toko, atau untuk
menghabiskan waktu senggang bersama keluarga. (Engel, Blackwell dan
Miniard, 1995 : 251).


Perilaku konsumen tersebut kemudian mengubah bisnis ritel yang semula

dipandang sebatas penyedia barang dan jasa, menjadi tidak sekedar tempat

berbelanja, tetapi juga bersosialisasi. Engel, Blackward dan Miniard (1995 : 253)



1




2




mengungkapkan beberapa motif pribadi orang berbelanja adalah untuk hiburan

dan pemuasan diri. Berbelanja dapat memberikan kesempatan untuk hiburan dari

kehidupan rutin sehari-hari. Keadaan emosional atau suasana hati bisa

memotivasi keinginan konsumen untuk berbelanja. Sebagai konsekuensinya,

bisnis ritel yang semula dikelola secara tradisional berubah menjadi bisnis yang

semakin inovatif, dinamis dan kompetitif.

Persaingan yang ketat dalam bidang ritel, khususnya di Indonesia, juga

disebabkan semakin banyaknya bisnis ritel luar negeri yang memasuki pasar

domestik. Masuknya bisnis ritel dari luar negeri yang dikelola secara profesional

menuntut bisnis ritel domestik untuk dikelola secara profesional pula agar mampu

bersaing dalam melayani konsumen. Persaingan untuk memperebutkan konsumen

dibisnis ritel pun semakin ketat dengan semakin banyaknya pusat perbelanjaan

domestik yang bermunculan. Realitas kompetitifnya adalah bahwa pusat-pusat

perbelanjaan harus bekerja sekeras mungkin untuk menarik konsumen dari pusat

perbelanjaan lain. Oleh karena itu diperlukan strategi yang jitu untuk saling

memperebutkan konsumen.

Lingkungan fisik, harga dan kualitas produk menjadi faktor yang penting

dalam mempengaruhi persepsi karyawan untuk mendukung usaha ritel yang titik

beratnya adalah penjualan tunai. Kegiatan penjualan merupakan kegiatan yang

berlangsung terus menerus di mana didalamnya terdapat suatu sistem penjualan



3




yang mengatur pengeluaran produk untuk memenuhi permintaan produk.

Penjualan merupakan bagian dari sistem perusahaan yang didesain untuk

mengatur jalannya penjualan suatu produk agar diterima konsumen dan

diterimanya pembayaran produk yang dijual tersebut. Penjualan tunai yang baik

harus dapat menyediakan informasi bagi manajemen dengan cepat dan tepat

sehingga manajemen dapat mengetahui apakah kebijakan-kebijakan penjualan

yang telah diterapkan sudah berjalan dengan baik, sehingga manajemen dapat

dengan cepat memutuskan langkah-langkah yang harus segera diambil.

Mengingat bahwa perkembangan bisnis retail di Rimo Departement Store

Surakarta sangat pesat dan masih banyaknya peluang untuk memasuki pasar

bisnis ritel, maka studi tentang persepsi karyawan sangat diperlukan untuk

mengukur daya saing mereka di pasar.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti bermaksud untuk

melakukan penelitian tentang “Persepsi Karyawan terhadap Sistem Akuntansi

Penjualan Tunai di Rimo Departement Store Surakarta”.




B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai

berikut : Apakah karyawan berpersepsi sama terhadap sistem akuntansi penjualan

tunai di Rimo Departement Store Surakarta ?








C. Pembatasan Penelitian



4


Untuk memperjelas dan mempermudah penelitian ini, maka penulis hanya

membatasi masalah yang diteliti mengenai persepsi karyawan di Rimo

Departement Store Surakarta tentang sistem penjulan tunai yang terdiri dari

prosedur penjualan, pelaporan, penerimaan uang dan pengendalian intern.



D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : untuk mengetahui apakah

karyawan berpersepsi sama terhadap sistem akuntansi penjualan di Rimo

Departement Store Surakarta.



E. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai

berikut :
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Kualitas Dokumentasi Asuhan Keperawatan Di Paviliun Vinolia Dan Ruang Dahlia Instalasi Rawat Inaprsud Kota Yogyakarta

INTISARI
Latar belakang: Dokumentasi keperawatan sangat penting bagi perawat
dalam memberikan asuhan keperawatan karena pelayanan keperawatan
yang diberikan kepada klien membutuhkan pencatatan dan pelaporan yang
dapat digunakan sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat dari berbagai
kemungkinan masalah yang dialami klien baik masalah kepuasan maupun
ketidakpuasan terhadap pelayanan yang diberikan. RSUD Kota Yogyakarta
banyak digunakan sebagai tempat penelitian tetapi belum pernah dilakukan
penelitian tentang dokumentasi keperawatan. Dan berdasarkan studi
dokumentasi didapatkan hasil penilaian instrumen A tahun 2006 dengan ratarata
49,6% untuk Ruang Dahlia dan 81,4 di Paviliun Vinolia sehingga
dilakukan penelitian ini.
Tujuan Penelitian: Mengetahui tentang kualitas dokumentasi di Paviliun
Vinolia dan Ruang Dahlia IRNA RSUD Kota Yogyakarta.
Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah deskriptif non eksperimental
dengan pendekatan evaluasi yaitu dengan observasi berkas rekam medik
pasien Paviliun Vinolia dan Ruang Dahlia RSUD Kota Yogyakarta.
Penentuan sampel penelitian ini adalah total sampling.
Hasil penelitian: Diperoleh kualitas dokumentasi di Paviliun Vinolia dan
Ruang Dahlia RSUD Kota Yogyakarta sudah baik dengan prosentase ratarata
aspek pengkajian adalah 87,57%, diagnosa 79,47%, perencanaan
64,72%, tindakan 87,64%, evaluasi 79,73% dan dari aspek catatan asuhan
keperawatan sebesar 79,07%. Dan rata-rata secara umum kualitas
dokumentasinya adalah 79,70%.
Kata kunci: Dokumentasi Keperawatan, Kualitas File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pembuatan Sistem Informasi Rekam Medis Di Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Bantul

INTISARI
PEMBUATAN SISTEM INFORMASI REKAM MEDIS
DI RUMAH SAKIT UMUM PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

Sistem informasi rekam medis di Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah
Bantul masih memiliki banyak kelemahan dan kekurangan dalam hal pengoperasian,
sehingga mengakibatkan pelayanan menjadi terganggu. Selain itu laporan eksternal
(RL2a dan RL2b) yang dihasilkan tidak sesuai dengan Sistem Pelaporan Rumah Sakit
Revisi V dan tidak valid, sehingga untuk membuat laporan eksternal yang benar
harus melalui proses yang tidak efisien.
Penelitian ini dimaksudkan untuk membuat sistem informasi rekam medis yang
dapat memenuhi kebutuhan Instalasi Rekam Medis di Rumah Sakit Umum PKU
Muhammadiyah Bantul dalam hal kemudahan pembuatan laporan dan validitas
laporan yang dihasilkan.
Hasil yang dicapai pada penelitian ini adalah sistem informasi rekam medis
yang dapat mempersingkat proses pembuatan laporan dan dapat menghasilkan
laporan eksternal yang valid dalam artian data yang didapatkan dalam bentuk laporan
sesuai dengan data yang diinputkan dan sesuai dengan buku Sistem Pelaporan Rumah
Sakit Revisi V.
Kata kunci : Sistem Informasi Rekam Medis, Rumah Sakit Umum PKU
Muhammadiyah Bantul, Electronic Medical Record, Web Application, Web Based
Information System. File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Kontrasepsi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat mutu hidup, produktifitas tenaga kerja, angka kesakitan dan kematian yang tinggi pada bayi dan anak-anak, menurunnya daya kerja fisik serta terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung atau tidak langsung dari masalah gizi kurang.
Angka kematian ibu dan angka kematian bayi d Indonesia tertinggi di Asia Tenggara. Karenanya, hal itu menjadi kegiatan prioritas Departemen Kesehatan pada periode 2005-2009. prioritas ini adalah pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin; penanggulangan penyakit menular, gizi buruk, dan krisis kesehatan akibat bencana; serta peningkatan pelayanan kesehatan didaerah terpencil, tertinggal dan daerah perbatasan serta pulau-pulau terluar (Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2002-2003).
Pada tahun 2000 Indonesia menempati urutan kelima di dunia dalam hal jumlah penduduk (Mochtar, 1998). Pada tahun 2003 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sebesar 211.000.598 jiwa dengan tingkat kepadatan 113 jiwa per km2 dan angka pertumbuhan penduduk sebesar 1,59% (jumlah penduduk tahun 2002 dilaporkan sebesar 211.000.598 jiwa) (Depkes RI, 2003)
Dalam pembangunan bangsa, peningkatan kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak dini yaitu sejak masih bayi, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI semaksimal mungkin merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan anak dan persiapan generasi penerus di masa depan. Akhir-akhir ini sering dibicarakan tentang peningkatan penggunaan ASI. Dukungan politis dari pemerintah terhadap peningkatan penggunaan ASI telah memadai, hal ini terbukti dengan telah dicanangkannya Gerakan Nasional Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (GNPP-ASI) oleh Bapak Presiden pada hari Ibu tanggal 22 Desember 1990 yang betemakan "Dengan Asi, kaum ibu mempelopori peningkatan kualitas manusia Indonsia". Dalam pidatonya presiden menyatakan juga bahwa ASI sebagai makanan tunggal harus diberikan sampai bayi berusia empat bulan. Pemberian ASI tanpa pemberiaan makanan lain ini disebut dengan menyusui secara ekslusif. Selanjutnya bayi perlu mendapatkan makanan pendamping ASI kemudian pemberian ASI di teruskan sampai anak berusia dua tahun. (GNPP-ASI oleh Bapak Presiden tanggal 22 Desember 1990)
Hasil penelitian yang dilakukan di Biro Konsultasi Anak di Rumah Sakit Sedangkan dari hasil perhitungan data susenas tahun 2004 persentase bayi yang mendapat ASI ekslusif usia 0-6 bulan di Provinsi Lampung sebesar 74,4% (Profil Kesehatan Provinsi Lampung, 2005)
Salah satu kebijakan dalam menanggulangi masalah kependudukan di Indonesia adalah dengan memberikan pengetahuandan pengetahuan tentang kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) secara bertahap agar sikap penerimaan keluarga beras akan dapat diubah lalu dihayati menjadi sikap keluarga kecil menuju Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) (Mochtar, 1998).
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa manfaat KB bagi keluarga sangat besar terutama bagi ibu. Selain itu, KB dan kontrasepsi juga menjamin bahwa bayi akan mendapat nutrisi yang cukup untuk waktu tertentu dengan cara mencegah kehamilan yang terlampau dini setelah melahirkan. Hal ini sangat penting karena ASI merupakan sumber nutrisi dan imunisasi yang paling baik untuk bayi yang sedang tumbuh berkembang dan laktasi juga dapat menunda ferilitas post partum (Hartanto, 2003)
Berdasarkan data Puskesmas di Kelurahan Hadimulyo Timur, jumlah ibu menyusui bayi usia 0-6 bulan sebanyak 30 orang. Dari hasil prasurvey di posyandu Melati IV dengan 8 orang ibu diketahui 6 orang akseptor KB IUD, sebanyak 7 orang mengatakan tidak tahu alasan mengapa menggunakan alat kontrasepsi tersebut selama laktasi dan tidak tahu pengaruh alat kontrasepsi yang digunakan terhadap ASI.
Ketrbatasan Pengetahuanibu tersebut merupakan suatu masalah dalam memilih alat kontrasepsi, sehingga penulis ingin mengetahui ”Bagaimana Pengetahuan Ibu Menyusui tentang Alat Kontrasepsi di Kelurahan Hadimulyo Timur.

B. Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah bagaimana PengetahuanIbu Menyusui tentang Alat Kontrasepsi di Kelurahan Hadimulyo Timur Kecamatan Metro Pusat?”.

C. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam Penelitian ini, penlis membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut: File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pengetahuan Perawat Tentang Kegawatan Nafas Dan Tindakan Resusitasi Pada Neonatus Yang Mengalami

ABSTRAK

Pengetahuan perawat tentang kegawatan nafas dan tindakan resusitasi pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan sangat penting dalam pembentukan perilaku untuk melakukan tindakan resusitasi yang efektif. Pengetahuan ini mencakup konsep kegawatan pernafasan, konsep asuhan keperawatan pada neonatus yang mengalami kegawatan pernafasan, dan konsep dasar resusitasi dan konsep tindakan resusitasi yang meliputi tindakan pengelolaan jalan nafas (airway), pemberian nafas buatan (breathing) dan tidakan pemijatan dada (circulation). maka perawat harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang konsep resusitasi.
Populasi penelitian ini adalah perawat Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak RSUD Gunung Jati Cirebon yang berjumlah 35 orang, dan tehnik penarikan sampel yang digunakan adalah dengan tehnik total sampling . Jenis penelitian adalah deskriptif. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang mempunyai skala 1 untuk jawaban yang benar dan 0 untuk jawaban yang salah dan dianalisa untuk mendapatkan kriteria baik, cukup dan kurang.
Hasil penelitian ini menggambarkan pengetahuan perawat tentang kegawatan nafas dan tindakan resusitasi pada neonatus yag mengalami kegawatan pernafasan di Ruang NICU, Ruang Perinatologi dan Ruang Anak, dimana pengetahuan perawat yang dikategorikan baik adalah 40%, cukup 46% dan kategori kurang adalah 14%.
Berdasarkan penelitian ini disarankan bahwa pengetahuan perawat dan keterampilan tindakan resusitasi untuk selalu ditingkatkan baik formal maupun nonformal sehingga dalam pemberian asuhan keperawatan pada situasi kritis dapat dilakukan dengan lebih efektif dan bagi pihak rumah sakit bertanggung jawab memberikan fasilitas dan sarana yang memadai bagi tenaga keperawatan untuk dapat meningkatkan pengetahuan baik berupa pelatihan maupun pendidikan berjenjang dalam rangka memberikan pelayanan prima kepada masyarakat File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Efektifitas Mengkudu Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi

ABSTRACTION

Effectivity of Mengkudu to Blood Pressure Degradation
At Hypertension Patient

Hypertension represent the common public health problem happened in society. Many people suffering from the, but do not realize it. This disease move along for a lifetime and often without existence of typical sigh during not yet there is komplikasi at body organ. Hypertension represent the irremediable disease is but controlled. In controlling our hypertension can exploit the natural substance of permanent material of mengkudu, which can be reached from material facet beside as exploiting from environment.
This research aim to know the efektifitas mengkudu to degradation of blood pressure of hypertension patient. this Pattern Research is one group pre test the post test the design. Population in this research is entire all hypertension patient in Countryside of Dagangan Madiun with the amount 22 people. Sampling technique used is purposive sampling with the responder amount 10 responder. Data collecting by doing tension observation of before given by a intervention is then conducted by a intervention and also observation of tension or blood pressure is hereafter given by intervention.
From research result got by result of statistical test of Tarithmetic Ttable (- 50,2 8) for the blood pressure of systole and (- 55 8) for the blood pressure of diastole, hence Ho refused meaning there is influence mengkudu to degradation of blood pressure of hypertension patient

Keyword : Effectivity, Mengkudu, hypertension File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Antara Peran Keluarga Terhadap Tingkat Kecemasan Injecting Drug User (IDU) Usia 15-35 Ta...

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tujuan pembangunan kesehatan Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan dan fasilitas kesehatan yang bermutu secara adil dan merata diseluruh wilayah Republik Indonesia dan dapat mewujudkan bangsa yang mandiri maju dan sejahtera.
Sejalan dengan tujuan pembangunan yang berwawasan kesehatan dan kesejahteraan maka pemerintah telah menetapakan pola dasar pembangunan yaitu pembangunan mutu SDM di berbagai sektor serta masih menitik beratkan pada program-program pra-upaya kuratif dan rehabilitatif yang didukung oleh informasi kesehatan secara berkesinambungan sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berperilaku hidup sehat, lingkungan sehat dan memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri serta dapat menjangkau pelayanan kesehatan yang berkualitas di tahun 2010. (Wijono,1999).

Untuk mewujudkan tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010, maka strategi pembangunan kesehatan diarahkan pada misi pembangunan kesehatan yaitu :
1. Menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan.
2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.
3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, rata dan terjangkau.
4. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya.
Akan tetapi keberhasilan pembangunan kesehatan menurut Azwar, 1996, tidak akan terwujud tanpa kerja keras dan dukungan dari semua pihak serta sangat dipengaruhi oleh peran aktif semua pihak termasuk didalamnya pemerintah, masyarakat serta pihak swasta.
Oleh karena itu magang yang dilaksanakan oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesahatan (STIK) Makassar sebagai suatu proses pembelajaran dalam rangka sosialisasi yang dilaksanakan oleh mahasiswa STIK Makassar sebagai salah satu persyaratan akademis yang harus dipenuhi sebelum mahasiswa yang bersangkutan menyelesaikan studinya dan mencapai gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat.

B. Tujuan Magang
1. Tujuan Umum
Terbentuknya pemahaman yang utuh dalam diri mahasiswa tentang proses pemecahan maslaah kesehatan masyarakat serta memberi kesempatan kepada mereka untuk menerapkan ilmu kesehatan yang diperoleh dari bangku kuliah untuk langsung dipraktekkan.
2. Tujuan Khusus
a. Memahami cara menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dan menetapkan alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan pendekatan system.
b. Mahasiswa terpapar dengan kondisi dan berbagai permasalahan nyata di rumah sakit.
c. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan nilai tambah atas pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang lebih aplikatif.
d. Membina dan meningkatkan kerjasama antara STIK Makassar dengan institusi tempat mahasiswa melaksanakan magang.
e. Memberi masukan yang bermanfaat untuk rumah sakit sebagai tempat magang.

C. Manfaat Magang
1. Bagi Mahasiswa
a. Mendapatkan pengalaman, pengetahuan dan keterampilan yang aplikatif di lingkungan rumah sakit.
b. Terpapar dengan kondisi dan berbagai permasahalan faktual rumah sakit.
c. Mendapatkan pengalaman menggunakan metode analisis masalah yang tepat terhadap permasalahan rumah sakit.
d. Mendapat bahan atau data awal untuk dilanjutkan dan kiat-kiat dalam rumah sakit.
2. Bagi STIK Makassar
a. Menerima masukan untuk perbaikan atau penyempurnaan kurikulum.
b. Meningkatkan kerjasama dengan Depkes, Pemda dan Instansi Kesehatan.
3. Bagi Rumah Sakit
a. Sebagai bahan masukan yang bermanfaat untuk rumah sakit sebagai tempat magang.
b. Penemuan baru mengenai analisis permasalahan dan kiat-kiat dalam rumah sakit.
D. Waktu dan Tempat Magang
1. Waktu Pelaksanaan Magang
Waktu pelaksanaan magang menggunakan asumsi bahwa 1 SKS setara dengan 5 jam kegiatan mandiri. Dengan demikian, maka kegiatan magang dengan bobot 3 SKS dilaksanakan 15 jam perminggu yang berlangsung selama 6 minggu, mulai tangal 19 April sampai dengan 29 Mei 2004.
2. Tempat Pelaksanaan Magang
Tempat atau lokasi pelaksanaan magang adalah rumah sakit yang dipilih oleh mahasiswa magang sendiri secara berkelompok dan tempatnya di Rumah Sakit TK.II Pelamonia Makassar, peserta magang diizinkan dan diharuskan bekerja di bagian rekam medik dan poli interna yang ada di rumah sakit tempat magang serta berada atau mengikuti program perencanaan yang ada di rumah sakit tersebut. File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Keadaan Fasilitas Sanitasi Terhadap Kebersihan Pasar Di Pasar Karang Lelede Kota Mataram

ABSTARAK

HUBUNGAN KEADAAN FASILITAS SANITASI TERHADAP KEBERSIHAN PASAR DI PASAR KARANG LELEDE KOTA MATARAM,

Pasar termasuk tempat-tempat umum yang merupakan sarana dimana orang banyak berkumpul dan mengadakan interaksi atau hubungan dengan sesamanya. Salah satu bentuk interaksi tersebut bertemunya para penjual dan pembeli untuk mencapai kesepakatan yang diinginkan dengan tujuan untuk mengadaakan transaksi pertukaran benda dan jasa.
Dengan banyaknya pedagang dan pengguna pasar sudah disediakan fasilitas sanitasi seperti sarana pembuangan sampah, Jamban/urinoir, penyediaan air bersih, sarana pembuangan air limbah. Berdasarkan hal tersebut penulis ingin mengetahui keadaan fasilitas sanitasi yang ada di pasar Karang Lelede dan pengaruhnya terhadap kebersihan pasar.
Penelitian dilakukan selama enam hari yaitu tanggal 18 – 25 September 2004, dimana untuk hasil pemeriksaan keadaan fasilitas sanitasi dipasar Karang Lelede Kota Mataram berasda dalam kategori baik.
Dari enam kali penelitian maka didapat Ho diterima artinya tidak ada hubungan antara keadaan fasilitas sanitasi terhadap kebersihan pasar di Pasar Karang Lelede Kota Mataram/
Keadaan tersebut terjadi karena kurangnya penjagaan atau penyebaran kuisioner yang dilaksanakan lebih dari sepuluh kali dengan memperhatikan waktu yang merupakan faktor utama. Yang menjadi intisari dari abstrak karya tulis ini adalah fasilitas sanitasi dan kebersihan pasar. File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Penerapan Aspek Spiritualitas Perawat Dengan Pemenuhan Kebutuhan Spiritual Pada Pasien ...

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Perawat meyakini manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosio-kultural dan spiritual yang utuh berespons terhadap suatu perubahan yang terjadi antara lain karena gangguan kesehatan dan penyimpangan pemenuhan kebutuhan. Untuk dapat memenuhi kebutuhan secarra holistik dan unik diperlukan pendekatan yang komprehensif dan bersifat individual bagi tiap sistem klien.
Perawat sebagai tenaga kesehatan yang professional mempunyai kesempatan yang paling besar untuk memberikan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan/asuhan keperawatan yang komprehensif dengan membantu klien memenuhi kebutuhan dasar yang holistik. Perawat memandang klien sebagai makhluk bio-psikososio-kultural dan spiritual yang berespon secara holistik dan unik terhadap perubahan kesehatan atau pada keadaan krisis. Asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat tidak bisa terlepas dari aspek spiritual yang merupakan bagian integral dari interaksi perawat dengan klien. Perawat berupaya membantu memenuhi kebutuhan spiritual klien sebagai bagian dari kebutuhan menyeluruh klien, antara lain dengan memfasilitasi pemenuhan kebutuhan spiritual klien tersebut, walaupun perawat dan klien tidak mempunyai keyakinan spiritual atau keagamaan yang sama (Hamid A.Y., 2000:3).
Spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan yang Maha Kuasa. Sedangkan kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama, serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau pengampunan.
Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Apabila seseorang dalam keadaan sakit, maka hubungan dengan Tuhannya pun semakin dekat, mengingat seseorang dalam kondisi sakit menjadi lemah dalam segala hal, tidak ada yang mampu membangkitkannya dari kesembuhan, kecuali Sang Pencipta. Dalam pelayanan kesehatan, perawat sebagai petugas kesehatan harus memiliki peran utama dalam memenuhi kebutuhan spiritual. Perawat dituntut mampu memberikan pemenuhan yang lebih pada saat pasien akan dioperasi, pasien kritis atau menjelang ajal. Dengan demikian, terdapat keterkaitan antara keyakinan dengan pelayanan kesehatan dimana kebutuhan dasar manusia yang diberikan melalui pelayanan kesehatan tidak hanya berupa aspek biologis, tetapi juga aspek spiritual. Aspek spiritual dapat membantu membangkitkan semangat pasien dalam proses penyembuhan (Asmadi, 2008:28-29).
Ketika penyakit, kehilangan atau nyeri menyerang seseorang, kekuatan spiritual dapat membantu seseorang kearah penyembuhan atau pada perkembangan kebutuhan dan perhatian spiritual. Selama penyakit atau kehilangan, misalnya saja, individu sering menjadi kurang mampu untuk merawat diri mereka dan lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan. Distres spiritual dapat berkembang sejalan dengan seseorang mencari makna tentang apa yang sedang terjadi, yang mungkin dapat mengakibatkan seseorang merasa sendiri dan terisolasi dari orang lain. Individu mungkin mempertanyakan nilai spiritual mereka, mengajukan pertanyaan tentang jalan hidup seluruhnya, tujuan hidup dan sumber dari makna hidup. Dengan jelas, kemampuan perawat untuk mendapat gambaran tentang dimensi spiritual klien yang jelas mungkin dibatasi oleh lingkungan dimana orang tersebut mempraktikkan spiritualnya. Hal ini benar jika perawat mempunyai kontak yang terbatas dengan klien dan gagal untuk membina hubungan. Pertanyaannya adalah bukan jenis dukungan spiritual apa yang dapat diberikan tetapi secara sadar perawat mengintegrasikan perawatan spiritual kedalam proses keperawatan. Perawat tidak perlu menggunakan alasan “tidak cukup waktu” untuk menghindari pengenalan nilai spiritualitas yang dianut untuk kesehatan kilen (Potter & Perry, 2005:567).
Dari data yang diperoleh di ruang perawatan bedah Rumah Sakit Haji Makassar, jumlah klien rawat inap pada tahun 2007 sebanyak 335 dengan jumlah perawat diruang perawatan bedah sebanyak 15 orang, di ruang perawatan 1 sebanyak 16 orang dan perawatan 2 sebanyak 18 orang. Sedangkan jumlah pasien pada bulan mei diruang perawatan bedah sebanyak 25 orang, di ruang perawatan 1 sebanyak 11 orang dan perawatan 2 sebanyak 16 orang. Dengan melihat banyaknya jumlah klien disetiap ruang perawatan maka sudah sepantasnya perawat mampu memberikan pemenuhan kebutuhan spiritual yang lebih.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang pasien yang dirawat di ruang perawatan bedah Rumah Sakit Haji Makassar didapatkan bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual pada pasien di ruangan telah dilakukan oleh beberapa perawat tetapi belum maksimal dilaksanakan sepenuhnya.
Bertolak dari hal tersebut diatas, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Hubungan Penerapan Aspek Spiritualitas Perawat Dengan Pemenuhan Kebutuhan Spiritual Pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Haji Makassar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada Bab I yaitu latar belakang masalah, maka peneliti mencoba untuk merumuskan masalah yaitu : “Adakah Hubungan Penerapan Aspek Spiritualitas Perawat Dengan Pemenuhan Kebutuhan Spiritual Pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Haji Makassar?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan penerapan aspek spiritualitas perawat dengan pemenuhan kebutuhan spiritual pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Haji Makassar.

2. Tujuan Khusus
Diidentifikasinya hubungan penerapan aspek spiritualitas perawat dengan pemenuhan kebutuhan spiritual pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Haji Makassar.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Klien
Untuk membantu klien dalam pemulihan dan peningkatan kemampuan dirinya melalui tindakan pemenuhan kebutuhan klien secara komprehensif dan berkesinambungan.
2. Bagi Ilmu Keperawatan / profesi
a. Sebagai masukan bermakna demi pengembangan profesi keperawatan.
b. Masukan bagi profesi keperawatan pada lahan penelitian terkait untuk menentukan kebijakan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan kesehatan individu.
3. Bagi Institusi :
a. Sebagai bahan bacaan diperpustakaan atau sumber data bagi peneliti lain yang memerlukan masukan berupa data atau pengembangan penelitian dengan judul yang sama demi kesempurnaan penelitian ini.
b. Sebagai sumber informasi pada institusi Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Famika Makassar agar dijadikan dokumentasi ilmiah untuk merangsang minat peneliti selanjutnya.
4. Bagi Peneliti
Merupakan pengalaman berharga terhadap peneliti dalam rangka menambah wawasan keilmuan. File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

hubungan pengatahuan dan sikap murid lkelas v sd terhaadap pencegahan karies gigi

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Murid Kelas V SD Terhadap Pencegahan Keries Gigi di Wilayah Kerja Puskesmas Cakrenegara
I. PENDAHULUAN
A. MASALAH PENELITIAN
1. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesahatan yang optimal. Untuk mewujudkan derakat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan yang dilaksanakan secara menyeluruh terpadu dan berkesinambungan (UU.RI, 1992).
Modal dari pada Pembanguan Nasional adalah Sumber Daya Manusia yang sehat fisik, mental dan sosial. Sekolah adalah lingkugan pendidikan kedua setelah keluarga merupakan lingkungan yang strategis dalam mengembangkan nilai-nilai yang mendukung terbentuknya sikap, prilaku hidup sehat sejahtera baik jasmani maupun rohani. Untuk mencapai derajat yang optimal bagi peserta didik maka sekolah memiliki wadah yang menunjang yaitu usaha kesehatan sekolah. Anak didik atau peserta didik merupakan obyek yang sangat vital karena disamping sebagai siswa juga sebagai sarana sekaligus sebagai pelaksanan dari usaha kesehatan sekolah (Selamet riyadi 1992).
Usaha kesehatan sekolah memiliki program-program yang nantinya dapat dijadikan tolak ukur dalam tingkah laku anak yang sehat. Oleh Karena itu melaui wadah upaya wadah sekolah ini diharapkan agar pelaksanaan program kesehatan sekolah dapat menunjang ke arah perbaikan kesehatan anak didik, khusnya dalam hal ini adalah Usaha Kesehatan Gigi Sekolah ( UKGS) untuk pencegahan karies gigi ( depkes, 1992).
Dalam program UKGS dilaksanakan kegiatan pendidikan kesehatan gigi, bersikat gigi dan berkumur dengan larutan Florida, serta beerapa pelayanan Kurativ. Pendidikan kesehatan gigi bertujuan membangun kebiasaan yang baik bagi kesehatan gigi melalui penyampaikan pengetahuan yang tepat dan pembentukan sikap yang positif. Apabila sikap yang positif terbentuk, maka kebiasaan yang naik dapat dingbaun, apalagi pada anak seusia Sekolah (Depkes,1991) .
Penyakit Karies Gigi bersifat Irreversible, kumulatif dan progresif. Peningkatan kejadian karies gigi berhubungan dengan perubahan sosial, pendidikan dan diet (Revinet Carbohidtar) penyebab utama dari Karies Gigi adalah bakteri, makanan yang mengandung banyak gula, kesehatan umum yang buruk pada masa anak-anak, faktor herediter ,rendahnya kadar flour dalam air minum (Rasinta Tarigan ,1990).
Dari hasil data Puskesmas Cakranegara tahun 2001 tahap III ( selektif) kelas V angka kejadian karies gigi adalah 38,61 %sedangakan data di kodya mataram angka kejadian karies gigi adalah 5,53 %, di NTB angka kejadiean karies gigi yaitu 6,2 %. Ternyata cukup besar muri deklas V sd yang mengalami karis gigi.
Berdaerkan ha;l tersebut di atas maka peneliti umencoba untuk melakukanpenelitian tentan hubungan pengatahuan dan sikap murid kelas v sd terhadap pencegahan karies gigi di wilayah puskesmas cakranegara.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang dapat di rumuskan “ Apakah ada hubungan pengatahuan dan sikap murid lkelas v sd terhaadap pencegahan karies gigi”.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengetahuai hubungan pengtahuan dan sikap muri dekelas v sd terhadap pencegahan karies gigi.
a. Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi kegitan-kegiatan UKGS
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang meyebabkan Karies Gigi.
3. Mengidentifikasi pengetahuan murid kelas v SD tentang Karies Gigi.
4. Mengidentifikasi sikap murid kelasa v terhadap pencegahan Karies Gigi.
5. Menganalisis hubungan pengatahuan dan sikap murid kelas v SD terhadap pencegahan Karies Gigi.
C. HIPOTESIS PENELITIAN
Ada hubungan pengetahuan dan sikap murid kelas V Sd terhadap pencegahan kejadian Karies Gigi. File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Teman DiskusiSkripsi.com


 

Free Affiliasi Program