PROXIMITY DAN KANDUNGAN SOSIOEMOSI ISI PESAN ELECTRONIC MAIL (E-MAIL) di MAILING LIST UNHAS-ML

BAB I
PENDAHULUAN

Pada bab I diuraikan mengenai latar belakang yang mendasari dilakukannya penelitian, rumusan masalah serta tujuan dan kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini.
A. Latar Belakang

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin pesat dewasa ini telah membuat bola dunia terasa makin kecil dan ruang seakan menjadi tak berjarak lagi. Mulai dari wahana teknologi komunikasi yang paling sederhana berupa perangkat radio dan televisi hingga internet dan telepon genggam dengan protokol aplikasi tanpa kabel, informasi mengalir dengan sangat cepat dan menyeruak ruang kesadaran banyak orang. Perubahan informasi kini tidak lagi dalam skala minggu atau hari bahkan jam melainkan sudah berada dalam skala menit dan detik dan ini dapat diperoleh melalui sumber informasi yang disebut dengan internet.

Internet merupakan kumpulan atau jaringan komputer yang ada diseluruh dunia. Melalui teknologi ini, kita dapat merekam dan mendokumentasikan informasi melalui chip yang ada di komputer kemudian digabungkan dengan telepon, komputer, dan modem. Perkembangan internet yang begitu pesat dengan pemakai yang terus bertambah menjadikan aktivitas komunikasi data dan informasi semakin mudah dan cepat. Dewasa ini, diperkirakan ada lebih dari 30.000 jaringan dengan alamat lebih kurang 30 juta diseluruh dunia (http://www.rad.net.id/homes/edward/intnasic/1.htm). Data statistik yang diperoleh menunjukkan bahwa pada tahun 1995 terdapat 30 juta populasi pengguna dan 100 juta pengguna pada tahun 1998. Diperkirakan tahun 2010 semua orang akan terhubung ke internet dengan asumsi pertumbuhan setiap bulan sebesar 10% (http://www.ai3.itb.ac.id/news/sejarah_networklain.html).

Di Indonesia, pengguna internet menurut data asosiasi penyelenggara jasa internet di Indonesia (APJIT) tahun 1996 hanya 110.000 orang dan tahun 2002 meningkat menjadi 220.000 orang. Hasil survei pengguna internet tahun 1999 menunjukkan karakter pengguna internet di Indonesia berdasarkan jenis kelamin di dominasi oleh kaum laki-laki dengan persentase hampir 90% sedangkan kaum wanita hanya lebih kurang 10% (majalah internet, 25 Juli 2002). Hadirnya penggunaan internet secara massal melalui sistem komunikasi yang bermediasi komputer disebut oleh Rogers “teknologi media komunikasi baru” (1986)

Lahirnya teknologi komunikasi baru ternyata menggiring kita untuk menyebut abad ini sebagai abad komunikasi massa karena setiap orang dapat berkomunikasi dengan jutaan orang secara serentak dan serempak. Berlo (1975) dalam Fisher (1986) menamakan ledakan informasi dan revolusi teknologi yang terjadi dewasa ini sebagai “revolusi” dalam komunikasi. Dofivat (1967) dalam Rahmat (1999) berpendapat bahwa teknologi komunikasi mutakhir telah menciptakan apa yang disebut “publik dunia”. Liliweri (2003) menyebut gejala ini dengan istilah masa budaya elektronik. Beberapa ciri dari budaya elektronik yang dikemukakannya antara lain: (1) membagi informasi dengan sangat cepat; (2) proses penggandaan dan banyak copy diperoleh dengan cara yang mudah; (3) satu copy dapat diakses oleh orang banyak; (4) pelajaran baru kini disebut sebagai membaca linier; (5) ada semacam konsensus yang berjangka waktu lama, tetapi dengan partisipasi yang lebih seimbang; (6) menekan status dan tatanan sosial melalui tanda-tanda tertentu; (7) etiket tidak terlalu kuat sehingga individu bebas memperluas norma-norma yang dipertukarkan; (8) kerja kolaboratif bisa tepat pada waktunya dan jaraknya lebih besar; (9) komunikasi dapat membagi aspek-aspek bidang lisan maupun tulisan; (10) memberi sumbangan pada pembaharuan dan pemanfaatan organisasi baru; (11) alat-alat khusus sangat diperlukan sebagai syarat untuk berpartisipasi; (12) telah terjadi pengayaan informasi disatu pihak dan terjadi jurang kemiskinan di pihak lain.

Teknologi komunikasi baru ternyata juga memberi pengaruh terhadap meningkatnya bidang penelitian komunikasi. Isu-isu yang dikaji telah dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi. Salah satu bidang penelitian baru yaitu penelitian terhadap isi pesan e-mail (electronik mail) yang merupakan salah satu fasilitas yang paling banyak digunakan di internet. Hal ini karena e-mail merupakan alat komunikasi paling murah dan cepat. Melalui e-mail kita dapat berhubungan dengan siapa saja yang terhubung ke internet di seluruh dunia. Dalam berbagai survei Internet yang dapat dilihat di http://dir.yahoo.com/computers and_internet/statistics_and_Demograpgics/surveys, maupun dalam berbagai kesempatan seminar dan diskusi, ternyata aplikasi tama yang digunakan pengguna internet untuk berkomunikasi dan bersilaturrahmi bukan sekedar akses web. Survei yang dilakukan oleh GVU (http://www.gvu.gatech.edu/user_surveys/) terlihat bahwa 84% responden memilih e-mail sebagai aplikasi yang paling penting di internet (Onno:2003).

Salah satu kegunaan unik dari fasilitas e-mail ini yaitu terdapatnya pengguna yang berada pada grup tertentu. Penggunaan e-mail untuk forum diskusi kelompok yang besar dikenal dengan teknik atau aplikasi mailing list. Selanjutnya mailing list menjadi aplikasi dasar utama dalam pembentukan berbagai komunitas cyber. Anggota grup akan menerima pesan-pesan yang terkirim ke alamat group secara serentak.

Mailing list ini memberi setiap pribadi suatu wewenang untuk mengirimkan berbagai pesan yang berisi aneka ragam pikiran kepada ribuan orang tanpa disunting. Mailing list di sini berperan sebagai sebuah laporan pelanggan berkesinambungan karena setiap orang tak henti-hentinya menyumbangkan pandangan, pengalaman, peringatan melalui e-mail mereka.

Berawal dari hal inilah kemudian muncul apa yang disebut dengan istilah “demokratisasi informasi” yang memandang fasilitas ini benar-benar suatu forum demokratis karena pada jaringan ini komunikasi setiap orang ditangani secara merata. Ditambahkan lagi fasilitas komunikasi baru ini menjadi media diskusi antara pihak-pihak dengan ideologi dan kepentingan yang berbeda-beda.

Demikian halnya yang terjadi di mailing list UNHAS-ML yang sejak 1 September 1999 telah dipenuhi berbagai pesan yang beraneka ragam kandungan sosioemosinya, juga menjadi forum diskusi bagi anggotanya.

Namun sayangnya dari hasil pengamatan awal yang dilakukan, forum ini telah menjadi arena perang simbolik untuk beberapa topik tertentu. Para anggota grup pada umumnya telah terjebak beropini secara emosional dalam menonjolkan kerangka pemikiran, perspektif, konsep dan interpretasi masing-masing dalam memaknai suatu objek pesan. Akibatnya, lahirlah deskripsi atau eksplanasi yang bersifat tendensius. Perdebatan yang terjadi pun menyiratkan tendensi untuk melegitimasi diri sendiri dan mendelegitimasi pihak lawan. Terjadi pro dan kontra dan masing-masing pihak memberi argumentasi pembenaran, bahkan sangat jelas siapa dan bagaimana anggota-anggota grup mendukung atau menolak pemikiran anggota-anggota lain.

Gejala komunikasi seperti ini dapat dilihat dari beberapa kutipan e-mail dari anggota mailing list UNHAS-ML berikut ini:

“Visi ozpek Setiap tahun akademi baru zenior-zenior menyambut maba dan meneruskan visi yang telah terbentuk (jangan tanya saya siapa yang membentuk visi yang sudah terbangun…..karena saya harus mengontak sejumlah beliau-beliau dan meminta mereka bercerita). Beberapa visi itu misalnya menumbuhkan rasa percaya diri maupun rasa kebersamaan bagi mhs baru untuk menempuh kuliah, yang katanya lebih berat dari masa sekolah menengah. Dan metode pemasukan visi ini adalah ozpek, yang sebagian orang bilang in-doktrinasi ?

Metode ozpek karena saya lulusan teknik, jadi pernah merasakan ozpek, maka bolehlah saya bercerita sedikit tentang ozpek.

……………………………………………………………………………………………….Visi agar memiliki kemauan kuat “ we are the champion” ini didasarkan pada kenyataan bahwa kuliah di teknik memang berat. Dan sedapatnya harus mengalahkan beban kuliah ini…………………..Kemudian visi kebersamaan, agar anak daerah tidak minder terhadap anak kota maka visi kebersamaan dicecoki kedalam kepala maba (kalau sekarang mungkin fasilitas daerah tidak kalah dengan Makassar…?. (4657)

“Pak Tjaronge

“We are the champion” mungkin memang benar. Tapi dalam soal belajar, tidak ada sama sekali orientasi juara. Sejak masa belajarnya Aristoteles hingga ada Unhas secara konseptual, yang dibutuhkan bukan juara. Yang ada hanyalah “berhasil” atau “sukses”, seperti bapak hendak capai di negeri rantau. Tapi kalau Pak Tjaronge mau “the champion” silakan saja. Tapi menurut saya, untuk komunitas ilmiah, terlalu kampungan memuja “the champion”. Saya kira, kalau mahasiswa teknik hendak “the champion”, mestinya dalam hal-hal yang berkaitan dengan bidang studinya. Bukan ‘the champion’ memasang umbul-umbul tengkorak sepanjang pintu I Unhas, atau mengecet dinding kampus dengan warna hitam-merah.……………...……………….. (4686)

……………., kita juga bisa bertanya apa syarat perlunya “We Are The Champion”. Sebab kalo diklaim saja itu nda’ benar. Tentu ada pembenarannya, dan saya kira disinilah intinya pada saatnya pada saat klaim itu diindoktrinasi. Mari kita tanya pada saudara-saudara kita, “Why you klaim your self to be the champion”. Sebelum dijawab, sebenarnya perlu disorot tentang keberadaan champion. Kalo menurutSaudara W. Tjaronge, ini khan hanya untuk mahasiswa FT, saya kira ini ndak sepenuhnya benar, sebab dengan menyebut diri ‘We Are The Champion’, implisit ada “they”. They itu ndak champion. Implisist lagi, “We defeat them in match”. Makanya dibilang macthnya kan nda’ ada. Kalo menurut sdr Maqbul Halim, adopsi kata “champion’ implikasinya seolah-olah kita memandang proses belajar sebagai pertandingan. Thus, ada pihak juara dan ada pihak ndak juara. Sebab menyebut diri “We Are The Champion” secara tidak langsung bahwa “ I am better than others”. (4689)

………………………………………………………………………………...

Saya yang memilih dan memberikan pertama kali lagu “We Are The Champion” di Opspek angjatan 1989, ini memang doktrin untuk mengukuhkan tekad JUARA dalam pergulatan melawan sikap sombong, arogan (wakti itu saya membaca ada kecenderungan sikap superior dari mahasiswa Teknik), huga juara intelektualitasnya, tekad melawan ketidakadilan di kampus, KKN Di Kampus, dosen-dosen yang bermental feodalis. Kami orang-orang dari fakultas teknik BUKAN BINATANG tasrief, yang mengajarkan hukum rimba pada adik-adik. Kami juga mendalami AGAMA. Ekses adalah konsekuensi yang mungkin terjadi dalam implementasi suatu konsep. (4657)

Penelitian yang berkaitan dengan isi pesan e-mail telah dilakukan oleh para ahli. Rogers (1986) melakukan penelitian terhadap pesan-pesan yang terposting di beberapa computer bulletin board California. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui topik-topik apa saja yang banyak melibatkan diskusi yang panjang sepanjang musim gugur tahun 1984. Penelitian Rogers tersebut menunjukkan bahwa topik tentang keadilan dalam kinerja Presiden Reagen, agama dan undang-undang di Amerika Serikat dan kegagalan beberapa satelit yang diluncurkan oleh beberapa kapal angkasa Amerika Serikat merupakan topik-topik yang menjadi bahan diskusi yang panjang.

Love dan Rice dalam Rogers (1986) juga melakukan penelitian terhadap kandungan sosioemosi isi pesan e-mail. Menurut Love dan Rice dalam penelitiannya terhadap kelompok pengguna mailing list yang berprofesi sebagai dokter, terdapat 30 persen dari 2347 kalimat yang diambil dari 388 pesan yang dijadikan sampel penelitian, memiliki masing-masing persentase yang berbeda untuk setiap jenis kandungan sosioemosinya. Jenis kandungan sosioemosi yang paling banyak yaitu yang menunjukkan sosioemosi solidaritas (18%) dari seluruh kalimat yang dijadikan sampel kemudian pemberian informasi pribadi (8%).

Fenomena di mailing list inilah yang menurut penulis menarik untuk diteliti. Mewakilkan opini melalui perangkat elektronik menjadi suatu bidang penelitian yang patut diperhitungkan dan mendorong penulis untuk mencoba mengangkatnya menjadi kajian peneltian.
B. Rumusan masalah

Uraian gejala-gejala pada latar belakang di atas, menunjukkan adanya permasalahan dalam proses komunikasi yang berlangsung pada mailing list UNHAS-ML yaitu dilibatkannya emosi negatif yang tecermin melalui pemilihan kata yang kurang “simpatik” untuk dibaca.

Penelitian ini akan mencoba mengaitkan hal tersebut di atas dengan jenis-jenis proximity. Jenis-jenis proximity yang akan dibahas adalah kedekatan budaya, kedekatan psikologis, kedekatan sosial, dan kedekatan politis.

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, penulis mengkonsentrasikan penelitian pada tiga pertanyaan terpilih yaitu :

1. Peristiwa dan isu-isu apa sajakah menjadi topik perdebatan yang mengandung sosioemosi ketegangan di mailing list UNHAS-ML?
2. Seberapa besarkah faktor proximity dan faktor apakah yang dominan mempengaruhi minat anggota grup dalam menanggapi suatu pesan?
3. Seberapa besarkah faktor proximity mempengaruhi keberpihakan seorang anggota grup dalam menanggapi isi e-mail anggota yang lain?


C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menjelaskan topik-topik yang dominan menjadi topik perdebatan di mailing list UNHAS-ML.

2. Menggambarkan pengaruh dan faktor proximity yang dominan mempengaruhi minat para anggota grup menanggapi suatu pesan.

3. Menggambarkan faktor-faktor proximity yang mempengaruhi keberpihakan para anggota grup terhadap isi pesan.

Penelitian ini juga diharapkan memiliki kegunaan :

1. Secara teoretis.

a. Diharapkan dapat menambah dan memperluas wawasan keilmuan khususnya dalam kajian teknologi komunikasi

b. Pengembangan ilmu komunikasi pada umumnya dan penelitian dimasa depan.

2. Secara praktis :

Diharapkan dapat memberi masukan yang bermanfaat bagi mailing list Unhas yang berperan sangat besar sebagai sarana komunikasi dan informasi.

File Selengkapnya.....

Baca Selengkapnya...

UPAYA–UPAYA YANG DILAKUKAN TELEVISI REPUBLIK INDONESIA STASIUN BANDUNG DALAM MENJARING PEMASANG IKLAN

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Bersamaan dengan masuknya Indonesia ke dalam era reformasi, dengan itu pula dunia pers di Indonesia memasuki era kebebasannya. Persaingan di antara media massa pun tak terhindarkan. Tidak terkecuali media televisi, yang dewasa ini diyakini sebagai salah satu media massa yang paling berperan dalam proses globalisasi. Media komunikasi ini dianggap mempunyai kekuatan tersendiri dalam mentransfer gaya hidup dan menyebarkan budaya massa, dibandingkan dengan media komunikasi lainnya.

Kata televisi sendiri berasal dari kata tele (bahasa Yunani) yang artinya jauh, dan kata visi (videre – bahasa Latin) yang artinya penglihatan. Dengan demikian secara harfiah televisi berarti melihat dari jauh. Melihat dari jauh disini diartikan dengan, gambar dan suara yang diproduksi disuatu tempat (studio TV) dapat dilihat dari tempat lain melalui perangkat penerima atau televisi set (Wahyudi, 1986:49).

Dengan adanya media komunikasi massa televisi, kebutuhan masyarakat akan informasi maupun hiburan menjadi semakin mudah tepenuhi. Bahkan untuk sekarang ini dibandingkan dengan media massa lain, televisi merupakan media yang paling banyak diminati, karena dinilai lebih menarik dengan menampilkan paduan gambar dan suara secara bersamaan sehingga pesan yang disampaikan dapat ditangkap dan diinterpretasikan secara jelas oleh audience. Televisi memiliki daya tarik yang kuat disebabkan oleh unsur-unsur audio yang berupa suara, dan visual yang berupa gambar hidup yang menimbulkan kesan mendalam pada pemirsanya. Selain karena kelebihan tersebut, televisi juga diminati karena adanya beragam pilihan, mulai dari stasiun televisi sampai program-program acara yang dapat di akses dengan mudah dan cepat oleh pemirsa televisi.

Pada tahun 2001 lalu, di Indonesia telah hadir lima stasiun TV swasta baru, yaitu Metro TV, Trans TV, Lativi, TV7 dan Global TV. Dengan stasiun televisi swasta yang sudah ada sebelumnya, yaitu RCTI, SCTV, ANTV, TPI dan Indosiar, dunia pertelevisian pun semakin meriah dan persaingannya pun semakin ketat. Dengan masing-masing kreatifitas dan keunggulannya, stasiun-stasiun tersebut berusaha memperebutkan perhatian penonton televisi.

Di sisi lain, bermunculannya stasiun-stasiun televisi ternyata telah menggeser kiblat para produsen barang dan jasa dalam memanfaatkan media untuk melakukan promosi. Jangkauan yang lebih luas dari sebuah media televisi, memberikan tawaran biaya yang jauh lebih efisien dibanding media lain. Disamping itu, karakter media televisi juga mampu lebih menjamin efektifitas pesan (iklan) yang ingin mereka sampaikan.

Stasiun-stasiun televisi pun mau tidak mau harus saling berebut “kue iklan” dimana iklan ini dianggap sebagai sebuah hal yang wajib bagi sebuah lembaga pertelevisian, karena “hidup matinya” suatu media terutama media elektronik bergantung pada iklan atau sponsor. Semakin banyak pengiklan yang masuk pada sebuah stasiun televisi maka akan semakin banyak pula keuntungan akan diperoleh. Hal ini disebabkan, sebagian besar kegiatan operasional pertelevisian dibiayai oleh pendapatan dari iklan.

Televisi Republik Indonesia (TVRI) sebagai stasiun televisi pelopor milik pemerintah, juga ikut serta membidik peluang dengan kembali menghiasi jam-jam siarannya dengan tayangan iklan. Sebagai stasiun televisi dengan usia paling tua, sebenarnya TVRI adalah stasiun televisi di tanah air yang pertama kali menayangkan iklan.

Siaran iklan di TVRI sendiri dimulai pada tanggal 1 September 1975 berdasarkan Surat Keputusan Dirjen RTF nomor 11/ Kep/ Dirjen/ RTF/ 75. Sebagai satu-satunya media yang mempunyai jangkauan luas dan paling efektif dibanding media lain yang ada ketika itu, pemasukan TVRI dari iklan cukup besar. Namun dengan pertimbangan kesiapan mayoritas bangsa Indonesia dalam menghadapi implikasi yang dibawa oleh iklan maupun pesan sponsor di media televisi, khususnya terhadap kecendrungan konsumtif yang berkembang, pemerintah mencabut kebijakan memberi izin beriklan di TVRI. Dengan dikeluarkannya SK Mentri Penerangan nomor 30 / Kep/ MenPen/ 1981 berdasarkan pidato Presiden pada Sidang Paripurna DPR RI tanggal 5 Januari 1981 tentang Nota Keuangan RUU APBN 1981/ 1982, maka sejak 1 April 1981 siaran iklan di TVRI pun dihapuskan.

Ketika Departemen Penerangan RI ditiadakan oleh pemerintah, TVRI yang semula merupakan unit pelaksana teknis dibawah Direktorat Jenderal Radio, Televisi dan Film Departemen Penerangan RI merubah status kelembagaannya. Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah nomor 36 tahun 2000 yang ditanda tangani oleh Presiden Abdurachman Wahid pada tanggal 7 Juni 2000, TVRI resmi menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan).

Sesuai dengan statusnya sebagai perusahaan, maka TVRI kini terus berbenah diri untuk lebih meningkatkan profesionalisme di semua bidang yang terkait dalam penyiaran terutama dalam memerankan fungsinya sebagai televisi publik. Dengan perubahan pengelolaan TVRI dari televisi pemerintah menjadi televisi publik, dari sudut penyiaran TVRI tidak lagi diatur oleh pemerintah. Dengan itu untuk menunjang kegiatan operasional siaran, TVRI menganggap perlu adanya dukungan dari pihak ketiga, diantaranya dengan menjaring pemasang iklan, sponsorship dan kerjasama. Untuk mengatur siaran iklan, sponsor dan kerjasama melalui Perjan TVRI, dinyatakan dalam SK direksi Perjan TVRI No. /KPTS/ Direksi/ TV/ 2001 tentang Siaran komersial di Perjan TVRI.

Setelah kurang lebih 20 tahun TVRI dikenal sebagai stasiun televisi yang anti iklan, memasuki tahun 2000 lalu TVRI mulai mengubah paradigma tersebut dengan kembali menayangkan iklan pada jam-jam siarannya. Namun demikian TVRI kini dianggap sebagai “pemain baru” dalam persaingan perebutan iklan, karena pasar iklan di tanah air bisa dikatakan sudah dikuasai oleh stasiun-stasiun televisi swasta seperti RCTI, SCTV, ANTV, TPI dan Indosiar. Belum lagi TVRI masih harus bersaing dengan stasiun-stasiun TV swasta baru lainnya yang pada kenyataannya stasiun-stasiun televisi tersebut lebih memiliki keunggulan dan telah mendapatkan tempat di hati para pemirsanya.

Untuk menangani permasalahan tersebut, TVRI memandang perlu membentuk satuan kerja Pemasaran dan Program, dimana tugas dari satuan kerja tersebut pada dasarnya adalah untuk memasarkan program-program acara kepada klien sehingga klien tersebut bersedia beriklan di TVRI. Seperti juga stasiun penyiaran TVRI daerah yang lain, Perjan TVRI Bandung pun melalui satuan kerja Pemasaran dan Programnya mulai melakukan berbagai upaya untuk menjaring perusahaan-perusahan untuk mengiklankan produk dan jasanya melalui layar kaca TVRI Bandung.

Dengan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan kajian tentang hal-hal diatas dengan mengambil judul :

“Upaya-upaya Yang dilakukan Perusahaan Jawatan TVRI Bandung

Dalam Menjaring Pemasang Iklan”.

1. 2 Tujuan Penulisan

Berdasarkan judul dan latarbelakang yang diambil, maka penulis merumuskan tujuan-tujuan Penulisan sebagai berikut :

1. Mengetahui dan memperoleh gambaran tentang bauran pemasaran yang dikembangkan TVRI Bandung dalam rangka menjaring pemasang iklan.

2. Mengetahui dan memperoleh gambaran tentang kegiatan-kegiatan komunikasi pemasaran yang dilakukan, dalam hubungannya dengan upaya penjaringan pemasang iklan

1. 3 Kegunaan Penulisan

Dengan kajian ini diharapkan kelak akan diperoleh informasi tentang upaya-upaya Perjan TVRI Bandung dalam menjaring pemasang iklan. Hasil dari penulisan sendiri diharapkan dapat digunakan oleh TVRI Stasiun Bandung sebagai arsip dan masukan, serta menambah koleksi bagi perpustakaan dan dapat digunakan oleh pihak-pihak lain yang berkepentingan.

Di sisi lain penulisan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis sebagai masukan yang dapat dijadikan rujukan untuk menghadapi dunia kerja.

1. 4 Metode Pendekatan dan Teknik Pengumpulan Data

Studi dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu metode yang digunakan untuk mengamati hal-hal yang terjadi di lapangan, dalam hal ini adalah segala kegiatan di TVRI Bandung, khususnya yang berkaitan dengan proses dan menjaring pemasang iklan.

Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan cara :

1. Observasi

Proses pengumpulan data primer dengan cara pengamatan langsung dan melakukan pencatatan terhadap objek-objek terkait, selama penulis melakukan praktek kerja lapangan. Dalam hal ini penulis mengamati kinerja dan permasalahan baik itu mengenai sistem kerja, sumber daya manusia, dan masalah teknik di satuan Kerja Pemasaran dan Program TVRI Bandung khususnya yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada proses penjaringan pemasang iklan.

2. Wawancara

Pengumpulan data dengan cara bertanya langsung, dalam hal ini yang menjadi sumber atau responden adalah staf dan karyawan Perjan TVRI Bandung, khususnya pada satuan kerja Pemasaran dan Program.

3. Studi Literatur

Mempelajari dan mengumpulkan data dari bahan-bahan tertulis yang relevan dengan judul tulisan.

I. 5 Lokasi dan Waktu Praktek Kerja Lapangan

1.5.1 Lokasi Praktek Kerja Lapangan

Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan di Perusahaan Jawatan TVRI Bandung yang beralamat di Jln. Cibaduyut Raya No. 267 Bandung Jawa Barat. Perjan TVRI Bandung sendiri merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa, khususnya dalam dunia penyiaran.

1.5.2 Waktu Praktek Kerja Lapangan

Praktek kerja lapangan dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan. Terhitung mulai tanggal 10 Maret s/d 09 April 2003.

File Selengkapnya.....

Baca Selengkapnya...

PERSEPSI TARGET AUDIENCE TERHADAP BRAND IMAGE DALAM IKLAN YANG MENGGUNAKAN CELEBRITY ENDORSER

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang Permasalahan

Keberadaan selebriti atau orang – orang terkenal memberi dampak dalam berbagai segi kehidupan manusia, dari waktu ke waktu. Popularitas selebriti memang tak dapat dipungkiri menjadi suatu fenomena tersendiri karena menjadi salah satu fokus publisitas di berbagai media cetak dan media elektronik, dan bahkan kehidupan pribadinya sangat ditunggu para insan pers sebagai headline berita.

Saat ini dalam berbagai iklan khususnya untuk produk baru, penggunaan selebriti sebagai salah satu strategi pemasaran, sangat efektif untuk membentuk stopping power bagi audience. Kehadiran selebriti dimaksudkan untuk mengkomunikasikan suatu merk produk dan membentuk identitas serta menentukan citra produk yang diiklankan. Pemakaian selebriti sebagai daya tarik iklan (advertising appeals), dinilai dapat mempengaruhi preferensi konsumen karena selebriti dapat menjadi reference group yang mempengaruhi prilaku konsumen.

Bagi produk baru, penggunaan endorser atau pembicara merupakan upaya pengiklan untuk meraih publisitas dan perhatian (attention getting power) produk tersebut. Meskipun mereka adalah aktor, selebriti, eksekutif, atau kepribadian yang diciptakan, endorser terbaik adalah mereka yang bisa membangun brand image yang kuat. Sebuah riset mengatakan bahwa selebriti yang cocok akan menaikkan nilai perhatian dan persuasi[1].

Keberhasilan upaya membangun brand image ini sangat ditentukan oleh persepsi konsumen terhadap selebriti yang menjadi icon produk tersebut. Dengan dipersepsikannya seorang celebrity endorser secara positif oleh masyarakat, diharapkan positif pula brand image yang terbentuk di benak konsumen. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan munculnya brand image dalam pikiran konsumen yang tidak relevan dengan persepsinya terhadap celebrity endorser. Dengan kata lain, tidak selamanya seorang celebrity endorser dalam iklan dapat membangun brand image yang relevan dalam benak konsumen, seperti yang diinginkan pengiklan.

Life's Good (LG) telah meluncurkan ponsel terbaru yang bisa mengakses seluruh fasilitas 3G yang baru saja diluncurkan oleh salah satu operator selular terbesar di Indonesia yaitu Telkomsel dan diikuti oleh XL. Kehadiran ponsel LG tipe terbaru yakni KG 300 ini, dipasarkan di lego Rp 1.600.000,00. Produk ini akan melengkapi ponsel berfasilitas 3G, setelah Nokia, Sony Ericsson, dan Motorola. Produk yang diluncurkan sekitar bulan Januari - Februari ini memungkinkan para penggemar 3G memiliki banyak pilihan untuk menggunakan ponsel sesuai fasilitas yang disediakan. Apalagi saat ini penggemar dari 3G kian besar di beberapa kota besar di Indonesia, sementara ketersediaan ponsel masih terbatas karena belum semuanya ponsel bisa mengkover fasilitas 3G. Dengan demikian peluncuran ponsel LG KG 300 ini diharapkan dapat direspon besar oleh pasar ponsel di Indonesia.

Dalam penelitian ini, peneliti memilih iklan ponsel LG KG 300 yang menggunakan Agnes Monica sebagai celebrity endorser. Dalam iklan tersebut Agnes Monica menjelaskan semua fitur yang ada dalam ponsel tersebut, dan bagaimana ponsel itu memberikan kenyamanan dalam keseharian Agnes.

Iklan ponsel LG KG 300 digunakan sebagai studi kasus dengan alasan utama yaitu produk ini merupakan produk baru. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, produk baru memerlukan publisitas dan perhatian untuk membangun image-nya. LG sendiri termasuk brand yang pangsa pasarnya berada di bawah brand-brand ponsel lain, seperti Nokia, Sony Ericsson, Motorola, dan Samsung. Posisi ponsel LG yang demikian inilah yang mendorong pengiklan menggunakan seorang endorser yang tingkat awarenessnya tinggi di mata publik. Ini menjadi alasan peneliti memilih ponsel LG KG 300 sebagai objek penelitian.

Sebagai selebriti, Agnes Monica memiliki tingkat popularitas tinggi di mata publik. Hal ini terlihat dari penggunaan Agnes dalam banyak iklan dan dianggap sebagai the next diva dalam dunia tarik suara. Agnes Monica merupakan ikon remaja yang terkenal memiliki image kuat dimata masyarakat. Dengan image Agnes yang demikian, maka ponsel LG menggunakan Agnes sebagai endoser dengan harapan image kuat Agnes juga mampu menguatkan image ponsel LG sebagai produk baru di pasar.

1. 2. Permasalahan

Sebagai reference group, atau sebagai inspirator, selebriti pada umumnya dapat mempengaruhi sikap, perilaku bahkan gaya berpakaian para penggemarnya. Apalagi, tak sedikit penggemar yang ingin mengikuti karakteristik idolanya, dan hal inilah yang dimanfaatkan oleh para pengiklan dalam memasarkan produknya.

Adanya perbedaan persepsi tiap-tiap individu akan seorang selebriti sebagai icon dalam iklan, dapat membentuk brand image yang berbeda pula pada tiap individu. Persepsi ini dapat mendukung, atau dapat juga menjatuhkan brand image. Dengan demikian dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

"Bagaimana image seorang celebrity endorser dapat membangun image positif produk ponsel LG KG 300 yang merupakan produk baru?"

1. 3. Tujuan Penelitian

Dilatarbelakangi permasalahan tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui persepsi target audience terhadap celebrity endorser dalam iklan sebuah produk baru. Peneliti juga akan melihat brand image yang muncul setelah target audience melihat iklan tersebut. Kemudian brand image yang dipersepsikan target audience akan dibandingkan dengan persepsi terhadap celebrity endorser. Akan dilihat kecocokan kedua persepsi tersebut.

Dengan demikian tujuan penelitian adalah untuk mengetahui relevansi atau kecocokan antara persepsi target audience terhadap celebrity endorser dengan persepsi target audience terhadap brand image produk baru.

1. 4. Signifikansi Praktis

Memberikan kontribusi positif bagi praktisi periklanan untuk mengetahui sejauh mana persepsi khalayak terhadap celebrity endorser dapat mempengaruhi brand image suatu produk. Penelitian ini juga bermanfaat untuk membantu para praktisi periklanan dalam hal penentuan celebrity endorser yang memiliki karakteristik yang tepat sesuai dengan persepsi konsumen yang ingin bangun.

Khusus bagi bidang marketing, penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan strategi komunikasi pemasaran, khusunya yang melibatkan selebriti dalam program-program pemasarannya. Penelitian ini juga bermanfaat bagi bidang kreatif sebagai masukan untuk perumusan pesan iklan atau ide kreatif yang menggunakan celebrity endorser.

[1] Kenneth Roman, Jane Maas, Martin Nisenholtz, How To Advertise, 114.

File Selengkapnya.....

Baca Selengkapnya...

TANGGAPAN KELOMPOK SUPORTER PERSIB BANDUNG “VIKING” TERHADAP PEMBERITAAN SEPUTAR PERSIB BANDUNG DI HARIAN UMUM GALAMEDIA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Media Massa (Mass Media) merupakan channel of mass communication, yakni saluran, alat atau sarana yang dipergunakan dalam proses komunikasi massa. Komunikasi massa sendiri artinya penyampaian pesan, gagasan, atau informasi yang ditujukan kepada orang banyak (massa, publik). Adapun karakteristik media massa itu sendiri meliputi :

1. Publisitas, disebarluaskan kepada khalayak.

2. Universalitas, pesannya bersifat umum.

3. Perioditas, tetap atau berkala.

4. Kontinuitas, berkesinambungan.

5. Aktualitas, berisi hal-hal baru.

(Romly, 2003 : 5)

Isi media massa secara garis besar terbagi dalam tiga kategori : berita, opini, feature, karena pengaruhnya terhadap massa (dapat membentuk opini publik), media massa disebut “kekuatan keempat” (the fourth estate) setelah lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif (Romly, 2003 : 5).

Berbicara mengenai media massa dalam bukunya jurnalistik terapan, Asep Syamsul Romly (2003 : 5) berpendapat : “Media yang termasuk kedalam kategori media massa adalah surat kabar, majalah, radio, TV dan film. Kelima media tersebut dinamakan “The Big Five Of Mass Media” (lima besar media massa), media massa sendiri terbagi dua macam, media massa cetak (printed media), dan media massa elektronik (electronic media). Yang termasuk media massa elektronik adalah radio, TV, film (movie), termasuk CD. Sedangkan media massa cetak dari segi formatnya dibagi menjadi enam yaitu :

1. Koran atau surat kabar (ukuran kertas broadsheet atau ½ plano)

2. Tabloid (½ broadsheet)

3. Majalah (½ tabloid atau kertas ukuran polio atau kuarto)

4. Buku (½ majalah)

5. Newsletter (polio atau kuarto, jumlah halaman lazimnya 4 – 8 halaman)

6. Buletin (½ majalah jumlah halaman lazimnya 4 – 8)

(Romly, 2003 : 5)

Pembahasan berikutnya penulis akan menggunakan media massa cetak yaitu surat kabar sebagai media yang akan diteliti, yakni Harian Umum Galamedia. Menurut Kurniawan Junaidi yang dimaksud dengan surat kabar adalah sebagai berikut :

“Sebutan bagi penerbitan pers yang masuk dalam media massa tercetak berupa lembaran berisi tentang berita-berita, karangan-karangan dan iklan serta diterbitkan secara berkala, bisa harian, mingguan, bulanan serta diedarkan secara umum, isinya pun harus aktual, juga harus bersifat universal, maksudnya pemberitaanya harus bersangkut-paut dengan manusia dari berbagai golongan dan kalangan”. (Junaidi, 1991 : 105)

Berkaitan dengan fungsi media atau pers itu sendiri, seperti yang di gariskan dalam pasal 3 Bab II, Undang-undang No. 40 tahun 1999 Tentang Pers, yang menyebutkan bahwa fungsi pers meliputi empat hal yaitu sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial.

Harian Umum Galamedia, merupakan media cetak lokal yang terbit di kota Bandung dan sekitarnya. Merupakan salah satu media yang dalam pelaksanaan kegiatannya sebagai perusahaan pers berusaha untuk mewujudkan salah satu fungsinya sebagai alat informasi bagi masyarakat. Hal ini dapat di lihat dari salah satu rubriknya yaitu Rubrik Olahraga yang menyajikan berita-berita berbagai cabang olahraga.

Adanya kesadaran yang kian tinggi terhadap kualitas kehidupan mendorong orang semakin menyadari akan pentingnya informasi olahraga , itulah sebabya berita atau tulisan yang berkaitan dengan kegiatan olahraga sangat diminati khalayak pembaca. Disamping itu, peristiwa olahraga mengandung unsur-unsur persaingan dan drama manusia dalam pencapaian menjadi pemenang. Itulah sebabnya berita olah raga menepati halaman-halaman utama media massa khususnya surat kabar. Peristiwa olahraga selain mengandung unsur hiburan juga menjadi semacam pintu pelepasan (escaped gate) atau katarsis bagi sebagian besar masyarakat yang ingin mengaktualisasikan dirinya. dalam suatu masa tertentu, peristiwa olahraga dapat memberikan dampak besar bagi media massa, seperti peristiwa disaat Persib Bandung menjuarai Liga Indonesia I tahun 1994 dengan mengalahkan Petrokimia 1-0, keesokan harinya, berita tentang keberhasilan Persib Bandung menjuarai Liga Indonesia di surat kabar dicari pembaca, meski mereka sudah menyaksikan melalui televisi.

Hampir setiap surat kabar sekarang mempunyai halaman olahraga, dengan menyediakan porsi khusus untuk pemberitaan olahraga, liputannya tidak saja pertandingannya sendiri, tetapi juga persiapan-persiapan pertandingan, ramalan-ramalannya, kelanjutan perkembangannya (follow-up story), dan feature-feature-nya. Disamping pertandingannya sendiri baik pertandingan olahraga besar atau kecil, terdapat bahan-bahan berita rutin yang layak dimuat dihalaman surat kabar, seperti data statistik, jadwal, pergantian pemain, fasilitas, pemain-pemain yang cedera dan sebagainya.

Mengingat arti penting olahraga ahli filsafat Lorens Bagus dalam sebuah artikelnya di Tabloid Gema Olahraga edisi 13 Desember 1996, menyatakan

Olahraga membangun watak dan ketahanan mental dalam menghadapi kritis, kasus lain dalam hidup bagi generasi muda aktifitas olahraga memainkan peran mendidik yang unik, selain merangsang semangat persaingan yang sehat, olahraga juga mengajarkan mereka bersifat hormat terhadap sesama ; mengakui kelebihan orang lain dan menerima kelemahan diri, sikap ini meningkatkan rasa percaya diri mereka. (Gema Olahraga 1996 : 2)

Rubrik olahraga merupakan salah satu rubrik di Harian Umum Galamedia. Rubrik ini memuat kolom yang tulisan atau informasi beberapa cabang olahraga nasional maupun internasional, Sebagai penerapan dari empat fungsi pers yakni sebagai media informasi, Harian Umum Galamedia dalam kegiatan keredaksionalannya menyajikan suatu informasi berupa berita, salah satu nya berita olahraga.

Dalam penelitian ini penulis menekankan pada pemberitaan tim sepak bola Persib Bandung. Sebagai media massa lokal untuk memenuhi salah satu fungsinya Harian Umum Galamedia secara kontinyu memberikan informasi mengenai tim sepak bola Persib Bandung, dengan selalu memberikan ruang atau tempat pada setiap terbitannya dengan selalu menyuguhkan pemberitaan mengenai Persib Bandung seperti ulasan pertandingan, profil pemain, pelatih, data statistik, jadwal, pergantian pemain, fasilitas, pemain-pemain yang cedera dan sebagainya. Beritanya disajikan secara etis, tajam dan akurat bagi seluruh pendukung Persib Bandung terlebih untuk kelompok suporter Persib Bandung “Viking”.

Dari hari ke hari, Harian Umum Galamedia sangat identik dengan Persib Bandung, dengan selalu memberikan informasi secara rutin mengenai tim sepak bola kebanggaan Kota Bandung ini seperti halnya pada saat Persib Bandung berhasil meraih kemenangan pertama di Liga Indonesia XII setelah kalah beruntun di empat pertandingan awal kesokan harinya hampir 2 ½ halaman Harian Umum Galamedia edisi Senin, 6 February 2006 dihiasi dengan berita seputar Persib. Hal ini menandakan betapa identiknya Harian Umum Galamedia dengan pemberitaan seputar Persib Bandung, karena seperti diutarakan oleh redaktur olahraga Harian Umum Galamedia, Bapak Akhmad Zall yang menyatakan bahwa 75 % berita di rubrik olahraga merupakan berita seputar Persib Bandung..

Tidak lepas daripada hal tersebut tentunya sangat erat kaitannya dengan “Viking”, sebagai kelompok suporter Persib yang berdiri sejak tahun 1993, “Viking” secara rutin mengikuti perkembangan Persib baik secara langsung maupun tidak, meskipun masih kelompok suporter Persib lainnya seperti, Boboko, Bomber, Robokop, Blue Flowers. Viking merupakan kelompok terbesar yang anggotanya berjumlah 30524 yang tersebar di wilayah Bandung dan sekitarnya.

Viking sebagai kelompok mayoritas pendukung Persib Bandung tentunya sangat membutuhkan informasi seputar Persib Bandung, baik itu informasi mengenai ulasan pertandingan, profil pemain, pelatih, data statistik, jadwal, pergantian pemain, fasilitas, pemain-pemain yang cedera dan sebagainya. dan informasi tersebut salah satunya di dapat dengan membaca pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia.

Bertolak dari latar belakang masalah diatas maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia”.

1.2 Identifikasi Masalah

Untuk mempermudah pembahasan, maka penulis mengidentifikasikan masalah-masalah yang akan diteliti sebagai berikut :

1. Bagaimana tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap unsur grafis dalam pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia ?

2. Bagaimana tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap nilai berita dalam pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia ?

3. Bagaimana tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap isi berita dalam pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia?

4. Bagaimana tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap frekuensi penyajian pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia?

1.3 Maksud dan tujuan penelitian

1.3.1 Maksud Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” mengenai pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia Bandung.

1.3.2 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap unsur grafis dalam pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia .

2. Untuk mengetahui tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap nilai berita dalam pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia.

3. Untuk mengetahui Bagaimana tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap isi berita dalam pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia.

4. Untuk mengetahui Bagaimana tanggapan kelompok suporter Persib Bandung “Viking” terhadap frekuensi penyajian pemberitaan seputar Persib Bandung di Harian Umum Galamedia.

1.4 Kegunaan penelitian

1.4.1 Secara Teoritis

Secara teoritis penelitian ini memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu komunikasi pada umumnya dan studi tentang media cetak atau surat kabar pada umumnya.

1.4.2 Secara Praktis

Penelitian ini di harapkan dapat mengetahui kebenaran dari proses komunikasi massa khususnya dari segi efek Media. Dalam kaitan ini adalah bagaimana pemberitaan seputar Persib Bandung menerpa kelompok suporter “Viking”.

1.5 Kerangka Pemikiran

1.5.1 Kerangka Teoritis

Dalam melaksanakan penelitian ini, kiranya penulis menganggap cukup relevan dengan menggunakan teori Uses and Gratification,.

Dalam buku Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Onong Uchjana Effendy mengemukakan bahwa :

Pendekatan Uses and Gratification menempatkan manusia sebagai khalayak yang bersifat aktif dalam menghadapi terpaan pesan melalui media. Pesan yang diterima oleh khalayak, diolah sesuai bidang pengalaman yang dimiliki masing-masing khalayak dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Pendekatan ini pertama kali dikemukakan oleh Elihu Katz pada tahun 1959 melalui hasil penelitian yang menunjukan bahwa orang yang berbeda dapat menggunakan pesan komunikasi massa yang sama untuk kegunaan yang berbeda-beda. (Effendy, 1993 : 289).

Istilah Uses and gratification timbul dari sikap aktif khalayak dalam menggunakan media dari pemenuhan kebutuhan khalayak melalui penggunaan media tersebut. Model Uses and Gratification menunjukan bahwa, yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap prilaku khalayak, tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak.

Jadi bobotnya ialah khalayak yang aktif, yang sengaja menggunakan media untuk mencapai tujuan khusus. Asumsi Uses and Gratification yang diungkapkan oleh, Tan yaitu :

1. Penggunaan media pada akhirnya untuk mencapai suatu tujuan. Kita menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya spesifik, kebutuhan ini berkembang dalam lingkungan social kita.

2. Khalayak memilih jenis dan isi media untuk memenuhi isi kebutuhan. Jadi khalayak terlibat dalam satu proses komunikasi massa dan mereka dapat mempengaruhi media untuk kebutuhan-kebutuhan mereka secara lebih cepat dibandingkan dengan media yang dapat menguasai mereka.

3. Disamping media massa sebagai sumber informasi maka ada pula berbagai sumber lain yang dapat memuaskan kebutuhan khalayak. Oleh karena itu media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain. Dari sekian banyak sumber yang bukan media yang dapat memuaskan kebutuhan antara lain misalnya keluarga, teman-teman, komunikasi antar pribadi (dengan media, tanpa media), mengisi waktu luang bahkan minum obat tidur.

4. Khalayak mengetahui kebutuhan tersebut dan dapat memenuhi jika dikehendaki, juga mengetahui alasan-alasannya untuk menggunakan media massa. (Liliweri, 1991 : 134)

Dalam model ini khalayak bersifat aktif dalam menghadapi terpaan pesan, karena pesan yang diterima oleh khalayak diolah sesuai bidang yang dimiliki masing-masing khalayak dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Jadi pesan-pesan yang terdapat di media massa surat kabar harus dapat menarik perhatian khalayak dengan memperhatikan antara lain daya tarik pesan yang disampaikan dalam arti kata pemberitaan seputar Persib Bandung disusun secara mantap baik dalam unsur grafis, kualitas berita, isi berita dan frekuensi penyajian berita, agar pemberitaan tersebut dapat menarik perhatian khalayak baik dalam sikap dan persepsi khalayak tentang pemberitaan seputar Persib Bandung.

Adapun Sikap adalah kecenderungan berpikir, berpersepsi, berpikir, dan mau dalam menghadapi ide, situasi atau nilai (Soemirat dan Ardianto, 2002 : 116), sedangkan Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan, persepsi memberikan makna pada stimuli inderawi (Sensory Stimuli). Faktor yang sangat mempengaruhi persepsi adalah perhatian. Perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah, (Kenneth E. Andersen 1972:46).

1.5.2 Kerangka Konseptual

Dalam memenuhi kebutuhan akan informasi, orang akan terdorong untuk mencari informasi yang dapat menambah wawasan tentang Persib Bandung, untuk itu dia memerlukan stimuli yang dapat memuaskan kebutuhannya yang dalam hal ini adalah pemberitaan seputar Persib bandung sebagai salah satu berita yang dapat memberikan informasi tentang Persib Bandung.

Berdasarkan apa yang menjadi bahan penelitian penulis, maka berdasarkan pendekatan Uses and Gratification yang mengatakan bahwa pendekatan Uses and Gratification menempatkan manusia sebagai khalayak yang bersifat aktif dalam menghadapi terpaan pesan melalui media. Dalam hal ini yang menjadi khalayak yaitu pembaca Harian Umum Galamedia Bandung kelompok suporter Persib Bandung “Viking”, kemudian pesan adalah pemberitaan Persib, serta media yang dimaksudkan disini adalah Harian Umum Galamedia Bandung. Karena pemberitaan Persib yang ada pada Harian Umum Galamedia disajikan secara kontinyu, maka konsep dari penelitian ini adalah bagaimana penyajian berita Persib yang terdapat pada surat kabar tersebut.

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel utama adalah “Pemberitaan seputar Persib Bandung” di H.U Galamedia Bandung

1.6 Operasional Variabel

Penelitian ini terdiri dari satu variabel yang terdiri dari beberapa indikator variabel.

File Selengkapnya.....

Baca Selengkapnya...

Tanggapan Humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Pada Isi Berita Tentang Perusahaannya Dari Media Cetak Di Bandung

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komunikasi merupakan salah satu proses sosial yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan manusia, mendasar karena setiap orang dalam kehidupanya selalu berkeinginan untuk mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai aturan sosial melalui komunikasi. Komunikasi berlangsung untuk menjalin hubungan antar individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.

Ketika kegiataan komunikasi dilakukan dengan publiknya yang bertujuaan untuk memberikan informasi, media adalah sarana yang sangat dibutuhkan sekali agar pencapaian komunikasi dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan oleh perusahaan. Media yang digunakan bisa berupa media cetak atau bahkan media elektronik dalam menujang kegiataan komunikasinya, tetapi perusahaanpun harus mampu menentukan media mana yang bisa digunakan untuk menunjangnya. “secara efisien dan efektif, adakalanya penggunaan media massa pers, radio, televisi, tidak sesuai apalagi jika khalayak tersebut hanya terdiri dari kelompok kecil saja“ (Jefkins,1995:127).

Media lahir sebagai suatu sarana untuk menjembatani suatu pesan ketika kebutuhan akan informasi dirasakan semakin meningkat dan tidak lagi dapat diatasi dengan komunikasi antar personal. Informasi harus sampai pada khalayak secara cepat dan menyebar seluas-luasnya, hal ini yang melahirkan konsep media massa yang memiliki ciri-ciri komunikatornya terlembaga, bersifat satu arah, pesannya bersifat umum, menimbulkan kesepakatan dari komunikan heterogen. Sejak kebutuhan itu lahir mediapun hadir dengan berbagai jenis atas media massa elektronik dan media massa cetak.

Media cetak menampilkan berita-berita sesuai dengan tujuan penerbitnya sehingga memiliki khalayak pada pembaca sendiri. Surat kabar merupakan salah satu dari bentuk media massa cetak. Saat ini banyak surat kabar yang memiliki segmentasi khalayak tertentu dan diproduksi untuk tujuan komersil ataupun dibagikan secara cuma-cuma biasanya merupakan media internal pada suatu organisasi.

Kini terdapat kecenderungan bahwa perusahaan terutama pada perusahan-perusahan besar dan jumlah karyawan yang besar pula menyelenggarakan komunikasi internal melalui media penerbitan internal perusahaan. Kecenderungan ini didorong oleh semakin maraknya kajian mengenai pentingnya komunikasi di dalam organisasi, untuk menunjang pencapaiaan misi dan sasaran organisasi atau perusahaan bersangkutan. Aspek komunikasi internal dianggap membantu manajemen dalam proses pencapaiaan tujuan organisasi, anggota organisasi disampaikan melalui prosedur yang telah dibakukan dengan efektif dan lebih cepat dibandingkan dengan penyampaian informasi bermedia komunikasi antar personal.

Dengan demikian pentingnya penggunaan media internal dalam sebuah organisasi diharapkan mampu menjembatani komunikasi antar karyawan dengan atasan dan antar karyawan sendiri secara keseluruhan serta mampu merupakan media pemersatu seluruh karyawan. Media internal yang lajim dipergunakan untuk membantu proses ini biasanya berupa, guntingan berita atau kliping, majalah, bulletin, news latter dan lain-lain.

Media internal merupakan sebuah medium yang diharapkan mampu memberikan informasi kepada khalayaknya yaitu karyawan, guntingan berita merupakan sebuah media internal yang menjembatani saluran komunikasi dan informasi internal maupun eksternal PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten. Seperti halnya media internal pada organisasi-organisasi lain, guntingan berita berisikan berbagi informasi yang berhubungan dengan perusahaan, mulai dari berbagai peristiwa yang berhubungan dengan perusahan maupun kepegawaian sampai perkembangan terbaru di lingkungan internal perusahaan juga eksternal perusahaan yang dapat mempengaruhi perusahaan.

Isi dari guntingan berita diambil dari berbagi macam media cetak yang ada di Bandung atupun di Jawa Barat kegiataan seperti Pikiran Rakyat, Kompas, Suara Karya, Pos Kota, Fajar Banten, Galamedia, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Bisnis Indonesia, Metro, Rakyat Merdeka, Media Indonesia, Republika guntingan berita dilakukan oleh bagian humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten khususnya humas internal, ini dilakukan setiap hari kerja dengan subjek khusus mengenai berita atau artikel PT. PLN Group, surat pembaca dan wawancara internasional.

Adapun tujuan dari guntingan berita yang erat kaitanya dengan pendokumentasian adalah merupakan sebagai alat bantu, yang memiliki beberapa manfaat:

· Sebagai bahan informasi terkini yang dapat diedarkan kebagian lain yang dianggap mempunyai hubungan atau kepentingan masing-masing

· Sebagai bahan referensi tertentu sebagai alat atau informasi penunjang.

· Sebagai pedoman atau acuan untuk mengantifikasi langkah-langkah suatu kejadian atau event tertentu yang tengah dihadapi atau di masa mendatang. Untuk perbaikan dan pengembangan dari langkah-langkah program di masa-masa mendatang.

· Khusus kliping berperan sebagai sumber informasi dan data untuk memantau kegiatan pihak pesaing (Kompetitor)

· Dapat juga kliping sebagai tolok ukur tentang sejauh mana keberhasilan perstasi dan reputasi yang dicapai, mengenai persepsi, keluhan, dan hingga perolehan citra di mata masyarakatnya.

· Sebagai media komunikasi internal melalui kliping dan sebagainya.

· Kemudian kliping tersebut disimpan sebagai kegiatan dokumentasi perusahaan atau lembaga. (Ruslan, 2002:236)

Seperti pada umumnya fungsi media massa yaitu informatif dan edukatif media internal guntingan berita memuat berbagai macam berita yang ada di dalam, hal ini humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten secara rutin pada setiap penerbitanya selalu didokumentasikan dan dibuat ringkasaan tentang guntingan berita agar humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten setiap saat dapat melihat kembali tentang berita yang ada di media cetak.

Sebagai peristiwa penting yang terjadi di lingkungan PT. PLN di dokumentasikan secara khusus berbentuk buku semenarik mungkin guna mendapat respon positif dari khalayak khusunya karyawan, meskipun demikian berdasarkan praresearch yang dilakukan melalui wawancara singkat dengan beberapa karyawan bagian humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten ada kecenderungan bahwa sebagian dari mereka berpendapat bahwa berita yang disajikan tersebut kebanyakan kurang up to date, dan kadang-kadang kurang lengkap atau kata-kata lain masih kurang memenuhi syarat pemberitaan baik dengan lengkap unsur-unsur berita yaitu 5W+1H : Who, What, Why, When, Where, dan How

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Tanggapan Humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Pada Isi Berita Tentang Perusahaannya Dari Media Cetak Di Bandung ” adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Bagaimana Tanggapan Humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Pada Isi Berita Tentang Perusahaannya Dari Media Cetak Di Bandung ”

1.2 Identifikasi Masalah

1. Apa tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten mengenai pemberitaan tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung ?

2 Apa tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten mengenai penyajian berita tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung ?

3 Apa tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten mengenai pemanfaatan guntingan berita tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung ?

4 Bagaimana Tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten pada isi berita tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung ?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dari penelitian ini ialah melakukan kajian tentang Tanggapan Humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten pada isi berita tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung . Tujuan dari penelitian ini adalah

1. Untuk mengetahui tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten mengenai pemberitaan tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung

2. Untuk mengetahui tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten mengenai penyajian berita tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung

3. Untuk mengetahui tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten mengenai pemanfaatan guntingan berita tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung

4. Untuk mengetahui tanggapan humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten pada isi berita tentang perusahaannya dari media cetak di Bandung

1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1 Secara Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini dapat berguna bagi ilmu komunikasi khususnya humas, selain itu pula dapat menjadi acuan dan dapat memperdalam teori-teori mengenai informasi yang berhubungan dengan studi komunikasi.

1.4.2 Secara Praktis

1. Bagi penulis, penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan pada berita khususnya mengenai pengolahan Informasi.

2. Bagi perusahaan, dapat menjadi masukan yang bermanfaat untuk terus menyempurnakan penggolahan Informasi yang menjadi kebutuhan publik internal pada isi berita.

1.5 Kerangka Pemikiran

Penelitian ini mengacu pada model teori Weick mengenai pengorganisasian yang dikemukakan oleh Dedi Mulyana dalam bukunya komunikasi organisasi.

Teori Weick ini tertanam dalam teori sistem tetapi itu hanya suatu aspek teoritis dalam model tersebut secara keseluruhan. Kreps (1986) menerangkan model ini berdasarkan teori “evolusioner sosiokultural”, teori informasi dan teori sistem, walaupun teori ini mewakili suatu teori sistem, pelaku model tersebut amat berbeda karena proses-proses insani lebih diutamakan. Tujuan dari teori ini adalah menggambarkan aspek-aspek subjektif teori Weick ini membahas beberapa implikasi bagi komunikasi organisasi. (Mulyana,2000:78)

Rumusan Weick menyatakan bahwa struktur ditandai oleh prilaku pengorganisasian. Komunikasi tidak mencerminkan proses-proses penting tetapi komunikasinya merupakan proses penting yaitu proses penghasil struktur.

Manusia terlibat dalam suatu proses berkesinambungan antara interaksi dan pertukaran dengan konteks mereka baik itu yang menerima, menafsirkan dan bertindak berdasarkan informasi yang di terima, dan dengan demikian menciptakan suatu pola yang baru. Informasi yang mempengaruhi perubahan-perubahan dalam bidang tersebut secara keseluruhan, hubungan antara individu dan konteks secara konseptual berubah sebagai hasil pertukaran ini

Di dalam istilah informasi tersirat adanya konsep arus pesan (informasi) yang mengalir dari satu orang atau pihak (sumber) kepada orang atau pihak lain dan sebaliknya baik berupa arus yang mengalir atau beredar didalam suatu organisasi ataupun diluar organisasi yang bersangkutan.

Gambar 1.1 Teori Weick
clip_image001

(Mulyana, 2000, 79)

Berdasarkan apa yang menjadi penelitian penulis maka berdasarkan teori Weick tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : informasi yang beredar terkadang tidak sesuai dengan apa yang terjadi, informasi yang didapat di dalam berita yang menjadi sumber informasi bagi karyawan, dalam hal ini bagian humas berperan dalam menerima, menafsirkan dan bertindak berdasarkan informasi yang di terima yang ada di dalam perusahaan agar terjadi pola sistem yang baru

Gambar 1.2

Pengaplikasiaan Teori Weick
clip_image002

Manfaat informasi dari publik eksternal bagi humas adalah

· Humas dapat mengetahui sejauh mana publik external menanggapi kegiataan atau kemajuan perusahaan

· Humas dapat menjaga dan memperbaiki apa bila citra perusahaan melai menurun

· Humas dapat secara cepat menanggulangi serta di ketahui langsung keluhan dari publik eksternal

· Agar adanya saling keterkaitan antara pihak eksternal dan internal

(Panduan ringkas PT. PLN (Persero) DJBB)

Dengan demikian humas dapat mengetahui hal apa saja yang sedang ramai di luar tentang perusahaan, maka dari itu informasi terutama dari publik eksternal merupakan sumber terpenting guna meningkatkan citra perusahaan dan terjadi pola sistem yang baru.

1.6 Metodologi Penelitian

1.6.1 Metode penelitian

Pada penelitian ini penulis mengunakan metode survei deskriptif, menurut Rahmat metode deskriptif yaitu yang bertujuan melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat. (Rakhmat, 2002: 22)

1.6.2 Teknik Pengumpulan data

Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut :

- Angket adalah daftar pertanyaan yang telah disusun secara tertulis dan dibagikan kepada responden. responden dalam penelitiannya ini adalah humas

- Wawancara adalah mengumpulkan pertanyaan langsung kepada Informan atau seorang ahli yang berwenang dalam suatu masalah (Keraf, 1994: 161)

Untuk mengumpulkan data penulis malakukan wawancara dengan petugas bagian guntingan Berita yang berwenang di kantor PT. PLN (Persero) DJBB

- Studi Kepustakaan adalah memanfaatkan buku, modul penyelenggaraan Guntingan Berita PT. PLN (Persero) DJBB, Out Book PT. PLN (Persero) DJBB dan sumber bacaan lain untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan penelitian sehingga data-data yang tercantum dalam penulisan lebih bersifat akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

1.6.3 Operasional Variabel

Variabel Penelitian adalah “ Tanggapan Humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten pada isi berita tentang perusahaannya”

Indikator I : Pemberitaan PT. PLN (Persero) DJBB pada media

massa di Bandung

Alat Ukur - Frekuensi

Alat Ukur - Keterkaitan isu kelistrikan yang berkembang

Alat Ukur - Kesenjangan antara informasi yang disampaikan

dengan yang di muat

Indikator II : Penyajian berita

Alat Ukur - Kelengkapan 5 W + 1 H

Alat Ukur - Bahasa yang digunakan

Alat Ukur - Pengunaan istilah jurnalistik yang digunakan

Indikator III : Pemanfaatan guntingan berita

Alat Ukur - Tingkat kepentingan

Alat Ukur - Sebagai alat informasi

Alat Ukur - Pengambilan keputusan

1.6.4 Populasi dan Sampel

1.6.4.1 Populasi

Populasi adalah “ keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya akan di duga (Singarimbun dan Efendi, 1989: 108) “ Populasi adalah kumpulan objek penelitin dapat berupa orang, organisasi, lembaga, buku, kata-kata, surat kabar, dll ” (Rakhmat, 2002: 78)

Populasi yang diteliti dalam penelitian ini adalah karyawan humas PT. PLN (Persero) DJBB

1.6.4.2 Sampel

Menurut Sudjana sampel adalah yang diambil dari populasi. Namun jika populasi berukuran terhingga, tetapi banyak anggota, untuk keperluan praktis populasi itu sering dianggap populasi berukuran takterhingga. Dengan demikian sampling juga dianggap sampling dari populasi takterhingga.

Untuk memudahkan penyebaran angket atau penentuan sampel diambil sebanyak 12 responden bagian Humas. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik total sampling, metode ini digunakan karena sesuai dengan karakterristik populasinya, adapun jumlah sampel untuk penelitian ini adalah 12 orang, berita yang dijadikan bahan penelitian pada periode Februari sampai Juli 2005.

Tabel 1.1

Personil Humas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat

dan Banten

NO


NAMA


PENDIDIKAN TERAKHIR


TUGAS &TANGGUNGJAWAB

1


Endro Yulianto


S-1 Hukum


Deputy manager komunikasi

2


Adang Djarkasih


S-1 Teknik


External PRO

3


G. Wisnu Yulianto


S-1 Komunikasi


External &Internal PRO

4


Henny Utari


S-1 Ekonomi


Internal PRO

5


Pinpin AR


S-1 Ekonomi


Internal PRO & PKBL

6


Agus Budianto


S-1 Fisip


Internal PRO

7


Syarifudin


SMU


Internal PRO

8


Gunadi Somantri


D-3


Perpustakaan

9


Adang Somantri


D-3


Staf PKBL

10


M. Iqbal


SMU


Internal PRO

11


Selvie nurna. S


SMU


Outsorching

12


Devie Yuniawati


D-3


Outsorching

Catatan :

PKBL :Program Kemitraan dan bina lingkungan

PRO : Public relation office

1.6.5 Teknik Analisa Data

Data yang telah dikumpulkan selanjutnya diperikasa (editing) guna memastikan kesempurnaan dari setiap instrumen pengolahan data. Setelah data diperiksa, kemudia data tersebut di beri kode (coding) pada setiap data yang telah terkumpul disetiap instrumen, dan diolah untuk melihat hasilnya, kemudian data tersebut di analisa dan diberi penjelasan dihubungkan dengan teori-teori yang relevan.

1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian

1.7.1 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah

PT.PLN (Persero) Unit Bisnis Distribusi Jawa Barat dan Banten,

JL Cikapundung Barat No 2 Bandung.

Tlp. 022-4230747 Fax. 022-4230822

Homepage : http//www.pln-jabar.co.id.

E-mail : sekertariat@pln-jabar.co.id.

1.7.2 Waktu Penelitian

Awal penelitian dimulai bulan Februari 2005 hingga bulan juli 2005.

Tabel 1.2

Waktu kegiatan penelitian

No


Uraian


Feb


Mar


Apr


Mei


Juni


Juli

I


II


III


I


II


III


IV


I


II


III


IV


I


II


III


IV


I


II


III


IV


I


II


III


IV


1


Persiapan



Pengajuan judul



Acc judul



Bertemu pembimbing



Penulisan Bab I



Bimbingan



Penulisan Bab II



Bimbingan



Penulisan Bab III


2


Pengumpulan Data

Perusahaan



Penyebaran Kuesioner



Bimbingan


3


Pengolahan Data



Penulisan Bab IV



Bimbingan


4


Penulisan Bab V



Bimbingan


5


Penyusunan skripsi



Bimbingan


1.8 Sistematika Penulisan

Untuk penelitian di bagi menjadi lima bab yaitu :

1. Bab I PENDAHULUAN

Bab ini berisikan latar belakang penelitian, identifikasi masalah, maksud dan tujuan, kegunaan penelitian, kerangka pemikiran, metodologi penelitian, lokasi dan waktu penelitian, sistematika penulisan.

2. Bab II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini memuat teori yang akan dijalankan landasan teoritis dalam penulisan Skripsi, pada bab ini akan membahas mengenai pengertian komunikasi yang didalamnya terdapat sifat-sifat komunikasi, proses komunikasi, fungsi komunikasi, pengertian public relations yang di dalam nya terdapat cirri dan fungsi public relations, tugas dan kewajiban public relations, penyampaian informasi perusahaan sebagai kegiataan internal, pengertian berita mengenai macam-macam berita, kelengkapan berita, nilai berita, dan pengertian informasi yang didalamnya sifat-sifat informasi, jenis-jenis informasi, hambatan dan pengolahan informasi yang ditunjang oleh data.

3. Bab III OBJEK PENELITIAN

Pada bab ini diuraikan mengenai sejarah singkat PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten, jenis perusahaan dan ruang lingkup usaha, struktur organisasi PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten dan job description PT. PLN (Persero) DJBB.

4. Bab IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membahas semua data-data yang telah di peroleh dari responden dan tanggapannya terhadap pengolahan Informasi dalam kegiatan guntingan berita dsb. Kemudian data-data tersebut dibuat dalam table-tabel perhitungan dan selanjutnya dianalisis.

5. Bab V KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini penulis membuat rangkuman dari suatu kesimpulan yang berkenaan dengan masalah yang telah di bahas, serta mencoba untuk memberikan saran-saran yang berhubungan dengan pengolahan informasi berita untuk memahami kebutuhan public eksternal maupun internal pada PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten yang sekiranya dapat dijadikan masukan yang berguna bagi pihak yang membutuhkan

File Selengkapnya.....

Baca Selengkapnya...

STRATEGI MEMENANGKAN PERSAINGAN DALAM PEMASARAN SURAT KABAR HARIAN DI MAKASSAR KASUS FAJAR, TRIBUN TIMUR DAN PEDOMAN RAKYAT

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tertulis dalam sejarah Indonesia bahwa, pada tahun 1999 Indonesia melakukan perubahan besar yaitu masyarakat menuntut kebebasan yang disebut reformasi, masa ini masyarakat menuntut transparansi dari pemerintah. Pers dalam hal ini ikut mengambil bagian terpenting dan menguntungkan, karena semua warga negera Indonesia berhak untuk mendirikan perusahaan pers.

Hal ini membuat bisnis dibidang pers mengalami persaingan yang sangat ketat karena itu industri pers dituntut untuk mengemas produk informasinya lebih canggih lagi mengingat bisnis informasi sudah menjadi trend diawal millenium III.

Dalam bidang informasi, menguasai pangsa pasar dan masuk dalam persaingan ketat antara perusahaan menjadi bagian terpenting dan tidak bisa dielakkan karena masyarakat penikmat informasi menjadikan berita sebagai kebutuhan sehar-hari yang tidak bisa diabaikan keberadakannya. Oleh karena itu, kehadiran media informasi baik milik pemerintah maupun swasta sangat menunjang pengadakan informasi dan itu sangat diperlukan. Informasi itu bisa melalui media cetak maupun elektronik.

Dalam persaingan media massa, selain media cetak sendiri, media elektronikpun (radio dan Televisi) dan media internet walaupun hanya satu persen bangsa Indonesia yang terkait ke internet, juga melakukan persaingan namun tidak separah dengan persaingan media cetak, karena kita mengenal lokalisasi media yang menjadi ancaman langsung bagi media nasional seperti surat kabar daerah, majalah daerah.

Karena itu, saat ini bisnis surat kabar pada saat ini merupakan bisnis yang menggiurkan bagi pengusaha-pengusaha pers, selama masyarakat Indonesia masih terikat dalam media konvensional, namun hal ini perusahaan pers perlu manajemen yang baik untuk mencapai tujuan perusahaan dalam persaingan persuratkabaran dewasa ini.

Dalam hal ini perusahaan pers yang berusaha menciptakan produk, guna memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Karena demikian besar dan ketatnya persaingan yang mendominasi dunia usaha dewasa ini, dimana perusahaan berlomba menguasai pangsa pasar.

Namun dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup suatu perusahaan, seringkali perusahaan tersebut dihadapkan pada berbagai kesulitan, misalnya kesulitan merebut pangsa pasar yang lebih luas sebagai akibat dari persaingan antara perusahaan untuk mengatasi keadakan tersebut diatas.

Memperhatikan kepuasan kepada konsumen dan masyarakat merupakan tujuan utama suatu perusahaan yang menganut konsep pemasaran yang mengajarkan bahwa rumusan strategi pamasaran sebagai suatu rencana yang diutamakan untuk mencapai tujuan tersebut, harus berdasarkan kebutuhan dan keinginan konsumen.

Konsumen perusahaan bukanlah merupakan tindakan khusus, tetapi lebih merupakan pernyatakan yang menunjukkan usaha-usaha pokok diarahkan untuk mencapai tujuan. Strategi pemasaran itu sendiri terdiri dari unsur-unsur pemasaran terpadu yaitu product, price, place, dan promotion (komunikasi pemasaran) yang selalu berubah-ubah sejalan dengan aktivitas perusahaan dan perubahan lingkungan pemasarannya serta perubahan prilaku konsumennya.

Dengan adanya perusahaan dalam masyarakat, pola beli yang berubah-ubah telah mengakibatkan banyaknya perusahaan hidup dalam situasi yang tidak menentu sehingga para pengusaha dituntut untuk mendalami pengetahuan tentang strategi bersaing yang mana merupakan salah satu aspek yang dapat memperlancar tujuan perusahaan yang ingin dicapai.

Beberapa perusahaan pers di Makassar yang telah melayani segmen pembaca surat kabar kini mengalami panetrasi pasar dan produk bersaing dalam era globalisasi informasi ini.

Persaingan terdapat dari suatu industri yang mengejar pasar sasaran yang sama. Strategi bersaing meliputi penentuan posisi dalam suatu untuk memaksimalkan nilai kemampuan yang membedakannya dengan para pesaing, karena aspek yang sangat penting dalam perumusan strategi bersaing adalah analisis pesaing, yang mana sasarannya adalah pengembangan profit, sifat dan sukses dari akibat kemungkinan perubahan strategi yang dapat dilakukan oleh tiap-tiap pesaing.

Di Makassar ada tiga perusahaan surat kabar yaitu harian Fajar Tribun Timur dan Pedoman Rakyat yang dianggap mempunyai persaingan dalam pemasaran. Mereka dituntut bagaimana dapat mempertahankan perkembangan pemasarannya
B. Permasalahan

Strategi apa yang diterapkan oleh surat kabar harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dalam memenangkan persaingan dalam pemasaran.

Pertanyakan Penelitian :

1. Apakah strategi pemasaran yang dilakukan oleh surat kabar harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dapat meningkatkan oplah penjualan ?

2. Apakah bauran pemasaran yang digunakan oleh surat kabar harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat berbeda dalam mempertahankan pangsa pasarnya?
C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah dapat dikemukakan sebagai berikut :

Untuk mengkaji strategi pemasaran yang digunakan oleh Harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dalam memenangkan strategi persaingannya.

Untuk mengkaji bauran pemasaran yang dilakukan oleh Harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dalam mempertahankan pangsa pasarnya.
D. Kegunakan Penelitian

Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan yang bermanfaat bagi studi pemasaran yang akhir-akhir ini makin banyak memperoleh kajian dari berbagai disiplin ilmu baik melalui kajian teoritis maupun melalui kajian riset dibidang terapan.

Manfaat Praktis

Secara paraktis penelitian ini diharapkan dapat merefleksikan efektifitas penggunakan strategi dalam memenangkan persaingan pemasaran, dan tidak kalah pentingnya bahwa penelitian ini dapat memperkaya hasil penelitian pada ilmu komunikasi (komunikasi bisnis) khususnya dan pada strategi pemasaran pada tiga surat kabar di Makassar yaitu Harian Fajar, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat dalam kegiatan pemasarannya untuk meningkatkan dan mempertahankan pembacanya.

File Selengkapnya.....

Baca Selengkapnya...

PESAN KOMUNIKASI POLITIK ABDURRAHMAN WAHID (GUS DUR) DALAM GERAKAN DEMOKRASI DI INDONESIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KALANGAN NAHDLIYIN DI SAMARINDA

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Memasuki tiga dasawarsa terakhir dipenghujung abad ke-20, ada satu fenomena menarik di tengah-tengah masyarakat dunia, khususnya bangsa Indonesia, yaitu menguatnya tuntutan akan demokratisasi. Menguatnya tuntutan ini lantaran demokrasi dipandang sebagai sistem yang mampu mengantar masyarakat ke arah transformasi sosial politik yang lebih ideal. Demokrasi dinilai lebih mampu mengangkat harkat manusia, lebih rasional, dan realitis, untuk mencegah munculnya suatu kekuasaan yang dominan, represif, dan otoriter.

Demokrasi dapat dimengerti sebagai suatu sistem politik di mana semua warga negara memiliki hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilu yang diadakan secara periodik dan bebas, yang secara efektif menawarkan peluang pada masyarakat untuk mengganti elit yang memerintah. Menurut Sundaussen dalam Murod (1999:59), demokrasi juga bisa dipahami sebagai suatu “policy” di mana semua warga menikmati kebebasan untuk berbicara, kebebasan berserikat, mempunyai hak yang sama di depan hukum, dan kebebasan untuk menjalankan agama yang dipeluknya. Meskipun begitu, Sundaussen meyakini bahwa tidak semua manifestasi-manifestasi tentang demokrasi di atas pernah dijalankan sepenuhnya, bahkan dalam suatu sistem yang demokratis sekalipun.

Setelah orde baru tumbang dan Indonesia secara dramatis sudah melangkah ke tahap institusionalisasi demokrasi, sebetulnya perubahan-perubahan penting telah banyak terjadi. Minimal dari segi pranata, legal dan institusional. Kita sudah melaksanakan pemilu legislatif dan pemilihan presiden secara langsung, kemudian banyak ritual-ritual demokrasi dimana partisipasi rakyat itu bisa diinstitusionalisasi berlangsung secara berkala dan reguler. Partai dibebaskan untuk berdiri, Indonesia mengalami periode dimana liberalisasi politik berpuncak pada multi partai yang luar biasa besar. Kondisi ini dapat dikatakan sebagai point of no return. Sejauh kita bertekad untuk meneruskan mekanisme politik seperti ini secara legal dan konstitusional.

Undang-Undang Dasar 1945 sudah menjamin proses itu berlangsung terus. Beberapa perubahan penting yang cukup mendasar, salah satunya adalah desentralisasi. Sekarang dalam tahap menuju desentralisasi demokrasi. Memang kita akui mengandung banyak sekali kelemahan, banyak pertikaian yang tidak perlu, dan banyak sekali benturan kepentingan yang sengit agar desentralisasi betul-betul bermakna desentralisasi demokrasi maupun desentraliasi kekuasaan. Suasana ini sudah berlangsung sebagai basis bagi kehidupan berkala kita selama lima tahun proses sirkulasi kekuasaan. Hanya saja, siapa yang memanfaatkan situasi ini, memanfaatkan institusi ini, memanfaatkan mekanisme dan prosedur yang sudah demokratis seperti ini. Kita tahu bahwa yang berhasil memanfaatkan secara maksimal ternyata adalah aktor-aktor politik. Hal ini bisa dilihat pada semangat elit politik mendirikan partai politik guna meraih kekuasaan.

Jadi yang kita pahami menyangkut gerakan demokrasi di Indonesia adalah berbasis aktor. Penulis mengasumsikan itu sebagai upaya berbagai kelompok aktor di kalangan masyarakat Indonesia, dan itu bisa berbagai variasi, yang berusaha memperkuat institusi-insitusi demokrasi pada tingkat yang lebih jauh, yaitu politik demokratisasi. Termasuk juga bagaimana demokrasi harus diberi konteks sosial kultural.

Diantara aktor politik yang turut berperan dalam gerakan demokrasi di Indonesia adalah KH. Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Sebagai mantan presiden RI keempat hasil koalisi poros tengah dan mantan ketua Umum NU selama tiga periode, Gus Dur sangat dikenal sebagai tokoh yang “nyeleneh”, vokal, dan kontroversi. Sebagai contoh kasus pencabutan SIUPP Monitor tahun 1990, di saat mayoritas umat Islam mengecam angket yang dibuat Tabloit Monitor, Gus Dur justru sebaliknya mengecam tindakan tersebut. Kecaman Gus Dur ini bukan semata-mata membela Monitor, namun sikap umat Islam dalam pandangannya sudah kelewat batas. Dalam pengertian, sikap umat Islam justru sudah mengarah pada sikap anti-demokrasi, misalnya meminta pencabutan terhadap Harian kompas dan Gramedia Group. Gus Dur menyatakan tidak setuju menyelesaikan masalah hanya dengan pencabutan SIUPP saja tanpa mengedepankan perkara ke pengadilan.

Gayanya yang seperti “pemain ketoprak” ini oleh Abdurraman Wahid sudah dirajut semenjak dia mulai berkecipung dalam discourse pemikiran pada awal 1970-an. Hanya saja lantaran setiap lontaran pemikirannya dipandang tidak lazim untuk zamannya, penuh kontroversi, dan selalu membuat orang “terkejut”, tidak heran bila ada atau bahkan banyak yang menganggap Gus Dur sebagai cendekiawan Muslim penuh kontroversi, dan aneh. Predikat ini secara konsisten dipertahankannya hingga sekarang (Murod, 1999: 86).

Predikat ini tampaknya cukup tepat, bila mengamati sikap dan pemikiran politik Abdurrahman Wahid, sejak kemunculannya sebagai seorang scientist sampai kemudian menjadi seorang aktor politik (political player) yang cukup mumpuni, atau sebagai politisi paling ulung di era 1990-an, menurut Salim Said dalam Murod (1999:86). Dalam berbagai sepak terjangnya, Abdurrahman Wahid nyaris selalu berseberangan dengan mainstream sebagian cendekiawan Islam.

Secara faktual asumsi ini tak bisa dibantah, hanya saja menurut Al-Zastrouw (1994:2), bila dikaji secara lebih jauh apa yang dilakukan Abdurrahman Wahid sebenarnya hal yang wajar dan biasa terjadi dalam proses kehidupan. Jika dikatakan aneh dan kontroversi itu lantaran keberaniannya untuk berbeda dan keluar dari kelaziman. Ini diperkuat Emha Ainun Nadjib yang menyebut Abdurrahman Wahid sebagai “orang gila” dalam sejarah. “Orang gila” yang dimaksud Emha Ainun Najib adalah orang yang menggagas apa yang tidak digagas orang lain, memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain, dan membayangkan apa yang tidak dibayangkan orang lain (1993:12).

Sementara Hakim (dalam murod,1993:87), menyarankan bahwa untuk memahami Abdurrahman Wahid, ada tiga kunci yag harus diperhatikan, liberalisme, demokrasi, dan universalisme. Bila kita memahami dalam bingkai tiga kata kunci ini, apapun pemikiran atau langkah Gus Dur akan bisa dimaklumi. Artinya, bukan Abdurrahman Wahid yang mendahului jamannya, tetapi terkadang tidak sedikit orang yang terlalu konservatif, a-priori, picik, dan sempit pandangan dalam mengekspresikan sepak terjang Abdurrahman Wahid.

Sebelumnya, Abdurrahman Wahid juga pernah melontarkan berbagai gagasan yang terbilang aneh, seperti mengganti assalamu’alaikum menjadi “selamat pagi, sore atau malam”, menjadi juri Festifal Film Indonesia (FFI), membuka Malam Puisi Jesus Kristus di gereja, menolak bergabung dengan ICMI, di kala sebagian besar umat Islam mendambakan kehadirannya, termasuk juga keterlibatannya sebagai ketua di Forum Demokrasi (Fordem), serta kunjungannya ke negara Zionis, Israel.

Bukan hanya itu, dalam konteks pergulatan politik di tingkat elit, Abdurrahman Wahid juga terbilang kontroversi dan vokal. Karenanya tidak mengherankan kalau kemudian ia sering terhalang oleh berbagai rintangan. Akhir 1998-an sampai dengan pertengahan 2004 merupakan masa penuh tantangan bagi Abdurrahman Wahid dalam konstelasi politik nasional.

Dalam rangka membangun demokrasi di Indonesia, Abdurrahman Wahid bersama tiga tokoh nasional lainnya, M. Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X, mengadakan pertemuan politik di Ciganjur hingga melahirkan deklerasi Ciganjur (10/11/1998), disamping merupakan peristiwa ‘langka’, memiliki makna signifikan bagi gerakan demokrasi di Indonesia.

Menurut Alfian (2001:36), setidaknya ada tiga makna signifikan atas pertemuan Ciganjur. Pertama, ia bermakna mendalam bagi kemajuan pendidikan politik secara luas. Ini terlihat dari delapan butir kesepakatan, yang menekankan orientasi persatuan dan kesatuan bangsa secara utuh, pengembalian kedaulatan rakyat, desentralisasi pemerintahan, perspektif reformasi untuk generasi baru, pemilu yang independen, penghapusan dwifungsi ABRI, pengusutan harta kekayaan Soeharto, dan pembubaran pengamanan swakarsa SI MPR.

Kedua, ia bermakna signifikan bagi perkembangan konstruktif Indonesia masa depan, tatkala kini kebekuan (kultur) politik terjadi. Munculnya kekuatan-kekuatan politik baru, yang mewujud dalam banyaknya partai politik baru, merupakan fenomena yang perlu dijawab dengan sikap-sikap kedewasaan dalam pergaulan politik nasional.

Ketiga, ia mengawali sebuah ‘tradisi baru’ bagi upaya membangun demokrasi dan masyarakat madani di Indonesia. Tradisi ini menyiratkan pentingnya duduk bersama untuk merundingkan masalah-masalah bersama, dalam konteks reformasi dan kebangsaan.

Deklerasi Ciganjur merupakan starting point bagi elit politik untuk meneruskan gerakan demokrasi di Indonesia pasca kejatuhan orde baru, peristiwa ini juga merupakan jempatan bagi Abdurrahman Wahid menjadi presiden RI ke-empat.

Peristiwa yang cukup spectacular dalam kehidupan politik Gus Dur juga nampak ketika ia membacakan dekrit presiden dengan maksud membubarkan parlemen DPR dan MPR, ia menganggap tindakan dewan sudah melampaui batas dan keluar dari koridor demokrasi, namun tindakan ini jadi bumerang bagi Gus Dur yang berakibat harus turun dari jabatannya sebagai presiden.

Sikap Gus Dur bertendensi politis lainnya yang masih aktual adalah ketika ia memilih Golput (golongan putih) dalam pemilihan presiden secara langsung 2004. Gus Dur melakukan hal itu sebagai protesnya atas kecurangan, pemihakan, manipulasi yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menurutnya melanggar sejumlah undang-undang Pemilu.

Sekalipun atas nama pribadi, sikap golput KH. Abdurrahman Wahid tersebut diduga berdampak pada peran serta masyarakat dalam pemilihan presiden secara langsug, hal ini dapat dilihat pada rekapitulasi KPU dari 155.048.803 pemilih terdaftar, lebih dari 36 juta di antaranya tidak mempergunakan hak pilihnya (golput). Jumlah ini jauh lebih tinggi dari perolehan suara pasangan Megawati Soekarnoputri dan KH. A. Hasyim Muzadi yang berada di urutan kedua dengan 31,5 juta suara (26,6 %). Perilaku golput ini meningkat pada pelaksanaan pilpres II menjadi 44 juta lebih besar dari perolehan suara pasangan Mega-Hasyim yang tetap diurutan kedua dengan 43,2 juta suara (39,1 %).

Pilihan golput masyarakat terjadi di semua kota di Indonesia, seperti juga di Samarinda tempat penelitian ini dilakukan, Sebanyak 32,52 persen atau 683.635 pemilih yang terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT) tidak menggunakan hak suaranya alias golput dalam Pilpres putaran kedua 20 September 2004. Angka ini meningkat dibandingkan dengan Pilpres putaran pertama yang mencapai 29,95 persen atau 607.483 pemilih dari jumlah pemilih terdaftar sebanyak 2.028.160 orang.

Sebagai seorang tokoh NU dan telah menjadi ketua umum selama tiga periode, manuver politik Gus Dur tak lepas dari perjalanan NU. Melalui partai politik PKB yang berbasis massa warga nahdliyin. Agaknya Gus Dur hendak mengangkat derajat politik di kalangan NU. Hal ini setidaknya, terbaca dalam dua hal. Pertama, Gus Dur sengaja memunculkan namanya dengan legitimasi pimpinan NU yang memiliki banyak pengikut sebagai repsentasi kelompok informal-luar sistem.

Kedua, Gus Dur berhasil memantapkan dirinya sebagai poros politik dominan ditubuh NU walaupun ditubuh NU terbelah dalam beberapa partai politik, bahkan lebih dari itu Gus Dur telah menjadi tokoh nasional dan internasional (Alfian, 2001:35)

Melihat banyaknya aktivitas Gus Dur yang mengandung pesan politik dalam gerakan demokrasi di Indonesia dan diduga turut mempengaruhi perilaku politik rakyat Indonesia khususnya warga NU menjadi sangat menarik untuk diteliti lebih mendalam.
Rumusan Masalah

Bagaimana pesan komunikasi politik Gus Dur dalam Gerakan Demokrasi Di Indonesia pada kalangan Nadliyin di Samarinda ?

Bagaimana perilaku Kalangan Nahdliyin dalam Menerima Pesan Gus Dur?

Bagaiman pengaruh pesan komunikasi politik Gus Dur di kalangan nahdliyin Samarinda ?
Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini sesuai dengan permasalahan yang diangkat, yaitu untuk:

Untuk menganalisis bentuk pesan komunikasi politik Gus Dur dalam Gerakan Demokrasi Di Indonesia pada kalangan Nadliyin di Samarinda.

Untuk menganalisis perilaku Kalangan Nahdliyin dalam menerima Pesan politik Gus Dur.

Untuk menganalisis pengaruh pesan komunikasi politik Gus Dur di kalangan Nahdliyin Samarinda.

Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu komunikasi, baik secara teoritis maupun praktis.

Diharapkan dapat memberi sumbangan bagi upaya perkembangan ilmu pengetahuan, khusunya Ilmu Komunikasi dan studi komunikasi politik.

Diharapkan menjadi bahan rujukan bagi peneliti yang berminat pada kajian yang sama dengan permasalahan yang berbeda dengan wacana membangun demokrasi Indonesia yang akan datang.

Diharapkan dapat memberi masukan yang bermanfaat dalam mengambil keputusan atau langkah-langkah bagi yang berkepentingan dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing.

File Selengkapnya.....

Baca Selengkapnya...

PERSEPSI TARGET AUDIENCE TERHADAP BRAND IMAGE DALAM IKLAN YANG MENGGUNAKAN CELEBRITY ENDORSER

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang Permasalahan

Keberadaan selebriti atau orang – orang terkenal memberi dampak dalam berbagai segi kehidupan manusia, dari waktu ke waktu. Popularitas selebriti memang tak dapat dipungkiri menjadi suatu fenomena tersendiri karena menjadi salah satu fokus publisitas di berbagai media cetak dan media elektronik, dan bahkan kehidupan pribadinya sangat ditunggu para insan pers sebagai headline berita.

Saat ini dalam berbagai iklan khususnya untuk produk baru, penggunaan selebriti sebagai salah satu strategi pemasaran, sangat efektif untuk membentuk stopping power bagi audience. Kehadiran selebriti dimaksudkan untuk mengkomunikasikan suatu merk produk dan membentuk identitas serta menentukan citra produk yang diiklankan. Pemakaian selebriti sebagai daya tarik iklan (advertising appeals), dinilai dapat mempengaruhi preferensi konsumen karena selebriti dapat menjadi reference group yang mempengaruhi prilaku konsumen.

Bagi produk baru, penggunaan endorser atau pembicara merupakan upaya pengiklan untuk meraih publisitas dan perhatian (attention getting power) produk tersebut. Meskipun mereka adalah aktor, selebriti, eksekutif, atau kepribadian yang diciptakan, endorser terbaik adalah mereka yang bisa membangun brand image yang kuat. Sebuah riset mengatakan bahwa selebriti yang cocok akan menaikkan nilai perhatian dan persuasi[1].

Keberhasilan upaya membangun brand image ini sangat ditentukan oleh persepsi konsumen terhadap selebriti yang menjadi icon produk tersebut. Dengan dipersepsikannya seorang celebrity endorser secara positif oleh masyarakat, diharapkan positif pula brand image yang terbentuk di benak konsumen. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan munculnya brand image dalam pikiran konsumen yang tidak relevan dengan persepsinya terhadap celebrity endorser. Dengan kata lain, tidak selamanya seorang celebrity endorser dalam iklan dapat membangun brand image yang relevan dalam benak konsumen, seperti yang diinginkan pengiklan.

Life's Good (LG) telah meluncurkan ponsel terbaru yang bisa mengakses seluruh fasilitas 3G yang baru saja diluncurkan oleh salah satu operator selular terbesar di Indonesia yaitu Telkomsel dan diikuti oleh XL. Kehadiran ponsel LG tipe terbaru yakni KG 300 ini, dipasarkan di lego Rp 1.600.000,00. Produk ini akan melengkapi ponsel berfasilitas 3G, setelah Nokia, Sony Ericsson, dan Motorola. Produk yang diluncurkan sekitar bulan Januari - Februari ini memungkinkan para penggemar 3G memiliki banyak pilihan untuk menggunakan ponsel sesuai fasilitas yang disediakan. Apalagi saat ini penggemar dari 3G kian besar di beberapa kota besar di Indonesia, sementara ketersediaan ponsel masih terbatas karena belum semuanya ponsel bisa mengkover fasilitas 3G. Dengan demikian peluncuran ponsel LG KG 300 ini diharapkan dapat direspon besar oleh pasar ponsel di Indonesia.

Dalam penelitian ini, peneliti memilih iklan ponsel LG KG 300 yang menggunakan Agnes Monica sebagai celebrity endorser. Dalam iklan tersebut Agnes Monica menjelaskan semua fitur yang ada dalam ponsel tersebut, dan bagaimana ponsel itu memberikan kenyamanan dalam keseharian Agnes.

Iklan ponsel LG KG 300 digunakan sebagai studi kasus dengan alasan utama yaitu produk ini merupakan produk baru. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, produk baru memerlukan publisitas dan perhatian untuk membangun image-nya. LG sendiri termasuk brand yang pangsa pasarnya berada di bawah brand-brand ponsel lain, seperti Nokia, Sony Ericsson, Motorola, dan Samsung. Posisi ponsel LG yang demikian inilah yang mendorong pengiklan menggunakan seorang endorser yang tingkat awarenessnya tinggi di mata publik. Ini menjadi alasan peneliti memilih ponsel LG KG 300 sebagai objek penelitian.

Sebagai selebriti, Agnes Monica memiliki tingkat popularitas tinggi di mata publik. Hal ini terlihat dari penggunaan Agnes dalam banyak iklan dan dianggap sebagai the next diva dalam dunia tarik suara. Agnes Monica merupakan ikon remaja yang terkenal memiliki image kuat dimata masyarakat. Dengan image Agnes yang demikian, maka ponsel LG menggunakan Agnes sebagai endoser dengan harapan image kuat Agnes juga mampu menguatkan image ponsel LG sebagai produk baru di pasar.

1. 2. Permasalahan

Sebagai reference group, atau sebagai inspirator, selebriti pada umumnya dapat mempengaruhi sikap, perilaku bahkan gaya berpakaian para penggemarnya. Apalagi, tak sedikit penggemar yang ingin mengikuti karakteristik idolanya, dan hal inilah yang dimanfaatkan oleh para pengiklan dalam memasarkan produknya.

Adanya perbedaan persepsi tiap-tiap individu akan seorang selebriti sebagai icon dalam iklan, dapat membentuk brand image yang berbeda pula pada tiap individu. Persepsi ini dapat mendukung, atau dapat juga menjatuhkan brand image. Dengan demikian dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

"Bagaimana image seorang celebrity endorser dapat membangun image positif produk ponsel LG KG 300 yang merupakan produk baru?"

1. 3. Tujuan Penelitian

Dilatarbelakangi permasalahan tersebut, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui persepsi target audience terhadap celebrity endorser dalam iklan sebuah produk baru. Peneliti juga akan melihat brand image yang muncul setelah target audience melihat iklan tersebut. Kemudian brand image yang dipersepsikan target audience akan dibandingkan dengan persepsi terhadap celebrity endorser. Akan dilihat kecocokan kedua persepsi tersebut.

Dengan demikian tujuan penelitian adalah untuk mengetahui relevansi atau kecocokan antara persepsi target audience terhadap celebrity endorser dengan persepsi target audience terhadap brand image produk baru.

1. 4. Signifikansi Praktis

Memberikan kontribusi positif bagi praktisi periklanan untuk mengetahui sejauh mana persepsi khalayak terhadap celebrity endorser dapat mempengaruhi brand image suatu produk. Penelitian ini juga bermanfaat untuk membantu para praktisi periklanan dalam hal penentuan celebrity endorser yang memiliki karakteristik yang tepat sesuai dengan persepsi konsumen yang ingin bangun.

Khusus bagi bidang marketing, penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan strategi komunikasi pemasaran, khusunya yang melibatkan selebriti dalam program-program pemasarannya. Penelitian ini juga bermanfaat bagi bidang kreatif sebagai masukan untuk perumusan pesan iklan atau ide kreatif yang menggunakan celebrity endorser.

[1] Kenneth Roman, Jane Maas, Martin Nisenholtz, How To Advertise, 114.

File Selengkapnya.....

Baca Selengkapnya...

Pengaruh Komunikasi Interpersonal Antar Pegawai Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesamanya. Dalam kehidupannya manusia sering dipertemukan satu sama lainnya dalam suatu wadah baik formal maupun informal.

Organisasi adalah sebuah sistem sosial yang kompleksitasnya jelas terlihat melalui jenis, peringkat, bentuk dan jumlah interaksi yang berlaku. Proses dalam organisasi adalah salah satu faktor penentu dalam mencapai organisasi yang efektif. Salah satu proses yang akan selalu terjadi dalam organisasi apapun adalah proses komunikasi. Melalui organisasi terjadi pertukaran informasi, gagasan, dan pengalaman. Mengingat perannya yang penting dalam menunjang kelancaran berorganisasi, maka perhatian yang cukup perlu dicurahkan untuk mengelola komunikasi dalam organisasi. Proses komunikasi yang begitu dinamik dapat menimbulkan berbagai masalah yang mempengaruhi pencapaian sebuah organisasi terutama dengan timbulnya salah faham dan konflik

Komunikasi memelihara motivasi dengan memberikan penjelasan kepada para pegawai tentang apa yang harus dilakukan, seberapa baik mereka mengerjakannya dan apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja jika sedang berada di bawah standar.

Aktivitas komunikasi di perkantoran senantiasa disertai dengan tujuan yang ingin dicapai. sesama dalam kelompok dan masyarakat. Budaya komunikasi dalam konteks komunikasi organisasi harus dilihat dari berbagai sisi. Sisi pertama adalah komunikasi antara atasan kepada bawahan. Sisi kedua antara pegawai yang satu dengan pegawai yang lain. Sisi ketiga adalah antara pegawai kepada atasan. Masing-masing komunikasi tersebut mempunyai polanya masing-masing.

Di antara kedua belah pihak harus ada two-way-communications atau komunikasi dua arah atau komunikasi timbal balik, untuk itu diperlukan adanya kerja sama yang diharapkan untuk mencapai cita-cita, baik cita-cita pribadi, maupun kelompok, untuk mencapai tujuan suatu organisasi.

Komunikasi merupakan sarana untuk mengadakan koordinasi antara berbagai subsistem dalam perkantoran. Menurut Kohler ada dua model komunikasi dalam rangka meningkatkan kinerja dan mencapai tujuan perkantoran ini. Pertama, komunikasi koordinatif, yaitu proses komunikasi yang berfungsi untuk menyatukan bagian-bagian (subsistem) perkantoran. Kedua, komunikasi interaktif, ialah proses pertukaran informasi yang berjalan secara berkesinambungan, pertukaran pendapat dan sikap yang dipakai sebagai dasar penyesuaian di antara sub-sub sistem dalam perkantoran, maupun antara perkantoran dengan mitra kerja. Frekuensi dan intensitas komunikasi yang dilakukan juga turut mempengaruhi hasil dari suatu proses komunikasi tersebut.

Dalam hal komunikasi yang terjadi antar pegawai, kompetensi komunikasi yang baik akan mampu memperoleh dan mengembangkan tugas yang diembannya, sehingga tingkat kinerja suatu organisasi (perkantoran) menjadi semakin baik. Dan sebaliknya, apabila terjadi komunikasi yang buruk akibat tidak terjalinnya hubungan yang baik, sikap yang otoriter atau acuh, perbedaan pendapat atau konflik yang berkepanjangan, dan sebagainya, dapat berdampak pada hasil kerja yang tidak maksimal.

Peningkatan kinerja pegawai secara perorangan akan mendorong kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan dan memberikan feed back yang tepat terhadap perubahan perilaku, yang direkflesikan dalam kenaikan produktifitas.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang merupakan salah satu organisasi formal di lingkungan aparatur pemerintah yang memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembangunan khususnya kota Palembang. Program-program kerja yang dirancang bertujuan untuk menmpromosikan dan melindungi bidang kepariwisataan yang merupakan aset negara yang sangat penting sehingga sangat diharapkan kinerja yang optimal yang dapat diwujudkan melalui peranan komunikasi yang efektif supaya dapat memenuhi peran dan fungsinya sebagai aparat pemerintah yang mengabdikan dirinya pada bangsa dan negara ini.

Melihat pengaruh yang sangat penting antara proses komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi khususnya komunikasi interpersonal antar pegawai dengan tingkat kinerja pegawai maka penulis tertarik mengambil judul “Pengaruh Komunikasi Interpersonal Antar Pegawai Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang.”

1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan berikut :

1. Masih kurangnya komunikasi interpersonal yang terjadi antar pegawai.
2. Masih banyak ditemukan kendala atau hambatan-hambatan dalam melakukan komunikasi interpersonal.
3. Kurang optimalnya kinerja pegawai akibat buruknya proses komunikasi interpersonal yang terjadi.

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “Bagaimana pengaruh komunikasi interpersonal terhadap kinerja pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang ?”.

1.3 Pembatasan Masalah

1. Penelitian dibatasi pada permasalahan komunikasi interpersonal yang terjadi pada pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang.

2. Hanya terbatas pada pegawai di lingkungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang.

1.4 Maksud dan Tujuan Penelitian

Adapun maksud dan tujuan dilakukannya penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui proses komunikasi interpersonal antar pegawai.

2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang terjadi selama proses komunikasi interpersonal.

3. Untuk mengetahui tingkat kinerja pegawai akibat pengaruh proses komunikasi interpersonal.

1.5 Kegunaan Penelitian

1. Sebagai masukan atau sumbangan pemikiran dan sumber informasi bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Palembang dalam hal peningkatan kinerja pegawai.

2. Dapat menjadi bahan bagi peneliti selanjutnya mengenai komunikasi interpersonal dalam sebuah organisasi.

3. Sebagai salah satu syarat guna meraih gelar Sarjana Negara Strata Satu (S1) Jurusan Ilmu Komunikasi Stisipol Candradimuka Palembang.

1.6 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, komunikasi mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap kinerja pegawai. Menurut defenisi Carl I. Hovland “Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikan)”.

Salah satu jenis komunikasi yang sangat penting adalah komunikasi interpersonal atau komunikasi yang terjadi secara tatap muka antara beberapa pribadi yang memungkinkan respon verbal maupun nonverbal berlangsung secara langsung. Dalam operasionalnya, komunikasi berlangsung secara timbal balik dan menghasilkan feed back secara langsung dalam menanggapi suatu pesan. Komunikasi yang dilakukan dengan dua arah dan feed back secara langsung akan sangat memungkinkan untuk terjadinya komunikasi yang efektif. Hal ini sesuai dengan pendapat Onong U. Effendy yang mengatakan bahwa, “Efektifitas komunikasi antar pribadi itu ialah karena adanya arus balik langsung”.

Di dalam suatu organisasi khususnya perkantoran, proses komunikasi adalah proses yang pasti dan selalu terjadi. Komunikasi adalah sarana untuk mengadakan koordinasi antara berbagai subsistem dalam perkantoran. Perkantoran yang berfungsi baik, ditandai oleh adanya kerjasama secara sinergis dan harmonis dari berbagai komponen. Suatu perkantoran dikonstruksi dan dipelihara dengan komunikasi. Artinya, ketika proses komunikasi antar komponen tersebut dapat diselenggarakan secara harmonis, maka perkantoran tersebut semakin kokoh dan kinerja perkantoran akan meningkat.

Peningkatan kinerja pegawai secara perorangan akan mendorong kinerja sumber daya manusia secara keseluruhan dan memberikan feed back yang tepat terhadap perubahan perilaku, yang direkflesikan dalam kenaikan produktifitas. Jadi dapat dikatakan bahwa keberhasilan suatu organisasi sangat didukung dari tingkat kinerja pegawai yang sangat dipengaruhi oleh proses komunikasi yang terjadi antar pegawai.

1.7 Hipotesis

Berdasarkan dari kerangka teori penelitian maka dapat ditarik suatu hipotesis sebagai suatu kesimpulan sementara yaitu sebagai berikut : “Terdapat pengaruh yang positif antara proses komunikasi interpersonal antar pegawai terhadap kinerja pegawai.”

File Selengkapnya.....

Baca Selengkapnya...

Teman DiskusiSkripsi.com


 

Free Affiliasi Program