Showing posts with label Guru. Show all posts
Showing posts with label Guru. Show all posts

Penguasaan Guru Dan Pemahaman Siswa Terhadap Mata Pelajaran Menggunakan Model Synectik

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan proses interaksi antara yang belajar (siswa) dengan pengajar (guru). Seorang siswa telah dikatakan belajar apabila ia telah mengetahui sesuatu yang sebelumnya ia tidak dapat mengetahuinya, termasuk sikap tertentu yang sebelumnya belum dimilikinya. Sebaliknya, seorang guru dikatakan telah mengajar apabila ia telah membantu siswa atau orang lain untuk memperoleh perubahan yang dikehendaki.
Guru sebagai fasilitator dalam proses belajar mengajar hendaknya berupaya menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar yang efektif dan efesien untuk para siswanya. Dalam hal ini dapat meningkatkan efektivitas kegiatan belajar mengajar.
Model mengajar adalah suatu rencana atau pola mengajar yang digunakan oleh guru dalam menyusun kurikulum, mengatur materi-materi pelajaran dan petunjuk bagaimana seharusnya guru mengajar di kelas.
Mengingat beragamnya model mengajar yang telah diterapkan di sekolah-sekolah ini, tentu akan lebih bijaksana bila guru memilih dan mencoba menggunakan model mengajar secara bervariasi untuk meningkatkan kualitas profesi dan produktivitasnya dalam mengacu pada pemenuhan kebutuhan siswa, dan hal inilah yang dilakukan oleh guru-guru di SD Inpres Rappokalling I Makassar untuk mencoba model synectik diterapkan dalam proses belajar mengajar.
Dalam penerapan model synectik ini oleh guru, yakni guru tersebut hanya memberikan gambaran atau informasi tentang suatu bahan pelajaran kemudian siswa atau informasi tentang suatu bahan pelajaran kemudian siswa tersebut mengelolanya sendiri, nanti pada tahap akhir baru guru memberikan bimbingan lagi. Jadi peranan guru hanya memberikan bimbingan pada tahap awal dan tahap akhir kegiatan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengangkat beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana teknik penggunaan/ penerapan model synectik dalam proses belajar mengajar di SD Inpres Rappokalling I Makassar.
2. Faktor-faktor apa yang menjadi penunjang dan penghambat penerapan model synectik dalam proses belajar mengajar di SD Inpres Rappokalling I Makassar.
C. Hipotesis
Adapun hipotesis yang merupakan jawaban sementara dari permasalahan di atas, adalah:
1. Teknik penerapan model synectik oleh guru-guru dalam proses belajar mengajar adalah model yang berhasil memecahkan masalah atau kesulitan belajar yang mereka miliki.
2. Mengingat bahwa model synectik adalah model pengembangan kreatifitas berfikir siswa untuk memecahkan kesulitan berfikir dalam belajar, berdasarkan analisa tersebut maka dapat dipikirkan bahwa model synectik efektif diterapkan dalam proses belajar mengajar.
D. Pengertian Judul dan Defenisi Operasional
Agar skripsi ini mudah dipahami dan dimengerti dengan jelas, maka akan diberikan pengertian kata-kata yang dianggap penting untuk memahami judul tersebut di atas adapun kata-kata yang dimaksud adalah:
“Model synectik”, model pengembangan kreatifitas untuk memecahkan masalah dengan melatih individu untuk bekerjasama mengatasi problema, sehingga mampu meningkatkan produktivitasnya.1
“Proses Belajar Mengajar, proses komunikasi, proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan.2
Berdasarkan pengertian tersebut di atas, maka penulis dapat menyimpulkan pengertian judul bahwa model synectic dalam proses belajar mengajar adalah model pengembangan kreatifitas untuk memecahkan masalah dengan melatih individu untuk bekerjasama mengatasi problema. Sehingga mampu meningkatkan produktivitasnya dengan melibatkan seluruh komponen yang ada dalam unsur pendidikan baik itu guru, lingkungan siswa, sarana masyarakat sehingga terjadi proses belajar mengajar yang efektif dan efisien, sehingga tercapai tujuan yang diharapkan.
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
a. Untuk memperoleh data tentang sejauhmana penguasaan guru dan pemahaman siswa terhadap mata pelajaran apabila menggunakan model synectik.
b. Untuk mengetahui kerajinan dan perhatian siswa terhadap mata pelajaran apabila menggunakan model synectik dalam proses belajar mengajar di SD Inpres Rappokalling I Makassar.
2. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini pada intinya, sebagai berikut:
a. Untuk menjadi pertimbangan bagi pembaca pada khususnya pendidik dan si terdidik pertimbangan bagi pembaca pada khususnya pendidik dan si terdidik dalam proses belajar mengajar.
b. Agar supaya hasil penelitian nanti dapat memberikan gambaran kepada pembaca tentang hal-hal yang menjadi faktor pendukung didalam pelaksanaan penggunaan model synectik dalam proses belajar mengajar di SD Inpres Rappokalling I Makassar.
c. Memberikan konstribusi pemikiran atau strategi dan operasionalisasi tentang penggunaan model synectik dalam proses belajar mengajar di SD Inpres Rappokalling I Makassar.
d. Supaya hasil penelitian nanti dapat berfungsi sebagai informasi kepada pembaca tentang sejauh mana penggunaan model synectik dalam proses belajar mengajar di SD Inpres Rappokalling I Makassar.
F. Garis Besar Isi
Untuk memudahkan cara pembaca mengerti secara global dari pada isi skripsi ini, maka penulis perlu memberikan gambaran kandungan skripsi ini:
Pada bab pertama adalah pendahuluan, yang membicarakan latar belakang, di mana dalam proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan proses interaksi antara yang belajar (siswa) dengan pengajar (guru), rumusan masalah meliputi bagaimana teknik penggunaan penerapan model synectik dan faktor-faktor apa yang menjadi penunjang penerapan model synectik dalam proses belajar mengajar di SD Inpres Rappokalling I Makassar, hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap problema, pengertian judul dari skripsi ini, meliputi pengertian penggunaan model synectik dalam proses belajar mengajar ,tujuan dan kegunaan penelitian, dan terakhir adalah garis–garis besar isi yang meliputi abstrak dari semua bab.
Pada bab dua, membahas tinjauan pustaka yang meliputi proses belajar mengajar di mana proses kegiatan yang berinteraksi antara guru dengan siswa, pengertian komponen yang meliputi tujuan pengajaran yang bersumber dari tujuan kurikuler dan tujuan instruksional umum yang berfungsi sebagai indikator keberhasilan pengajaran, faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaannya meliputi faktor anak didik, pendidik, alat pendidikan dan tujuan pendidikan, dan terakhir adalah model mengajar synectik yang merupakan suatu pendekatan baru yang menarik guna mengembangkan kreatifitas.
Bab tiga membahas tentang metode penelitian yang meliputi lokasi, populasi dan sampel, yang membahas jumlah keseluruhan dari siswa dan jumlah guru SD Inpres Rappokalling I Makassar instrumen pengumpulan data, teknik pengumpulan data, adalah merupakan keberhasilan dalam penelitian karena berfungsi sebagai sarana mengumpulkan data yang banyak, prosedur pengumpulan data dan tahap pengumpulan data yang meliputi tahap persiapan dalam menyusun instrumen pengumpulan data, dan tahap pengumpulan data yang meliputi riset kepustakaan ,kutipan langsung dan kutipan tidak langsung serta penelitian lapangan dan terakhir teknik analisis data meliputi metode induksi, deduksi, tabulasi dan metode komparatif.
Bab empat, membahas hasil penelitian tentang tinjauan deskripsi SD Inpres Rappokalling I Makassar yang meliputi keadaan sarana dan prasarana, keadaan guru, keadaan siswa, dan keadaan kurikulum, teknik penerapan model synectik yakni guru hanya memberikan gambaran atau informasi tentang suatu bahan pelajaran nanti siswa tersebut mengelolanya sendiri, faktor yang menjadi penunjang penerapan model synectik, efektivitas penerapan model mengajar synectik dalam proses belajar mengajar di mana model synectik ini efektif diterapkan dalam proses belajar mengajar dan terakhir prestasi belajar siswa yang meliputi hasil belajar siswa.
Kemudian bab lima, yakni pada bab terakhir berisi penutup yang berupa kesimpulan yang meliputi teknik penggunaan penerapan model synectik dan faktor penunjang penerapan model synectik dan terakhir implikasi penelitian. File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Peranan Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Peningkatan Kinerja Guru

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Tugas Kependidikan pada hakekatnya adalah suatu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup. Karena usaha ini merupakan kegiatan yang disadari berarti ada suatu tujuan yang hendak dicapai. Secara makro kegiatan itu merupakan pencapaian tujuan pendidikan secara nasional, dan secara mikro merupakan suatu usaha pencapaian tujuan pendidikan secara instruksional atau tujuan sekolah.
Sebagaimana disadari bahwa sekolah adalah salah satu jenis organisasi yang sering disebut organisasi pendidikan formal. Salah satu unsur organisasinya yang paling penting adalah manusianya. Personil interen organisasi sekolah terdiri dari kepala sekolah, guru-guru, siswa atau murid-murid dan pegawai tata usaha sekolah. Kegiatan pokok yang mereka kerjakan ialah kegiatan belajar mengajar. Dalam rangka pencapaian tujuan organisasi sekolah, tanpa adanya suatu usaha kerja sama dari semua personil organisasi sekolah serta ditunjang oleh ada tidaknya tersedia sarana dan prasarana sekolah, maka sangat mustahil tujuan suatu sekolah dapat tercapai.
Kepala sekolah sebagai administrator (pemimpin administrasi) di sekolah memegang suatu peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi dan mengarahkan semua personil sekolah yang ada, agar dapat bekerja sama dalam usaha pencapaian tujuan organisasi sekolah.
Tidak kalah pentingnya adalah produktivitas organisasi sekolah sebagaimana yang tampak dalam bentuk efektivitas dan efisiensi pengelolaannya serta kualitas dan kuantitas dari lulusannya, banyak ditentukan oleh adanya suatu kedisiplinan kerja yang tinggi dalam “penampilan kerja atau kinerja” (work performance) dari para personil sekolah. Kinerja guru-guru dalam suatu wujud pelaksanaan tugas mendidik dan mengajar para peserta didiknya, sangat banyak juga ditentukan atau dipengaruhi oleh adanya motivasi kerja mereka. Perilaku kepemimpinan yang efektif dari kepala sekolah sangat menentukan atau sangat mempengaruhi kinerja guru-guru.
Masalah utamanya adalah, apakah setiap kepala sekolah dalam peranannya sebagai administrator pendidikan telah melaksanakan kepemimpinan yang efektif? Sekolah sebagai suatu organisasi pendidikan formal memerlukan adanya suatu kepemimpinan yang objektif dari kepala sekolah. Tanpa adanya kepemimpinan yang efektif, suatu organisasi hanyalah merupakan kumpulan orang-orang yang tidak disiplin atau tidak teratur. Kepala Sekolah sebagai pemimpin formal dalam organisasi sekolah sangat berkewajiban untuk mengarahkan dan mempengaruhi personil-personil sekolah agar mereka dengan sadar dan suka rela dapat memanfaatkan segala kemampuannya untuk bekerja sama dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.
Efektivitas kepemimpinan Kepala Sekolah sebagaimana yang nampak dalam bentuk pola perilaku kepemimpinannya sangat berpengaruh pada kinerja yang berupa kematangan kerja para guru. Pola perilaku kepemimpinan administratif yang sering muncul dalam kehidupan organisasi pendidikan di sekolah antara lain sebagai berikut:
a. Kepala Sekolah terlalu menganggap dirinya sebagai atasan yang penuh kuasa dan menganggap guru-guru sebagai bawahan yang selalu perlu mendapatkan bimbingan dan arahan dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.
b. Kepala Sekolah terlalu berorientasi pada tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh guru-guru, sedangkan kebutuhan-kebutuhan dan motivasi kerja mereka sangat kurang diperhatikan.
c. Kepala sekolah menganggap dirinya menguasai semua masalah di bidang pendidikan dan pengajaran sehingga segala-galanya harus perlu ada pengarahan.
d. Kepala Sekolah selalu menganggap dirinya sebagai pelaksana disiplin kerja yang baik dan menganggap orang lain sebagai pelanggar disiplin kerja.
Pola perilaku kepemimpinan administratif tersebut, merupakan gaya kepemimpinan kepala sekolah yang berkaitan erat dengan disiplin kerja dan kinerja para guru. Kinerja yang berupa kematangan kerja para guru sangat berhubungan dengan semangat kerja dan produktivitas kerja. Interaksi antara kepala sekolah dan para guru dalam kaitan dengan perilaku kepemimpinan administratif sebagaimana yang dikemukakan di atas, hal ini bisa menimbulkan konflik di kalangan para guru, sehingga dengan sendirinya akan mempengaruhi kegairahan dan disiplin bekerja mereka. Bila semangat kerja dan disiplin kerja menurun, maka prestasi kerja atau kinerja pun berkurang dan tentu saja akan mempengaruhi produktivitas sekolah.
Namun, asumsi di atas perlu diuji kebenarannya dengan data-data yang akurat di lapangan. Untuk itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai masalah di atas dengan mengambil judul: ”PERANAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP PENINGKATAN KINERJA GURU DAN STAF TU DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 11 KOTA CIREBON”.

1.2 Perumusan Masalah
Masalah yang diteliti hanya dibatasi pada variabel-variabel tertentu. Masalahnya adalah bagaimanakah peranan kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja para guru dan staf TU di SMPN 11 Kota Cirebon.
Berdasarkan variabel tersebut di atas, maka berikut ini dapat dirumuskan masalah-masalah penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana pola kepemimpinan yang diterapkan oleh Kepala Sekolah SMPN 11 Kota Cirebon?
2. Bagaimana kinerja guru dan staf TU di SMPN 11 Kota Cirebon?
3. Apakah pola kepemimpinan yang diterapkan oleh Kepala Sekolah memiliki peranan dalam peningkatan Kinerja Guru dan Staf TU di SMPN 11 Kota Cirebon?

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.3.1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab masalah pokok yang telah dirumuskan pada perumusan masalah di atas, yaitu:
1. Untuk mengetahui pola kepemimpinan yang diterapkan oleh Kepala Sekolah SMPN 11 Kota Cirebon.
2. Untuk mengetahui kinerja guru dan staf TU di SMPN 11 Kota Cirebon.
3. Untuk mengetahui pola kepemimpinan yang diterapkan oleh Kepala Sekolah memiliki peranan dalam peningkatan Kinerja Guru dan Staf TU di SMPN 11 Kota Cirebon.


1.3.2 Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan Ilmiah
1) Mendapatkan data dan fakta yang valid mengenai peranan kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap peningkatan Kinerja guru dan staf TU pada SMPN 11 Kota Cirebon.
2) Memberikan sumbangan bagi perkembangan khazanah ilmu pengetahuan, terutama bagi kemajuan ilmu administrasi, khususnya sebagai sumbangan pemikiran bagi mata kuliah yang penulis dapat selama perkuliahan.
b. Kegunaan praktis
1) Menambah perbendaharaan referensi di Perpustakaan STIAKIN, Kota Cirebon.
2) Merupakan sumber referensi bagi jurusan ilmu administrasi, yang akan meneliti lebih lanjut mengenai peranan kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap peningkatan Kinerja guru dan staf TU pada SMPN 11 Kota Cirebon.
3) Memberikan masukan bagi pihak pengurus SMPN 11 Kota Cirebon mengenai urgensi kepemimpinan kaitannya dengan peningkatan kinerja guru dan staf TU.

1.4 Hipotesa
Hipotesa pada dasarnya merupakan suatu proposisi atau anggapan sementara yang mungkin benar, dan sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan/pemecahan persoalan ataupun untuk dasar penelitian lebih lanjut.
Dalam penelitian ini penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:

File Selengkapnya.....

Baca Selengkapnya...

Pemberian Insentif Dalam Usaha Peningkatan Kinerja Guru

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Kerja merupakan hakikat kehidupan manusia. Selama manusia hidup, dia harus selalu bekerja. Dapat dikatakan bekerja merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Sebagai bagian yang paling dasar, bekerja juga dapat memberikan status tertentu bagi seseorang di masyarakat yang ada di lingkungannya. Di samping itu bisa mengikat individu lain baik yang bekerja atau tidak sehingga kerja akan memberikan isi dan makna bagi kehidupan manusia yang bersangkutan terutama apabila diberikan penilaian yang layak terhadap peningkatan produktivitas kerjanya.
Saat ini, seperti diungkapkan oleh Slamet Susanto dan juga Gary Dessler, tenaga kerja adalah yang memberikan daya saing untuk organisasi kelas dunia. Keunggulan organisasi bergantung pada para pegawainya. Itu berarti terdapat peningkatan atas peran SDM pada saat sekarang dibanding dengan peran SDM di masa lalu sekitar tahun 1990-an. Di mana pada masa lalu SDM hanya diperlakukan dari fungsinya sebagai ”mesin” yang membantu organisasi dalam mencapai tujuannya.
Dikarenakan SDM adalah segalanya dalam sebuah organisasi, maka hal itu memberikan konsekuensi pada keharusan untuk memenuhi kepuasan kerja dan kebutuhan-kebutuhan hidup dari pegawai. Terlebih lagi, jika organisasi tersebut berbentuk sekolah, maka pemenuhan kepuasan kerja guru dan staf sekolah merupakan hal yang urgen. Karena kualitas dan kemajuan sebuah sekolah sangat ditentukan oleh kualitas guru dan para staf yang membantu lancarnya kegiatan belajar mengajar.
Seperti diungkapkan oleh Nitisemito, bahwa untuk dapat meningkatkan kinerja dari SDM, pimpinan perlu menumbuhkan semangat dan kegairahan kerja para pegawainya. Karena itulah semangat dan kegairahan kerja pada hakikatnya adalah merupakan perwujudan dari produktivitas yang tinggi. Bahkan ada yang mengidentikkan secara bebas bahwa kinerja SDM yang tinggi adalah hasil tambah semangat dan kegairahan kerja. Semangat kerja itu sendiri adalah melaksanakan pekerjaan secara lebih giat, sehingga dengan demikian pekerjaan akan dapat diharapkan lebih cepat dan lebih baik. Sedangkan kegairahan kerja adalah kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan. Meskipun semangat kerja tidak mesti disebabkan oleh kegairahan kerja, tetapi kegairahan kerja mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap semangat kerja.
Atas dasar pengertian tersebut, semangat kerja adalah efektifitas yang mengarah pada pencapaian produktivitas atau kinerja (performance appraisal) yang maksimal yaitu pencapaian target berkenaan dengan kualitas, kuantitas dan waktu.
Terdapat banyak faktor dalam meningkatkan kinerja SDM, yang salah satunya adalah dengan pemberian kompensasi dan insentif. Seperti dikatakan oleh Basu Swastha, bahwa kompensasi adalah imbalan jasa yang diberikan secara teratur dan dalam jumlah tertentu oleh organisasi kepada para pegawai atas kontribusi tenaganya yang telah diberikan untuk mencapai tujuan organisasi. Kompensasi ini dapat berupa upah dan gaji.
Sebenarnya pengertian antara upah dan gaji adalah sinonim, hanya saja upah lebih banyak dipakai untuk para pekerja (buruh), sedangkan gaji biasanya diberikan kepada para pegawai tetap dalam jumlah pasti pada setiap bulannya. Upah juga lebih bersifat dipengaruhi oleh volume output yang dihasilkan oleh setiap individu, sedangkan gaji bersifat tetap, sedangkan jika terdapat jasa yang lebih dari pegawai terhadap organisasi diberikan imbalan dalam bentuk lain, yaitu apa yang disebut dengan insentif.
Basu Swashta juga mengatakan, bahwa pemberian insentif terhadap pegawai adalah sebagai pendorong yang dapat memotivasi pegawai untuk lebih bekerja secara efektif. Insentif terkait erat dengan kinerja pegawai (dalam hal ini, pada organisasi sekolah adalah guru dan staf). Terdapat timbal balik dua arah antara pemberian insentif dengan kinerja. Insentif diberikan karena adanya kinerja yang baik dan diberikan untuk lebih meningkatkan kinerja lagi di masa mendatang.
Berdasarkan asumsi dari teori di atas mengenai pentingnya pemberian insentif untuk meningkatkan kinerja SDM pada sebuah organisasi, khususnya sekolah, maka dalam penelitian ini penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut, untuk dapat membuktikan secara nyata melalui data-data yang akurat, mengenai: ”PERANAN INSENTIF DALAM USAHA PENINGKATAN KINERJA GURU DAN STAF TU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 11 KOTA CIREBON”.

1.2 Perumusan Masalah
Penulis dapat merumuskan masalah pokok yang akan menjadi bahasan utama dalam penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana sistem pemberian insentif yang berikan oleh Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 11 Kota Cirebon terhadap guru dan staf TU?
2. Bagaimana kinerja guru dan staf TU pada SMPN 11 Kota Cirebon?
3. Apakah pemberian insentif memiliki peranan yang signifikan terhadap peningkatan kinerja guru dan staf TU pada SMPN 11 Kota Cirebon?

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.3.1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab masalah pokok yang telah dirumuskan pada perumusan masalah di atas, yaitu:
1. Untuk mengetahui sistem pemberian insentif yang berikan oleh Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 11 Kota Cirebon terhadap guru dan staf TU.
2. Untuk mengetahui kinerja guru dan staf TU pada SMPN 11 Kota Cirebon.
3. Untuk mengetahui peranan pemberian insentif terhadap peningkatan kinerja guru dan staf TU pada SMPN 11 Kota Cirebon.


1.3.2 Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan Ilmiah
1) Mendapatkan data dan fakta yang valid mengenai peranan pemberian insentif dalam usaha peningkatan kinerja guru dan staf TU pada SMPN 11 Kota Cirebon.
2) Memberikan sumbangan bagi perkembangan khazanah ilmu pengetahuan, terutama bagi kemajuan ilmu administrasi, khususnya sebagai sumbangan pemikiran bagi mata kuliah yang penulis dapat selama perkuliahan.
b. Kegunaan praktis
1) Menambah perbendaharaan referensi di Perpustakaan STIAKIN, Kota Cirebon.
2) Merupakan sumber referensi bagi jurusan ilmu administrasi, yang akan meneliti lebih lanjut mengenai peranan pemberian insentif dalam usaha peningkatan kinerja guru dan staf TU pada SMPN 11 Kota Cirebon.
3) Memberikan masukan bagi pihak pengurus SMPN 11 Kota Cirebon mengenai urgensi pemberian insentif kaitannya dengan peningkatan kinerja guru dan staf TU.

1.4 Hipotesa
Hipotesa pada dasarnya merupakan suatu proposisi atau anggapan sementara yang mungkin benar, dan sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan/pemecahan persoalan ataupun untuk dasar penelitian lebih lanjut.
Dalam penelitian ini penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:
Hipotesis nol (H0): Diduga insentif tidak memiliki peranan terhadap peningkatan
Kinerja Guru dan Staf TU pada SMPN 11 Kota Cirebon.”
Hipotesis alternatif (H1): Diduga insentif memiliki peranan terhadap peningkatan
Kinerja Guru dan Staf TU pada SMPN 11 Kota Cirebon.”

1.5 Metodologi Penelitian
1.5.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian akan dilakukan di Kantor SMPN 11 Kota Cirebon selama 3 bulan, terhitung dari bulan Januari sampai dengan Maret 2007.

1.5.2 Metode dan Ruang Lingkup Penelitian
Metode dalam penelitian menurut tingkat eksplanasi (penjelasan)nya dibagi menjadi tiga jenis:
1) Metode deskriptif, yaitu metode penelitian yang bersifat untuk mengetahui dan menjelaskan nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain;
2) Metode komparatif, adalah suatu metode yang bersifat membandingkan dari suatu variabel untuk sampel yang lebih dari satu atau dalam waktu yang berbeda; dan
3) Metode penelitian asosiatif/hubungan, yaitu metode penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Metode ini berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala/peristiwa.
Dikarenakan penelitian ini berusaha untuk mengetahui peranan pemberian insentif dalam usaha peningkatan kinerja guru dan staf TU pada SMPN 11 Kota Cirebon, maka metode yang digunakan adalah mengacu pada metode asosiatif seperti telah dijelaskan pengertiannya di atas.
Sedangkan ruang lingkup penelitian akan membahas 2 variabel penelitian, yaitu:
1. Insentif
2. Kinerja pegawai
1.5.3 Jenis Data dan Variabel Penelitian
Jenis data dalam penelitian ini bersifat primer dan expost facto, yaitu mengeksplorasi data-data yang telah tersedia, yaitu data tentang pemberian insentif serta data tentang kinerja Guru dan Staf TU.
Sedangkan variabel penelitian, memiliki 2 (dua) variable, yaitu satu Variabel Bebas (X), yakni Insentif, dan satu Variabel Terikat (Y) yakni Kinerja Guru dan Staf TU. Sedangkan Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain korelasional, yaitu desain yang akan mengungkap hubungan korelatif satu variabel atau lebih. Penerapannya dalam penelitian ini adalah akan mengkorelasikan, satu variabel bebas (X) dan satu variabel terikat (Y). Adapun desain korelasinya adalah sebagai berikut:

File Selengkapnya.....

Baca Selengkapnya...

Teman DiskusiSkripsi.com


 

Free Affiliasi Program