Showing posts with label Pendidikan Bahasa Arab. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Bahasa Arab. Show all posts

Studi Tentang Pelaksanaan Metode Sam’iyah Wa Syafawiyah Dalam Pengajaran Bahasa Arab Di Kelas II MTS Putra Al-Ishlahuddiny

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bahasa Arab adalah bahasa yang dipergunakan oleh Allah untuk menurunkan Al-Qur’an. Dengan demikian, maka bahasa Arab dan Al-Qur’an merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan, sehingga bahasa Arab memiliki peran yang istimewa dari bahasa-bahasa lainnya yaitu dengan ditakdirkannya sebagai bahasa Al-Qur’an.
ﻥﻮﻠﻘﻌﺘ ﻢﻜﻠﻌﻠ ﺎﻴﺒﺮﻋ ﺎﻨﺍﺮﻗ ﻩﺎﻨﻠﺰﻨﺍ ﺎﻨﺍ
Artinya : Sesungguhnya kami menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab agar kamu memahaminya. (Q.S. Yusuf : 2)
Ayat di atas memberikan sinyalemen bahwa mempelajari bahasa Arab adalah syarat untuk memahami isi Al-Qur’an dan mempelajari Al-Qur’an berarti mempelajari bahasa Arab. Dengan demikian, maka peran bahasa Arab disamping sebagai alat komunikasi antara sesama manusia juga alat komunikasi antara hamba dengan kholiqnya dalam bentuk sholat, do’a dan sebagainya.
Adanya peran bahasa Arab yang sangat penting dan istimewa dalam kehidupan umat Islam tidak berlebihan jika pengajaran perlu mendapat penekanan dan perhatian yang serius dan seksama, baik di Lembaga Formal maupun Non Formal.
Dalam pengajaran bahasa Arab atau bahasa Asing lainnya yang sering menjadi sorotan dan bahan pembicaraan adalah dari segi metode, sukses atau tidaknya suatu program pengajaran khususnya bahasa sering kali dinilai dari segi metode yang digunakan, sebab metodelah yang menentukan isi dan cara mengajarkan bahasa (Sumardi, 1974 : 7).
Karenanya tidak mengherankan kalau di bidang pengajaran bahasa sering terjadi perubahan-perubahan dari Metode A ke Metode B, kemudian kembali lagi ke Metode A. Hal ini dapat terjadi karena di bidang pengajaran bahasa terdapat berbagai macam metode pengajaran dan di antara metode pengajaran bahasa Arab yanga ada, tidak ada satupun yang paling baik dipakai untuk bermacam-macam tujuan pengajaran bahasa Arab, sebab semua metode itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tetapi bila guru dapat memilih dan menggunakannya dengan tepat yaitu sesuai dengan tujuan, materi, kemampuan siswa, kemampuan guru maupun keadaan waktu serta peralatan atau media pengajaran yang memadai, maka dapatlah tercapai apa yang diharapkan dalam proses belajar mengajar.
Untuk itu seorang guru harus benar-benar dapat memilih dan menentukan metode pengajaran bahasa Arab yang tepat dan cocok diterapkan dalam proses belajar mengajar, karena bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan pemakaian metode justeru akan mempersulit bagi guru dalam pencapaian tujuan.

Dengan pemilihan metode yang tepat diharapkan tumbuh berbagai kegiatan siswa sehubungan dengan kegiatan mengajar guru, sehingga dapat mencapai apa yang diharapkan dalam proses belajar mengajar. Juga dapat mendorong siswa mencapai prestasi yang optimal.
Sekali lagi diantara metode pengajaran bahasa Arab yang telah berlaku masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, semula metode terjemah dinilai paling cocok untuk kemampuan membaca secara efektif dan memahami isi, kemudian muncul Direct Method (Metode Langsung) sebagai reaksi meskipun sejak ada pada Zaman Romawi, kemudian muncul Metode Aural Oral Approach (Sam’iyah Wa Syafawiyah) yang sempat dinilai paling efektif karena berdasarkan prinsip-prinsip linguistik yang diharapkan dapat menjawab dan mengatasi berbagai permasalahan dalam proses belajar mengajar bahasa Arab yang tujuan utamanya agar siswa memiliki keterampilan berbahasa atau kemampuan berbahasa Arab dengan baik dan benar.
Dari dasar tidak adanya metode yang paling baik dan cocok digunakan untuk mencapai tujuan pengajaran bahasa Arab, maka Madrasah Tsanawiyah Putra Al-Ishlahuddiny Kediri Lombok Barat melaksanakan Metode Sam’iyah wa Syafawiyah (Audi-Lingual Method) yang merupakan salah satu metode pengajaran bahasa Arab yang mengutamakan latihan pendengaran dan ucapan (Aural Oral), dengan mengambil aspek-aspek kelebihan dari metode tersebut.
Dengan pelaksanaan metode Sam’iyah wa Syafawiyah di Madrasah Tsanawiyah Putra Al-Ishlahuddiny Kediri Lombok Barat ini dimaksudkan supaya penguasaan empat keterampilan berbahasa seimbang, keterampilan berbahasa yang dimaksud adalah: Keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis.
Di samping itu, dalam interaksi belajar mengajar ditemukan adanya bermacam-macam keadaan yang dialami oleh siswa yang berpengaruh pada proses pembelajaran, baik masalah intern belajar maupun masalah ekstern belajar yang perlu untuk disikapi secara serius serta didiskripsikan secara detail, sehingga bisa dimunculkan solusi atau jalan keluarnya.
Mengacu pada gambaran-gambaran di atas, maka penulis ingin mencermati dan meneliti lebih jauh tentang pelaksanaan metode pengajaran bahasa Arab khususnya metode “Sam’iyah Wa Syafawiyah”, sehingga penulis tertarik untuk mengangkat judul tentang “Studi Tentang Pelaksanaan Metode Sam’iyah wa Syafawiyah dalam Pengajaran Bahasa Arab di Kelas II MTs. Putra Al-Ishlahuddiny Kediri Lombok Barat”.

B. Fokus Penelitian

1. Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang di atas penulis dapat merumuskan masalah penelitian yang harus dan perlu diangkat : File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Prilaku Sifat Dan Mausuf Dalam Hubungan Sintaksis Bahasa Arab

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai manusia kita tidak akan pernah berhenti saling berinteraksi dengan manusia yang lainnya karena antara manusia yang satu dengan yang lainnya sangat saling membutuhkan dan sebagian cara berinteraksi manusia dengan manusia yang lainnya adalah dengan cara komunikasi antara sesama, baik itu dengan bahasa lisan atau bahasa tulisan. Sebagai media komunikasi berbagai Bahasa mengalami kemajuan sejalan dengan perkembangan budaya-masing-masing termasuk Bahasa Arab. Bahkan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab sudah dijadikan Bahasa Internasional dan kedua bahasa ini dijadikan sebagai mata pelajaran yang penting di Lembaga Pendidikan yang berciri khas Agama Islam. Dalam mempelajari bahasa-bahasa tersebut para siswa tidak akan luput dari kesulitan-kesulitan, karena bahasa-bahasa tersebut sangat variatif dan mempunyai aturan-aturan yang sangat banyak terutama Bahasa Arab.
Bahasa Arab merupakan bahasa yang memiliki tingkat kemajuan yang sangat pesat, sehingga Bahasa Arab sangat potensial untuk dijadikan sebagai Bahasa Internasional, karena Bahasa Arab dijadikan sebagai pelajaran yang sangat mendasar di lembaga-lembaga pendidikan terutama Lembaga Pendidikan yang bernaung di bawah Depertemen Agama.
Mempelajari Bahasa Arab, tidak akan pernah sempurna hanya dengan mempelajari Bahasa Arab itu sendiri, karena siswa akan menemukan kesulitan-kesulitan yang dihadapi, sehingga memperlambat siswa dalam memahami Bahasa Arab tersebut. Membicarakan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para siswa dalam mempelajari Bahasa, terutama Bahasa Arab, maka kita akan membicarakan pelajaran-pelajaran yang sangat mendukung para siswa untuk lebih cepat memahami Bahasa Arab terutama pelajaran Nahwu, karena dengan pelajaran Nahwulah para siswa bisa berbahasa Arab dengan baik dan benar, bahkan dalam sebuah syair Bahasa Arab telah di sebutkan “ﻢﻬﻓﻴﻦﻠﻪﻧﻭﺩﻢﻼﻜﻠﺍﺬﺍ” (Muhammad, ibnu Aqil) yang artinya “Perkataan tanpa Ilmu Nahwu maka perkataan tersebut sulit dipahami”. Dengan demikian pelajaran Nahwu merupakan pelajaran dasar bagi para siswa untuk bisa berbahasa dengan baik dan benar. Tapi sering kita jumpai banyak para siswa yang mengeluh dengan pelajaran Nahwu, karena siswa sering salah dalam menggunakan atau menerapkan kaidah atau aturan yang ada dalam pelajaran Nahwu tersebut. Terutama mengenai sifat dan mausuf (Na’at dan Man’ut) padahal Sifat dan Mausuf merupakan hubungan sintaksis frasiologis yang tidak mencapai makna klausa yang banyak digunakan dalam berbahasa, baik bahasa lisan atau tulisan. Kemudian dalam penerapan hubungan sintaksis sifat dan mausuf sering kali terjadi kesalahan di kalangan pengguna Bahasa Arab, baik di Madrasah, Pondok pesantren, dan di Perguruan Tinggi khususnya di kalangan Mahasiswa STAIN sendiri.
Dengan adanya fenomena seperti inilah yang menarik minat pengkaji untuk mengadakan kajian dengan judul “PRILAKU SIFAT DAN MAUSUF DALAM HUBUNGAN SINTAKSIS BAHASA ARAB “ .

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas pengkaji dapat merumuskan masalah sebagai berikut: File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pengajaran Bahasa Arab Di Madrasah Ibtidaiyah Miftakhul Huda

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Menurut Al-Ghazzawi yang dikutip kembali oleh Prof. Dr. Azhar Arsyad, bahasa Arab merupakan salah satu bahasa yang banyak digunakan oleh masarakat dunia, yang dituturkan oleh lebih dari 200.000.000 (dua ratus juta) umat manusia dan bahasa ini digunakan secara
Dari uraian singkat di atas, dapat dipahami bagi siapa saja yang ingin mempelajari ilmu pengetahuan agama Islam lebih mendalam, sebelumnya ia perlu menguasai bahasa Arab, karena dengan menguasai bahasa Arab pintu gerbang untuk mendalami al-Qur'an, hadist dan ilmu pendukungnya menjadi terbuka lebar.
Di dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 2 Tahun 1989 dan Peraturan Pemerintah No. 28 dan 29 Tahun 1990, yang dimaksud dengan Madrasah adalah sekolah umum yag berciri khas agama Islam. Jadi Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah sekolah yang berciri khas agama Islam yang setingkat sekolah dasar. Pelajaran bahasa Arab di madrasah sudah barang tentu diajarkan karena bahasa Arab termasuk bagian dari pelajaran yang harus diajarkan di madrasah, mulai dari tingkat MI sampai perguruan tinggi.
Para lulusan madrasah seyogyanya memiliki kebanggaan tersendiri karena kemapuannya dalam membaca, menulis dan memahami bahasa Arab, yang merupakan kunci untuk memahami al-Qur'an dan Hadis serta kitab-kitab keagamaan klasik. Sayangnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kemampuan bahasa Arab para lulusan madrasah semakin menurun, kalau tidak bisa dikatakan sangat lemah. Salah satu contoh untuk mendukung pernyataan ini, bisa dilihat dari kasus para calon mahasiswa IAIN Jakarta (yang sekarang telah berubah menjadi Universitas Islam Negeri), pada tahun 1995 berikut ini:
Persyaratan untuk diterima sebagai mahasiswa baru di UIN Jakarta pada tahun 1995 adalah bahwa calon harus mendapat nilai tes bahasa Arab minimal 6 sampai 10. Hasilnya lebih kurang hanya lima yang mendapat nilai tes bahasa Arab 7 – 9, 132 anak memperoleh nilai 5 – 7, dari lebih kurang hampir 5000 (lima ribu) calon yang mayoritas adalah para lulusan madrasah dan lainnya mendapat nilai kurang dari 5. Keadaan serupa ternyata tidak hanya terjadi di UIN Jakarta saja, akan tetapi juga terjadi di IAIN dari daerah lain dan PTAIS lainnya. Dengan kata lain, di IAIN dan PTAIS lainpun banyak calon mahasiswa yang tidak atau kurang mampu menguasai bahasa Arab sesuai dengan standar kemampuan menguasai bahasa Arab untuk lulusan Madrasah Aliyah.

Penurunan prestasi belajar khususnya pelajaran bahasa Arab pada dewasa ini menjadi perhatian dan sekaligus kekhawatiran yang dirasakan penulis dan ini juga merupakan salah satu faktor pendorong penulis dalam mengangkat tema ini dengan judul "Pengajaran Bahasa Arab di MI Miftakhul Huda Temanggung (Telaah Metode)".
Mengapa pengajaran bahasa Arab yang penulis kemukakan? Adanya gagasan untuk mengetengahkan masalah metode dalam tulisan ini, dimaksudkan untuk memberikan manfaat pada dunia pengajaran bahasa, khususnya bahasa Arab. Sebab, setiap orang yang bergelut di bidang ini pasti menyadari pentingnya metode pembelajaran yang selayaknya dikuasai oleh calon pendidik atau pengajar. Penguasaan materi ilmu bukanlah merupakan suatu jaminan kemampuan bagi seseorang untuk mengajarkan ilmu tersebut kepada siapapun juga. Di samping itu, masalah metode bukanlah sesuatu yang mudah dicerna di dalam pengaplikasiannya (heuristik). Seperti yang ditulis oleh Edward M. Anthony dalam artikelnya dengan judul "Approach, Method and Technique" pada tahun 1963, dan dikutip kembali oleh Prof. Dr. Azhar bahwasannya lapangan pengajaran bahasa diusahakan bisa mencapai taraf ilmiah ketimbang hanya mengambang pada taraf eksperimental dan empiris dan bisa juga memperdalam hakekat belajar dan mengajar bahasa. Dan bagaimana teknik yang sesungguhnya terjadi di dalam kelas dan merupakan pelaksanaan dari metode yang sifatnya implementatif.
Adapun alasan penulis memilih MI Miftakhul Huda Temanggung sebagai subjek penelitian adalah karena ada indikasi MI Miftakhul Huda Temanggung memiliki kelebihan dalam penguasaan bahasa Arab di antara MI-MI lainnya yang berada di wilayah sekecamatan Bulu, kabupaten Temanggung. Hal ini bisa dilihat dari hasil nilai rata-rata yang diperoleh ketika ujian semester genap pada tahun ajaran 2004-2005, yakni dengan nilai rata-rata 7,65. Sedangkan nilai rata-rata pelajaran bahasa Arab untuk MI sekecamatan Bulu adalah 60,01.
Alasan inilah yang membuat penulis merasa perlu melakukan suatu peneltian. Bagaimana cara pengajaran bahasa Arab pada lembaga tersebut? Dan bagaimana peranan serta pengaruh guru –gurunya?
Penelitian ini diharapkan berhasil mendeskripsikan proses pengajaran bahasa Arab pada lembaga tersebut disertai analisis kelebihan dan kekurangannya, kemudian memberi sumbangan pikiran bagi pengajaran bahasa Arab bagi lembaga-lembaga pendidikan lain setingkat Madrasah Ibtidaiyah.
B. Rumusan Masalah
Bertolak dari uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan pokok masalah yang akan dikaji, yaitu: File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pembelajaran Kitab Kuning dengan Arab Pegon-Tafsirya

BAB I
PENDAHULUAN
A. Penegasan Istilah
1. Tradisi
Tradisi merupakan suatu kebiasaaan turun temurun1.
2. Arab Pegon
Arab pegon, yaitu sebuah tulisan, aksara atau huruf arab tanpa lambang atau tanda baca atau bunyi2. Dalam kamus Jawa-Indonesia, pegon berarti tidak biasa mengucapkan.3 Kata lain dari “pegon” yaitu gundhil berarti gundhul atau polos4. Sedangkan “huruf Arab pegon” digunakan untuk menuliskan terjemahan maupun makna yang tersurat didalam kitab kuning5 dengan menggunakan bahasa tertentu.
3. Pondok Pesantren
Merupakan sebuah institusi agama Islam,yang masih bercorak tradisional selain menyelenggarakan pengajaran agama juga menyediakan asrama sebagai usaha untuk lebih memperdalam pelajaran agama.

B. Latar Belakang Masalah
Arab pegon, sebenarnya hanya merupakan ungkapan yang digunakan oleh orang Jawa, sedangkan untuk daerah Sumatera disebut dengan aksara Arab-Melayu6. Jadi, huruf Arab pegon atau disebut dengan aksara Arab-Melayu ini merupakan tulisan dengan huruf Arab tapi menggunakan bahasa lokal. Dikatakan bahasa lokal karena ternyata tulisan Arab pegon itu tidak hanya menggunakan Bahasa Jawa saja tapi juga dipakai di daerah Jawa barat dengan menggunakan Bahasa Sunda, di Sulawesi menggunakan Bahasa Bugis, dan di wilayah Sumatera menggunakan Bahasa Melayu.
Keberadaan Arab pegon di Nusantara sangat erat kaitannya dengan syi’ar Agama Islam, diduga merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh para ulama sebagai upaya menyebarkan Agama Islam7. Selain itu aksara Arab ini juga digunakan dalam kesusasteraan Indonesia. Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat, dalam kesusasteraan Jawa ada juga yang ditulis dengan tulisan pegon atau gundhil, penggunaan huruf ini terutama untuk kesusasteraan Jawa yang bersifat agama Islam,8 aksara Arab yang dipakai dalam Bahasa Jawa disebut dengan aksara Pegon.9Bukan hanya kesusasteraan Jawa saja tapi ternyata mencakup Nusantara karena menurut Drs. Juwairiyah Dahlan, bagi mereka yang mempelajari kesusasteraan Indonesia seringkali menggunakan aksara Arab ini, bahkan di Malaysia disebut dengan aksara Jawi.
Dengan aksara Arab ini, telah ditulis dan dikarang ratusan buku mengenai ibadah, hikayat, tasawuf, sejarah nabi-nabi dan rosul serta buku-buku roman sejarah. Pada zaman penjajahan Belanda, sebelum tulisan latin diajarkan di sekolah-sekolah, seringkali aksara Arab dipergunakan dalam surat menyurat, bahkan dikampung-kampung pada umumnya sampai zaman permulaan kemerdekaan, banyak sekali orang yang masih buta aksara latin tetapi tidak buta aksara Arab, karena mereka sekurang-kurangnya dapat membaca aksara Arab, baik untuk membaca Al-Qur’an maupun menulis surat dalam bahasa daerah dengan aksara Arab.10Menurut Prof. Dr. Denys Lombard, menjelang tahun 1880 aksara Arab masih digunakan luas untuk menuliskan Bahasa Melayu dan beberapa bahasa setempat (seperti Bahasa Aceh atau Minangkabau) 11
Beragam usaha untuk mempertahankan penggunaan aksara Arab ini, salah satunya di daerah Sulawesi Selatan tepatnya di daerah Buton. Menurut Laode Zaedi,12 aksara Arab dengan Bahasa Bugis/Walio dianggap sebagai salah satu khasanah kebudayaan daerah dan kini sedang digalakkan pelestariannya, salah satu caranya yaitu dengan mengajarkan kepada murid-murid sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga perguruan tinggi sebagai salah satu pilihan dalam kurikulum muatan lokal.
Selain itu, keberadaan penggunaan Arab pegon di pondok pesantren terutama yang masih kuat kultur masyarakatnya13sampai saat ini masih tetap dipertahankan. Karena selama ini pesantren masih dianggap banyak membawa keberhasilan dalam pencapaian berhasilnya pelajaran dan pengajaran Bahasa Arab. Penerapan penerjemahan kitab kuning dengan menggunakan Arab pegon dalam pengajarannya biasa disebut dengan Ngabsahi14atau Ngalogat15 dalam menerjemahkan dan memberi makna pada Kitab Kuning.
Pengertian umum yang beredar di kalangan pemerhati masalah pesantren adalah bahwa kitab kuning selalu dipandang sebagai kitab-kitab keagamaan berbahasa arab, atau berhuruf arab, sebagai produk pemikiran ulama masa lampau (as-salaf) yang ditulis dengan format khas pra-modern, sebelum abad ke-17-an M. Dalam rumusan yang lebih rinci, definisi kitab kuning adalah kitab-kitab yang, ( a) ditulis oleh ulama-ulama “asing”, tetapi secara turun-temurun menjadi reference yang dipedomani oleh para ulama indonesia, (b) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis yang “independen”, dan c) ditulis oleh ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama “asing”.
Dalam tradisi intelektual Islam, khususnya di timur tengah, dikenal dua istilah yang menyebut kategori karya-karya ilmiah berdasarkan kurun atau format penulisannya. Katagori pertama disebut kitab-kitab klasik (al-kutub al-qodimah), sedangkan kategori kedua disebut kitab-kitab modern (al-kutub al-ashriyyah). Perbedaan pertama dari yang kedua dicirikan, antaara lain, cara penulisannya yang tidak mengenal pemberhentian, tanda baca (punctuation), dan kesan bahasanya yang berat, klasik, dan tanpa syakl (baca: sandangan- fatkhah, dhommah, kasroh). Dan sebutan kitab kuning pada dasarnya mengacu pada katagori yang pertama, yakni kitab-kitab klasik (al-kutub al-qodimah).
Spesifikasi kitab kuning secara umum terletak pada formatnya (lay-out), yang terdiri dari dua bagian: matn, teks asal (inti), dan syarh (komentar, teks penjelas atas matn). Dalam pembagian semacam ini, matn selalu di letakkan di bagian pinggir (margin) sebelah kanan maupun kiri, sementara syarh-karena penuturannya jauh lebih banyak dan panjang dibandingkan matn-diletakkan di bagian tengah setiap halaman kitab kuning. Ukuran panjang-lebar kertas yang digunakan kitab kuning pada umumnya kira-kira 26 cm (quarto). Ciri khas lainnya terletak dalam penjilidannya yang tidak total, yakni tidak dijilid seperti buku. Ia hanya dilipat berdasarkan kelompok halaman (misalnya, setiap 2 halaman) yang secara teknis dikenal dengan istilah korasan. Jadi, dalam satu kitab kuning terdiri dari beberapa korasan yang memungkinkn salah satu atau beberapa korasan itu dibawa secara terpisah. Biasanya, ketika berangkat ke majelis pengajian, santri hanya membawa korasan tertentu yang akan dipelajarinya bersama sang kiai-ulama.
Hal yang membedakan kitab kuning dari yang lainnya adalah metode mempelajarinya. Sudah dikenal bahwa ada dua metode yang berkembang di lingkungan pesantren untuk mempelajari kitab kuning: adalah metode sorogan dan metode bandongan. Pada cara pertama, santri membacakan kitab kuning dihadapan kiai-ulama yang langsung menyaksikan keabsahan bacaan santri, baik dalam konteks makna maupun bahasa (nahw dan sharf). Sementara itu, pada cara kedua, santri secara kolektif mendengarkan bacaan dan penjelasan sang kiai-ulama sambil masing-masing memberikan catatan pada kitabnya. Catatan itu bisa berupa syakl atau makna mufrodhat atau penjelasan (keterangan tambahan). Penting ditegaskan bahwa di kalangan pesantren, terutama yang klasik (salafi), memiliki cara membaca tersendiri yang dikenal dengan cara utawi-iki-iku, sebuah cara membaca dengan pendekatan tata bahasa (nahw dan sharf) yang ketat.
Selain kedua metode diatas, sejalan dengan usaha kontekstualisasi kajian kitab kuning, di lingkungan pesantren, dewasa ini telah berkembang metode jalsah (diskusi kelompok) dan halaqoh (seminar). Kedua metode ini lebih sering digunakan ditingkat kiai-ulama atau pengasuh pesantren, namun sekarang pun sudah sering dilakukan oleh santri. Guna membahas isu-isu kontemporer dengan bahan-bahan pemikiran yang bersumber dari kitab kuning.16
Ilustrasi berikut ini dapat memberikan suatu gambaran yang jelas bagaimana metode ini dilaksanakan dalam praktik: File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Metode Pengajian di An-Nur Foundation Yogyakarta(Dalam Presp...

BAB I
PENDAHULUAN

A. Penegasan Masalah
Untuk memudahkan dalam memahami judul skripsi "Metode Pengajaran Baca Al-Qur'an di An-Nuur Foundation Jogjakarta (Dalam Perspektif Pengajaran Membaca Permulan Bahasa Arab) penulis memberikan penegasan masalah sebagai berikut:
1. Metode Pengajaran
Metode adalah jalan (cara) yang ditempuh oleh guru untuk menyampaikan materi pelajaran kepada murid atau cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan, sedangkan pengajaran adalah interaksi belajar-mengajar, yaitu hubungan timbal balik antara guru (pengajar) dan anak (murid) yang menunjukan adanya hubungan yang bersifat educatif (mendidik), yang mana interaksi itu harus diarahkan pada suatu tujuan tertentu yang bersifat mendidik yaitu adanya perubahan tingkah laku anak didik kearah kedewasaan.
Adapun maksud dari metode pengajaran disini adalah suatu cara yang ditempuh oleh guru dalam suatu proses interaksi belajar-mengajar dengan maksud agar tujuan pengajaran dapat tercapai.
2. Baca Al-Qur’an
Baca atau membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta di pergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Sedangkan Al-Qur’an adalah kalam atau firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. yang membacanya merupakan suatu ibadah.
Adapun maksud dari baca Al-Qu’ran disini adalah membaca huruf-huruf yang terdapat dalam Al-Qur’an (huruf Hijaiyah) serta sesuatu yang berkaitan dengannya seperti tanda baca dan tajwid.
3. An-Nuur Foundation Jogjakarta
An-Nuur Foundation Jogjakarta adalah suatu lembaga non formal yang bergerak dalam bidang pengajaran baca Al-Qur’an khusus dewasa atau orang tua yang dalam pengajarannya menggunakan suatu metode yang dinamakan dengan metode An-Nuur, yang termasuk metode pengajaran baca Al-Qur’an sistem cepat, karena hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk membuat seseorang bisa baca Al-Qur’an yaitu 2 jam. Adapun maksud dewasa disini adalah orang yang sudah bisa diajak berfikir secara analogi (minimal umur 15 tahun), sedangkan maksud orang tua disini adalah orang yang sudah berusia tua namun masih mempunyai kemampuan untuk membaca. An-Nuur Foundation Jogjakarta terletak di jalan Monjali No.80 Karangjati Wetan, Rt 05/45 Sinduadi, Sleman, Jogjakarta.
4. Perspektif
Perspekitf adalah pengharapan, peninjauan, tinjauan, padang luas. Adapun maksud perspektif disini adalah tinjauan.
5. Pengajaran Membaca Permulaan Bahasa Arab
Pengajaran membaca permulaan adalah pengajaran membaca yang bermaksud memberi kecakapan kepada para siswa untuk mengubah rangkaian-rangkaian huruf menjadi rangkaian-rangkaian bunyi yang bermakana atau pengajaran membaca yang mengutamakan pengajaran huruf dan rangkaiannya serta melancarkan teknik membaca, pengajaran membaca permulaan disini akan dikhususkan pada pengajaran membaca huruf-huruf Arab (huruf Hijaiyah) serta sesuatu yang terkait dengannya yaitu tanda baca Arab dan tajwid .
Berdasarkan pada penegasan istilah tersebut dapat dipahami bahwa maksud dari judul skripsi ini adalah meneliti tentang metode pengajaran baca Al-Qur'an yang diterapkan di An-Nuur Foundation Jogjakarta dalam tinjauan pengajaran membaca permulaan bahasa Arab.

B. Latar Belakang Penelitian
Dalam mempelajari bahasa asing termasuk bahasa Arab dikenal istilah ketrampilan berhahasa yang meliputi berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis. Dalam membaca disana terdapat dua macam membaca yaitu membaca permulaan dan membaca lanjut, perbedan diantara keduanya terletak pada maksud atau tujuan pengajaran membacanya, dalam pengajaran membaca permulaan, tujuannya adalah memberikan kecakapan kepada para siswa untuk mengubah rangkaian-rangkaian huruf menjadi rangkaian-rangkaian bunyi bermakna atau pengajaran yang menekankan pada pengajaran huruf dan rangkaiannya serta melancarkan teknik membaca, sedangkan pada membaca lanjut tujuannya adalah melatih anak-anak menangkap pikiran dan perasaan orang lain yang dilahirkan dengan bahasa tulisan dengan tepat dan teratur.
Seseorang yang ingin bisa membaca bahasa Arab maka dia harus terlebih dahulu belajar membaca permulaan bahasa Arab (membaca huruf-huruf Arab atau huruf Hijaiyah).
Di Indonesia, pengajaran membaca permulan bahasa Arab itu biasanya dilakukan melalui sistem ngaji atau belajar membaca AL-Qur’an di masjid atau di rumah, sehingga tatkala mereka dihadapkan pada pelajaran bahasa Arab di sekolah mereka sudah sedikit banyak mengenal tentang huruf-huruf Arab, dan keadaan yang seperti ini sangat membantu sekali bagi guru bahasa Arab.
Belajar membaca permulaan bahasa Arab yang dilakukan dengan sistem ngaji ini biasanya dilakukan dalam waktu yang relatif lama bahkan terkadang sampai bertahun-tahun, keadaan yang seperti ini bagi kita sudah dianggap suatu hal yang wajar mengingat bahwa belajar huruf-huruf Arab itu adalah suatu hal yang sulit karena bahasa Arab adalah termasuk bahasa asing yang mempunyai bentuk serta bunyi yang berbeda dengan bahasa Indonesia, selain dari itu untuk mempelajari tanda baca atau ilmu tajwidnya saja di perlukan waktu yang tidak sedikit.
Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk belajar membaca permulaan bahasa Arab terkadang menimbulkan rasa malas bagi orang yang akan mempelajarinya, terlebih-lebih apabila yang belajar itu orang dewasa atau orang tua, salah satu penyebabnya adalah karena mereka telah tersibukaan oleh berbagai hal yang menyangkut kehidupan mereka sehingga tak ada waktu bagi mereka jika harus terus- menerus belajar membaca permulaan bahasa Arab.
Karena huruf Arab adalah huruf Al-Qur’an maka orang yang tidak bisa membaca huruf Arab secara otomatis dia tidak bisa membaca Al-Qur’an, kebanyakan orang dewasa atau orang tua akan merasa malu apabila dirinya akan belajar baca Al-Quran, hal ini dikarenakan mereka merasa sudah terlambat, namun walaupun begitu mereka sebenarnya juga ingin belajar membaca Al-Quran, karena Al-Quran adalah merupakan pedoman hidup atau kitab suci mereka sebagai orang islam.
Dalam dunia pendidikan ternyata banyak pelajar atau mahasiswa yang belum bisa membaca permulaan bahasa Arab, padahal terkadang mereka tidak bisa terlepas dari hal itu karena tuntutan akademik, namun dalam benak mereka telah terbanyang bahwa belajar membaca permulaan bahasa Arab itu sulit terlebih-lebih jika dilakukan dalam usia dewasa atau orang tua, sehingga banyak dari mereka yang merasa putus asa untuk bisa membaca pemulaan bahasa Arab.
Berdasar pada kenyataan yang seperti itu, penulis merasa tertarik ketika mendengar ada suatu metode pengajaran baca Al-Quran yang dinamakan metode An-Nuur, sebab menurut penemunya yaitu DR H.M Rosyady S.Ag, MM, MBA bahwa dengan mengunakan metode An-Nuur seseorang akan bisa membaca Al-Qur’an dalam waktu yang singkat yaitu 2 jam.
Melihat kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan oleh metode An-Nuur dalam pengajaran membaca Al-Qur’an, maka penulis ingin mengkajinya dan mencoba mengkaitkannya dengan salah satu ketrampilan berbahasa yaitu membaca, khususnya membaca permulaan bahasa Arab, ini karena disana penulis melihat adanya kesamaan materi yang akan disampaikan yaitu huruf hijaiyah, tanda baca Arab dan tajwid.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Metode Pengajaran Bahasa Arab Bagi Lulusan SD

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bahasa Arab adalah bahasa yang dipergunakan oleh Allah untuk menurunkan Al-Qur’an. Dengan demikian, maka bahasa Arab dan Al-Qur’an merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan, sehingga bahasa Arab memiliki peran yang istimewa dari bahasa-bahasa lainnya yaitu dengan ditakdirkannya sebagai bahasa Al-Qur’an.
Berkaitan dengan hal tersebut Allah SWT berfirman:
ﻥﻮﻠﻘﻌﺘ ﻢﻜﻠﻌﻠ ﺎﻴﺒﺮﻋ ﺎﻨﺍﺮﻗ ﻩﺎﻨﻠﺰﻨﺍ ﺎﻨﺍ (يوسف:2)
Artinya : Sesungguhnya kami menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab agar kamu memahaminya (Depag, 1998: 187).
Ayat di atas memberikan sinyalemen bahwa mempelajari bahasa Arab adalah syarat untuk memahami isi Al-Qur’an dan mempelajari Al-Qur’an berarti mempelajari bahasa Arab. Dengan demikian, maka peran bahasa Arab disamping sebagai alat komunikasi antara sesama manusia juga alat komunikasi antara hamba dengan kholiqnya dalam bentuk sholat, do’a dan sebagainya.
Agama Islam adalah agama yang sempurna yang diutamakan untuk semua umat manusia. Maka disebabkan tersebarnya agama Islam ke seluruh alam, maka pengajaran bahasa Arab-pun tersebar ke seluruh dunia Islam (minimal bacaan sholat), serta dengan tujuan yang lainnya, yaitu agar dapat memahami ajaran Islam dengan sempurna serta untuk menjaga kemurniaan syari’at Islam baik dari masa sekarang maupun masa yang akan datang.
Bertitik tolak dari kenyataan di atas, bahasa Arab mempunyai perhatian khusus dari para pakar yaitu ingin memasyarakatkan dan membudayakan bahasa Arab sebagai bahasa bertaraf internasional, oleh karenanya pemerintah menjadikan program pengajaran bahasa Arab sebagai mata pelajaran yang berstatus sama dengan lainnya, baik di sekolah agama maupun sekolah umum lainnya.
Berkenaan dengan hal tersebut, dalam memilih metode pengajaran Bahasa Arab, hal yang perlu dipertimbangkan adalah tujuan, materi, kemampuan guru yang mengajar metode tersebut. Kesemuanya itu sangat mendukung keberhasilan menggunakan metode dalam proses pengajaran Bahasa Arab.
Metode merupakan faktor pendukung keberhasilan dalam pengajara bahasa Arab. Dalam memilih metode yang perlu dipertimbangkan tujuan yang ingin dicapai materi yang disampaikan, kesemuanya ini sangat mendukung dalam proses belajar mengajar. Dan perlu disadari bahwa metode memiliki kelebihan dan kekurangan, baik tidaknya, berhasil tidaknya suatu metode tergantung sesuai tindakannya dengan tujuan, materi yang disampaikan dan fasilitas yang tersedia.
Dalam pengajaran Bahasa Arab, guru dapat menggunakan metode-metode sebagai berikut: metode gramatika terjemah, metode langsung, metode membaca, metode meniru dan menghafal, serta metode campuran.
Penulis beranggapan bahwa di MTs. Al-Falah yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Al-Falah kampung Pancordao, Aik Darek kecamatan Batu Kliang memiliki problema pengajaran pada bidang studi Bahasa Arab. Hal ini disebabkan karena adanya siswa Lulusan SD yang menjadi siswa MTs. Al-Falah disatukan dalam satu kelas dengan lulusan Madrasah Tsanawiyah, padahal kemampuan siswa dalam menyerap pelajaran Bahasa Arab berbeda. Untuk itu seorang guru harus benar-benar dapat memilih dan menentukan metode pengajaran bahasa Arab yang tepat dan cocok diterapkan dalam proses belajar mengajar, karena bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan pemakaian metode justeru akan mempersulit bagi guru dalam pencapaian tujuan.
Mengacu pada gambaran-gambaran di atas, maka penulis tertarik mencermati dan meneliti lebih jauh tentang “Metode Pengajaran Bahasa Arab Bagi Lulusan SD (Studi Analisis Pada MTs. Al-Falah Pancordao)”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka ada beberapa hal yang hendak dicari pemecahannya dalam penelitian ini adalah: File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Media Gambar dalam Pengajaran Kosakata Bahasa Arab Di TK Al-...

BAB I
PENDAHULUAN

A. Penegasan Istilah
Untuk memperoleh kesatuan pengertian dan menghindari kesalahpahaman dalam memahami judul skripsi ini, maka penulis menganggap perlu adanya beberapa batasan dan penegasan istilah sebagai berikut:
1. Media Gambar
Media adalah alat. Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium. Secara harfiah medium berarti perantara atau pengantar. Media adalah pengantar pesan dari pengirim kepada penerima.
Sedangkan gambar adalah hasil dari pelahiran perasaan serta fantasi dalam bentuk goresan. Gambar dapat berupa tiruan barang, orang, binatang, tumbuhan dan sebagainya. Maka yang disebut dengan media gambar adalah perantara atau pengantar pesan dalam bentuk goresan atau dapat juga berupa tiruan barang, orang, binatang, tumbuhan dan sebagainya dari pengirim pesan ke penerima pesan.

2. Pengajaran Kosakata Bahasa Arab
Pengajaran adalah operasionalisasi dari kurikulum yang terjadi apabila terdapat interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru untuk mencapai tujuan. Sedangkan proses pengajaran atau interaksi belajar ditandai dengan adanya sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lain yaitu tujuan, bahan, metode, teknik, pendekatan, media dan penilaian.
Kosakata artinya perbendaharaan kata. Kosakata (vocabulary) dalam bahasa arab disebut mufrodat. Sedangkan bahasa Arab didefinisikan sebagai kata-kata yang digunakan bangsa Arab dalam mengutarakan maksud, perasaan maupun pikiran mereka. Disamping itu bahasa Arab merupakan bahasa agama, ilmu pengetahuan dan bahasa internasional.
Adapun yang dimaksud dengan judul skripsi ini adalah pengajaran sebagian kosakata/mufrodat yang diambil dari tema panca indra, warna-warna dan beberapa benda yang ada di sekitar sekolah atau rumah dengan menggunakan media gambar yang bertujuan agar anak mengenal dan menguasai kosakata tersebut dengan baik dan benar.
3. TK Al-Islam I Jamsaren Surakarta
Dalam PP RI No. 27 tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah, bab I pasal I ayat (2) dinyatakan bahwa yang diamaksud dengan Taman Kanak-kanak (TK) adalah salah satu bentuk pendidikan dini bagi anak usia empat tahun sampai memasuki pendidikan dasar. lebih lanjut dijelaskan bahwa satuan pendidikan prasekolah meliputi Taman Kanak-kanak, Kelompok Bermain dan Penitipan Anak. Taman Kanak-kanak berada di jalur pendidikan sekolah sedangkan Kelompok Bermain dan Penitipan Anak terdapat di jalur pendidikan luar sekolah..
TK Al-Islam I ini merupakan sebuah lembaga pendidikan sekolah yang bercirikan Islam yang terletak di jantung kota Surakarta, tepatnya di Jl. Veteran No. 261 Surakarta.
4. Studi Eksperimen
Studi artinya kajian, telaah, penelitian. Eksperimen berasal dari kata eksperiment (Inggris) yang berarti percobaan (John M Echols dan Hassan Sadily, 1987: 225). Sedangkan percobaan berarti usaha untuk mencoba sesuatu, usaha hendak berbuat atau melakukan sesuatu.
Adapun maksud penggunaan istilah eksperimen dalam skripsi ini adalah sebagai usaha melakukan atau mencoba penggunaan media gambar untuk mengenalkan kosakata bahasa Arab pada anak usia prasekolah.
5. Anak Usia Prasekolah
Yang dimaksud dengan anak usia prasekolah adalah mereka yang berusia antara 3-6 tahun. Menurut Biechler dan Snowman (1993), mereka biasanya mengikuti program prasekolah dan kindergarten, sedangkan di Indonesia umumnya mereka mengikuti program tempat penitipan anak (3 bulan-5 tahun) dan kelompok bermain (usia 3 tahun), sedangkan pada usia 4-6 tahun biasanya mereka mengikuti program Taman Kanak-Kanak.
Jadi yang dimaksud skripsi ini adalah sebuah penelitian dengan ujicoba (eksperimen) media gambar dalam pengajaran kosakata bahasa arab pada anak usia prasekolah di TK Al-Islam I pada kelas nol besar (kelompok B4) Jamsaren Surakarta yang bertujuan untuk mengenalkan kosakata bahasa Arab pada anak usia prasekolah dan mempermudah penguasaannya. Dipilihnya media gambar sebagai salah satu alternatif pemilihan media pengajaran karena media gambar dianggap lebih tepat dan lebih optimal hasilnya bagi anak usia prasekolah, sehingga akan mempermudah para pelajar untuk trampil dan mahir dalam berbahasa Arab sesuai dengan tujuan pengajaran bahasa Arab.

B. Latar Belakang Masalah
Bahasa Arab sebagai bahasa asing tetap menempati posisi penting di Indonesia, khususnya bagi umat Islam, tidak lain karena kedudukan bahasa Arab sebagai bahasa agama umat Islam. Bahasa Arab adalah File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Teman DiskusiSkripsi.com


 

Free Affiliasi Program