Showing posts with label Bimbingan Penyuluhan Islam. Show all posts
Showing posts with label Bimbingan Penyuluhan Islam. Show all posts

Terapi Psikoproblem Melalui Shalat

BAB I
PENDAHULUAN

A. Penegasan Judul
Suatu tulisan tidak dapat diikuti dengan tepat dan sempurna sesuai dengan maksud penulisnya apabila tidak ada kesepakatan tentang makna atau pengertian peristilahan yang dipakai dalam tulisan tersebut. Oleh karena itu, selalu diperlukan batasan tentang pengertian-pengertian tersebut demi menghindarkan salah tafsir termaksud, maka pada bagian awal karya ini diberikan batasan pengertian istilah-istilah yang dipakai.
1. Terapi
Terapi dapat diartikan sebagai usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit; pengobatan penyakit; perawatan penyakit. “therapy” dalam bahasa Yunani berarti merawat atau mengasuh. Sedang terapi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah berarti “mengatasi” dan “mencegah”.
2. Psikoproblem
Psikoproblem terdiri dari dua kata; yakni psikis (Psyche) yang berarti berhubungan dengan jiwa dan problem yang berarti masalah, persoalan. Jadi psikoproblem bisa diartikan sebagai persoalan atau masalah yang dihadapi manusia yang berhubungan dengan jiwa atau permasalahan-permasalahan psikologis. Persoalan-persoalan yang dimaksudkan di sini adalah kecemasan dan keresahan yang berangkat dari masalah-masalah seperti kehidupan rumah tangga (gangguan komunikasi antara suami istri, kekecewaan terhadap partner, perselingkuhan dll), lingkungan kerja (lapangan pekerjaan, relasi atasan dan bawahan, suasana kerja, dll), dan masalah kepribadian (proses perkembangan dan pendewasaan pribadi) dipandang dari sisi psikologis.
Terminologi “terapi psikoproblem” dalam penelitian ini berbeda dengan terminologi “psikoterapi” yang dikenal dunia terapi dalam psikologi. Kalau dalam psikoterapi merupakan cara pengobatan gangguan kejiwaan dengan mempergunakan kekuatan batin dokter/psikoterapis atas jiwa penderita melalui metode sugesti, nasihat, menghibur, atau hipnotis. Sedangkan penyusun menggunakan terminologi “terapi psikoproblem” adalah lebih pada dataran pembedaan istilah. Sehingga diharapkan akan memberikan istilah tersendiri dalam dunia terapi psikis.
3. Shalat
Shalat secara bahasa berarti berdo’a. dengan kata lain, shalat secara bahasa mempunyai arti mengagungkan. Sedangkan pengertian shalat menurut syara’ adalah ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu, yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Ucapan di sini adalah bacaan-bacaan al-Qur’an, takbir, tasbih, dan do’a. Sedang yang dimaksud dengan perbuatan adalah gerakan-gerakan dalam shalat misalnya berdiri, ruku’, sujud, duduk, dan gerakan-gerakan lain yang dilakukan dalam shalat. Sedangkan menurut Hasbi ash-Shiddieqy shalat yaitu beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah, menurut syarat-syarat yang telah ditentukan.
Yang dimaksudkan shalat dalam penelitian ini adalah tidak hanya sekedar shalat tanpa adanya penghayatan atau berdampak sama sekali dalam kehidupannya, akan tetapi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah shalat fardlu yang didirikan dengan khusyu’ yakni shalat yang nantinya akan berimplikasi terhadap orang yang melaksanakannya. Pengertian shalat yang dimaksudkan lebih kepada pengertian shalat menurut Ash Shiddieqy dari ta’rif shalat yang menggambarkan ruhus shalat (jiwa shalat); yaitu berharap kepada Allah dengan sepenuh jiwa, dengan segala khusyu’ dihadapan-Nya dan berikhlas bagi-Nya serta hadir hati dalam berdzikir, berdo’a dan memuji.
Inilah ruh atau jiwa shalat yang benar dan sekali-kali tidak disyari’atkan shalat karena rupanya, tetapi disyari’atkan karena mengingat jiwanya (ruhnya).
Khusyu’ secara bahasa berasal dari kata khasya’a-yakhsya’u-khusyu’an, atau ikhta dan takhasysya’a yang artinya memusatkan penglihatan pada bumi dan memejamkan mata, atau meringankan suara ketika shalat. Khusyu’ secara bahasa juga bisa diartikan sungguh-sungguh penuh penyerahan dan kebulatan hati; penuh kesadaran hati. Arti khusyu’ itu lebih dekat dengan khudhu’ yaitu tunduk, dan takhasysyu’ yaitu membuat diri menjadi khusyu’. Khusyu’ ini dapat terjadi baik pada suara, badan maupun penglihatan. Tiga anggota itulah yang menjadi tanda (simbol) kekhusyu’an seseorang dalam shalat.
Khusyu’ menurut istilah syara’ adalah keadaan jiwa yang tenang dan tawadhu’ (rendah hati), yang kemudian pengaruh khusyu’ dihati tadi akan menjadi tampak pada anggota tubuh yang lainnya. Sedang menurut A. Syafi’i khusyu’ adalah menyengaja, ikhlas dan tunduk lahir dan batin; dengan menyempurnakan keindahan bentuk/sikap lahirnya, serta memenuhinya dengan kehadiran hati, kesadaran dan pengertian (penta’rifan) segala ucapan bentuk/sikap lahir itu.
Jadi secara utuh yang dimaksudkan oleh penyusun dalam judul penelitian ini adalah mengatasi persoalan-persoalan yang berhubungan dengan psikis sehari-hari seperti masalah rumah tangga, perkawinan, lingkungan kerja, sampai masalah pribadi dengan membiasakan shalat yang dilakukan dengan khusyu’. Dengan kata lain dalam penelitian ini akan dibahas tema shalat sebagai mediator untuk mengatasi segala permasalahan manusia sehari-hari yang berhubungan dengan psikis, karena shalat merupakan kewajiban peribadatan (formal) yang paling penting dalam sistem keagamaan Islam.

B. Latar Belakang Masalah
Dunia modern dengan mobilitas yang cukup tinggi telah mengukir kisah sukses secara materi. Namun, agaknya kamakmuran secara materi itu tidak cukup membuat makmur kehidupan spiritualnya, ini akibat dari keterlepasan dunia modern terhadap nilai-nilai etika, moral, tradisi, dan agama yang telah dianggap usang. Manusia modern telah kehilangan aspek moral sebagai fungsi kontrol dan terpasung sangkar materi.
Modernisme gagal karena ia telah mengabaikan nilai-nilai spiritual transendental sebagai pondasi kehidupan. Akibatnya manusia modern tidak memiliki pijakan yang kokoh dalam membangun peradabannya. Mereka goyah dan pada akhirnya akan runtuh.
Manusia dengan seluk beluk dan kompleksnya kebutuhan hidup ini sering menemui berbagai kendala dan persoalan. Karena memang hidup ini penuh dengan kegembiraan, kesenangan, gemerlapan yang fatamorgana yang semuanya akan menipu manusia itu sendiri, bahkan akan menjadikan traubeling dalam kehidupannya tatkala manusia tidak mampu menerima atau memanajnya dengan baik.
Persoalan yang manusia hadapi dari waktu ke waktu tampaknya makin lama makin kompleks, baik persoalan yang berhubungan dengan pribadinya, keluarganya, pekerjaan, dan masalah kehidupan secara umum. Kompleksitas masalah itu telah mengarahkan sebagian dari manusia mengalami konflik dan hambatan dalam memenuhi apa yang manusia harapkan, bahkan sampai dapat menimbulkan tekanan yang sangat mengganggu. Kompleksitas masalah demikian inilah yang diantaranya menuntut adanya media yang dapat membantu mengatasi segenap permasalahan kehidupan manusia sehari-hari.
Sejumlah rasa pesimis dan takut dalam menghadapi hidup melanda kebanyakan masyarakat, beriringan dengan persoalan hidup yang kian rumit dan senantiasa berubah bentuk dan coraknya.
Tanpa pegangan apapun dan hanya mengandalkan materi belaka, manusia semakin kehilangan arah dalam kehidupannya dan kehilangan arti dan tujuan hidup dengan membawa sejuta persoalan psikologisnya. Hal ini membuat ketidakseimbangan dalam kepribadiannya sehingga rentan dan mudah terserang penyakit kehidupan yang akhirnya banyak manusia yang mengalami gangguan kejiwaan.
Lalu bagaimana dengan psikoterapi yang merupakan ilmu terapan yang membantu mengatasi gangguan kejiwaan pada diri manusia, dimana psikoterapi merupakan bagian dari ilmu kesehatan jiwa yang dimaksudkan untuk meningkatkan kepribadian dan perbaikan jiwa (mental) yang terganggu kesehatannya akibat problem emosional semacam kecemasan, rasa tertekan, dan gangguan-gangguan kejiwaan yang lain. Psikoterapi juga digunakan untuk menumbuhkan kepribadian dan aktualisasi diri.
Banyak lagi teori-teori psikoterapi yang ditelorkan oleh sarjana-sarjana Barat ahli psikologi dalam rangka membantu dan memecahkan persoalan psikologis manusia, seperti yang tertuang dalam buku: Teori dan Praktik Konseling dan Psikoterapi, karya Gerald Corey, dimana Corey membuat ikhtisar model-model konseling dan psikoterapi kontemporer yang di tuangkan dalam beberapa bab dalam bukunya.
Terapi Psikoanalitik yang dipelopori oleh Sigmund Freud (1856-1959) dan figur-figur lain seperti; Jung, Adler, Sullivan, Rank, Fromm, Horney, Erikson. Secara historis merupakan sistem psikoterapi pertama. Psikoanalisis adalah suatu teori kepribadian, sistem filsafat, dan metode psikoterapi. Dalam psikoterapi yang menggunakan teori psikoanalisis, ahli jiwa perlu mengetahui seluruh pengalaman yang telah dilalui oleh penderita. Itulah sebabnya perawatan dengan cara ini memakan waktu yang agak lama, terutama apabila penderita tidak mau berterus terang atau menolak menceritakan segala sesuatu yang pernah dialami.
Para terapis yang berorientasi psikoanalitik dapat menggunakan metode-metode penafsiran mimpi, asosiasi bebas, analisis resistensi-resistensi dan transferensi. Juga menangani hubungan masa lampau kliennya, pada saat yang sama mereka bisa menggabungkan sumbangan-sumbangan dari aliran-aliran lain, khususnya dari para neo-Freudian yang menekankan faktor-faktor sosial budaya dalam perkembangan kepribadian.
Teori lain mengenai psikoterapi dikenal dengan Client-Centered Psycotherapy oleh R. Carl Rogers. Pada awalnya pendekatan Rogers ini dikenal dengan Non Directing Therapy. Perbedaan teori ini dengan teori sebelumnya ialah bahwa teori ini tidak mementingkan penganalisaan terlebih dahulu terhadap semua pengalaman yang telah dilalui penderita. Teori ini mengakui bahwa tiap-tiap individu mampu menolong dirinya, apabila ia mendapatkan kesempatan untuk itu.
Teori-teori lain yang mendapat sambutan hangat khususnya di A.S. yaitu; Behavior Therapy. Tokoh-tokoh utama teori ini antara lain seperti: Wolpe, Eysenck, Lazarus, Salter. Terapi ini adalah penerapan aneka ragam dan teknik prosedur yang berakar pada berbagai teori tentang belajar pada penyelesaian gangguan-gangguan tingkah laku yang spesifik. Jadi pada dasarnya teori ini diarahkan pada tujuan memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku yang maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan.
Dari teori-teori tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa psikoterapi merupakan perawatan psikologis yang membutuhkan waktu dan usaha yang sungguh-sungguh guna mengurangi atau menghilangkan beban jiwa yang berasal dari kehidupanm emosional dan semua itu bertujuan untuk membentuk kepribadian yang positif.
Berbagai teori yang dikemukakan diatas menunjukkan keterbatasan manusia dalam memikirkan masalah kejiwaan dan perawatannya. Karena tidak satupun dari teori tersebut yang menyinggung aspek spiritual, yang sebenarnya esensi dasar kehidupan manusia.
Begitulah keberhasilan para ahli psikolog dan psikiater dalam merumuskan teori dan metode pengobatan tidak diikuti oleh hasil-hasil yang menggembirakan. Karena mereka tidak melihat manusia secara utuh sebagai mahluk bio-psiko-sosio-spiritual (jasmani-rohani), tetapi hanya melihat manusia sebagai mahluk bio-psiko-sosial semata. Padahal spiritual merupakan kebutuhan dasar manusia.
Kalau kita tarik dalam kehidupan sekarang yang bermunculan biro-biro konsultan bahkan tidak sedikit media massa baik elektronik mapun cetak yang membuka rubrik konsultasi psikologi mengatasi masalah psikoproblem sehari-hari ditawarkan, akan tetapi hasilnya kurang begitu memuaskan bagi kliennya. Sebagai contoh rubrik konsultasi psikologi dalam majalah Matra yang diasuh langsung oleh Imam Santoso – selanjutnya di rangkum dalam Sebuah buku – yang menerima berbagai pertanyaan dan keluhan seputar tentang psikoproblem sehari-hari.
Dalam usahanya menganalisis inti persoalan yang diajukan atau dihadapi klien, mas Tos panggilan akrab Imam Santoso tidak jarang menguraikan garis besar teori psikologi yang berkaitan dengan masalah yang dibahas. Akan tetapi ini tidak menjawab secara tuntas persoalan yang dihadapi klien. Ini dibuktikan dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan baru yang senada dengan persoalan-persoalan sebelumnya.
Sementara itu Islam telah lebih awal dahulu memulai dengan penawaran ajarannya yang dapat menentramkan kehidupan rohani manusia . Maka dari itu keagamaan dalam membantu mengatasi persoalan gangguan jiwa sangat signifikan, mengingat bahwa persoalan tidak hanya bersifat psikologis saja tetapi juga spiritual.
Al-Qur’an al-Karim diturunkan sebagai dasar pedoman manusia untuk mengajak manusia kepada ajaran tauhid, mengajarkan manusia nilai dan sistem baru ideologi maupun kehidupan, menuntut mereka kepada perilaku positif dan benar yang memuat kebaikan individu mapun kemaslahatan sosial dan mengarahkan mereka kepada cara-cara yang benar mengenai pendidikan maupun pemeliharaan jiwa secara sitematis menuju pencapaian kesempurnaan insani yang akan merealisasikan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Metode Melatih Kecerdasan Emosional Pada Anak

PENDAHULUAN

A. PENEGASAN ISTILAH
Untuk memperoleh gambaran dan pengertian yang jelas serta untuk menghindari salah tafsir tentang judul ini, maka dianggap perlu untuk memeberi penegasan istilah berkaitan dengan judul ini.
1. Metode
Metode berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari kata meta yang berarti melalui dan hodos yang berarti jalan. Jadi metode adalah jalan yang dilalaui. Metode juga berarti cara kerja yang sistematis untuk mempermudah suatu kegiatan dalam mencapai maksudnya.
Penggunaan istilah metode dalam penelitian ini dengan maksud menyelidiki tentang berbagai cara yang digunakan sesuai dengan obyek yang diteliti.
2. Melatih Kecerdasan Emosional pada Anak
Melatih dapat diartikan dengan membiasakan diri atau belajar. Menurut Daniel Goleman dalam bukunya “Emotional Intellegence”, Kecerdasan emosional adalah kemampuan memahami perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi yang baik pada diri sendiri dan hubungannya dengan orang lain.
Jadi Emotional Intellegence merupakan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memanage emosinya supaya dapat terarah, sehingga emosi dapat digunakan secara proposional pada saat melakukan suatu tindakan serta dapat mengenali efek positif dan efek negatif dari emosi itu.
Anak adalah seseorang yang pada suatu masa dan perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi cerdas. Sedangkan anak menurut Zakiah Daradjat adalah manusia kecil yang berkisar antara umur 0-12 tahun. Dengan demikian, yang dimaksud dengan melatih kecerdasan emosional pada anak dalam penelitian ini ialah memberikan pembelajaran atau pembiasaan diri pada anak, khususnya anak pada umur sekitar 6–9 tahun tentang kemampuan memahami perasaannya sendiri, orang lain, memotivasi diri dan juga mampu memanage emosinya secara proposional.
3. Studi
Studi berasal dari bahasa Inggris Study, diIndonesiakan melalui proses peminjaman kata dari bahasa asing dengan mengagantikan huruf y memjadi I, kemudian studi mempunyai arti penyelidikan.
Agar lebih operasional, maka studi pada penelitian ini diartikan sebagai suatu penyelidikan tentang metode yang digunakan guru dalam melatih kecerdasan emosional siswa.
4. Praktek
Menurut Peter Salim dan Yenny Salim, praktek adalah cara pelaksnaan teori secara nyata. Praktek yang dimaksud dalam skripsi ini adalah praktek guru dalam mengenali emosi siswa, mengendalikan perilaku–perilaku negatif siswa, menjalin komunikasi secara empatik, dan menanamkan nilai–nilai emosional dan sosial, seperti; kedisiplinan, kemandirian, motivasi diri, ketekunan, ketrampilan berkomunikasi dan tata krama sosial. Siswa di sini dikhususkan pada siswa kelas rendah yaitu kelas I, II, dan III sekolah dasar.
5. SD Muhammadiyah Suronatan
Adalah merupakan salah satu instansi sekolah yyang dirintis oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan yang didirikan pada tahun 1918. Sekolah ini berada dibawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka maksud dari judul skripsi “METODE MELATIH KECERDASAN EMOSIONAL PADA ANAK (Studi Pada Praktek guru Melatih Kecerdasan Emosional Siswa di SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta), adalah penelitian lapangan yang berusaha menggambarkan mengemukakan dan menguraikan data atau informasi sebagaimana adanya tanpa memberikan perlakuan terhadap subyek penelitian.

B. LATAR BELAKANG MASALAH
Setiap anak yang lahir normal, baik fisik maupun mentalnya berpotensi menjadi cerdas. Hal yang demikian terjadi, karena secara File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Konsep Kecerdasan Emosi Daniel Goelman dan Relevansinya

BAB I
PENDAHULUAN

Penegasan Judul
Dalam penelitian ini penulis memberi judul “KONSEP KECERDASAN EMOSI DANIEL GOLEMAN DAN RELEVANSINYA DENGAN KESEHATAN MENTAL ZAKIAH DARADJAT”
Untuk menghindari kesalahan dan demi terarahnya pembahasan, maka penulis merasa perlu untuk menegaskan istilah-istilah pokok yang terdapat dalam judul tersebut. Adapun judul yang perlu dijelaskan adalah:
“Konsep”
Diambil dari kata “concept” (Inggris) yang mempunyai arti konsep, bagan dan pengertian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pengertian, pendapat, rancangan, cita-cita yang telah dipikirkan. Konsep yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gambaran ide, pengertian, pendapat, maupun gagasan Daniel Goleman tentang kecerdasan emosi dan pendapat Zakiah Daradjat tentang kesehatan mental.
“Kecerdasan Emosi”
Istilah ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995 dan untuk pertama kalinya dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Petersolovey dari Horvard University dan Jhon Mayer dari University of Newhampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan hidup manusia, antara lain empati, mengungkapkan, memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan mengendalikan diri. Jadi, kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk merasakan, memahami, mengarahkan emosi, sehingga dapat dimenej secara proposional ketika berhadapan dengan tantangan hidup, musibah, dan perlawanan orang lain.
“Relevansi”
Relevansi berarti hubungan, kaitan. Dan yang dimaksud relevansi dalam studi ini yaitu keterkaitan konsep kecerdasan emosi Daniel Goleman dengan kesehatan mental Zakiah Daradjat.
“Kesehatan Mental”
Yaitu kesehatan berasal dari kata “sehat” yang berarti dalam keadaan fisik yang baik, bebas dari sakit. Dalam Undang-Undang RI bahwa sehat adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan, mental, sosial bukan hanya dari penyakit cacat dan kelemahan. Mental (dari kata Latin mens, mentis) artinya jiwa, roh, nyawa, dan semangat. “Mental” adalah kepribadian yang merupakan kebulatan yang dinamik dari seseorang yang tercermin dalam cita-cita, sikap, dan kepribadian. Jadi, kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan, kemampuan dan fungsi jiwanya yang berupa fikiran, perasaan, sikap, pandangan, dan keyakinan hidup.

Latar Belakang Masalah
Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dengan pesatnya, bukan hanya di bidang teknologi, informasi, kedokteran, pertanian, akan tetapi juga di bidang psikologi, yaitu tentang konsep kecerdasan manusia.
Konsep kecerdasan manusia, jika dilihat dari sejarah perkembangannya pada mulanya lahir akibat adanya berbagai tes mental yang dilakukan oleh berbagai psikolog untuk menilai manusia ke dalam berbagai tingkat kecerdasan. Diistilahkan atau lebih dikenal dengan kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient). Tes IQ adalah cara yang digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang . Jadi menurut teori ini, semakin tinggi IQ seseorang maka semakin tinggi pula kecerdasannya.
Seiring dengan perkembangannya, tes inteligensi yang muncul pada awal abad ke-20 yang dipelopori oleh Alferd Binet (1980), ternyata tes inteligensi memiliki kekurangan atau kelemahan. Kekurangan itulah yang melatarbelakangi munculnya teori baru dan sebagai alat untuk menyerang teori tersebut. Teori baru ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman yang dikenal dengan istilah Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence). Menurut Daniel Goleman, EQ sama ampuhnya dengan IQ, dan bahkan lebih. Terlebih dengan adanya hasil riset terbaru yang menyatakan bahwa kecerdasan kognitif (IQ) bukanlah ukuran kecerdasan (Intelligence) yang sebenarnya, ternyata emosilah parameter yang paling menentukan dalam kehidupan manusia. Menurut Daniel Goleman (IQ) hanya mengembangkan 20 % terhadap kemungkinan kesuksesan hidup, sementara 80 % lainnya diisi oleh kekuatan-kekuatan lain. Ungkapan Goleman ini seolah menjadi jawaban bagi situasi ‘aneh’ yang sering terjadi di tengah masyarakat, di mana ada orang-orang yang diketahui ber-IQ tinggi ternyata tidak mampu mencapai prestasi yang lebih baik dari sesama yang ber-IQ lebih rendah.
Kelebihan lain dari kecerdasan emosi ini adalah kenyataan bahwa kecerdasan emosi bukanlah kecerdasan statis yang diperoleh karena ‘warisan’ orang tua seperti IQ. Selama ini telah diketahui bahwa seseorang yang terlahir dengan IQ rendah tidak dapat direkayasa untuk menjadi seorang jenius. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang dilahirkan dari orang tua ber-IQ tinggi kemungkinan besar akan ‘mengikuti jejak’ orang tuanya dengan ber-IQ tinggi juga. Adapun kecerdasan emosi dapat tumbuh dan berkembang seumur hidup dengan belajar. Cerdas tidaknya emosi seseorang tergantung pada proses pembelajaran, pengasahan, dan pelatihan yang dilakukan sepanjang hayat.
Seseorang yang belum memiliki kecerdasan emosi biasanya akan mudah mengalami gangguan kejiwaan, atau paling tidak kurang dapat mengendalikan emosinya, dan mudah larut dalam kesedihan apabila mengalami kegagalan. Apabila muncul perilaku-perilaku negatif yang disebabkan oleh kurangnya kecerdasan emosi, maka tidak mengherankan bila merugikan bagi orang lain yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu, kecerdasan emosi sangat diperlukan bagi setiap orang, karena dengan kecerdasan emosi orang akan memiliki rasa introspeksi yang tinggi, sehingga manusia tidak akan mudah marah, egois, tidak mudah putus asa, dan selalu memiliki rasa lapang dada dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Survey telah membuktikan terhadap orang tua dan guru-guru adanya kecenderungan yang sama diseluruh dunia, yaitu generasi sekarang, lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya: lebih kesepian dan pemurung, lebih brangasan dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif dan agresif. Dan dari hasil penelitanya Daniel Goleman menemukan situasi yang disebut dengan when smart is damb, ketika orang cerdas jadi bodoh . Daniel Goleman menemukan bahwa orang Amerika yang memiliki kecerdasan atau IQ diatas 125 umumnya bekerja kepada orang yang memiliki kecerdasan rata-rata 100. artinya, orang yang cerdas umumnya bekerja kepada orang yang lebih bodoh darinya. Jarang sekali orang yang cerdas secara intelektual sukses dalam kehidupan. Melainkan orang-orang yang biasalah yang sukses dalam kehidupanya karena kecerdasan emosinya.
Lantas apakah yang menentukan sukses dalam kehidupan ini? Bukan kecerdasan intelektual akan tetapi kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional diukur dari kemamapuan mengendalikan emosi dan menahan diri. Dalam kesehatan mental kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam menghadapi kesulitan, ketika belajar tekun dapat menyesuaikan diri, dapat mengembangkan potensi, dan berhasil dalam mengatasi berbagai gangguan dan dapat mengendalikan emosinya. Dan faktor-faktor ini pula yang menjadikan manusia sehat mentalnya.
Daniel Goleman menceritakan dalam kisah nyata betapa fatalnya orang yang tidak memiliki kecerdasan emosional. Pada suatu saat ada seorang anak meminta izin kepada orang tuanya untuk menginap dirumah kawanya. Sementara anak itu pergi, orangtuanyapun pergi untuk menonton opera. Taklama dari itu, anak tersebut kembali kerumah karena tidak betah tinggal di rumah temanya. Pada saat itu, orangtuanya masih menonton opera. Anak nakal itu mempunyai rencana, ia ingin membuat kejutan untuk orangtuanya ketika pulang kerumah pada waktu malam. Ia akan diam di teile dan jika orangtuanya datang, ia akan meloncat dari toilet itu sambil berteriak. Beberapa saat kemudian, orangtuanya pulang dari opera menjelang tengah malam. Ketika melihat lampu toilet di rumahnya masih menyala mereka menyangka ada pencuri di rumahnya. Mereka masuk kerumah perlahan-lahan sambil membuka pintu untuk segera mengambil pistol lalu mengendap naik ke atas loteng tempat toilet itu berada. Ketika sampai di atas, tiba-tiba terdengar teriakan dari toilet itu. Ditembaklah orang yang berteriak itu sampai lehernya putus. Dua jam kemudian anak itu meninggal dunia.
Bisa dibayangkan betapa menyesalnya kedua orangtua itu, mereka bertindak terlalu cepat. Mereka mengikuti emosi takut dan kehawatiranya sehingga panca indranya belum sempat menyampaikan informasi yang lengkap tentang orang yang meloncat dan berteriak itu, seharusnya mereka menganalisis dulu mereka lihat siapa orang itu. Kisah diatas menunjukkan akibat kecerdasan emosi yang tidak terlatih atau kategori kecerdasan emosi rendah mereka memperturutkan emosinya dalam bertindak.
Emosi sangat mempengaruhi kehidupan manusia ketika dalam mengambil keputusan, tidak jarang suatu keputusan diambil melalui emosinya. Tidak ada sama sekali keputusan yang diambil manusia murni dari pemikiran rasionalnya. Karena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional. Jika seseorang File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Konsep Dakwah Menurut Jalaludin Rakhmat

BAB I
PENDAHULUAN

A. Penegasan Judul.
Untuk menghilangkan salah pengertian dalam memahami maksud judul skripsi ini, yaitu KONSEP DAKWAH MENURUT JALALUDDIN RAKHMAT, terlebih dahulu akan penulis uraikan beberapa istilah pokok yang terkandung dalam judul tersebut. Hal ini selain dimaksudkan untuk lebih mempermudah pemahaman, sekaligus juga untuk mengarahkan pada pengertian yang jelas sesuai dengan yang dikehendaki penulis.
Adapun istilah-istilah yang perlu dijelaskan di sini adalah:

1. Konsep
Konsep berasal dari bahasa Inggris concept yang berarti pengertian atau ide yang diabstrakkan dari peristiwa konkrit, juga berarti ide umum, pengertian, pemikiran, rancangan dan rencana dasar.2 Pengertian lain dari konsep adalah abstraksi mengenai suatu fenomena yang di rumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik kejadian, keadaan, kelompok atau individu tertentu.3
Konsep yang dimaksud dalam skripsi ini adalah pengertian, gambaran,dan ide dakwah menurut Jalaluddin Rakhmat.

2. Dakwah
Dalam hal ini dakwah dapat diartikan sebagai seruan, ajakan, dan panggilan.4 Dapat pula diartikan mengajak, menyeru, memanggil dengan lisan ataupun dengan tingkah laku atau perbuatan nyata.5 Atau lebih tegasnya bahwa dakwah adalah proses penyampaian ajaran Islam dari seseorang kepada orang lain, baik secara individu maupun secara kelompok. Penyampaian ajaran tersebut dapat berupa perintah untuk melakukan kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang dibenci oleh Allah dan Rasulnya (amr ma’ruf nahy al-munkar). Usaha dakwah hendaknya dilakukan secara sadar dengan tujuan untuk terbentuknya individu dan keluarga yang bahagia (khayr al-usrah) dan masyarakat atau umat yang terbaik (khayr al-ummah) dengan cara taat menjalankan ajaran Islam yang bisa dilakukan melalui bahasa lisan, tulisan, maupun perbuatan/ keteladanan.6

3. Jalaluddin Rakhmat
Jalaluddin Rakhmat atau lebih akrab disapa dengan panggilan Kang Jalal adalah satu di antara cendikiawan Muslim Indonesia yang memiliki komitmen dengan dunia dakwah. Ia seorang doktor di bidang politik dari Australian National University (ANU), Canberra, namun sehari-hari dikenal oleh masyarakat luas sebagai mubaligh atau ustad dan ahli komunikasi dibanding sebagai ahli politik atau politisi. Ia lebih memilih menjadi seorang penyeru kebaikan ketimbang terjun ke dunia politik. Ini dilakukan karena dakwah sudah menjadi cita-cita dan pilihan hidupnya, mengingat ayahnya juga seorang ajengan atau kiai di kampungnya.7
Sebagai seorang mubaligh, Jalaluddin Rakhmat bisa disebut sebagai “dai plus” atau “dai yang lengkap”, karena ia memiliki kemampuan bahasa yang lengkap, yakni bahasa tulis dan lisan yang sama-sama baik. Ia mampu mengartikulasikan pesan-pesan dakwah melalui lisan di hadapan para audiensnya maupun melalui tulisan-tulisan yang dipublikasikan lewat buku, koran dan majalah. Selain itu Jalaluddin Rakhmat bukan saja memiliki pemahaman ilmu-ilmu keIslaman yang baik seperti al-Qur’an, hadis, fiqih, dan tarikh, tetapi juga memiliki keahlian dalam ilmu komunikasi, psikologi, sosiologi, dan politik. Ia juga memiliki kemampuan dalam berbahasa Arab, Inggris, Prancis, Persia, Belanda dengan baik, di samping bahasa Sunda, Indonesia, dan Jawa.8
Berbekal kemampuan yang dimilikinya itulah yang membuat Jalaluddin Rakhmat dalam menyampaikan pesan-pesan dakwahnya mudah dicerna dan diikuti para audien. Selain itu, buku-bukunya pun banyak dibaca dan diminati orang, mulai dari kalangan mahasiswa sampai masyarakat umum.
Berdasarkan definisi-definisi konsep tersebut di atas, maka dapat disebutkan bahwa maksud judul skripsi ini adalah untuk mengetahui gagasan, ide, pemikiran dakwah baik dalam hal pengertian dakwah, metode dan pendekatan dakwah, materi dakwah, serta aplikasi dakwah pada masyarakat menurut Jalaluddin Rakhmat.

B. Latar Belakang Masalah
Dakwah merupakan suatu aktivitas seorang Muslim untuk menyebarkan ajaran Islam ke muka bumi yang penyampaiannya diwajibkan kepada setiap Muslim, yang mukalaf sesuai dengan kadar kemampuannya. File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Sikap Terhadap Pergaulan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Penegasan Judul
Untuk menghindari disinterprestasi (kesalahpahaman) dalam memahami judul skripsi ini, maka penulis memandang perlu untuk memberikan penegasan serta pembatasan lebih lanjut mengenai istilah-istilah dan maksud yang ada pada judul skripsi ini. Dalam judul ada beberapa istilah yang perlu penulis jelaskan dan dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Konsep Diri
Konsep diri menurut Hurlock dalam Catur merupakan pengertian dan harapan seseorang mengenai bagaimana dirinya yang dicita-citakan dan bagaimana dirinya dalam realita yang sesungguhnya, baik secara fisik maupun psikologiknya. Konsep diri seseorang berkaitan dengan kepribadiannya. Kalau kepribadian seseorang dapat diamati dari perilakunya dalam berbagai situasi dari pola reaksinya maka konsep diri tidak langsung dapat diamati seperti halnya perilaku ekspresi seseorang, konsep diri terlihat dari pola reaksi seseorang dapat diamati dari reaksi yang tetap yang mendasari pola perilakunya.
Dalam penelitian ini penulis menegaskan ada 2 macam konsep diri yaitu konsep diri positif dan negatif. Seperti orang yang memiliki pola perilaku optimis, tidak mudah menyerah dan selalu ingin mencoba pengalaman yang baru yang dianggap berguna, pola perilaku tersebut merupakan pencerminan konsep diri positif. Sebaliknya orang yang menganggap kurang mampu, takut menghadapi hal-hal yang baru dan takut tidak berhasil maka perihal tersebut merupakan pencerminan dari konsep diri negatif.

2. Sikap
Sikap atau attitude adalah kecenderungan untuk memberikan penilaian (menerima atau menolak) terhadap objek yang dihadapi. Pergaulan bebas adalah pergaulan yang tidak mengenal batas norma dan adat yang ada di lingkungannya. Sikap dikatakan sebagai respon evaluatif. Respons hanya akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi yang dinyatakan sebagai sikap tersebut, timbulnya didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik- buruk, positif- negatif, menyenangkan- tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap obyek sikap.
Berdasarkan definisi di atas maka penelitian ini penulis menekankan pada respons atau sikap remaja terhadap pergaulan bebas. Sikap atau responsnya cenderung menerima atau menolak terhadap pergaulan bebas.

3. Pergaulan Bebas
Menurut Sarwono dalam Catur pergaulan bebas adalah pergaulan yang melibatkan pembauran antara laki-laki dan perempuan dengan tidak mengindahkan norma dan adat yang ada dilingkungannya.
Dalam definisi di atas penulis menekankan pada pergaulan bebas seperti pacaran di luar batas, kumpul kebo, seks di luar nikah dan lain-lain.

4. Remaja
Remaja merupakan masa transisi kehidupan antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan perubahan-perubahan fisik dan psikologisnya. Dalam penelitian ini penulis menekankan pada remaja yang berusia 12 sampai 22 tahun.

B. Latar Belakang Masalah
Manusia dalam kehidupannya selalu membutuhkan orang sebagai teman hidup, karena manusia tidak dapat hidup sendirian. Dalam menjalani kehidupannya manusia menempati lingkungan tertentu, sehingga manusia tersebut dapat melakukan peranannya dan dapat memenuhi kebutuhannya, yang menyebabkan manusia berbuat dan bertindak sebagai makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan pergaulan dengan orang lain, agar mencapai taraf tingkah laku yang baik dalam hidupnya. Setiap individu bereaksi atau berinteraksi satu dengan yang lainnya, baik kelompok maupun dalam masyarakat. Dengan adanya interaksi ini akan menyebabkan adanya pergaulan antar individu dalam kelompok ataupun dalam masyarakat.
Dalam interaksi sosial ini terjadi proses pengaruh mempengaruhi, imitasi dan identifikasi, yang akhirnya akan terjadi perubahan sosial. Perubahan sosial yang tidak disertai dengan kesiapan diri dan peningkatan kehidupan spiritual menyebabkan File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Teman DiskusiSkripsi.com


 

Free Affiliasi Program