> Berita
Asean di Tingkat Arus Besar Globalisasi
16/02/2008 05:34:51 Komisi I DPR RI telah menggelar dengar pendapat dengan para pakar, wakil dari universitas dan lembaga pengkajian (UGM, UI, CSIS, KOMNAS HAM), dan nara sumber lain Mantan Menlu RI Ali Alatas, pada tanggal 4 Februari 2008 yang lalu guna memeroleh masukan-masukan sebagai bahan pertimbangan DPR untuk ratifikasi Piagam ASEAN. Hasil dengar pendapat itu memang belum memuaskan Komisi I DPR RI. Para pakar dan akademisi di samping melihat banyak lubang-lubang kelemahan (loopholes) dalam piagam, dan ketidaksiapan Indonesia, pendapat mereka juga terpecah: DPR meratifikasi piagam, dan DPR tidak meratifikasi piagam. Jika DPR meratifikasi piagam ASEAN, apa menfaatnya bagi Indonesia, dan jika tidak, apa kerugian Indonesia dan ASEAN? Pertanyaan yang tidak kalah pentingnya adalah jika piagam ASEAN diratifikasi oleh semua parlemen negara-negara anggota apakah ASEAN akan menjadi sebuah organisasi kerja sama Asia Tenggara yang efektif dalam arti mampu berperan secara substansial dan bermakna dalam menjawab dinamika tantangan-tantangan ekonomi politik ekstra regional dan global, sehingga ASEAN bermanfaat tidak saja bagi Indonesia, tetapi juga bagi seluruh anggota? Tulisan ini difokuskan untuk melihat bagaimana sebenarnya kohesivitas dan kapabilitas ASEAN saat ini dan ke depan dalam menghadapi dan menjawab dinamika berbagai tantangan ekonomi politik ekstra regional dan global yang ditimbulkan oleh globalisasi. Pentingnya Kohesivitas Organisasi. Tidak ada kata sepakat di kalangan ilmuwan hubungan internasional, baik realis, liberal, maupun strukturalis (Cohn, 2003; Gilpin dan Gilpin, 2001; dan Hurrel, 1995) mengenai bagaimana regionalisme muncul dan menjadi trend dalam studi hubungan internasional. Namun demikian, setiap pengelompokan regional merupakan upaya dari negara bangsa, baik secara individual, maupun secara bersama untuk memperjuangkan tujuan ekonomi politik mereka, nasional maupun kolektif. Dalam perkembangannya, sebagai respons terhadap ekonomi global yang semakin terintegrasi, pengelompokan regional semakin meningkatkan pula kerja sama di kalangan anggotanya untuk memperkuat otonomi, memperbaiki posisi tawar, dan memperjuangkan tujuan ekonomi politik mereka. Sekalipun pada awal pembentukannya, pengelompokan regional ASEAN tidak dimaksudkan untuk merespons globalisasi, ke depan tujuan-tujuan ASEAN sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh kohesivitas dan kapabilitas organisasi regional itu dalam mengakomodasi dinamika, perubahan-perubahan lingkungan yang sangat cepat, dan persaingan yang sangat ketat dalam ekonomi politik global yang ditimbulkan oleh globalisasi. Kohesivitas sosial, ekonomi dan politik mempunyai peran sangat penting dalam menopang keberhasilan regionalisme (Cantori dan Siegel, 1970). Oleh karenanya, pekerjaan yang paling berat bagi ASEAN secara internal adalah mengatasi semua kendala internal dan perbedaan di kalangan negara anggotanya guna meningkatkan kohesivitas dan kapabilitas organisasi. Globalisasi dan Implikasi ekonomi politik Pada dasarnya, tidak ada kesepakatan di kalangan ilmuwan hubungan internasional dalam menjelaskan globalisasi (Held, et.al.; Scholte, 2000; dan Giddens, 2000), tetapi bahwa globalisasi mempunyai pengaruh besar dalam hampir semua aspek kehidupan, khususnya ekonomi dan politik abad ini merupakan fakta yang nampaknya tidak dapat dibantah. Globalisasi atau lebih tepatnya globalisasi neoliberal (Gill, 2000) telah menantang kapasitas ekonomi politik negara bangsa. Dalam bidang politik, negara bangsa tidak lagi menjadi aktor tunggal, sekalipun keberadaannya tetap menjadi unit penting dalam ekonomi politik global dewasa ini (Gilpin dan Gilpin, 2001). Di bidang ekonomi, dampak globalisasi ini berlangsung melalui tiga mekanisme, yakni tekanan perdagangan yang semakin kompetitif, multinasionalisasi produksi, dan integrasi pasar keuangan (Garret, 2000). Dalam kaitannya dengan regionalisme, globalisasi akan mendorong regionalisme dalam empat cara (Hurrel, 1995:20, Coleman dan Underhill, 1998). Pertama, integrasi yang semakin mendalam menciptakan persoalan-persoalan yang membutuhkan manajemen kolektif, dan spesifik. Kedua, karakteristik global dalam banyak isu seringkali dilebih-lebihkan, dan dampaknya lebih sering dirasakan dalam suatu kawasan. Ketiga, dorongan untuk melakukan rekonsiliasi menuju integrasi pasar secara global, dan tekanan-tekanan teknologi ke arah globalisasi dan integrasi di satu sisi, dan pada sisi lain, kecenderungan ke arah fragmentasi dalam waktu bersamaan. Keempat, integrasi global barangkali merupakan stimulus yang paling kuat dalam mendorong regionalisme ekonomi melalui pengintensifan pola-pola kompetisi ekonomi merkantilis. Dalam hal ini, muncul dan meluasnya regionalisme ekonomi merupakan respons penting negara-negara bangsa untuk menyelesaikan secara bersama masalah-masalah ekonomi politik dan interdependensi yang tinggi dalam ekonomi global. Bagaimana Kohesivitas dan kapabilitas ASEAN? Ketika ASEAN dibentuk pada tahun 1967, organisasi regional ini tidak ditujukan secara spesifik untuk merespons globalisasi. Namun dalam perkembangannya, dinamika kerja sama regional di Asia Tenggara ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh besar globalisasi, khususnya globalisasi ekonomi. Oleh karena itu, ASEAN telah melakukan berbagai upaya untuk “menyiapkan diri” dalam menghadapi globalisasi (ekonomi), yang semakin hari “terjangan gulungan ombaknya yang besar” dirasakan sangat kuat dan bisa menghempaskannya. Pertama, Deklarasi ASEAN yang termaktub dalam Bali Concord II merupakan langkah awal bagaimana kerja sama regional ini diarahkan untuk merespons globalisasi ekonomi. Kedua, ASEAN Economic Community (AEC) merupakan realisasi atas tujuan akhir integrasi ekonomi sebagaimana telah digariskan dalam visi ASEAN 2020, yang kemudian implementasinya dipercepat dan bisa diwujudkan dalam tahun 2015. Meskipun semua ini merupakan “langkah kemajuan” ASEAN, tetapi perlu dicatat bahwa apa yang dicapai oleh ASEAN dalam upaya meliberalisasi kawasan dan menciptakan kawasan yang terintegrasi secara ekonomi kurang meyakinkan. Salah satu faktornya adalah tiadanya langkah-langkah kongkrit yang ditujukan untuk menopang AFTA. Selain itu, usaha-usaha ASEAN untuk mendorong integrasi di kawasan juga menghadapi banyak kendala karena tingginya kesenjangan sosial-ekonomi diantara kesepuluh negara anggotanya. Para kritisi melihat bahwa kerja sama ASEAN tidak cukup mendorong integrasi ekonomi dan kurang memacu perdagangan intraregional. Ini terjadi sebagai akibat kurangnya political will dan sosialisasi pemerintah negara-negara anggota kepada sektor-sektor swasta. Dalam kondisi seperti ini, sulit bagi ASEAN untuk mampu memperkuat posisinya dalam aras globalisasi yang semakin kompetitif. Kerja sama regional semacam ASEAN seyogianya dapat memberikan manfaat kepada negara-negara anggota untuk memperkuat kapasitas diri dalam ekonomi dan politik, yang pada akhirnya mampu melayani kepentingan negara-negara anggotanya. Sementara itu, perbedaan-perbedaan yang terjadi di kalangan anggota ASEAN - sebagai akibat dari banyak persinggungan kepentingan, yang dalam banyak hal sulit dicari kata mufakat - juga ikut menyumbang bagi lemahnya kohesivitas kerja sama kawasan dalam menopang ASEAN sebagai sebuah kekuatan regional di Asia Tenggara yang layak diperhitungkan dalam ekonomi politik global. Sayangnya, ragam perbedaan dan kepentingan ini di kalangan negara anggota tidak dapat segera diselesaikan. Akibatnya, ASEAN mengalami kesulitan dalam membangun kapabilitas organisasi ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik ekstra regional dan global di tengah arus besar globalisasi yang semakin kuat. Padahal waktu tinggal sebentar lagi untuk mewujudkan Komunitas ASEAN (ASEAN Community) tahun 2015, jika parlemen semua negara anggota meratifikasi piagam ASEAN. q - c. (3075-2008). *) Prof Drs Budi Winarno MA PhD, Guru Besar Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIPOL, UGM, Yogyakarta.

------
SOSIALISASI MENUJU 'ASEAN COMMUNITY 2015' ; Konflik dan Saling Curiga Mereda
06/03/2008 08:37:22 YOGYA (KR) - Tumbuhnya kesadaran perlunya kerja sama untuk meningkatkan taraf hidup di antara bangsa-bangsa se-kawasan sekaligus meredakan rasa saling curiga, telah mendorong negara-negara di Kawasan Asia Tenggara (ASEAN) untuk mengupayakan pengembangan kerjasama. Perkembangan geopolitik di Asia Tenggara dan meredanya rasa saling curiga serta konflik itu juga telah mempengaruhi usaha-usaha untuk mencari pemecahan bersama atas berbagai masalah yang dihadapi negara-negara ASEAN. Demikian dikatakan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X melalui Kepala Bapeda DIY Ir H Setyoso Hardjowisastro MSi, pada Sosialisasi Perkembangan Asean Menuju Asean Community 2015 di Gedung Pracimosono Kepatihan Yogya, Rabu (4/3). Dikatakan, mengingat kerjasama regional ASEAN semakin luas khususnya di bidang perekonomian, maka perekonomian Indonesia harus siap menghadapi tantangan baru, suatu lingkungan yang tidak hanya berbeda dalam wujud fisik, tetapi juga pada elemen-elemen dari sistem dan mekanisme yang membentuknya. "Adanya perubahan dan dinamika ekonomi dunia yang demikian cepat, mau tidak mau mengharuskan pemerintah dan masyarakat tanggap serta semakin cepat mengambil keputusan. Sehingga dapat memperkuat dan mengamankan posisi Indonesia di tengah-tengah ketidakpastian ekonomi dunia," tandas Sultan. (San/Fia)-f Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Departeman Luar Negri Artauli RMP Tobing mengemukakan, salah satu yang dirasakan dan harus diketahui bersama adalah perkembangan Asean yang belum banyak diketahui masyarakat luas termasuk Indonesia. Bahkan banyak kalangan melihat, suasana kondusif di Kawasan Asia Tenggara yang stabil selama 40 tahun ini terjadi dengan sendirinya, meski terciptanya perdamaian serta pembangunan ekonomi antarnegara kawasan dimungkinkan adanya saling pengertian dan peran penting kerja sama Asean. "Banyak kalangan yang tidak mengetahui peran dan kontribusi Indonesia yang bukan saja sebagai salah satu pendiri Asean, tetapi juga sebagai salah satu pelopor dalam perumusan Piagam Asean dan KTT Asean ke-9 di Bali 2003, di mana konsep Komunitas Asean merupakan pengembangan dari gagasan Indonesia atas adanya kebutuhan sebuah Asean political security, yang kemudian dilanjutkan gagasan Asean Economic dan Asean Socio-Cultural Comunity," jelas Artauli. (San/Fia)

-----
Masih Banyak Pelajar Belum Paham ASEAN
04/04/2008 12:33:00 SOLO (KR) - Sosialisasi tentang Association of South East Asian Nation (ASEAN) di kalangan pelajar masih perlu dilakukan terus. Karenanya Departemen Luar Negeri masih getol menggelar kampanye tentang ASEAN di kalangan pelajar, salah satunya dilakukan di depan murid-murid Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Solo. Bindu Marbun, Deputi Direktorat Politik dan Keamanan Deplu mengatakan meski Desember lalu telah ditandatangani Piagam ASEAN (ASEAN Charter), namun kenyataannya masih banyak masyarakat yang belum paham tentang ASEAN. Hal ini membuat Departemen Luar Negeri merasa perlu untuk terus melakukan sosialisasi tentang perkembangan ASEAN. Menurutnya, Piagam ASEAN perlu dipahami sejak sekarang, karena memiliki pengaruh besar pada kehidupan politik, keamanan dan sosial budaya. Kalau pelajar menjadi sasaran sosialisasi perkembangan ASEAN dengan pertimbangan merekalah nantinya yang akan menjadi generasi penerus dalam memimpin bangsa dan negara. "Selama ini ASEAN terasa tak terlalu dekat dengan masyarakat. Urusan ASEAN masih dianggap urusan pejabat kalangan atas, sehingga masyarakat merasa tak perlu tahu. Padahal, ada banyak perubahan yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara," ungkap Marbun. Deplu berupaya sampai Juli akan terus melakukan sosialisasi. Menurut rencana, bersamaan digelarnya KTT ASEAN ke 14 di Bangkok Desember 2008 akan dilakukan ratifikasi. Adanya kesepakatan kerja sama dalam 11 sektor merupakan rintisan terbentuknya komunitas ASEAN yang ditargetkan 2015. Lewat kerja sama ini nantinya akan ada standar yang berlaku di tingkat ASEAN. "Karena itu para pelajar juga harus disiapkan agar paham dalam menghadapi perkembangan mendatang." Marbun menyatakan kagum terhadap respons para pelajar dalam membicarakan soal ASEAN. Hal serupa diharapkan juga terjadi pada sosialisasi di kalangan pendidikan tinggi, birokrat, pengusaha maupun kalangan media massa. (Qom)-g
----

Teman DiskusiSkripsi.com


 

Free Affiliasi Program