Pengaruh Konsentrasi Kaustik Soda Dan Temperatur Mesin Pencuci Terhadap Kebersihan Botol Pada Pt.Oca-Cola Bottling Indonesia Unit Medan

Abstract
PT. Coca-cola Bottling Indonesia Unit Medan mengemas produk akhirnya, yaitu minuman ringan (soft drink) dengan kemasan botol gelas dan botol plastik. Botol-botol yang digunakan untuk pengisian minuman harus bersih (bebas dari kotoran), tidak rusak atau pecah. Untuk itu botol-botol sebelum digunakan harus dicuci terlebih dahulu. Botol bekas yang datang dari konsumen dan botol yang akan dimasukkan ke mesin pencuci botol, disortir terlebih dahulu, tujuannya untuk memisakan botol-botol yang terlalu kotor atau rusak dengan botol yang masih layak digunakan dan yang tidak terlalu kotor. Botol yang terlalu kotor akan dipisahkan untuk dicuci secara manual, sementara botol yang rusak/pecah akan disisihkanFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pengaruh Konsentrasi Emulsi Lilin Dan Lama Penyimpanan Terhadap Mutu Buah Jeruk Manis

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh konsentrasi emulsi lilin dan lama penyimpanan terhadap kadar vitamin C dan nilai organoleptik (warna, aroma dan rasa) dari buah jeruk manis (Citrus sinensis, Linn.). Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor yaitu: konsentrasi emulsi lilin (K1=0%, K2=3%, K3= 6%, K4=9%) dan lama penyimpanan (L1=0 hari, L2=5 hari, L3=10 hari, L4=15 hari, L5=20 hari).
Penetapan kadar vitamin C dilakukan dengan titrasi menggunakan 2,6-diklorofenol indofenol dan nilai organoleptik (warna, aroma dan rasa) ditentukan dengan uji hedonik menggunakan panelis tak terlatih.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi emulsi lilin memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap kadar vitamin C dan nilai organoleptik (warna, aroma dan rasa). Dimana kadar vitamin C, nilai organoleptik warna dan aroma meningkat dengan meningkatnya konsentrasi emulsi lilin sedangkan nilai organoleptik rasa meningkat sampai dengan K3 dan menurun pada K4. Lama penyimpanan memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata terhadap kadar vitamin C dan nilai organoleptik rasa. Dimana kadar vitamin C dan nilai organoleptik rasa menurun dengan meningkatnya lama penyimpanan
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pengaruh Kombinasi Starter Plain Yoghurt Dengan Cairan Tape Pulut Hitam Terhadap Karakteristik Yoghurt Yang Dihasilkan

Abstrak
Yoghurt merupakan minuman hasil fermentasi susu dengan starter campuran yang terdiri dari Streptococcus thermophillus dan Lactobacillus delbrueckii subspecies Bulgaricus, yang mengandung sedikit laktosa., sehingga baik dikonsumsi bagi penderita lactose intolerance. Banyak konsumen yang tidak menyukai rasa yoghurt yang terlalu asam. Cairan tape pulut hitam mengandung bakteri asam laktat dan aktivitas enzim proteolitik yang mampu menggumpalkan susu sehingga dapat dikombinasikan dengan starter plain yoghurt untuk menghasilkan yoghurt dengan rasa yang lebih disukai karena berasa manis dan tidak terlalu asam.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi starter plain yoghurt dengan cairan tape pulut hitam terhadap karakteristik yoghurt yang dihasilkan meliputi pH, Total Asam, Kadar Laktosa dan Cita Rasa. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok dengan 5 perlakuan dan 2 kali pengulangan. pH ditentukan dengan menggunakan pH meter. Total asam ditentukan dengan metode Mann’s acid dengan titrasi menggunakan NaOH 0,1N. Kadar Laktosa ditentukkan menggunakan metode Munson Walker. Nilai organoleptik cita rasa ditentukan melalui penilaian panelis berdasarkan tingkat kesukaan/hedonik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi starter plain yoghurt dan cairan tape pulut hitam memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P < 0,05) terhadap pH, Total Asam, Kadar Laktosa dan Cita Rasa yoghurt yang dihasilkan. Semakin banyak cairan tape pulut hitam yang dikombinasikan maka semakin rendah pH dan kadar laktosa, serta semakin tinggi total asam yoghurt yang dihasilkan. Kombinasi 1,5% v/v starter plain yoghurt dan 5% v/v cairan tape pulut hitam menghasilkan yoghurt yang agak disuka
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pengaruh CO2 (Karbondioksida) Murni Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme Pada Produk Minuman Sprite Di PT. CocaCola Bottling Indonesia Unit Medan

ABSTRAK Karbondioksida adalah sebuah gas yang tidak berwarna dan tidak beracun pada konsentrasi yang sesuai/biasa. Penggunaan karbondioksida yang dilarutkan ke dalam minuman sudah sejak alam dilakukan untuk membuat minuman bersoda yang biasa disebut dengan karbonasi. Namun manfaat karbonasi ternyata bukan hanya untuk membuat gelembung atau buih, bahkan dari sifat–sifat karbondioksida yang terlarut dalam minuman juga berfungsi sebagai penghambat pertumbuhan mikroorganisme dalam minuman bersoda. Analisa mikrobiologi dilakukan dengan menggunakan metode membrane filter dan metode hitung cawan. Sehingga didapatkan jumlah mikroorganisme seperti yeast dan mold dapat dihambat sampai beberapa saat, jauh dari ambang batas yang diperbolehkan dalam minuman, dan bahkan untuk jumlah bakteri hasilnya adalah negatiFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Sulfatmetoksazol Dan Trimetoprin dalam Sediaan Tablet Dengan Nama Dagang Dan Generik Secara Simultan Dengan Metode Kromatografi Cair K

ABSTRAK
Telah dilakukan penetapan kadar sulfametoksazol dan trimetoprim dalam sediaan tablet dengan nama dagang dan generik dengan menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) fase balik dengan kolom VP-ODS (4,6 mm x 25 cm), fase gerak campuran air : asetonitril : trietilamin, laju aliran 2 ml/menit, sensitivitas 0,01 AUFS pada panjang gelombang 270 nm.
Hasil uji identifikasi sulfametoksazol BPFI, trimetoprim BPFI, sediaan tablet yang dibuat sendiri dan yang terdapat dalam perdagangan diperoleh waktu retensi yang sama yaitu 10 menit untuk sulfametoksazol dan 3 menit untuk trimetoprim.
Penentuan linieritas kurva kalibrasi menunjukkan hubungan yang linier antara luas puncak dengan konsentrasi untuk sulfametoksazol pada konsentrasi 50 sampai 250 μg/ml dengan koefisien korelasi, r = 0,9997 dan dari hasil perhitungan diperoleh persamaan regresi Y = 123057,9697 + 42046,8699X, untuk trimetoprim pada konsentrasi 10 sampai 50 μg/ml dengan koefisien korelasi, r = 0,9998 dan dari hasil perhitungan diperoleh persamaan regresi Y = 5460,4848 + 11816,2472X.
Uji validasi dari sediaan tablet yang dibuat sendiri, secara statistik diperoleh kadar sulfametoksazol yang sebenarnya 96.35% ± 3.29 dengan persen perolehan kembali = 96.35%, kesalahan relatif (KR) = 3.65%, koefisien variasi (KV) = 2.0%, limit deteksi (LOD)= 5.19 mcg/ml dan limit kuantitasi (LOQ) = 17.32 mcg/ml, untuk trimetoprim diperoleh kadar yang sebenarnya 96.67% ± 3.16 dengan persen perolehan kembali = 96.67%, kesalahan relatif (KR) = 3.33%, Universitas Sumatera Utara
koefisien variasi (KV)= 1.98%, limit deteksi (LOD) = 0.87 mcg/ml, limit kuantitasi (LOQ) = 2.89 mcg/ml.
Dari hasil penelitian diperoleh kadar sulfametoksazol dan trimetoprim dalam sediaan tablet dengan nama generik untuk produk PT. Indofarma, sulfametoksazol = 98.33% ± 2.52, dan trimetoprim = 98.70% ± 1.53, PT. Phyto Kemo Agung Farma, sulfametoksazol = 102.25% ± 2.46, trimetoprim = 100.93% ± 1.79, untuk sediaan dengan nama dagang yaitu produk PT. Roche (Bactrim), sulfametoksazol = 101.64% ± 2.78, trimetoprim = 101.95% ± 2.66.
Semua sediaan tablet yang dianalisis memenuhi persyaratan kadar yang tercantum dalam Farmakope Indonesia edisi IV (1995), yaitu mengandung sulfametoksazol dan trimetoprim tidak kurang 93,0% dan tidak lebih dari 107,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Sulfadoksin Dan Pirimetamin Dalam Sediaan Tablet Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

Abstrak
Campuran Sulfadoksin dan Pirimetamin merupakan salah satu jenis kombinasi dalam sediaan tablet yang berkhasiat untuk pengobatan penyakit malaria. Pirimetamin efektif digunakan pada P. Malariae dan kombinasinya dengan Sulfadoksin dapat meningkatkan efektifitas Pirimetamin.
United States Pharmacopoeia 30 (2007) merekomendasikan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi pada penetapan kadar campuran Sulfadoksin dan Pirimetamin dalam sediaan tablet dengan metode baku dalam, menggunakan fase gerak asetonitril dan asam asetat glasial dalam air 1% (1:4). Pada penelitian ini telah dicoba menggunakan metode baku luar dengan memodifikasi berbagai perbandingan fase gerak asetonitril dan asam asetat glasial dalam air 1%. Metode baku luar lebih praktis bila dibandingkan dengan baku dalam.
Bahan baku Sulfadoksin dan Pirimetamin sebelum digunakan terlebih dahulu diidentifikasi menggunakan spektrofotometer FTIR, sedangkan terhadap sampel dilakukan identifikasi secara KCKT. Dari hasil uji identifikasi menunjukkan bahwa bahan baku dan sampel yang ditentukan adalah Sulfadoksin dan Pirimetamin.
Hasil uji linieritas dari kurva kalibrasi diperoleh koefisien korelasi, untuk Sulfadoksin 0,9996 dan untuk Pirimetamin 0,9997 dengan masing-masing persamaan regresi Y=30931,2X + 317656 dan Y=19319,1X + 37454,2. Dari hasil uji validasi metode yang digunakan memberikan hasil akurasi dan presisi yang dapat diterima dengan persen perolehan kembali untuk Sulfadoksin = 103,13% (RSD=2,093%) dan Pirimetamin = 93,17% (RSD=1,66%).
Hasil penetapan kadar dari tiga sampel dengan nama dagang dan generik, terdapat satu sampel nama dagang yang tidak memenuhi persyaratan tablet menurut USP 30 (2007), yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiketFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Sakarin Dalam Minuman Ringan Limun Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

Abstract
Perkembangan produksi makanan yang terus meningkat dapat dilihat dari berdirinya perusahaan makanan baik makanan dalam wadah plastik, kaleng maupun dalam kemasan lainnya. Seiring dengan perkembangan tersebut, maka pemakaian zat tambahan makanan semakin banyak ragamnya seperti pengawet, pemanis serta pewarna juga semakin berkembang untuk memperoleh produk yang lebih menarik perhatian konsumen (Budiyanto, 2004). Pemanis adalah bahan tambahan makanan buatan yang ditambahkan pada makanan atau minuman untuk menciptakan rasa manis, namun sesungguhnya tidak mempunyai nilai gizi seperti sakarin. Sakarin merupakan pemanis buatan yang mempunyai rasa manis 200-700 kali sukrosa (Cahyadi, 2005). Dalam kehidupan sehari-hari bahan tambahan makanan sudah digunakan secara umum oleh masyarakat. Dalam praktek masih banyak produsen pangan yang menggunakan bahan tambahan yang beracun atau berbahaya bagi kesehatan yang sebenarnya tidak boleh digunakan. Hal ini disebabkan ketidaktahuan produsen pangan, baik mengenai sifat-sifat atau keamanan bahan tambahan makanan terhadap kesehatan (Syah, 2005).File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Pirantel Pamoat dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultraviolet

Abstrak
Penyakit karena cacing (helminthiasis) merupakan penyakit yang diderita oleh 90% anak Indonesia. Obat cacing yang paling banyak digunakan saat ini adalah pirantel pamoat. Monografi sediaan tablet pirantel pamoat hanya dijumpai pada Farmakope International (The International Pharmacopoeia) edisi IV, 2008 yang penetapan kadarnya dilakukan secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Metode ini memerlukan konsentrasi pengukuran yang lebih besar serta waktu dan biaya yang lebih lama dan mahal sehingga penelitian ini bertujuan untuk mencari metode alternatif yang lebih murah dan mudah dalam pelaksanaannya serta menentukan kesesuaian kadar tablet pirantel pamoat baik nama dagang maupun generik yang beredar di pasaran dengan persyaratan kadar yang ditetapkan Farmakope Internasional edisi IV, 2008.
Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu secara Spektrofotometri Ultraviolet dalam pelarut metanol pada panjang gelombang 289 nm. Metode ini memenuhi persyaratan uji validasi dengan persen perolehan kembali 98,50% dan Relative Standard Deviation (RSD) 1,31%, batas deteksi (LOD) 0,4145 mcg/ml dan batas kuantitasi (LOQ) 1,3818 mcg/ml.
Dari hasil penelitian diperoleh kadar tablet pirantel pamoat generik (Kimia Farma) sebesar 95,85% ± 3,29; pirantel pamoat (Indofarma) 100,42% ± 1,73 dan tablet nama dagang Konvermex® (Konimex) sebesar 93,99% ± 3,08; Combantrin® (Pfizer) 98,79% ± 2,35; Wormetrin® (Erela) 102,20% ± 1,51.
Berdasarkan data di atas menunjukkan kadar pirantel pamoat dalam sediaan tablet generik dan nama dagang memenuhi persyaratan menurut Farmakope Internasional edisi IV (2008), yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etikeFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Minyak Atsiri Dan Kadar Air Pada Kayu Manis Dengan Metode Destilasi

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Peranan minyak atsiri dalam kehidupan manusia telah memulai sejak beberapa abad yang lalu, yaitu sejak zaman pemerintahan raja Fir’aun di Mesir. Jenis minyak yang telah dikenal pada saat itu terbatas pada minyak atsiri tertentu, terutama yang berasal dari rempah-rempah (Ketaren, 1985).
Penggunaan minyak atsiri demikian luas sehingga sulit untuk menentukan apakah penyebab atau akibat yang mendorong perkembangan tersebut, pengunaan minyak atsiri sebagai obat–obatan menjadi kecil artinya dibandingkan penggunaannya pada parfum, minuman, bahan pangan dan sebagainya. Ilmu botani, pertanian, ilmu obat–obatan dan ilmu kimia semua ini membantu perkembangan industri minyak atsiri. Semua bidang ilmu tersebut bekerja sama sama secara terpadu agar mendapat manfaat dengan mutu minyak yang lebih tinggi (Guenther, 1987).
Minyak atsiri hanya mengandung zat-zat kimia organik yang membentuk secara terpadu aroma yang khas dari setiap jenis rempah-rempah, seperti halnya kayu manis. Kulit kayu manis sebelum masehi dikenal sebagai sumber pewangi untuk membalsem mumi raja–raja Mesir, maupun sebagai peningkat cita rasa masakan dan minuman, aroma kulit kayu manis ini berasal dari minyak atsiri yang baru pada abad 16-17, jelasnya pada tahun 1574 direalisasikan melalui destilasi uap (menurut Gildemeister) (Rismunandar, 1995).
Universitas Sumatera Utara
Bagian dari kayu manis yang dimanfaatkan adalah bagian kulit dan daunnya. Umumnya kulit yang diperdagangkan berupa kulit kering sehingga perlu penjemuran. Sinar matahari sangat dibutuhkan untuk penjemuran tersebut, bila sinar matahari kurang maka dikhawatirkan kulit yang dihasilkan memiliki kadar air yang cukup tinggi sehingga dapat memacu pertumbuhan jamur keberadaan jamur ini dapat menurunkan mutu kayu manis. Kulit kayu manis dapat digunakan dalam bentuk aslinya, baik berupa potongan maupun bubuk, misalnya untuk bermacam–macam roti, masakan daging, ikan dan minuman. Pengolahan kulit kayu manis dan daun berupa minyak atsiri kayu manis. Minyaknya banyak digunakan sebagai pemberi rasa dan aroma dalam industri makanan, minuman, farmasi, rokok dan kosmetik. Manfaat lain minyak kayu manis dipakai sebagai obat tradisional, yaitu mengeluarkan angin dan membangkitkan selera makan atau menguatkan lambung (Rismunandar dan Paimin, 2001).
Dengan kemajuan teknologi di bidang perminyak atsirian, maka usaha dan pendayagunaannya dalam kehidupan manusia semakin meningkat. Dengan kemajuan teknologi tersebut ditemukan persenyawaan sintetis yang berbau wangi, sehingga ia merupakan saingan bagi minyak atsiri alamiah karena mempunyai harga yang relatif murah. Namun demikian minyak atsiri alamiah tetap akan lebih unggul, karena
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Krim Betametason 0,1 % Produksi PT. Kimia Farma ( PERSERO ) Tbk. Secara Kromatografi Cair Kinerja Tingg

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Lipid adalah sekelompok senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan, hewan, atau manusia yang memegang peranan penting dalam struktur dan fungsi sel. Senyawa lipid tidak memiliki rumus empiris tertentu atau struktur yang serupa, tetapi terdiri atas beberapa golongan. Salah satunya adalah minyak atau lemak yang merupakan lipid sederhana (Yazid dan Nursanti, 2006).. Lemak dan minyak merupakan zat makanan yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh manusia. Selain itu lemak dan minyak juga merupakan sumber energi yang lebih efektif jika dibandingkan dengan karbohidrat dan protein. Satu gram minyak atau lemak dapat menghasilkan 9 kkal, sedangkan karbohidrat dan protein hanya menghasilkan 4 kkal/gram. Minyak atau lemak, khususnya minyak nabati mengandung asam-asam lemak esensial seperti asam linoleat, linolenat, dan arakidonat yang dapat mencegah penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan kolesterol. Oleh sebab itulah sering kali minyak dan lemak ditambahkan dengan sengaja kedalam bahan pangan (Winarno, 1992).
Akan tetapi, produksi pangan dan konsumsi pangan menjadi tidak sederhana. Keduanya dapat terpisah ruang dan waktu yang tak kecil. Pangan harus mudah dibawa dan disimpan. Maka dari ituFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Kloramfenikol Generik Secara Spektrofotometer Ultraviolet Dan Uji Daya Hambat Terhadap Bakteri Salmonella Typh

Abstrak Tumbuhan banyak mengandung senyawa kimia yang berkhasiat obat seperti senyawa polifenol, yang biasa digunakan sebagai antibakteri dan antioksidan. Salah satu tumbuhan yang mengandung senyawa polifenol adalah daun bangun-bangun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya antibakteri dan antioksidan ekstrak etanol daun bangun-bangun. Sampel (daun bangun-bangun) diperoleh dari daerah Tembung kabupaten Deli Serdang. Ekstrak dihasilkan dengan cara maserasi menggunakan etanol. Daya antibakterinya diukur dengan metode difusi agar menggunakan punch hole kemudian diukur diameter hambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Daya antioksidannnya diukur dengan metode penghambatan oksidasi minyak kedelai selama penyimpanan pada suhu 40oC (0, 3, 5, dan 7 hari), dengan BHT sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun bangun-bangun mempunyai daya antibakteri yang cukup besar yaitu pada konsentrasi 4% memiliki diameter hambatan 27,16 mm untuk Staphylococcus aureus dan 24,15 mm untuk bakteri Escherichia coli. Daya antioksidan meningkat dengan peningkatan jumlah ekstrak yang ditambahkan yaitu pada konsentrasi 1%(b/b) daya antioksidan sebesar 50,76%, pada konsentrasi 2%(b/b) daya antioksidan sebesar 54,97%, tetapi daya antioksidan ekstrak dengan konsentrasi 1% dan 2%, masih lebih rendah dari daya antioksidan BHT 0,02% (daya antioksidannya 58,80%). Namun pada konsentrasi ekstrak 3%(b/b) daya antioksidan lebih tinggi dari BHT yaitu 63,89%File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Ketoprofen Dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultraviolet

Abstrak
Tablet ketoprofen merupakan salah satu sediaan obat yang digunakan sebagai analgetika. Tujuan penelitian ini adalah untuk menetapkan kadar ketoprofen dalam sediaan tablet yang beredar di pasaran apakah memenuhi persyaratan yang ditentukan Farmakope Indonesia Edisi IV.
Metode yang digunakan pada penetapan kadar ketoprofen dalam sediaan tablet yaitu secara spektrofotometri ultraviolet dengan pelarut natrium hidroksida, pada panjang gelombang 260 nm. Metode ini memberikan hasil uji akurasi dan presisi yang dapat diterima.
Hasil penetapan kadar dari tablet generik dan nama dagang diperoleh, untuk tablet ketoprofen generik (PT. Hexpharm Jaya) sebesar 99,78 %±0,44%, tablet Kaltrofen (Kalbe Farma) 99,86 %0,31 %, Nasaflam (Fahreinheit) 100,37 %±41,0±%, Pronalges (Dexa Medica) 100,02 %%, Profenid (Rhone Poulenc) 100,14 %0,55 %. 26,0±±
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar ketoprofen dalam sediaan tablet generik dan nama dagang memenuhi standar persyaratan tablet menurut Farmakope Indonesia Edisi IV (1995) yaitu tidak kurang dari 98,5 % dan tidak lebih dari 100,5 % dari jumlah yang tertera pada etiketFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Kaptropril Dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultraviolet

ABSTRAK Telah dilakukan penetapan kadar kaptopril pada sediaan tablet yang beredar di pasaran. Analisa kuantitatif kaptopril dilakukan secara spektrofotometri ultraviolet dengan pelarut NaOH 0,1 N pada panjang gelombang 236 nm. Penentuan linearitas kurva kalibrasi menunjukkan hubungan yang linear antara serapan dan konsentrasi 10 mcg/ml sampai 26 mcg/ml dengan koefisien determinasi (r)2 = 0,9995 dan persamaan garis regresi Y = 0,025488X – 0,00032. Hasil uji validasi dari serbuk yang dibuat sendiri diperoleh kadar sebenarnya 99,88 % ± 0,0637 dengan standar deviasi (SD) = 0,0387, kesalahan relatif (KR) = 0.12 % dan koefisien variasi (KV)= 0.0388 %. Diperoleh kadar untuk tablet Captopril generik (Indofarma) sebesar 103,31 % ± 0,0435, tablet Captopril (Dexa Medica) sebesar 100,41% ± 0,0883, dan tablet nama dagang; tablet Dexa Cap (Dexa Medica) sebesar 102,41% ± 0,1086, tablet Otoryl (Otto) sebesar 100,63% ± 0,7438, tablet Tensicap (Sanbe Farma) sebesar 99,40% ± 0,3131, tablet Captensein (Kalbe Farma) sebesar 102,03% ± 0,4007, tablet Farmoten (Pratapa Nirmala) sebesar 100,40% ± 0,3133. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar kaptopril dalam sediaan tablet dengan nama dagang maupun generik, memenuhi standar persyaratan tablet menurut The United States Pharmacopeia (2007) yaitu tidak kurang dari 90,0 % dan tidak lebih dari 110,0 % dari jumlah yang tertera pada etiketFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Kalsium Pada Kulit Telur Ayam Ras, Kulit Telur ayam NonRas Dan Kulit Itik Secara Spectrofometri Serapan Atom

ABSTRAK
Kulit telur mengandung kalsium sehingga dilakukan penetapan kadarnya untuk mengetahui kandungan kalsium pada kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik. Sampel yang diteliti adalah kulit telur yang diambil dari beberapa lokasi di kota Medan.
Pemeriksaan secara kualitatif dilakukan terhadap kalsium dan karbonat. Pemeriksaan kualitatif kalsium dilakukan dengan pereaksi asam sulfat terbentuk kristal bentuk jarum di bawah mikroskop, dan dengan pereaksi amonium oksalat terbentuk endapan putih berupa kristal bentuk amplop di bawah mikroskop. Pemeriksaan kualitatif karbonat dilakukan dengan pereaksi air barit terbentuk kekeruhan pada larutan. Pemeriksaan kuantitatif kalsium dilakukan dengan metode Spektrofotometri Serapan Atom pada panjang gelombang absorbansi maksimum 422,38 nm. Hasil analisis kualitatif dan kuantitatif menunjukkan kulit telur ayam ras, kulit telur ayam nonras dan kulit telur itik mengandung kalsium.
Dari hasil analisis diperoleh kadar kalsium sebesar 15,36±0,30 g/100g pada kulit telur ayam ras, 14,51±0,18 g/100g pada kulit telur ayam nonras, 16,72±0,26 g/100g pada kulit telur itik. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata kadar kalsium pada kulit telur itik > kulit telur ayam ras > kulit telur ayam nonras.
UniversitasFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Fosfor Dalam Buah Apel (Malus domestica Borkh.) Secara Spectrofotometri Sinar Tampak ABSTRAK

ABSTRAK
Buah apel terdiri dari berbagai warna sehingga kemungkinan warna tersebut mempengaruhi kandungan kimia. Di dalam literatur belum ada yang menyatakan buah apel mempunyai kandungan kimia yang berbeda bila berbeda warna. Untuk itu dilakukan penetapan kadar fosfor pada buah apel warna merah tua, merah jambu, dan hijau. Sampel yang diteliti adalah buah apel warna merah tua yang dibeli dari Berastagi Supermarket, warna merah jambu yang dibeli dari Berastagi Supermarket dan warna hijau yang dibeli dari Hypertmart Sun Plaza.
Pemeriksaan fosfor dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan pereaksi ammonium molibdat terbentuk endapan kuning dan dengan pereaksi barium klorida terbentuk endapan putih. Analisis kuantitatif dilakukan dengan metode Spektrofotometri Sinar Tampak pada panjang gelombang 708 nm. Hasil analisis kualitatif dan kuantitatif menunjukkan buah apel warna merah tua, merah jambu dan hijau mengandung fosfor.
Dari hasil analisis diperoleh kadar fosfor pada sampel buah apel warna merah tua tanpa dikupas 165,05±9,6 mcg/g; 99,60±10,5308 mcg/g, buah apel warna merah jambu tanpa dikupas 153,32±4,5510 mcg/g; 135,53±8,0936 mcg/g, buah apel warna hijau tanpa dikupas 153,04±1,7513 mcg/g; 131,67±3,7942 mcg/g. Buah apel warna merah tua dikupas kulitnya 147,48±4,1145 mcg/g; 84,28±0,6547 mcg/g, buah apel warna merah jambu dikupas kulitnya 136,14±6,2212 mcg/g; 126,83±6,9478 mcg/g, buah apel warna hijau dikupas kulitnya 151,77±10,68 mcg/g; 128,30±4,7940 mcg/gFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Campuran Ibuprofen Dan Parasetamol Dalam Sediaan Tablet Secara Volumetr

Abstrak
Kombinasi ibuprofen dan parasetamol merupakan salah satu jenis kombinasi dalam formula tablet analgetik-antipiretik dan antiinflamasi yang dapat menghasilkan efek potensiasi dalam meringankan nyeri, mengurangi demam dan radang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari metode alternatif pada penentuan kadar campuran ibuprofen dan parasetamol dalam sediaan tablet secara volumetri.
Metode alternatif yang digunakan pada penetapan kadar ibuprofen yaitu secara alkalimetri dengan pentiter larutan natrium hidroksida, dimana parasetamol tidak akan tertitrasi sedangkan parasetamol ditetapkan secara nitrimetri dengan pentiter natrium nitrit.
Dari hasil penelitian diperoleh kadar ibuprofen dan parasetamol dalam sediaan tablet masing-masing untuk Bimacyl® 106,18% ± 0,55% dan 98,49% ± 1,08%, Iremax® 100,93% ± 0,59% dan 96,51% ± 3,12%, Neo Rheumachyl® 105,10% ± 0,89% dan 94,52% ± 1,00%, Oskadon SP® 104,33% ± 1,35% dan 98,74% ± 0,72%. Dari hasil uji validitas metode yang digunakan memberikan hasil akurasi dan presisi yang dapat diterima dengan persen perolehan kembali untuk ibuprofen 99,07 % (RSD = 1,91%) dan 99,81 % (RSD = 1,13) untuk parasetamol.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar ibuprofen dan parasetamol dalam sediaan tablet dengan berbagai merek dagang memenuhi persyaratan tablet menurut Farmakope Indonesia Edisi IV tahun 1995 yaitu tidak kurang dari 90,0 % dan tidak lebih dari 110,0 % dari jumlah yang tertera pada etiket.File Selengkapnya.....File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Besi (Fe) DAN Seng (Zn) Pada Air Reservoir PDAM Tirtanadi Deli Tua Secara Spektrofotometri Sinar Tampa

Abstract
Air merupakan sumber daya yang mutlak harus ada bagi kehidupan. Air juga merupakan bahan pelarut paling baik karena air adalah pelarut yang universal, hampir semua jenis zat dapat larut dalam air. Laporan keadaan lingkungan di dunia tahun 1992 menyatakan bahwa air sudah saatnya dianggap sebagai benda ekonomi. Di dalam badan air terdapat benda-benda hidup yang sangat menentukan karakteristik air tersebut, baik secara kimia, fisika, maupun biologis. Karena itu pengelolaan sumber daya air menjadi sangat penting. Mengingat bahwa berbagai penyakit dapat dibawa oleh air kepada manusia pada saat manusia memanfaatkannya, maka tujuan utama penyediaan air minum/bersih bagi masyarakat adalah mencegah penyakit yang disebabkan oleh air (Slamet, 1994). Air reservoir adalah air hasil olahan yang telah memenuhi syarat kualitas air yang ditampung di bak penampungan akhir untuk didistribusikan kepada konsumen. Kualitas mutu pada air dapat dijamin dengan dilakukannya pengendalian mutu yang sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.907/MENKES/SK/VII/2002 (Sutrisno, 1987). Salah satu mineral yang sering terdapat dalam air adalah kandungan Fe, apabila kadar Fe tersebut terdapat dalam jumlah yang besar akan menimbulkan efek toksik yaitu dapat merusak dinding usus. Menurut Menkes RI No.907/MENKES/SK/VII/2002 tanggal 29 Juli 2002, air reservoir yang didistribusikan kepada konsumen mengandung kadar besi tidak lebih dari 0,3 mg/L (Slamet, 1994).File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Asam Benzoat Dalam Minuman Ringan Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

Abstract
Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan industri makanan dan minuman di Indonesia, telah terjadi peningkatan produksi minuman ringan yang beredar di masyarakat. Pada minuman ringan ini sering ditambahkan pengawet, pemanis, dan pewarna yang kadarnya perlu diperhatikan karena apabila konsumsinya berlebihan dapat membahayakan kesehatan. Kita dalam masyarakat menjadi sadar akan gizi dan sadar untuk menjadi konsumen yang baik. Dewasa ini, masyarakat bukan hanya tertarik pada aspek apakah bahan pangan memberikan cita rasa enak, apakah anak-anak mau menikmati pangan yang disajikan, tetapi lebih dari itu masyarakat telah tertarik pada hal-hal apakah bahan pangan yang dikonsumsi itu baik bagi kesehatan dan bagaimana efeknya terhadap kesehatan. Dengan hal ini, maka perlu dilakukan uji pemeriksaan terhadap keberadaan bahan tambahan makanan tersebut di dalam makanan yang dikonsumsi oleh konsumen sehari-hari.File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Akrilamida Dalam Kentang Goreng Pada Restoran Cepat Saji di Kota Medan Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Abstrak

Abstrak
Akrilamida merupakan suatu senyawa toksik yang ditemukan dalam beragam jenis makanan terutama pada kentang goreng. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar akrilamida pada kentang goreng yang terdapat di restoran cepat saji di kota Medan dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT).
Pada awal penelitian digunakan kolom C18 (250 X 4,6 mm), detektor UV pada panjang gelombang 230 nm, laju alir 1,0 ml/menit, dan fase gerak asetronitril:aquabidest:asam fosfat dengan perbandingan (5:94:1) ternyata memberikan hasil pemisahan kromatogram yang kurang baik. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan perubahan komposisi fase gerak menjadi asetonitril:larutan asam fosfat 11,45 mM dengan perbandingan (5:95) sehingga diperoleh pemisahan kromatogram yang baik. Metode ini memberikan akurasi dengan persen recovery 94,07 % (RSD 1,69 %), batas deteksi 0,5810 μg/ml dan batas kuantitasi 1,9368 μg/ml.
Dari hasil penelitian terhadap kadar akrilamida pada kentang goreng di restoran cepat saji yang berada di kota Medan diperoleh kadar pada rentang 0,4-11 mg/kg.
KataFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Besi (Fe) DAN Seng (Zn) Pada Air Reservoir PDAM Tirtanadi Deli Tua Secara Spektrofotometri Sinar Tampak

Abstract
Air merupakan sumber daya yang mutlak harus ada bagi kehidupan. Air juga merupakan bahan pelarut paling baik karena air adalah pelarut yang universal, hampir semua jenis zat dapat larut dalam air. Laporan keadaan lingkungan di dunia tahun 1992 menyatakan bahwa air sudah saatnya dianggap sebagai benda ekonomi. Di dalam badan air terdapat benda-benda hidup yang sangat menentukan karakteristik air tersebut, baik secara kimia, fisika, maupun biologis. Karena itu pengelolaan sumber daya air menjadi sangat penting. Mengingat bahwa berbagai penyakit dapat dibawa oleh air kepada manusia pada saat manusia memanfaatkannya, maka tujuan utama penyediaan air minum/bersih bagi masyarakat adalah mencegah penyakit yang disebabkan oleh air (Slamet, 1994). Air reservoir adalah air hasil olahan yang telah memenuhi syarat kualitas air yang ditampung di bak penampungan akhir untuk didistribusikan kepada konsumen. Kualitas mutu pada air dapat dijamin dengan dilakukannya pengendalian mutu yang sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.907/MENKES/SK/VII/2002 (Sutrisno, 1987). Salah satu mineral yang sering terdapat dalam air adalah kandungan Fe, apabila kadar Fe tersebut terdapat dalam jumlah yang besar akan menimbulkan efek toksik yaitu dapat merusak dinding usus. Menurut Menkes RI No.907/MENKES/SK/VII/2002 tanggal 29 Juli 2002, air reservoir yang didistribusikan kepada konsumen mengandung kadar besi tidak lebih dari 0,3 mg/L (Slamet, 1994).File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Asam Benzoat Dalam Minuman Ringan Secara Kromatografi Cair Kinerja Tingg

Abstract
Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan industri makanan dan minuman di Indonesia, telah terjadi peningkatan produksi minuman ringan yang beredar di masyarakat. Pada minuman ringan ini sering ditambahkan pengawet, pemanis, dan pewarna yang kadarnya perlu diperhatikan karena apabila konsumsinya berlebihan dapat membahayakan kesehatan. Kita dalam masyarakat menjadi sadar akan gizi dan sadar untuk menjadi konsumen yang baik. Dewasa ini, masyarakat bukan hanya tertarik pada aspek apakah bahan pangan memberikan cita rasa enak, apakah anak-anak mau menikmati pangan yang disajikan, tetapi lebih dari itu masyarakat telah tertarik pada hal-hal apakah bahan pangan yang dikonsumsi itu baik bagi kesehatan dan bagaimana efeknya terhadap kesehatan. Dengan hal ini, maka perlu dilakukan uji pemeriksaan terhadap keberadaan bahan tambahan makanan tersebut di dalam makanan yang dikonsumsi oleh konsumen sehari-hari.File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Amoxicilin Dalam Tablet Secara Kromatografi Cair Kinerja Tingg

Abstract
Di dalam tubuh kita, terdapat bakteri yang menguntungkan dan terdapat juga bakteri yang merugikan, yang jumlahnya secara alami dapat berimbang. Namun, keadaan bisa menjadi tidak berimbang ketika kita mempengaruhinya dengan berbagai zat yang kita masukkan ke dalam tubuh. Ketidakseimbangan tersebut akan membuat gangguan bagi organ tertentu yang membutuhkannya. Di samping itu, kita juga memiliki sistem yang mengatur sistem immun diri terhadap serangan baik itu bakteri, kuman, jasad renik maupun virus dan plasmodium, yang kemudian tercatat dalam sistem kekebalan tubuh, baik pola penyerangan maupun bagaimana tubuh harus bertindak untuk menyelamatkan tubuh dari serangan tersebut. Antibiotik adalah semacam bahan yang apabila digunakan dan memasuki tubuh, akan mengeliminasi kuman, bakterial dan berbagai jasad renik. Antibiotik biasanya memiliki daya basmi terhadap jenis kuman tertentu, atau bakterial tertentu termasuk jasad renik, disamping juga memiliki daya basmi bagi jenis yang memang berlaku umum (-----, 1998).File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Amoksisilin Dalam Kaplet Omemox Secara Spektrofotometer Ultraviolet Di PT. Mutifa Industri Farmasi Medan Abstract

Abstract
Obat dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang dimaksudkan untuk dipakai dalam diagnosis, mengurangi rasa sakit, mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan (Ansel, 1989). Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Banyak antibiotik dewasa ini dibuat secara fermentasi, semisintetik atau sintetik penuh. Antibiotik termasuk obat berkhasiat keras yang digolongkan kedalam Daftar Obat Keras (Daftar G) yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Antibiotik yang beredar di pasaran bermacam-macam, baik bentuk sediaannya maupun kandungan zat aktifnya (Anonima, 2005).File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Kadar Akrilamida Dalam Kentang Goreng Pada Restoran Cepat Saji di Kota Medan Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

Abstrak
Akrilamida merupakan suatu senyawa toksik yang ditemukan dalam beragam jenis makanan terutama pada kentang goreng. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar akrilamida pada kentang goreng yang terdapat di restoran cepat saji di kota Medan dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT).
Pada awal penelitian digunakan kolom C18 (250 X 4,6 mm), detektor UV pada panjang gelombang 230 nm, laju alir 1,0 ml/menit, dan fase gerak asetronitril:aquabidest:asam fosfat dengan perbandingan (5:94:1) ternyata memberikan hasil pemisahan kromatogram yang kurang baik. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan perubahan komposisi fase gerak menjadi asetonitril:larutan asam fosfat 11,45 mM dengan perbandingan (5:95) sehingga diperoleh pemisahan kromatogram yang baik. Metode ini memberikan akurasi dengan persen recovery 94,07 % (RSD 1,69 %), batas deteksi 0,5810 μg/ml dan batas kuantitasi 1,9368 μg/ml.
Dari hasil penelitian terhadap kadar akrilamida pada kentang goreng di restoran cepat saji yang berada di kota Medan diperoleh kadar pada rentang 0,4-11 mg/kg.
KataFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Harda pKa Derivat Asam Aril Asetat (Diklofenak, Ibuprofen dan Ketoprofen)Secara Spektrofotometri UV

ABSTRAK Harga pKa yang diperoleh dari suatu senyawa dapat berbeda-beda, tergantung metode yang digunakan pada penentuan harga pKa tersebut. Menurut Moffat A.C. et al (2004), harga pKa dari derivat asam aril asetat; diklofenak 4,2; ibuprofen 4,4 dan 5,2; dan ketoprofen 4,5 yang ditentukan dengan menggunakan metode Spektrofotometri Ultraviolet multi panjang gelombang atau dengan istilah Dip-Probe Spectroscopy (D-PAS), metode ini telah divalidasi dengan akurasi yang tinggi. Dan menurut Foye (1996) harga pKa dari derivat asam aril aseat; diklofenak belum diketahui; ibuprofen 5,2; dan ketoprofen 5,94, harga pKa ini ditentukan dengan metode yang umum digunakan yaitu titrasi potensiometri dan spektrofotometri. Telah dilakukan penetapan harga pKa dari derivat asam aril asetat (diklofenak, ibuprofen, ketoprofen) yang diproduksi oleh PT. Indofarma. Sampel ditentukan secara spektrofotometri ultraviolet, dengan cara dilarutkan dalam alkohol kemudian diencerkan dalam larutan NaOH 0,2 N, HCl 0,2 N dan larutan dapar fosfat berbagai variasi pH., lalu diukur pada panjang gelombang 230 – 300 nm dengan alat spektrofotometer ultraviolet. Hasil penetapan harga pKa diperoleh bahwa harga pKa rata-rata dari diklofenak 4,75 dengan standar deviasi (SD) = 0,41; ibuprofen 5,32 dengan standar deviasi (SD) = 0,17 dan ketoprofen 5,75 dengan standar deviasi (SD) = 0,35. Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa harga pKa rata-rata dari bahan baku Diklofenak, Ibuprofen dan Ketoprofen tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (berartiFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penetapan Bilangan Asam Dalam Mie Instant Produk PT. Indofood Medan

Abstract
Bilangan asam merupakan salah satu pengujian yang dilakukan untuk mengetahui kualitas minyak atau lemak, bilangan asam juga dapat dilakukan untuk pengujian minyak atau lemak yang berasal dari hasil ekstraksi produk makanan seperti mie. Lemak diartikan sebagai suatu bahan makanan yang pada temperatur biasa terdapat dalam bentuk padat, sedangkan minyak adalah suatu bahan makanan yang dalam temperatur biasa terdapat dalam bentuk cair. Pengukuran bilangan asam pada mie maksimal 1 mg/g. Jika bilangan asam pada mie tersebut lebih dari 1 mg/g maka mie tersebut tidak layak lagi untuk dikonsumsi. Bilangan asam dinyatakan dengan jumlah milligram KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 gram contoh minyak atau lemak. Semakin banyak KOH yang di butuhkan untuk menetralkan asam lemak bebas, maka semakin besar pula asam lemak bebas pada minyak atau lemak tersebut.File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penerapan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) Pada Penetapan Kadar Kloramfenikol Dalam Sediaan Kapsul Dengan Nama Dagang Dan Generik

Abstrak
Kloramfenikol adalah salah satu antibiotik yang diisolasi dari Streptomyces Venezuelae yang bekerja dengan cara menghambat sintesis protein bakteri. Antibiotik ini digunakan sebagai pengobatan infeksi yang parah seperti tifus atau demam, kadang-kadang juga digunakan secara topikal untuk pengobatan infeksi mata.
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV (1995), penentuan kadar Kloramfenikol dalam sediaan kapsul dilakukan secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) menggunakan fase gerak campuran Air-Metanol-Asam asetat glasial dengan perbandingan 55 : 45 : 0,1, laju air 1,0 ml permenit menggunakan kolom L1-Oktadesilsilan (4,6 mm x 10 cm) dideteksi pada panjang gelombang 280 nm. Pada penelitian ini dicoba melakukan penetapan kadar Kloramfenikol kapsul menggunakan kolom C18 (4,6 mm x 25 cm) dengan berbagai perbandingan fase gerak buffer Gifford pH 6-Metanol-Asam asetat glasial dengan laju alir yang bervariasi.
Berdasarkan hasil uji linieritas dari kurva kalibrasi diperoleh koefisien korelasi 0,9994 dengan persamaan regresi Y=37721,976X – 156851,2. Dari hasil uji validasi metode yang digunakan memberikan hasil akurasi dan presisi yang dapat diterima dengan persen perolehan kembali Kloramfenikol = 99,71% (RSD = 0,8031%).
Hasil penetapan kadar dari kelima sampel dengan nama dagang dan generik, memenuhi persyaratan kadar yang ditetapkan Farmakope Indonesia edisi IV (1995) yaitu tidak kurang dari 90,0 % dan tidak lebih dari 120,0 % dari jumlah yang tertera pada etiketFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penentuan Standar Mutu Minyak Nilam Di UPTD. Balai Pengujian Dan Sertifikasi Mutu Barang Medan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Minyak atsiri yang disebut juga minyak eteris atau minyak terbang banyak
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kemajuan teknologi di bidang
minyak atsiri maka usaha penggalian sumber-sumber minyak atsiri dan
pendayagunaannya dalam kehidupan manusia semakin meningkat. Minyak atsiri
tersebut digunakan sebagai bahan pengharum atau pewangi pada makanan, sabun,
pasta gigi, wewangian dan obat-obatan. Untuk memenuhi kebutuhan itu, sebagian
besar minyak atsiri diambil dari berbagai jenis tanaman penghasil minyak atsiri
(trubus, 1989).
Nilam (Pogostemon cablin BENTH) merupakan jenis tanaman yang dapat
menghasilkan minyak atsiri dan sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia
yaitu sebagai pengharum pakaian. Di setiap daerah, nilam mempunyai nama
berbeda-beda, di Purwokerto disebut dengan “dilem wangi”, di Tapanuli Selatan
disebut “singgolom”, sedangkan untuk nilam yang berbunga di Jawa sering
disebut “dilem kembang” dan di Aceh disebut dengan “nilam bukit” (Pogostemon
hevneaus BENTH). Nilam Selain dapat dijual dalam bentuk daun kering, juga
dapat berupa minyak (Trubus, 1989).
Di pasar perdagangan Internasional, nilam diperdagangkan dalam bentuk
minyak dan dikenal dengan nama patchouli oil. Diantara berbagai jenis minyak
atsiri yang ada di Indonesia minyak nilamlah yang jadi primadona. Setiap tahun
Universitas Sumatera Utara
lebih dari 45% devisa negara yang dihasilkan oleh minyak atsiri berasal dari minyak nilam (Trubus, 1989).
Dari 70 jenis minyak atsiri yang diperdagangkan di pasaran internasional, sekitar 9-12 macam atau jenis minyak atsiri di suplai dari Indonesia. Oleh sebab itu, Indonesia termasuk negara produsen besar yang cukup diandalkan dan menjadi negara pengekspor minyak atsiri dengan kualitas terbaik. Kondisi tersebut disebabkan faktor dan kondisi iklim serta jenis dan tingkat kesuburan tanah yang dimiliki Indonesia yang sesuai dengan syarat tumbuh dari tanaman nilam (Mangun, 2008).
Dari berbagai jenis tanaman penghasil minyak atsiri tersebut, didapat hasil berupa minyak nilam (patcouli oil), minyak sereh wangi (citronella), minyak akar wangi (vetyver), minyak kenanga (cananga), minyak kayu putih (cajeput), serta minyak melati (yasmin) (Mangun, 2008).
Khusus minyak nilam, 70% pangsa pasar dunia dikuasai oleh minyak nilam Indonesia (diperkirakan sekitar rata-rata minimal 1000 ton pertahun). Tanaman nilam (Pogostemon cablin) dengan hasil minyak nilam (Patchouli Oil) merupakan penghasil devisa terbesar dari ekspor minyak atsiri. Produksi minyak nilam pertahunnya mencapai rata-rata di atas USD 20 juta (dolar Amerika) (Mangun, 2008).
Untuk produk minyak nilam, Indonesia memegang peranan yang cukup besar. Sekitar 90% kebutuhan minyak nilam dunia berasal dari Indonesia (BPEN, 1983). Untuk mengetahui kualitas dan standar minyak nilam yang dapat diterima Universitas Sumatera Utara
oleh para eksportir dan disyaratkan oleh pihak importir, yaitu
File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penentuan Profil Farmakokinetika Diklofenak Pada Kelinci Jantan

Abstrak
Fase farmakokinetik berkaitan dengan masuknya zat aktif ke dalam tubuh. Pemasukan in vivo tersebut secara keseluruhan merupakan fenomena fisiko-kimia yang terpadu di dalam organ penerima obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana profil farmakokinetika dari Natrium diklofenak.
Untuk mendapatkan keadaan yang optimal, penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan larutan Natrium diklofenak baku kepada 6 ekor hewan kelinci jantan yang beratnya sekitar 1,5-2 kg dengan pemberian secara oral. Dan untuk mendapatkan kadar obat dalam darah pada masing-masing kelinci jantan maka darah diambil dengan selang waktu 0,25 jam; 0,5 jam; 0,75 jam; 1,25 jam; 1,5 jam; 2,5 jam; 3,5 jam; 4,5 jam; 5,5 jam. Lalu divortex dengan menggunakan TCA dan disentrifuge. Pengukuran kadar obat Natrium diklofenak dalam plasma kelinci jantan dilakukan dengan menggunakan KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi). Fase gerak yang digunakan untuk mengukur kadar Natrium diklofenak dalam plasma kelinci jantan adalah MeOH : buffer asetat (Na asetat 6,8 g / l sesuaikan sampai pH 4,2 dengan HCl(p) ) dengan perbandingan (90 : 10) dan laju alir 1,4 ml / menit.
Dari hasil penentuan parameter farmakokinetika Natrium diklofenak diketahui nilai rata-rata ± SD dari Ka 0,963 ± 0,422 jam-1; AUC0-∞ 2,831 ± 0,710 mcg / L jam; Cmaks 0,073 ± 3,157x10-3 mcg / L; Tmaks 2,445 ± 0,343 jam; Vd 24,027 ± 4,197 L; Kel 0,030 ± 6,06x10-3 jam-1; t 1/2 24,323 ± 6,298 jam; Klirens 0,703 ± 0,201 L / jam.
Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa laju absorpsi Natrium Diklofenak adalah 0,963 ± 0,422 jam-1, dan laju eliminasinya adalah 0,030 ± 6,06x10-3 jam-1File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penentuan Penggunaan Soda Kapur Ca(OH)2 Pada Proses Flokulasi, Pencapaian pH Standart Air Baku, Pada Pengolahan Air di PT. Coca-cola Bottling Indonesi

Abstract
Dalam kehidupan sehari-hari manusia banyak memerlukan berbagai macam bahan-bahan yang ada dialam. Guna memenuhi berbagai macam kebutuhan hidupnya tersebut manusia melakukan berbagai macam cara, salah satu cara manusia tersebut adalah dengan mengaplikasikan atau mengolah bahan-bahan yang telah tersedia di alam. Salah satu dari kebutuhan hidup manusia yang paling penting adalah air, karena air tidak pernah dapat digantikan oleh bahan atau senyawa lain. Suatu industri memerlukan air untuk berbagai kepentingan yaitu air proses, air pendingin dan air pengisi ketel, Selain untuk industri, air mempunyai berbagai penggunaan lain, misalnya untuk mandi, untuk membersihkan, pemadam kebakaran dan lain-lain. Untuk dapat memenuhi air bagi suatu industri dapat ditempuh dengan berbagai cara yaitu dengan membeli dari perusahaan air minum atau pengolahan air sendiri yang dilakukan oleh industri yang bersangkutan. Air tidak pernah dijumpai dalam keadaan murni.File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penentuan Nilai Dobi (Deterioration Of Bleachibility Index) Dalam Cpo Pada pt. Pp. London sumatera indonesia tbk

Abstract
Awal mulanya, di Indonesia, kelapa sawit sekedar berperan sebagai tanaman hias langka di Kebun Raya Bogor, dan sebagai tanaman penghias jalanan atau perkarangan. Itu terjadi mulai tahun 1848 hingga beberapa puluh tahun sesudahnya. Ketika itu, tahun 1848, pemerintah kolonial belanda mendatangkan empat batang bibit kelapa sawit dari Mauritius dan Amsterdam (masing-masing mengirimkan dua batang) yang kemudian ditanam di Kebun Raya Bogor. Selanjutnya hasil anaknya dipindahkan ke Deli, Sumatera Utara. Di tempat ini, selama beberapa puluh tahun, kelapa sawit yang telah berkembangbiak hanya berperan sebagai tanaman hias di sepanjang jalan di Deli sehingga potensi yang sesungguhnya belum kelihatanFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penentuan Karakteristik Minyak Cengkeh

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Obat merupakan semua zat baik kimiawi, hewani, maupun nabati yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan, atau mencegah penyakit berikut gejalanya. Munculnya obat kimiawi sintetis pada permulaan abad ke-20, obat-obat kimia sentetis mulai tampak kemajuannya, dengan ditemukannya obat-obat termashyur, yaitu salvarsan dan aspirin sebagai pelopor, yang kemudian disusul oleh sejumlah obat lain. (Tan Hoan Tjay, 2002) Penggunaan obat kulit dimaksudkan untuk efek lokal tidak untuk sistemik. Bentuk sediaan yang digunakan untuk kulit adalah salep, krim, pasta dengan basis yang bermacam – macam seperti hidrofil atau hidrofob. Sediaan farmasi yang digunakan pada kulit adalah untuk memberi aksi lokal dan aksinya dapat lama pada tempat yang sakit dan sedikit mungkin diabsorbsi. Oleh karena itu sediaan untuk kulit biasanya digunakan sebagai antiseptik, antifungi maupun antiinflamasi. (Anief, 1994)
Universitas Sumatera Utara
8
Problema penyakit kulit sangat beragam, masyarakat seringkali susah membedakan antara satu penyakit kulit dengan penyakit kulit lain. Obat bebas untuk pengobatan kulit biasanya ditujukan untuk penyakit – penyakit yang sering terjadi seperti panu, kadas, jerawat, kudis, kutil, ketombe dan sebagainya. Bentuk obatnya seperti salep atau cairan. Secara umum obat – obatan luar memiliki keamanan yang lebih baik karena ia hanya digunakan secara lokal pada lokasi tertentu diluar tubuh. Efek samping yang mungkin terjadi ialah iritasi kulit atau kadang rasa terbakar. (Widodo, 1990) Kromatografi Cair Kinerja Tinggi atau KCKT atau biasa juga disebut dengan HPLC (High Performance Liquid Chomatography) dikembangkan pada saat akhir tahun 1960-an dan awal tahun tahun 1970-an. Saat ini, KCKT merupakan teknik pemisahan yang diterima secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa tertentu dalam suatu sampel pada sejumlah bidang, antara lain : farmasi, lingkungan, bioteknologi, polimer, dan industri-industri makanan. Kegunaan KCKT adalah untuk : pemisahan sejumlah senyawa organik, anorganik, maupun senyawa biologis. KCKT merupakan metode yang tidak destruktif dan dapat digunakan baik untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif. KCKT paling sering digunakan untuk : menetapkan kadar senyawa-senyawa tertentu seperti asam-asam amino, asam-asam nukleat, dan protein-protein dalam cairan fisiologis ; menentukan kadar senyawa-senyawa aktif obat. (Sudjadi, 2007)
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dipasaran telah banyak ditemukan bentuk – bentuk sediaan obat yang pemakaianya dapat disesuaikan
Universitas Sumatera Utara
9
dengan jumlah zat berkhasiatnya, diantaranya adalah Betametason yang dibuat dalam bentuk krim. Untuk mendapatkan tercapainya obat yang bermutu diperlukan beberapa evaluasi yang meliputi :File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Penentuan Kadar Lemak Dalam Mie Produk Indofood

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Minyak daun cengkeh diperoleh dengan cara destilasi uap dari daun pohon cengkeh yang telah gugur Eeugenia caryophllata Tumberg (Caryophillus aromaticus L). Hasil utama pohon cengkeh adalah bunga cengkeh yang mengandung minyak atsiri dengan kualitas yang lebih bagus bila dibandingkan dari daunnya tetapi harganya sangat mahal. Pohon cengkeh kemungkinan berasal dari Maluku (Sastrohamidjojo, 2004).
Di dalam perdagangan internasional, masing-masing minyak atsiri mempunyai nama dagang yang berbeda-beda sesuai dengan bagian tanaman yang menghasilkannya. Misalnya minyak atsiri pada cengkeh dapat diperoleh dari bagian kuntum bunga, tangkai bunga, dan daun. Nama dagang untuk minyak atsiri yang berasal dari kumtum bunga cengkeh disebut clove oil, minyak tangkai bunga clove stem oil , dan minyak daun cengkeh clove leaf oil. Demikian pula dengan minyak dari tanaman lain (Lutony dan Rahmayati, 2002).
Minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman aromatik merupakan komuditas ekspor nonmigas yang dibutuhkan diberbagai industri seperti industri parfum, kosmetika, farmasi/obat-obatan, seperti industri makanan dan minuman. Dalam dunia perdagangan, komoditas ini dipandang memiliki peran strategis dalam menghasilkan produk primer maupun sekunder, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor (Rochim Armando, 2009). Universitas Sumatera Utara
Menyadari akan hal ini, bahwa minyak atsiri sangat banyak gunanya bagi kehidupan kita, maka perlu dilakukan uji penetapan kadar pada miyak atsiri tersebut untuk digunakan dalam berbagai kagiatan industri. Pada penelitian untuk tugas akhir ini paneliti melakukan Penentuan Karakteristik Minyak Cengkeh di laboratorium miyak atsiri Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Medan.
1.2. TUJUAN DAN MANFAAT
1.2.1. Tujuan
Untuk mengetahui karakteristik dari minyak atsiri dengan penentuan kadar Eugenol dan kelarutan dalam Etanol dan penentuan apakah memenuhi Persyaratan Standard Nasional Indonesia.
1.2.2. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dengan mengetahui karakteristik dari minyak atsiri dengan penentuan kadar Eugenol dan kelarutan dalam Etanol yaitu untuk mengetahui Mutu dari minyak Cengkeh tersebut.File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

PENENTUAN KADAR ION BESI DALAM AIR OLAHAN SECARA SPEKTROFOTOMETRI PADA PT. COCA-COLA BOTTLING INDONESIA

Abstract
PT. Coca-Cola Bottling Indonesia Unit Medan adalah salah satu perusahaan yang bergerak dibidang produksi minuman ringan. Memiliki sumber air sendiri, dimana pada proses pengolahan air di setiap tahapnya baik untuk treated water maupun soft water juga memerlukan analisis–analisis yang sangat penting untuk menjaga kualitasnya. Salah satu analisanya adalah analisis besi yang dilakukan 2 kali dalam seminggu pada air karbon, air frestea, dan air produksi. Dimana analisis dilakukan sampai air dikirim ke tangki pencampuran. Pada PT. Coca-Cola Bottling Indonesia Unit Medan terdapat beberapa bahan baku yang penting untuk produksi minuman ringan, yaitu di antaranya air, daun teh, gula, dan konsentrat (bahan yang memberikan warna, rasa, dan aroma pada minuman). Komponen bahan baku yang paling dominan dalam suatu minuman adalah air (Anonim, 1990).File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

PEMERIKSAAN KANDUNGAN FORMALDEHIDA PADA GELAS MELAMIN YANG BEREDAR DI PASARAN

ABSTRAK Saat ini banyak beredar gelas yang terbuat dari melamin yang diduga mengandung formaldehida dengan kadar tinggi yang dapat membahayakan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan formaldehida dan pengaruh suhu air terhadap pelepasan formaldehida pada gelas melamin yang beredar di pasaran. Ada tiga merek gelas melamin yang diperiksa yaitu merek G-Fancy 808, ADS B-9, dan Onyx. Pemeriksaan kualitatif dilakukan menggunakan pereaksi asam kromatropat, sedangkan pemeriksaan kuantitatif dilakukan secara spektrofotometri sinar tampak dengan menggunakan pereaksi Nash pada panjang gelombang 412 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua merek gelas melamin positif mengandung formaldehida dan kadarnya bervariasi untuk setiap merek gelas (mcg/g) yaitu G-Fancy 808 2573,54 ± 76,41; ADS B-9 4055,92 ± 397,77; dan Onyx 3435,58 ± 644,70. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa suhu air mempengaruhi pelepasan formaldehida dari gelas melamin. Dengan penambahan air suhu 100ºC, 80ºC, 60ºC, dan 40ºC, gelas merek G-Fancy 808 dan ADS B-9 positif melepas formaldehida, sedangkan merek Onyx positif melepaskan formaldehida hanya dengan penambahan air suhu 100ºC. Untuk penambahan air pada suhu kamar (28 ºC), semua merek menunjukan hasil yang negatifFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pasien TB Menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)

Abstrak
Kebanyakan obat-obatan saat ini tidak efektif dalam mengobati penyakit TB. Hal ini disebabkan oleh pemakaian obat yang tidak teratur dan pemakaian dosis obat yang tidak tepat pada dosisnya, sehingga obat yang diberikan tidak tampak memberikan efek terapi pada pasien. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan kadar obat-obat TB.
Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan kadar rifampisin dalam tubuh pasien tuberkulosis secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dengan metode fase terbalik (fase gerak bersifat polar dan fase diam bersifat non polar), menggunakan kolom ODS C18, fase gerak yang digunakan campuran buffer phosfat pH 2,6 : acetonitril (55:45) dengan laju alir 0,8 ml/menit, pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 254 nm.
Karena sifat rifampisin ini mudah teroksidasi pada suhu kamar maka sangat perlu ditambahkan anti oksidasi. Anti oksidan yang digunakan pada penelitian ini adalah vitamin C dari hasil orientasi diperoleh hasil uji identifikasi dari rifampisin yaitu dengan waktu retensi pada menit ke 13,493 - 14,780 menit.
Hasil uji identifikasi yang dilakukan terhadap sampel pasien diperoleh waktu retensi 14,313, dimana luas area puncak rifampisin dengan koefisien korelasi (r) = 0,9877 dan dari hasil perhitungan diperoleh persamaan regresi Y = 786175,4494 X - 276075,9301. Batas Deteksi dan Batas Kuantifikasi berturut-turut adalah 3,342069 mM dan 11,14023 mM. Hasil pemeriksaan kadar rifampisin dalam plasma darah pasien tuberkulosis adalah 1,3593 mMFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pemeriksaan Kadar Pirazinamida Dalam Plasma Darah Pasien TB Menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tingg

Abstrak
Tuberkulosis, singkatnya TB, adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Pirazinamida merupakan obat garis depan yang penting digunakan bersama isoniazid dan rifampisin dalam pemberian jangka pendek.
Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) fase terbalik dengan deteksi ultraviolet merupakan metode yang dilakukan untuk pemeriksaan kadar pirazinamida dalam plasma. Obat dideteksi pada panjang gelombang 254 nm. Pemeriksaan dilakukan pada kolom ODS-C18 dan sistem elusi isokromatik. Fase gerak terdiri dari buffer fosfat pH 7,4 dan metanol (96,8:3,2 v/v) dan dielusi pada laju alir 0,8 ml/menit. Pirazinamida terelusi pada waktu retensi 21,663 menit. Sedangkan batas deteksi dan batas kuantifikasi berturut-turut adalah 2,8475 mM dan 8,6288 mM.
Kalibrasi dan analisis dilakukan berdasarkan pada perbandingan luas puncak antara bahan obat yang terukur oleh detektor vs konsentrasi bahan obat untuk memperoleh garis regresi. Kurva kalibrasi linear pada jarak konsentrasi 4,0614 – 10,0723 mM dengan persamaan regresinya yaitu: y = 453189,0032x - 1668790,0151 sehingga diperoleh koefisien korelasi (r) : 0,9567.
Berdasarkan pemeriksaan ini, maka kadar pirazinamida dalam plasma darah pasien teberkulosis adalah sebesar 10,6136 mMFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pemeriksaan Kadar Pirazinamida Dalam Plasma Darah Menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Dan Baku Dalam Nikotinamid

Abstrak
Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Pirazinamida adalah salah satu obat yang biasa digunakan untuk pengobatan tuberkulosis. Pirazinamida hanya digunakan dalam jangka waktu 2 bulan dan berfungsi sebagai suatu agen sterilizator.
Pemeriksaan kadar pirazinamida dalam plasma darah menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) fase balik. Nikotinamid digunakan sebagai baku dalam. Pemisahan pirazinamida dan nikotinamid dilakukan pada kolom ODS C-18 dengan sistem elusi isokratik menggunakan buffer fosfat pH 7,4 : asetonitril (98:2), laju alir 0,8 ml/menit dan panjang gelombang 254 nm. Pirazinamida dan nikotinamid terelusi pada menit ke 14,040 dan 23,467. Sedangkan batas deteksi dan batas kuantifikasi adalah 16,81419 mM dan 50,95209 mM.
Kalibrasi dan analisis dilakukan berdasarkan pada rasio luas puncak pirazinamida dan nikotinamid. Kurva kalibrasi linier pada jarak konsentrasi 8,1228 mM – 81,2282 mM dengan koefisien korelasi (r) = 0,9897
Berdasarkan hasil pemeriksaan ini, maka kadar pirazinamida di dalam plasma darah pasien tuberkulosis adalah sebesar 73,5263 mM dan stabil pada temperatur kamaFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pemeriksaan Kadar Isoniazid Dalam Plasma Darah Pasien TB Menggunakan kromatografi Cair Kinerja Tingg

Abstrak
Dalam penelitian ini dilakukan pemeriksaan kadar isoniazid dalam plasma darah pasien tuberkulosis secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) metode fase balik menggunakan kolom ODS C18 dan sistem elusi isokratik, fase gerak yang digunakan campuran buffer phosfat pH 7,4:metanol (96,8:3,2) dengan laju alir 0,8 ml/menit, pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 254 nm dan digunakan baku dalam nikotinamid
Hasil uji identifikasi yang dilakukan terhadap sampel plasma diperoleh waktu retensi isoniazid yakni 18,56 menit dan waktu retensi nikotinamid yakni 23,927 menit. Batas deteksi dan batas kuantifikasi masing masing adalah 3,263941 mM dan 9,8909 mM.
Perbandingan luas area puncak isoniazid dengan luas puncak nikotinamid pada berbagai konsentrasi dengan koefisien korelasi (r) = 0,9482 dan dari hasil perhitungan diperoleh persamaan regresi Y = 0,004639904 x + 0,001832305
Hasil pemeriksaan kadar isoniazid dalam plasma darah pasien tuberkulosis adalah 0.92193 mMFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pemeriksaan Kadar Isoniazid Dalam Plasma Darah Pasien Tb Menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) Dengan Baku Dalam Nikotinamid

Abstrak
Isoniazid adalah derivat asam nikotinat yang berkhasiat tuberkulostatik paling kuat terhadap mikobakterium tuberkulosis dan bersifat bakterisid terhadap basil yang sedang tumbuh pesat. Pemeriksaan kadarnya dapat dilakukan secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi.
Dalam penelitian ini dilakukan pemeriksaan kadar isoniazid dalam plasma darah pasien tuberkulosis secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) metode fase balik menggunakan kolom ODS C18 dan sistem elusi isokratik, fase gerak yang digunakan campuran buffer fosfat pH 7,4 : metanol (96,8 : 3,2) dengan laju alir 0,8 ml/menit dan pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 254 nm.
Hasil uji identifikasi yang dilakukan dalam sampel plasma diperoleh waktu retensi 18,7 menit. Batas deteksi dan batas kuantifikasi masing-masing adalah 1,5422 mM dan 4,6735 mM.
Luas puncak isoniazid pada berbagai konsentrasi dengan koefisien korelasi (r) = 0,9866 dan dari hasil perhitungan diperoleh persamaan regresi Y = 36712,545X – 92354,976.
Hasil pemeriksaan kadar isoniazid dalam plasma darah pasien tuberkulosis adalah 6,8722 mMFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pemeriksaan Kadar Etambutol Dalam Plasma Darah Pasien TB Menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Abstrak

Abstrak
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Etambutol adalah salah satu obat yang dikonsumsi oleh pasien pada pengobatan fase intensif.
Dalam penelitian ini, pemeriksaan kadar etambutol dalam plasma darah pasien TB secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) metode fase balik menggunakan kolom ODS C18, dan sistem elusi isokratik, fase gerak yang digunakan campuran buffer fosfat pH 7,4 dengan asetonitril perbandingan fase gerak 90 : 10 dengan laju alir 0,8 ml/menit, dan pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 202 nm dengan detektor ultraviolet. Etambutol terelusi pada waktu retensi 18,107 menit. Batas deteksi dan batas kuantifikasi berturut-turut adalah 0,0936 mM dan 0,2838 mM.
Luas puncak dengan berbagai konsentrasi diperoleh persamaan regresi Y = 2033327,435X -11096,066 dengan koefisien korelasi (r) = 0,9786.
Berdasarkan pada pemeriksaan ini, maka kadar etambutol dalam plasma darah pasien tuberkulosis adalah sebesar 0,2946 mMFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pemeriksaan Dan Penetapan Kadar Zat Pewarna Rhodamin B Pada Saus Dan Kerupuk Di Kota Medan

ABSTRAK
Walaupun Rhodamin B dilarang digunakan di dalam makanan dan minuman, tetapi ternyata masih ditemukan dalam beberapa produk makanan dan minuman seperti saus, es dan kerupuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pemeriksaan dan penetapan kadar rhodamin B didalam saus dan kerupuk. Ada empat puluh sampel yang diperiksa yaitu sampel saus cabai (saus cabai bermerek 9 macam dan saus cabai tidak bermerek 6 macam), saus tomat (saus tomat bermerek 7 macam dan saus tomat tidak bermerek 8 macam) dan kerupuk (kerupuk bermerek 4 macam dan kerupuk tidak bermerek 6 macam). Pemeriksaan kualitatif Rhodamin B dilakukan dengan kromatografi lapis tipis (KLT) dan spektrofotometer sinar tampak. Secara kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan pengembang butanol, asam asetat glacial dan aquades (40:10:24) yang menghasilkan noda bewarna merah muda jika dilihat secara visual dan memberikan fluoresensi kuning jika dilihat dibawah sinar UV 254nm. Secara spektrofotometer sinar tampak diukur serapan maksimumnya pada panjang gelombang 450-750nm. Penetapan kadar dilakukan secara spektrofotometri sinar tampak pada panjang gelombang 557nm.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 5% sampel yang diperiksa ternyata mengandung Rhodamin B (dua dari empat puluh sampel). Kadar Rhodamin B pada sampel yang diperiksa adalah 65,5763mcg/g untuk sampel II (kerupuk bulat) dan 7,1416mcg/g untuk sampel IV (kerupuk batang). Dari penelitian ini diketahui bahwa Rhodamin B masih digunakan sebagai pewarna pada kerupukFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pemeriksaan Dan Penetapan Kadar Boraks Dalam Bakso Di Kota Madya Medan

ABSTRAK
Walaupun boraks dilarang digunakan di dalam makanan, tetapi ternyata masih ditemukan dalam beberapa produk makanan seperti mie kuning basah, bakso dan lontong. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pemeriksaan dan penetapan kadar boraks didalam bakso yang beredar di Medan. Lokasi pengambilan sampel adalah Gatot Subroto (pajak petisah) (A) , Iskandar Muda (daerah ramayana) (B), Kampung Lalang (pajak) (C), Padang Bulan (pajak sore) (D), Kampung Madras (pajak) (E), Pancing (Unimed) (F), Setiabudi (bakso urat) (G), Dokter Mansur (USU) (H), Brayan (pajak) (I), dan Amplas (stasiun) (J). Penyiapan sampel dilakukan melalui sentrifugasi dan pengabuan. Pemeriksaan dilakukan dengan reaksi nyala dengan asam sulfat pekat dan metanol dan reaksi dengan asam oksalat dan kurkumin 1% dalam metanol. Penetapan kadar boraks dilakukan secara titrimetri dengan menggunakan larutan standar NaOH 0,2 N dan indikator fenolftalein yang menghasilkan warna merah muda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% dari sampel yang diperiksa ternyata mengandung boraks (delapan sampel dari sepuluh sampel) dan kadar boraks yang di dapat dalam bakso antara 0,08% - 0,29%, dimana kadar yang terendah didaerah padang bulan dan kadar yang tertinggi di daerah pancing (Unimed). Pereaksi kurkumin lebih sensitif daripada reaksi nyala menggunakan asam sulfat pekat. Metode sentrifugasi dapat juga digunakan untuk mendeteksi boraks dengan hasil yang lebih cepat dengan alat yang lebih sederhanaFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pemeriksaan Asupan Timbal Pada Sediaan Pewarna Rambut Bentuk Serbuk Yang Beredar Di Pusat Pasar Kota Medan Secara Spektrofotometri Serapan Atom

ABSTRAK
Pewarna rambut adalah salah satu kosmetik dekoratif. Pewarna rambut yang ditempatkan pada bagian luar kulit ternyata dapat membahayakan manusia, karena kulit mampu untuk menyerap zat yang melekat padanya. Timbal ada diasupkan pada pewarna rambut, dengan tujuan memperbaiki warna hitam yang diberikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memeriksa asupan timbal dalam kosmetika pewarna rambut dan membandingkannya dengan batas maksimum menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 376/Menkes/Per/VIII/1990.
Sampel yang diteliti adalah 4 merek pewarna rambut bentuk serbuk yang beredar di pusat pasar Kota Medan. Pemeriksaan timbal dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dengan pereaksi dithizon 0,005% b/v sedangkan analisis kuantitatif timbal dilakukan dengan spektrofotometri serapan atom pada panjang gelombang 283,3 nm.
Berdasarkan hasil analisis diperoleh kadar timbal yang terdapat pada pewarna rambut yang dilarutkan dalam HNO3 5N yaitu 0,0019 ± 0,000081% untuk pewarna rambut merek TC, 0,0031 ± 0,000229 % untuk pewarna rambut merek BP, 0,0050 ± 0,000105 % untuk pewarna rambut merek TL, dan 0,0039 ± 0,000093 % untuk pewarna rambut merek PC. Untuk pewarna rambut yang dilarutkan dalam HNO3 10N kadar timbal nya yaitu 0,0078 ± 0,000455% untuk pewarna rambut merek TC, 0,0036 ± 0,000363% untuk pewarna rambut merek BP, 0,0084 ± 0,000105 % untuk pewarna rambut merek TL, dan 0,0221 ± 0,000471 % untuk pewarna rambut merek PC.
Dari penelitian ini diketahui bahwa timbal masih ada di dalam pewarna rambut bentuk serbuk tetapi masih di bawah persyaratan yang dibolehkanFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pembuatan Sediaan Vitamin C Megadosis Dengan Sistem Gastric Delivery Memakai Kapsul Alginat Dan Pengujian Keamanannya Pada Lambung Kelinc

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian pembuatan sediaan vitamin C megadosis dengan sistem gastric delivery dalam kapsul alginat, perbandingan disolusi dan efek iritasi terhadap vitamin C megadosis dalam kapsul alginat dengan tablet Enervon-C® dan kapsul gelatin. Uji disolusi vitamin C dilakukan dengan metode dayung pada medium lambung pH 1,2 dan kadar vitamin C ditentukan dengan titrasi menggunakan 2,6-diklorofenolindofenol. Untuk melihat efek iritasi lambung dilakukan pengujian iritasi secara akut pada kelinci dengan memberikan tablet Enervon-C®
Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju disolusi vitamin C dalam kapsul alginat lebih lambat dibandingkan dengan vitamin C dalam tablet Enervon-C, kapsul gelatin dan kapsul alginat yang mengandung vitamin C secara oral lalu dibedah setelah 5 jam dan diperiksa keadaan lambungnya secara makroskopik dan mikroskopik (histopatologi).
® dan kapsul gelatin. Pengujian iritasi akut secara makroskopik menunjukkan bahwa vitamin C dengan dosis 500 mg dan 1000 mg dalam kapsul alginat tidak menyebabkan iritasi lambung kelinci, sedangkan vitamin C dengan dosis 500 mg dalam tablet Enervon-C® dan kapsul gelatin menyebabkan iritasi berupa kemerahan pada mukosa lambung kelinci dan vitamin C dengan dosis 1000 mg dalam kapsul gelatin menyebabkan iritasi berupa titik-titik luka dan penipisan pada mukosa lambung kelinci. Pengujian iritasi akut secara mikroskopik menunjukkan bahwa vitamin C yang diberikan dengan dosis 500 mg dan 1000 mg dalam kapsul alginat memperlihatkan hasil lapisan mukosa lambung yang normal, sedangkan vitamin C dengan dosis 500 mg dalam tablet Enervon-C® dan kapsul gelatin menyebabkan iritasi berupa epitel yang renggang dan mukosa yang berlekuk pada lambung kelinci dan vitamin C dengan dosis 1000 mg dalam kapsul gelatin menyebabkan iritasi berupa dilatasi pembuluh darah dan penipisan epitel pada mukosa lambung kelinci. Penelitian ini menyimpulkan bahwa vitamin C dalam kapsul alginat merupakan sediaan gastric delivery dan dapat mencegah efek iritasi lokal dari vitamin C megadosis.
UniversFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pembuatan Membran Alginat-Kitosan Dan Kalsium Alginat-Kitosan Serta Pengujiannya Terhadap Penyembuhan Luka Marmutk

ABSTRAK Telah diteliti penyembuhan luka marmut oleh membran kalsium alginat-kitosan dan alginat-kitosan yang dibuat sendiri. Kemudian kekuatan membran diuji dengan universal testing machine type: SC-2DE. Luka kulit marmut dibuat dengan memotong kulit perut marmut sampai ke dermis dengan ukuran 1 x 1,5 cm. Luka diobati dengan menempelkan membran pada luka lalu ditutup dengan perban steril. Setiap 3 hari sekali luas luka diukur dan diamati peradangan, kekeringan luka dan adanya nanah. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan secara histopatologi dari luka hari ke-0 dan luka yang diobati pada hari ke-12 dengan membran alginat-kitosan dan membran kalsium alginat-kitosan. Hasil pemeriksaan makroskopik menunjukkan bahwa membran yang lebih cepat menyembuhkan luka adalah membran kalsium alginat-kitosan daripada membran alginat-kitosan dan kontrol. Dari hasil uji kekuatan tarik membran kalsium alginat-kitosan lebih kuat daripada membran alginat-kitosan. Hasil pemeriksaan secara mikroskopik dari luka yang tidak diobati pada kontrol setelah hari ke-12 ditemukan epidermis belum memadat, folikel rambut belum terbentuk dan terdapat banyak fibroblas tetapi, pada luka yang diobati dengan alginat-kitosan ditemukan pertumbuhan epidermis yang sudah memadat, folikel rambut sudah terbentuk dan fibroblas sedikit, sedangkan pada kalsium alginat-kitosan ditemukan pertumbuhan epidermis yang sudah lebih memadat, folikel rambut sudah terbentuk dan fibroblast lebih sedikitFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pembuatan Dan Uji Aktivitas Antibakteri Krim Minyak Kelapa Murni (VCOvirgin coconut oil) Terhadap Staphylococcus aureus ATCC 29737 dan Pseudomonas ae

ABSTRAK
Telah dilakukan pembuatan krim tipe emulsi minyak dalam air yang mengandung minyak kelapa murni (VCO/virgin coconut oil) dengan berbagai konsentrasi dan menguji aktivitas antibakteri nya terhadap Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.
Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan secara invitro dengan metode difusi agar mengunakan cincin pencadang.
Hasil pengujian stabilitas fisis sediaan krim minyak kelapa murni (VCO/virgin coconut oil) yang mengandung nipagin menunjukan bahwa semua formula stabil selama 12 minggu penyimpanan pada suhu kamar, suhu 4oC, dan suhu 40oC. Hasil pengujian stabilitas fisis sediaan krim tanpa nipagin ternyata kurang stabil, yang ditunjukkan pada perubahan penampilan setelah 9 minggu penyimpanan pada suhu 40oC.
Hasil pengujian aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa krim minyak kelapa murni tanpa nipagin telah bersifat antibakteri pada konsentrasi 2% dengan diameter hambat sebesar 21,00 mm terhadap Staphylococcus aureus dan 15,93 mm terhadap Pseudomonas aeruginosFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pembuatan Bioetanol Dari Ubi Kayu (Manihot utilissima Pohl.) Dengan Jamur Aspergillus awamori Dan Ragi Saccharomyces cerevisiae

ABSTRAK
Telah diteliti pembuatan bioetanol dari ubi kayu dengan memanfaatkan jamur Aspergillus awamori Nakaz. dan ragi Saccharomyces cerevisiae Hansen. Enzim dari Aspergillus awamori Nakaz. bekerja memecah pati ubi kayu menjadi glukosa dan kemudian oleh ragi Saccharomyces cerevisiae Hansen., glukosa yang terbentuk diubah menjadi etanol dalam proses fermentasi.
Pembuatan bioetanol dalam penelitian ini dilakukan dengan dua cara yakni melalui proses fermentasi menggunakan Aspergillus awamori Nakaz. bersama Saccharomyces cerevisiae Hansen. dan fermentasi dengan metode konvensional yang hanya menggunakan Saccharomyces cerevisiae Hansen. saja dengan interval waktu yang bervariasi. Etanol yang diperoleh dari proses fermentasi dipisahkan dari substrat melalui penyaringan, kemudian didestilasi dan etanol yang diperoleh ditambahkan molecular sieve untuk mengikat molekul air yang masih tersisa. Kemudian untuk menguji kemurnian dan menentukan kadar etanol yang diperoleh dilakukan analisis dengan spektrofotometri infra merah dan GC-MS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa etanol yang diperoleh dari fermentasi dengan menggunakan Aspergillus awamori Nakaz. dan Saccharomyces cerevisiae Hansen. lebih besar volumenya dari hasil fermentasi yang hanya menggunakan Saccharomyces cerevisiae Hansen. Pemanfaatan Aspergillus awamori Nakaz. pada proses fermentasi menyebabkan peningkatan etanol yang diperoleh hingga 109,72% yakni dua kali lebih banyak bila dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan fermentasi biasa yang hanya menggunakan ragi saja.
Hasil analisis spektrofotometri infra merah dan GC-MS menunjukkan bahwa bioetanol hasil fermentasi adalah suatu senyawa tunggal yaitu etanol sedangkan kadar etanol yang diperoleh adalah 100%. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi dan Fitokimia Fakultas Farmasi USU, MedanFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pemanfaatan Matriks Nata De Coco Terhadap Ekstrak Etanol Daun Dandang Gendis (Clinacanthus nutans (Burm.f) Lindau

ABSTRAK
Telah dilakukan karakterisasi simplisia dan ekstrak, serta pemanfaatan matriks nata de coco terhadap ekstrak etanol daun dandang gendis (Clinacanthus nutans (Burm.f) Lindau). Nata de coco merupakan selulosa bakteri yang mempunyai absorbtivitas tinggi, daya tarik tinggi dan bersifat elastis. Selain sebagai minuman nata de coco juga banyak dimanfaatkan dalam farmasi sebagai perawatan luka dan penghantar obat.
Penelitian ini meliputi karakterisasi terhadap simplisia dan ekstrak. Ekstraksi serbuk simplisia secara maserasi menggunakan pelarut etanol 80%. Pembuatan nata de coco secara fermentasi air kelapa oleh bakteri Acetobacter xylinum dengan penambahan gula, urea dan asam cuka. Kemudian ekstrak diformulasikan menjadi bentuk sediaan kapsul dengan merendam serbuk nata de coco ke dalam larutan ekstrak etanol daun dandang gendis selama 24 jam dan dikeringkan menggunakan freeze dryer. Selanjutnya dilakukan uji preformulasi, uji pelepasan dengan metode dayung dalam medium air pada suhu 37± 0,50C dengan kecepatan putaran 50 rpm dan evaluasi kapsul.
Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia dan ekstrak etanol daun dandang gendis secara berturut-turut adalah untuk kadar air 7,16% dan 8,78%, kadar sari larut dalam air 10,49% dan 10,91%, kadar sari larut dalam etanol 10,70% dan 18,65% kadar abu total 6,10% dan 4,60%, kadar abu tidak larut dalam asam 0,64% dan 0,54%. Hasil uji preformulasi diperoleh uji sudut diam 30,65o, waktu alir 7,0 detik dan indeks tap 5,37%. Hasil uji disolusi menunjukkan bahwa matriks nata de coco memberikan persen kumulatif sampai menit ke 480 sebesar 33,95 %. Sedangkan hasil uji evaluasi kapsul diperoleh uji waktu hancur 4,08 menit, uji keseragaman bobot A=0,23% dan B=0,34%File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Pemanfaatan Ampas Sisa Jagung Pipilan Sebagai Bahan Produk Serat Pangan Tidak Larut

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian, pemanfaatan ampas sisa jagung pipilan sebagai bahan produk serat pangan. Produk serat pangan yang dibuat berupa kerupuk ampas sisa jagung pipilan dengan penambahan ampas sisa jagung pipilan sebanyak 200 g, 400 g dan 500 g. Dilakukan penetapan kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan dan kerupuk ampas sisa jagung pipilan dengan metode analisis Neutral Detergen Fiber (NDF) serta uji organoleptik rasa kerupuk kerupuk ampas sisa jagung pipilan yang disajikan kepada panelis.
Hasil penetapan kadar serat tak larut dalam ampas sisa jagung pipilan dan kerupuk ampas sisa jagung pipilan dengan metode analisis NDF diperoleh: dalam ampas sisa jagung pipilan kadar serat tak larut sebanyak 18,2736%<μ<19,0724%, kerupuk ampas sisa jagung pipilan 200 g ,400 g dan 500 g berturut-turut sebanyak 5,1979%<μ<5,9109%, 7,6901%<μ<7,8473% dan 8,6910%<μ<8,7806%.
Perlakuan terhadap nilai kesukaan rasa kerupuk ampas sisa jagung pipilan menunjukkan nilai kesukaan yang paling tinggi terdapat pada produk I, dari hasil penilaian dengan sekala hedonik yang menunjukkan rataan tertinggi yaitu 3,60 ini disukai oleh panelis dibandingkan produk II dan III. Hasil analisis statistik dari data uji organoleptik dengan menggunakan analisis sidik ragam pada taraf α 0,05 dimana nilai F hitung = 2,80 lebih kecil dari F tabel = 3,07 , di dapati tidak ada perbedaan yang berpengaruh secara nyata terhadap rasa kerupuk ampas sisa jagung pipilan dengan penambahan berbagai variasi ampas sisa jagung pipilan.
Ditinjau dari hasil penelitian diatas ampas sisa jagung pipilan dapat dimanfaatkan sebagai bahan produk serat panganFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Optimasi Fase Gerak Metanol-Dapar Fosfat dan Laju Alir pada Penetapan Kadar Natrium Benzoat dan Kalium Sorbat dalam Sirup dengan Metode Kromatografi C

Abstrak
Natrium benzoat dan Kalium sorbat merupakan bahan pengawet yang umum digunakan pada makanan dan minuman. Tujuan penambahannya adalah untuk mencegah pertumbuhan bakteri, jamur dan kapang sehingga proses pembusukan dan pengasaman akibat penguraian dapat dicegah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh kondisi analisis yang optimal dalam penetapan kadar Natrium benzoat dan Kalium sorbat dalam sirup secara kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) fase balik dengan kolom shimpac VP-ODS (4,6 mm x 250 mm). Dari hasil orientasi diperoleh kondisi optimal dengan perbandingan fase gerak metanol – dapar fosfat (30 : 70), laju alir 0,8 ml/menit, detektor UV pada panjang gelombang 230 nm dan sensitifitas 1,000 AUFS.
Uji validasi dari sirup SUN QUICK diperoleh persen perolehan kembali sebesar 101,89% untuk Natrium benzoat dan 101.31% untuk Kalium sorbat, relatif standard deviasi (RSD) sebesar 0,7982 % untuk Natrium benzoat dan 1,625% untuk Kalium sorbat, limit deteksi (LOD) sebesar 8,34865 mcg/ml untuk Natrium benzoat dan 9,59296 mcg/ml untuk Kalium sorbat dan limit kuantitasi (LOQ) sebesar 27,82883 mcg/ml untuk Natrium benzoat dan 31, 97943 mcg/ml untuk Kalium sorbat.
Dari hasil perhitungan diperoleh kadar Natrium benzoat dan Kalium sorbat dari keempat merek sirup memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh PERMENKES RI Nomor 722/Menkes/Per/IX/88 tentang bahan tambahan makanaFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Optimasi Fase Gerak Metanol – Air Dalam Analisis Tablet Campuran Parasetamol Dan Kofein Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) ABSTRAK

ABSTRAK
Kadar kolesterol tinggi merupakan salah satu faktor resiko utama penyebab arterosklerosis. Pengobatan untuk penderita kolesterol tinggi dengan obat-obatan kimia harganya relatif mahal dan memiliki efek samping sehingga masyarakat sudah menggunakan obat tradisional untuk menurunkan kadar kolesterol yang tinggi. Salah satunya adalah rimpang temu giring.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol rimpang temu giring terhadap kadar kolesterol darah marmot yang dibuat hiperkolesterolemia dengan cara memberikan makanan induksi berupa pakan yang dicampur dengan kuning telur (dosis 1% bb) serta lemak kambing 15 g/100 g jumlah pakan diberikan selama 14 hari.
Pada penelitian dilakukan karakterisasi simplisia, ekstraksi serbuk simplisia dan uji efek penurun kadar kolesterol ekstrak etanol rimpang temu giring (Curuma heyneana Valeton & Zijp.., suku Zingiberaceae) terhadap marmot yang dibuat hiperkolesterolemia. Ekstrak etanol rimpang temu giring diberikan secara oral dengan dosis 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB. Simvastatin dosis 0,80 mg/kg BB sebagai pembanding positif, dan suspensi Na-CMC 0,5% sebagai pembanding negatif.
Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia rimpang temu giring diperoleh kadar air 9,13%, kadar abu total 4,54%, kadar abu tidak larut dalam asam 1,66%, kadar sari larut dalam air 17,17%, kadar sari larut dalam etanol 11,71%. Ekstraksi dilakukan secara perkolasi dengan menggunakan pelarut etanol 95%.
Dari hasil pengujian statistik diperoleh bahwa pada pemberian ekstrak etanol rimpang temu giring dosis 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB dan 400 mg/kg BB memberikan penurunan kadar kolesterol yang tidak berbeda secara nyata dengan pemberian suspensi simvastatin 0,80 mg/kg BBFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

netapan Kadar Tablet Parasetamol Produksi Pt Kimia Farma (Persero) Tbk Plant Medan Secara Nitrimetri

Abstract
Obat adalah suatu zat yang digunakan untuk diagnosa, pengobatan, melunakkan, penyembuhan atau pencegahan penyakit pada manusia atau pada hewan. Jenis - jenis obat yang digunakan untuk penyembuhan penyakit pada manusia digolongkan pada jenis analgetik, antipiretik, antibiotik, antihistamin, dan lain - lain. Meskipun obat dapat menyembuhkan tapi banyak kejadian bahwa seseorang telah menderita akibat keracunan obat. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa obat dapat bersifat sebagai racun. Obat itu akan bersifat sebagai obat apabila tepat digunakan dalam pengobatan suatu penyakit dengan dosis dan waktu yang tepat. Jadi bila digunakan salah dalam pengobatan atau dengan kelewat dosis akan menimbulkan keracunan. Bila dosisnya lebih kecil kita tidak memperoleh penyembuhan. (Anief, 1995).File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Uji Pelepasan Teofilin Dari Membran Nata De Coco Yang Dipanen Dengan Waktu Yang Berbeda Dengan Menggunakan Sistem Penyampaian Obat Secara Terapung

ABSTRAK
Telah diteliti pengaruh waktu panen Nata de coco yang berbeda terhadap pelepasan teofilin dalam bentuk sediaan sachet. Sediaan sachet dibuat dengan menggunakan Nata de coco yang dikeringkan dengan mengunakan freeze dryer kemudian dibentuk seperti sachet dan di dalamnya diisikan teofilin serbuk sebanyak 200 mg.
Pelepasan teofilin dari sediaan bentuk sachet ditentukan dengan metode dayung dengan kecepatan 100 rpm. Uji disolusi dilakukan pada medium pH ± 1,2 dan medium pH ± 6,8 dengan volume 900 ml. Temperatur medium diatur 37 ± 0,5o C dan diuji dengan cara disolusi terapung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nata de coco yang dipanen dengan waktu 4; 6 dan 8 hari yang digunakan sebagai membran diuji tanpa menggunakan pori secara statistik dengan uji ANAVA dan dilanjutkan uji Duncan pada taraf kepercayaan 95 % dengan nilai signifikansi (α = 0,05) memberikan perbedaan yang signifikan (α < 0,05) untuk formula A, B dan C untuk medium lambung dan usus buatan. Untuk formula D, E dan F yaitu membran nata de coco menggunakan 1 pori juga memberikan perbedaan yang signifikan untuk medium lambung dan medium usus meskipun ada beberapa menit pengujian memberikan perbedaan yang tidak signifikan yang disebabkan oleh beberapa faktoFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Uji Efek Terapeutik Dari Ekstrak Etanol Daun Dandang Gendis (Clinacanthus nutans (Burm.f.) Lindau) Sebagai Diuretik Pada Tikus Putih Jantan

ABSTRAK
Telah dilakukan karakterisasi serbuk simplisia dan uji diuretik ekstrak etanol 80% daun dandang gendis (Clinacanthus nutans (Burm.f.) Lindau) terhadap tikus putih jantan, dengan volume urin yang dihasilkan diukur dengan AAS untuk memperoleh kadar natrium dan kalium.
Serbuk daun dandang gendis mula – mula di ekstraksi dengan etanol 80% secara maserasi, diuapkan dengan bantuan rotary evaporator lalu difreez driyer didapat ekstrak kental. Ekstrak etanol diuji pada hewan percobaan untuk mengetahui efek diuretik dan dibandingkan menggunakan furosemid (3,6 mg/kg BB). Setelah itu volume urin di ukur dan dihitung kadar natrium dan kalium dengan AAS.
Hasil karakterisasi serbuk daun dandang gendis (Clinacanthus nutans (Burm.f) Lindau) peroleh hasil kadar air 7,07%, kadar abu total 6,07%, kadar abu total tidak larut dalam asam 0,63%, kadar sari larut dalam air 10,60%, kadar sari larut dalam etanol 10,93%.
Ekstrak etanol 80% daun dandang gendis dengan dosis 150 mg/kg BB memberikan efek diuretika, dan pada dosis 300, 450 mg/kg BB memberikan hasil anti diuretika dibandingkan terhadap kontrol (suspensi CMC 5 mg) dan Furosemid (3,6 mg/kg BB) yang diberikan secara oral selama 6 jam. Hasil pengukuran volume urin dengan AAS setelah pemberian EDG dosis 150 mg/kg BB 8,7 ml, dosis 300 mg/kg BB 4,1 ml, dosis 450 mg/kg BB 1,8 ml dengan pembanding furosemid dosis 3,6 mg/kg BB 6,73 ml secara oral selama 6 jam. Kadar natrium dosis 150 mg/kg BB 46,905 mcg, dosis 300 mg/kg BB 17,965 mcg, dan dosis 450 mg/kg BB 10,376 mcg dibandingkan dengan furosemid 35,92 mcg. Kadar kalium dosis 150 mg/kg BB 104,23 mcg, dosis 300 mg/kg BB 72,461 mcg, dosis 450 mg/kg BB 23,206 mcg dengan pembanding furosemid 146,24 mcg memiliki efek yang sama pada ekstrak etanol pada dosis 150 mg/kg BB sedangkan pada dosis 300 dan 450 mg/kg BB volume urinnya menurun dibandingkan dengan furosemid.
Dapat disimpulkan bahwa pada EDG dosis 150 mg/kg BB sudah menunjukkan efek sebagai diuretika, sedangkan pada dosis 300 mg/kg BB dan dosis 450 mg/kg BB menunjukkan efek sebagai anti diuretika. Dan dapat dilihat semakin tinggi dosis EDG yang digunakan maka akan bersifat sebagai anti diuretikaFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Uji efek ekstrak etanol bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap penurunan kadar gula darah pada tikus putih jantan

ABSTRAK
Diabetes mellitus adalah suatu penyakit gangguan kesehatan di mana kadar gula dalam darah seseorang menjadi tinggi karena gula dalam darah tidak dapat diubah oleh tubuh. Penyakit diabetes mellitus memerlukan pengobatan jangka panjang dan biaya yang mahal, sehingga perlu dicari obat anti diabetes yang relatif murah dan terjangkau oleh masyarakat. Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh ekstrak etanol bunga rosela terhadap penurunan kadar gula darah tikus putih jantan menggunakan uji toleransi glukosa, data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variasi (ANAVA) dilanjutkan dengan uji beda rata-rata Duncan.
Hasil karakteristik makroskopik simplisia berwarna merah, rasa asam, dan mempunyai bau yang khas. Hasil mikroskopik simplisia mempunyai rambut penutup monoseluler, sel epidermis, rambut bercabang berbentuk bintang, kristal kalsium oksalat bentuk prisma dan papilla. Hasil skrining fitokimia simplisia dan ekstrak menunjukkan adanya senyawa flavonoid, glikosida, tanin, triterpenoid/ steroid. Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia bunga rosela diperoleh kadar air 6,62%, kadar sari larut air 19,48%, kadar sari larut etanol 17,53%, kadar abu total 7,51 %, kadar abu tidak larut asam 0,12 %. Hasil pengujian kadar gula darah terhadap tikus putih jantan yang terdiri dari 4 kelompok yaitu sebagai pembanding negatif digunakan suspensi CMC 1% bb, dosis ekstrak yaitu 50 mg/kg bb, 100 mg/kg bb, dan sebagai pembanding positif digunakan glibenklamid dosis 1 mg/kg bb. Pemberian ekstrak etanol bunga rosela dosis 50 mg/kg bb dan 100 mg/kg bb memberikan efek penurunan kadar gula darah dengan potensi yang tidak berbeda signifikan dengan suspensi glibenklamid dosis 1 mg/kg bbFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Karakterisasi Simplisia, Skrining Fitokimia Dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Dan Fraksi Bunga Tumbuhan Brokoli (Brassica oleracea L. var.

ABSTRAK
Tumbuhan brokoli (Brassica oleracea L. var. botrytis L.) suku Brassicaceae merupakan salah satu tumbuhan yang bunganya digunakan sebagai sayuran yang cukup sering dikonsumsi oleh masyarakat yang kaya akan nutrisi. Oleh karena itu, telah dilakukan pemeriksaan karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, dan uji aktivitas antioksidan dengan metode aktivitas antiradikal bebas DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil) dari ekstrak etanol dan fraksi ekstrak n-heksan, etil asetat, dan etanol dari bunga tumbuhan brokoli. Serbuk simplisia bunga brokoli diekstraksi secara perkolasi dengan pelarut etanol 70%. Selanjutnya ekstrak dipekatkan dengan alat rotary evaporator dan dikeringkan dengan freeze dryer sehingga diperoleh ekstrak kental. Dilakukan juga ekstraksi bertahap dengan pelarut n-heksana, etil asetat dan etanol. Selanjutnya ekstrak diuji terhadap DPPH sebagai radikal bebas untuk mengukur absorbansi DPPH pada panjang gelombang 516 nm pada menit ke-17 dan ke-40 setelah penambahan pelarut metanol, berdasarkan hasil pengukuran operating time DPPH. Kemampuan antioksidan diukur sebagai penurunan absorbansi larutan DPPH setelah penambahan ekstrak. Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia diperoleh kadar air 5,33%, kadar sari yang larut dalam air 29,02%, kadar sari yang larut dalam etanol 12,09%, kadar abu total 0,80%, dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,22%. Hasil skrining fitokimia pada masing-masing ekstrak, diperoleh hasil ekstrak etanol mengandung senyawa alkaloida, glikosida, steroida/triterpenoida, flavonoida, dan saponin; fraksi ekstrak n-heksan mengandung senyawa, steroida/ triterpenoda; fraksi ekstrak etil asetat mengandung senyawa glikosida dan flavonoid; dan fraksi ekstrak etanol mengandung alkaloida, glikosida, flavonoida dan saponin. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol bunga brokoli memiliki aktivitas antioksidan sedang, fraksi ekstrak n-heksan dan etil asetat dengan aktifitas antioksidan sangat lemah, sedangkan fraksi ekstrak etanol dengan aktivitas antioksidan lemah. Ekstrak etanol, fraksi ekstrak n-heksan, etil asetat, dan etanol berturut-turut memiliki IC50 sebesar 131,51 ppm, 255,19 ppm, 260,78 ppm, dan 175,22 ppm pada menit ke-17, sedangkan pada menit ke-40 diperoleh IC50 berturut-turut sebesar 124,44 ppm, 248,69 ppm, 253,68 ppm, dan 179,45 ppm. Pembanding vitamin C memiliki IC50 sebesar 26,067 ppm pada menit ke 17 dan 26,17 ppm pada menit ke-40File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Karakterisasi Simplisia, Skrining Fitokimia Dan Isolasi Senyawa Flavonoida Dari Daun Tumnbuhan Pacar Air (Impatiens balsamina L.)

ABSTRAK Tumbuhan yang digunakan pada penelitian ini adalah daun dari tumbuhan pacar air (Impatiens balsamina L.) tumbuhan pacar air ini karakterisasinya belum terdapat di buku monografi tumbuhan Materia Medika Indonesia (MMI). Telah dilakukan uji karakterisasi, ekstraksi dan isolasi senyawa flavonoida dari daun pacar air (Impatiens balsamina L.) hasil karakterisasi kadar air (7.99%), kadar sari larut dalam air (17.62%), kadar sari larut dalam etnol (10.02%), kadar abu total ( 1.67%), kadar abu yang tidak larut dalam asam (0.29%) dan hasil skrining fitokimia positif untuk senyawa flavonoida dan glikosida. Ekstraksi dilakukan secara perkolasi menggunakan pelarut etanol 96 %, ekstrak etanol yang diperoleh dilakukan fraksinasi cair-cair menggunakan pelarut n-heksan, kloroform dan etilasetat. Hasil fraksinasi di lakukan kromatografi kertas (KKt) dengan berbagai fase gerak. Hasil KKt dari masing-masing fraksi terbaik pada fraksi etilasetat dengan pengembang asam klorida 5%. Hasil KKt kemudian dilakukan KKt preparatif, diperoleh tiga noda yaitu PEa1 Rf 0.65, PEa2 Rf 0.25 dan PEa3 Rf 0.05 dengan fase gerak asam klorida 5%. Isolat PEa1 yang diperoleh di karakterisasi dengan spektropotometri UV dengan menggunakan pereaksi geser (shift reagent) hasil penafsiran spektropotometri UV terhadap PEa1 adalah senyawa gologan flavonoida isoflavon yang mempunyai gugus o-diOH pada cincin A, pada atom C6 dan 7File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Karakterisasi Simplisia, Skrining Fitokimia Dan Isolasi Senyawa Flavonoida Dari Daun Tanaman Ekor Naga (Rhaphidophora pinnata Schott.)

ABSTRAK
Tumbuhan yang digunakan pada penelitian ini adalah bunga dari tumbuhan pacar air (Impatiens balsamina Linn) yang bewarna merah, tumbuhan pacar air ini karakterisasi simplisia nya belum terdapat di buku monografi tumbuhan Materia Medika Indonesia. Untuk mengetahui karakterisasi dari simplisia dan untuk mengetahui cara mengisolasi senyawa antosianin yang terdapat didalam bunga dan menentukan senyawanya melalui spektrofotometri ultraviolet dengan pereaksi geser. Telah dilakukan karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, ekstraksi, isolasi dan karakterisasi senyawa antosianin dari bunga tumbuhan pacar air (Impatiens balsamina Linn.) bewarna merah. Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia yang spesifik adalah, serbuk sari berbentuk oval, rambut penutup multiseluler, kalsium oksalat rapida, dan papilla. Hasil karakteristik serbuk simplisia bunga pacar air merah diperoleh kadar air 9,31%, Kadar sari yang larut dalam air 19,62%, kadar sari yang larut dalam etanol 12,80%, Kadar abu total 1,14%, dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,25%. Hasil skrining fitokimia simplisia menunjukka adanya flavonoida dan glikosida. Ekstraksi dilakukan secara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dengan penambahan HCl pekat sebanyak 1% dari pelarut, dilanjutkan dengan isolasi secara kromatografi kertas preparatif. Hasil isolasi diperoleh isolat yaitu isolat PI . Isolat PI memberikan absorbansi maksimum 510 nmFile Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Karakterisasi Simplisia, Isolasi Dan Komponen Minyak Atsiri Dari Buah Tanaman Kapulaga ( Ammomum Compactum Sol.Ex Maton ) Yang Ditanam Dan Yang Diamb

ABSTRAK Kapulaga (Amomum compactum Sol.ex Maton) selama ini buahnya dikenal sebagai rempah untuk masakan. Buah kapulaga secara tradisional digunakan untuk mengatasi berbagai jenis penyakit dan gejalanya seperti kejang perut, rematik, demam, batuk, bau badan, gangguan haid, radang amandel, sesak napas, badan lemah, obat kumur, influenza dan radang lambung. Zat berkhasiat dari buah kapulaga tersebut adalah minyak atsiri. Kadar minyak atsiri yang merupakan salah satu parameter mutu ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur tanaman, masa panen dan tempat tumbuh. Berdasarkan hal tersebut pada kesempatan ini dilakukan penelitian tentang kadar dan komponen minyak atsiri buah kapulaga dengan mengambil sampel dari yang ditanam dan yang diambil dari pasar. Metodologi penelitian meliputi penyiapan sampel, pemeriksaan karakteristik simplisia, penetapan kadar minyak atsiri dengan menggunakan alat Stahl, isolasi minyak atsiri dengan destilasi air dan analisis komponen minyak atsiri dari simplisia buah kapulaga yang ditanam dan yang di ambil dari pasar secara GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh simplisia yang ditanam dengan yang diambil dari pasar memenuhi persyaratan Materia Medika Indonesia. Kadar minyak atsiri yang terdapat pada buah kapulaga yang ditanam sebesar 5,86% sedangkan buah kapulaga yang di pasar sebesar 5,43%. Hasil analisis dengan GC-MS terhadap minyak atsiri buah kapulaga yang ditanam menunjukkan 19 komponen sedangkan pada buah kapulaga yang diambil dari pasar menunjukkan 15 komponen dengan konsentrasi komponen yang paling tinggi pada masing-masing sampel adalah Sineol.File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Karakterisasi Simplisia, Isolasi dan Analisis Komponen Minyak Atsiri dari Rimpang Lengkuas Merah(Galangae rhizoma.) Secara GC-MS

ABSTRAK
Telah dilakukan karakterisasi simplisia, isolasi, dan penetapan kadar minyak atsiri dari rimpang lengkuas merah (Galangae rhizhoma) kering dari suku Zingiberaceae. Penetapan kadar minyak atsiri dilakukan dengan menggunakan alat Stahl dan isolasi dilakukan dengan cara destilasi uap. Komponen minyak atsiri dianalisis dengan Kromatografi Gas-Spektrofotometri Massa (GC-MS).
Hasil karakterisasi simplisia diperoleh kadar abu total 7,25%; kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,71%; kadar sari yang larut dalam air 12,69%; kadar sari yang larut dalam etanol 14,75% dan kadar air 5,32%. Kadar minyak atsiri dari simplisia rimpang lengkuas merah diperoleh sebesar 0,71% v/b. Hasil penetapan indeks bias diperoleh sebesar 1,5160 dan bobot jenis diperoleh sebesar 0,9676.
Hasil analisis GC-MS minyak atsiri dari rimpang lengkuas merah (Galangae rhizhoma) kering menunjukkan 5 komponen utama yaitu 1,8-sineol dengan kadar 22,05%, β-bisabolen dengan kadar 8,93%, α-bergamoten dengan kadar 5,76%, pentadekan dengan kadar 4,91% dan β-sesquifelandren dengan kadar 4,86%.File Selengkapnya.....
Baca Selengkapnya...

Teman DiskusiSkripsi.com


 

Free Affiliasi Program