Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu factor yang dilihat
oleh para calon investor untuk memutuskan apakah membeli atau tidak saham
perusahaan tesebut. Perusahaan juga harus senantiasa menjaga dan
meningkatkan kinerja keuangan perusahaannya agar tetap diminati oleh
investor ataupun calon investor. Laporan keuangan perusahaan merupakan
cerminan dari kinerja keuangan suatu perusahaan. Laporan keuangan
merupakan proses dari perhitungan akuntansi yang disusun untuk memberikan
informasi keuangan. Informasi keuangan tersebut yang akan digunakan oleh
pemakai yaitu para investor dan calon investor untuk melakukan keputusan
ekonomi, termasuk keputusan investasi. Selain itu, laporan keuangan dapat
digunakan untuk mengetahui perubahan dari tahun ke tahun, serta dapat
digunakan juga untuk mengetahui perkembangan perusahaan.
Menurut Nurohmah (2003), perusahaan dalam menghasilkan laba
merupakan focus utama yang harus diperhatikan karena dalam penilaian
prestasi perusahaan (menggunakan analisis fundamental). Laba perusahaan
dapat dijadikan indicator dalam memenuhi kewajiban dan juga bisa dijadikan
sebagai penciptaan nilai perusahaan di masa yang akan datang.
Tujuan utama investor (pemodal) menanamkan modalnya pada
sekuritas terutama saham adalah untuk mendapatkan return (tingkat
pengembalian) yang maksimal dengan resiko tertentu atau memperoleh return
tertentu dengan resiko minimal. Return dapat diperoleh dari dua bentuk, yaitu
deviden dan capital gain (kenaikan harga jual saham atas harga belinya),
sehingga investor akan memilih saham perusahaan mana yang akan
memberikan return yang tinggi. Harga pasar saham memberikan ukuran yang
obyektif mengenai nilai investasi sebuah perusahaan. Oleh karena itu harga
saham merupakan harapan investor. Kinerja perusahaan akan menentukan
tinggi rendahnya harga saham di pasar modal.
Terdapat dua jenis analisis yang bisa digunakan untuk menemukan nilai
saham yaitu Analisis Sekuritas Fundamental (Fundamental Security Analysis)
atau Analisis Perusahaan (Company Analysis) dan Analsis Teknis (Tehnical
Analysis).
Analisis Fundamental adalah analisis yang menggunakan data
fundamental, yaitu data yang berasal dari keuangan perusahaan, misalnya :
laba, deviden yang dibayar, penjualan dan lain sebagainya. Sedangkan
Analisis Teknis adalah analisis yang menggunakan data pasar dari saham,
misalnya : harga dan volume transaksi saham. (Jogianto, 2003).
Analisa rasio keuangan merupakan instrumen analisa perusahaan yang
ditujukan untuk menunjukkan perubahan dalam kondisi keuangan perusahaan
yang bersangkutan. Dengan analisa rasio keuangan ini dapat diketahui
kekuatan dan kelemahan perusahaan di bidang keuangan. Perusahaan yang
melakukan penjualan kepada masyarakat bertujuan untuk menambah modal
kerja perusahaan, perluasan usaha dan diversifikasi produk. Untuk menarik
investor, perusahaan harus mampu menunjukkan kinerjanya. Pengukuran
kinerja dapat dilakukan menggunakan rasio keuangan. Investor tertarik
dengan saham yang memiliki return positif dan tinggi karena akan
meningkatkan kesejahteraan investor. Investor sebelum melakukan investasi
pada perusahaan yang terdaftar di BEJ melakukan analisis kinerja perusahaan
antara lain menggunakan rasio keuangan sehingga kinerja keuangan
perusahaan berkaitan dengan return perusahaan (Husnan, 2003 :44).
Menurut penelitian yang dilakukan Dyah Kumala Trisnaeni (2007)
diperoleh bahwa kinerja keuangan yang terdiri dari EPS, DER, ROI, ROE,
dan PER tidak berpengaruh secara serentak terhadap terhadap return saham
Sumilir (2002) melakukan analisis pengaruh EPS, Leverage Ratio, ROI,
dan ROE terhadap return saham. Hasilnya variable independen secara
simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham.
Rachmawati (2004) melakukan penelitian tentang pengaruh kinerja
financial yang diukur dari ROE, DER, EPS, DPS, dan PER terhadap
perubahan harga saham. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersamasama
lima variable tersebut berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
Meskipun telah digunakan secara luas oleh investor sebagai salah satu
dasar dalam pengambilan keputusan investasi karena nilainya tercantum
dalam laporan keuangan, penggunaan analisis rasio keuangan sebagai alat
pengukur akuntansi konvensional memiliki kelemahan utama, yaitu
mengabaikan adanya biaya modal sehingga sulit untuk mengetahui apakah
suatu perusahaan telah berhasil menciptakan suatu nilai atau tidak.
Melihat hal tersebut diatas maka Stewart dan Stren dari Stewart & Co
of New York City, menciptakan konsep baru yaitu Economic Value Added
(EVA). Economic Value Added (EVA) mencoba mengukur nilai tambah
(Value Creation) yang dihasilkan suatu perusahaan dengan cara mengurangi
beban biaya modal (cost of capital) yang timbul sebagai akibat investasi yang
dilakukan. EVA (Economic Value Added) merupakan indikator tentang
adanya penciptaan nilai dari suatu investasi. EVA juga digunakan untuk
mengukur apakah ada nilai tambah bagi pemegang saham atau investor.
Penelitian yang dilakukan Lehn dan Makhija dalam Rohmah (2004),
meneliti keterkaitan antara berbagai pengukur kinerja seperti EVA, ROA,
ROE dengan tingkat pengembalian saham. Hasilnya EVA mempunyai
hubungan yang paling erat dengan tingkat pengembalian saham.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh majalah SWA (2001), sebesar
50,66% perusahaan membukukan laba bersih. Namun, berdasarkan evaluasi
dengan pendekatan EVA, ternyata hanya 20,7% perusahaan yang memperoleh
EVA positif. Ini berarti, sebagian besar perusahaan publik di Indonesia belum
mampu menghasilkan tingkat pengembalian modal yang sepadan untuk
menutup resiko dan biaya investasi yang ditanamkan investor.
Candrawati dan Hartono dalam (Resmi, 2002) melakukan penelitian
dengan EVA dan ROA, manakah diantara kedua variable ini yang mempunyai
korelasi yang paling kuat dengan return saham. Hasil yang didapat
menunjukkan bahwa ROA mempunyai hubungan yang paling kuat dengan
return saham dan signifikan pada taraf uji two-tailed 5%, sedangkan korelasi
antara EVA dan return saham tidak signifikan pada taraf uji two-tailed 5%.
Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan penelitian ini, penulis akan
menganalisis kembali factor yang mempengaruhi return saham yaitu kinerja
keuangan perusahaan. Kinerja keuangan disini menggunakan rasio keuangan
yaitu DER,ROE,ROA,EPS,dan PER. Oleh karena rasio keuangan memiliki
keterbatasan yaitu tidak menggunakan perhitungan biaya modal, maka
economic value added (EVA) juga digunakan untuk melengkapi rasio
keuangan. Jadi pengukuran kinerja keuangan disini menggunakan DER,
ROE, ROA, EPS, PER, dan EVA.
Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui dan menguji secara
empiris mengenai pengaruh kinerja keuangan suatu perusahaan yaitu DER,
ROE, ROA, EPS, PER, dan EVA terhadap return saham.

B. PERUMUSAN MASALAH
Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pengaruh Economic Value Added Dan Profitabilitas Perusahaan Terhadap Return Pemegang Saham

ABSTRAK

Penelitian ini menganalisis pengaruh pengukuran kinerja dengan metode tradisional dan metode EVA terhadap Return Saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Sampel yang digunakan adalah perusahaan manufaktur yang aktif di perdagangan Bursa Efek Jakarta dari tahun 2001-2003 dan selalu membagikan deviden selama periode pengamatan. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan menggunakan program SPSS 11.
Penelitian ini menggunakan variabel dependen Return Saham, sedangkan variabel independennya adalah Economic Value Added (EVA), Return on Assets (ROA), dan Return on Equity (ROE).
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rasio profitabilitas dan EVA tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Hal ini kemungkinan karena beberapa faktor, yaitu, para pelaku pasar kurang memperhatikan aspek fundamental untuk melakukan keputusan investasi di Bursa Efek Jakarta, Investor di Indonesia yang ingin mendapatkan keuntungan yang cepat dalam jangka pendek.
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penerapan Sistem Akuntansi Pembiayaan Murabahah Pada PT Bank Tabungan Negara Kantor Cabang Syariah

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dengan bergabungnya 5 bank yang terdiri dari Bank Bali, Bank Universal, Bank Artamedia, Bank Prima Express dan Bank Patriot menjadi Bank Permata pada bulan Oktober 2002, maka jumlah bank di Indonesia menjadi 141 buah dengan aset Rp 1.077 triliun per September 2002. Menurut Biro Riset Infobank (2004), berdasarkan data BI per September 2003 menunjukkan jumlah aset perbankan meningkat menjadi Rp1.252,82 triliun dengan jumlah bank sebanyak 138. Kemudian data dari BI per September 2004, jumlah bank yang beroperasi di Indonesia sebanyak 136 buah dengan nilai aset sebesar 1.208,17 triliun.
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penerapan Informasi Akuntansi Manajemen Dalam Pengambilan Keputusan Investasi Pada PT Bank Sumut

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini informasi merupakan suatu komponen yang sangat penting bagi perusahaan karena kunci sukses perusahaan sangat tergantung pada ketepatan keputusan yang diambil manajerial berdasarkan informasi yang tersedia pada perusahaan yang bersangkutan.
Informasi akuntansi dibutuhkan oleh manajemen dari berbagai jenjang organsiasi untuk menyusun rencana kegiatan perusahaan dimasa yang akan datang. Informasi akuntansi manajemen sangat bermanfaat bagi manajemen terutama pada tahap penganalisaan konsekuensi tiap alternative tindakan yang digunakan dalam pengambilan keputusan, sehingga memungkinkan memilih alternative yang terbaik diantara alternatif tindakan yang dipertimbangkan.
Salah satu fungsi penting manajemen adalah perencanaan. Dalam perencanaan, mereka dihadapkan pada pengambilan keputusan yang menyangkut pemilihan berbagai macam alternatif. Untuk memutuskan alternatif yang harus dipilih, mereka menghadapi ketidakpastian. Oleh karena itu, manajemen memerlukan informasi yang dapat mengurangi ketidakpastian yang mereka hadapi, sehingga memungkinkan mereka menentukan pilihan dengan baik atau memperkecil kemungkinan kesalahan yang diakibatkan kesalahan informasi yang diterima manajemen dalam pengambilan keputusan. Salah satu informasi yang penting yang diperlukan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam kegiatan operasional perusahaan terutama aspek perencanaan dan pengendalian adalah informasi akuntansi manajemen.
Semakin berkembangnya perusahaan tentu membawa perubahan-perubahan, seperti bertambah produk dan jasa yang ditawarkan dan dipasarkan, bertambahnya langganan, bertambahnya pegawai, bertambahnya dana yang diperlukan untuk modal kerja dan investasi. Sehingga dengan waktu, tenaga dan pikiran yang terbatas tidaklah memungkinkan akuntansi perusahaan dapat menjalankan dan mengawasi aktivitas usahanya sendiri. Sebagai gantinya pimpinan mendelegasikan sebagaian tugasnya kepada bawahan.
Sebagai akibat dari perubahan, yaitu dari sistem informasi yang didasarkan pada pengamatan dan pelaksanaan sendiri aktivitas usaha ke sistem yang didasarkan atas laporan-laporan dari bawahannya, atau dengan kata lain telah terjadi evaluasi diri sistem informasi yang informal kepada sistim informasi yang formal.
Semakin besarnya kebutuhan dan informasi formal membawa konsekuensi perlunya setiap perusahaan untuk selalu berupaya mengembangkan sisitem informasi yang dimilikinya sehingga memungkinkan informasi yang cepat, tepat dan akurat dapat dihasilkan, yang merupakan masukan yang sangat berharga bagi pimpinan perusahaan untuk mengelolanya.
Keputusan yang baik dapat dihasilkan oleh manajer pada setiap tingkat manajemen, apabila tersedia informasi yang efisien, tepat dan langsung. Bagaimana suatu informasi yang disajikan bagi para manajer itu tergantung pada baik buruknya sisitem informasi manajemen dari perusahaan tersebut.
Dalam perusahaan, manajer bukan hanya menerima informasi tetapi juga pemberi informasi, yaitu dalam bentuk perintah, petunjuk dan nasehat. Bagaimana informasi itu sampai pada manajer, diolah menjadi suatu keputusan dan dikirimkan pada orang yang ada di dalam perusahaan serta terakhir bagaimana umpan balik dari keputusan itu diterima. Semua ini dapat dikatakan sebagai sistem informasi.
Dalam pemilihan usulan investasi, manajemen memerlukan informasi akuntansi diferenssial sebagai salah satu dasar penting untuk menentukan pilihan investasi. Informasi akuntasi diferrensial tersebut dimasukkan ke dalam suatu modal pengambilan keputusan yang berupa metode penilaian investasi untuk memungkinkan manajemen memilih investasi terbaik di antara alternatif investasi yang tersedia.
PT Bank Sumut Kantor pusat Medan merupakan salah satu Bank Milik Daerah (BUMD) yang bergerak di bidang perbankan. Misi dari bank adalah mengelola dana pemerintah dan masyarakat secara professional yang didasarkan pada prinsip-prinsip Compliance. Dalam pengambilan keputusan investasi aktiva tetap khusus gedung untuk perluasan usaha, perusahaan belum sepenuhnya menggunakan metode penilaian investasi.
Berdasarkan uraian di atas, serta mengingat akan pentingnya sistim informasi akuntansi manajemen dalam pengambilan keputusan sesuai dengan perkembangan zaman, serta dalam situasi persaingan yang semakin tajam, maka penulis merasa tertarik untuk membahas lebih lanjut dalam bentuk skripsi judul “Penerapan Informasi Akuntansi Manajemen Dalam Pengambilan Keputusan Investasi Pada PT Bank Sumut Medan”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Apakah perusahaan telah menggunakan informasi akuntansi manajemen sebagai dasar pengambilan keputusan.
2. Apakah informasi akuntansi manajemen telah dimanfaatkan perusahaan dalam pengambilan keputusan investasi.

C. Batasan Masalah
Informasi akuntansi dapat digunakan untuk pengambilan keputusan investasi, baik investasi dalam bentuk tanah, peralatan, gedung dan lain sebagainya. Hal ini dapat menyebabkan kesalah pahaman dalam pembahasan dan karena adanya keterbatasan waktu, tenaga, serta pengetahuan penulis, maka penulisan akan dibatasi pada penerapan informasi akuntansi differensial dalam pengambilan keputusan investasi gedung di PT Bank Sumut Kantor Pusat.

D. Rumusan Masah
Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah yang penulis kemukakan adalah : “ Bagaimanakah efektivitas penggunaan informasi akuntansi manajemen dalam pengambilan keputusan investasi gedung”.

E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas penggunaan informasi akuntansi manajemen dalam pengambilan keputusan investasi gedung di dalam perusahaan.

F. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penerapan Balanced Scorecard Sebagai Tolak Ukur Pengukuran Kinerja Pada Rumah Sakit Umum Daerah ...

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan Balanced Scorecard
sebagai tolOk ukur pengukuran kinerja pada Rumah Sakit Umum Daerah Jenderal
Ahmad Yani Kota Metro Lampung (RSUD Jendral Ahmad Yani). Untuk dapat
mengukur kinerja pada pada rumah sakit, diperlukan suatu tolak ukur yang tidak hanya
bertumpu pada kinerja aspek keuangan, tetapi juga non keuangan. Balance Scorecard
merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengukur secara seimbang aspek keuangan
dan non keuangan, melalui 4 perspektif yaitu : keuangan, pelanggan, proses bisnis
internal, dan pertumbuhan dan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif, yang bertujuan melihat kinerja RSUD Jendral Ahmad Yani pada kurun
waktu 2006-2007. Untuk data primer, dilakukan wawancara kepada pegawai rumah
sakit. Data sekunder diambil dari laporan keuangan dan protap rumah sakit. Hasil dari
penelitian menunjukkan bahwa kinerja pada perspektif keuangan , belum dapat diukur
dengan baik dan sempurna, Rumah sakit masih menggunakan pencatatan cash basis
accounting, sehingga peneliti tidak dapat melakukan analisa rasio-rasio keuangan yang
dinilai melalui instrument laporan keuangan dari laporan laba rugi. Kinerja pada
perspektif Pelanggan secara umum sudah sesuai dengan apa yang diharapkan, Hal ini
dapat dilihat dari pemberian kebijakan-kebijakan tertentu pada pasien miskin atau tidak
mampu, dengan penggunan kartu ASKIN untuk melakukan pengobatan dan penggunaan
ASKES untuk PNS. Pada perspektif proses bisnis internal diperoleh gambaran bahwa
RSUD Ahmad Yani Kota Metro selalu berusaha untuk menangkap kemauan pasar
melalui inovasi-inovasi yang akan dan sedang dijalankan. Beberapa indikator telah
menunjukkan kinerja yang baik , untuk kinerja yang belum maksimal pihak rumah sakit

Pengukuran empat perspektif tersebut secarharus lebih meningkatkan kualitas pelayanan dan pendidikan, agar dalam menangani
pasien dapat lebih efektif dan efisien.Tahun mendatang rumah sakit merencanakan
adanya produk unggulan yaitu sedang dipersiapkannya klinik fertilitas atau kesuburan.
Penanganan komplain pasien walaupun belum tercatat dengan baik, namun sebenarnya
pihak manajemen rumah sakit telah melalukan kebijakan yang baik, Pada perspektif
pertumbuhan dan pembelajaran , secara keseluruhan dapa dilakukan dengan baik,
terlihat dari retensi karyawan yang tinggi dilihat dari Labour Turn Over rendah. Untuk
absensi karyawan,terlihat sudah dijalankan dengan baik karena umumnya disiplin
pegawai yang sudah cukup tinggi. Sedangkan pelatihan dan pendidikan lanjutan yang
dijalankan oleh pihak RSUD Ahmad Yani Kota Metro telah dilakukan dengan baik.a umum akan memberikan kemajuan bagi
RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro.
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penerapan Akuntansi Sosial Ekonomi Terhadap Tanggung Jawab Sosial Pada PT Pupuk Sriwidjaja (Perse...

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Selama ini perusahaan dianggap sebagai lembaga yang dapat memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat. Ia bisa memberikan kesempatan kerja, menyediakan barang yang dibutuhkan masyarakat untuk dikonsumsi, ia membayar pajak, memberikan sumbangan, dan lain-lain. Karenanya perusahaan mendapat legitimasi bergerak leluasa melaksanakan kegiatannya. Setiap perusahaan didirikan dengan maksud dan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Tetapi dibalik semua itu, ada hal lain yang lebih penting menyebabkan keberadaan dari perusahaan-perusahaan tersebut yaitu mencari keuntungan atau laba yang sebesar-besarnya dalam setiap aktivitas produksi mereka.
Dalam upaya untuk mendatangkan laba tersebut, setiap perusahaan selalu berusaha mencari peluang dan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang dapat memberikan nilai tambah, dan pada akhirnya jika hal itu dibiarkan tidak terkontrol maka kemungkinan besar yang dapat timbul adalah dampak-dampak negatif yang dapat merugikan lingkungan dan masyarakat.
Dampak-dampak yang semakin lama dan semakin besar serta sukar untuk dikendalikan ini seperti: polusi, keracunan, kebisingan, eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam, diskriminasi, pemaksaan, kesewenang-wenangan, produksi makanan haram, sampai ke penipuan-penipuan terhadap konsumen seperti penjualan barang dengan kualitas rendah atau barang-barang yang sudah tidak layak pakai lagi (kadaluarsa), dan sebagainya. Dampak luar ini disebut Externalities. Karena besarnya dampak externalities terhadap kehidupan masyarakat, maka masyarakatpun menginginkan agar dampak ini dikontrol sehingga dampak negatif, external diseconomy atau social cost yang ditimbulkan tidak semakin besar.
Karena besarnya dampak externalities terhadap kehidupan masyarakat, masyarakat pun menginginkan agar dampak ini dikontrol sehingga dampak negatif atau social cost yang ditimbulkan tidak semakin besar. Selain dapat menimbulkan social cost, dampak dari keberadaan perusahaan terhadap keadaan sosial masyarakat dan lingkungan juga merupakan biaya-biaya sosial yang bisa menunjukkan kontribusi positif atau manfaat keberadaan perusahaan kepada masyarakat (social benefits).
Seiring dengan itu, akuntansi sebagai salah satu disiplin ilmu yang selalu mengikuti perkembangan lingkungan, harus mampu selalu berkembang dan menjangkau segala aspek yang ada. Enthoven (Harahap, 1992) menyatakan :
“Akuntansi harus peka terhadap perubahan lingkungan yang terus menerus berlangsung, akuntansi harus waspada terhadap perubahan itu apakah melalui sistemnya yang dimilikinya maupun atas bantuan sistem informasi regional dan internasional, untuk menyakinkan agar produknya tetap relevan bagi pemakainya.”

Dari sini berkembanglah ilmu akuntansi yang selama ini dikenal hanya memberikan informasi tentang kegiatan perusahaan dengan pihak ketiga, maka dengan adanya tuntutan ini, akuntansi bukan hanya merangkum informasi tentang hubungan perusahaan dengan pihak ketiga, tetapi juga dengan lingkungannya. Ilmu Socio Economic Accounting (SEA) atau istilah lainnya Environmental Accounting, Social Responsibility Accounting, dan lain sebagainya, yang merupakan bidang ilmu akuntansi yang berfungsi dan mencoba mengidentifikasi, mengukur, menilai, melaporkan pengaruh hubungan antara perusahaan dengan lingkungan sosialnya yang ditunjukkan dengan adanya social benefit dan social cost.
Akuntansi sosial ekonomi atau akuntansi pertanggungjawaban sosial merupakan alat yang sangat berguna bagi perusahaan dalam mengungkapkan aktivitas sosialnya di dalam laporan keuangan. Pengungkapan melalui social reporting disclosure akan membantu pemakai laporan keuangan untuk menganalisis sejauh mana perhatian dan tanggung jawab sosial perusahaan dalam menjalankan bisnis. Di Indonesia bentuk akuntansi ini belum mempunyai format atau standar yang baku sehingga pelaporannya bersifat voluntary (sukarela), dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 Paragraf ke sembilan dinyatakan:
“Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri di mana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting”.

PSAK tersebut tidak secara tegas mengharuskan perusahaan untuk melaporkan tanggung jawab sosial mereka. Pengelompokan, pengukuran, dan pelaporan juga belum diatur, jadi untuk pelaporan tanggung jawab sosial diserahkan pada masing-masing perusahaan.
Berbeda dengan negara-negara Eropa, laporan yang dibuat bersifat mandatory (kewajiban) yaitu mewajibkan perusahaan-perusahaan terutama perusahaan yang telah go public untuk membuat sustainability reporting (Laporan Pertanggungjawaban) yang meliputi aspek keuangan, aspek sosial, dan aspek lingkungan yang terjadi di perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan akuntansi sosial ekonomi antara lain: United Airlines, General Motor U.S.A, Intel, dan British Telecom.
Sebagai contoh : PT. Caltex Pacific (tambang minyak) di Pekanbaru, Riau, tiap terjadi banjir yang diakibatkan oleh Sungai Siak, senantiasa membantu para penduduk dengan memberikan bantuan obat-obatan dan membantu pemerintah daerah dalam membuat jembatan di atas Sungai Siak, sehingga melancarkan lalu-lintas antara Pekanbaru dan Dumai di pinggir laut. PT. Inalum di Sumatera Utara pada bulan puasa membantu masyarakat kota Medan dengan menyalurkan sebagian energi listriknya ke Medan sehingga umat Islam selama bulan puasa terjamin adanya penerangan terutama diperlukan pada waktu sahur malam. PT. Pupuk Sriwidjaja sebagai salah satu BUMN terbesar di Sumatera telah menyelesaikan proyek Pusri Effluent Treatment (PET) guna pengolahan limbah secara terpadu untuk memperbaiki kualitas limbah yang akan dibuang ke lingkungan sesuai dengan mutu limbah yang ditetapkan pemerintah dan Pusri juga telah menyalurkan dananya untuk pembinaan usaha kecil dan koperasi.
Memang tidak semua perusahaan menyebabkan dampak yang negatif seperti yang telah disebutkan di atas, hanya demi mengejar keuntungan yang berlipat ganda. Banyak perusahaan lain yang berusaha untuk memberikan servis atau layanan terbaiknya kepada lingkungan dan terutama kepada masyarakat. Berbagai kegiatan sosial dilakukan seperti : pendirian tempat ibadah, mensponsori kegiatan olahraga, memberikan beasiswa, pelayanan kesehatan terutama sekali memberikan bantuan kepada mereka yang telah berusaha mengolah limbah buangan pabrik mereka semaksimal mungkin sehingga kadar racun yang ada dapat dihilangkan atau tidak berbahaya bagi kehidupan..
Di dalam era perdagangan bebas (free trade) ini, isu-isu mengenai masalah sosial perusahaan akan membuat perusahaan lebih memperhatikan kelangsungan hidupnya karena pertimbangan berbisnis saat ini tidak hanya dilihat dari kualitas produk maupun kualitas perusahaan secara finansial tetapi juga dilihat dari performa tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan sosialnya. Hal ini diharapkan dapat mendorong perusahaan bukan hanya mengejar keuntungan semata tetapi juga ikut memperhatikan dan peduli terhadap kondisi lingkungan sosialnya. Walaupun belum ada standar yang baku mengenai penerapan akuntansi sosial ekonomi ini tetapi penerapan ini bertujuan untuk menimbulkan dan meningkatkan kesadaran perusahaan terhadap tanggung jawab sosialnya. Dengan kenaikan biaya sosial yang terjadi dalam suatu perusahaan dapat diartikan bahwa terjadi peningkatan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan sosialnya.
PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) yang lebih dikenal sebagai PT Pusri, merupakan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang produksi dan pemasaran pupuk. PT Pusri dengan Kantor Pusat dan Pusat Produksi yang berkedudukan di Palembang, Sumatera Selatan, merupakan produsen pupuk urea pertama di Indonesia. Sebagai warga dunia usaha yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat, PT Pusri secara konsisten terus berupaya untuk maju sekaligus memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan sekitarnya, terutama untuk menghindari dari isu-isu maupun sentimen negatif dari masyarakat yang terkait dengan dampak negatif yang timbul akibat kegiatan operasional perusahaan. Oleh karena itu, untuk meredam sentimen-sentimen negatif dari masyarakat sehingga akan memperlancar kegiatan operasional perusahaan dan juga guna meningkatkan dan menjaga nama baik PT Pusri, maka PT Pusri harus memperlihatkan tanggung jawab sosial yang dilakukan terhadap masyarakat.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul “Penerapan Akuntansi Sosial Ekonomi Terhadap Tanggung Jawab Sosial Pada PT Pupuk Sriwidjaja (Persero)”

1.2. PERUMUSAN MASALAH
Akuntansi Sosial Ekonomi (Socio Economic Accounting) merupakan salah satu alternatif atau pengungkapan dan pelaporan pertanggungjawaban sosial perusahaan terhadap dampak sosialnya. Pertanggungjawaban sosial menjadi unsur yang sangat penting untuk membantu perusahaan dalam mencapai semua tujuannya dan menjamin kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri.
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan, permasalahan yang ingin diangkat oleh penulis adalah:
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penerapan Akuntansi Perpajakan Atas Kepemilikan Aktiva Kendaraan Dengan Metode Capital Lease Pada

BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Permasalahan
Dana memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan. Perusahaan dapat menggunakan dana tersebut sebagai alat investasi melalui penanaman barang modal. Dana yang diterima oleh perusahaan digunakan untuk membeli aktiva tetap, untuk memproduksi barang dan jasa, membeli bahan-bahan untuk kepentingan produksi dan penjualan, dan lain-lain.
Dalam hal pengadaan barang modal, ada beberapa alternatif pembiayaan yang bisa dilakukan oleh perusahaan. Pembiayaan dari sumber internal dan pembiayaan dari sumber eksternal. Pembiayaan dari sumber internal dihasilkan sendiri di dalam perusahaan, diantaranya adalah laba ditahan, modal saham, dan lain-lain. Sedangkan pembiayaan dari sumber eksternal berasal dari luar perusahaan, diantaranya adalah pinjaman bank, sewa guna usaha (leasing), penjualan kredit dari pemasok, dan lain-lain.
Bagi perusahaan yang mempunyai modal besar, alternatif termudah adalah dengan menggunakan modal sendiri, sebaliknya bagi perusahaan yang tidak mempunyai cukup modal, alternatif yang dipilih adalah pembiayaan dari luar perusahaan. Salah satu jenis pembiayaan barang modal yang mulai banyak digunakan perusahaan di Indonesia selain pinjaman dari bank adalah pembiayaan sewa guna usaha (leasing).
Sewa guna usaha (leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (capital lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala. Sewa guna usaha dengan hak opsi (financial lease) yaitu apabila dalam transaksi perusahaan lessor bertindak sebagai pihak yang membiayai barang modal dimana secara berkala lessor menerima pembayaran sewa guna usaha dari lessee dan di akhir masa sewa terdapat hak opsi bagi lessee. Hak opsi adalah hak lessee untuk membeli barang modal yang disewagunausahakan atau memperpanjang jangka waktu perjanjian sewa guna usaha. Sedangkan sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) yaitu apabila dalam transaksi perusahaan lessor membeli barang modal dan kemudian menyewa guna usahakannya kepada lessee, lessee tidak mempunyai hak opsi untuk membeli atau memperpanjang transaksi sewa guna usaha tersebut.
Pada setiap akhir periode, perusahaan selalu membuat laporan keuangan yang terdiri dari neraca dan laporan laba rugi. Dalam membuat laporan keuangan tersebut transaksi sewa guna usaha diperlakukan dan dicatat sebagai aktiva tetap dan kewajiban pada awal masa sewa guna usaha sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus dibayar oleh penyewa guna usaha pada akhir masa sewa guna usaha.
Perlakuan tersebut di atas adalah perlakuan yang biasa terjadi pada akuntansi komersial, perlakuan untuk perpajakan tentunya memiliki perbedaan dikarenakan adanya ketentuan-ketentuan perpajakan yang secara khusus mengaturnya. Adanya perbedaan tersebut memotivasi penulis untuk mencoba meneliti bagaimana perlakuan akuntansi perpajakan atas transaksi sewa guna usaha.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :
“Bagaimanakah penerapan akuntansi perpajakan atas kepemilikan aktiva kendaraan dengan metode capital lease pada PT.IGLAS (Persero) ?”
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pendapatan Bagi Hasil Dan Perlakuan Akuntansinya Pada Bank Syariah (Studi Kasus pada PT Bank Muamalah...

ABSTRAK

Bank syariah mulai diperkenalkan dan bermunculan di Indonesia sejak tahun 1992 dengan pelopor Bank Muamalat Indonesia. Sejalan dengan itu, mulailah dibuat aturan-aturan yang terkait dengan pelaksanaan operasional bank syariah termasuk aturan tentang akuntansi untuk perbankan syariah. Aturan ini telah ditetapkan dalam PSAK No 59 tentang akuntansi perbankan syariah, namun dalam praktiknya, aturan-aturan yang digunakan dalam kegiatan operasional Bank Muamalat Indonesia belum sepenuhnya menggunakan aturan-aturan yang sesuai dengan syariah Islam, seperti konsep yadul amanah, pembagian keuntungan, biaya pengelolaan dan mudharabah atas mudharabah. Di satu sisi, Bank Muamalat Indonesia telah sepenuhnya melaksanakan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah terkait dengan operasionalisasi bank syariah.
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pemeriksaan Pengendalian Intern Persediaan Pada PT. Vedem Putra Sakti

BAB I
PENDAHULUAN

A. Alasan Pemilihan Judul
Persediaan merupakan barang-barang yang dimiliki perusahaan untuk dijual kembali atau diproses lebih lanjut menjadi barang untuk dijual. Perusahaan dagang maupun perusahaan industri pada umumnya mempunyai persediaan yang jumlah, jenis serta masalahnya tidaklah selalu sama antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya. Pada umumnya dapatlah dikatakan bahwa hampir pada semua perusahaan, persediaan merupakan harta milik perusahaan yang cukup besar atau bahkan terbesar jika dibandingkan dengan harta lancar lainnya. dan persediaan juga merupakan elemen yang paling banyak menggunakan sumber keuangan perusahaan yang perlu disediakan agar perusahaan dapat beroperasi secara layak sebagaimana mestinya.
Begitu pentingnya peranan persediaan dalam operasi perusahaan sehingga perlu diadakan metode penilaian persediaan yang tepat untuk memperoleh hasil usaha yang sesuai dengan periode pembukuannya. Selain itu manajemen perusahaan juga perlu mempunyai sistem pengendalian intern yang baik yang dapat menjalin keamanan persediaan milik perusahaan itu sendiri. Dengan adanya pengendalian intern maka akan segera diketahui pada ketidakberesan dalam perusahaan. Disamping itu, persediaan juga mempunyai aspek ganda yaitu disajikan dalam bentuk neraca atau merupakan persediaan neraca sebagai aktiva perusahaan juga disajikan dalam perhitungan rugi laba sebagai elemen harga pokok. Oleh karena itu kesalahan dalam menentukan nilai persediaan, bukan saja akan mengakibatkan kesalahan dalam pos neraca, akan tetapi juga dalam pos rugi laba perusahaan baik untuk periode sekarang maupun untuk periode selanjutnya. Dan pada akhirnya, pembaca laporan keuangan tersebut akan keliru atau salah dalam menafsirkan keadaan posisi keuangan perusahaan tersebut.
Demikian pula halnya pada PT. Vedem Putra Sakti dimana fungsi persediaan sangat mempengaruhi terhadap operasi-operasinya. Kegagalan atas pencatatan persediaan akan berakibat kerugian pula terhadap perusahaan.
Berdasarkan uraian-uraian diatas, telah mendorong penulis untuk memilih masalah pengendalian intern sebagai obyek penulisan skripsi, khususnya pada PT. Vedem Putra Sakti dengan judul “PEMERIKSAAN PENGENDALIAN INTERN PERSEDIAAN PADA PT. VEDEM PUTRA SAKTI”.

B. Perumusan Dan Pembatasan Masalah
Oleh karena siklus akuntansi persediaan cukup luas jangkauannya maka penulis hanya akan membahas mengenai persediaan barang dagang saja, yaitu teknik pemeriksaan persediaan yang dilakukan oleh PT. Vedem Putra Sakti dari hasil produksi sampai dengan penjualan ke konsumen.
Masalah-masalah yang sering kali dihadapi dalam persediaan, dan yang perlu untuk kita bahas, diantarannya yaitu :
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Metode Pengukuran Dan Pengakuan Rekening-Rekening Laporan Keuangan Untuk Penghitungan Zakat Mal ...

ABSTRAKSI

Tujuan utama akuntansi adalah menyajikan informasi ekonomi dari suatu
kesatuan ekonomi kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Diharapkan juga
informasi akuntansi berguna dalam penghitungan zakat yang benar atau sesuai
syariah. Untuk itu diperlukan adanya penyesuaian pengukuran dan pengakuan
sejumlah rekening-rekening pada laporan keuangan, karena tidak semua metode
akuntansi yang biasa dipakai sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Dalam
skripsi ini bertujuan untuk menerapkan metode pengukuran dan penilaian rekening
untuk penghitungan zakat mal perusahaan. Dalam studi kasus ini, peneliti mencoba
menerapkannya pada CV Adi Komunika Enterprise yang merupakan perusahaan
dengan bentuk usaha dagang dan jasa.
Pendekatan penelitian dalam skripsi ini menggunakan metode terapan atau
pengembangan. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan penerapan teori
akuntansi syariah dan hukum zakat dalam rangka memecahkan masalah
penghitungan zakat mal CV Adi Komunika Enterprise. Analisis kualitatif lebih
banyak digunakan dalam skripsi ini dengan menguraikan data dengan cara
memberikan pengertian, penjelasan dan penaksiran pada data yang dianalisis.
Analisis ini akan digunakan dalam penentuan pengukuran dan pengakuan rekening
laporan keuangan untuk penghitungan zakat mal dan penentuan rekening yang
dimasukkan dalam penghitungan zakat mal perusahaan, yang didasarkan pada
landasan teori yang digunakan penulis. Barulah setelah itu secara kuantitatif
penghitungan zakat dilakukan.
Hasil analisis dalam skripsi ini menunjukkan bahwa CV Adi Komunika
Enterprise masih menggunakan metode pengukuran dan pengakuan yang
konvensional, maka dalam penghitungan zakatnya diperlukan penyesuaian metode
pengukuran dan pengakuannya. Perubahan yang terjadi terutama pada metode
pengukuran persediaan perusahaan. Karena CV Adi Komunika Enterprise memakai
kos historis sebagai atribut yang diukurnya dalam mengukur nilai persediaannya.
Sedangkan untuk penghitungan zakat, nilai pada saat penghitungan zakat (current
value) merupakan atribut yang diukur sebagai penilaian aset perusahaan, lebih
tepatnya menggunakan harga jual sekarang (current exit price). Dengan mengacu
pada aturan harta benda yang wajib dizakati, maka rekening-rekening yang
berhubungan dengan penghitungan zakat pada CV Adi Komunika Enterprise secara
garis besar terdiri dari tiga golongan utama yakni; Kas, Persediaan, dan Utang. Zakat
mal CV Adi Komunika Enterprise dihitung dengan cara mengurangkan utang
terhadap jumlah kas dan persediaan dan mengalikannya dengan tarif zakat sebesar
2,575% atas dasar periode akuntansi selama 1 (satu) tahun masehi sebagai haulnya.
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Strategi Pendanaan Ekspansi Pt Xyz Melalui Langkah Initial Public Offering

ABSTRAK

Saat ini situasi industri Engineering, Procurement and Construction (EPC) mempunyai
potensi yang cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari rencana pemerintah untuk
meningkatkan pembangunan di bidang infrastruktur dan energi. Belakangan ini PT
Rekayasa Industri mengalami kemajuan yang sangat pesat dilihat dari banyaknya proyekproyek
yang sedang dan akan ditangani. PT Rekayasa Industri merupakan perusahaan
milik negara yang bergerak dalm bidang jasa EPC. Nilai proyek yang akan ditangani oleh
perusahaan nilainya cukup besar yaitu US$ 567,5 juta. Hal ini membuat PT Rekayasa
Industri membutuhkan tambahan dana untuk initial outlay proyek‐proyeknya.
Untuk memanfaatkan peluang yang ada PT Rekayasa Industri harus meningkatkan
sumber pendanaannya sehingga dapat membiayai initial outlay proyek. Untuk mengetahui
sumber pendanaan yang tepat maka digunakan perhitungan Basic Business Profitability
(BBP). Hasil perhitungan BBP menunjukkan nilai BBP lebih kecil dibandingkan dengan
bunga pinjaman. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengembalian yang dapat dihasilkan
perusahaan bagi shareholders lebih kecil dibandingkan bunga kredit yang harus dibayarkan
kepada pihak creditor (Perusahaan tidak akan mampu membayar bunga kredit). Sehingga
untuk membiayai proyek investasi, lebih baik bagi perusahaan untuk memanfaatkan equity.
Jenis pendanaan dengan equity yang digunakan oleh PT Rekayasa Industri adalah Initial
Public Offering. Initial Public Offerings (IPO) merupakan proses penawaran saham kepada
public pada pasar terbuka pertama kali.
Tugas akhir ini difokuskan pada penilaian perusahaan PT Rekayasa Industri serta
analisis harga saham per lembar serta jumlah saham yang harus dikeluarkan untuk
menghasilkan dana yang akan digunakan untuk pembiayaan initial outlay proyek. Metode
yang digunakan adalah Free Cash Flow Valuation Model. Dari hasil perhitungan maka
didapatkan nilai firm value sebesar Rp. 371.336.160.605 dan perusahan membutuhkan dana
investasi sebesar Rp. 778.330.413.279 sehingga saham yang harus dikeluarkan sebanyak
622.664.331 lembar saham dengan harga per lembar saham RP 1.250.
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Strategi Investasi Pabrik Pupuk Organik Di Ptpn Vi (Persero)

ABSTRAK

Seiring dengan meningkatnya permintaan dunia terhadap produk olahan
kelapa sawit, maka limbah yang dihasilkan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) juga
semakin meningkat. Dari pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) di Pabrik Kelapa
Sawit (PKS) dihasilkan limbah padat berupa Tandan Kosong Sawit (TKS) dan
limbah cair (LCPKS).
Untuk mengatasi limbah yang dihasilkan, Pusat Penelitian Kelapa Sawit
(PPKS) di Medan, Sumatera Utara, telah mengembangkan teknologi
pengomposan yang mengolah limbah PKS menjadi pupuk kompos (organik) yang
kaya akan unsur hara dan ramah lingkungan. Teknologi produksi sederhana ini
memungkinkan tercapainya nir limbah (zero waste) pada PKS. Sehingga tidak ada
lagi limbah yang mencemari lingkungan di sekitar pabrik.
Permintaan pupuk organik (kompos) juga semakin meningkat di pasaran
karena harga pupuk anorganik yang semakin mahal. Pola hidup masyarakat dunia
yang kembali ke makanan alami yang berasal dari bahan organik yang bebas dari
zat kimiawi juga turut mempengaruhi. Melihat peluang di bisnis ini, PT. ABC
menawarkan kerja sama pengelolaan limbah PKS di PTPN VI (Persero) dalam
bentuk joint venture. Perusahaan joint venture ini berencana membangun Pabrik
Pupuk Organik (PPO) dengan kapasitas 69 dan 138 ton/hari yang mengolah
limbah PKS kapasitas pengolahan TBS 30 ton dan 60 ton/jam di Propinsi Jambi.
Strategi investasi PPO berfokus pada lima aspek bisnis, yang terdiri dari
aspek produksi, manajemen, pemasaran, lingkungan dan keuangan. Penekanan
aspek keuangan pada analisis keputusan investasi dan strategi pendanaan. Pada
analisis aspek keuangan dibuat dua alternatif pendirian PPO yaitu alternatif A
(lantai produksi dari semen menggunakan mesin turner merk Backhus) dan
alternatif B (lantai produksi dari tanah yang dikeraskan menggunakan mesin
turner merk Asia Green) untuk PPO kapasitas 69 ton/hari dan 138 ton/hari.
Masing-masing alternatif tersebut memiliki tiga skenario pendanaan.
Hasil analisis aspek keuangan di setiap kapasitas pabrik pada tiga skenario
pendanaan menunjukkan bahwa alternatif A layak untuk dijalankan (NPV bernilai
positif, Pay Back Period dibawah jangka waktu proyek, IRR diatas nilai WACC
ii
dan nilai ROI diatas suku bunga pinjaman) sedangkan alternatif B tidak layak
untuk dijalankan. Prioritas struktur pendanaan adalah skenario 1 karena memiliki
nilai NPV dan ROI yang tertinggi dari dua skenario lainnya.
Hasil strategi investasi merupakan pedoman bagi PTPN VI (Persero) dan
PT. ABC untuk mendirikan dan mengoperasikan Pabrik Pupuk Organik (PPO).
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Perhitungan Harga Pokok Produksi Flooring Pada PT Rimba Karya Rayatama Di Samarinda

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Kalimantan Timur memiliki areal hutan yang ditumbuhi berbagai macam jenis pohon dan memacu para pengusaha untuk mengolah sumber daya alam tersebut yang memanfaatkan hasilnya untuk bahan industri pengolahan kayu jadi bagi perusahaan-perusahaan industri kayu. Banyaknya perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri pengolahan kayu tersebut, maka akan memberikan kontribusi bagi pemerintah daerah setempat dalam hal penerimaan sektor pajak, menghasilkan devisa bagi negara dan membuka lapangan kerja bagi tenaga kerja yang mengganggur.
PT Rimba Karya Rayatama merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang kontraktor perkayuan dan industri pengolahan kayu bulat menjadi kayu olahan berupa flooring berbagai jenis dan ukuran, dengan memiliki 1 (satu) buah sawmill sebagai sarana penunjang kegiatan proses produksi perusahaan dalam menghasilkan produk kayu olahan tersebut.
Flooring ini dibuat sebagai pelengkap bahan bangunan yang digunakan untuk menambah lapisan pada bagian atas lantai, ada juga yang menggunakan flooring ini sebagai hiasan ornamen lantai agar kelihatan rapi tergantung dari keinginan konsumen.
Ditinjau dari segi karakteristik proses pengolahan produk yang dihasilkan oleh perusahaan industri kayu, dapat dikatakan sebagai produksi massa karena berproduksi secara terus-menerus dan produksi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen (ekspor) maupun kebutuhan perusahaan yang mengolah kayu bulat (log) menjadi kayu olahan.
Dalam hal proses produksi dilakukan beberapa tahap yaitu tahap pemotongan, tahap perakitan dan tahap penyelesaian akhir dimana tahap-tahap tersebut akan dibebankan biaya pada masing-masing departemen produksi, sehingga dapat diketahui jumlah biaya dan harga pokok produksi pada masing-masing departemen tersebut.
Untuk itu perlu adanya pengumpulan biaya produksi agar dapat diketahui dengan jelas dan tepat tentang biaya produksi yang dikorbankan dalam menghasilkan kayu olahan, sehingga dapat diketahui berapa besar perbedaan antara harga pokok produksi kayu olahan menurut perusahaan dengan harga pokok produksi menurut perhitungan akuntansi dengan menggunakan metode full costing.
Selama proses produksi, biaya-biaya yang terjadi antara lain biaya bahan baku yaitu kayu bulat (logs), biaya tenaga kerja yaitu berupa gaji karyawan baik karyawan bulanan maupun kontrak yang terlibat langsung dalam proses produksi dan biaya overhead pabrik yaitu biaya-biaya yang secara tidak langsung terlibat dalam proses produksi seperti biaya spare parts alat kerja, biaya BBM/pelumas, biaya penyusutan alat kerja, biaya gaji mandor produksi dan lain-lain.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan menggunakan Metode Full Costing pada PT Rimba Karya Rayatama di Samarinda”
B. Perumusan Masalah
Seperti yang telah diterangkan di atas, maka penulis akan merumuskan masalah tersebut sebagai berikut :
“Apakah ada perbedaan yang lebih kecil mengenai perhitungan harga pokok produksi per meter kubik (m3) flooring bengkirai antara perhitungan menurut PT Rimba Karya Rayatama dengan metode full costing”.
C. Tujuan dan Kegunaan
1. Tujuan
a. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perhitungan harga pokok produksi per meter kubik flooring antara perhitungan menurut perusahaan dengan metode harga pokok produksi pendekatan full costing.
b. Untuk mengetahui jumlah harga pokok produksi yang diserap pada masing-masing departemen produksi.
2. Kegunaan
a. Sebagai bahan informasi bagi pihak manajemen PT Rimba Karya Rayatama dalam pengambilan keputusan mengenai harga pokok produksi kayu olahan.
b. Sebagai referensi dan koreksi bagi pihak-pihak yang memerlukan sehubungan dengan judul sikripsi tersebut di atas.

D. Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan skripsi ini terdiri dari 6 (enam) bab, yaitu sebagai berikut :
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Perancangan Sistem Informasi Persediaan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Semarang Selatan

ABSTRAK

Kemajuan teknologi mengharuskan informasi dapat diproses dan didapatkan dengan kemudahan tanpa menghilangkan kriteria informasi itu sendiri. Perancangan sistem informasi persediaan dibuat untuk membantu dan mempermudah seluruh proses pengolahan data menjadi informasi yang diharapkan.
Perancangan sistem informasi persediaan dibuat untuk menerapkan prinsip – prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) sebagai bagian dari keharusan membuat laporan keuangan lembaga / kementrian negara.
Perancangan sistem informasi persediaan ini memakai alat bantu yang meliputi Even List, flowchart, Data Flow Diagram (DFD), Entity Relationship Diagram (ERD), kamus data, normalisasi tabel dan spesifikasi proses.
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Peranan Controller Dalam Perencanaan Dan Pengendalian Penjualan Pada PT. UNITED TRACTORS TBK

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini negara Indonesia mengalami situasi perekonomian yang tidak menentu. Hal ini disebabkan oleh situasi dan kondisi di Indonesia yang terpuruk dalam berbagai masalah krisis yang berkepanjangan terutama di bidang ekonomi. Akibat yang timbul dari situasi perekonomian yang tidak menentu ini diantaranya banyak sekali lembaga-lembaga keuangan yang dilikuidasi dan perusahaan-perusahaan yang menutup kegiatan operasional perusahaannya karena mengalami kerugian terus-menerus.
Perusahaan-perusahaan yang masih exist atau berdiri saat ini, berusaha mempertahankan kegiatan operasional perusahaannya dengan berbagai cara. Diantaranya dengan menyediakan barang dan jasa sesuai dengan selera dari masyarakat. Hal ini disebabkan karena perusahaan hanya dapat tetap berdiri, bila barang dan jasa yang telah diberikan pada masyarakat dapat dimanfaatkan dan perusahaan memperoleh balas jasa dari masyarakat yang menggunakan produk yang ditawarkan perusahaan itu. Jika tujuan tersebut tidak tercapai, maka perusahaan akan kehilangan sumber dana dari masyarakat dan modal perusahaan berangsur-angsur lemah, sehingga perusahaan tidak mempunyai kedudukan yang kuat untuk melakukan persaingan dengan perusahaan-perusahaan sejenis lainnya dalam suatu industri di pasaran.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat itu, perusahaan memanfaatkan pasar sebagai sarana untuk menjual produk yang dihasilkan, sehingga perusahaan dapat memperoleh keuntungan yang merupakan tujuan perusahaan pada umumnya. Untuk mencapai tujuan itu perusahaan harus bersaing dengan ketat untuk merebut konsumen dari perusahaan-perusahaan sejenis lainnya. Manajemen perusahaan berkewajiban memanage seluruh kegiatan operasional perusahaan, mengkoordinasikan dan mengalokasikan sumber-sumber yang terbatas dengan baik secara ekonomis, efektif dan efisien.
Dalam melakukan hal itu controller dapat membantu manajemen khususnya dalam melakukan perencanaan dan pengendalian. Perencanaan dan pengendalian amat berperanan penting dalam keberhasilan perusahaan mencapai tujuannya. Perencanaan harus dilakukan agar dalam melaksanakan operasional perusahaan terarah sehingga tujuan mudah tercapai, sedangkan pengendalian juga penting untuk dilaksanakan agar didapat kepastian bahwa operasi perusahaan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pada perusahaan industri dan perdagangan, berbagai macam kegiatan operasi perusahaan harus direncanakan dan dikendalikan agar perusahaan dapat bertahan dalam persaingan, khususnya menyangkut perencanaan dan pengendalian terhadap penjualan karena berkaitan dengan peningkatan pendapatan perusahaan dan kelangsungan hidup perusahaan.
Perencanaan dalam penjualan dapat dikatakan sebagai kegiatan untuk membuat anggaran penjualan, metode penjualan apa yang akan dilakukan agar permintaan masyarakat bertambah, syarat-syarat apa yang perlu ditetapkan dalam melakukan penjualan dan kebijaksanaan perusahaan dalam menetapkan harga yang bersaing dengan produk sejenis lainnya.
Kemudian pengendalian dalam penjualan dapat diartikan sebagai suatu studi dan analisis atas kegiatan penjualan, kemudian membandingkan rencana dengan realisasinya serta kebijaksanaan apa yang diambil perusahaan sebagai tindak lanjut untuk memperoleh volume penjualan yang dikehendaki, dengan biaya yang wajar, agar menghasilkan laba. Pada umumnya perencanaan dan pengendalian penjualan di perusahaan dilakukan oleh controller. Dimana controller menetapkan perencanaan berdasarkan informasi-informasi yang diperolehnya dari kegiatan penjualan tahun lalu.
Sehubungan dengan ini, informasi-informasi yang diperoleh itu harus diinterprestasikan, agar mudah untuk dipahami. Dari informasi yang telah dikumpulkan dan dipaparkan, selanjutnya akan dijadikan sebagai salah satu dasar didalam pengambilan keputusan untuk kegiatan perusahaan selanjutnya sesuai dengan tujuan perusahaan yang telah ditetapkan. Dengan demikian controller dapat merencanakan kegiatan penjualan selanjutnya berdasarkan informasi-informasi yang diperolehnya. Kemudian controller mengendalikan pejualan tersebut agar tidak melewati batas yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Dari hal itu dapat terlihat dengan jelas betapa luas dan berpengaruhnya seorang controller dalam kegiatan operasional perusahaan. Dan penulis memilih untuk melakukan riset di PT. United Tractors Tbk, karena PT ini bersedia membimbing penulis untuk melakukan riset di perusahaannya.
Dari uraian diatas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai perencanaan dan pengendalian penjualan. Penelitian yang akan dilakukan penulis mengenai peranan controller dalam penjualan itu sendiri. Dan dari hasil penelitian itu penulis mengambil judul “PERANAN CONTROLLER DALAM PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PENJUALAN PADA PT. UNITED TRACTORS TBK. ”

B. Perumusan Masalah
Mengingat pentingnya peranan controller dalam perencanaan dan pengendalian penjualan pada PT. United Tractors Tbk, maka penulis mencoba merumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penilaian Saham PT. PD (Persero) DI PT. XYZ Menggunakan Economic Profit Model

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Profil Singkat Perusahaan
1.1.1. Profil Singkat PT. Pindad (Persero)
a) Sejarah singkat PT. Pindad (Persero)
Riwayat perusahaan dimulai dengan didirikannya Artillerie Contructie Winkel (ACW) di Surabaya pada tahun 1908 dan pada tahun 1923 dipindahkan ke Bandung menjadi Artillerie Inrichtingen (AI). Pada tahun 1942, masa penjajahan Jepang, berganti nama menjadi Dai Ichi Kozo (DIK) dan pada tahun 1947 diganti namanya menjadi Leger Productie Bedrijven (LPB)
Setelah kemerdekaan yaitu pada tanggal 29 April 1950, perusahaan tersebut berganti nama menjadi Pabrik Senjata dan Mesiu, yang selanjutnya diperingati sebagai hari jadi Perusahaan, dan Pada tahun 1962, berubah nama menjadi Perindustrian Angkatan Darat (Pindad).
Pada tahun 1983 Pindad berubah menjadi BUMN dengan nama PT Pindad (Persero), dan pada tahun 2002, PT. Pindad (Persero) dibawah pembinaan Kementerian BUMN.
b) Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran PT. Pindad (Persero)
1) Visi Perusahaan
Perusahaan sehat yang mempunyai inti usaha terpadu, beroperasi secara fleksibel serta mandiri secara finansial.
2) Misi Perusahaan
Melaksanakan kegiatan usaha dalam bidang alat dan peralatan untuk mendukung kemandirian pertahanan dan keamanan negara, dan alat dan peralatan industri, dengan mendapatkan laba untuk pertumbuhan perusahaan melalui keunggulan teknologi dan efisiensi.
2
3) Tujuan Perusahaan
Berdasarkan anggaran dasar perusahaan, tujuan pendirian Pindad adalah melaksanakan dan menunjang kebijakan dan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya dan khususnya dalam bidang industri alat/peralatan pertahanan dan keamanan, industri manufaktur, jasa dan perdagangan dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang berlaku bagi perseroan terbatas.
4) Sasaran Perusahaan
Meningkatkan potensi perusahaan untuk mendapatkan peluang usaha yang menjamin masa depan perusahaan melalui sinergi-internal.
c) Ruang Lingkup Usaha
PT. Pindad (Persero) adalah salah satu BUMN yang bergerak dalam industri manufaktur, yang memiliki 5 (lima) divisi dan 2 (dua) unit usaha, yang menghasilkan produk-produk sebagai berikut :
1) Divisi Senjata
Produk-produk yang dihasilkan meliputi segala jenis senjata dan kelengkapannya yaitu senjata ringan, senjata berat, senjata genggam dan Surface & Heat Treatment..
2) Divisi Munisi
Produk-produk yang dihasilkan meliputi segala jenis Munisi kaliber Kecil/Ringan dan munisi Berat serta khusus.
3) Divisi Tempa & Cor
Produk-produk yang dihasilkan adalah sebagai berikut : Prasarana Kereta Api, Produk Tempa, Cor & Stamping.
3
4) Divisi Rekayasa Industri
Produk yang dihasilkan berupa : Engineering, Procurement and Contruction (EPC) untuk Pabrik Pengolah Kelapa Sawit (PPKS) dan Pabrik Biodiesel.
5) Divisi Mesin Industri dan Jasa
Produk-Produk yang dihasilkan meliputi : jasa permesinan, rem kereta api (air brake), peralatan kapal laut, jasa uji kalibrasi dan pemeliharaan mesin & elektrik (Harsintrik).
6) Unit Pengembangan Kendaraan Fungsi Khusus (KFK)
Produk-produk yang dihasilkan adalah meliputi :Rantis 2 ½ Ton, Water Cannon, APS 6x6 Dephan, Kendaraan Bank / Bullion, Mobil Kontruksi Khusus, Panser APR 1 – V1 TNI, Panser APR 2 – V1 POLRI, Rantis 5 Ton Mabes, Truk 2 ½ Ton Mabes.
7) Unit Bahan Peledak Komersial (Handakkom)
Bergerak dalam bidang : Produksi : booster, dan ANFO, Jasa Peledakan dan Perdagangan bahan peledak komersial
Disamping usaha tersebut diatas, PT. Pindad memiliki penyertaan modal pada perusahaan-perusahaan sebagai berikut :
1) PT. Cakra Mandiri Pratama (100 % saham Pindad), merupakan anak perusahaan PT. Pindad yang bergerak dalam bidang usaha : industri manufaktur, niaga & jasa dan pelayanan kesehatan (rumah sakit).
2) PT. XYZ ( 7,4 % saham Pindad), merupakan perusahaan patungan dengan bidang usaha : jasa pemasangan dan pemeliharaan mesin turbin.
3) PT. Goodrich Pindad Aeronautical System Indonesia (34 % saham Pindad), merupakan perusahaan patungan dengan bidang usaha : manufaktur komponen pesawat terbang.
4
4) PT. Inti Pindad Mitra Sejati (IPMS) (25 % saham Pindad). merupakan perusahaan patungan dengan bidang usaha : manufaktur komponen dari plastik dan kontruksi.
5) JO Pindad – Dahana merupakan Kerjasama Operasi dalam produksi detonator listrik seismik dan non-seismik dengan total penyertaan PT. Pindad sebesar 50%.
Penyertaan kepemilikan tersebut dilakukan dengan pertimbangan sebagai berikut :
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pengaruh Rasio-Rasio Keuangan Terhadap Return Saham Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa ...

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu faktor yang dilihat investor untuk menentukan pilihan dalam membeli saham. Bagi perusahaan, menjaga dan meningkatkan kinerja keuangan adalah suatu keharusan agar saham yang sudah diperdagangkan di bursa efek (go public) tetap eksis dan tetap diminati investor. Dalam kondisi krisis moneter yang belum pulih, tentu menimbulkan pertanyaan besar, apakah kinerja keuangan perusahaan manufaktur yang sudah go public masih dapat memberikan kontribusi yang cukuup besar dalam mempengaruhi harga sahamnya.
Krisis moneter yang melanda Indonesia dimulai pada Juli 1997, telah memberi pengaruh yang besar pada kondisi dunia usaha di Indonesia. Akibat yang ditimbulkan terutama ditunjukkan oleh melemahnya nilai tukar Rupiah yang mengakibatkan meningkatnya biaya operasi dan kerugian kurs. Kondisi ini terlihat pada laporan rugi-laba dari perusahaan kelompok LQ45, seperti yang telah dilakukan oleh Purnomo (1998), Chandra (2000), Jeffrey (2001) dan Gani (2002). Walaupun keempat peneliti menggunakan cara penentuan sampel, periode analisis dan metode statistik yang berbeda, kesemuanya melihat pengaruh kinerja keuangan dengan rasio keuangan terhadap harga saham.
Pemakaian rasio keuangan dalam mewakili kinerja keuangan berdasarkan pada hasil penelitian terdahulu membuktikan bahwa terdapat pengaruh dan hubungan yang kuat antara rasio keuangan dengan perubahan harga saham, dan kegunaan rasio keuangan dalam mengukur dan memprediksi kinerja keuangan. Diawali oleh Horrigan (1965), kemudian dilanjutkan oleh Beaver (1966) dan Altman (1968), penelitian dengan rasio keuangan telah mencapai perkembangan yang pesat pada berbagai bidang studi. Kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi pertumbuhan laba, telah diteliti oleh Penman (1992), Ou (1994), Machfoedz (1994), Asyik dan Soelistyo (2000). Sedangkan Ou & Penman (1989) lebih memfokuskan penelitian mereka pada prediksi terhadap common stock return, sementara itu, Machfoedz (1999), Setyorini dan Halim (1999), mengikuti Beaver (1968) dan Altman (1968), meneliti kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi kegagalan.
Hasil penelitian dari peneliti terdahulu sangat mendukung penelitian ini yang difokuskan pada return saham yang dipengaruhi oleh kinerja keuangan perusahaan dengan melihat rasio keuangannya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada stakeholders, dengan memberikan informasi mengenai rasio keuangan mana saja yang berpengaruh terhadap harga saham pada kelompok saham perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta. Informasi ini dapat digunakan oleh investor dalam mengambil keputusan untuk membeli saham, terlebih-lebih pada saat krisis moneter yang belum berhasil diatasi sepenuhnya. Dalam skala yang lebih luas, diharapkan hasil penelitian ini dapat mendukung penelitian terdahulu dalam memperkuat
kegunaan rasio keuangan dan menunjukkan pengaruhnya terhadap harga saham.
1.2 Rumusan Masalah
Penelitian ini dimaksudkan untuk membuktikan:
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

kinerja PT Bestindo Intiselaras diukur dengan perspektif Balanced Scorecard

ABSTRAK

Dalam menghadapi lingkungan bisnis yang makin kompleks seperti saat ini dibutuhkan metode pengukuran kinerja yang dapat menilai kinerja perusahaan secara akurat dan menyeluruh. Dalam hal ini metode yang dapat digunakan adalah Balanced Scorecard. Balanced Scorecard mengukur kinerja dari empat perspektif, yaitu: perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, perspektif proses bisnis internal, perspektif pelanggan, dan perspektif keuangan. Penulis melakukan analisis pada PT Bestindo Intiselaras dengan menggunakan data tahun 2004-2005 untuk menganalisis perspektif keuangan, sedangkan untuk perspektif lainnya penulis melakukan analisis melalui perhitungan kuesioner yang disebarkan kepada staff dan pelanggan PT Bestindo Intiselaras. Dari hasil analisis yang telah dilakukan oleh penulis diketahui bahwa kinerja PT Bestindo secara keseluruhan sudah cukup baik. Kesimpulan yang dapat diambil penulis melalui analisis yang sudah dilakukan adalah bahwa Balanced Scorecard merupakan metode yang terbaik dalam melakukan penilaian terhadap kinerja perusahaan, karena Balanced Scorecard mengangkat aspek-aspek penting yang diabaikan oleh pengukuran kinerja secara tradisional, seperti aspek sumber daya manusia, sistem yang digunakan dalam perusahaan, proses operasional, dan aspek kepuasan pelanggan, sehingga hasil pengukuran dengan Balanced Scorecard akan lebih akurat. Dimana hasil pengukuran kinerja yang akurat adalah sangat penting bagi management, baik dalam proses perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian, serta dalam mewujudkan visi dan misi perusahaan.
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Kinerja Keuangan Perbankan Sebelum Dan Sesudah Implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (Api)

ABSTRAK

Sebagai lembaga intermediasi antara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak-pihak yang memerlukan dana, diperlukan bank dengan kinerja keuangan yang sehat, sehingga fungsi intermediasi dapat berjalan lancar. Tingkat kesehatan bank dapat dinilai dari beberapa indikator. Salah satu sumber utama indikator yang dijadikan dasar penilaian adalah laporan keuangan bank yang bersangkutan. Berdasarkan laporan itu akan dapat dihitung sejumlah rasio keuangan yang lazim dijadikan dasar penilaian tingkat kesehatan bank. Arsitektur Perbankan nasional bukan hanya merupakan suatu policy recommendation bagi industri perbankan nasional dalam menghadapi segala perubahan yang terjadi dimasa yang akan datang, melainkan juga menjadi policy direction mengenai arah yang harus ditempuh oleh perbankan dalam waktu yang cukup panjang.
Metodologi Penelitian dalam penelititan ini berupa data sekunder yaitu laporan keuangan bank yang berupa Neraca dan Laporan Laba Rugi. Untuk menilai kinerja bank adalah dengan menggunakan CAR, ROA, BOPO, ROE dan LDR. Kelima variabel tersebut dibandingkan dari sebelum (periode 2002 s/d 2004) dan sesudah (periode 2005 s/d 2006) dilakukan API, teknis analisis dengan menggunakan SPSS for windows , pengujian hipotesis penelitian dengan uji beda t (t-test). Hasil analisis uji t menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata untuk bank umum swasta nasional devisa sebelum dan sesudah API. Pelaksanaan API memerlukan waktu yang cukup lama, 2 tahun setelah dilakukan API belum berpengaruh terhadap kinerja bank
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Kedudukan dan Fungsi Internal Auditor Pada PT. Citra Bangun, Medan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Alasan Pemilihan Judul
Perusahaan, baik milik negara maupun swasta sebagai suatu pelaku ekonomi tidak bisa lepas dari kondisi globalisasi ekonomi dewasa ini. Era globalisasi akan mempertajam persaingan-persaingan diantara perusahaan, sehingga perlu pemikiran yang makin kritis atas pemanfaatan secara optimal penggunaan berbagai sumber dana dan daya yang ada. Sebagai konsekuensi logis dari timbulnya persaingan yang semakin tajam, ada tiga kemungkinan yaitu mundur, bertahan atau tetap unggul dan bahkan semakin berkembang. Agar perusahaan dapat bertahan atau bahkan berkembang diperlukan upaya penyehatan dan penyempurnaan meliputi peningkatan produktivitas, efisiensi serta efektifitas pencapaian tujuan perusahaan. Menghadapi hal ini, berbagai kebijakan dan strategi terus diterapkan dan ditingkatkan. Kebijakan yang ditempuh manajemen antara lain meningkatkan pengawasan dalam perusahaan (internal control).
Dalam perusahaan, pelaksanaan pengawasan dapat dilaksanakan secara langsung oleh pemiliknya sendiri dan dapat pula melalui sistem internal control. Dengan semakin berkembangnya perusahaan maka kegiatan dan masalah yang dihadapi perusahaan semakin kompleks, sehigga semakin sulit bagi pihak pimpinan untuk melaksanakan pengawasan secara langsung terhadap seluruh aktivitas
perusahaan. Dengan demikian maka dirasakan perlunya bantuan manajer-manajer
yang profesional sesuai dengan bidang yang ada dalam organisasi misalnya bidang pemasaran, produksi, keuangan dan lain-lain. Perlu adanya struktur organisasi yang memadai, yang akan menciptakan suasana kerja yang sehat karena setiap staf bisa mengetahui dengan jelas dan pasti apa wewenang dan tanggung jawabnya serta dengan siapa ia bertanggung jawab. Selain itu, dengan bertambah besarnya perusahaan diperlukan suatu pengawasan yang lebih baik agar perusahaan dapat dikelola secara efektif. Salah satu sistem pengawasan yang baik adalah melalui sistem internal control.
Untuk menjaga agar sistem internal control ini benar-benar dapat dilaksanakan, maka sangat diperlukan adanya internal auditor atau bagian pemeriksaan intern. Fungsi pemeriksaan ini merupakan upaya tindakan pencegahan, penemuan penyimpangan-penyimpangan melalui pembinaan dan pemantauan internal control secara berkesinambungan. Bagian ini harus membuat suatu program yang sistematis dengan mengadakan observasi langsung, pemeriksaan dan penilaian atas pelaksanaan kebijakan pimpinan serta pengawasan sistem informasi akuntansi dan keuangan lainnya.
Agar fungsi pemeriksaan intern dapat berjalan dengan baik, maka seorang internal auditor haruslah orang yang benar-benar memahami prosedur audit yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan juga bagian ini harus memiliki kebebasan atau independensi yang cukup terhadap bagian yang diperiksa.
Dalam suatu perusahaan, internal auditor menilai apakah sistem pengawasan intern yang telah ditetapkan manajemen berjalan dengan baik dan efisien, apakah laporan keuangan menunjukkan posisi keuangan dan hasil usaha yang akurat serta setiap bagian benar-benar melaksanakan kebijakan sesuai dengan rencana dan prosedur yang telah ditetapkan. Pemeriksaan intern memberikan informasi yang tepat dan objektif untuk membantu manajemen dalam mengambil keputusan sehingga dapat meningkatkan kemampuan manajemen dan mengurangi kemungkinan yang dapat merugikan perusahaan.
Melihat banyaknya sumbangan yang dapat diberikan oleh internal auditor kepada manajemen, maka penulis mencoba untuk melihat pentingnya peranan internal auditor untuk membantu manajemen dalam menjalankan kegiatan perusahaan. Maka penulis melakukan peninjauan dan penelitian pada PT. Citra Bangun dengan judul ”Kedudukan dan Fungsi Internal Auditor Pada PT. Citra Bangun, Medan.”

B. Perumusan Masalah
Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan setiap perusahaan pada umumnya selalu menghadapi berbagai masalah. Adapun masalah yang dihadapi setiap perusahaan berbeda-beda tergantung pada ruang lingkup kegiatan perusahaan.
Berdasarkan penelitian pendahuluan yang telah dilakukan pada PT. Citra Bangun, maka penulis mencoba merumuskan beberapa permasalahan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Kajian Penerapan Akuntansi Biaya Pada Anggaran Belanja Daerah Kota Singkawang

LATAR BELAKANG PENELITIAN

Bagi pihak-pihak diluar manajemen suatu perusahaan, laporan keuangan merupakan
jendela informasi yang memungkinkan mereka untuk mengetahui kondisi suatu perusahaan
pada suatu masa pelaporan. Dimana Informasi yang didapat dari suatu laporan keuangan
perusahaan tergantung pada tingkat pengungkapan (Disclosure) dari laporan keuangan yang
bersangkutan. Pengungkapan informasi dalam laporan keuangan harus memadai agar dapat
digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan sehingga menghasilkan keputusan yang
cermat dan tepat. Perusahaan diharapkan untuk dapat lebih transparan dalam mengungkapkan
informasi keuangan perusahaannya, sehingga dapat membantu para pengambil keputusan
seperti investor, kreditur, dan pemakai informasi lainnya dalam mengantisipasi kondisi
ekonomi yang semakin berubah.
Pengungkapan dalam laporan keuangan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu
pengungkapan wajib (Mandatory Disclosure) dan pengungkapan sukarela (Voluntary
Disclosure) (Darrough, 1993 dalam Ainun Na’im dan Fuad Rakhman, 2000). Pengungkapan
wajib merupakan pengungkapan minimum yang disyaratkan oleh standar akuntansi yang
berlaku (peraturan mengenai pengungkapan laporan keuangan yang dikeluarkan oleh
pemerintah melalui keputusan ketua BAPEPAM No. SE-02/PM/2002). Sedangkan
pengungkapan sukarela merupakan pilihan bebas manajemen perusahaan untuk memberikan
informasi akuntansi dan informasi lainnya yang dipandang relevan untuk keputusan oleh para pemakai laporan keuangan tersebut. Menurut peraturan mengenai laporan keuangan yang ada di Indonesia hal semacam ini dimungkinkan.
Penelitian tentang kelengkapan pengungkapan dalam laporan tahunan dan faktor-faktor
yang mempengaruhinya merupakan hal yang penting dilakukan. Dimana akan memberikan
gambaran tentang sifat perbedaan kelengkapan pengungkapan antar perusahaan dan faktorfaktor
yang mempengaruhinya, serta dapat memberikan petunjuk tentang kondisi perusahaan
pada suatu masa pelaporan. Dalam pencapaian efisiensi dan sebagai sarana akuntabilitas
publik, pengungkapan laporan keuangan menjadi faktor yang signifikan. Pengungkapan
laporan keuangan dapat dilakukan dalam bentuk penjelasan mengenai kebijakan akuntansi
yang ditempuh, kontinjensi, metode persediaan, dan jumlah saham yang beredar dan ukuran
alternatif, misalnya pos-pos yang dicatat dalam historical cost.
Bambang Suripto (1999) meneliti pengaruh karakteristik perusahaan terhadap luas
pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan, dengan menggunakan sampel pada
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1995 sebagai sampel penelitian.
Karakteristik perusahaan mendapat perhatian penting dalam penelitian tersebut karena peneliti
berangkat bertitik tolak dari pemikiran bahwa sejauh mana pengungkapan sukarela oleh
perusahaan sangat tergantung pada perbandingan antara biaya dan manfaat pengungkapan
tersebut, dan perbandingan biaya manfaat tersebut akan sangat ditentukan oleh karakteristikkarakteristik
tertentu dari perusahaan yang bersangkutan.
Beberapa penelitian empiris terdahulu menunjukkan bahwa karakteristik-karakteristik
perusahaan yang mempengaruhi kelengkapan pengungkapan meliputi : (1) Rasio leverage
suatu perusahaan (Ainun Na’im dan Fuad Rakhman, 2000). Schipper (1981) dalam Marwata
(2001) menyatakan bahwa semakin tinggi rasio leverage maka akan menyediakan informasi
secara lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan kreditur jangka panjang. (2) Size perusahaan
(Fitriani, 2001). Penelitian Fitriani (2001) menyatakan bahwa variabel size perusahaan
mempengaruhi kelengkapan pengungkapan. Cooke (1989) dalam Fitriani (2001) Semakin
besar size suatu perusahaan maka akan semakin tinggi pengungkapannya. (3) Rasio Likuiditas
(Edy subiyantoro, 1996) dalam Fitriani (2001). Cooke (1989) dalam Fitriani (2001)
menyatakan bahwa kondisi perusahaan yang sehat, yang antara lain ditunjukkan dengan
tingkat likuiditas yang tinggi, berhubungan dengan pengungkapan yang lebih luas. (4) Net
Profit Margin (Fitriani, 2001). Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa net profit margin
mempengaruhi kelengkapan pengungkapan laporan keuangan perusahaan publik. Singvi dan
Desai (1989) dalam Binsar H.Simanjuntak dan Lusy Widiastuti (2004) mengutarakan bahwa
rentabilitas ekonomi dan profit margin yang tinggi akan mendorong para manajer untuk
memberikan informasi yang terinci. (5) Status Perusahaan (Fitriani, 2001). Dalam
penelitiannya membuktikan bahwa variabel status perusahaan mempengaruhi kelengkapan
pengungkapan. Menurut Susanto (1992) dalam Fitriani (2001), perusahaan berbasis asing
(PMA) mungkin melakukan pengungkapan yang lebih luas. Berdasarkan uraian-uraian diatas,
maka peneliti ingin melakukan penelitian mengenai pengaruh karakteristik perusahaan
terhadap kelengkapan pengungkapan dalam laporan tahunan perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEJ.

KAJIAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
KELENGKAPAN PENGUNGKAPAN
Imhoff (1992) dalam Ainun Na’im dan Fuad Rakhman (2000) menyatakan kualitas
sebagai atribut yang penting dari suatu informasi akuntansi. Meskipun kualitas akuntansi
masih memiliki makna ganda banyak penelitian yang menggunakan indeks of disclosure
methodology mengemukakan bahwa kualitas pengungkapan dapat diukur dan digunakan
untuk menilai manfaat potensial dari sisi laporan tahunan. Jadi Imhoff mengatakan bahwa
tingginya kualitas informasi akan sangat berkaitan dengan tingkat kelengkapan. Untuk
mengukur kelengkapan pengungkapan dapat dinyatakan dalam bentuk Indeks Kelengkapan
Pengungkapan, dimana perhitungan indeks kelengkapan pengungkapan dilakukan sebagai
berikut :
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Biaya Sumber Daya Manusia Dan Pengukuran Nilai Sumber Daya Manusia Terhadap Pelaporan Akuntansi Sumber Daya Manusia Pada PT.BANK SUMSEL

BAB I
PENDAHULUAN

.1 Latar Belakang
Pada perusahaan jasa dan industri yang berskala besar, sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penting dalam proses pencapaian tujuan perusahaan yaitu menghasilkan laba maksimum untuk jangka panjang. Menurut (Amin Widjaja, 2004), Sumber daya manusia yang berkualitas sangat berperan dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan, mendayagunakan sumber daya-sumber daya lain dalam perusahaan, dan menjalankan strategi bisnis secara optimal.
Bagi suatu perusahaan secara keseluruhan sumber daya manusia merupakan kekayaan yang sangat berharga. Kehilangan atau kepindahan sumber daya manusia yang profesional bagi suatu perusahaan merupakan suatu kerugian yang besar karena hal tersebut akan membuang biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan untuk membina atau mendidik sumber daya manusia yang diperolehnya itu. Kerugian lainnya adalah hilangnya kesempatan memanfaatkan sumber daya manusia tersebut untuk meningkatkan keuntungan yang bisa diperoleh perusahaan yang mungkin dapat juga mengancam kelangsungan hidup perusahaan yang belum mempunyai sistem perekrutan serta pendidikan sumber daya manusia yang baik.
Apalagi dalam situasi dan kondisi perekonomian sekarang ini, sumber daya manusia merupakan asset yang paling penting bagi kemajuan usaha perusahaan. Banyak sekali karyawan yang berhenti bekerja dan terpaksa menganggur (PHK) akibat keadaan ekonomi yang sulit karena manajemen yang ada pada perusahaan itu tidak baik. Pada kondisi seperti inilah, suatu perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, guna menunjang kelangsungan hidup perusahaan. Dengan perencanaan dan pengendalian sumber daya manusia akan membantu pihak manajemen untuk :
1. Mengembangkan, mengalokasikan, menghemat, memanfaatkan, dan mengevaluasi sumber daya manusia dengan baik dan apakah sudah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai
2. Memudahkan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan sumber daya manusia
Untuk memanajemen sumber daya manusia secara baik maka diperlukan informasi tentang sumber daya manusia yang akurat dan relevan. Akuntansi sumber daya manusia memberikan informasi kuantitatif maupun kualitatif kepada manajemen mengenai pemenuhan, pengembangan, pengalokasian, kapitalisasi, evaluasi, dan penghargaan atas sumber daya manusia.
Salah satu Badan Usaha Milik Daerah Sumatera Selatan yang bergerak di sektor jasa perbankan adalah PT Bank Sumsel. PT Bank Sumsel sebagai perusahaan jasa perbankan yang berskala besar mempekerjakan 70 tenaga kerja. Sebagai faktor penting dalam pencapaian tujuan perusahaan, pengembangan mutu sumber daya manusia dan kesejahteraan karyawan menjadi perhatian utama perusahaan. Berkaitan dengan hal ini, penulis ingin melihat bagaimana perlakuan akuntansi atas biaya-biaya sumber daya manusia pada PT Bank Sumsel yang bisa dikatakan cukup concern terhadap sumber daya manusianya.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka penulis tertarik untuk menulis skripsi ini dengan judul “HUBUNGAN BIAYA SUMBER DAYA MANUSIA DAN PENGUKURAN NILAI SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP PELAPORAN AKUNTANSI SUMBER DAYA MANUSIA PADA PT.BANK SUMSEL (Kantor Pusat) 2007.”

.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tadi, maka permasalahan yang akan diteliti dan dibahas adalah sebagai berikut :
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Hubungan Audit Operasional Dan Pengelolaan Persediaan Barang Dagangan Terhadap Peningkatan Laba Pada PT PUSRI (Persero) Palembang Bulan Mei 2007

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Dengan semakin berkembangnya suatu perusahaan menuntut pula perkembangan di bidang pemeriksaan. Pemeriksaan yang dilakukan tidak hanya pemeriksaan keuangan saja tetapi juga pemeriksaan yang menekankan penilaian sistematis dan objektif serta berorientasi pada tujuan untuk memperoleh keyakinan tentang keefektifan dan memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan yang diperiksa. Pimpinan perusahaan memerlukan audit operasional yang menyajikan informasi mengenai aktivitas operasional perusahaan dan tidak terbatas pada informasi keuangan dan akuntansi saja.
Audit operasional merupakan evaluasi atas berbagai kegiatan operasional perusahaan sedangkan sasarannya adalah untuk menilai apakah pelaksanaan kegiatan operasional telah dilaksanakan secara ekonomis, efektif dan efisien. Apabila belum dilaksanakan seperti seharusnya, maka auditor akan memberikan rekomendasi atau saran agar pada masa yang akan datang menjadi lebih baik.
Salah satu bagian dalam perusahaan yang perlu dilakukan audit operasional adalah masalah pengelolaan persedian barang dagangan karena persediaan barang dagangan merupakan bagian utama dalam neraca dan seringkali merupakan perkiraan yang nilainya cukup besar serta membutuhkan modal kerja yang besar pula. Dengan besarnya jumlah uang yang ditanamkan pada persediaan barang dagangan suatu perusahaan, jelaslah bahwa persediaan barang dagangan merupakan aktiva yang sangat penting untuk dilindungi.
Setiap perusahaan dalam melaksanakan kegiatan pemasaran tidak terlepas akan kebutuhan akan barang-barang dagangan yang menjadi faktor utama dalam menunjang jalannya aktivitas pemasaran perusahaan. Dengan terpenuhinya akan barang tepat pada waktunya, maka kegiatan suatu perusahaan akan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tanpa adanya persediaan barang dagangan, perusahaan akan menghadapi resiko dimana pada suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan dari para pelanggannya. Tentu saja kenyataan ini dapat berakibat buruk bagi perusahaan, karena secara tidak langsung perusahaan menjadi kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan yang seharusnya didapatkan.
PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) Palembang atau yang lebih dikenal sebagai PT PUSRI adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri pupuk. Persediaan barang dagangan yang terdapat pada PT Pusri (Persero) Palembang terdiri dari persediaan urea dan hasil produksi sampingannya. Untuk memenuhi kebutuhan barang-barang tersebut dan untuk menunjang kegiatan pemasaran, maka perusahaan perlu mengadakan suatu persediaan barang dagangan dalam jumlah tertentu yang disimpan dalam gudang untuk selanjutnya dikeluarkan ke truk, kapal atau alat angkut lainnya dan kemudian dikirim ke gudang unit pemasaran masing-masing daerah.
Audit operasional atas persediaan barang dagangan perlu dilakukan untuk menentukan apakah nilai persediaan yang diajukan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dan apakah prosedur pengelolaan persediaan barang dagangan tersebut telah dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Audit atas persediaan adalah bagian yang paling kompleks dan memerlukan waktu yang cukup banyak untuk melakukan suatu pemeriksaan, karena pemeriksaan terdiri dari berbagai macam jenis dan tersebar di beberapa lokasi.
Audit operasional atas persediaan barang dagangan pada PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) Palembang dilaksanakan oleh Tim Pengawasan Operasional selaku internal auditor yang ditunjuk oleh Kepala satuan Pengawasan Intern yang merupakan departemen tersendiri. Audit operasional tersebut dilakukan secara periodik, yaitu setahun sekali pemeriksaan (per tahun), tentu saja ketentuan ini sudah ditetapkan terlebih dahulu oleh perusahaan dan tercantum dalam PKPT (Program Kerja Pemeriksaan tahunan).
Dalam melakukan audit, auditor ini mengadakan pemeriksaan ke lokasi gudang untuk melakukan pemeriksaan fisik atas persediaan barang, kemudian membandingkannya dengan laporan persediaan dan menilai pelaksanaan prosedur pengelolaan persediaan yang dilakukan oleh Dinas Pengantongan Urea dan Ekspedisi.
Pengelolaan persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting, karena pemeriksaan fisik atas persediaan ini banyak melibatkan investasi rupiah dan mempengaruhi efektifitas dan efisiensi kegiatan perusahaan. Oleh sebab itu, audit operasional atas persediaan barang sangat diperlukan untuk mengurangi resiko terjadinya selisih, kehilangan, mengantisipasi kemungkinan terjadinya kecurangan dan memastikan bahwa prosedur telah dilakukan dengan baik sehingga kemudian dapat dibuatlah suatu usulan perbaikan. Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk memilih judul:
“HUBUNGAN AUDIT OPERASIONAL DAN PENGELOLAAN PERSEDIAAN BARANG DAGANGAN TERHADAP PENINGKATAN LABA PADA PT PUSRI (PERSERO) PALEMBANG BULAN MEI 2007”

1.2. Rumusan Masalah
Setiap perusahaan, termasuk PT Pupuk Sriwidjaja, dalam menjalankan usahanya bertujuan untuk mencapai tujuan perusahaan seperti maksimalisasi laba, mengembangkan perusahaan, maupun mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Dari uraian di atas, peneliti dapat mengemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut:
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Analisis Perkembangan Kemampuan Keuangan Daerah Dalam Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah Di Kab ...

ABSTRAKSI

Dalam menjalankan Otonomi Daerah, Pemerintah Daerah dituntut untuk menjalankan roda pemerintahan yang efektif, etlsien, dan mampu mendorong peran masyarakat dalam meningkatkan pemerataan dan keadilan dengan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Keberhasilan Otonomi Daerah tidak terlepas dari kemampuan dalam bidang keuangan
Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat perkembangan kemampuan keuangan di Kabupaten Sukoharjo dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi daerah. Penelitian ini mengambil lokasi di Kabupaten Sukoharjo. Sedangkan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data keuangan APBD di Kabupaten Sukoharjo tahun anggaran 2001-2005. Adapun teknik pengumpulan data adalah dengan dokumentasi dan yang dilakukan di BKD Kabupaten Sukoharjo
Metode Penelitian adalah Deskriptif Komparatif, dengan menggunakan beberapa rasio keuangan, yaitu rasio kemandirian keuangan daerah, derajat desentralisasi tiskal, indeks kemempuan rutin, rasio keserasian dan rasio pertumbuhan. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut : Berdasarkan rasio kemandirian keuangan daerah yang ditunjukkan dengan angka rasio rata-ratanya adalah 7,88% masih berada diantara 0% - 25% tergolong mempunyai pola hubungan instruktif yang berarti kemampuan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo dalam memenuhi kebutuhan dana untuk penyelenggaraan tugas-tugas Pemerintahan, Pembangunan dan Pelayanan Sosial masyarakat masih relatif rendah meskipun dari tahun ke tahun mengalami kenaikan dan penurunan Dalam Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal hanya memiliki rata-rata 6,80%. hal ini berarti bahwa tingkat kemandirian/kemampuan keuangan Kabupaten Sukoharjo masih rendah dalam melaksanakan otonominya. Berdasarkan rasio IKR rata-rata hanya sebesar 9,75 %, ini artinya PAD memiliki kemampuan yang sangat kurang untuk membiayai pengeluaran rutinnya. Pada Rasio Keserasian, pengeluaran belanja rutin lebih besar dibandingkan dengan belanja pembangunan. Sedangkan dalam Rasio Pertumbuhan, secara keseluruhan mengalami peningkatan disetiap tahunnya yang disebabkan bertambahnya pajak dan retribusi daerah.
Dengan melihat hasil analisis diatas, perkembangan keuangan di Kabupaten Sukoharjo disektor Keuangan masih kurang. Untuk itu diperlukan upaya untuk peningkatan PAD baik secara ekstensifikasi yaitu pemerintah daerah harus dapat mengidentifikasi potensi daerah sehingga peluang-peluang baru untuk sumber penerimaan daerah dapat dicari, sedangkan secara intensifikasi dengan memeperbaiki kinerja pengelolaan pemungutan pajak.
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Analisis Pengaruh Pemberian Kredit Terhadap Pendapatan Pedagang Kecil PD. BPR BKK Purwodadi Caban

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pelaksanaan pembangunan disamping untuk meningkatkan pendapatan nasional sekaligus harus menjamin pembagian yang merata bagi seluruh rakyat. Hal ini bukan hanya dalam meningkatkan produksi saja tetapi juga untuk mencegah melebarnya jurang pemisah antara kaya dan miskin sehingga tercipta masyarakat yang adil dan makmur, sesuai dengan tujuan pembangunan di Indonesia.
Menurut Undang-undang No. 7/1992 menyebutkan bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan menyalurkan kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Untuk memperlancar operasinya, bank mendirikan cabang didaerah-daerah dengan tujuan memberikan pelayanan jasa bank kepada masyarakat terutama pada golongan ekonomi lemah. Dengan adanya pemberian kredit tersebut dapat menguntungkan semua pihak diantaranya pemerintah yaitu tercapainya salah satu tujuan pembangunan nasional dalam bentuk kesejahteraan umum. Bagi bank, dengan adanya cabang tersebut akan memperbesar dan memperluas pemberian kredit khususnya kepada pedagang kecil. Bagi masyarakat, dengan adanya cabang bank tersebut akan lebih mudah mendapatkan pelayanan kredit.
Penyaluran kembali dana yang diperoleh kepada masyarakat antara lain melalui BPR BKK yaitu Badan Kredit Kecamatan yang dibuka di tingkat kacamatan. Adapun pengertian BKK menurut PERDA propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah No. 11 tahun 1981 pasal 3, yaitu BKK merupakan badan usaha daerah yang mempertanggungjawabkan pengelola dalam wilayah kabupaten atau kota masing-masing diserahkan kepada bupati/walikota.
Adapun prosedur permohonan kredit di BPR BKK adalah sederhana, dengan persyaratan-persyaratan yang ringan berupa suku bunga yang relatif kecil dibanding dengan suku bunga yang ada pada bank lain.
Pengawasan kredit BKK benar-benar bermanfaat, karena bukan semata-mata untuk mencari kesalahan atau menjatuhkan sanksi kepada debitur melainkan dititikberatkan pada pengarahan dan pembinaan, sehingga debitur dapat semakin maju dan berkembang serta meningkatkan perkembangan rentabilitas BPR BKK tersebut.
Dalam menjalankan operasionalnya PD. BPR BKK Purwodadi Cabang Kedungjati telah memanfaatkan potensi-potensi wilayah yang ada, dengan mengadakan pendekatan-pendekatan mengingat penyebaran penduduk di daerah Kedungjati yang tidak merata dan beraneka ragam latar belakang pekerjaannya sedangkan dalam penyaluran kreditnya PD. BPR BKK Purwodadi Cabang Kedungjati lebih banyak memberikan kredit kepada pedagang kecil yang kebanyakan berada di lokasi-lokasi pasar-pasar tradisional yang strategis.
Dari hasil penyebaran penduduk menurut pekerjaannya masih banyak peluang untuk memberikan kredit dalam rangka mengembangkan perekonomian khususnya di Kecamatan Kedungjati Kabupaten Grobogan dan meningkatkan pendapatan pedagang kecil.
Dari jumlah penduduk yang ada dengan mata pencahariannya yang berbeda – beda jika dibandingkan dengan penyaluran kredit yang diberikan oleh PD. BPR BKK Purwodadi Cabang Kedungjati masih sangat sedikit, jadi masih dimungkinkan penyaluran kredit bagi pedagang kecil di tambah expansinya baik nasabah maupun kredit yang diberikan.
Dengan melihat pentingnya kredit di tingkat kecamatan maka penulis ingin membahas perkreditan di tingkat kecamatan tersebut. Dan berdasarkan pertimbangan di atas penyusun memilih judul “ ANALISIS PENGARUH PEMBERIAN KREDIT TERHADAP PENDAPATAN PEDAGANG KECIL PD. BPR BKK PURWODADI CABANG KEDUNGJATI KABUPATEN GROBOGAN “.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas maka diajukan beberapa masalah dalam penelitian dan penulisan skripsi ini.
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Perubahan Harga Saham Pada Perusahaan Perbankan Di...

INTISARI

Dalam melakukan prediksi harga saham terdapat pendekatan dasar yaitu
analisis fundamental dan analisis teknikal. Analisis ini untuk mengetahui kinerja
keuangan perusahaan dengan menggunakan rasio- rasio. Untuk menilai tingkat
kesehatan perbankan digunakan metode CAMEL yang merupakan standar Bank
Indonesia dalam menilai tingkat kesehatan bank. Permasalahan dalam penelitian
ini adalah bagaimana pengaruh rasio keuangan yang terdiri dari : CAR, RORA,
NPM, ROA, BOPO dan LDR terhadap perubahan harga saham di Bursa Efek
Jakarta (BEJ) baik secara parsial maupun simultan dan eberapa besar pengaruh
tersebut. Sedangkan tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis
pengaruh rasio- rasio keuangan CAR, RORA, NPM, ROA, BOPO dan LDR
terhadap perubahan harga saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan seberapa
besarnya pengaruh tersebut.
Populasi dalam penelitian ini adalah sektor perbankan yang go public di
Bursa Efek Jakarta sebanyak 26 bank. Sampel ditentukan dengan teknik purposive
sampling dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang representatif sesuai
dengan kriteria yang ditentukan. Adapun sampel dalam penelitian ini ada 15
perusahaan perbankan. Variabel dalam penelitian ini ada dua yaitu; variabel bebas
meliputi CAR, RORA, ROA, LDR, BOPO dan NPM. Sedangkan untuk variabel
terikatnya adalah perubahan harga saham pada perusahaan perbankan di BEJ.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada pengaruh yang
signifikan antara CAR, RORA, dan LDR terhadap harga saham perusahaan
perbankan di Bursa Efek Jakarta secara parsial, artinya Ha diterima. Sedangkan
hasil uji parsial untuk ROA, BOPO dan NPM terhadap harga saham perusahaan
perbankan di Bursa Efek Jakarta tidak berpengaruh secara signifikan, artinya Ha
ditolak. Untuk uji secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara
variabel X1, X2 , X3, X4, X5 dan X6 secara bersama-sama terhadap variabel Y
(Harga Saham) pada perusahaan perbankan go public, Ha diterima. Besarnya
pengaruh tersebut adalah 0.521 atau 52.1%. Sedangkan sisanya sebesar 47.9%
dipengaruhi faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini. Untuk besarnya
pengaruh secara parsial diketahui bahwa besarnya pengaruh X1 terhadap Y
sebesar 11.56%, X2 terhadap Y sebesar 13.76%, X3 terhadap Y sebesar 1.46%, X4
terhadap Y sebesar 15.85%, X5 terhadap Y sebesar 2.65% dan besarnya pengaruh
antara X6 terhadap Y sebesar 3.24%.
Adapun saran yang dapat penulis berikan adalah karena penelitian ini
hanya terbatas pada kajian empiris tentang analisis pengaruh kinerja keuangan
terhadap perubahan harga saham pada perusahaan perbankan di Bursa Efek
Jakarta (BEJ), tetapi tidak sampai kepada pemecahan masalah tentang bagaimana
ix
dampak kinerja keuangan perusahaan terhadap perubahan harga sahamnya,
sehingga akan mampu meningkatkan laba perusahaan. Oleh karena itu, peneliti
lain yang berminat terhadap permasalahan kinerja keuangan seharusnya
melakukan pengembangan pada perusahaan lainnya, misalnya perusahaan
manufaktur atau seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Kelengkapan Pengungkapan Dalam Laporan Tahunan Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEJ

LATAR BELAKANG PENELITIAN

Bagi pihak-pihak diluar manajemen suatu perusahaan, laporan keuangan merupakan
jendela informasi yang memungkinkan mereka untuk mengetahui kondisi suatu perusahaan
pada suatu masa pelaporan. Dimana Informasi yang didapat dari suatu laporan keuangan
perusahaan tergantung pada tingkat pengungkapan (Disclosure) dari laporan keuangan yang
bersangkutan. Pengungkapan informasi dalam laporan keuangan harus memadai agar dapat
digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan sehingga menghasilkan keputusan yang
cermat dan tepat. Perusahaan diharapkan untuk dapat lebih transparan dalam mengungkapkan
informasi keuangan perusahaannya, sehingga dapat membantu para pengambil keputusan
seperti investor, kreditur, dan pemakai informasi lainnya dalam mengantisipasi kondisi
ekonomi yang semakin berubah.
Pengungkapan dalam laporan keuangan dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu
pengungkapan wajib (Mandatory Disclosure) dan pengungkapan sukarela (Voluntary
Disclosure) (Darrough, 1993 dalam Ainun Na’im dan Fuad Rakhman, 2000). Pengungkapan
wajib merupakan pengungkapan minimum yang disyaratkan oleh standar akuntansi yang
berlaku (peraturan mengenai pengungkapan laporan keuangan yang dikeluarkan oleh
pemerintah melalui keputusan ketua BAPEPAM No. SE-02/PM/2002). Sedangkan
pengungkapan sukarela merupakan pilihan bebas manajemen perusahaan untuk memberikan
informasi akuntansi dan informasi lainnya yang dipandang relevan untuk keputusan oleh para pemakai laporan keuangan tersebut. Menurut peraturan mengenai laporan keuangan yang ada di Indonesia hal semacam ini dimungkinkan.
Penelitian tentang kelengkapan pengungkapan dalam laporan tahunan dan faktor-faktor
yang mempengaruhinya merupakan hal yang penting dilakukan. Dimana akan memberikan
gambaran tentang sifat perbedaan kelengkapan pengungkapan antar perusahaan dan faktorfaktor
yang mempengaruhinya, serta dapat memberikan petunjuk tentang kondisi perusahaan
pada suatu masa pelaporan. Dalam pencapaian efisiensi dan sebagai sarana akuntabilitas
publik, pengungkapan laporan keuangan menjadi faktor yang signifikan. Pengungkapan
laporan keuangan dapat dilakukan dalam bentuk penjelasan mengenai kebijakan akuntansi
yang ditempuh, kontinjensi, metode persediaan, dan jumlah saham yang beredar dan ukuran
alternatif, misalnya pos-pos yang dicatat dalam historical cost.
Bambang Suripto (1999) meneliti pengaruh karakteristik perusahaan terhadap luas
pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan, dengan menggunakan sampel pada
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1995 sebagai sampel penelitian.
Karakteristik perusahaan mendapat perhatian penting dalam penelitian tersebut karena peneliti
berangkat bertitik tolak dari pemikiran bahwa sejauh mana pengungkapan sukarela oleh
perusahaan sangat tergantung pada perbandingan antara biaya dan manfaat pengungkapan
tersebut, dan perbandingan biaya manfaat tersebut akan sangat ditentukan oleh karakteristikkarakteristik
tertentu dari perusahaan yang bersangkutan.
Beberapa penelitian empiris terdahulu menunjukkan bahwa karakteristik-karakteristik
perusahaan yang mempengaruhi kelengkapan pengungkapan meliputi : (1) Rasio leverage
suatu perusahaan (Ainun Na’im dan Fuad Rakhman, 2000). Schipper (1981) dalam Marwata
(2001) menyatakan bahwa semakin tinggi rasio leverage maka akan menyediakan informasi
secara lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan kreditur jangka panjang. (2) Size perusahaan
(Fitriani, 2001). Penelitian Fitriani (2001) menyatakan bahwa variabel size perusahaan
mempengaruhi kelengkapan pengungkapan. Cooke (1989) dalam Fitriani (2001) Semakin
besar size suatu perusahaan maka akan semakin tinggi pengungkapannya. (3) Rasio Likuiditas
(Edy subiyantoro, 1996) dalam Fitriani (2001). Cooke (1989) dalam Fitriani (2001)
menyatakan bahwa kondisi perusahaan yang sehat, yang antara lain ditunjukkan dengan
tingkat likuiditas yang tinggi, berhubungan dengan pengungkapan yang lebih luas. (4) Net
Profit Margin (Fitriani, 2001). Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa net profit margin
mempengaruhi kelengkapan pengungkapan laporan keuangan perusahaan publik. Singvi dan
Desai (1989) dalam Binsar H.Simanjuntak dan Lusy Widiastuti (2004) mengutarakan bahwa
rentabilitas ekonomi dan profit margin yang tinggi akan mendorong para manajer untuk
memberikan informasi yang terinci. (5) Status Perusahaan (Fitriani, 2001). Dalam
penelitiannya membuktikan bahwa variabel status perusahaan mempengaruhi kelengkapan
pengungkapan. Menurut Susanto (1992) dalam Fitriani (2001), perusahaan berbasis asing
(PMA) mungkin melakukan pengungkapan yang lebih luas. Berdasarkan uraian-uraian diatas,
maka peneliti ingin melakukan penelitian mengenai pengaruh karakteristik perusahaan
terhadap kelengkapan pengungkapan dalam laporan tahunan perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEJ.

KAJIAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
KELENGKAPAN PENGUNGKAPAN
Imhoff (1992) dalam Ainun Na’im dan Fuad Rakhman (2000) menyatakan kualitas
sebagai atribut yang penting dari suatu informasi akuntansi. Meskipun kualitas akuntansi
masih memiliki makna ganda banyak penelitian yang menggunakan indeks of disclosure
methodology mengemukakan bahwa kualitas pengungkapan dapat diukur dan digunakan
untuk menilai manfaat potensial dari sisi laporan tahunan. Jadi Imhoff mengatakan bahwa
tingginya kualitas informasi akan sangat berkaitan dengan tingkat kelengkapan. Untuk
mengukur kelengkapan pengungkapan dapat dinyatakan dalam bentuk Indeks Kelengkapan
Pengungkapan, dimana perhitungan indeks kelengkapan pengungkapan dilakukan sebagai
berikut :
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Teman DiskusiSkripsi.com


 

Free Affiliasi Program