KONSEP KECERDASAN EMOSI DANIEL GOLEMAN DAN RELEVANSINYA DENGAN KESEHATAN MENTAL ZAKIAH DARADJAT


BAB I

PENDAHULUAN

Penegasan Judul

Dalam penelitian ini penulis memberi judul “KONSEP KECERDASAN EMOSI DANIEL GOLEMAN DAN RELEVANSINYA DENGAN KESEHATAN MENTAL ZAKIAH DARADJAT”

Untuk menghindari kesalahan dan demi terarahnya pembahasan, maka penulis merasa perlu untuk menegaskan istilah-istilah pokok yang terdapat dalam judul tersebut. Adapun judul yang perlu dijelaskan adalah:

Konsep

Diambil dari kata “concept” (Inggris) yang mempunyai arti konsep, bagan dan pengertian.[1] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pengertian, pendapat, rancangan, cita-cita yang telah dipikirkan.[2] Konsep yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gambaran ide, pengertian, pendapat, maupun gagasan Daniel Goleman tentang kecerdasan emosi dan pendapat Zakiah Daradjat tentang kesehatan mental.

Kecerdasan Emosi”

Istilah ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995[3] dan untuk pertama kalinya dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Petersolovey dari Horvard University dan Jhon Mayer dari University of Newhampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan hidup manusia, antara lain empati, mengungkapkan, memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan mengendalikan diri.[4] Jadi, kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk merasakan, memahami, mengarahkan emosi, sehingga dapat dimenej secara proposional ketika berhadapan dengan tantangan hidup, musibah, dan perlawanan orang lain.

Relevansi

Relevansi berarti hubungan, kaitan.[5] Dan yang dimaksud relevansi dalam studi ini yaitu keterkaitan konsep kecerdasan emosi Daniel Goleman dengan kesehatan mental Zakiah Daradjat.

Kesehatan Mental

Yaitu kesehatan berasal dari kata “sehat” yang berarti dalam keadaan fisik yang baik, bebas dari sakit.[6] Dalam Undang-Undang RI bahwa sehat adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan, mental, sosial bukan hanya dari penyakit cacat dan kelemahan.[7] Mental (dari kata Latin mens, mentis) artinya jiwa, roh, nyawa, dan semangat.[8] “Mental” adalah kepribadian yang merupakan kebulatan yang dinamik dari seseorang yang tercermin dalam cita-cita, sikap, dan kepribadian.[9] Jadi, kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan, kemampuan dan fungsi jiwanya yang berupa fikiran, perasaan, sikap, pandangan, dan keyakinan hidup.[10]

Latar Belakang Masalah

Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dengan pesatnya, bukan hanya di bidang teknologi, informasi, kedokteran, pertanian, akan tetapi juga di bidang psikologi, yaitu tentang konsep kecerdasan manusia.

Konsep kecerdasan manusia, jika dilihat dari sejarah perkembangannya pada mulanya lahir akibat adanya berbagai tes mental yang dilakukan oleh berbagai psikolog untuk menilai manusia ke dalam berbagai tingkat kecerdasan. Diistilahkan atau lebih dikenal dengan kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient). Tes IQ adalah cara yang digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang . Jadi menurut teori ini, semakin tinggi IQ seseorang maka semakin tinggi pula kecerdasannya.[11]

Seiring dengan perkembangannya, tes inteligensi yang muncul pada awal abad ke-20 yang dipelopori oleh Alferd Binet (1980),[12] ternyata tes inteligensi memiliki kekurangan atau kelemahan. Kekurangan itulah yang melatarbelakangi munculnya teori baru dan sebagai alat untuk menyerang teori tersebut. Teori baru ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman yang dikenal dengan istilah Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence). Menurut Daniel Goleman, EQ sama ampuhnya dengan IQ, dan bahkan lebih.[13] Terlebih dengan adanya hasil riset terbaru yang menyatakan bahwa kecerdasan kognitif (IQ) bukanlah ukuran kecerdasan (Intelligence) yang sebenarnya, ternyata emosilah parameter yang paling menentukan dalam kehidupan manusia. Menurut Daniel Goleman (IQ) hanya mengembangkan 20 % terhadap kemungkinan kesuksesan hidup, sementara 80 % lainnya diisi oleh kekuatan-kekuatan lain.[14] Ungkapan Goleman ini seolah menjadi jawaban bagi situasi ‘aneh’ yang sering terjadi di tengah masyarakat, di mana ada orang-orang yang diketahui ber-IQ tinggi ternyata tidak mampu mencapai prestasi yang lebih baik dari sesama yang ber-IQ lebih rendah.

Kelebihan lain dari kecerdasan emosi ini adalah kenyataan bahwa kecerdasan emosi bukanlah kecerdasan statis yang diperoleh karena ‘warisan’ orang tua seperti IQ. Selama ini telah diketahui bahwa seseorang yang terlahir dengan IQ rendah tidak dapat direkayasa untuk menjadi seorang jenius. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang dilahirkan dari orang tua ber-IQ tinggi kemungkinan besar akan ‘mengikuti jejak’ orang tuanya dengan ber-IQ tinggi juga. Adapun kecerdasan emosi dapat tumbuh dan berkembang seumur hidup dengan belajar. Cerdas tidaknya emosi seseorang tergantung pada proses pembelajaran, pengasahan, dan pelatihan yang dilakukan sepanjang hayat.[15]

Seseorang yang belum memiliki kecerdasan emosi biasanya akan mudah mengalami gangguan kejiwaan, atau paling tidak kurang dapat mengendalikan emosinya, dan mudah larut dalam kesedihan apabila mengalami kegagalan. Apabila muncul perilaku-perilaku negatif yang disebabkan oleh kurangnya kecerdasan emosi, maka tidak mengherankan bila merugikan bagi orang lain yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu, kecerdasan emosi sangat diperlukan bagi setiap orang, karena dengan kecerdasan emosi orang akan memiliki rasa introspeksi yang tinggi, sehingga manusia tidak akan mudah marah, egois, tidak mudah putus asa, dan selalu memiliki rasa lapang dada dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.[16]

Survey telah membuktikan terhadap orang tua dan guru-guru adanya kecenderungan yang sama diseluruh dunia, yaitu generasi sekarang, lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya: lebih kesepian dan pemurung, lebih brangasan dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif dan agresif.[17] Dan dari hasil penelitanya Daniel Goleman menemukan situasi yang disebut dengan when smart is damb, ketika orang cerdas jadi bodoh . Daniel Goleman menemukan bahwa orang Amerika yang memiliki kecerdasan atau IQ diatas 125 umumnya bekerja kepada orang yang memiliki kecerdasan rata-rata 100. artinya, orang yang cerdas umumnya bekerja kepada orang yang lebih bodoh darinya. Jarang sekali orang yang cerdas secara intelektual sukses dalam kehidupan. Melainkan orang-orang yang biasalah yang sukses dalam kehidupanya karena kecerdasan emosinya.

Lantas apakah yang menentukan sukses dalam kehidupan ini? Bukan kecerdasan intelektual akan tetapi kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional diukur dari kemamapuan mengendalikan emosi dan menahan diri. Dalam kesehatan mental kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam menghadapi kesulitan, ketika belajar tekun dapat menyesuaikan diri, dapat mengembangkan potensi, dan berhasil dalam mengatasi berbagai gangguan dan dapat mengendalikan emosinya. Dan faktor-faktor ini pula yang menjadikan manusia sehat mentalnya.

Daniel Goleman menceritakan dalam kisah nyata betapa fatalnya orang yang tidak memiliki kecerdasan emosional. Pada suatu saat ada seorang anak meminta izin kepada orang tuanya untuk menginap dirumah kawanya. Sementara anak itu pergi, orangtuanyapun pergi untuk menonton opera. Taklama dari itu, anak tersebut kembali kerumah karena tidak betah tinggal di rumah temanya. Pada saat itu, orangtuanya masih menonton opera. Anak nakal itu mempunyai rencana, ia ingin membuat kejutan untuk orangtuanya ketika pulang kerumah pada waktu malam. Ia akan diam di teile dan jika orangtuanya datang, ia akan meloncat dari toilet itu sambil berteriak. Beberapa saat kemudian, orangtuanya pulang dari opera menjelang tengah malam. Ketika melihat lampu toilet di rumahnya masih menyala mereka menyangka ada pencuri di rumahnya. Mereka masuk kerumah perlahan-lahan sambil membuka pintu untuk segera mengambil pistol lalu mengendap naik ke atas loteng tempat toilet itu berada. Ketika sampai di atas, tiba-tiba terdengar teriakan dari toilet itu. Ditembaklah orang yang berteriak itu sampai lehernya putus. Dua jam kemudian anak itu meninggal dunia.

Bisa dibayangkan betapa menyesalnya kedua orangtua itu, mereka bertindak terlalu cepat. Mereka mengikuti emosi takut dan kehawatiranya sehingga panca indranya belum sempat menyampaikan informasi yang lengkap tentang orang yang meloncat dan berteriak itu, seharusnya mereka menganalisis dulu mereka lihat siapa orang itu. Kisah diatas menunjukkan akibat kecerdasan emosi yang tidak terlatih atau kategori kecerdasan emosi rendah mereka memperturutkan emosinya dalam bertindak.

Emosi sangat mempengaruhi kehidupan manusia ketika dalam mengambil keputusan, tidak jarang suatu keputusan diambil melalui emosinya. Tidak ada sama sekali keputusan yang diambil manusia murni dari pemikiran rasionalnya. Karena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional. Jika seseorang memperhatikan keputusan-keputusan dalam kehidupan manusia, ternyata keputusannya lebih banyak ditentukan oleh emosi daripada akal sehat. Emosi yang begitu penting itu sudah lama ditinggalkan oleh para peneliti padahal tergantung kepada emosilah bergantung suka, duka, sengsara dan bahagianya manusia. Bukan kepada rasio. Karena itulah Goleman mengusulkan selain memperhatikan kecerdasan otak, manusia juga harus memmperhatikan kecerdasan emosi. [18]

Manusia secara alamiah merindukan kehidupan yang tenang dan sehat baik jasmani maupun rohani. Kesehatan yang bukan menyangkut badan saja, tetapi juga kesehatan mental. Suatu kenyataan menunjukkan bahwa peradaban manusia yang semakin maju berakibat pada semakin kompleksnya gaya hidup manusia. Banyak orang terpukau dengan modernisasi, manusia menyangka dengan modernisasi itu serta merta akan membawa kepada kesejahteraan. Banyak orang yang lupa bahwa di balik modernisasi yang serba gemerlap dan memukau itu ada gejala yang dinamakan ketidaksehatan mental.[19]

Kebahagian manusia tidak tergantung pada fisik melainkan pada faktor pertumbuhan emosinya. Karena emosi sebagai tenaga-tenaga penggerak dalam hidup, yang menyebabkan manusia berkembang maju, dan mundur ke belakang..[20] Tidak seorang pun yang tidak menginginkan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya, setiap orang akan berusaha mencarinya, meskipun tidak semua dapat mencapai yang diinginkannya itu. Bermacam sebab dan rintangan yang mungkin terjadi, sehingga banyak orang yang mengalami kegelisahan, kecemasan, ketidakpuasan dan emosi yang berlebih-lebihan.

Dapat dikatakan, semakin maju orang atau masyarakat, semakin banyak pula komplikasi hidup yang dialaminya. Persaingan, perlombaan, dan pertentangan akibat kebutuhan dan keinginan yang harus tetap dipenuhi menjadikan orang sulit untuk memperoleh mental yang sehat.

Sesungguhnya kesehatan mental, ketentraman jiwa, atau kecerdasan emosi tidak banyak tergantung oleh faktor-faktor luar seperti keadaan sosial, ekonomi, politik, akan tetapi lebih tergantung pada cara dan sikap dalam menghadapi faktor-faktor tersebut. Adapun yang menentukan ketenangan dan kebahagiaan hidup di antaranya adalah kesehatan mental dan kecerdasan emosi, yaitu cara seseorang menanggapi suatu persoalan dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri. Kesehatan mental dan kecerdasan emosi pula yang menentukan orang mempunyai kegairahan hidup atau bersikap pasif.

Orang yang sehat mentalnya tidak akan lekas merasa putus asa, pesimis, dan apatis karena dia dapat menghadapi semua rintangan atau kegagalan dalam hidup dengan tenang dan wajar, serta menerima kegagalan itu sebagai suatu pelajaran yang akan membawa sukses nantinya.[21] Begitu pula yang diungkapkan Daniel Goleman bahwa kerugian pribadi akibat rendahnya kecerdasan emosional dapat berkisar mulai dari kesulitan perkawinan, pendidikan anak, buruknya kesehatan jasmani, hambatan perkembangan intelektual, hingga ketidaksuksesan karir.[22]

Karena adanya fenomena diatas, dan kehidupan masyarakat di sekitar, bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari konflik-konflik maupun problem-problem yang tidak jarang manusia mengalami ketegangan-ketegangan, pesimis, frustasi, dan stres.

Dalam keadaan demikian, sebagaian orang lantas menyelesaikannya dengan cara emosional, dan sering kali sembrono, serampangan, lantah dan menyimpulkan atau melontarkan pernyataan yang sebenarnya belum final pengkajiannya pada waktu sedang emosi. Ini semua dilakukan karena belum adanya kecerdasan emosi, dan menjadikan mental tidak sehat. Padahal dari generasi ke generasi manusia semakin cerdas akan tetapi ketrampilan emosional dan sosialnya merosot tajam. Hal ini pula yang melemahkan kecerdasan emosi. Akibatnya, muncul patologi sosial yang ada dalam berbagai bentuk penyakit kejiwaan. Seperti krisis kepercayaan, ketidakjujuran, kebosanan, malasuai, dan kejenuhan hidup sehingga munculnya penyakit-penyakit kejiwaan yang berdampak negatif pula pada tata kehidupan pribadi dan sosial yang mengakibatkan ketidaksehatan mental atau tidak adanya kesehatan mental.

Pada persoalan ini, maka sangat krusial konsep Daniel Goleman diangkat sebagai solusi karena pada dasarnya konsep-konsep Daniel Goleman mencoba melihat aspek afeksi manusia khususnya pada perasaan atau emosi manusia. Dan konsep-konsep yang ditawarkan Daniel Goleman akan mengantarkan manusia untuk memperoleh mental yang sehat (kesehatan mental) karena perasaan dapat mempengaruhi kesehatan mental, jadi perasaan yang ditempatkan pada tempatnya akan memperoleh mental yang sehat. konsep Zakiahpun merupakan konsep yang cocok diterapkan pada zaman sekarangsss ini

Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang yag telah diungkapkan di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana konsep kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman?

2. Bagaimana konsep kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat?

3. Bagaimana relevansi kecerdasan emosi Daniel Goleman dengan kesehatan mental Zakiah Daradjat?

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Berangkat dari rumusan masalah, maka penulis mengharapkan adanya tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan skripsi ini. Adapun tujuan yang hendak dicapai adalah:

Untuk mendeskripsikan konsep kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman.

Untuk mendeskripsikan konsep kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat.

Untuk mengetahui relevansi kecerdasan emosi Daniel Goleman dengan kesehatan mental Zakiah Daradjat.

Adapun kegunaan penelitian ini adalah:

1. Secara teoritik penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan, wawasan, serta kepustakaan, terutama yang berhubungan dengan kesehatan mental dan kecerdasan emosi.

2. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dan masukan bagi masyarakat pada umumnya dalam memahami kecerdasan emosi Daniel Goleman dan kesehatan mental Zakiah Daradjat.

3. Menawarkan dan memberikan langkah alternatif dalam proses pembentukan pribadi yang cerdas emosi dan sehat mentalnya.

Telaah Pustaka

Telaah pustaka sangat berguna dan merupakan bagian integral dalam sebuah penelitian ilmiah, dalam skripsi ini digunakan buku-buku yang membahas persoalan Daniel Goleman tentang kecerdasan emosi. Paradigma kecerdasan yang berkembang sampai saat ini sungguh sangat kompleks, mulai dari Intelligence Quotient (IQ), Emotional Intelligence (EQ), Adversity Quotiens (AQ), Emotional Spiritual Quotient (ESQ), sampai pada Transendental Intelligence (TQ) yang dikatakan sebagai puncak kecerdasan manusia. Adapun penulis hanya memusatkan atau terfokus pada temuan baru Daniel Goleman yaitu kecerdasan emosi. Begitupula dengan kesehatan mental, ternyata banyak sekali buku-buku Zakiah Daradjat yang membahas tentang persoalan kesehatan mental baik secara langsung maupun tidak langsung

Pembahasan tentang kecerdasan emosi ini telah diteliti oleh beberapa peneliti antara lain, dalam skripsi Kurniawati yang berjudul Unsur-Unsur Kecerdasan Emosi Daniel Goleman dalam perspektif Alqur’an.[23]

Dalam buku “Kecerdasan Emosional” diterangkan bahwa pandangan manusia tentang kecerdasan manusia itu terlalu sempit, mengabaikan serangkaian penting kemampuan yang sangat besar pengaruhnya dalam menentukan keberhasilan manusia dalam kehidupan. Dengan memanfaatkan penelitian yang menggemparkan tentang otak dan perilaku, Goleman memperlihatkan faktor-faktor yang terkait mengapa orang yang ber-IQ tinggi gagal dan mengapa orang yang ber-IQ sedang saja sukses. Faktor-faktor ini mengacu pada satu cara lain untuk menjadi cerdas, yaitu suatu cara yang disebutnya kecerdasan emosional. Ini merupakan ciri-ciri yang menandai orang yang menonjol dalam kehidupan nyata.[24]

Dalam buku “ Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi” Goleman mendapatkan gambaran mengenai ketrampilan yang dimiliki oleh para kinerja di segala bidang dari pekerja tingkat bawah sampai posisi eksekutif. Satu-satunya faktor yang paling penting bukanya IQ, pendidikan tinggi, atau ketrampilan teknis melainkan kecerdasan emosi. Dan Daniel memberikan petunjuk yang spesifik dan ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan ini dengan menjelaskan unsur-unsur kecerdasan emosi.[25]

Steven J. Stein dan Howard dalam buku “Ledakan EQ” menyebutkan bahwa kecerdasan emosi dapat meningkatkan kinerja penjualan perusahaan-perusahaan terkemuka di dunia dan menghadirkan bukti ekstensif hubungan kecerdasan emosi dengan kesuksesan dan mengungkapkan hasil penelitian terhadap 42.000 responden di 36 negara. Menurut Howard kecerdasan emosi merupakan serangkaian kecakapan yang memungkinkan manusia melapangkan jalan di dunia yang rumit, aspek pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat yang penuh misteri dan kepekaan yang penting.[26]

Jeanne Segal dalam buku “Melejitkan Kepekaan Emosional” menjelaskan bahwa emosi dan akal adalah dua bagian dari satu keseluruhan. EQ mengingatkan pada ukuran standar kecerdasan otak dan wilayah EQ adalah hubungan pribadi dan antar pribadi, bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial, dan kemampuan adaptasi sosial. Bila EQ seseorang tinggi mereka mampu memahami berbagai perasaan secara mendalam manakala perasaan-perasan muncul dan benar-benar dapat mengenali diri sendiri.[27]

Zakiah Daradjat dalam buku “Kesehatan Mental” menjelaskan arti kesehatan mental. Menurutnya, yang menentukan ketenangan dan kebahagiaan hidup adalah kesehatan mental, dan kesehatan mental pula yang menentukan tanggapan seseorang terhadap persoalan dan kemampuannya dalam menyesuaikan diri. Orang yang sehat mentalnya tidak akan lekas merasa putus asa, pesimis, atau apatis, karena orang tersebut dapat menerima rintangan atau kegagalan dalam hidupnya dengan tenang dan wajar.[28]

Landasan Teori
Tinjauan Mengenai Kecerdasan Emosi

Inteligensi (kecerdasan) berasal dari bahasa latin “intelligere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain.[29]

Kecerdasan (Intelligence) adalah daya reaksi penyesuaian yang cepat dan tepat baik secara fisik atau mental terhadap pengalaman-pengalaman baru, membuat pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siap untuk dipakai apabila dihadapkan pada fakta-fakta atau kondisi baru.[30] Menurut W. Stern, kecerdasan adalah kesanggupan jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan cepat dan tepat. Adapun menurut Alfred Binet, seorang tokoh utama perintis pengukuran intelligence yang hidup antara tahun 1857-1911, mendefinisikan inteligensi sebagai tindakan yang terdiri atas tiga komponen yaitu :

a. Kemampuan untuk mengarahkan fikiran.

b. Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan.

c. Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri.[31]

Sementara itu, menurut Stern Berg intelligence (kecerdasan) adalah kemampuan yang memiliki lima karakeristik umum yaitu kemampuan untuk belajar, mengambil manfaat dari pengalaman, berfikir secara abstrak, beradaptasi, dan memotivasi diri sendiri dalam menyelesaikan masalah secara tepat.[32]

Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa intelligence (kecerdasan) merupakan suatu kemampuan untuk mengarahkan, memahami, dan menyesuaikan jiwa, fikiran, tindakan, serta menyelesaikan masalah yang dihadapi secara tepat. Di antara faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi, antara lain pembawaan, kematangan, pembentukan, minat, dan kebebasan.[33]

Secara etimologis, kata emosi berasal dari bahasa latin e (x) yang berarti keluar dan movere yang berarti bergerak.[34] Menurut Oxford English Dictionary, emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan fikiran, perasaan, nafsu, atau keadaan mental yang hebat. Sebenarnya dalam bidang psikologi, masalah emosi merupakan masalah yang belum terpecahkan, hal ini dapat dilihat dari tidak adanya pernyataan yang jelas tentang definisi emosi itu sendiri. Dan para psikolog telah berusaha memberi pengertian emosi namun pernyataan mereka masih terbentur dengan tidak adanya pemisahan secara jelas antara definisi dari perasaan dan emosi sehingga masih ambiguitas. Menurut M. Alisuf Sabri, batas perbedaan antara emosi dan perasaan terletak pada sifat kontak yang terjadi. Dalam perasaan ditemukan kesediaan kontak dengan situasi (baik positif maupun negatif). Adapun dalam emosi kontak itu seolah-olah menjadi retak atau terputus misalnya pada saat kita sangat terkejut, ketakutan, mengantuk, dan sebagainya.[35]

Untuk lebih memperjelas tujuan pembahasan dalam penulisan ini, penulis ingin mengutip pengertian emosi menurut beberapa ahli. Menurut Ahmad Fauzi, emosi adalah setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna afektif, baik pada tingkat yang lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang kuat (mendalam).[36] Tipe-tipe emosi meliputi kegembiraan, kesedihan, cinta, benci, marah, takut, dan sebagainya. Dan masing-masing dapat dialami dalam taraf yang berbeda-beda sejak dari yang ringan hingga yang ekstrim.[37]

Adapun J. Bruno mendefinisikan emosi dari dua sudut pandang. Pertama secara fisiologis, emosi adalah proses perubahan jasmani karena perasaan yang meluap. Kedua secara psikologis, emosi merupakan reaksi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan.[38]

Sementara Daniel Goleman merumuskan emosi sebagai perasaan dan fikiran-fikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi dapat dikelompokkan pada rasa amarah, kesedihan, takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel, dan malu.[39]

Istilah kecerdasan emosi pertama kali dilontarkan oleh psikolog Petersolovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire pada tahun 1990, dengan menyebutkan kualifikasi-kualifikasi emosi manusia yang meliputi empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, pengendalian amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan dan kesetiakawanan, keramahan, dan sikap hormat.

Istilah ini populer pada tahun 1995 dan dipopulerkan oleh Daniel Goleman, seorang psikolog dari Harvard University dalam karya monumentalnya berjudul Emotional Intelligence. Karyanya ini menjadikan beliau terkenal khususnya di bidang psikologi. Hasil risetnya yang menggemparkan dengan mendefinisikan apa arti cerdas, dan dengan adanya temuan baru tentang otak dan manusia, memperlihatkan mengapa orang yang ber-IQ tinggi justru gagal sementara orang yang ber-IQ sedang menjadi sukses.

Faktor inilah menurut Daniel yang dapat memacu seseorang pada suatu cara lain untuk menjadi cerdas yang disebutnya kecerdasan emosi. Dalam risetnya Daniel Goleman memiliki kurang lebih lima ribu perusahaan yang tersebar di seluruh dunia, Daniel mendapatkan gambaran ketrampilan yang dimiliki para bintang kinerja di segala bidang, yang membuat mereka berbeda dengan yang lainnya. Dari pekerjaan tingkat bawah sampai posisi eksekutif, faktor yang terpenting bukan kecerdasan intelektual, pendidikan tinggi atau ketrampilan teknis, melainkan kecerdasan emosi.[40]

Menurut Robert K. Cooper, kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk merasakan, memahami secara efektif, menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi.[41]

Kecerdasan emosi adalah kemampuan memahami perasaan diri sendiri dan kemampuan memahami perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi yang baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.[42] Kecerdasan emosi dalam perspektif sufi adalah kemampuan untuk tetap mengikuti tuntutan agama, ketika berhadapan dengan musibah, keberuntungan, perlawanan orang lain, tantangan hidup, kelebihan kekayaan, dan juga kemiskinan.[43]

Adapun menurut John Gottman, kecerdasan emosi ini mencakup kemampuan untuk mengendalikan dengan hati, menunda perasaan, memberi motivasi diri, membaca isyarat sosial orang lain, dan menangani naik turunnya kehidupan.[44]

Tinjauan Mengenai Kesehatan Mental

Kesehatan mental mempunyai beberapa pengertian menurut sudut pandang masing-masing orang dan sistem yang digunakan.

Kesehatan berasal dari kata “sehat” yang berarti dalam keadaan fisik yang baik, bebas dari sakit.[45] Adapun “mental” adalah kepribadian yang merupakan kebulatan dinamik dari seseorang yang tercermin dalam cita-cita, sikap, dan perbuatan.[46] Mental adalah semua unsur-unsur jiwa termasuk pikiran, emosi, sikap, dan perasaan yang dalam keseluruhan atau kebulatannya akan menentukan tingkah laku, cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan, mengecewakan, atau yang menggembirakan dan menyenangkan.[47]

Mengenai keanekaragaman konsep kesehatan jiwa (mental), beberapa ahli mengemukakan orientasi umum dan pola-pola wawasan kesehatan jiwa (mental). Dalam penelitian ini akan diuraikan pandangan pakar kesehatan jiwa (mental). Menurut Saparinah Sadli, terdapat tiga orientasi dalam kesehatan jiwa (mental) yang dapat dijadikan ukuran, yaitu:

a. Orientasi klasik, seseorang dikatakan sehat apabila tidak mempunyai keluhan tertentu, seperti ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri, atau perasaan tak berguna, yang semuanya menimbulkan perasaan “sakit” atau “rasa tak sehat” serta mengganggu efisiensi kegiatan sehari-hari. Orientasi klasik ini banyak dianut di dunia kedokteran.

b. Orientasi penyesuaian diri, seseorang dianggap sehat secara psikologis apabila ia mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan orang lain dan lingkungan sekitarnya.

c. Orientasi pengembangan potensi, seseorang dianggap mencapai taraf kesehatan mental, bila seseorang mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga seseorang dapat dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri.[48]

Jadi, kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.

Fungsi-fungsi jiwa seperti fikiran, perasaan, sikap jiwa, pandangan dan keyakinan hidup, harus dapat saling membantu dan bekerja sama satu sama lain, sehingga dapat dikatakan adanya keharmonisan, yang menjauhkan orang dari perasaan ragu dan bimbang, serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan (konflik).

Dengan demikian, perubahan-perubahan tidak akan menyebabkan kegelisahan dan kegoncangan jiwa. Kesehatan yang penulis maksud di sini adalah terwujudnya keserasian antara fungsi kejiwaan serta terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungan yang didasarkan pada keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta diarahkan untuk mencapai kehidupan yang bermakna, bahagia dunia dan akhirat.

Pola wawasan yang berorientasi penyesuaian diri berpandangan bahwa kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri merupakan unsur pertama dari kondisi mental yang sehat. Dalam hal ini, penyesuaian diri diartikan secara luas yakni secara aktif berupaya memenuhi tuntutan lingkungan tanpa kehilangan harga diri, atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadi tanpa melanggar hak-hak orang lain. Penyesuaian diri yang pasif dalam bentuk serba menarik diri atau serba menuruti tuntutan lingkungan adalah penyesuaian diri yang tidak sehat, karena biasanya akan berakhir dengan isolasi diri atau menjadi mudah terbawa situasi yang melingkupinya.

Pola wawasan yang berorientasi pengembangan potensi pribadi. Menurut pandangan ini, kesehatan mental terjadi bila potensi-potensi kreatifitas, rasa humor, rasa tanggung jawab, kecerdasan, kebebasan bersikap dikembangkan secara optimal sehingga mendatangkan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.

Zakiah Daradjat mengatakan bahwa apabila kesehatan mental terganggu dapat menyebabkan orang tidak mampu menggunakan kecerdasannya. Keabnormalan emosi dan tindakan juga dapat disebabkan oleh terganggunya kesehatan mental. Pada keadaan tertentu terganggunya kesehatan mental dapat menyebabkan orang tidak mampu menggunakan kecerdasannya.[49]

Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Setiap penulisan karya ilmiah tidak dapat lepas dari metode, karena metode merupakan cara bertindak dalam upaya, agar kegiatan penelitian dapat terlaksana atau tercapai hasil yang maksimal.[50] Jenis penelitian dalam rangka penulisan skripsi ini adalah penelitian pustaka (library research), yaitu mengambil bahan-bahan penelitian dari beberapa buku atau majalah yang mendukung penelitian ini.[51] Maka, berdasarkan konsep ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan literer, yaitu sumber datanya atau obyek utamanya adalah bahan-bahan pustaka yang ada kaitannya dengan persoalan yang diteliti. Tahap operasional penelitian pustaka ini adalah memilih dan mengkaji karya-karya Daniel Goleman dan Zakiah Daradjat dengan mengfokuskan pada batasan konsep kecerdasan emosi dan kesehatan mental.

Sumber Data

Data-data dalam penelitian ini diperoleh melalui penelusuran karya-karya pemikiran Daniel Goleman yang berkaitan dengan kecerdasan emosi dan Zakiah Daradjat yang berkaitan dengan kesehatan mental.

a. Sumber Data Primer

Yaitu data yang diperoleh langsung dari pihak subyek penelitian sebagai informasi yang dicari, berupa karya Daniel Goleman Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence) dan Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi (Working With Emotional Intelligence), yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Adapun mengenai kesehatan mental digunakan buku-buku karya Zakiah Daradjat yang berjudul Kesehatan Mental, Islam dan Kesehatan Mental, serta Peranan Agama dalam Kesehatan Mental.

b. Sumber Data Sekunder

Yaitu sumber data yang diperoleh dari pihak lain maupun karya-karya lain seperti Steven J. Stein dan Howard E. Book dalam Ledakan EQ,, Ary Ginanjar Agustian dalam Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ), Jeanne Segal dalam Melejitkan Kepekaan Emosional, Usman Najati dalam Belajar EQ dan SQ dari Sunah Nabi, Hasan Langgulung dalam Teori-Teori Kesehatan Mental, Rudy Hariyono dalam Tehnik Mencapai Ketenangan Jiwa, Latipun dalam Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan. Selain itu sumber diambil dari jurnal, seperti Jurnal Dakwah edisi Januari-Juni 2001, dan majalah Ummi edisi spesial tahun 2002 tentang Anak Cerdas Dunia Akhirat.

Analisis data

Setelah data-data yang diperlukan terkumpul, selanjutnya penulis mengelola dan mengklasifikasikan sesuai dengan pokok-pokok bahasan dalam skripsi ini. Untuk menganalisis data yang telah terkumpulkan digunakan metode berfikir induktif yang bersifat deskriptif analisis yaitu memusatkan diri pada masalah-masalah yang ada, kemudian data yang sudah terkumpul disusun, dijelaskan, dan dianalisis.[52]

Dalam hal ini penulis akan berusaha mendeskripsiksn terlebih dahulu pemikiran Daniel tentang kecerdasan emosi dan Zakiah Daradjat mengenai kesehatan mental, kemudian mempelajari berbagai pemikiran atau pandangan Daniel dan Zakiah, khususnya tentang kecerdasan emosi dan kesehatan mental. Dari data yang didapat itu diadakan proses analisis secara kritis, dan dibuat suatu kesimpulan yang bersifat umum yang selaras dengan rumusan masalah.

Sistematika Pembahasan

Untuk lebih memudahkan dalam pembahasan skripsi ini, maka disusunlah sistematika pembahasan sebagai berikut:

Bab pertama adalah pendahuluan,yang terdiri dari: penegasan judul, latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, telaah pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab kedua membahas biografi Daniel Goleman dan Zakiah Daradjat, yang berisi mengenal Daniel Goleman: boografinya, latar belakang pendidikannya, hasilkaryanya. Kemudian mengenal Zakiah daradjat: biografinya, latar belakang pendidikannya, perjalanan kariernya, aktivitas dalam lembaga atau organisasi, tandapenghargaan atau penghormatan,serta karya-karyanya.

Bab ketiga, membahas konsep kecerdasan emosi dalam pandangan Daniel Goleman, yang berisi: pengertian kecerdasan emosi, dan unsur-unsur kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman.

Bab keempat, membahas tentang konsepsi kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat,terdiri dari pengertian kesehatan mental, pengaruh kesehatan mental dalam hidup, ciri-ciri manusia yang sehat mentalnya, syarat-syarat yang diperlukan dalam pembangunan mental, serta relevansi konsep kecerdasan emosi daniel Goleman dengan kesehatn mental Zakiah Daradjat.

Bab kelima merupakan bab terakhir yang memuat tentang kesimpulan, saran dan penutup.


[1] John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1996), hlm. 313

[2] Pusat Pembinaan Bahasa Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm. 520

[3] Steven J. Stein dan Howard E. Book, Ledakan EQ, (Bandung: Kaifa, 2002), hlm. 17

[4] Laurence E. Shapiro, Mengajarkan Emosional Inteligensi pada Anak, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997), hlm. 5

[5] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), hlm. 738

[6] Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Modern English Press, 1991), hlm. 1350

[7] A. Syafi’i Mufid, Dzikir sebagai Pembina Kesehatan Jiwa, (Surabaya: Bina Ilmu, 1984), hlm. 30

[8] Kartini Kartono, Hygiene Mental, (Bandung: Mandar Maju, 2000), hlm. 3

[9] Mushal dkk., Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1979), hlm. 86

[10]Jalaluddin dan Ali Ahmad Zen, Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan, (Surabaya: Putra Al-Ma’arif, 1995), hlm. 98-99

[11] Sukamto, Sejarah Perkembangan Tes Inteligensi Suatu Sarana Pengungkap Psikologis, (Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas Cokroaminoto, 1984), hlm. 15

[12] Saifuddin Azwar, Pengantar Psikologi Inteligensi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1966), hlm. 51

[13] Lihat Sukidi,Kecerdasan Spiritual” Harian Kompas, 15 Desember, 2000

[14] Maurice J. Elias, dkk., Cara-Cara Efektif Mengasuh Anak dengan EQ, (Bandung: Kaifa, 2000), hlm. 11

[15] Majalah Ummi, “Anak Cerdas Dunia Akhirat”, Edisi Spesial No. 4 th 2002, hlm. 19

[16] Casmini, Jurnal Dakwah, “Arti Penting Kecerdasan Emosi dalam Dakwah”, 11 Januari-Juni 2001, hlm. 99

[17] Mailto: Secapramana @Yahoo.Com

[18] Ferysyifa @Netscape.net

[19] Ahmad Mubarok, Solusi Krisis Kerohanian Manusia Modern, (Jakarta: Paramadina, 1999), hlm. 13-14

[20] Jalaluddin Rakhmat, Meraih Cinta Ilahi Pencerahan Sufistik, (Bandung: Rosdakarya, 2001), hlm. 234

[21] Zakiah Daradjat, Kesehatan…, hlm. 16

[22] Daniel Goleman, Emotional Intelligence, terj. T. Hermaya, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991), sampul depan

[23] Kurniawati, skripsi: “Unsur-unsur Kecerdasan Emosi Menurut Daniel Goleman dalam Perspektif Alqur’an”, (Yogyakarta: IAIN Suka, 2000) tidak di terbitkan

[24] Daniel Goleman, Emotional Intellegence, terj. T. Hermaya, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991)

[25] Daniel Goleman, Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi, terj. Alex Tri Kantjono, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001)

[26] Steven J. Stein dan Howard E. Book, Ledakan EQ, (Bandung: Kaifa, 2002)

[27] Jeanne Segal, Melejitkan Kepekaan Emosional, (Bandung: Kaifa, 2001)

[28] Zakiah Daradjat, Kesehatan…, hlm. 90

[29] A. Budiarjo dkk, Kamus Psikologi, (Semarang: Dhara Prize, 1987), hlm. 211

[30] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indnesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm.78

[31] Saifuddin Azwar, Pengantar Psikologi Intelligensi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 6

[32] Rita L. Atkinson dkk., Pengantar Psikologi, (Jakarta: Erlangga, 1996), hlm. 129

[33] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), hlm. 55-56

[34] Al-Atapunang, Manusia dan Emosi (Maumere: Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, 2000), hlm. 47

[35] M. Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum dan Pengembangan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1993), hlm. 74

[36] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), hlm. 59. Warna afektif adalah perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai perbuatan manusia sehari-hari.

[37] Marcolm Hardy, Steveheyes, Pengantar Psikologi, (Jakarta: Erlangga, 1988), hlm. 59

[38] Ahmad Fauzi, Psikologi Umum (Bandung: Pustaka Setia), hlm. 55

[39] Majalah Ummi, “Anak Cerdas Dunia Akhirat”, hlm. 21

[40] Daniel Goleman, Emotional…, sampul belakang.

[41] Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, (Jakarta: Arga, 2002), hlm. 44

[42] Daniel Goleman, Emotional…, hlm. 512

[43] Komarudin Hidayat, Menyinari Relung-Relung Ruhani, (Bandung: Hikmah, 2002), hlm. 173

[44] John Gottman, Jon De Claire, Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1990), hlm. 2

[45] Peter Salim, Kamus...,. hlm. 1350

[46] Mursal, Kamus..., hlm. 86

[47] Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm. 33

[48] Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi Islami, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm. 132

[49] Zakiah Daradjat, Kesehatan...., hlm 14.

[50] Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius 1996), hlm. 10

[51] Ibid, hlm. 65



File Slengkapnya Klik Disini

Teman DiskusiSkripsi.com


 

Free Affiliasi Program